Raga yang Tak Lagi Sama

Dulu, saya pernah mengira bahwa kehilangan sebuah bagian dari tubuh berarti kehilangan esensi diri sebagai perempuan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya justru belajar bahwa keutuhan tidak selalu tentang apa yang ada di dalam fisik kita, melainkan tentang bagaimana kita menerima setiap babak baru kehidupan dengan syukur yang lebih dalam.

Membaca kembali catatan saya setahun lalu, An Unexpected Stay, A Life Reset, rasanya seperti menengok kembali momen ketika hidup berubah dalam sekejap. Tak pernah terbayang sebelumnya, saya harus berdamai dengan kenyataan yang tidak pernah saya duga, harus menjalani operasi pengangkatan rahim.

Kehilangan salah satu organ itu hanyalah awal dari serangkaian perubahan yang harus saya terima. Masa-masa awal pascaoperasi memang tidak mudah. Saya menjadi lebih cepat lelah. Metabolisme tubuh yang melambat juga menyebabkan berat badan saya terasa lebih cepat naik dibandingkan sebelumnya. Belum lagi saya sering diserang hot flash secara tiba-tiba, sampai-sampai kipas angin portabel jadi barang yang wajib ada di tas saya.

Perjalanan setahun kemarin menyadarkan saya bahwa kesehatan organ reproduksi sama pentingnya dengan menjaga kesehatan anggota tubuh lainnya. Posisinya yang tersembunyi sering membuat kita luput memberikan perhatian, padahal di sanalah letak salah satu sumber kekuatan utama bagi seorang perempuan. Semakin dini kita peduli pada sinyal tubuh, semakin besar peluang kita untuk memberikan penanganan terbaik bagi diri sendiri. Namun, jika pada akhirnya hasil medis mengharuskan kita mengambil keputusan besar, janganlah berkecil hati. Jika satu-satunya jalan untuk menjadikan kita lebih sehat dan berumur panjang adalah dengan merelakan sebuah organ, maka itulah bentuk kasih sayang tertinggi kita terhadap diri sendiri dan keluarga di rumah.

Setahun telah berlalu, dan kini saya melihat kembali perjalanan ini dengan cara pandang yang baru. Mungkin sekarang ‘rumah’ di dalam tubuh sudah tiada, namun ada ruang untuk rasa syukur yang lebih besar. Seperti Ramadan tahun ini yang bisa saya lalui sebulan penuh tanpa jeda, saya maknai sebagai kesempatan dari Allah untuk hidup lebih sehat dan berkualitas bagi diri sendiri dan orang-orang tersayang. Hal ini menjadi pengingat sekaligus penguat bahwa di balik setiap kehilangan, selalu ada hal yang layak untuk disyukuri dan peluang untuk memulai babak kehidupan yang lebih baik.

Untukmu, para perempuan luar biasa di luar sana yang juga sedang atau pernah mengalami hal yang sama:
Kehilangan rahim bukan berarti kehilangan esensi kita sebagai perempuan. Kita tetaplah perempuan dan ibu yang utuh bagi anak-anak kita dan keluarga kita, tetap menjadi pribadi yang berdaya di tempat kerja, dan tetaplah jiwa yang sempurna di mata Sang Pencipta, dengan atau tanpa rahim di dalam tubuh kita.

Kita tidak kurang. Kita hanya sedang bertumbuh dalam bentuk yang berbeda.

Sebagai penutup, saya ingin berhenti sejenak, dan memberikan pelukan paling hangat untuk diri saya sendiri.
“Terima kasih ya, badanku. Terima kasih sudah bersabar melalui masa-masa sulit itu. Terima kasih sudah berjuang dengan sangat hebat untuk pulih paripurna dalam waktu yang singkat. Kamu telah membuktikan bahwa kamu jauh lebih kuat dari apa yang pernah aku bayangkan.”

Saya bersyukur telah melampaui masa-masa kritis pada tahun lalu. Kini, dengan raga yang telah kembali pulih dan sehat, saya siap melangkah untuk menyambut hidup yang lebih berkualitas dengan cerita-cerita baru yang jauh lebih indah.

Everything is going to be okay, and indeed, it is already okay.

Devi Eriana

Continue Reading

Happines Unframed

“I thought you’re happier when I’m not around..”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Alea saat kami melihat-lihat arsip foto lama di Instagram saya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa menarik simpulan seberat itu hanya setelah melihat kotak-kotak gambar kecil di layar ponsel?

Kebetulan Alea belum memiliki akun media sosial. Komentar tadi bermula saat kami ngobrol berdua tentang aneka bentuk potongan rambut. Saya ingin menunjukkan rambut Pixie saya pada tahun 2013. Namun, siapa sangka, selagi saya menggulir layar, matanya yang jeli sibuk mengamati. Ia menemukan bahwa galeri Instagram saya di masa lalu begitu berwarna, jauh sebelum dia hadir dan memenuhi beranda.

Lewat nalarnya yang polos, ia sedang mempertanyakan apakah kehadirannya benar-benar membuat hidup saya lebih berwarna, atau justru sebaliknya? Sebab di mata Alea, foto-foto saya pada rentang 2010 hingga 2014 tampil dengan warna-warna cerah dan kontras yang tajam. Berbeda dengan masa setelah ia lahir, di mana pilihan warna saya berubah menjadi deep & muted colors. Bagi Alea, warna cerah adalah simbol mutlak dari kebahagiaan. Maka saat warna di beranda saya tampak lebih redup, ia menyangka kegembiraan saya pun ikut berkurang.

Mungkin Alea benar. Instagram saya tak lagi seberwarna dulu. Entah mungkin karena kini saya jauh lebih pemilih ketika akan mengunggah konten. Ada idealisme bahwa setiap konten yang saya unggah harus punya cerita yang layak untuk dibagikan. Lagipula, stok foto diri saya sudah tak sebanyak dulu. Sekarang saya lebih sering berada di balik kamera ketimbang di depan lensa, sengaja ingin memberikan ruang bagi cerita-cerita yang lebih baik dibagikan ketimbang disimpan sendiri, terlepas dari apakah ada manfaatnya bagi orang lain atau tidak.

Sambil mencoba meredam haru yang mendadak menyeruak, saya flashback ke era 2010-an, ketika Instagram masih menjadi media sosial yang bersaudara dekat dengan Posterous dan Tumblr. Masa ketika sebagian dari kita mungkin rela menjinjing DSLR ke mana-mana, sengaja berburu objek foto, mengedit dengan saturasi terbaik, dan memastikan setiap inci gambar terlihat sempurna saat diunggah di berbagai platform media sosial.

Dulu, meski hanya bermodal kamera ponsel, saya selalu punya waktu untuk mencari sudut pandang yang pas agar hal-hal sederhana yang saya tangkap bisa terlihat unik. Objeknya pun bisa apa saja, bahkan hal-hal paling acak sekalipun, misalnya setangkai bunga di pinggir jalan, jamur yang tumbuh di sela kursi kayu, arsitektur gedung, mandatory photo memotret bentang alam dari jendela kabin pesawat, hingga cahaya yang membiaskan dasar botol mineral.

Saat itu, saya merasa sebuah gambar baru benar-benar ‘hidup’ jika hadir dengan shadow yang pekat serta warna yang tajam. Keindahan tampilan foto harus kontras agar warnanya bisa langsung dikenali mata.

Namun, ada satu hal yang luput dari ingatan saya adalah Alea tidak pernah melihat proses di balik layar itu. Ia tidak tahu bahwa dulu saya harus ‘memoles’ hasil foto sedemikian rupa agar tampak estetik.

Sementara bagi Alea, setiap gambar yang ia lihat adalah kejujuran yang ia serap utuh. Ia tidak akan mencari saya di balik titik-titik stories Instagram. Ia akan mencari saya di beranda utama dan memastikan bahwa dunia ibunya ini benar-benar masih berwarna ataukah kebahagiaan itu justru memudar sejak ia ada?

Namun, pada kenyataannya, kehadiran Alea memang mengubah cara mata saya menerjemahkan warna. Karena dunia saya menjadi ‘penuh’ sejak kehadirannya. Saya tidak lagi merasa perlu membuktikan kebahagiaan itu lewat polesan warna yang menyala di layar ponsel.

Saya menatap matanya, mencoba mencari kata yang paling sederhana untuk bisa ia simpan dalam ingatannya.

“Alea, rasa sayang orang tua itu tidak bisa diukur dari seberapa berwarnanya postingan mereka di Instagram. Kebahagiaan juga tidak ditentukan oleh seberapa sering kita mengunggah foto keluarga untuk dilihat orang lain.”

Saya mengusap rambutnya, memastikan ia merasa tenang.

“Dulu, kenapa Mama sering posting hal-hal random berwarna terang, Ya, memang begitulah cara dunia bercerita saat itu. Dulu Mama punya banyak waktu untuk memotret objek-objek random dan menulis apa pun di blog, karena itu adalah cara untuk mengisi waktu, jauh sebelum ada Alea. Tapi begitu Alea lahir, kebahagiaan Mama jadi jauh lebih terlihat. Mungkin foto-foto di Instagram Mama tidak lagi seberwarna dulu, tapi itu bukan berarti Mama tidak bahagia. Justru, Mama ingin menampilkan apa adanya keseharian Mama sama Alea. Because you’re the colour itself, Alea.

Air matanya mulai menggenang. Saya melanjutkan pelan.

“Mama sebenarnya lebih suka menulis cerita tentang Alea di Instastory. Di sanalah, Mama mencatat cara berpikir Alea yang unik atau obrolan-obrolan kita yang random. Mama menyimpan semuanya di sana supaya orang-orang tahu betapa istimewanya Alea. Dan kalau kelak kamu cari nama kamu di internet, kamu akan menemukan nama itu tertulis pertama kali di blog Mama di bulan Juli 2014. Selang beberapa hari setelah kamu lahir. Karena sejak hari itu, kamu adalah inti dari semua cerita yang Mama tulis.”

Dalam sekejap, binar matanya redup. Air mata yang ia tahan pun luruh. Ia dekap tubuh saya erat-erat, menyandarkan isak tangisnya dalam pelukan saya. Ada rasa haru yang menjalar saat menyadari bahwa ternyata selama ini, dalam diamnya, ia begitu teliti mengamati setiap keping kebahagiaan saya.

Ketelitian itu sebenarnya selalu ada dalam rutinitas sepulang saya dari kantor. Dengan tulus ia pasti akan bertanya, “How was your day, Mama? Was everything good?” Ia pun punya cara yang sangat manis untuk mengungkapkan isi hati tanpa perlu menunggu alasan. Kapan pun dia mau, dia bisa saja berucap, “I love you…” yang kini saya sadari, itulah caranya menjaga agar ‘warna’ dunia saya baik-baik saja.

Sedikit saja perubahan pada raut wajah saya, ia akan cemas bertanya, “Mama, what’s wrong? Are you okay?” Padahal, mungkin memang begitulah ‘setelan wajah’ saya setelah seharian bergelut dengan lelah, sehingga tidak selalu bisa tampil cerah ceria setiap saat. Namun bagi Alea, sedikit saja mendung bergayut di wajah saya, itu sudah cukup menjadi penanda bahwa dunia saya sedang tidak baik-baik saja. Karena bagi Alea mata adalah indera utama yang ia gunakan untuk menyerap dunia. Di balik tatapan matanya ada pikiran yang sedang bekerja keras mengartikan cinta dengan cara yang sangat luar biasa.

Kesadaran itulah yang membuat saya terdiam dalam sebuah kontemplasi panjang semalam. Apakah selama ini saya terlalu sibuk berdiri di balik lensa, mengabadikan setiap jengkal tumbuh kembangnya hingga lupa untuk masuk ke dalam bingkai yang sama?

Memang ada kebahagiaan tersendiri setiap kali Google Photos memunculkan kembali foto-foto lama. Melihat fisiknya yang berubah, tawanya yang terekam kamera, dan binar matanya yang tak pernah gagal membuat hati saya terasa penuh. Namun, dokumentasi kebersamaan kami bertiga memang kerap kali tidak lengkap, kadang hanya berdua, atau lebih sering hanya dia seorang diri. Saya baru menyadari bahwa Alea tidak hanya butuh direkam. Ia butuh kami ada di dalam frame yang sama dengannya. Ia butuh bukti visual bahwa kami melangkah beriringan.

Jarangnya potret bertiga di beranda ini tak lepas dari kondisi kami yang menjalani pernikahan jarak jauh. Kondisi yang akhirnya menempatkan saya sebagai sosok satu-satunya yang hadir secara fisik dalam kesehariannya. Nun jauh di sana, papanya menjadi pilar yang memastikan kebutuhan kami terpenuhi, agar saya bisa sepenuhnya mendampingi tumbuh kembang Alea dengan optimal.

Di saat-saat inilah saya diajarkan bahwa kebahagiaan kadang tidak tumbuh dalam hiruk-pikuk. Sejujurnya belakangan ini, saya merasa jauh lebih nyaman menumpahkan isi kepala ke dalam bentuk tulisan ketimbang harus berpose di depan kamera. Mungkin kedewasaan perlahan menggeser keinginan untuk menjadi pusat perhatian. Ada potongan waktu yang terasa terlalu sakral jika harus diganggu oleh bunyi shutter kamera; ada tawa yang cukup disimpan rapat dalam ingatan, tanpa perlu divalidasi oleh jumlah likes di media sosial.

Namun, teguran Alea itu menyadarkan saya untuk mulai mencoba lagi. Saya ingin punya banyak kesempatan untuk mendokumentasikan kebersamaan kami lebih banyak dengan warna-warna cerah. Tentu saja kali ini bukan demi estetika, melainkan agar kelak ia punya jejak visual yang mengingatkannya akan betapa menggembirakannya masa kecil yang dia lalui bersama kami.

Ternyata, kepolosan cara berpikir seorang anak punya caranya sendiri untuk menyentuh hati. Dari Alea, saya belajar tentang arti kehadiran yang utuh, bahwa tugas orang tua bukan sebatas mencukupi raga anak-anaknya saja, melainkan juga merawat persepsi dan saling bertukar isi hati. Menjadi ibu ternyata adalah perjalanan pulang. Dari saya yang dulu sibuk ‘mencari cahaya’ dan spotlight, kini bertumbuh menjadi rumah bagi cahaya itu sendiri.

Kini saya tidak lagi membutuhkan saturasi warna yang tajam untuk merasa benar-benar hidup. Sebab spektrum warna yang paling jujur itu telah saya temukan pada binar mata Alea, pada renyah tawanya yang pecah saat kami berkelakar, pada emosi yang silih berganti mewarnai perjalanan tumbuh kembang kami bertiga, pada rentetan cerita absurd yang mewarnai hari, dan pada hangat yang menyusup di antara pelukan kami setiap waktunya.

Tugas saya sekarang adalah meyakinkan Alea bahwa dialah alasan dunia ini terasa jauh lebih berwarna, meski warna itu tak lagi mampu ditangkap oleh sensor kamera mana pun.

Untuk Alea:
Maafkan Mama ya, jika beranda digital Mama yang sempat kamu lihat tampak lebih redup. Itu karena Mama sedang terlalu sibuk memandangi cahayamu yang begitu benderang di dunia nyata.

-Devieriana-

Gambar ilustrasi: Gemini AI & tangkapan layar Instagram @devieriana

Continue Reading

Konselor Itu Bernama AI

Beberapa waktu lalu ini, ada sebuah utas Threads yang cukup menyita perhatian. Meski singkat, isinya sangat menohok: ‘Teman-teman, jangan curhat ke ChatGPT ya. Udah banyak kasus ChatGPT cuma “ngasih makan” delusi yang sudah ada dan memperburuk kondisi seseorang. Jangan ya.

Saya terdiam, kok seperti dejavu, ya. Membaca satu per satu argumen yang muncul, malah rasanya seperti sedang melihat potret hubungan manusia di zaman sekarang yang semakin rumit.

Tapi di balik peringatan itu, kolom komentar justru memotret realita yang lebih getir. Ternyata banyak yang mengaku kalau memilih curhat ke AI bukan karena mereka naif tentang risikonya, tapi karena dunia nyata memang sekejam itu. Bagi mereka yang selama ini harus berjuang sendirian dengan kesehatan mental, kehadiran AI terasa begitu menguatkan, meski mereka tahu semua itu sama sekali semu.

Ironisnya, di antara pembelaan yang menyedihkan itu, masih saja terselip satu komentar sinis yang khas,“Hah, curhat ke ChatGPT? Nggak punya temen, lo?!

Komentar seperti itulah yang justru menjadi alasan kenapa banyak orang akhirnya ‘kabur’ ke AI, karena ternyata, dunia nyata kita sedang setidaknyaman itu, ya. Akhirnya di saat manusia lain lebih cepat menghakimi daripada mendengar, sebuah algoritma yang tidak bernapas pun akhirnya dianggap lebih ‘manusiawi’ ketimbang manusia itu sendiri.

Di sisi lain, kenyamanan yang ditawarkan AI ini perlu disikapi dengan bijak. Ada sebuah tulisan di mana Prof. Ridi Ferdiana dari UGM memberikan sebuah analogi, “AI itu seperti obat. Kalau digunakan secukupnya bisa membantu, tapi kalau berlebihan, ia akan menimbulkan ‘keracunan’”

Bicara tentang kesehatan mental, AI ini beda jauh dengan konselor manusia. AI tidak punya kesadaran atau rasionalitas layaknya seorang konselor. Dia bekerja dengan algoritma yang sifatnya memprediksi kata-kata yang paling pas untuk menyenangkan atau memvalidasi penggunanya. Jadi, misalnya saat kita sedang dalam kondisi mental yang rapuh, jawaban AI yang terasa bijak itu sebenarnya adalah hasil pengolahan data untuk memberikan respons yang paling relevan dengan perasaan yang kita masukkan. Jadi tentu responnya pun belum tentu valid. Itulah sebabnya, kalau kita memasukkan narasi yang salah (garbage in), AI akan memberikan validasi yang salah pula (garbage out), yang ujung-ujungnya bisa membuat kita merasa benar, padahal mungkin sedang dalam fase delusi.

Ada juga yang bilang, “Lho, ChatGPT itu kan cuma alat, semua balik lagi ke cara kita kasih prompt-nya. Ibarat sebilah pisau, mau dipakai buat apa ya tergantung siapa yang pegang. Kalau kita kasih input yang jujur dan objektif, dia malah bisa ngasih ‘tamparan realita’ yang bikin kita move on. Jadi sebenernya bukan alatnya yang salah, tapi mungkin kitanya aja yang lagi cuma pengen cari pembenaran lewat dia.” Nah, masalahnya, saat mental sedang berada di titik terendah, siapa sih yang punya cukup logika untuk menjadi pengguna yang bijak? Di saat mental rapuh, kita cenderung kehilangan kendali atas ‘pisau’ itu sendiri. Dan itulah celah bahaya yang sering kali tidak kita sadari.

Kisah Kendra Hilty adalah pengingat yang paling nyata tentang betapa tipisnya batas itu. Semua bermula saat Kendra ‘merasa’ psikiaternya memberikan perhatian lebih, hingga ia terjebak dalam apa yang disebut sebagai Romantic Transference, sebuah kondisi saat seseorang memindahkan seluruh haus akan kasih sayang kepada subjek di depannya. Bingung dengan perasaannya, Kendra bertanya pada Henry (nama yang ia berikan untuk ChatGPT-nya) tentang hal tesebut. Berhubung Henry hanyalah AI, dia tidak mengingatkan batasan logis soal etika profesional antara pasien dan psikiater. Henry justru memberikan validasi atas keseluruhan delusi Kendra. Memberi isyarat bahwa memang benar sang psikiater punya perasaan lebih padanya. Hingga akhirnya Kendra menyatakan cinta secara langsung dalam sesi konseling offline, yang akhirnya menjadi langkah yang menghancurkan proses terapi dan kariernya sendiri sebagai life coach.

Di sinilah letak bahayanya. AI memang didesain jago memberikan saran yang masuk akal, tapi lagi-lagi AI hanya bicara secara logika mesin, bukan perasaan manusia. Mungkin benar, AI bisa jadi semacam P3K emosional saat dunia nyata sedang terlalu berisik, dan ‘rumah’ tak lagi punya telinga untuk mendengar. Tapi, curhat ke mesin tetap ada batasnya. Luka batin kita memerlukan pendampingan profesional untuk benar-benar pulih. Karena pada akhirnya, penyembuhan yang sesungguhnya itu tidak akan pernah lahir dari bahasa balasan dari mesin. Kita tetap membutuhkan kehadiran manusia seutuhnya, yang secara nyata bisa melihat kita menangis sesenggukan, memberikan afeksi, atau pelukan hangat yang bisa meredam segalanya.

AI mungkin punya jawaban untuk segalanya, tapi ia tidak punya jiwa untuk siapa pun.

– devi eriana –

ilustrasi dibuat oleh Gemini AI

Continue Reading

An Unexpected Stay, A Life Reset


I never thought a regular Wednesday would end with me lying on a hospital bed, staring at white ceilings and counting the beeps of machines. It wasn’t part of the plan. I mean, who plans to swap weekend Netflix for an IV drip and a hospital gown that doesn’t quite cover your dignity? But sometimes, life doesn’t ask for your permission—it just throws you straight onto a gurney.

Rabu (26/2) itu saya masih melanjutkan aktivitas seperti biasa, menyelesaikan pekerjaan rutin, ikut tes konversasi Bahasa Inggris, lalu munggahan bersama teman-teman kantor menyambut Ramadan. Tidak ada pertanda apa pun. Saya pikir hari itu akan berakhir seperti biasanya: pulang, istirahat, dan bersiap untuk aktivitas esok hari. Tapi ternyata, Allah punya rencana lain.

Menjelang pulang kantor, perut saya mendadak terasa kembung, nyeri, melilit, dan perih yang makin lama makin menusuk. Saya pikir, ah ini cuma gangguan pencernaan biasa, bisa jadi akibat saya ada salah makan di munggahan. Tapi makin lama rasa sakitnya kok makin intens. Posisi apa pun terasa salah. Mau berdiri atau duduk, salah. Miring ke kiri sakit, ke kanan pun tak nyaman. Karena saya pulang kantor pun sudah sore menjelang malam, akhirnya mencoba konsultasi via aplikasi kesehatan, HaloDoc. Berdasarkan keterangan yang saya berikan, dokter menyebut ada kemungkinan maag. Keluhan yang belum pernah saya alami seumur hidup. Saya diberi resep, meminum obat yang diberikan sambil terus berbaik sangka bahwa ini ‘cuma’ maag, dan esok hari saya pulih seperti semula.

Namun ternyata, meski obat sudah saya minum, kondisi saya tak kunjung membaik. Saya makin tak bisa tidur sampai pagi. Belum lagi ditambah masalah baru, saya juga mengalami diare. Kondisi yang awur-awuran ini menyebabkan tubuh saya makin lemas, nafsu makan juga mulai terganggu.

Keesokan harinya, dengan sisa tenaga, saya mencoba pergi ke klinik dekat rumah dengan naik taksi. Ternyata di klinik ini pun hasil pemeriksaan tak jauh berbeda, dugaannya pun tak jauh dari asam lambung. Tapi apa memang asam lambung, maag, atau gerd deritanya sesakit ini, ya? Sama seperti hari kemarin, kali ini pun saya berharap akan segera pulih setelah menelan obat-obatan yang diresepkan. Siapa tahu beda dokter, beda resep, bisa sembuh.

Tapi ternyata saya salah. Kondisi saya makin memburuk. Demam yang naik turun, diare yang tak kunjung membaik, ditambah lagi nyeri yang mulai mendera di area ulu hati. Saya nyaris tidak bisa berdiri tegak, jalan membungkuk menahan sakit. Melihat kondisi saya yang tak kunjung membaik itu, akhirnya persis di 1 Maret 2025 adik saya mengantar ke RS MMC Kuningan. Di sana, saya langsung ditangani oleh dr. Fatih Anfasa, Sp.PD. Melihat kondisi saya yang lemah dan mengenaskan itu, beliau langsung menyarankan rawat inap. Dugaan awal saya mengalami tipes, atau mungkin TBC usus, atau bisa juga infeksi organ dalam lainnya. Semua belum pasti.

Dari observasi yang dilakukan selama saya rawat inap, hasil laboratorium menunjukkan memang iya saya positif tipes, plus defisiensi vitamin D, dan HB saya 7. Haduh, kok banyak sekali. Namun di luar itu, saya merasa ada yang tidak beres dengan perut saya. Meski suhu tubuh perlahan normal dan keluhan lain nyaris tak terasa, perut saya tetap terasa penuh, begah, dan kembung, padahal asupan makanan sangat sedikit.

Saat ini pikiran saya cukup terbagi karena harus menjalani perawatan di rumah sakit tepat di tengah pekan UTS Alea (10 tahun). Ini merupakan pengalaman pertama saya tidak bisa mendampinginya belajar di rumah secara langsung. Mengingat Alea belum terbiasa belajar mandiri dan selalu mengandalkan saya untuk membimbingnya, saya dan suami harus mencari cara lain. Solusinya, sepulang sekolah Alea akan datang ke rumah sakit membawa buku-buku pelajarannya agar kami bisa belajar bersama di samping ranjang. Situasinya memang sangat jauh dari kata ideal. Saya tidak bisa leluasa menjelaskan materi, karena keterbatasan gerakan dan juga tetap harus menghargai pasien di sebelah saya nyaman beristirahat. Namun, saya tetap upayakan untuk menemani Alea mempersiapkan ujian.

Puncaknya adalah ketika Rabu sore (6/3), saat saya sedang bersama Alea, tiba-tiba perut bagian bawah terasa nyeri hebat. Rasa sakitnya datang begitu tiba-tiba, disusul suhu tubuh yang naik hingga 38,3°C. Segera saya dibawa ke ruang radiologi untuk menjalani USG abdomen. Sayangnya, karena nyeri yang sangat mengganggu, proses pemeriksaan tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Jangankan disentuh atau ditekan, terkena kain baju sendiri saja rasanya semriwing.

Keesokan harinya, saya dijadwalkan menjalani pemeriksaan CT scan abdomen dengan zat kontras (zat yang digunakan dalam pemeriksaan medis seperti CT scan untuk memperjelas gambar, sehingga membantu dokter melihat struktur tubuh dengan lebih detail). Sebelum CT scan, saya diminta untuk memimum cairan kontras, dan lalu berpuasa sejak pukul 07.00, untuk memastikan usus kosong sehingga hasil scan-nya hasilnya akurat dan untuk menghindari efek samping yang mungkin muncul akibat zat kontras, seperti mual atau muntah. Kalau ditanya rasa cairannya bagaimana, jelas jauh dari kata enaklah, di lidah saya, aftertaste-nya seperti minum cairan rasa logam.

Proses pemeriksaan CT scan abdomen ini umumnya berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam, bergantung pada jenis pemindaian dan kebutuhan medis. Usai pemeriksaan, saya kembali ke kamar untuk beristirahat sambil menanti hasil, dengan perasaan yang campur aduk. Akankah hasilnya ‘baik-baik saja’ atau justru parah?

Dan benar saja, siang itu kamar rawat saya mendadak ramai, bukan oleh keluarga atau teman yang datang menjenguk, melainkan lima dokter yang masuk bersamaan. Ada dokter spesialis bedah digestif, dokter obgyn, dokter bedah umum, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter anestesi. Mereka menanyakan apa saja keluhan yang saya rasakan, lalu menginfokan hasil CT scan abdomen pagi tadi. Dokter Arief Gazali menjelaskan bahwa kondisi di dalam perut saya cukup kompleks, ada kista, ada cairan, endometriosis, adenomiosis, dan perlekatan di usus. Jujur, mendengar  semua penjelasan itu, pikiran saya langsung penuh. Sampai akhirnya dokter Darmawan Lesmana memutuskan, “hari Jumat setelah Jumatan kita operasi, ya. Laparoskopi aja, lukanya kecil aja kok, jadi pemulihannya lebih cepat.”

Jumat, tanggal 7 Maret 2025, tepat pukul 12.00 siang, saya dibawa masuk ke ruang operasi. Tak ada lagi yang bisa saya upayakan, selain berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kuasa. Saat ranjang saya mulai didorong menuju ruang operasi, sejujurnya ada rasa takut meski sudah berserah. Di dalam hati saya tak henti merapal doa agar lebih tenang. Hingga akhirnya anestesi disuntikkan, saya pun perlahan tertidur, dan setelah itu, semuanya gelap.

Saya baru benar-benar siuman sekitar pukul 20.45 malam. Hampir sembilan jam berlalu, dan saya sama sekali tak tahu apa saja yang telah terjadi selama saya tak sadarkan diri. Di ruang pemulihan/transisi ada suster yang berjaga menunggu hingga saya siuman. Keluhan pertama yang saya rasakan bukan rasa nyeri di area bekas operasi, tapi rasa pegal di bagian punggung. Wajar saja, tubuh saya berjam-jam terbaring di atas meja operasi yang keras dan datar.

Beberapa saat kemudian, saya mulai merasakan ketidaknyamanan di area hidung dan tenggorokan. Rupanya, ada dua jenis selang yang terpasang. Satu untuk oksigen, dan satu lagi selang sonde yang digunakan untuk mengalirkan nutrisi langsung ke lambung. Tak lama setelah saya sepenuhnya sadar, tubuh saya dipindahkan ke ICCU dan langsung dibalut dengan selimut penghangat untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil setelah prosedur medis.

Tak lama, suami saya datang ke ICCU. Wajahnya tampak lelah dan cemas. Rupanya selama saya berada di meja operasi, ia sempat beberapa kali dipanggil oleh dokter, dan harus menandatangi formulir persetujuan tindakan kedokteran, karena prosedur yang awalnya hanya direncanakan sebagai laparoskopi harus diubah menjadi major surgery dan itu jelas membuatnya khawatir.

Dengan suara lirih, ia berkata, “maafin aku ya, Ma. Aku memberi persetujuan dokter melakukan sesuatu atas tubuhmu tanpa persetujuanmu. Tapi semua buat kebaikan dan kesehatanmu. Sekali lagi, maafin aku, ya. Alhamdulillah, aku bersyukur kamu sudah melalui masa kritis, alhamdulillah kamu masih hidup…”

Hah, masih hidup? Gimana maksudnya?

Suami saya belum sempat bercerita panjang lebar lantaran dia harus bolak-balik mengurus berbagai urusan administratif dan lainnya. Tak lama kemudian, adik saya datang bersama Alea yang terlihat mengantuk dan lelah karena menunggu seharian hingga saya siuman. Adik saya menjelaskan bahwa selama di ruang operasi, Dokter menemukan infeksi yang cukup serius di rahim saya, gabungan antara kista, adenomiosis, endometriosis, perlekatan di usus dan liver. Jadi, yang awalnya, dokter hanya merencanakan laparoskopi, namun selama prosedur berlangsung, kondisi yang ada memaksa perubahan rencana menjadi bedah mayor. Pembersihan usus dan liver tetap dilakukan. Sayatan vertikal dibuat dari atas pusar hingga ke bagian bawah perut. Prosedur yang semula hanya bertujuan untuk membersihkan saja, demi melihat kompleksitas masalah di dalam rahim, dokter memutuskan untuk melakukan histerektomi (pengangkatan rahim) untuk mencegah keluhan yang sama terjadi berulang di masa yang akan datang.

Saya tercenung. Ternyata 8 jam lalu, ada peristiwa besar yang baru saja mengubah perjalanan hidup saya. Namun entah kenapa, saya tenang sekali mendengar cerita itu. Hanya sedikit terkejut namun tidak menangis atau sedih. Semenerima itu. Meski akhirnya ada bagian tubuh yang pernah menjadi tempat bagi anak saya bertumbuh harus dilepaskan.

Dan, ketika semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing, dan tinggal saya sendirian di ICCU, saya terjaga penuh. Dengan segenap penyerahan diri memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar saya diberi kesempatan untuk pulih, menjalani hidup yang lebih sehat, lebih ringan, dan tetap bisa membersamai keluarga tercinta.

Singkatnya, tak lama setelah keluar dari ICCU, sekitar pukul 15.00 saya dipindahkan kembali ke ruang rawat inap. Seharusnya, inilah awal untuk mulai latihan ringan miring ke kanan dan kiri, lalu mencoba duduk, berdiri, hingga perlahan berjalan. Namun ternyata tubuh saya belum mampu. Bukan hanya karena rasa nyeri yang masih terasa, tapi juga secara mental saya belum siap. Berbeda dengan saat melahirkan Alea dulu, operasi sesar karena placenta previa sudah diinformasikan sejak awal, sehingga saya sudah mempersiapkan fisik dan mental lebih awal. Namun tidak untuk kali ini. Operasi datang begitu mendadak, tanpa memberi waktu mempersiapkan diri lahir batin.

Butuh waktu tiga hari pascaoperasi sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk duduk, lalu berdiri dan mencoba melangkah pelan. Memang agak terlambat. Apalagi melihat perban yang rasanya begitu besar membalut area perut. Like, wow! Awalnya saya merasa belum sanggup menekuk bagian perut untuk duduk. Ternyata, setelah dicoba, saya mampu juga, meski masih terengah-engah. Mulanya saya hanya berjalan pelan di dalam kamar, hingga akhirnya berani melangkah keluar, menapaki koridor di lantai tempat saya dirawat.

Alhamdulillah, tanggal 15 Maret 2025 saya diizinkan pulang. Hasil laboratorium menunjukkan banyak perbaikan. Hati saya rasanya hangat, lega, dan sangat bersyukur. Akhirnya saya diperbolehkan pulang, setelah 15 hari menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu, saya pulang dengan membawa berbagai macam obat yang harus saya minum secara rutin sampai tiba waktu kontrol berikutnya.

Namun ternyata, titik paling menantang justru datang setelah saya kembali ke rumah.

Kini, saya harus mulai mengandalkan diri sendiri tanpa bantuan sigap dari perawat maupun dukungan alat medis lainnya. Meskipun tubuh masih terasa lemah dan langkah kaki belum sepenuhnya stabil, saya tetap berusaha untuk bergerak perlahan. Kondisi ini sungguh menantang bagi saya. Selain sesak napas akibat batuk yang belum reda, rasa mual juga sering datang mendadak karena lambung yang masih dalam masa penyesuaian. Akibatnya, berat badan saya merosot drastis dari 54,5 kg menjadi 42,3 kg. Saya sempat bingung sendiri saat memilih pakaian, karena hampir semua baju koleksi saya berukuran S dan M. Namun sekarang, sepertinya ukuran tubuh saya jauh menyusut di bawah itu. Baju-baju yang biasanya pas, kini semuanya terasa sangat longgar saat dikenakan. Saya sampai terpikir, apa iya saya harus pakai baju ukuran kids?

Selama di rumah, setiap hari saya berusaha menantang diri melakukan aktivitas-aktivitas baru untuk melatih mobilitas dan memulihkan kekuatan otot, seperti mandi (selama di rumah sakit saya hanya mandi seka, itupun dibantu oleh perawat), keramas, memotong kuku kaki, menyapu lantai, mencuci baju atau piring kotor, atau sekadar menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya. Dan yang paling mengharukan adalah, ketika di pulang kontrol dari rumah sakit, ternyata saya sudah bisa pulang sendiri naik Gojek! Rasanya ingin memberi pelukan ke diri sendiri, menyadari bahwa semua anggota tubuh saya seberusaha itu untuk pulih.

Kini, saya sudah kembali ke kantor dan menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan, pada tanggal 9 April lalu, saya sudah memandu acara Halal Bihalal di lingkungan Sekretariat Lembaga Kepresidenan. Saya juga berusaha menjalani hidup yang lebih sehat dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat positif.

Melalui tulisan ini, dengan setulus hati, saya ingin berterima kasih kepada keluarga tercinta atas kasih sayang dan dukungan yang tak pernah surut, kepada sahabat-sahabat yang setia memberi perhatian dan bantuan tulus selama saya dirawat di rumah sakit, para perawat yang telah dengan sabar merawat saya selama di rumah sakit, serta kepada para dokter luar biasa yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan penyembuhan saya:

Berkat tangan dingin, keputusan cepat, dan ketulusan hati Bapak/Ibu Dokter, saya bisa menceritakan kembali kisah ini dengan penuh rasa syukur. Terima kasih telah menjadi bagian dari mukjizat kecil dalam hidup saya.

– Devi Eriana –

Continue Reading

Kebaikan Akan Selalu Kembali

Pernahkah kita merenung dalam hati, apakah kebaikan yang kita berikan kepada orang lain benar-benar akan kembali kepada kita atau akan hilang begitu saja? Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam pikiran kita, terutama ketika kita merasa sudah menolong/memberi banyak hal, tapi kok sepertinya tidak ada sesuau yang terlihat seperti ‘balasan’ atas kebaikan yang pernah kita lakukan, ya. Kok sepertinya terdengar pamrih, ya. Bukankah kalau berbuat kebaikan, ya sudah berbuat saja? Tapi pastilah, ada di antara kita pernah (meski secara iseng) berpikir demikian. Tapi ini bukan tentang pamrih.

Bertahun-tahun lalu, ada sebuah kejadian, di mana adik saya mengambil langkah yang bagi saya, luar biasa. Dengan segala keterbatasan yang ada, ia tiba-tiba mewujudkan impian kedua orang tua kami untuk bisa pergi umrah. Tabungan dia tidaklah banyak, namun dari sanalah orang tua kami berangkat ke tanah suci. Saya tahu, itu bukan suatu keputusan yang mudah, namun ada kebahagiaan yang melebihi apa yang sudah dia keluarkan untuk kedua orang tua kami. Pun halnya adik saya yang berkata, “Uang bisa dicari, Mbak. Tapi Papa Mama kan udah nggak muda lagi. Usia manusia nggak ada yang tahu. Ya, mungkin Allah mengizinkan Mama Papa bisa pergi ke tanah suci melalui jalur aku.” Dia meyakini bahwa sekecil apapun kebaikan yang telah dilakukan, akan selalu menemukan jalannya.

Dan ternyata, ia benar.

Enam tahun berselang, tepat di penghujung tahun ini—tanpa pernah ia duga sebelumnya—datanglah undangan untuk berangkat umrah, dan semua serba gratis. Adik saya tentu senang bukan kepalang. Bayangkan, dulu dengan segala keterbatasan, dia memberangkatkan Mama dan Papa, kini dia bisa berangkat ke tanah suci bahkan tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Bukan itu saja, akomodasi dan fasilitas terbaik juga dia dapatkan. Allah rupanya sedang memuliakan adik saya melalui tangan orang-orang baik.

Kebaikan itu punya cara kerja yang unik. Ia tidak selalu kembali pada kita dalam bentuk yang persis sama, tetapi ia selalu menemukan jalannya. Bisa jadi kebaikan itu hadir dalam tawa orang-orang yang kita cintai, dalam kesuksesan anak-anak kita, atau dalam rasa lega di tengah masalah yang semula terasa begitu berat, seolah ada tangan tak terlihat yang membantu kita.

Pun halnya saya. Saya tidak pernah mengklaim diri saya baik atau pemurah, tapi ada satu peristiwa yang bagi saya terasa sangat ajaib, yang membuat saya yakin bahwa Allah hadir membantu saat saya mengalami kesulitan. Beberapa tahun lalu, saat saya masih tinggal bersama mertua, kebetulan rumah mereka berdekatan dengan masjid. Sejak saya tinggal di sana, setiap hari selalu saya sempatkan untuk memasukkan infaq ke dalam kotak amal, dengan jumlah yang random.

Saat saya sedang mengandung Alea, ketika hendak mengambil wudhu untuk salat tahajud, saya mendapati sesuatu yang tidak saya harapkan—saya mengalami pendarahan hebat, dan ketuban saya pecah sebelum waktu kelahiran tiba. Saya dan suami tahu bahwa saya harus kembali melahirkan melalui operasi sesar karena placenta previa. Di tengah malam, dengan kondisi semendadak itu, tentu bukan hal bagi kami untuk menjadwalkan operasi, apalagi mencari kamar di rumah sakit pemerintah.

Selang 8 jam kemudian, saya ditangani oleh tim dokter Rumah Sakit Pasar Rebo, dan operasi sesar pun berjalan dengan lancar. Saya dipindahkan menuju ke ruang pemuliha, di mana di sana saya berkumpul dengan para ibu pascamelahirkan, sebelum menuju ke kamar perawatan masing-masing. Suami saya masih sibuk mencari kamar yang memungkinkan saya bisa rooming-in dengan bayi kami, dan semua kamar terisi penuh. Entah dari mana pertolongan itu datang, yang sebelumnya semua kamar dinyatakan penuh tiba-tiba ada kamar Kelas 1 yang tersedia, dan saya bisa langsung menempatinya tanpa proses berbelit. Ah, rasanya Allah sedang menunjukkan kekuasaan dengan memudahkan segalanya di saat saya sangat membutuhkan-Nya. Bahkan, saya diiizinkan pulih jauh lebih cepat dibandingkan operasi caesar pertama saya pada 2008, yang membutuhkan dua minggu pemulihan—saat itu saya belum siap secara mental karena bayi pertama saya meninggal dalam kandungan.

Memberi bukan tentang berapa banyak yang kita lepaskan, melainkan tentang percaya bahwa ada sesuatu yang baik sedang menanti kita, ada pintu-pintu rezeki dan kebahagiaan yang terbuka yang sebelumnya tidak kita sadari ada. Tak peduli seberapa kecil bentuknya—waktu yang kita luangkan untuk mendengarkan, tenaga yang kita curahkan untuk membantu, atau harta yang kita sisihkan untuk berbagi—jangan pernah ragu untuk berbuat baik. Kebaikan tidak pernah pergi. Ia mungkin menempuh perjalanan panjang berliku-liku, melintasi banyak hati, dan menghidupkan banyak senyum sebelum akhirnya kembali kepada kita atau kepada mereka yang kita cintai. Tapi satu yang pasti, saat ia tiba, kebaikan selalu membawa kehangatan—entah berupa kebahagiaan, kemudahan, atau jawaban dari doa-doa yang pernah kita bisikkan dalam sunyi. Sebagaimana lingkaran yang sempurna, kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.

“Kebaikan itu tidak pernah salah alamat. Meski tak selalu langsung kembali, ia selalu menemukan jalan terbaik untuk menjelma menjadi kebaikan-kebaikan lain untuk pemberinya.”

Continue Reading
1 2 3 30