Jangan jadi PNS!

Beberapa hari yang lalu saya menerima pesan dari teman di twitter, minta waktu buat ngobrol katanya. Ya, berhubung saya lagi santai ya saya layani. Obrolan via BBM itu pun berlangsung “gayeng”, santai & akrab. Maklum dia memang salah satu teman lama tapi terbilang jarang ngobrol sama saya.

Intinya dia mengajak diskusi tentang pekerjaan. Kebetulan dia seorang karyawan swasta yang bekerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di Jakarta. Pertanyaan pertama telak, masalah gaji. Kalau ditanya masalah pendapatan besar atau kecil pasti jawabannya adalah relatif. Saya tidak bilang gaji saya besar atau kecil, tapi alhamdulillah cukup (setidaknya buat saya). Karena berapa pun pendapatan kita kalau pengeluaran & kebutuhan hidup kita juga membutuhkan biaya yang besar ya pasti akan merasa kurang. Itulah kenapa saya jawab : alhamdulillah, cukup.

Dia seorang pria, single, dan akan menikah. Sekarang ini sedang mempertimbangkan untuk pindah kerja dengan syarat gajinya paling tidak sama besar dengan tempat kerjanya sekarang, pekerjaannya tidak terlalu hectic, dan waktu luangnya banyak. Waduh, sempat puyeng juga saya ketika dimintai pendapat. Kalau tempat kerja yang seperti itu adanya dimana ya? :-?. Ya, jadi bos saja, buka usaha sendiri, wiraswasta gitu :).

Dia juga sempat heran kenapa saya pindah dari tempat kerja saya yang lama dan memilih berkarir memilih berkarir sebagai PNS. Apakah gaji sebagai PNS lebih besar dari tempat kerja saya yang sebelumnya? Karena dia justru sedang ingin pindah ke perusahaan tempat kerja saya yang lama. Tapi dia jadi mikir lagi ketika tahu saya pindah, jangan-jangan karena beban kerjanya terlalu tinggi, gajinya sedikit, atau ada sebab lainnya apa. Aduh, asli saya jadi mikirnya kok dia naif banget ya. Karena yang namanya kerja dimana-mana itu ya pasti ribet. Soal gaji besar/kecil itu sifatnya relatif, ada tunjangan apa saja buat karyawannya ya itu tergantung kebijakan yang punya perusahaan. Kalau soal waktu ya itu pinter-pinternya kita menyiasatinya saja, ya kan?

Saya jadi PNS itu sebenarnya tidak sengaja, seperti cerita saya disini. Kalau saja saya tidak ikut seleksi CPNS ya mungkin sampai sekarang saya masih di kantor yang lama, berkutat dengan quality assurance, hectic bikin laporan,  menangani komplain ketidaksesuaian penilaian, melakukan assuring hasil kerja anak buah saya, ribet melakukan coaching dan konseling ke anak buah.

Sekarang gini, ini sekedar sharing ya. Tujuan bekerja memang salah satunya adalah mencari gaji/pendapatan. Gaji besar dengan iming-iming status jabatan tertentu dan tunjangan ini itu pasti  jadi magnet terbesar para pencari kerja. Iya dong, buat apa kerja kalau tidak ada hasilnya, kan? Tapi apa iya lantas semua dipukul rata bekerja cuma dilihat dari besaran gaji yang diterima saja? Bagaimana kalau gaji besar tapi kompensasinya harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk diri sendiri dan keluarga, beban kerja yang tinggi, ditambah dengan fisik yang kelelahan. Kalau ada yang berpendapat, “kalau memang konsekuensi tugas dan tanggung jawab pekerjaan ya harus dijalani dong..”. Ok, mungkin ada yang rela hidup seperti itu, tapi ketika sudah berkeluarga nanti pasti ada orientasi-orientasi yang akan berubah, bukan lagi cuma materi yang dikejar, tapi pasti akan mempertimbangkan quality time bersama keluarga.

Dia lalu tanya lagi apakah THP (take home pay) saya masuk 2 digit? Saya lagi-lagi cuma bisa tertawa :)). Ya buat saya itu lucu. Bayangkan ya, untuk CPNS macam saya kok sudah punya gaji dua digit? Ini niat nanya apa ngasih tebakan? :-?. Masuk akal nggak sih kalau belum apa-apa gaji saya sudah menyamai gajinya deputi? Semua pasti ada aturan dan standarnya dong, Mas.. 🙂

Teman : tapi standar gaji staf di tempat kerja lama kamu dua digit lho, Dev..

Saya : bentar, aku tanya sama kamu. Tempat kerjaku yang lama itu swasta apa negeri?

Teman : ya 50-50, kan yang 50% dikuasai oleh Singtel

Saya : status pegawainya swasta atau PNS?

Teman : errr.. swasta

Saya : lha ya sudah, kenapa kok kamu membandingkan standar gaji swasta sama negeri? Ya jelas beda dong. Kalau mau membandingkan ya apple to apple. Jangan apple to durian. Bonyoklah ;))

Teman : tapi kelebihan pekerjaanmu yang sekarang nggak ada PHK mendadak ya, Dev. Beda sama kalau jadi pegawai swasta, isinya ketar-ketir melulu..

Saya : ya semua pekerjaan itu pasti ada segi positif dan negatifnya. Semua pasti punya resiko, tinggal gimana kita menjalaninya aja sih..

Teman : ya udah, aku nitip info kalau-kalau ada informasi kerjaan yang sesuai sama spesifikasiku ya..

Saya  : mmh, yang waktunya lebih luang, kerjaan nggak terlalu overload, dan yang penting gajinya sama dengan tempat kerjamu sekarang ya? ;))

Teman : hihihi, iya.. Kalau pakai ijazah S2 gimana? bisa?

Saya : apanya? dapet gaji 2 digit?

Teman : iyaa.. :))

Saya : bentar deh, tuntutan-tuntutan itu tadi untuk standar cari kerjaan di swasta apa PNS sih? 🙁

Teman : ya aku maunya di departemen atau BUMN gitulah..

Saya : jadi, pengen jadi PNS?

Teman : ya aku maunya sih kaya begitu.. Tapi kan aku nggak tau rejekiku dimana.. Ya, nitip ajalah, kalau ada info-info yang sesuai dengan kualifikasiku ya..

Saya : woogh, nyarinya dimana ya PNS yang kaya begitu.. #-o

Jadi saran saya ya, selama orientasinya masih berkutat di besaran gaji, mending jangan jadi PNS deh, apalagi yang baru jadi CPNS minta gajinya langsung dua digit ;)). Karena semua orang juga tahu gaji PNS masih kalah jauh dengan gaji pegawai swasta lho ;). Kalau mengumpulkan materi mending kerja di swasta dulu, bisa sembari menabung kan? Nah nanti kalau sudah bosan dan ingin punya lebih banyak waktu dengan keluarga sambil nyambi buka usaha dirumah boleh deh jadi PNS (eh, keburu tua nggak sih?) ;)).

Semua pekerjaan pasti ada plus minusnya, tidak mungkin ada pekerjaan yang semuanya sesuai dengan keinginan kita. Apalagi kena kata-kata “urip iku sawang sinawang”, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Melihat si A kerja disitu kok kayanya enak, ikutlah kita kerja satu perusahaan dengan si A. Tapi ketika sudah dijalani baru merasa ternyata kerjaan si A tidak seindah yang kita bayangkan, sama hectic-nya dengan pekerjaan kita yang sebelumnya :-o.

Rezeki itu sudah ada yang mengatur, pun halnya dengan pilihan karir. Soal mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri tinggal memilih mana yang paling sesuai dengan hati nurani kita, mana yang lebih sreg untuk dijalani. Memilih pekerjaan itu sama seperti memilih jodoh, semuanya kembali ke masalah hati 🙂

Oh ya, tadi pagi saya menemukan link bagus untuk sekedar dibuat baca-baca tentang How to find a job you will love . Semoga bermanfaat ya :-bd

[devieriana]

ilustrasi dari sini

Continue Reading

Forgiveness is the attribute of the strong

“Sorry seems to be the hardest words”
“Hard to say I am sorry”
“Tiada maaf bagimu! Cuiiih..” :p

Pasti kita sering mendengar kata-kata itu ya? Memaafkan. Sebuah kata yang mudah diucapkan tapi tidak mudah untuk diaplikasikan sepenuhnya dalam tindakan. Apalagi menjelang lebaran begini, pastinya mulai dari Presiden sampai sinden, mulai walikota sampai rakyat jelata akan mengucap mohon maaf lahir dan bathin.

Tapi apa iya kita sudah mampu memaafkan dengan ikhlas untuk kesalahan & kekecewaan yang sudah ditimbulkan oleh orang lain pada kita? Namun jika tidak (belum) bisa, yakinkah kita kalau kita selama hidup tidak pernah melakukan kesalahan kepada orang lain? Yakin kesalahan kita tidak ingin dimaafkan? Memang pada dasarnya karakter dasar manusia bukanlah menjadi seorang pemaaf. Tidak mudah bagi kita untuk berani mengakui kesalahan, dan kemudian meminta maaf. Atau mau begitu saja menerima permintaan maaf orang lain yang sudah menyakiti kita.

Sebenarnya, meminta maaf dan memaafkan adalah hal yang sangat manusiawi karena menunjukkan betapa tak ada seorang anak manusia pun, siapapun dia, yang sempurna, yang luput dari kekurangan, kekhilafan, kesalahan atau dosa. Namun pada kenyataannya urusan maaf memaafkan itu menjadi begitu ruwet lantaran tertutup ego. Kalau sudah ego yang bicara, mbok ya sampai kapan pun yang namanya kata maaf & “saya maafkan kamu” tidak akan pernah muncul dari bibir.

“Ih, ngapain minta maaf, orang dia yang salah kok. Kalau kamu jadi saya, kamu juga pasti nggak akan bisa memaafkan untuk semua hal yang sudah dia perbuat sama saya”

Kebetulan saya bukan termasuk orang yang pendendam. Semarah-marahnya saya sama orang, sekesel-keselnya saya sama orang, nggak pernah bertahan lama. Jujur dulu saya pernah merasa, kok sepertinya saya lemah banget ya mau-mau aja memaafkan orang yang pernah menyakiti saya? Kenapa kok saya nggak punya daya dendam untuk membalas hal jahat apa yang sudah orang lain lakukan sama saya ya? Tapi ternyata saya salah. Justru dengan memaafkan itu saya jadi lebih santai, lebih nyaman, itung-itung melatih diri untuk berjiwa besar. Karena kalau dipikirin terus jadinya bakal capek hati, capek pikiran. Yang ada energi negatifnya pada ngumpul. Makanya kadang masalah-masalah hati itu pergi seketika setelah curhat 😀

Pun halnya ketika saya berbuat salah. Jujur sebenarnya saya orangnya nggak betah berlama-lama punya masalah sama orang lain. Masih mending kalau setelah kita nyimpen masalah, terus masalahnya bisa berubah jadi bunga bank atau bunga deposito gitu ya. Kalau menurut saya yang namanya masalah itu (maaf) seperti kentut, kalau disimpen bisa bikin perut mules, nggak bagus buat kesehatan ;)). Kalau memang saya yang salah ya saya yang akan minta maaf (sungguhan), bukan asal-asalan yang hanya sebatas berjabat tangan, berpelukan atau sekedar ucapan maaf di bibir.

Mahatma Gandhi pernah berkata : The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. Hanya orang kuat yang mampu memaafkan orang lain.

Jadi, seberapa besar & kuat jiwa kita tergantung dari seberapa ikhlas kita mampu memaafkan orang lain. Forgiving someone for wrong doing is not an easy thing to do but a necessary thing to do if you want to live in peace.

Seperti beberapa kata dalam lyric lagu India Arie – Wings of Forgiveness berikut ini :

SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1431 H
Maafkan saya kalau ada salah ya, baik yang sengaja maupun yang tidak. Baik yang sudah berlalu atau yang sedang direncanakan..

;))

>:D<

[devieriana]

Continue Reading

Lebaran = Mudik & Baju Baru?

“Baju baru.. Alhamdulillah
Tuk dipakai.. di hari raya
Tak punya pun.. tak apa-apa
Masih ada baju yang lama
..”

Masih ingat sama lagu itu? Lagu jaman saya masih kecil dulu. Entah siapa yang mencetuskan pertama kali kalau lebaran itu identik dengan baju baru ya? Karena sebenarnya tanpa baju baru pun kita masih bisa lebaran kan? Seharusnya.. 😕
Tergelitik dengan obrolan dengan salah satu sahabat saya beberapa hari yang lalu. Dia sempat bilang begini :

“Heran deh sama orang-orang yang bilang : “Gak lebaran ah gue kalo belum dapet THR, buat beli baju baru nih!”. Lah, emang kalau nggak pakai baju baru kita nggak bisa lebaran ya?”

Saya cuma nyengir aja, karena ya memang sering ada yang bilang begitu sih, “budaya” lebaran di Indonesia juga memang seperti itu, tapi berhubung sejauh ini saya nggak pernah ambil pusing, jadi ya nggak pernah saya permasalahkan. Mmh, kadang-kadang saya juga suka begitu sih ;)) *sungkem*

Bagi tiap orang Idul Fitri bisa memiliki banyak makna. Ada yang memaknai Idul Fitri itu sebagai hari yang tersedianya banyak makanan enak, baju baru, atau banyaknya hadiah (angpau). Ada lagi yang memaknai Idul Fitri sebagai saat yang paling tepat untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. Ada lagi yang memanfaatkannya dengan pergi mengunjungi tempat-tempat wisata bersama keluarga, dan lain-lain.

Kebanyakan dari kita kalau Ramadhan sudah jalan 3 minggu, yang seminggunya lagi sudah tercium hawa-hawa lebaran. Dengan mulai terlihatnya para ibu yang sibuk mempersiapkan kue-kue dan hidangan untuk lebaran nanti, mulai penuhnya mall dengan para pengunjung yang sibuk memilih & mematut baju baru yang akan dipakai waktu lebaran nanti. Mulai ramai & padatnya arus kendaraan menuju ke daerah asal (mudik). Pffiuh, aktivitas tahunan yang cukup melelahkan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit ya?

Memang sih tidak bisa dipungkiri, bahkan bagi saya sendiri, untuk lebaran saja saya sudah harus mempersiapkan biaya jauh-jauh hari terutama untuk mudik. Kalau soal baju sih nggak harus baju barulah, karena baju-baju muslim saya kebanyakan masih bagus lantaran jarang dipakai, jadi masih bisalah kalau dipakai lagi di lebaran tahun berikutnya *ngirit* ;)). Karena yang namanya tiket pesawat itu pasti mahal. Bukan sok harus naik pesawat ya, kalau pun toh naik kereta sebenarnya sama saja biayanya, tapi kalau dibandingkan waktu & tenaga kami memang prefer naik pesawat. Kalau soal hidangan lebaran sih saya biasa nebeng sama orangtua atau mertua. Tergantung lagi lebaran dimana ;)). Bukan apa-apa, mending kasih mentahnya aja, soalnya kalau pun toh saya bikin nggak bakalan jadi kue :p

Kata Pak Ustadz saya kemarin bilang begini :

” Beridul fitri itu tidak harus dengan menyiapkan banyak makanan enak, karena hidangan sederhana dalam jumlah secukupnya pun tidak akan mengurangi makna Idul Fitri itu sendiri. Idul Fitri tidak harus dengan membeli baju baru karena baju yang bersih dan layak pakai pun sudah cukup. Beridul Fitri juga tidak harus mudik karena bersilaturahmi dengan orangtua dan saudara bisa dilakukan kapan saja, tidak harus di moment Idul Fitri. Meminta maaf juga tidak harus pas lebaran, kapan pun kita merasa telah berbuat salah kepada orang lain, segeralah minta maaf, pun halnya dengan memaafkan. Insya Allah Idul Fitri tidak lagi membutuhkan biaya besar dan semuanya akan terasa lebih mudah..”

Denger ceramah itu saya kok jadi berasa ditampar ya. Mengingat betapa “nggrundelnya” saya karena nggak bisa mudik ke Surabaya tahun ini :(( . Mengingat si mbak di rumah yang barusan bilang :

“mbak, sandalnya mbak Devi yang kemarin mbak mau buang itu ternyata pas banget di kaki Ayu, anak saya. Dia suka banget, malah bilang : Bu, nanti lebaran nggak usah beli sepatu, aku mau pakai sepatu ini aja.. “

:((

Bukan saya sok kaya dengan membuang-buang sandal, tapi kebetulan sandalnya memang sudah rusak dibagian resleting belakangnya, kalau pun toh saya niatnya mau ngasih si mbaknya ya nggak yang bekaslah.. 🙁

Jadi, buat yang tidak berlebaran dengan baju baru, tidak beropor ayam, tidak berketupat, tidak mudik (kaya saya), kita masih tetap bisa berlebaran kok.. Kan beli baju baru, makan ketupat plus opor ayam, atau mudik nggak harus pas lebaran kan? Insya Allah kita masih bisa melakukannya di luar hari lebaran.. *menabahkan diri*

Tapi masalahnya adalah.. saya, saya.., saya kangen sama kaastengels yang sangat keju bikinan mama saya ituuuu.. :((

[devieriana]

Continue Reading

Belajar Dari Liu Wei..

Selalu merasa kurang, terlihat lebih buruk daripada yang lainnya, merasa lebih rendah & selalu merasa kurang puas adalah sifat manusia. Tidak ada makhluk yang sempurna di dunia ini. Dibalik kesempurnaan yang terlihat pasti ada kekurangannya. Karena terlalu seringnya kita melihat ke atas kadang kita lupa bahwa di luar sana ada banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan dengan kita.

Bersyukurlah bahwa oleh Tuhan kita masih diberikan anggota badan yang lengkap, sehat, tak kurang suatu apapun, dan masih bisa beraktivitas seperti biasa. Bagaimana jika kita menjadi orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti Liu Wei? Seorang pemuda berusia 23 tahun yang harus rela kehilangan kedua tangannya sejak dia berusia 10 tahun setelah ia menyentuh sebuah kabel listrik saat bermain petak umpet. Setelah 45 hari dia mengalami masa kritis sampai akhirnya dia menyadari bahwa mau tak mau dia harus rela kehilangan kedua tangan untuk selamanya.

Liu Wei sangat frustrasi & merasa tak berguna, apalagi jika mengingat mimpinya menjadi seorang pianis. Bayangkan, perjalanan hidupnya masih sangat panjang, belum sempat dia mewujudkan mimpinya untuk belajar piano & menjadi seorang music producer, dia harus kehilangan tangannya di usia yang masih sangat belia. Bagaimana mungkin dia bisa meraih mimpi-mimpinya jika dia harus kehilangan anggota tubuh paling vital untuk menjadi seorang pianis? Hanya ada 2 pilihan, antara apakah harus menyerah begitu saja pada nasib & membiarkannya bermuara pada sebuah kisah yang entah berujung kemana, atau tetap akan memperjuangkan mimpi-mimpinya?

Tuhan memang Maha Adil, dibalik setiap musibah pasti ada keberkahan yang tersimpan. Ternyata Tuhan tidak mengizinkan Liu Wei menjadi sosok pemuda rapuh & tidak percaya diri. Dengan dukungan orangtuanya dia akhirnya tumbuh menjadi pemuda yang percaya diri.

“My mom keeps tell me, “you’re nothing different” just some people use hand but I use my feet. My mom don’t expect me become successful, just hope I can be healthy & happy. But in my perspective, I have to be successful. My object to be here is getting first 3. So my mom could be proud of me..”

Liu Wei mulai mandiri & pelan-pelan berusaha mewujudkan mimpinya. Tidak ada tuntutan apapun dari keluarganya. Keinginan yang menggebu-gebu itulah yang akhirnya membangkitkan semangat untuk mulai belajar bermain piano dengan menggunakan jemari kakinya sejak usia 19 tahun. Tentu bukan sebuah hal yang mudah ya. Karena kita saja yang normal & berfisik lengkap belum tentu bisa bermain piano dengan sempurna, apalagi yang fisiknya tidak lengkap.

“For people like me, there were only two options. One was to abandon all dreams, which would lead to a quick, hopeless death. The other was to struggle without arms to live an outstanding life”, ujarnya di depan dewan juri “China’s Got Talent”.

Beruntunglah dia tetap memilih opsi yang kedua, tetap berjuang walaupun harus hidup tanpa kedua tangan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Hidup bisa berubah kapan saja, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hitungan detik ke depan. Life is such a fragile thing, in couple seconds you can just lose it..

Selalu bersyukur untuk segala apa yang telah diberikan Tuhan, apapun bentuknya, karena kita tidak pernah tahu apa rencana-Nya dibalik segala keberhasilan & kegagalan yang kita lalui, pun untuk kesedihan & suka cita yang kita hadapi. Tetap berusaha & yakin dengan kemampuan diri sendiri.

Oh ya, satu lagi, keep on chasing your dreams.. 🙂 :-bd

[devieriana]

Continue Reading

I love my job..

Tulisan ini terinspirasi dari curhatan seorang sahabat.. 🙂

Semua orang pasti punya pekerjaan & karir masing-masing. Mau di swasta atau jadi PNS seperti saya. Pekerjaannya pun pasti juga beragam jenisnya, pun tingkat kesulitannya. Namun tak jarang ditengah-tengah pekerjaan yang kita lakukan secara rutin ada kalanya muncul kejenuhan. Jenuh dengan lingkungan & suasana kerjanya, jenuh dengan jenis pekerjaannya, pun penyebab jenuh lainnya.

Tergelitik dengan pernyataan seorang teman, “aku tuh lama-lama bosan dengan pekerjaanku. Tapi kalau aku nggak kerja aku akan jauh lebih bosan..”, keluhnya di suatu sore. Saya paham dengan apa yang dia rasakan. Kebosanannya disebabkan dengan pekerjaan yang nyaris monoton & kurang ada variasi. Lah dipikir saya juga banyak variasinya? Enggak juga. Pekerjaan saya juga sama monotonnya. Mengerjakan jenis pekerjaan yang sama hampir setiap hari. Apa lama-lama nggak bosan? Tapi ya itu pinter-pinternya kita mengelola kejenuhan & kesibukan yang “itu-itu melulu”.

Untungnya saya selama bekerja bukan tipe “kutu loncat”, yang sering pindah kerja sana-sini. Karir saya kebanyakan bertahan lama, lebih dari 2 tahun. Saya dulu sempat bekerja sebagai seorang fashion designer di sebuah perusahaan garment di Malang. Itu saya jalani hampir 3 tahun lamanya. Bosan? Pernah. Jenuh? Saya nggak bilang enggak. BT karena bos sering marah-marah? Hmm, pasti. Jenuh banget sehingga tidak ada satu ide mode apapun yang dilahirkan hari itu juga pernah ~X( . Intinya ketidaknyamanan ketika bekerja itu pasti ada.

Atau ketika saya bekerja di perusahaan telekomunikasi yang itu, yang namanya jenuh, stress, capek, makan ati, itu juga pasti ada. Tapi ya namanya bekerja di bidang public service ya pasti begitu. Dimarahi pelanggan sudah makanan sehari-hari. Kalau nggak ada yang marah-marah justru malah aneh. Lho?! ;)). Atau ketika saya pindah ke back office & saya memegang pekerjaan yang menuntut jiwa leadership dengan sekian anak buah. Yang namanya stress & under pressure itu pasti ada. Deadline di setiap akhir bulan, yang kalau laporannya nggak selesai efeknya anak buah kita gajiannya juga bakal terlambat. Nah, itu kan juga bentuk tanggung jawab yang besar. Stress? Pasti ada.. :((

Ada satu hal yang membuat saya awet berkarir dalam sebuah pekerjaan, bagaimana caranya supaya saya enjoy dengan pekerjaan saya, lingkungan saya, teman-teman saya. Nggak mungkin sebagai orang baru saya menuntut lingkungan yang harus berubah untuk saya, tapi justru sayalah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saya. Beruntung saya orangnya mudah menyesuaikan diri sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama saya sudha bisa membaur dengan orang-orangnya & pekerjaan baru saya.

Ada hal unik yang saya rasakan ketika berpindah dari karyawan swasta menjadi pegawai negeri. Ada banyak hal signifikan yang saya rasakan juah berbeda dengan pekerjaan saya sebelumnya. Mulai lingkungannya, jenis pekerjaannya, kultur & budaya kerjanya, orang-orangnya, aplikasi & alur kerjanya.. Ah, banyaklah pokoknya. Sempat mengalami  “culture shock”? Pernah, tapi ya itu tadi, alhamdulillah nggak sampai terlalu lama. Apakah lantas saya merasa bosan setelah sekian bulan saya berkarir di sini? Ada banyak hal yang membuat saya belajar. Ada banyak hal menarik yang bisa membuat diri saya berkembang. Salah satunya adalah ketika saya diajak bergabung dalam tim keprotokolan di biro kepegawaian. Yang tugasnya mempersiapkan acara pelantikan pejabat di lingkungan Sekretariat Negara. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari disana ketika bertugas sebagai pembawa acara (MC) atau pembaca Surat Keputusan Presiden/Menteri.

Tapi terlepas dari itu, dari semua karir yang pernah saya jalani ada beberapa hal yang saya ingat :
1. tidak ada satu pun ilmu yang telah kita pelajari di bidang pekerjaan sebelumnya yang akan terbuang percuma, pasti ada yang akan terpakai;

2. ketika kita menjadi orang baru, cepatlah beradaptasi, jangan menuntut lingkungan yang harus beradaptasi dengan kita;

3. terapkan can do attitude, ketika mendapat tugas baru jangan langsung bilang “nggak bisa!”, karena ketika kita bilang “nggak bisa” itu akan menjadi pemicu ketidakbisaan-ketidakbisaan berikutnya, yang penting berusaha dulu;

4. semua ilmu yang kita dapatkan di dalam dunia kerja adalah ilmu yang bisa dipelajari, asalkan kita tekun pasti bisa;

5. jika ada banyak hal yang perlu diingat berkenaan dengan prosedur kerja, jangan segan untuk mencatat, karena yang namanya memory otak pasti ada kapasitasnya;

6. ketika kita merasa kurang nyaman atau mengalami kendala dengan pekerjaan & tidak bisa kita selesaikan sendiri, diskusikanlah dengan atasan, walau bagaimana pun mereka atasan kita & perlu tahu apa yang dialami bawahannya;

7. pimpinan akan melakukan review & menilai hasil kerja kita, just give & do your best.. :-bd

8. kalau memang kita jenuh atau bosan ambillah cuti, refreshing-lah, semoga ada kesegaran baru nantinya ketika selesai cuti;

9. jika memang ternyata ada karir yang jauh lebih baik di luar sana atau ada bisnis wiraswasta yang jauh lebih menjanjikan ya kenapa tidak? Ambiiill.. \m/

10. ketika belum ada pekerjaan baru yang lebih baik, jalanilah pekerjaan yang sekarang dengan sebaik-baiknya & jangan lupa bersyukur karena kita masih diberikan kesempatan memiliki pekerjaan padahal di luar sana ada banyak sekali orang yang kesulitan mencari pekerjaan.. 😉

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading