#XLNetRally : Sinyal Asyik, Nyambung Terus! (2)

Hari Minggu (24/7) pagi, antara pukul 07.00-09.00, kami sudah harus bersiap untuk sarapan dan segera meninggalkan Hotel Gumaya, karena sesuai jadwal masih ada 2 lokasi lagi yang harus kami kunjungi, yaitu Lawang Sewu dan Sam Poo Kong, dua tempat eksotis yang merupakan ikonnya kota Semarang. Oh ya, pagi-pagi sekali saya sudah titip ke Mbak Eny dibelikan lumpia khas Semarang. Waktu saya terima, ternyata lumpia ini dibungkus dalam kemasan yang covernya “amboy nian” ;)). Kepikiran aja ya yang bikin gambarnya, sampai bikin cover bungkus lumpia seperti itu..

Lokasi pertama yang kami kunjungi hari itu adalah Lawang Sewu. Ternyata bentuk bangunannya tidak seseram yang saya bayangkan selama ini. Mungkin karena hari masih siang dan ternyata bangunannya sudah mengalami peremajaan di sana-sini, sehingga kesannya sudah tidak terlalu angker dan gothic lagi. Nggak tahu juga kalau malam hari.

Dulunya, gedung Lawang Sewu ini merupakan Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta NIS. Nah, mengapa disebut Lawang Sewu? Apakah benar pintunya ada seribu? Ah ya, kalau pintunya cuma satu namanya jadi Lawang Siji, dong! 8-| Lawang Sewu dikenal sebagai bangunan dengan jumlah pintu yang sangat banyak. Konon, kalau ada yang menghitung pintunya secara bersama-sama, hasil akhirnya jumlah pintu yang dihitung bisa jadi berlainan antara satu orang dengan orang lainnya. Selisihnya bukan hanya satu-dua pintu saja, tapi puluhan. Nah, lho! Ya, namanya juga mitos. Saya sendiri sih tidak menghitung, sih. Ngapain? Kurang kerjaan, apa? :-”

Pengalaman seru lainnya di Lawang Sewu yaitu ikut Tour De Underground. Sebelumnya, para peserta tour harus mengganti alas kaki dengan sepatu boot yang telah disediakan. Oh ya, jangan membayangkan sepatu boot yang kami pakai ini adalah sepatu boot seperti yang kerap dipakai oleh artis Mahadewi kalau lagi manggung, ya. Ini cuma sebuah boot karet yang biasa dipakai kalau lagi banjir atau bertani. Kenapa harus pakai sepatu boot? Kenapa bukan high heels, misalnya? Simple saja sih, karena kita bukan mau ke kondangan :|. Kondisi dibawah sana adalah ruang bawah tanah yang gelap, dan sepanjang jalannya berisi genangan air. Selama di dalam basement, kami bukan hanya dijelaskan tentang fungsi masing-masing ruangan dan pipa-pipa saja, Mas Tour Guide yang mengantar kami juga menunjukkan tempat yang pernah dijadikan lokasi uji nyali dan menunjukkan dari mana datangnya arah penampakannya X_X. Mungkin tujuannya siapa tahu  suatu hari nanti ada salah satu diantara kami yang ingin mencoba uji nyali disini sendirian disini *kurang kerjaan*. Sebagai seorang yang (sedikit) penakut, sepanjang perjalanan saya menempatkan diri di tengah rombongan, biar aman, nggak ada yang nyolek :>. Sayangnya sepatu boot yang saya gunakan ternyata bocor, Sodara :|. Jadi, ya seperti tidak ada bedanya antara pakai sepatu atau tidak. Untung habis tour bisa langsung cuci kaki. Kalau nggak, kan bisa kena kutu air. #penting

Selesai dari Lawang Sewu kami melanjutkan perjalanan ke Kuil Sam Poo Kong yang terletak di daerah Simongan, Semarang. Tempat ini konon, dulunya adalah tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah asal Tiongkok yang beragama Islam. Oh ya, disana ada persewaan busana khas Tionghoa juga lho. Kalau waktunya cukup sih saya mau tuh pakai busana kaya begitu. Terserah deh mau matching sama wajah saya atau enggak, habisnya kok keliatannya seru ya, kalau pakai kostum-kostum begitu. Berasa kaya mau ikut karnaval, gitu. Sayangnya kami tidak terlalu lama singgah di tempat ini, karena usai mendengarkan penjelasan singkat guide dan mengabadikan beberapa spot yang menarik, kami segera beranjak untuk melanjutkan ke lokasi terakhir sebelum ke bandara, yaitu Soto Pak Man untuk menikmati makan siang karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.00.

Bagi sebagian besar warga Semarang, Kedai Soto Pak Man ini tentu sudah tidak asing lagi. Lokasi tepatnya ada di Jalan Purwosari. Sesuai dengan namanya, hidangan khas kedai ini adalah soto. Di depan kami sudah tersedia satu baskom alumunium sate, sepiring gorengan, dan sepiring perkedel yang bentuknya sangat mirip Poffertjes *dejavu*. Soto-soto yang telah dicampur dengan nasi itu disajikan dalam mangkuk-mangkuk kecil dengan porsi sedang. Cara penyajian seperti ini sekilas mengingatkan saya pada salah satu kedai soto di daerah Kalibata. Buat saya sih porsinya pas, tapi bagi sebagian pria, yang notabene kapasitas perutnya lebih besar daripada saya, tentu mengatakan porsinya tanggung, atau bahkan kurang. Kalau cuma makan satu porsi, masih lapar. Tapi kalau tambah satu porsi lagi, kebanyakan. Ah, memang porsi yang mengandung dilema… *galau makan soto*. Oh ya, saya juga memesan dawet durian yang rasanya superlezat itu. Yummy! :-bd

Panitia acara XL Network Rally ini memang sudah mengatur keseluruhan acara dengan sedemikian rupa. Penyelenggaraannya terbilang sangat rapi dan serba tepat waktu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama kami sudah tiba di Bandar Udara Achmad Yani. Sesuai dengan waktu yang tertera di tiket, seharusnya kami terbang ke Jakarta pukul 12.55, tapi apa daya, begitu kami menginjakkan kaki di ruang tunggu bandara, kru maskapai “Singa Udara” itu sudah siap dengan beberapa kotak snack dan sekaligus menginformasikan kalau pesawat yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan. Untungnya kami termasuk makhluk-makhluk yang seru dan punya inisiatif menyibukkan diri dengan kegiatan update status dan foto-foto. Sehingga delay yang hampir memakan waktu 2 jam itu terlewati dengan sempurna. Sempurna bosennya! I-)

Secara keseluruhan, program tahunan menjelang mudik lebaran yang diselenggarakan oleh XL ini berjalan lancar. Kami sangat menikmati jalannya seluruh rangkaian acara Uji Jaringan ini. Senang bisa bertemu dengan teman-teman baru yang selama ini baru saya kenal di jejaring sosial, serta ikut merasakan serunya mudik asyik walaupun bukan berkampung halaman di Semarang.

Selamat menyambut datangnya bulan Ramadhan. Selamat menikmati mudik dan pulang kampung secara aman dan nyaman, Temans. Oh ya, ini ada update video commercial-nya XL itu 😀

 

Sampai jumpa di acara XL Net Rally tahun depan, ya! :-h

[devieriana]

 

Continue Reading

#XLNetRally : Sinyal Asyik, Nyambung Terus! (1)

Sejak berdomisili di Jakarta, saat-saat mudik ke Surabaya adalah saat yang paling saya tunggu-tunggu. Kesempatan setahun sekali itu benar-benar saya manfaatkan untuk bertemu dengan keluarga. Tapi bagaimana ceritanya ya, jika saya diundang ikut merasakan “mudik” ke Semarang dan semua biaya ditanggung oleh pihak penyelenggara? ;;)

—–

Sabtu (23/7) lalu saya bersama 11 orang blogger Jakarta dan Bandung lainnya sengaja diundang oleh salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia, XL Axiata untuk berpartisipasi dalam kegiatan tahunan XL Network Rally. Salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk menguji sinyal dan kesiapan jaringan XL dalam menghadapi lonjakan traffic selama Ramadhan dan Lebaran nanti. Dalam benak saya sudah terbayang betapa serunya acara ini, bisa bertemu dengan teman-teman yang selama ini hanya berinteraksi via jejaring sosial, jalan-jalan, makan-makan, dan foto-foto \:D/. Selain itu pasti akan ada pengetahuan baru seputar dunia telekomunikasi yang akan saya dapatkan disana. Yang paling seru nih, gosipnya kami akan diajak menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api ber-wifi pertama di Indonesia, Argo Bromo New Image, yang baru akan beroperasi pada Agustus 2011 mendatang, yang jaringan wifi kereta ini disediakan oleh XL Axiata, lho!

Cuaca Jakarta pagi itu yang cukup cerah, ketika pukul 06.00 saya bersama Hubby meluncur menjemput Goenrock yang sudah standby di depan Seven Eleven Mampang, dan Mbak Wiwik yang kebetulan kost di seputaran Mampang  juga. Sebagai sesama warga Mampang Unite kami pun pergi ke Gambir secara berjamaah. Perjalanan dari Mampang menuju ke Gambir lumayan lancar. Kami tiba disana sekitar pukul 06.45 dan langsung menuju Ruang Tunggu VIP Stasiun Gambir, Hall Ground Floor. Disana sudah terlihat beberapa blogger peserta XL Net Rally (ada Pitra Satvika, Leonita Julian, Mbak Eny Firsa, Mas Iman Brotoseno, Pak Amril, Mas Priyadi, Pak Ikhlasul Amal , Nita Sellya, Shinta Setiawan), para panitia, dan event organizer yang akan mendampingi kami di sepanjang acara menuju Semarang.

Setelah mengisi formulir, ngobrol, dan menikmati snack, pukul 07.30 kami diminta menuju ke lantai 2 untuk bersiap naik kereta. Seperti biasa, yang namanya ritual jalan-jalan belum afdol kalau tidak ada sesi foto-foto. Kami pun berfoto bersama dengan latar belakang Monas. Foto khas ala para pendatang banget, ya? ;))

Hingga tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Kami melihat kereta api ekslusif yang akan membawa kami ke Semarang itu mulai bergerak mendekat. Buat yang belum pernah naik kereta api sebagus ini —seperti saya misalnya— pasti awal-awalnya pengen lepas sandal deh. Biasa, takut karpetnya kotor ;)) *udik*

Kompartemen mewah itu dilengkapi dengan LCD TV 42″, pendingin ruangan, toilet, fasilitas karaoke, dan mini bar. Yang tak kalah kerennya, kereta ini dibalut dengan interior yang seluruhnya terbuat dari kayu jati. Kereta ini memiliki kapasitas tempat duduk ekslusif untuk 19 orang dan sebuah kamar tidur untuk 2 orang yang dilengkapi kaca rias, lampu tidur dan wastafel. Yang lebih istimewa lagi, ada bagian gerbong yang merupakan balkon VIP yang cukup mewah dengan pemandangan rel kereta dan alam di belakangnya. Pokoknya keren banget, deh! Kapan-kapan nyewa sendiri, ah.. *mecah celengan ayam*
Pukul 07.30 tepat, kereta api yang kami naiki mulai bergerak. Beginilah kalau yang diajak jalan-jalan adalah kaum blogger/netizen. Mulai masuk kereta, duduk, dan ketika kereta mulai berjalan, tangan-tangan kami tidak lepas dari gadget masing-masing. Semuanya sibuk “uji jaringan” alias update status di twitter dan facebook dengan tagar resmi #XLNetRally. Tak hanya itu, yang membawa kamera mulai sibuk mengabadikan tiap moment selama perjalanan. Pun halnya dengan yang membawa laptop, langsung menjalankan aktivitas kesosialmediaannya. Tak lupa dengan para pengguna i-Phone, sudah pasti mulai berburu foto-foto untuk diunggah ke instagram.

Direktur Jaringan & Layanan XL, Mbak Dian Siswarini, yang pagi itu membuka acara di dalam kereta, menginformasikan bahwa uji jaringan di jalur mudik Jakarta-Semarang ini merupakan bagian dari serangkaian program uji kesiapan jaringan yang sudah dilakukan XL di 15 kota, yaitu Jakarta, Medan, Banjarmasin, Denpasar, Makassar, Pekanbaru, Mataram, Palembang, Padang, Bandung, Lampung, Semarang, Yogyakarta, Solo dan Surabaya. Acara Uji Jaringan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau tahun sebelumnya kegiatan uji jaringan XL —yang juga melibatkan para blogger dan netizen ini— menggunakan jalan darat (mobil), sedangkan tahun ini, XL Axiata bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia menguji coba wifi dan menjanjikan layanan yang ‘nyambung terus’ selama mudik. Uji jaringan dilakukan secara rutin oleh XL Axiata untuk mengantisipasi lonjakan traffic telekomunikasi selama Ramadhan dan Lebaran yang hampir selalu dipastikan naik sebesar 30%. Sambutan dari Mbak Dian Siswarini itu ditutup dengan pemasangan topi masinis berlogo XL secara simbolis kepada perwakilan blogger, Mas Iman Brotoseno dan Mbak Eny Firsa.

Selama perjalanan kami disuguhi hiburan dari grup —yang ngakunya— bernama Rias. Mereka terdiri dari 6 personil yang membawakan lagu-lagu yang sudah cukup familiar, secara jenaka. Celetukan-celetukan ringan dan timpal-menimpali lelucon rekannya menjadi bagian hiburan Grup Rias ini. Sambil menikmati hiburan, tak lupa kami juga disuguhi sarapan nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan secangkir kopi susu hangat. Standar kereta api sih, tapi alhamdulillah habis. Laper, soalnya :p

Usai sarapan, kegiatan kami berikutnya yaitu games. Ada games pemanasan berupa “senam ayam” ala Warkop, dan games berhitung menggunakan bahasa daerah asal masing-masing peserta. Games berikutnya dilakukan secara berkelompok. Saya sekelompok dengan Goenrock, Mbak Wiwik, Shinta, dan Pak Amril. Nama kelompok kami adalah ‘Ngek-Ngek’. Sungguh nama yang sangat eksotis, ya? 8-|. Ada 3 permainan yang kami mainkan disini, memindahkan bola dari satu ember ke ember di seberangnya dengan menggunakan pipa paralon yang dibelah jadi 2, memecahkan kata-kata sandi yang jika dirangkaikan akan membentuk kalimat yang berhubungan dengan kegiatan uji jaringan XL, dan yang terakhir yaitu menyusun puzzle bergambar kereta api. Walaupun kelompok saya tidak menang tapi tetap seru, dan yang penting adalah rusuh! Karena setiap kali bola menggelinding dan jatuh, jeritan kami berubah jadi desahan :”> *muka mesum*

Selama kurang lebih 15 menit kami berhenti di stasiun Cirebon. Mbak Wiwik yang selama perjalanan duduk di samping saya mendadak ingin makan kerupuk Melarat. Kerupuk apa? Kerupuk Melarat! :-o. Kerupuk ini adalah sejenis kerupuk yang digoreng menggunakan pasir. Berhubung kami tidak diperkenankan turun, atas kebaikan hati panitia, Mbak Wiwik akhirnya dibelikan 10 bungkus! Nah lho. “Mbeliinnya kok ugal-ugalan gitu, Mas?” :)). Seperti orang ngidam, biasanya kalau ingin makanan tertentu, yang dimakan justru cuma sedikit, sisanya malah tidak termakan. Karena itulah kerupuk Melarat ini awet banget sampai kami tiba di Semarang. Gimana mau nggak awet, lha wong ngunyah satu aja tenggorokan sudah kering, kok. Apalagi 10 bungkus.

Perjalanan pun dilanjutkan. Acara berikutnya sedikit serius, nih. Paparan Tim XL Axiata tentang kesiapan jaringan mereka menghadapi lonjakan traffic komunikasi selama Ramadhan dan Lebaran, dan langkah-langkah antisipatif progresif apa saja yang sudah mereka dilakukan. Dengan menggunakan LCD TV dan beberapa perangkat yang sejak awal sudah disiapkan di meja depan TV, Pak Slamet Irianto (Manajer Kualitas Jaringan XL), didampingi Vice Presiden Network Operation XL, Pak Robert Dedy Purwanto menjelaskan kepada kami tentang hal-hal dan persiapan apa saja yang telah dilakukan oleh XL Axiata, utamanya menjelang moment Ramadhan dan Lebaran tahun ini. Mengingat hampir sudah bisa dipastikan akan terjadi lonjakan pemakaian jaringan sebesar 30%. Mereka juga menunjukkan pada kami piranti pengumpul sinyal yang dinamakan TEMS, yang menurut keterangan beliau harganya 35 ribu USD! Pfiuh! Kalau sampai hilang gimana, ya? Bakal nangis nggak tuh, kira-kira? 😕 Masih menurut beliau, perangkat ini wajib di-update antara 2-3 kali dalam setahun.

Pak Ari Tjahjanto, Service Assurance Manager XL, yang juga ikut mendampingi kami dalam kesempatan itu juga menyampaikan pesan agar kami, selaku pengguna jasa telekomunikasi, tidak perlu ragu-ragu untuk menyampaikan informasi dan keluhan (jika ada) secara obyektif tentang kualitas sinyal XL. Tentu saja harus dilengkapi dengan data-data yang akurat. Jadi kalau mau komplain jangan hanya menginformasikan, “sinyal di daerah X jelek nih..”. Tapi juga harus menyebutkan secara lengkap detail lokasi dan waktu kejadian, alamat lengkap, kondisi sinyal di HP pengguna, apakah pengguna XL yang lain di wilayah tersebut juga mengalami hal yang sama, langkah apa saja yang sudah dicoba oleh pengguna sebelum melaporkan kepada customer service XL. Memang sih sedikit ribet, tapi dengan adanya laporan yang
lengkap, diharapkan keluhan pelanggan akan lebih mengerucut sehingga akan lebih mudah dianalisa root cause-nya sehingga bisa memberikan solusi yang tepat, sesuai dengan keluhan pelanggan.

 Setelah mendapatkan sedikit pencerahan teknis tentang kesiapan jaringan XL menghadapi kenaikan traffic komunikasi selama Ramadhan dan Lebaran, kami pun dipersilakan menikmati makan siang dengan menu yang menggugah selera. Nah, kalau biasanya di kereta kita menikmati hidangan yang sudah tersaji dalam bentuk default, kali ini kami disuguhi hidangan dalam bentuk prasmanan. Asyik juga ya menikmati prasmanan di kereta. Jarang-jarang, kan? 😉

Setelah acara makan siang usai, dilanjutkan dengan acara bebas. Bebas berkaraoke maksudnya. Saya yang 2 hari sebelumnya sempat ‘ngidam’ karaokean, hari itu terpuaskan sudah. Lagu The Prayer-nya Andrea Bocelli dan Celine Dion menjadi lagu pertama yang saya bawakan. Gaya, ya? ;)). Tapi syukur alhamdulillah, berkat doa keluarga dirumah, dukungan para fans, dan para penikmat musik Indonesia, saya berhasil menyelesaikan lagu The Prayer dengan selamat, tanpa timpukan sandal, wajan, dan atau lemparan kompor [-o<. Selanjutnya silih berganti Pak Amril, Mbak Wiwik, Mbak Eny Firsa, dan Goenrock yang ikut menyumbangkan suara emas mereka. Nggak nyangka ya, ternyata banyak blogger yang multi level marketing multi talented!

Ada yang unik dalam perjalanan kami hari ini. Kami sengaja memberikan julukan spesial pada kereta yang kami tumpangi hari itu. Julukannya adalah Gerbong Galau. Bagaimana tidak, kalau sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Semarang ternyata bukan hanya saat pemilihan lagu karaoke saja yang menggalau, waktu paparan dari Tim XL Axiata tadi pun juga sempat-sempatnya curhat galau. Awalnya sih konsultasi masalah sinyal tapi makin ke belakang malah membahas tentang akibat krusial yang akan ditimbulkan kalau sinyal timbul tenggelam. BBM tidak terkirim, sms pending, panggilan disconnected melulu, dan gara-gara itu pulalah mereka-mereka yang menjalani Long Distance Relationship bisa mengalami miskomunikasi dan akhirnya putus. Kalau putus, kan jadi jomblo. Kalau jomblo, ya bisa-bisa isi timeline-nya galau semua. Hedeeuh, panjang ya hubungannya? #-o

Tanpa terasa akhirnya sampai sudah kita di Stasiun Tawang, Semarang. Penyambutannya pun cukup istimewa. Kami bukan hanya disambut oleh Mbak-Mbak cantik berkebaya hijau, tapi kami juga dikalungi celurit syal batik berbordir XL. Tak hanya itu, di tempat yang tak jauh dari lokasi pengalungan syal sudah bersiap seorang Mbak  yang juga berkebaya hijau sambil menggendong bakul dan membawa nampan berisi beberapa gelas beras kencur hangat. Mbak Febriati Nadira —Communication Head XL Axiata— yang cantik itu menyambut kami dengan hangat dan ramah. Tidak heran, karena Mbak Ira —demikian Mbak Febriati Nadira kerap dipanggil— memang akrab dengan para para blogger dan netizen. Sebelum naik bus, kami —seperti biasa— berfoto dulu di stasiun sebagai bukti bahwa kami telah tiba dengan selamat di Semarang \:D/.

Perjalanan menuju Hotel Gumaya —tempat kami menginap— tidaklah memakan waktu yang terlalu lama. Mbak Wiwiek yang (katanya) asli Semarang langsung berinisiatif menjelaskan beberapa tempat bersejarah yang kami lewati. Walaupun keterangannya terbalik-balik tapi masih okelah, Mbak! Toh kalau ada salah keterangan kami juga nggak protes kok, toh sama-sama nggak tahunya kalau ngawur :)) *sungkem*

Tak lama kemudian kami pun tiba di Hotel Gumaya. Setelah panitia mendata ulang dan membagikan kunci kamar, kami pun menuju kamar masing-masing. Kebetulan saya sekamar dengan Leonita Julian di kamar 833. Baru tahu, ternyata Leoni juga sama-sama dari Jawa Timurnya 😀

Oh ya, kami juga sempat dijamu secara informal di Toko Oen oleh Mbak Ira. Toko yang sudah dikenal sejak jaman Belanda itu hingga kini masih mempertahankan interior tempo doeloenya. Kalau diperhatikan, sedikit mirip dengan Toko Oen yang ada di Malang.

Kami memesan beberapa snack, makanan (agak) berat, dan minuman/es krim. Pesanan terbanyak adalah Poffertjes! Ada Poffertjes tawar, keju, coklat, dan coklat keju. Kenapa kami sebut banyak? Karena sepertinya tadi kami sudah berhenti memesan Poffertjes deh, tapi kok ya masih diantar lagi, lagi, dan lagi. Sehingga melihat muka Si Enthong pun terlihat seperti Poffertjes! 8-| *siwer*. Setelah menghabiskan pesanan, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak sekaligus mempersiapkan diri menuju ke acara selanjutnya yaitu Obsat, pukul 19.00, di Taman Raden Saleh, dengan menggunakan tshirt seragam yang telah dibagikan sebelumnya di dalam goodie bag \:D/

Pukul 19.00 kami berangkat dengan menggunakan bus ke lokasi Obsat, yang malam itu pelaksanaannya bekerja sama dengan National Traffic Management Center (NTMC) Kepolisian Negara Republik Indonesia. Di acara Obsat ini POLRI, hadir diwakili oleh Kombes Pol Drs. Gata Chaerudin (Kabid Tekinfokom Korlantas), Briptu Avvy Olivia dan Briptu Eka Frestya Yulianti, untuk melakukan dialog dan sosialisasi tentang kesiapan layanan POLRI dalam rangka mengamankan aktivitas pelanggan dan masyarakat saat Ramadhan dan mudik Lebaran. Bisa diduga sebelumnya, kehadiran dua Polwan cantik ini masih menjadi daya tarik bagi para undangan/blogger/netizen pria yang hadir disana. Saya bersama para blogger perempuan lainnya hanya mampu memandang trenyuh melihat aksi dan usaha para pria itu silih berganti mendekati dan foto bersama dua Polwan cantik itu. Baiklah, namanya juga usaha ya? ;))

Obsat malam itu dipandu secara interaktif oleh Ndoro Kakung dan Mbak Febriati Nadira. Sementara para blogger secara aktif melakukan live twit bertagar #Obsat #XLNetRally. Oh ya, saya sempat didatangi oleh kru O’ Channel untuk diajak menjadi filler iklan XL. Ternyata saya tidak sendiri, ada Mbak Eny Firsa, Mas Iman Brotoseno, dan Pak Amril yang juga diminta menjadi bintang iklan dadakan. Syutingnya dilakukan secara singkat di pendopo samping tempat acara Obsat berlangsung. Di depan sorotan lampu dan kamera kami berempat mengucapkan beberapa kalimat yang sudah disiapkan oleh pihak O’ Channel. Hmm, hasil jadinya nanti seperti apa, ya? Jadi penasaran 😕

Banyak kejadian lucu sepanjang acara yang berlangsung sejak pukul 19.00 s.d. 22.00 itu. Si Enthong yang keukeuh ingin menunjukkan foto berdua Briptu Eka ke orangtuanya, dan disambut dengan tatapan iba teman-teman lainnya, serta berbagai ekspresi “mupeng-mupeng-gimana-gitu” bertebaran di sepanjang acara. Puncak keriuhan pun terjadi ketika Ndoro Kakung menanyakan hal-hal seputar pribadi kepada Briptu Avvy dan Britu Eka. Sontak timeline menjadi galau, karena para pria harus rela menerima kenyataan kalau Briptu Eka sudah punya kekasih =))

Acara Obsat berakhir tepat pukul 22.00. Kami pun kembali ke hotel dengan mata yang tinggal seperempat terbuka I-). Tapi ternyata teman-teman blogger banyak yang masih ingin melanjutkan acara hang out, tapi ada beberapa peserta yang memilih untuk istirahat di hotel, atau memiliki acara lain di luar itu. Saya menutup hari itu dengan tidur lelap…

 

[devieriana]

 

Bersambung ke tulisan berikutnya

Foto koleksi pribadi dan sebagian pinjam Mas Priyadi Iman Nurcahyo

Continue Reading

Unspoken Love

Kalau ditanya paling dekat dengan Papa atau Mama, saya akan dengan mudah menjawab, Mama. Padahal kalau anak perempuan kan biasanya lebih dekat dengan ayah, daripada dengan ibunya, ya? Sebenarnya saya dekat-dekat saja sih dengan Papa, tapi mungkin karena Mama lebih banyak waktu di rumah dan jauh lebih komunikatif dengan anak-anaknya sehingga menjadikan kami bertiga lebih dekat dengan Mama daripada Papa.

Seperti tipikal ayah pada umumnya, Papa cenderung pendiam dan kurang ekspresif. Hampir tidak pernah secara terang-terangan bilang, “Papa sayang kalian…”. Beda dengan Mama, selain “lebih rame” juga ekspresif sekali. Kalau saya kebetulan pulang ke Surabaya, saya sengaja meluangkan waktu untuk ngobrol dengan Papa. Sekadar menanyakan tanaman-tanaman apa saja yang baru, kegiatan apa saja yang dilakukan Papa saat ini, dan koleksi perabotan apa saja yang sudah bertambah. Oh ya, Papa suka bercocok tanam, kadang sering diminta menjadi MC di beberapa resepsi perkawinan, dan beli pernak-pernik ini-itu untuk sekadar dikoleksi.

Waktu kami kecil dulu, Papa adalah orang yang paling sering memberikan hiburan. Membelikan kami kaset lagu, kaset Sanggar Cerita, buku cerita, dan majalah anak-anak. Belum lagi sebelum tidur, Papa selalu menyempatkan untuk mendongeng —selelah apapun beliau— walaupun tokohnya dari kancil ke kancil. Kancil yang dimodifikasilah. Tokoh kancil sering tiba-tiba dimunculkan walau itu di dongeng Cinderella sekalipun ;))

Kebiasaan saya dulu, sebelum tidur, selalu menyisipkan tangan saya diantara bantal dan leher Papa hingga saya tertidur. Nggak tahu kenapa bisa begitu, berasa hangat aja. Hanya Papa yang “tahan” lehernya saya pegangi selama tidur. Anggota keluarga yang lain? Boro-boro. Alasannya sih geli.

Ada hal lucu yang sampai sekarang masih saya ingat. Kata Papa, pernah suatu malam saya tiba-tiba terbangun dan membangunkan beliau hanya untuk menanyakan hal absurd macam ini, “Pa, kalau aku udah besar nanti aku bisa jadi peragawati, nggak?” Kalau saya pikir-pikir, buset, demi apa saya tanya begitu doang malam-malam? :)) Papa hanya tersenyum —kalau tidak boleh dikatakan menahan tawa— mengiyakan pertanyaan saya sambil menyuruh saya tidur lagi. Anehnya, habis itu saya melanjutkan tidur lagi dengan pulas. Jadi, ternyata saya ngelindur ;)).

Tumbuh sebagai anak sulung, perempuan pula, Papa selalu menjaga dan mengawal saya bak seorang bodyguard. Menjemput kalau saya pulang malam, sekalipun harus naik angkot. Motor kami habis dicuri maling, sehingga kemana-mana terpaksa harus naik angkutan umum.

Kami dulu juga pernah merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan air karena aliran air dari PDAM mati total selama berhari-hari, dan kalau pun sempat menyala itu hanya beberapa jam habis itu mati lagi berhari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan air, setiap malam terpaksa Papa mengambil air dengan menggunakan jerigen yang diangkut dengan menggunakan motor. Mengambil airnya pun tidak tanggung-tanggung, ke kantor beliau yang berjarak satu kilometer dari rumah. Sendirian Papa mengangkat jerigen, mengisi bak hingga penuh supaya besok kami bisa mandi, dan airnya bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Itu dilakukan setiap hari mulai pukul 10 malam hingga pukul 2 dini hari tanpa mengeluh. Kalaupun Papa pernah terlihat meringis nyeri sambil memegang perut bagian bawah itu juga nyaris tidak pernah dikatakan secara langsung. Kami yang tanpa sengaja melihatnya.

Setelah saya pindah ke Jakarta, saya jadi jarang ngobrol lagi dengan Papa. Entah, rasanya nggak pernah kuat berlama-lama ngobrol dengan beliau, selalu ingin menangis. Seolah ada kerinduan yang terselip di setiap kata-kata yang terucap oleh beliau yang sengaja tidak diucapkan. Seperti halnya percakapan di telepon kapan hari.

Saya : Pa, sekarang Papa lega dong ya, Adek kan sudah dapat pekerjaan yang layak dan sesuai sama bidang pendidikannya di Bank Jatim, insyaallah sudah enak, ya? 🙂

Papa : iya, alhamdulillah.. Papa lega banget Adek kemarin lulus ujian masuk di sana. Papa bangga sama Adek, sama kamu, sama Echa. Doa Papa akhirnya satu persatu dikabulkan sama Allah….

Saya : mmh, emang Papa berdoa apa?

Papa : tiap malam Papa tahajud, berdoa buat kita sekeluarga, terutama buat kalian bertiga. Papa berdoa semoga kita diberikan kesehatan dan dijaga keselamatannya. Kamu dan Echa semoga hidup rukun bersama keluarga kalian dan segera diberikan momongan, Adek supaya diberikan pekerjaan yang tetap dan lebih baik daripada sebelumnya. Tiap malam Papa tahajud dan berdoa tanpa putus. Alhamdulillah satu-persatu doa Papa didengar dan dikabulkan sama Allah..

Saya : ….

Papa : lebaran nanti kamu pulang kan, Vi?

Saya : iya, insyaallah pulang, Pa… *menahan tangis*

 

“… I have learned over the years that love is sometimes unspoken. Love’s actions can speak louder than words. Unconditional love is often simple and unassuming. When you think about the men in your life, don’t think about the words they have spoken, but remember the love they have shown you in what they do and who they are….” – Anonymous

Terima kasih untuk semuanya ya, Pa. I love you.. :-* >:D<

[devieriana]

ilustrasi diambil dari sini

 

Continue Reading

Pencari Amal

Pernahkah pertanyaan dan doa kalian dijawab Tuhan hanya dalam beberapa jam saja sejak kalian mengucapkannya? Saya, kemarin malam..

Malam itu, saya bersama suami akan makan malam di daerah Tebet. Baru saja kami memarkir kendaraan di seberang tempat makan yang kami tuju, persis di samping pintu mobil sudah berjajar 3 bocah lelaki usia tanggung yang salah satunya menyodorkan kotak mirip kotak semir sepatu. Saya yang saat itu hanya menggunakan sandal jepit terpaksa menolak halus karena memang tidak butuh semir.

“Ya sudah Tante, kami boleh minta tolong belikan nasi sebungkus aja? Biar nanti kami makan bertiga…”, tutur anak lelaki yang paling kecil.

Mereka nampak kurus, kumal dan lusuh, mungkin karena sudah seharian di jalanan. Masing-masing memegang kotak kayu seukuran kardus sepatu, dengan baju yang sudah tidak jelas warnanya. Diam-diam saya merasa iba. Sudah berapa banyak orang yang menyemirkan sepatunya pada mereka hari ini? Sudah berapa lembar rupiah yang mereka dapatkan untuk menyambung hidup mereka hari ini? Tanpa berpikir lama, saya pun mengiyakan permintaan mereka untuk membelikan makan.

Suami saya lalu mengajak mereka untuk duduk, menanti nasi goreng yang kami pesankan untuk mereka. Saya belajar dari suami untuk tidak selalu memberi anak-anak jalanan itu uang. Kalau memang alasannya adalah untuk beli makan dan mereka lapar, belikanlah mereka makan. Karena kalau uang kadang belum tentu dibelikan makanan beneran.

Sesekali saya melihat mereka dari tempat duduk saya. Kebetulan mereka duduk terpisah dari kami lantaran tempat duduk yang ada di dalam sudah penuh, sehingga hanya tersisa tempat duduk di luar saja. Tapi tak apa yang penting mereka bisa menikmati makan malam dengan layak.

Ketika pesanan datang, mereka langsung menyantapnya dengan lahap sambil sesekali bergurau. Ya Allah, ternyata mereka lapar beneran.

Seusai makan, saya menghampiri mereka. “Kalian sudah selesai makannya?” tanya saya. “Sudah, Tante, terima kasih. Makan malamnya, enak…” jawab salah satu dari mereka dengan wajah sumringah. Saya tersenyum, mengangguk, sambil melirik ke arah piring mereka yang bersih.

Sambil menunggu suami saya selesai makan, saya mengambil duduk di samping mereka.

Saya : “kalian sekolah, nggak?”
Mereka : “sekolah, Tante. Tapi lagi libur..”
Saya : “oh, iya, lagi libur sekolah, ya? Kalian kelas berapa aja?”
Anak 1 : “saya kelas 2 SMP, Tante..”
Anak 2 : “kalau saya kelas 3 SMP, Tante..”
Anak 3 : “saya baru lulus SMP, Tante..”
Saya : “kamu nerusin sekolah, nggak?”
Anak 3 : “nerusin, Tante.. :)”
Saya : “wah, kalian hebat deh, masih ada semangat buat sekolah… Jarang-jarang lho ada anak-anak yang hidupnya di jalanan kaya kalian tapi masih punya semangat buat menuntut ilmu. Eh, bentar ya, Tante bayar ke kasir dulu. Kalian tunggu disini..”

Selesai membayar di kasir saya pun kembali ke meja mereka. Mendadak yang paling kecil berkata:

Anak 1 : “Tante, kami boleh minta tolong lagi, nggak?”

Dua anak lainnya duduk menunduk mendekap kotak kayu masing-masing sambil menyenggol kaki anak yang yang paling muda itu. Mungkin maksudnya mencegah dia bilang sesuatu. Tapi yang dikode sepertinya tidak sadar atau mungkin tidak mengacuhkan kode kedua temannya itu.

Saya : “Ya, apa?”
Anak 1 : “Mmmh, Tante, boleh nggak kami minta tolong dibelikan buku tulis buat sekolah?”

Keharuan langsung menyeruak dalam hati saya. Ya Allah, baru saja tadi sore ketika saya menyusuri beberapa linimasa Twitter yang concern dengan masalah sosial, saya mengucapkan sebuah pertanyaan sekaligus doa:

“Ya Allah, kapan ya saya bisa ikut membantu anak-anak yang kurang mampu tapi masih punya semangat untuk sekolah?”

Ternyata dalam waktu yang tak berapa lama Tuhan langsung menghadirkan ke hadapan kami bukan hanya 1, tapi 3 anak yang masih punya semangat sekolah tapi kurang ada biaya. Tanpa menunda waktu lagi, saya langsung mengiyakan permintaan mereka. Kami pun langsung menuju ke salah satu supermarket terdekat dan membiarkan mereka memilih apa yang mereka perlukan.

Namun sesampainya kami di tempat tujuan, mereka justru saling berpandangan ragu.

Saya : “lho, kok malah bengong? Kalian pilih apa saja yang kalian butuhkan. Buku, alat tulis?”
Anak 3 : “ini aja, Tante. Satu pak buku tulis aja udah cukup, nanti kami bagi bertiga..”
Saya : “lah, satu pak kan cuma isi 10, kalau dibagi bertiga kalian masing-masing hanya akan dapat 3 buku tulis. Ya nggak cukup dong, Sayang. Ya udah ambil buat masing-masing, gih..”

Saya mengambilkan masing-masing 1 pak buku tulis, alat tulis, dan sebuah buku gambar ukuran A3 buat anak yang paling kecil, karena katanya dia sangat suka menggambar. Ketika saya menawarkan untuk membeli keperluan sekolah lainnya, jawaban mereka, “sudah Tante, terima kasih, ini saja sudah cukup kok. Kami sebenernya cuma butuh buku tulis saja..”

Seusai membayar semuanya di kasir, ketika akan menuju ke parkiran, sambil merangkul bahu anak yang paling kecil:

Saya : “nama kamu siapa?”
Anak 1 : “Dindin, Tante..”
Saya :“kalau yang 2 itu siapa aja namanya?”
Anak 1 :“itu Adis sama Firman..”
Saya :“kalian satu sekolah?”
Dindin :“iya, mereka kakak kelas saya..”
Saya :“oh.. kalian sekolah dimana?”
Dindin : “di Perguruan Rakyat 1, Tante..”
Saya :“masuk pagi atau siang?”
Dindin :“siang..”
Saya :“Kamu tiap hari nyemir sepatu?”
Dindin :“Kami bukan nyemir sepatu, Tante..”
Saya :“lha, kotak yang kalian bawa itu tadi apa?”
Dindin :“itu kotak amal buat musala, Tante. Kami mencari infaq dan sedekah untuk musala kami..”

Mak jleb! Ya Allah, ternyata kotak yang semula saya pikir itu adalah kotak semir sepatu adalah kotak amal untuk musala yang mereka edarkan untuk diisi oleh siapa saja yang mau bersedekah? Mata saya menghangat. Air mata saya langsung menggenang.

Tahu nggak sih bagaimana rasanya ketika di akhir-akhir peristiwa kalian baru tahu kalau yang kalian bantu itu ternyata anak-anak mulia yang bergerak di jalan agama, bukan meminta uang untuk mengemis?

Firman : “Oom, Tante, nanti kami turun di tempat yang tadi aja ya. Karena kami harus mencari 1 orang teman yang lain sebelum kami pulang, dia terpisah dari kami tadi…”
Suami: “rumah kalian di mana? biar sekalian kita anter..”
Mereka : “di daerah Kampung Pulo, Oom.. Terima kasih, Oom. Nggak usah. Nanti kami pulang naik ojek saja.”

Berhubung mereka masih harus mencari teman yang lain, terpaksa mereka kami turunkan persis di tempat kami bertemu tadi. Sebelum berpisah, satu persatu mereka berpamitan dan mencium tangan saya. Wajah mereka terlihat sumringah walaupun ada gurat lelah yang tak mampu mereka sembunyikan.

Saya menggenggamkan beberapa lembar rupiah ke tangan Dindin. Ini buat kalian pulang ya. Hati-hati di jalan. Salam buat teman kalian yang satu lagi ya…”, bisik saya sambil setengah mati menahan air mata supaya tidak jatuh.

Setelah sesi perpisahan yang mengharukan itu, tangis saya pun akhirnya tak terbendung lagi. Tak disangka bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa saya begitu cepat. Allah bekerja melalui jalan yang benar-benar misterius, karena awalnya kami sempat berniat akan makan di daerah Megaria, tapi entah kenapa justru mengarahkan tujuan kami menuju Tebet, sehingga mempertemukan kami dengan 3 pengedar kotak amal bernama Dindin, Adis, dan Firman tadi.

Sambil mengelus kepala saya, suami berkata, “bersyukur bahwa kita masih diberikan kesempatan berbagi. Kalau soal rezeki insyaallah masih bisa kita cari. Semoga apa yang sudah kamu berikan malam ini berkah buat mereka ya…”

Saya mengangguk pelan sambil menyeka air mata yang tak henti-henti mengalir. Kami pun menyusuri jalanan yang mulai lengang dalam keheningan masing-masing.

Dalam hati saya berdoa, “semoga Allah melindungi kalian bertiga hingga sampai dengan selamat di rumah dan bertemu kembali dengan keluarga, ya. Aamiin…”

 

[devieriana]

Continue Reading