Jejak langkah itu..

“Kali, kali apa yang paling panjang? Kalidoskop!” ;))

Ya, kalau sudah di penghujung tahun seperti ini rasanya kurang afdol kalau saya juga tidak membuat postingan edisi akhir tahun. Sekedar melakukan kilas balik tentang ada yang sudah saya lakukan dan apa saja yang sudah terjadi dalam 365 hari perjalanan hidup saya di tahun 2010 ini.

Perjalanan hidup saya tahun ini memang tidak sedramatis tahun 2009 yang penuh dengan kejadian-kejadian mengejutkan yang terlihat mata dan alhamdulillah membahagiakan. Tahun ini berjalan lebih smooth dan tetap alhamdulillah berkah, feel so blessed in so many ways.. [-o<

1. Pegawai Negeri Sipil
Tahun ini adalah tahun kehidupan baru dalam perjalanan karir saya. Setelah hampir sepuluh tahun lamanya saya berkarir di jalur swasta, tahun ini adalah awal karir saya menjadi seorang PNS. Sebuah karir yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dulu, jangankan tertarik dan berani untuk ikut test CPNS, membayangkannya saja nggak pernah. Bukan apa-apa, belum-belum saya sudah minder duluan :-s. Tapi tahun lalu justru dari hasil iseng dan coba-coba itu alhamdulillah Tuhan memberi saya kesempatan dan jalan yang begitu mudah untuk menjalani semuanya. Hingga akhirnya, disinilah saya bergabung dalam instansi yang dulu gedungnya hanya bisa saya pandangi dari luar saja [-o< .

2. Protokol
Dulu, jaman saya masih sekolah/kuliah mungkin saya masih bisa sering tampil di depan layar (woogh, jadi berasa nonton misbar). Tapi sejak bekerja sudah sama sekali tidak pernah, cenderung lebih sering bekerja dari balik layar dan memberi dukungan buat yang lain untuk tampil. Nah sekarang justru kebalikannya. Jiwa banci tampil saya seolah dibangkitkan kembali! Berasa kaya film horor pake nggak sih pakai acara dibangkitkan? :-s X_X. Saya yang setelah sekian tahun lamanya merasa, “ya sudahlah” itu jadi sering dilibatkan dalam acara keprotokolan dinas. Disini, pengalaman di dunia call centre (alhamdulillah) berguna untuk hal-hal yang membutuhkan suara. Walaupun masih harus banyak belajar membedakan tone suara di berbagai kesempatan acara. Diujicobakan pertama kali ketika membacakan SK untuk pelantikan CPNS tahun 2009 dengan jaminan nama mbak MC senior ;)). Sejak saat itulah saya officially bergabung dengan tim keprotokolan di kantor.

Pengalaman mengesankan adalah ketika dipercaya untuk membacakan SK Presiden pada pelantikan Sekretaris Menteri Sekretaris Negara di Gedung Utama Sekretariat Negara dan SK pelantikan Ibu Prof. DR. Dewi Fortuna Anwar sebagai Deputi Seswapres Bidang Politik; Bapak Djadja Sukirman, Ak., M.B.A. sebagai Deputi Seswapres Bidang Administrasi; dan Drs. Eddy Purwanto, M.P.A. sebagai Deputi Seswapres Bidang Tata Kelola Pemerintahan. Mungkin buat yang sudah biasa sih biasa aja ya, tapi untuk pertama kalinya “tampil” di depan pejabat eselon I dan Menteri Sekretaris Negara itu merupakan sebuah kehormatan buat saya yang baru saja bergabung di instansi tempat saya bernaung sekarang ini dan terbilang masih sangat hijau di dunia keprotokolan.

3. Ulang Tahun & Prajabatan
Berulang tahun di saat prajabatan menjadi moment yang sangat bersejarah dan mengharukan dalam hidup saya. Hal paling berkesan adalah ketika seluruh teman-teman dan pengajar di kelas menyanyikan lagu Happy Birthday buat saya, mendadak langsung meleleh deh airmata saya. Moment langka yang hanya terjadi sekali dalam hidup saya, bisa menjalani dua hal penting dalam satu waktu. Untuk pertama kalinya pula saya mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari Bapak & Ibu Menteri. Hihi, kok jadi pengen memigurakan kartu ucapan selamatnya ya ;)) \:D/*norak*

4. Narasumber di Pesta Blogger
Dulu sahabat saya pernah bilang, “sebenernya jiwa kamu itu jadi pengajar, bisa terlihat dari cara kamu bicara dan tulisan-tulisanmu..”. Jujur saya dulu sempat mengabaikan pendapat ini. Sampai akhirnya saya benar-benar merasakan kangen jadi seorang trainer. Iya, dulu saya sempat menjadi seorang trainer di tempat berkarir sebelumnya. Seperti sebuah keasyikan tersendiri memberikan pencerahan ke orang-orang baru, bertemu dengan teman-teman baru, berbagi dan saling berdiskusi, dan sebuah tantangan bagi saya menjadikan seseorang yang awalnya tidak mengerti menjadi mengerti. Suatu hal yang tidak mudah bagi saya :D. Ternyata, bak gayung bersambut, rasa kangen saya sedikit terobati ketika moderator Ngerumpi menawarkan saya berdua dengan teman ngeludruk saya di twitter, Astri Kunto , untuk menjadi narasumber di Pesta Blogger 2010 yang diadakan di Epicentrum Walk- Kuningan. Walaupun waktunya terbilang singkat (hanya 30 menit karena harus berbagi slot dengan teman-teman dari gantibaju[dot]com) tapi alhamdulillah hasilnya memuaskan. Apalagi melihat peserta yang memadati kelas kami jumlahnya diluar apa yang kami perkirakan >:D<

5. Pendongeng
Ketika permainan dan aktivitas dunia cyber merajalela, dongeng menjadi suatu hal yang langka. Mengingat tak banyak orangtua yang masih membiasakan diri untuk membacakan dongeng bagi putra-putrinya. Dongeng akhirnya menjadi hal mewah yang tak bisa dirasakan oleh semua anak. Beruntung dulu saya masih sempat merasakan dongengan-dongengan orangtua, buku-buku cerita dan kaset Sanggar Cerita yang secara berkala dibelikan oleh orangtua saya. Alhamdulillah [-o<

Tapi kalau menjadi seorang pendongeng itu sama sekali diluar bayangan saya. Membayangkan bercerita didepan anak-anak pun sama sekali belum pernah. Semua berawal dari keisengan saya merekam suara dalam bentuk podcast (rekaman suara) dan saya beranikan untuk mempublikasikannya di situs Kisah Anak yang dikelola oleh Mbah Wong Iseng . Dari keisengan itulah sekarang akhirnya saya “diperkenalkan” oleh teman-teman dari Indonesia Bercerita sebagai pendongeng. Sempat kurang pede, karena jenis pita suara saya itu cempreng, tipis, dan gaya bicara saya kalau cenderung cepat. Singkat kata akhirnya tahun ini saya adalah seorang pendongeng abal-abal. Ya, kalau sudah begini pengennya suatu saat nanti bisa serius menjadi seorang pendongeng dan bisa menyampaikan misi pendidikan melalui media dongeng. Amien. Oh ya saat ini saya juga sedang bergabung dalam project #22hari220cerita , mendongeng via podcast (rekaman). Semoga bisa ikut membantu teman-teman di Indonesia Bercerita untuk mendidik anak melalui dongeng ya 😀

7.  Penulis dan Buku
Menjadi seorang penulis dan punya buku sendiri masih menjadi salah satu mimpi terbesar saya. Tahun lalu tanpa sengaja terbitlah buku kompilasi hasil tulisan saya dan beberapa blogger Ngerumpi di buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta. Setelah itu, saya belum berani berharap saya akan kembali menghasilkan buku lagi, mengingat materi untuk menulis buku saja saya nggak punya :(. Namun siapa sangka tahun ini saya alhamdulillah bisa kembali membuat buku kompilasi kedua yang berjudul Be Strong Indonesia #1 hasil tulisan bersama para penulis lainnya melalui project #writers4indonesia. Project sosial ini berlatar belakang keprihatinan dan kepedulian kami terhadap para korban bencana alam yang beberapa waktu yang lalu sempat bertubi-tubi dirasakan oleh sebagian rakyat Indonesia di Mentawai, Yogyakarta, dan Wasior. Dari sanalah ide ini muncul. Seluruh royalti dan hasil penjualan buku ini akan disumbangkan kepada para korban bencana alam. Semoga apa yang kami lakukan ini dapat berguna bagi yang membutuhkan ya. Amien3x..

Pelajaran yang saya ambil setelah mengalami beberapa kejadian di 2 tahun terakhir ini, jalani semuanya dengan tanpa beban dan ekspektasi yang berlebihan. Karena terkadang hal-hal yang tak terduga bisa terjadi diluar apa yang kita harapkan. Jalani segala sesuatunya secara mengalir dan tetap fokus dengan apa yang ingin kita raih.

Soal apa harapan saya di tahun 2011, sederhana saja, semoga tetap ada keberkahan dan hal-hal baik yang menyertai perjalanan saya di sepanjang 365 hari ke depan. Semoga apa yang belum sempat saya raih tahun ini bisa saya raih di tahun depan. Amien..

Last but not least, wishing you the most shiny, prosperous, healthy, and a Happy New Year !! Let’s hope that 2011 has at least a little bit of heaven.. Amien… [-o<

<:-P

[devieriana]

gambar minjem dari sini

Continue Reading

Kemewahan itu bernama waktu luang

Dulu jaman kita masih belum ada kesibukan & belum ada kerjaan, yang namanya waktu luang itu jadi barang murah yang bisa kita nikmati kapan saja sampai kita bosan sendiri. Tapi giliran kesibukan sudah mulai padat merayap rasanya stress, kepala mendadak berasap, gejala penuaan dini mulai menghampiri, sensitif, badan terasa sering pegal-pegal dan pengen jambak-jambak rambut… teman ~X( *lho?!*. Jangankan untuk ngeblog, nafas aja itu juga kalau sempat :-<. Oh ya, baiklah.. memang saya sedang berlebihan.. 8-|

Ceritanya seperti sahabat saya yang baru back for good dari luar negeri dan berencana untuk menetap di Indonesia lagi. Sekarang sedang sibuk-sibuknya mencari pekerjaan disini. Ya namanya juga lagi masa penyesuaian dan sedang dalam proses mencari pekerjaan, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan kesabaran. Saya sering telpon/sms sekedar tanya kabar atau progress pencarian kerjanya. Jawabannya, “Bosen bener dah, nggak ada kesibukan 🙁 “. Padahal ketika masih tinggal di luar negeri jadwal dia termasuk padat. Bahkan ketika sakit pun masih dibela-belain ngantor dengan alasan nggak ada yang bertanggung jawab di kantor. Alhasil kalau sedang libur dimaksimalkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Maklum disana dia tinggal sendiri di apartemen dan nggak ada bibik-bibik yang bantu nyuci, nyetrika atau masak. Nah ya, jadi berbahagialah kalian yang hidupnya didampingi oleh seorang asisten rumah tangga, jadi nggak harus susah-susah ngerjain pekerjaan rumah selain pekerjaan kantor :D.

Kebalikan sama teman saya satu lagi. Kalau yang ini edisi super sibuk. Sepertinya angka-angka di kalender dia semuanya berwarna hitam. Mulai Senin sampai Sabtu dia pasti sibuk beredar. Hari Minggu pun kadang masih suka diisi sama acara off air. Jadi narasumber seminar disini, disitu. Meeting dengan klien ini, anu, itu. Belum selesai meeting sudah ditunggu dengan presentasi disana dan disini. Saking sibuknya kadang saya mikir mungkin dia sehari-harinya makan batere ya. Kalau saya dengan jadwal sesibuk itu mungkin sudah jalan pakai infus kemana-mana. Dia baru benar-benar istirahat kalau lagi sakit atau cuti. Tapi ya masa sih kalau pengen istirahat harus sakit dulu? Oh ya, cuti pun jangan salah, dia juga masih meng-handle kerjaan jarak jauh lho. Tipe workaholic sejati memang si teman satu ini \m/.

Ngomongin temen sendiri jadi dejavu, saya dulu juga pernah mengalami masa-masa seperti itu :-s. Kelihatannya aja saya cuti, secara fisik saya di Surabaya. Tapi jiwa saya di Jakarta. Gimana mau merasakan cuti kalau saya masih terima telpon, masih kirim dan terima email, masih ngecek kerjaan anak buah (walau telpon/sms hanya untuk sekedar tanya ada kesulitan/nggak). Harusnya saya matiin HP dan email saya ya. Tapi nggak bisa semudah itu juga. Ada tuntutan tanggung jawab disana. Di saat itulah saya mulai merasa seperti diperbudak sama kerjaan dan deadline.. :-s

Nyadar nggak sih, ketika kita sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan, syndrom I Hate Monday pun menggejala tanpa kita sadari. Belum berangkat ke kantor saja sudah terbayang-bayang tumpukan berkas dan email yang bejibun. Belum buka buku agenda saja sudah meriang duluan membayangkan rentetan jadwal padat didalamnya. Akhirnya saking menumpuknya pekerjaan yang harus diselesaikan terpaksa kita harus bekerja di hari libur dan tanpa dibayar pula *ngenes to the max* :((. Smartphone dan netbook harus menjadi teman di akhir pekan untuk menyelesaikan tugas padahal keluarga, teman, mall dan sale sedang menunggu.. *remet-remet kertas satu rim*

Akibatnya, hubungan dengan keluarga dan kehidupan sosial pun lambat laun jadi terabaikan. Batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan jadi kabur. Akhirnya kebanyakan kita memilih mengorbankan keluarga dan pribadinya untuk memenuhi tuntutan beban pekerjaan yang sudah overload. Tapi nggak semua pekerja bersedia mengorbankan keluarga diatas pekerjaan, malah ada yang akhirnya memilih resign untuk lebih konsentrasi ke keluarganya.

Idealnya sih kita harus bisa mengatur keseimbangan dan tahu posisi kita sedang ada dimana ya. Melihat mana yang paling penting dalam hidup. Keluarga atau pekerjaan? Memang keduanya sama penting tapi pasti ada skala prioritasnya. Ada waktu untuk konsen ke pekerjaan, tapi ada saatnya juga kita menjadi milik keluarga, dan menikmati “me time”.

Kalau kata Nick Deligiannis :

“Remember, a professional is a person who never allowed himself to dissolve in the job and no longer have time for personal life”

Jadi, kapan kita menikur pedikur bareng? :>

[devieriana]

Continue Reading

Berkompromi dengan ketidaksempurnaan..

Beberapa kali saya diskusi dengan tema seperti ini dengan beberapa teman yang berbeda. Tema klasik yang bisa dialami dan bisa terjadi pada siapa saja. Tentang pekerjaan, keluarga, pasangan hidup.

Tak jarang kita harus mau berkompromi dengan takdir, dengan situasi dan kondisi tertentu berkaitan jodoh, pekerjaan, lingkungan, keluarga, dll. Seringkali semua hal tidak berjalan seperti apa yang kita kehendaki. Bahkan ketika sudah hampir kejadian seperti yang kita maui pun endingnya tak selalu mulus. Ternyata Tuhan berkehendak yang berbeda. Mau tidak mau kita yang harus menyesuaikan diri dengan itu semua. Nah, trus gimana dong? Nangis? Nyesel? Jambak-jambak rambut? ~X(. Nyesel pasti ada ya. Tapi masa iya mau nyesel melulu? Endingnya minum jus jambu campur potas..:-ss. Tergantung kitanya mau menerima dan ikhlas menjalani itu semua atau enggak. Tsaah, ngemeng aja nih.. Ngejalaninnya gampang kagak? Ya, kalau kitanya ikhlas menjalaninya, insyaallah pasti ada jalanlah.. *benerin sorban kotak-kotak* ;))

Nah kalau masalah klisenya tentang jodoh, nih. Ada seorang teman yang (ternyata) menikah dengan orang yang jauh dari tipe idealnya. Padahal waktu pacaran saya tahu betul bagaimana tipe mantan-mantan pacarnya. Tapi pas menikah justru bukan yang romantis, bukan yang kaya raya, wajah dan tampilannya pun bahkan sangat bersahaja untuk ukuran pria selera dia. Nah lho, salah pilih? :-o. Enggak juga. Sejauh ini dia juga fine-fine aja dengan suaminya. Bahkan sudah dikaruniai 2 anak yang lucu-lucu. Kelihatannya juga bahagia-bahagia aja dengan kehidupan berkeluarganya (semoga sesuai dengan apa yang saya lihat ya :D). Kita nggak pernah tahu dengan siapa kita akan berjodoh kan ya? Yang jelas, kadang memang sosok yang jadi pasangan kita belum tentu adalah sosok yang sesempurna impian atau cita-cita kita.

Sekali lagi saya mengutip pernyataan Steven R. Covey :

“Your life doesn’t just “happen.” Whether you know it or not, it is carefully designed by you. The choices, after all, are yours. You choose happiness. You choose sadness. You choose decisiveness. You choose ambivalence. You choose success. You choose failure. You choose courage. You choose fear. Just remember that every moment, every situation, provides a new choice. And in doing so, it gives you a perfect opportunity to do things differently to produce more positive results.”

Intinya, semua yang terjadi dalam hidup kita adalah hasil dari pilihan yang sudah kita ambil. Apakah nanti resikonya baik/buruk itu adalah sebagai bentuk konsekuensi logis atas pilihan kita, termasuk ketika kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut lengkap dengan segala kekurangannya, atau ketika kita memutuskan untuk tetap bersama dengannya apapun yang akan terjadi. Bahkan ketika kita menyadari bahwa diluar sana ada banyak orang lain yang kualitas pribadinya jauh melebihi segalanya yang dimiliki oleh pasangan kita tapi kita tetap memilih dengan pasangan kita. Pastinya berat ya? Iyalah, secara ya hari gini, yang namanya godaan ada dimana-mana, Bo! #:-s*ngelap keringet* *meres serbet*

Kalau kata seorang filsuf Amerika, Sam Keen, “Love isn’t finding a perfect person. It’s seeing an imperfect person perfectly”. Tidak ada seorang manusia pun yang terlahir sempurna. Pun halnya dengan mencintai seseorang. Kita ditakdirkan hidup berpasang-pasangan. Namun terkadang kita ternyata berjodoh dengan seseorang yang tidak sesempurna yang kita impikan. Ya contohnya saya aja deh. Saya pengennya sih nikah sama Darius Sinathriya gitu. Eh nggak tahunya Darius nikahnya sama Dona Agnesia, bukan sama Devi Eriana. Ya karena alasannya jelas. Dona lebih sempurna ketimbang saya ;))  *melihat wajan dan kompor beterbangan*

Kata Mama saya, kita hidup bukan mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

Ya, setidaknya sesempurna yang kita mampu..

Eh, iya.. I love you..
@};-

[devieriana]

Continue Reading

Kami lucu? Ah, masa?

Seringkali saya & suami dikomentari sebagai pasangan yang  lucu dan unik. Bukan. Bukan karena saya nikah sama gajah, atau tapir. Tapi mungkin karena keunikan pribadi kami yang menyebabkan orang berkomentar seperti itu. Tapi apa iya kami sebenarnya “selucu” dan “seunyu” itu? 😕

Sebenarnya dulu, waktu jaman penjajahan.. eh kelamaan, dulu diawal pernikahan, kami sebenarnya adalah pasangan yang paling egois sedunia! Okelah saya memang sedikit berlebihan untuk menggambarkan kehidupan awal pernikahan kami. But, I have no words to describe how “lebay” we were at that time. Kami seringkali hidup dalam dunia kami masing-masing. Mengalah adalah kata-kata yang kami hindari. Sama-sama gengsi [-(. Lha iya, wong kami adalah dua orang yang sama-sama keras kepala ~X(.

Saya sebagai anak sulung yang biasa dituakan (berasa kepala suku nggak sih?), dan dikantor juga “terbiasa” memimpin sekian anak buah, tiba-tiba harus menyesuaikan diri dengan karakter suami yang juga sama-sama kerasnya dan nggak mau mengalah. Sementara suami yang dalam keluarganya juga termasuk anak laki-laki yang tertua juga punya sifat yang nyaris sama seperti saya. Kalau pas pacaran kan biasanya kelihatan yang bagus-bagusnya aja tuh. Pas sudah menikah? Wohoho, belum tentu. Friksi itu pasti ada. Jadilah kehidupan awal pernikahan kami layaknya kompor yang selalu panas. Ada saja hal yang dipertentangkan. Eh, masih mending ya kalau penting, seringkali pertengkaran kami justru berawal dari hal-hal sepele dan remeh temeh lho. Ujungnya sudah pasti bisa ditebak, adu argumentasi yang sifatnya debat kusir. Untungnya nggak pernah sampai ada KDRT 😀

Capek? Normalnya sih pasti iyalah ya. Sekarang siapa yang nggak capek harus adu argumen setiap hari. Hingga pernah dalam puncak kondisi lelahnya kami masing-masing, mulai sama-sama eneg dan nggak mau berkomunikasi satu sama lain selama beberapa waktu. Intinya stadium enegnya sudah cukup parahlah untuk ukuran pasangan baru seperti kami. Satu tahun pertama kehidupan perkawinan kami adalah masa perang antar suku. Lalu bagaimana ceritanya kami sekarang bisa saling merasa nyaman satu sama lain dan jadi lucu unyu seperti ini? Kami LUCU? Ah, masa sih? :-j

Ada sebuah sebuah titik balik yang membuat kami sadar tentang besarnya arti sebuah kehilangan. Ketika Tuhan memberikan cobaan pada kami berdua dengan diambilnya si kecil dalam usia 6 bulan dalam kandungan. Itu sebuah kejadian maha besar yang membuat kami sadar kalau ternyata ada hal yang jauh lebih penting daripada sekedar mempedulikan ego, yaitu anak. Dari situlah kami mulai belajar sabar, mulai mengerti satu sama lain. Mencoba mengalah yang bukan berarti kalah. Mencoba membuka dan membersihkan kembali keran komunikasi kami yang nyaris tersumbat. Berusaha lebih mendengar apa yang dimaui oleh pasangan dan berdiskusi sehat dengan kepala dan hati yang dingin. Meminta maaf tidak perlu menunggu dari siapa yang dianggap sudah bikin salah duluan. Intinya berusaha menjadi jauh lebih baiklah.

Alhamdulillah memang, berkah dari Yang Diatas tak pernah putus sejak saat itu. Rezeki dan kemudahan selalu mengalir kepada kami. Menjalani kehidupan perkawinan dengan format yang jauh lebih serius tapi santai. Suami saya kebetulan orangnya kaku dan serius, sementara saya pecicilan dan banyak becandanya. Mungkin akhirnya jadi balance-nya disitu. Malah sekarang suami saya suka kadang-kadang tertular ikut pecicilan, tapi anehnya kenapa saya nggak bisa ikut tertular jadi serius 😐

Jadi kalau sekarang teman-teman melihat kami sebagai pasangan yang mesra dan lucu, itu adalah hasil proses benturan-benturan psikologis sampai lebam dan babak belur. Nggak ada yang menyangka kan?  ;)). Sampai sekarang pun sebenarnya kami masih berusaha belajar memahami & menyesuaikan diri kami masing-masing. Mau se-ego apapun kita kalau sudah niatnya berkeluarga, harus mau menurunkan ego masing-masing karena ini bukan lagi masalah kalah atau menang tapi kehidupan bersama. Berusaha lebih open mind, mau mengerti & mendengarkan pasangan. Dan yang paling penting dari semua itu adalah komunikasi dan saling support untuk kebaikan berdua. Eh, gampang banget ya ngomongnya?  Tapi mengimplementasikannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, dan kebesaran hati untuk menerima pasangan apa adanya.

Menikah itu butuh kesiapan mental dan psikologis, selain faktor-faktor pendukung lainnya ya. Kalau kata Dr. Rose Mini, AP. M.Psi., begini :

1. Jangan takut akan pernikahan.
Sebaiknya sebelum melangkah ke pernikahan, kenali sisi baik dan buruk masing-masing. Karena setelah memasuki pernikahan, akan makin terlihat sifat-sifat yang tadinya tertutup. Jujur akan segala hal dengan pasangan jika ingin pernikahan berhasil.

2. Siapkan diri.
Tanya dengan diri sendiri, sudah siapkah untuk berbagi segala hal dengan si pasangan? Siapkah untuk maju bersama? Sebab, untuk bisa maju bersama butuh upaya dan kerja keras, karena si pasangan tidak memiliki pola pikir yang sama dengan kita, perlu kesabaran dan tenaga ekstra untuk mau menyamakan visi.

3. Jangan takut perubahan.
Perilaku seseorang bisa diubah. Perilaku bukanlah gen yang tak bisa diubah. Jadi, ketika Anda harus berubah untuk bisa keep up dengan pasangan yang berubah, begitu juga si dia.

Ah, sebenarnya ini cuma sharing seorang yang masih hijau dan newbie dalam kehidupan berumah tangga kok :-”

[devieriana]

Continue Reading

Guru Bagi Sesama

Ada sebuah kata-kata filosofis yang membuat saya masih terngiang-ngiang sampai sekarang sejak melihat sebuah tayangan di salah satu televisi swasta beberapa waktu yang lalu, tentang sekelompok wanita yang bergerak di bidang LSM yang peduli AIDS di Surabaya. Nah kebetulan salah satu diantaranya ternyata seorang wanita yang “hanya” berpendidikan SMP tapi dia justru adalah pemimpin LSM itu.

Salah satu kata-katanya yang menurut saya inspiring sekali kurang lebih seperti ini :

“Suami saya selalu berusaha membangkitkan semangat saya. Dia bilang, kamu harus terus maju, jangan minder walaupun kamu hanya tamatan SMP. Sekolah tidak harus selalu ditempuh melalui pendidikan formal. Siapapun bisa jadi guru bagi lainnya. karena setiap kali kamu bertemu dengan orang lain atau orang baru, selalu ada ilmu baru yang bisa kamu dapatkan dari mereka. Pun halnya dengan tempat/lokasi. Ilmu tidak selalu didapatkan di sekolah. Dimanapun bisa menjadi tempat belajar bagimu..”

Kata-kata sederhana yang maknanya tentu tidak sesederhana kalimat yang terucap ya, karena nyatanya ada banyak makna yang tersirat didalamnya.

Tanpa sengaja seringkali kita justru banyak mendapatkan/mencuri ilmu dari orang lain tanpa kita sadari. Kita meniru sifat baik orang lain, berkaca dari kebijakan orang lain, atau belajar mengatasi masalah dari mereka dan lalu menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Nah, karena saking banyaknya yang sudah kita dapatkan dari orang lain kita baru sadar kalau ternyata ada banyak orang yang sudah berperan & berpengaruh dalam hidup kita.

Guru kita bahkan tidak selalu orang yang berasal dari kalangan akademisi, yang usianya harus lebih tua atau lebih berpengalaman dibandingkan dengan kita. Kita acapkali diajari oleh seseorang yang usianya justru jauh lebih muda daripada kita, seseorang yang pendidikannya jauh dibawah kita, atau bahkan bagi yang sudah memiliki putra/putri seringkali banyak belajar hal dari mereka. Kita belajar dari hal-hal kecil atau sesuatu yang remeh. Lokasi kita mendapatkan ilmu itu pun bukan terbatas lagi di sebuah bangunan dalam lingkup pendidikan, tapi bisa dimana saja. Bisa dijalanan, di rumah, di kantor, warung, fasilitas umum, dan lain-lain.

Saya pun banyak belajar dari teman-teman saya yang usianya sangat beragam, malah kebanyakan lebih muda daripada saya. Belajar bagaimana fokus menelusuri masalah dan mencari akar permasalahannya, belajar bekerja secara teliti, belajar sportif, belajar menjawab secara diplomatis ketika dibutuhkan. Bahkan tak jarang ada sebuah proses pembelajaran ketika ada hal-hal negatif yang menghampiri kehidupan saya, belajar bagaimana menerima sebuah kekalahan/kegagalan dengan positif dan lalu menjadikan sebuah pelecut semangat yang baru untuk sesuatu yang lebih baik ke depannya.

Ternyata banyak sekali pengaruh dan ilmu positif yang bisa kita dapatkan dari orang lain dan lingkungan sekitar ketika kita mau membuka diri. Kita bisa belajar dari siapapun, dimanapun. Karena sesungguhnya “everyone is a teacher for other”. Hmm, kalau begitu bisa jadi tanpa kita sadari mungkin selama ini kita juga telah menjadi guru/panutan bagi orang lain ya? 😕

Tuluslah ketika berbagi, akan ada imbalan berupa kebahagiaan tersendiri ketika kita mengetahui orang lain yang juga mendapatkan hal-hal positif karena kita..

Have a nice weekend :-bd

[devieriana]

Continue Reading