Bitter or Better?

“It’s a lie to think you’re not good enough. It’s a lie to think you’re not worth anything...”
– Nick Vujicic –

Saya adalah salah satu pengguna alat transportasi umum Transjakarta. Selain Transjakarta, saya juga menggunakan Kopaja 57 atau Metromini 75 untuk mengantar saya pulang ke Mampang. Sebagaimana pemandangan yang lazim dijumpai di setiap terminal, selain pedagang asongan yang pasti ada yaitu yaitu pengemis. Selama ini saya hampir tidak pernah ada masalah dengan mereka, tapi jika kelakuan mereka sudah mengganggu tentu lama-lama akan menimbulkan rasa kurang nyaman.

Seperti contohnya sore itu, saya naik Kopaja 57. Belum jauh laju bus dari terminal, sudah ada seorang pria yang sengaja mengedrop seorang anak kecil dari gendongan punggungnya, dan memasukkannya ke dalam bus yang saya tumpangi. Bocah perempuan itu berambut pendek, berusia sekitar 6-7 tahun, dan tampak sangat dekil. Penampilannya selalu menggunakan celana panjang dengan salah satu kaki yang buntung, entah sengaja disembunyikan —seperti berbagai trik pengemis yang pernah dipertontonkan di televisi— atau memang tidak punya kaki beneran.

Dia menyeret badannya mengarah ke tempat duduk saya. Bukan hanya berkata, “Bu, minta uang, Bu, buat makan Buuu…” tapi juga sambil menarik celana dan lengan baju saya, setengah memaksa. Dulu sih selalu saya kasih uang lantaran iba, tapi makin kesini kok sepertinya saya juga ikut memberi setoran pada si penggendongnya tadi ya. Sesekali saya memang tega tidak kasih mereka uang. Ketika saya bilang maaf sambil menggelengkan kepala, dia makin keras menarik ujung celana saya, menunggu hingga saya memberi. Andai memang uang itu buat makan, mungkin lain kali lebih baik saya memberikan dalam bentuk makanan.

Itu baru kasus pertama. Kasus berikutnya, naiknya 2-3 remaja pria bertato dengan beberapa tindik di telinga yang berkata dengan keras, berteriak, dan silih berganti di dalam bus, layaknya sedang berorasi.

“Ya, Pak, Bu.. jaman sekarang banyak anak muda yang melakukan tindakan kriminal, Pak! Bukan apa-apa semuanya karena butuh uang, Bu! Mereka menjambret! Mencopet! Bahkan tak segan-segan membunuh! Masuk penjara! Semua tindakan kriminal itu dilakukan demi sesuap nasi, Pak! Buat makan, Bu! Uang seribu dua ribu yang Bapak Ibu kasih ke kami tidak akan langsung menjadikan Bapak dan Ibu miskin. Jadi tolonglah, Pak, Bu! Beri kami uang!”

Andai saja itu diucapkan dengan kalimat yang sopan, dan tidak bernada mengintimidasi, mungkin akan ada banyak orang yang bersimpati pada mereka. Tapi, berhubung cara penyampaiannya menyeramkan, jadinya malah banyak orang yang tidak memberi uang samasekali. Belum lagi jika ternyata dalam satu bus ternyata hanya ada 1-2 orang saja yang memberi uang, jangan harap mereka akan keluar dari bus dengan diam saja. Sambil mengomel, iya. Lah, minta kok maksa 😐

Untuk anak-anak muda macam mereka yang masih dikaruniai kesehatan dan kelengkapan anggota tubuh, kenapa tidak mencoba mencari pekerjaan yang jauh lebih baik? Setidaknya tidak menjadi seorang peminta-minta, apalagi yang memaksa seperti itu.

Andai saja mereka mengenal sosok Nick Vujicic (baca : Voy-a-chic) seorang pria asal Australia yang terlahir tanpa lengan dan tungkai, hanya kepala, leher, dan badan saja, serta “kaki” kecil yang kurang layak disebut kaki (dia menyebut “kakinya”itu dengan sebutan paha ayam). Seharusnya mereka malu jika harus menjadi seorang peminta-minta, karena seorang Nick yang seorang difabel saja bisa menjadi seorang motivator bagi manusia normal lainnya, dan hebatnya lagi dia menjadi Direktur Life Without Limbs, mengapa yang dikaruniai kelengkapan fisik justru merengek meminta belas kasihan dan bahkan berpura-pura mengalami cacat tubuh?

Atau, jika kita ingat dengan kisah Helen Keller yang kehilangan penglihatan dan pendengaran sebelum genap berusia dua tahun karena penyakitnya. Namun siapa sangka jika dia justru menjadi seorang pengarang, pembicara, dan aktivis sosial.

Bayangkan, seseorang yang tidak dikaruniai fisik selengkap kita saja mampu melakukan hal-hal besar, memotivasi orang lain, dan bahkan berhasil merengkuh dunia, tapi mengapa ada anak-anak muda yang secara fisik jauh lebih normal tapi hanya sanggup menjadi seorang peminta-minta?

“When one door of happiness closes, another opens; but often we look so long at the closed door that we do not see the one which has been opened for us”
– Helen Keller –

 

[devieriana]

picture source taken here

Continue Reading

Pencari Amal

Pernahkah pertanyaan dan doa kalian dijawab Tuhan hanya dalam beberapa jam saja sejak kalian mengucapkannya? Saya, kemarin malam..

Malam itu, saya bersama suami akan makan malam di daerah Tebet. Baru saja kami memarkir kendaraan di seberang tempat makan yang kami tuju, persis di samping pintu mobil sudah berjajar 3 bocah lelaki usia tanggung yang salah satunya menyodorkan kotak mirip kotak semir sepatu. Saya yang saat itu hanya menggunakan sandal jepit terpaksa menolak halus karena memang tidak butuh semir.

“Ya sudah Tante, kami boleh minta tolong belikan nasi sebungkus aja? Biar nanti kami makan bertiga…”, tutur anak lelaki yang paling kecil.

Mereka nampak kurus, kumal dan lusuh, mungkin karena sudah seharian di jalanan. Masing-masing memegang kotak kayu seukuran kardus sepatu, dengan baju yang sudah tidak jelas warnanya. Diam-diam saya merasa iba. Sudah berapa banyak orang yang menyemirkan sepatunya pada mereka hari ini? Sudah berapa lembar rupiah yang mereka dapatkan untuk menyambung hidup mereka hari ini? Tanpa berpikir lama, saya pun mengiyakan permintaan mereka untuk membelikan makan.

Suami saya lalu mengajak mereka untuk duduk, menanti nasi goreng yang kami pesankan untuk mereka. Saya belajar dari suami untuk tidak selalu memberi anak-anak jalanan itu uang. Kalau memang alasannya adalah untuk beli makan dan mereka lapar, belikanlah mereka makan. Karena kalau uang kadang belum tentu dibelikan makanan beneran.

Sesekali saya melihat mereka dari tempat duduk saya. Kebetulan mereka duduk terpisah dari kami lantaran tempat duduk yang ada di dalam sudah penuh, sehingga hanya tersisa tempat duduk di luar saja. Tapi tak apa yang penting mereka bisa menikmati makan malam dengan layak.

Ketika pesanan datang, mereka langsung menyantapnya dengan lahap sambil sesekali bergurau. Ya Allah, ternyata mereka lapar beneran.

Seusai makan, saya menghampiri mereka. “Kalian sudah selesai makannya?” tanya saya. “Sudah, Tante, terima kasih. Makan malamnya, enak…” jawab salah satu dari mereka dengan wajah sumringah. Saya tersenyum, mengangguk, sambil melirik ke arah piring mereka yang bersih.

Sambil menunggu suami saya selesai makan, saya mengambil duduk di samping mereka.

Saya : “kalian sekolah, nggak?”
Mereka : “sekolah, Tante. Tapi lagi libur..”
Saya : “oh, iya, lagi libur sekolah, ya? Kalian kelas berapa aja?”
Anak 1 : “saya kelas 2 SMP, Tante..”
Anak 2 : “kalau saya kelas 3 SMP, Tante..”
Anak 3 : “saya baru lulus SMP, Tante..”
Saya : “kamu nerusin sekolah, nggak?”
Anak 3 : “nerusin, Tante.. :)”
Saya : “wah, kalian hebat deh, masih ada semangat buat sekolah… Jarang-jarang lho ada anak-anak yang hidupnya di jalanan kaya kalian tapi masih punya semangat buat menuntut ilmu. Eh, bentar ya, Tante bayar ke kasir dulu. Kalian tunggu disini..”

Selesai membayar di kasir saya pun kembali ke meja mereka. Mendadak yang paling kecil berkata:

Anak 1 : “Tante, kami boleh minta tolong lagi, nggak?”

Dua anak lainnya duduk menunduk mendekap kotak kayu masing-masing sambil menyenggol kaki anak yang yang paling muda itu. Mungkin maksudnya mencegah dia bilang sesuatu. Tapi yang dikode sepertinya tidak sadar atau mungkin tidak mengacuhkan kode kedua temannya itu.

Saya : “Ya, apa?”
Anak 1 : “Mmmh, Tante, boleh nggak kami minta tolong dibelikan buku tulis buat sekolah?”

Keharuan langsung menyeruak dalam hati saya. Ya Allah, baru saja tadi sore ketika saya menyusuri beberapa linimasa Twitter yang concern dengan masalah sosial, saya mengucapkan sebuah pertanyaan sekaligus doa:

“Ya Allah, kapan ya saya bisa ikut membantu anak-anak yang kurang mampu tapi masih punya semangat untuk sekolah?”

Ternyata dalam waktu yang tak berapa lama Tuhan langsung menghadirkan ke hadapan kami bukan hanya 1, tapi 3 anak yang masih punya semangat sekolah tapi kurang ada biaya. Tanpa menunda waktu lagi, saya langsung mengiyakan permintaan mereka. Kami pun langsung menuju ke salah satu supermarket terdekat dan membiarkan mereka memilih apa yang mereka perlukan.

Namun sesampainya kami di tempat tujuan, mereka justru saling berpandangan ragu.

Saya : “lho, kok malah bengong? Kalian pilih apa saja yang kalian butuhkan. Buku, alat tulis?”
Anak 3 : “ini aja, Tante. Satu pak buku tulis aja udah cukup, nanti kami bagi bertiga..”
Saya : “lah, satu pak kan cuma isi 10, kalau dibagi bertiga kalian masing-masing hanya akan dapat 3 buku tulis. Ya nggak cukup dong, Sayang. Ya udah ambil buat masing-masing, gih..”

Saya mengambilkan masing-masing 1 pak buku tulis, alat tulis, dan sebuah buku gambar ukuran A3 buat anak yang paling kecil, karena katanya dia sangat suka menggambar. Ketika saya menawarkan untuk membeli keperluan sekolah lainnya, jawaban mereka, “sudah Tante, terima kasih, ini saja sudah cukup kok. Kami sebenernya cuma butuh buku tulis saja..”

Seusai membayar semuanya di kasir, ketika akan menuju ke parkiran, sambil merangkul bahu anak yang paling kecil:

Saya : “nama kamu siapa?”
Anak 1 : “Dindin, Tante..”
Saya :“kalau yang 2 itu siapa aja namanya?”
Anak 1 :“itu Adis sama Firman..”
Saya :“kalian satu sekolah?”
Dindin :“iya, mereka kakak kelas saya..”
Saya :“oh.. kalian sekolah dimana?”
Dindin : “di Perguruan Rakyat 1, Tante..”
Saya :“masuk pagi atau siang?”
Dindin :“siang..”
Saya :“Kamu tiap hari nyemir sepatu?”
Dindin :“Kami bukan nyemir sepatu, Tante..”
Saya :“lha, kotak yang kalian bawa itu tadi apa?”
Dindin :“itu kotak amal buat musala, Tante. Kami mencari infaq dan sedekah untuk musala kami..”

Mak jleb! Ya Allah, ternyata kotak yang semula saya pikir itu adalah kotak semir sepatu adalah kotak amal untuk musala yang mereka edarkan untuk diisi oleh siapa saja yang mau bersedekah? Mata saya menghangat. Air mata saya langsung menggenang.

Tahu nggak sih bagaimana rasanya ketika di akhir-akhir peristiwa kalian baru tahu kalau yang kalian bantu itu ternyata anak-anak mulia yang bergerak di jalan agama, bukan meminta uang untuk mengemis?

Firman : “Oom, Tante, nanti kami turun di tempat yang tadi aja ya. Karena kami harus mencari 1 orang teman yang lain sebelum kami pulang, dia terpisah dari kami tadi…”
Suami: “rumah kalian di mana? biar sekalian kita anter..”
Mereka : “di daerah Kampung Pulo, Oom.. Terima kasih, Oom. Nggak usah. Nanti kami pulang naik ojek saja.”

Berhubung mereka masih harus mencari teman yang lain, terpaksa mereka kami turunkan persis di tempat kami bertemu tadi. Sebelum berpisah, satu persatu mereka berpamitan dan mencium tangan saya. Wajah mereka terlihat sumringah walaupun ada gurat lelah yang tak mampu mereka sembunyikan.

Saya menggenggamkan beberapa lembar rupiah ke tangan Dindin. Ini buat kalian pulang ya. Hati-hati di jalan. Salam buat teman kalian yang satu lagi ya…”, bisik saya sambil setengah mati menahan air mata supaya tidak jatuh.

Setelah sesi perpisahan yang mengharukan itu, tangis saya pun akhirnya tak terbendung lagi. Tak disangka bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa saya begitu cepat. Allah bekerja melalui jalan yang benar-benar misterius, karena awalnya kami sempat berniat akan makan di daerah Megaria, tapi entah kenapa justru mengarahkan tujuan kami menuju Tebet, sehingga mempertemukan kami dengan 3 pengedar kotak amal bernama Dindin, Adis, dan Firman tadi.

Sambil mengelus kepala saya, suami berkata, “bersyukur bahwa kita masih diberikan kesempatan berbagi. Kalau soal rezeki insyaallah masih bisa kita cari. Semoga apa yang sudah kamu berikan malam ini berkah buat mereka ya…”

Saya mengangguk pelan sambil menyeka air mata yang tak henti-henti mengalir. Kami pun menyusuri jalanan yang mulai lengang dalam keheningan masing-masing.

Dalam hati saya berdoa, “semoga Allah melindungi kalian bertiga hingga sampai dengan selamat di rumah dan bertemu kembali dengan keluarga, ya. Aamiin…”

 

[devieriana]

Continue Reading

#indonesiajujur : Tip of An Iceberg

A lie may take care of the present, but it has no future ~ Unknown

—–

“Dek, kamu nggak belajar? Kan besok ujian..”
“Tenang aja, Pa… Aku udah tahu jawabannya, kok..”
“Maksudnya kamu sudah dikasih kisi-kisi soal sama gurumu?
“Bukan kisi-kisi, Pa.. Tapi jawaban. Kita semua udah dikasih tahu jawabannya apa aja, jadi besok tinggal jawab aja…”

Kawan saya bercerita dengan ekspresif tentang jawaban anaknya yang akan menjalani ujian. Mungkin zaman memang sudah berubah, dan perkembangan aktivitas contek menyontek yang klasik itu dalam prosesnya sudah sudah mengalami metamorfosa. Demi sebuah nilai bagus, peringkat/ranking, kredibilitas, dan adanya pengakuan tentang kemampuan diri, akhirnya anak didik dan sekolah pun menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Membahas tentang kasus Ny. Siami yang sedang heboh itu, alih-alih ingin mengungkap praktik kecurangan selama berlangsungnya Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya nyatanya malah berbuntut panjang. Ny. Siami sekeluarga justru diusir dari lingkungan tempat tinggalnya oleh warga setempat, dituduh tidak punya hati nurani, dan dianggap terlalu membesar-besarkan masalah. Ujung-ujungnya dia yang harus meminta maaf kepada pihak sekolah dan warga karena dianggap telah mencemarkan nama baik sekolah. Ironis, pihak yang seharusnya mendapat dukungan dan pembelaan malah diperlakukan dengan semena-mena dan diintimidasi.

Kemarin, saya mendapatkan kisah yang nyaris sama dari salah satu teman saya yang ternyata juga mengalami kejadian yang hampir sama dengan si Al, bedanya dia tidak sampai mengalami pengusiran seperti Ny. Siami dan keluarga.

“Jaman waktu masih sekolah dulu aku juga pernah ngalamin kejadian kaya gitu, Dev. Aku diminta guruku untuk berbagi jawaban sama temen-temen yang lain. Jujur, aku ngasih contekannya antara ikhlas nggak ikhlas. Tapi mau gimana lagi, lha wong disuruh.. :|”

Sebaliknya ada juga yang dengan sukarela memberikan contekan untuk teman-temannya dengan alasan setia kawan, teman seperjuangan, dan solidaritas. Ada yang terang-terangan, “nih, contek nih..”. Tapi ada juga yang memberikan inti jawabannya saja, kalimat selebihnya silakan dikembangkan sendiri sesuai dengan ‘imajinasi’. Tapi itu hanya bisa dilakukan kalau jawabannya berupa soal dengan essay, lha kalau pelajaran matematika apa yang bisa diimajinasikan? Atau multiple choice misalnya, masa iya jawaban berdasarkan hitungan kancing baju? Jujur, dulu saya juga pernah mencontek kok; menconteknya pas dalam keadaan kepepet. Tapi deg-degannya juga ampun-ampunan. Takut ketahuan guru, takut kalau nilainya bakal dikurangi kalau ketahuan mencontek, dan jauh dalam hati kecil ada rasa bersalah karena sudah berlaku tidak jujur. Akan beda tingkat kepuasannya ketika kita mendapat hasil bagus hasil kerja sendiri dibandingkan dengan hasil mencontek. Mempersiapkan diri dengan belajar sendiri itu jauh lebih menenangkan saya daripada harus bergantung pada  jawaban pada orang lain. Untuk menghindari menyontek, kadang saya lebih memilih menjawab dengan menggunakan feeling, pilih saja jawaban yang masuk akal atau yang lebih mendekati. Atau kalau misalnya jawaban A, B, dan C sudah banyak mungkin ini adalah saat yang tepat untuk melingkari/menghitamkan jawaban D atau E! \m/. Jangan lupa sambil berdoa semoga yang mengoreksi sedang mengantuk atau alat scanner-nya error sehingga meloloskan jawaban yang seharusnya salah menjadi benar! Ngawur kok bangga! ;))

Kasus Ny. Siami yang berusaha membuka kecurangan pihak pengajar di SDN Gadel II Surabaya ini sebenarnya just a small evident part of something that largely hidden. Apa yang sengaja diungkapkan oleh Ny. Siami ini hanyalah sebagian kecil pengungkapan fakta di lapangan yang jauh lebih besar. Semacam tip of an iceberg.

Kemarin saya juga sempat berdiskusi ringan dengan teman saya Wong Iseng. Beliau mengatakan begini :

“Kasus contek-menyontek yang ‘dihalalkan’ ini lebih dari sekadar masalah kejujuran, Dev. Ada semacam ‘kesepakatan’ tidak tertulis yang menyatakan bahwa siswa yang berhasil melewati (baca: mengakali) ujian suatu mata pelajaran sama dengan berhasilnya siswa itu menguasai mata pelajaran tersebut. Makanya ada yang namanya SKS (Sistem Kebut Semalam), contek menyontek, dan pendidikan  yang tanpa hasil karena intinya hanya bagaimana mengakali ujian tanpa mengerti apa yang diajarkan…”

Ada semacam paradigma yang berkembang di Indonesia, lulus/tidaknya siswa dalam ujian nasional itu sama seperti seorang yang akan menghadapi vonis kematian. Tampak begitu menyeramkan bukan hanya bagi siswa tapi juga bagi sekolah. Karena jika pada kenyataannya ada banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional, maka akan menyebabkan jatuhnya peringkat dan kredibilitas sekolah di mata masyarakat. Semakin tinggi nilai yang diraih siswa dan besarnya prosentase kelulusan siswa, akan menjadi salah satu parameter keberhasilan guru dalam mendidik siswanya. Nah, adanya tuntutan untuk mengusahakan agar siswa bisa lulus semua inilah yang menyebabkan siswa dan sekolah ‘menghalalkan’ segala macam cara untuk menghadapi Ujian Nasional.

Seperti halnya make up yang berfungsi untuk memperindah dan mengoreksi wajah, sekolah yang sebenarnya tidak sanggup mendidik anak untuk  mampu menjawab UAN ikut memakai make up. Anak didik bisa lulus dengan nilai bagus tapi dari hasil menyontek, sehingga hasil pendidikan yang bisa dibawa anak setelah lulus tetap  tidak terpecahkan, karena orientasinya masih berkutat pada kisaran angka (baca: nilai yang bagus). Jadi, selama root cause-nya tetap sama,  selamanya akan tetap ada usaha untuk mengakali ujian demi nilai bagus dan terbentuknya citra pendidikan yang berhasil. Walaupun mungkin pada kenyataannya tidak demikian.  

Memang tidak semua yang ikut ujian nasional itu lulus karena mencontek. Masih banyak siswa yang lulus dengan nilai memuaskan dari hasil usaha sendiri. Tapi belajar dari kasus Ny. Siami kemarin akhirnya membuka mata kita lebar-lebar, pun menyadarkan kita bahwa kejujuran di Indonesia ternyata baru sebatas wacana. Kita masih harus belajar banyak untuk menghargai arti kejujuran yang terlanjur disikapi secara salah kaprah.

Kembali lagi ke hati nurani sih kalau menurut saya. Bagaimana menurut Anda?
🙂

 

[devieriana]

 

ilustrasi dari sini

Continue Reading

Takut Tak Sempurna..

Di pagi yang sibuk itu, handphone di atas meja – yang hampir selalu diaktifkan dalam modus vibrate/silent itu – kembali bergetar. Sedikit memecah konsentrasi saya pagi itu. Melihat sebentar ke layar handphone, sekedar mengecek adakah mungkin email, sms, atau kabar penting lainnya yang masuk. Ternyata BBM dari seorang teman yang menanyakan kabar.

Ok, sepertinya bisa ditunda dulu ya, biar saya ngebut dulu deh kerjanya. Dengan cepat ibu jari saya mengetik sebaris kalimat di layar handphone. “Jeng, aku lagi sibuk dikit nih, aku kelarin bentar ya. Seperempat jam lagi kita sambung. Ok, Bebih? :D”. Enter. Tak berapa lama dia pun membalas dengan singkat, “Ok”.

Tak lama setelah selesai berkutat dengan berkas-berkas saya pun memenuhi janji untuk meluangkan waktu ngobrol dengan si teman. Menarik, karena dari sana mengalir sebuah obrolan yang bukan sebatas basa-basi menanyakan kabar. Biasanya sih kita cuma ngobrol ringan, seputaran gosip-gosip nggak penting, dan guyonan-guyonan nggak mutu ala kami berdua. Tapi ternyata kali ini sedikit berbeda, ada hal serius lainnya dibelakang sapaan pagi itu.

“Yes, Bebih. Udah agak santai nih sekarang.. Kenapa-kenapa? Ada gosip apa pagi ini? :> “, sapa saya di BBM

“Hmm, sebenernya bukan pengen ngegosip kok.. Aku pengen diskusi sedikit nih sama kamu..”

Sejenak saya terdiam, tidak mengetikkan satu huruf pun. Mencoba menerka-nerka, kira-kira dia bakal ngobrolin apa ya. Semoga bukan masalah yang serius deh..

“Mmmh, ya.. kenapa, kenapa?”

“Mmmh, gini, kenapa ya kok akhir-akhir ini aku sering merasa gusar sendiri. Kaya ada beban yang.. entah ya, masalah yang awalnya aku anggap bisa aku atasi ternyata waktu dijalani kok berat ya..”

Saya mulai mengernyitkan dahi membaca prolog diskusinya. Saya tunggu dia menuliskan semua uneg-uneg yang seperti saya duga, memang panjang :D.

“.. akhir-akhir ini aku kaya dibayangi ketakutan-ketakutan yang mungkin nggak berdasar. Kamu dan suami kan masing-masing menikah sebagai pasangan pertama. Sementara aku, menikah dengan suami yang sudah pernah menikah sebelumnya. Divorce dengan satu anak. Selama berumah tangga aku jadi sering paranoid sendiri, takut kalau-kalau.. I would never be as perfect as his ex wife used to be.. :(“

“Hush! Nggak boleh ngomong begitu, ah! :|”, sergah saya. “Sebenernya ukuran sempurna itu yang kaya gimana sih?”

” 🙁 “

“.. tidak ada seorang pun yang terlahir dengan pribadi sempurna, Jeng. Nggak ada ayah/suami yang sempurna. Nggak ada ibu/isteri yang sempurna, juga anak yang sempurna. Semua berjalan melalui sebuah proses panjang pembelajaran. Kita nggak bisa membandingkan seseorang dengan lainnya, pun pasangan kita sekarang dengan pasangan sebelumnya. Karena memang nggak ada yang bisa dibandingkan, Jeng. Manusia itu kan terlahir unique, jadi sudah pasti “hasilnya” ya nggak akan pernah sama.. Misalnya, mantannya suamimu adalah Dian Sastro, trus kamu akan berusaha seperti Dian Sastro dalam segala hal, gitu? Enggak kan?”

“:-s “

“IMHO, saranku sih cuma satu, Jeng. Cukup jadi diri sendiri aja. Jadi isteri dan (calon) ibu dengan kepribadianmu sendiri. Mendidik & mengasuh buah hati kalian dengan cara kalian sendiri. Nggak perlu takut, apalagi membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Nggak akan fair juga kalau sampai pasangan nantinya membandingkan kamu dengan mantan pasangan sebelumnya. Karena nggak akan pernah sebanding, kalian jelas dua pribadi yang berbeda.. :)”

“….. “. Dia terdiam beberapa saat, mungkin menunggu saya menulis lagi 😀

“.. pasti ada alasan tersendiri ketika seseorang akhirnya memilih untuk hidup bersama kita ketimbang dengan yang lain. Contohnya, ketika suami memilih kamu sebagai isteri, mungkin karena kamu smart, mandiri, lembut, sabar, menyenangkan, dan yang paling penting dia merasa nyaman dengan kamu. Itu sebenernya poin kelebihan kamu, kan Jeng?”

“Iya, 🙁 . Selama ini aku udah paranoid banget dengan hal yang satu itu. Dulu sebelum menikah aku sudah pernah ditanya Mama, apakah aku siap menikah dengan orang yang pernah punya kehidupan rumah tangga sebelumnya? Aku jawab siap, aku sanggup. Tapi setelah aku jalani di lapangan, ternyata berat juga ya. Aku seperti belum rela ketika dia bicara tentang anaknya.. 🙁 “

“Dear, ada yang namanya mantan suami atau mantan isteri. Tapi nggak ada yang namanya mantan anak. Sampai kapan pun dia akan tetap jadi anak si suami. Mau nggak mau ya itu kenyataan yang harus kamu terima, menikah dengan satu paket status, menikahi pria sekaligus statusnya sebagai ayah dari pernikahan sebelumnya.. “

” iya sih.. :(“

“Jadi ya sudah, monggo diterima dan dijalani semuanya dengan legowo.. Mungkin berat buat kamu, tapi kalau kamunya ikhlas menjalani sebagai bagian dari konsekuensi pilihan yang sudah kamu ambil insyaallah kedepannya akan lebih mudah buat kamu. Amien….”

“Amien.. Thanks for the insight, Dear. Glad to have you as a friend >:D<"

“You are not perfect, Dear. But believe me you will always be perfect for him ;)”

Kalau bicara tentang kesempurnaan sepertinya nggak akan pernah selesai ya. Saya sepertinya harus berterima kasih juga pada si teman yang akhirnya dari obrolan tadi kok seperti mengingatkan diri saya sendiri untuk berhenti mengejar kesempurnaan. Karena tanpa sadar saya juga kadang-kadang berlaku demikian.

Dari percakapan singkat tapi padat itu kok jadi teringat salah satu scene di film Bride Wars yang intinya sama dengan percakapan dialog diatas. Ada sebuah kalimat yang diucapkan seorang calon suami pada calon isterinya yang khawatir tidak bisa sempurna ketika kelak menjadi seorang isteri. Kurang lebih bunyinya begini : “Life is not perfect, Honey. Life is messy. I don’t need you to be a perfect wife. I just need you to be a human live”.

Terkadang di mata pasangan kita tidak perlu menjadi seorang yang sempurna. Mereka ingin kita cukup menjadi seseorang yang manusiawi. Seseorang yang wajar jika tanpa sengaja berbuat salah, seseorang yang wajar jika banyak kekurangan. Karena sempurna hanya kata yang pantas untuk-Nya..

This is life, not heaven. So, you don’t have to be perfect! 😉

[devieriana]

gambar dipinjem dari Image Shutterstock

Continue Reading

A Reason, A Season or A Lifetime

Salah satu project menulis di awal tahun 2011 yang menurut saya cukup unik dan spektakuler adalah menulis surat untuk mantan yang nantinya akan dibukukan via @nulisbuku yang deadline-nya adalah kemarin tanggal 8 Januari 2011. Project unik ini berawal dari idenya Naluri yang berniat untuk membukukan kumpulan surat untuk mantan. Dia mengundang para penulis yang berminat untuk berbagi cerita menjadi sebuah buku. Bagi penulis perempuan bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Mars (STUPM), sedangkan para lelaki bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (STUPV).

Jujur awalnya saya antusias untuk ikut project ini. Mengingat ada penggalan cerita mirip sinetron yang pernah terjadi dalam hidup saya  dan sepertinya saya akan dengan mudah menuangkannya lagi dalam bentuk prosa. Tapi entah kenapa, seiring dengan waktu, ide menulis dengan tema tersebut maju mundur, seolah berkompromi dengan mood yang naik turun. Bingung, antara ingin membagikannya dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca secara bebas oleh orang lain, atau biar saya simpan saja sendiri. Setelah melalui pergulatan batin yang panjang (halaah..) akhirnya saya putuskan untuk membatalkan keikutsertaan saya dalam project itu karena sepertinya memang tidak ada lagi yang perlu saya sampaikan pada si beliau 😐

Di twitter sempat saya baca ada beberapa tweet dari peserta project STUPM dan STUPV yang di RT oleh @nulisbuku ; rata-rata mereka sampai nangis-nangis nulisnya. Mungkin juga karena efek emosional. Mereka “terpaksa” harus mengulik kisah lama yang (bisa saja) menyakitkan, yang sebenarnya tidak untuk diingat-ingat lagi, tapi demi project buku ini mereka mau untuk menuliskannya ulang dengan risiko ‘menangis darah’.

Tak ada yang salah dengan project unik ini, animo pesertanya juga terlihat sangat tinggi. Sepertinya seluruh kontributor sukses menulis dengan hati. Iyalah, wong pengalaman pribadi. Tapi buat saya ya sudahlah, yang sudah ya sudah. Saya merasa sudah tidak ada ‘hutang’ yang belum terselesaikan dengan siapapun. Apa yang sudah terjadi di masa lalu biarlah tersimpan rapi dalam kotak tersendiri.Itu kalau saya lho, ya… 😉

Beberapa hubungan di masa lalu tidak saya lewati secara mulus. Ada saat di mana kami sudah terantuk di depan jalan buntu, sehingga kami harus membuat keputusan apakah harus bertahan atau kami cukupkan sampai di situ saja. Buat yang sudah pernah mengalami patah hati sih pasti beratlah. Tapi syukurlah akhirnya kami bisa mengakhirinya secara baik, dan bahkan hubungan kami saat ini jauh lebih baik jika dibandingkan ketika masih jadi pacar ;)). Saya tidak ingin berusaha memaksakan sebuah hubungan yang kualitasnya sudah tidak lagi sehat. Jika memang komunikasi sudah terbentur dari berbagai sisi; semua cara untuk bertahan sudah dicoba; dan ketika masing-masing ternyata sudah tidak lagi nyaman melanjutkan hubungan, ya lantas untuk apa saling ngotot untuk mempertahankannya? Capek hati, capek pikiran, capek tenaga. Kalau toh memang akhirnya harus berpisah ya kenapa tidak? Karena siapa tahu justru setelah berpisah kita akan bertemu dengan sosok yang lebih baik, kan?

Walaupun sering kali keputusan yang sudah melalui pemikiran yang sangat matang sekalipun tidak selalu bisa memuaskan semua pihak; belum lagi harus berhadapan dengan rasa sakit dan kecewa lantaran kita harus berhadapan dengan akhir yang tidak sesuai dengan harapan di awal mula hubungan. Tapi ya itulah yang namanya hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi semenit dua menit ke depan; apa yang akan terjadi esok hari; pun menebak dengan siapa kita berjodoh, karena nyatanya sering kali kenyataan berlari terlalu jauh dari harapan.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan email yang isinya cukup bagus, dan membuat saya merenung sendiri. Kurang lebih isinya begini :

When someone is in your life for a REASON, it is usually to meet a need you have expressed. They have come to assist you through a difficulty, to provide you with guidance and support, to aid you physically, emotionally or spiritually. They may seem like a godsend and they are. They are there for the reason you need them to be.

Some people come into your life for a SEASON, because your turn has come to share, grow or learn. They bring you an experience of peace or make you laugh. They may teach you something you have never done. They usually give you an unbelievable amount of joy. Believe it, it is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons, things you must build upon in order to have a solid emotional foundation. Your job is to accept the lesson, love the person and put what you have learned to use in all other relationships and areas of your life.

Ah, jadi ingat sama salah satu nasihat Papa saya. Ada kata-kata yang nancep banget sampai sekarang, saya menyebutnya dengan analogi kaca mobil. Nasihat itu diberikan ketika saya masih jadi ababil (ABG labil); lagi sedih menye-menye habis putus sama pacar :p :

“Pernah merhatiin nggak kenapa kaca depan mobil dibuat lebih besar daripada kaca spion? Itu karena ada banyak hal yang jauh lebih besar yang harus kamu lihat, dan harus kamu hadapi di depan sana. Lalu kenapa kaca spion ukurannya dibuat jauh lebih kecil dari pada kaca depan? Karena kadang kita perlu sesekali melihat ke masa lalu, tapi ingat, hanya sebatas untuk introspeksi dan belajar dari kesalahan yang telah diperbuat agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang… Chin up! ;)”

So, …

Thank you for being a part of my life, whether you were here for a reason, a season or a lifetime..

[devieriana]

gambar pinjam dari Corbis Images

Continue Reading
1 8 9 10 11 12 30