Tentang Memaafkan

 

Sekitar tahun 2004-2005, saya pernah membaca trilogy David Pelzer True Story, yang terdiri dari buku yang berjudul A Child Called It, The Lost Boy, dan A Man Named Dave. Sebuah trilogy mengharukan tentang bagaimana kisah nyata seorang anak terbuang dan menderita, yang mencoba bertahan hidup melawan child abuse yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, hingga sampai pada kisah dia dewasa dan mulai menemukan jati dirinya. David Pelzer menuturkannya dalam bahasa yang sangat menyentuh, hingga kita bisa merasakan apa yang dialaminya dulu.

Dari ketiga buku itu yang paling berkesan adalah buku yang berjudul A Man Called Dave. Dalam buku ini Dave bercerita tentang keberhasilannya menemukan jati diri, dan terlebih lagi adalah kekuatannya yang luar biasa untuk memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya dulu.

Ngomong-ngomong tentang memaafkan, ternyata memaafkan itu bukan perkara mudah. Butuh kebesaran hati dan keikhlasan luar biasa untuk mau memaafkan orang yang telah menyakiti hati. Jujur, saya juga pernah mengalami hal yang kurang mengenakkan dengan seseorang, dan sampai sekarang saya belum mampu memaafkan apa yang sudah dia lakukan beberapa waktu yang lalu.

Sebenarnya untuk urusan maaf-memaafkan saya adalah orang yang paling mudah memaafkan, karena pada dasarnya bukan tipikal pendendam. Kalau ada yang kurang sreg dan lalu saya melampiaskannya dengan ngomel, saya pikir masih wajar, toh tidak sampai berlarut-larut. Setelah semua uneg-uneg sudah tersampaikan, dan saya juga sudah berhasil menguasai emosi, biasanya sudah tidak ada lagi yang saya simpan untuk diungkit-ungkit. Saya juga berusaha melupakan apa yang sudah membuat saya marah, jengkel, dll itu seketika ketika kami saling meminta maaf. Saat itu juga kasus itu selesai. Bahkan sering kali saya sudah memaafkan mereka jauh sebelum mereka meminta maaf.

Tapi entah kenapa, untuk sebuah kasus yang tidak bisa saya ceritakan detailnya di sini, sampai sekarang saya belum bisa memaafkan. Kasus yang buat saya luar biasa, karena melibatkan seorang public figure yang dikenal sangat bersih pencitraaannya di media. Untuk sebuah urusan yang awalnya saya tidak berminat untuk ikut terlibat di dalamnya, akhirnya malah jadi terseret ke mana-mana, ikut dimaki-maki (mulai yang berbahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa binatang, sampai bawa-bawa istilah kaum zaman dahulu). Orang tua saya saja tidak pernah memaki anak-anaknya, lha kok dia yang baru lahir tahun berapa sudah sefasih itu memaki-maki orang seenak perut. Bahkan yang paling jahat, dia menggunakan ‘kekuatan hitam’ untuk menyakiti sahabat saya.  Bukan itu saja, dia juga memutarbalikkan fakta, dan  menempatkan dirinya sebagai korban. Hadeeeh….  L-)

Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak dibiasakan berkata kasar; apalagi memaki atau ‘ringan tangan’. Dulu, kalau ada salah satu dari kami yang ketahuan Mama ngomong kasar sedikit saja (baik itu ke teman atau saudara), sebagai hukumannya kami harus menahan panas dan pedasnya cabe merah yang dilumat mentah-mentah di bibir kami sampai habis. Tindakan yang lumayan keras, tapi efeknya terasa sampai sekarang 😕

Saya tidak peduli apakah dia artis film/sinetron, model, pengusaha, dll… buat saya dia butuhkan saat ini adalah pendidikan tentang manner, karena saya curiga sepertinya di keluarganya tidak pernah diajarkan tentang bagaimana harus berbicara dengan sesama manusia. Seringkali saya tersenyum miris melihat hampir setengah juta follower dia di twitter yang memuja dan menyanjung fisiknya, memuji betapa baik dan manis sikapnya, tanpa tahu bagaimana kepribadian asli sosok yang mereka puja itu :-q

Saya bukan orang yang berhati malaikat; yang dengan mudah memaafkan orang lain. Saya bukan nabi, pun Tuhan yang Maha Pemaaf. Dalam hal tertentu ada prinsip-prinsip hidup yang tidak bisa diutak-atik, terutama jika itu berkaitan dengan saya dan keluarga. Saya tahu, ada kalanya kemarahan yang tidak harus dibalas dengan kemarahan. Ada dendam yang tidak harus dibalas dengan dendam. Ada perlakuan buruk yang tidak harus dibalas dengan perlakuan yang sama buruknya. Tapi untuk kasus yang satu itu mungkin cuma waktu yang akan menyembuhkan saya.

Seperti yang saya bilang tadi, memaafkan bukan perkara yang mudah. Semoga seiring dengan waktu, kelak saya akan lebih dewasa, lebih terbuka hati, sehingga bisa ikhlas memaafkan orang yang telah menyakiti saya, dan melupakan kejahatan apa yang telah dia lakukan beberapa waktu yang lalu. Semoga saya segera diberikan kesadaran bahwa mempertahankan rasa marah, benci, dan sakit hati itu sangat melelahkan.

Tidak selamanya kita hidup di masa lalu, life must go on. Again, semoga saya segera diberikan kemudahan untuk memaafkan. Aamiin… [-o<

[devieriana]

 

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Selamat Natal, Kawan!

Perayaan Natal selalu membuat saya flashback kepada kenangan masa kecil dulu, ketika masih tinggal di Lawang, sebuah kota kecil di Kabupaten Malang. Tentang hubungan harmonis yang terjalin antara keluarga kami dengan murid-murid kolintangnya Papa. Entah, kok rasanya di jaman saya masih kecil dulu kehidupan beragama sepertinya jauh lebih tenang, harmonis, dan penuh toleransi, ya? Tidak seperti sekarang yang kayanya mau ibadah aja dibikin ribet. Belum lagi keamanan ketika menjalankan peribadatan yang belum jelas terjamin. Uniknya lagi hampir setiap tahun selalu ada ‘debat tahunan’ tentang halal/haramnya pemberian ucapan selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. Trenyuh :|. Inikah negara yang katanya menjunjung tinggi azas kebebasan beragama itu? 🙁

Dulu, selain menjadi PNS, Papa mengisi waktu luangnya sebagai pengajar kolintang (alat musik tradisional asal Manado). Dulu memang Papa aktif di kegiatan bermusik, dan kebetulan bisa bermain kolintang, sehingga  Papa sering diminta mengajar di sana-sini. Murid Papa bermacam-macam,  ada ibu-ibu Dharma Wanita, dan jemaat di beberapa gereja.

Sangat menarik jika saya mencermati hubungan baik yang terjalin antara keluarga kami dengan para murid Papa, terutama dengan para jemaat gereja. Ketika kami merayakan lebaran, secara otomatis murid-murid Papa datang ke rumah untuk sekadar bersilaturahmi. Begitu juga ketika Natal tiba, biasanya selain acara utama di gereja mereka berkumpul di rumah salah satu anggota jemaat untuk sekadar kumpul bersama, dan Papa Mama pun biasanya diundang kesana (acara ini murni acara kumpul-kumpul, makan bersama, semacam acara silaturahmi). Sebagai bentuk penghormatan dan toleransi umat beragama Papa Mama pun hadir memenuhi undangan mereka.

Sebagai konsekuensi mengajar kolintang di gereja tentu saja Papa harus paham beberapa lagu gereja yang ingin mereka pelajari/mainkan. Papa juga tidak segan untuk tampil membantu mereka di atas panggung. Kalau sore, kadang saya suka ikut Papa ketika mengajar kolintang, ya walaupun akhirnya saya sibuk bermain sendiri dengan salah satu anak pengurus gereja. Namanya juga anak-anak 😀

Yang paling berkesan hingga saat ini adalah kebaikan sepasang suami isteri jemaat gereja bernama Pak Peter & Bu Peter, yang ternyata punya perhatian dan kepedulian yang tinggi dengan keluarga kami. Pernah suatu malam yang gerimis, seusai mereka berkonsultasi tentang perkolintangan menyambut Natal, tanpa sengaja Bu Peter mendengar adik bungsu saya —yang waktu itu masih kecil— batuk-batuk. Kebetulan adik saya memang sedang sakit flu batuk pilek. Sebenarnya sudah diberi obat pereda flu oleh Mama, tapi entah mengapa belum sembuh juga, kebetulan memang belum sempat ke dokter.

Tak lama setelah mereka berpamitan (kurang lebih setengah jam kemudian) ternyata mereka berdua kembali ke rumah kami dengan membawa obat flu untuk anak yang dikenal manjur di keluarga mereka. Terharu. Alhamdulillah, beberapa hari setelah mengonsumsi obat itu adik saya sembuh. Terharu, segitu perhatiannya, mereka bela-belain kembali ke rumah kami padahal sudah malam dan hujan, cuma untuk membelikan adik saya obat flu ala keluarga mereka. Saya yang waktu itu masih kecil pun sudah bisa merasakan betapa tulusnya hati mereka berdua.

Entah bagaimana kabar mereka berdua sekarang, karena memang sudah lama tidak pernah ada kontak lagi selepas Papa pensiun dan memilih untuk menetap di Sidoarjo.

Persembahan saya untuk teman-teman yang merayakan Natal, dari grup acapella asal Italia favorit saya Neri Per Caso , semoga berkenan 🙂

Semoga kelak kebebasan beragama bukan hanya sebagai slogan kosong dan retorika semata, namun nyata adanya…

“Selamat Natal, Kawan. Semoga kasih dan damai Natal senantiasa dilimpahkan di tengah keluarga kalian. Damai di bumi, damai di hati…”

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading

Unconditional Love

“A mother’s love is instinctual, unconditional, and forever…”
– Unknown –

Beberapa hari yang lalu sebenarnya saya di-mention untuk ikut #Edustory di twitter. Kebetulan temanya adalah kisah yang paling berkesan tentang Ibu. Tapi berhubung saya kelupaan dan baru bergabung ketika waktu untuk #Edustory tinggal 15 menit, maka saya hanya sempat share sedikit sekali tentang cerita masa kecil dengan Mama. Nah, baru hari ini, tepat tanggal 22 Desember (terlepas dari peringatan Hari Ibu yang salah kaprah), seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan berbagi cerita tentang Mama, sebagai penyeimbang tulisan tentang Papa beberapa waktu yang lalu. Mama adalah sosok yang paling menginspirasi dalam kehidupan saya.

Boleh dibilang yang paling dominan dalam mendidik dan mengasuh kami bertiga adalah Mama. Bukan bermaksud mengesampingkan peran Papa di dalam kehidupan kami, tapi Papa sebagai kepala rumah tangga sudah menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) tersendiri yang juga menyeimbangkan kehidupan keluarga kami.

Mama sendiri adalah sebuah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, kadang absurd, namun pengasih, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja (bahkan selalu ingat siapa saja nama teman-teman kami). Beliau bisa berperan ganda dalam keluarga, sebagai ibu, isteri, sekaligus sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun dengan beliau. Mama adalah pendengar yang luar biasa untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Ketika sedih Mama akan ikut sedih bersama kami. Ketika kami bahagia Mama juga akan ikut bahagia bersama kami. Bahkan ketika kami bercerita tentang hal yang konyol sekali pun Mama tak segan untuk ikut absurd bersama kami. Mama kami memang sosok yang istimewa. Seistimewa setiap masakan yang takaran dan rasanya selalu pas! 😉

Waktu kecil, saya dan adik perempuan saya, selalu dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk dandanan anak-anak, mulai rambut, baju, sampai sepatu (mungkin karena anak perempuan, jadi lebih mudah memodifikasi dandanannya ;))). Waktu SD kami berdua juga diwajibkan ikut ekstra kurikuler tari Jawa klasik. Kebetulan dulu Mama adalah seorang penari Jawa klasik yang bergabung dalam Sanggar Tari Wilwatikta, jadi harapan Mama salah satu dari kami berdua ada yang menuruni bakat beliau. Terlepas dari itu menurut Mama menari akan mengasah kepekaan diri, keluwesan, dan membentuk gesture tubuh yang baik (tidak membungkuk).

Dulu sempat berpikir juga, ngapain sih Mama ‘memaksa’ ikut ekskul tari? Tapi lama-lama akhirnya pertanyaan itu terjawab seiring waktu. Ekskul tarilah yang membuat saya sering mendapat tawaran menari dan menjadi wakil sekolah dalam beberapa pagelaran lomba tari tunggal, berpasangan, maupun sendratari. Dari tarilah saya mengenal hobby yang saya jalani dengan hati. Ke mana pun saya pentas, Mama hampir tak pernah absen mendampingi saya. Thanks to Mama >:D<

Kalau untuk “pemaksaan” ekskul ke adik bungsu saya yang laki-laki sepertinya tidak terjadi. Karena toh akhirnya dia bisa menemukan bakat dan minatnya sendiri di bidang fotografi. Mama bukan hanya sebatas peduli dengan pendidikan kami, tapi juga sangat mengikuti perkembangan hasil studi kami mulai dari SD hingga kuliah. Sering memotivasi dengan hadiah-hadiah kecil sebagai hadiah atas pencapaian kami. Walaupun lama-kelamaan kamilah yang akhirnya secara sadar memperjuangkan nilai-nilai kami sendiri karena ingin membuat Papa-Mama bangga.

Kami juga sempat mengalami masa-masa menyedihkan ketika Mama sering pingsan dan pusing berkepanjangan selama sebulan lebih (sebenarnya memang sakit yang sudah lama diderita oleh Mama karena ada syaraf di kepala yang terganggu, biasanya akan kambuh kalau terlalu capek, berpikir berat/sedih). Sementara kami & Papa amat sangat tergantung sama Mama :(. Ketika masa pemulihan ternyata Mama mengalami vertigo, Mama jadi sering hilang keseimbangan. Seringkali ketika kami pulang sekolah menjumpai Mama tertidur dengan lutut dan kaki yang lecet-lecet atau memar kebiruan karena terjatuh akibat memaksakan diri membersihkan rumah atau pergi ke pasar padahal kondisinya masih belum pulih. Kalau kami tegur jawabannya begini,

“ya kalau Mama nggak ke pasar, trus nggak masak, nanti kalian makan apa?”
 Ya Tuhan , bahkan di saat sakit pun Mama masih memikirkan kami 🙁

Puncaknya adalah ketika Mama harus rela melepas adik perempuan saya menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta, Mama bukan hanya sedih, tapi sampai nangis sesenggukan. Waktu perpisahan dengan saya dulu Mama juga sedih, tapi nggak sampai sesedih ini. Mungkin sekarang baru terasa kalau anak-anaknya ternyata sudah pada dewasa, sudah mulai punya kehidupan masing-masing, dan pasti si bungsu juga akan segera menyusul kalau sudah ketemu jodohnya.

Seringkali pagi-pagi beliau mengirim sebuah pesan singkat berisi, “Mama sayang kamu…” atau “Selamat bekerja ya, Sayang. Mama kangen sama kamu…” dan itu sudah cukup membuat airmata saya menggenang :((

Iya, aku juga kangen, aku juga sayang sama Mama…. :-s

“Ya Allah, semoga Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan kedua orangtua kami… Aamiin…”
 

[devieriana]

 

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Like a Box of Chocolates

Disclaimer : Tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Disarikan dari hasil perenungan, diskusi, dan curhat beberapa galauers tentang pasangan hidup. Postingan ini saya dedikasikan untuk semua masyarakat Republik Jomblo Happy Indonesia. I love you, Guys! :-*

———-
“Life is like a box of chocolates, you never know what your gonna get..”
— Forest Gump —
Beberapa waktu yang lalu saya dikejutkan oleh sebuah berita bahagia dari salah seorang sahabat yang setelah berkali-kali gagal dalam urusan percintaan namun akhirnya beberapa hari lagi akan segera melangsungkan pernikahan. Terharu sekaligus bahagia. Untuk pertama kalinya saya merasakan perasaan seemosional ini ketika mendengar seseorang yang berniat akan mengakhiri masa lajang. Sahabat saya ini termasuk istimewa. Dia baru menemukan jodoh di usia yang hampir masuk kepala lima. Sahabat terbaik yang dulu sering memercayakan kisah cintanya pada saya, baik suka, duka, jatuh cinta, atau ketika patah hati.

Uniknya kami belum pernah sekalipun bertemu. Pertemanan kami yang hampir berjalan 4 tahun itu berjalan sebagai kisah persahabatan murni. Tidak melibatkan perasaan sama sekali. Karena kami berdua memang merasa lebih nyaman dengan status hubungan yang seperti ini. Usianya yang terpaut jauh dari saya membuat saya juga nyaman bercerita tentang apa saja, seperti bercerita pada seorang kakak. Begitu pun sebaliknya. Dia sangat menghargai saya, tidak pernah sekalipun menganggap saya anak bawang yang opininya bisa saja diragukan kedewasaannya.

Saya sadar bahwa mungkin saya tidak selalu mampu memberikan solusi terbaik untuknya, hanya beberapa saran yang menurut saya masuk akal saja. Soal nanti akan diterapkan beneran dalam pengambilan keputusan atau tidak ya terserah dia. Kan yang menjalani hidup dia juga 😀

Nah, ngomong-ngomong masalah cinta & pasangan hidup memang selalu menjadi tema yang tidak akan pernah habis untuk dibahas, ya? Selalu saja ada energi untuk menuliskannya dalam berbagai versi & bahasa. Kita nyata diciptakan berpasang-pasangan namun kita tidak pernah tahu kapan & dimana akan bertemu dengan pasangan hidup kita.

Kita —utamanya para perempuan— semasa kecil pasti punya dong gambaran tentang sosok ideal seorang pasangan hidup. Nanti pengennya punya pasangan yang tipenya begini, begini, begini. Ingin yang sifatnya bla, bla, bla, bla. Secara fisik begini, begini, begini, dan sebagainya. Yang namanya keinginan ingin memiliki pasangan hidup yang sempurna itu wajar saja, bukan? Saya dulu juga begitu. Menikah kan niatnya cuma sekali seumur hidup, dan kalau bisa dapat yang sempurna sekalian. Begitu, kan? Iya, idealnya..

Saya punya beberapa sahabat perempuan yang kehidupannya nyaris sempurna. Hampir semua dia miliki. Pribadi yang hangat & menyenangkan, karir yang bagus, gaji dalam digit rupiah diatas enam, keluarga yang sangat mendukung, dan dikelilingi sahabat-sahabat yang menyenangkan. Hanya satu yang dia belum miliki, pria yang tepat sebagai pasangan hidup. Definisi pria yang tepat disini bisa disimplifikasi sebagai pria single, tidak sedang terikat hubungan & pernikahan dengan siapapun, mapan (setidaknya dia punya pekerjaan sehingga mampu menafkahi keluarga kelak, walaupun istri juga sebagai wanita bekerja), dan punya kepribadian yang baik. Soal wajah mungkin bisa nomor sekianlah, ya. Tapi misalnya Tuhan berbaik hati mau ngasih yang seganteng Bradley Cooper sih disyukuri (banget). Ah, ini sih saya juga mau! ;))

Siapa sih yang tidak ingin menemukan pasangan hidup sesegera mungkin? Kalau ada yang bilang “enggak” bisa kita artikan masih “pending”. Tapi bukan berarti “nggak mau”, kan? Nah, masalahnya kan jodoh itu tidak bisa dibeli layaknya kita ingin beli tomat di pasar. Tidak bisa asal comot sesuka hati, mana yang kelihatan matang lalu kita beli dan bawa pulang. Nanti bisa kita langsung makan atau dibikin jus. Hidup juga bukan jalan tol yang mulus dan bebas hambatan, dong? Begitu pula halnya proses dalam menemukan jodoh.

Kita tidak pernah mengira “path” apa yang sedang kita jalani. Urusan jodoh selalu jadi misteri terbesar Tuhan yang tidak pernah bisa ditebak kapan datangnya, layaknya takdir hidup & matinya manusia. Ada yang sudah ngoyo banget, tapi jodoh yang diharapkan belum datang juga (padahal usia sudah “layak” berkeluarga). Tapi ada juga yang santai-santai saja eh jodoh malah datang sendiri. Unik, ya? 🙂

Kalau bicara masalah usia, idealnya sebuah pernikahan bukanlah sebuah hal yang dilakukan karena emosi, sekedar pantes-pantesan, atau karena tuntutan usia. Menikah, selain masalah hati dan kesiapan mental, juga masalah waktu. Logikanya, seberapa ngoyonya kita kalau Yang Diatas belum bilang “ya”, ya kita belum akan bertemu dengan si dia. Tapi kalau Tuhan sudah mengizinkan, “voila!”, yakin deh, segala rencana akan dimuluskan oleh-Nya.

Saya juga punya sahabat yang sudah pacaran hampir 7–8 tahun lamanya, sudah berniat akan melanjutkan hubungan serius ke jenjang pernikahan. Namun sayangnya, menjelang acara lamaran salah satu diantara mereka justru memutuskan pertunangan dan memilih untuk menikah dengan orang lain :(. Ada juga kisah seorang sahabat yang sudah menanti pasangan hidup sedemikian lama, namun ketika kemudian hari dipertemukan dengan “the prince charming” ternyata sifatnya tak lebih baik dari tokoh Ja’far ( penasihat sekaligus penyihir jahat di film Aladdin) :|.

“Tapi bete kali Dev kalau ditanyain melulu soal kapan gue nikah? Perasaan baru kemarin deh ketemu di acara kondangan, masa pas ketemu lagi di acara reunian dia nanya beginian lagi, sih?:((“

Oh, ya udah berarti yang nanya emang nggak ada kerjaan, sih. Gampar aja. sih! ;)). Euh, jadi inget sama Bude saya deh kalau begini, bedanya sekarang saya lagi sering dikejar-kejar sama pertanyaan, “kamu sudah hamil lagi, belum?” :|. Arrggh! *makan kuaci biji kedondong*. Curhat! :))

Saya juga sudah pernah merasakan betapa tidak nyamannya ketika dihujani teror pertanyaan “kapan menikah?”, “sudah ada calonnya, kan?”, dll. Capek memang kalau didengerin, ya. Tapi ya itulah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa kita memang hidup diantara kultur masyarakat yang “terlalu peduli dengan urusan pribadi orang lain”. Tapi kalau mau berpikir posistif nih, mungkin tujuan mereka tanya ini itu tentang “the kapan things” itu sebenarnya untuk menunjukkan saking sayangnya mereka sama kita. Oh, bukan? Ya sudah, anggap saja karena mereka ingin jadi wedding organizer, penyandang dana, atau penyedia katering. Nah, siapa tahu kan? :-”

Nah, buat yang sedang galau menanti jodoh yang tak kunjung datang, percaya deh.. someday, somehow, somewhere, you’ll find your life mate soon! Banyak orang yang sudah menikah saja belum tentu bahagia (even they pretend to be happy). So, as long as you are happy with your own life, surrounded by fun-loving friends, you’ll be just fine. Jangan menikah hanya karena desakan orang lain, masalah usia, atau jabatan yang sudah dimiliki, yang sehingga justru akan membuat kita —terutama para perempuan— membuat pilihan yang salah. Juga jangan pernah memutuskan untuk menikah karena orang lain sudah menikah lebih dulu. Menikah itu bukan masalah kalah atau menang diantara teman, siapa yang bakal menikah atau dapat jodoh duluan. Nikmati saja semua alur proses pencarian itu, tidak ada salahnya kok untuk berhati-hati. Kan kita juga inginnya hanya menikah sekali untuk seumur hidup ya. Boleh kok agak keluar sedikit dari lingkungan yang ada, siapa tahu “si dia” itu justru nyempil di tempat-tempat yang tidak pernah kita duga sekalipun ;).

“Aduh, tapi kalau nggak ada pacar itu hidup terasa hampa, tau! Masa yang lain pacaran, gue galau aja tiap malam minggu? 🙁 *ngemut sofa*

Eh, pernah dengar kisah Margareth Maxwell istri John C Maxwell seorang pembicara & pakar kepemimpinan yang memberikan statement bahwa suaminya tidak pernah memberikan kebahagiaan yang dia cari, belum? Bayangkan nih ya, seorang pakar, pembicara, yang sering “menguliahi” orang tentang hidup, kebahagiaan, kepribadian, dan kepemimpinan, ternyata dia tidak cukup ahli untuk memberikan kebahagiaan kepada istrinya sendiri. Oh, no! 😮

Namun apa jawaban sebenarnya dari Margareth Maxwell ini?

“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri”
Jadi intinya, tidak ada orang lain yang bisa membuat kita bahagia, baik itu pasangan hidup kita, sahabat kita, hobi, maupun harta/uang kita. Pola pikir kitalah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Kebahagiaan yang hakiki itu sebenarnya ada dalam diri kita sendiri kok.

Pernah nonton film He’s Just Not That Into You? Ada sebuah pesan moral yang saya dapatkan ketika menonton film itu. Kebahagiaan bukan hanya tergantung pada status apakah kita “menikah” atau “single”, melainkan apakah hati dan pikiran kita bahagia? Happiness is entirely a state of mind. Ada banyak hal yang bisa kita bagi bersama orang lain yang justru akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri untuk kita.

Tidak ada kata terlambat untuk menikah. Kalau memang harus menunggu sedikit lebih lama, ya kenapa tidak? Toh semua itu untuk sesuatu yang sangat berharga dalam hidup, kan? Sampai datangnya seseorang yang tidak akan pernah menjadi sebab penyesalan kita karena telah salah memilih. Percaya deh, segala sesuatu akan indah pada waktunya kok 😉

“Soul mates. It’s extremely rare, but it exists. It’s sort of like twin souls tuned into each other”
– Serendipity –
[devieriana]

 

picture taken from here

Continue Reading

Jiwa-Jiwa Yang Tulus

Remember, if you ever need a helping hand, you’ll find one at the end of your arm….
As you grow older you will discover that you have two hands. One for helping yourself, the other for helping others.

– Audrey Hepburn –

Pernahkah kalian berada dalam sebuah keadaan panik, “sibuk” menyelamatkan nyawa seseorang yang tidak pernah kalian kenal sebelumnya? Jangankan kenal, bertemu face to face pun juga belum pernah. Kalian ikut panik, ikut deg-degan, seolah-olah ikut berada dalam sebuah ruangan ICU bersama orang yang akan kalian tolong itu, menunggu detik demi detik terlewati, menyaksikan seseorang yang barangkali saja saat itu tengah berjuang melawan maut.

Saya pernah, dan mungkin itu juga yang dirasakan oleh sebagian besar anggota milis Blood For Life.  Kepanikan itu terjadi terutama ketika mencarikan pendonor yang memiliki golongan darah langka, misalnya yang memiliki rhesus negatif (golongan darah yang banyak dimiliki oleh ekspatriat). Merasakan betapa sulitnya mencari pendonor yang darahnya sesuai dengan kebutuhan pasien. Ikut panik karena ternyata calon pendonor yang sudah stand by dan dijagakan bisa memenuhi kebutuhan darah si pasien ternyata kualitas darahnya kurang memenuhi syarat. Panik ketika pasien mengalami masa kritis karena belum mendapatkan donor darah. Ikut menangis ketika orang yang akan kami bantu ternyata harus diambil oleh-Nya dan kami belum sempat membantu secara maksimal.

Namun ada kalanya ikut bahagia ketika stok darah yang dibutuhkan terpenuhi, atau pasien bisa pulang kembali ke rumah dalam kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ikut terharu ketika ada keajaiban-keajaiban yang terjadi secara misterius di saat-saat kritis dan itu berujung dengan terselamatkannya si pasien.

Lebih dari itu, sebenarnya bukan itu inti yang ingin saya bagikan hari ini. Saya akan berbagi tentang sebuah kisah mengharukan yang datang dari seorang penyandang tuna netra bernama Pak Iwa.

Pak Iwa adalah seorang tuna netra. Dia sudah rutin mendonor sejak masih berusia masih 18 tahun. Namun sayang pada tahun 2001, tepat dua minggu menjelang pernikahan dilangsungkan, Pak Iwa terkena glaukoma (tekanan pada bola mata). Setelah mereka menikah, ternyata sang isteri lebih memilih untuk tidak melanjutkan pernikahan, salah satu penyebabnya karenaglaukoma yang diderita oleh Pak Iwa itu. Sang isteri kemudian memilih untuk menikah lagi dengan pria yang memiliki kondisi fisik lebih normal.

Pak Iwa sebenarnya sudah tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia sudah pasrah akan kondisi dirinya. Hanya satu yang dia rasakan, yaitu kesedihan yang mendalam karena tidak ada lagi yang akan mengantarnya ke PMI untuk mendonor.

Beruntung ada seorang tukang ojeg yang bersedia mengantarkan Pak Iwa ke PMI, dan akhirnya menjadi tukang ojeg langganan. Namun lagi-lagi malang bagi Pak Iwa, tukang ojeg ini harus pindah sehingga tidak bisa lagi mengantarkan Pak Iwa ke PMI.

Saat ini Pak Iwa sudah menikah lagi. “Alhamdulillah, sekarang saya sudah bertemu isteri yang baik.” Namun ketika ditanya mengapa sang isteri tidak ikut mengantarkan ke PMI untuk mendonor? Dia menjawab :

“Isteri saya juga buta, Mbak. Kami sama-sama tuna netra. Biasanya kami mendonor berdua, sekarang isteri saya sedang hamil muda, saya takut dia keguguran kalau kecapekan. Lagipula orang hamil kan tidak boleh mendonor… “

Airmata saya langsung menggenang. Subhanallah, ternyata ada ya orang yang punya hati semulia Pak Iwa? Bayangkan, disela-sela kekurangan fisiknya ternyata Pak Iwa masih memikirkan nasib sesamanya yang membutuhkan. Dia masih meluangkan waktu untuk menyumbangkan darahnya secara rutin ke PMI.

Ketika ditanya apa motivasinya rutin melakukan donor darah, dia hanya menjawab dengan kalimat sederhana namun luar biasa artinya. “Saya hanya ingin menikmati hidup, dan salah satu kenikmatan yang saya rasakan adalah ketika saya diizinkan berbagi dalam keterbatasan saya.”

Teman-teman, hal paling berharga yang bisa Pak Iwa sumbangkan untuk orang lain itu tak lain adalah darahnya.

Pak Iwa saat ini bekerja di Metro TV sebagai seorang operator. Namun demikian dia mengaku sangat menikmati pekerjaannya. Selain berkomunikasi dalam bahasa lisan, Pak Iwa juga mampu berkomunikasi via tulisan.

“HP saya menggunakan software pembaca layar (untuk HP namanya Talks untuk PC/laptop namanya JAWS dan itu yang paling umum). Tapi untuk HP syaratnya harus HP dengan operating system Symbian sehingga tidak terlalu banyak pilihan. Karena hanya Nokia yang menyediakan handset dengan OS Symbian, saya menggunakan Nokia 5320.”

Tuhan menciptakan makhluknya dengan segenap kelebihan dan kekurangan. Namun tidak semua yang diciptakan kurang sempurna itu lantas sama sekali tidak bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, contohnya adalah Pak Iwa (dan mungkin masih banyak Pak Iwa-Pak Iwa lainnya yang tidak kita ketahui profilnya). Sejatinya, bagaimanapun kondisi dan keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang, mereka masih ingin merasakan bahwa hidup mereka bisa bermanfaat untuk orang lain.

Jika kita terlahir sebagai manusia yang dikaruniai kesehatan dan kelengkapan fisik, apakah tidak sewajarnya kita lebih mampu membantu sesama secara lebih maksimal? Kita tidak pernah tahu kapan kita akan membutuhkan bantuan orang lain. Jika Pak Iwa saja sanggup menolong sesama, mengapa kita tidak? 🙂

When you are working not for reward but only for love, then everything will go very smoothly..

Mari lebih peduli. Mari berbagi.. 🙂

[devieriana]

 

 

sumber gambar : tighenthoughtstogether

Continue Reading