Beberapa hari lalu, seorang teman bertanya dengan nada heran yang sulit disembunyikan, “Lah, dia masih ngeblog. Emang masih ada yang baca?”
Pertanyaan itu seolah menahbiskan anggapan kalau blog hanyalah tren sesaat yang masa jayanya sudah habis. Dan memang pada kenyataannya banyak blog yang dulunya aktif kini mati suri seiring munculnya berbagai media sosial. Jujur saja, selama beberapa tahun saya pun sempat ada di fase malas meng-update blog karena selain alasan kesibukan domestik di rumah dan kantor, juga sempat terbuai juga oleh kepraktisan Twitter dalam berjejaring (yang sekarang sudah berganti nama jadi X). Waktu itu rasanya jauh lebih gampang menjangkau audiens lewat tulisan singkat 140 karakter yang receh, ketimbang harus menyusun paragraf-paragraf panjang. Belum lagi sekalinya kita viral, banyak yang retweet, penambahan jumlah followers akan otomatis mengikuti. Memanfaatkan jumlah followers, saya pun kerap membagikan tautan tulisan baru di sana, sambil berharap trafik blog bakal naik.
Lambat laun semangat ngeblog itu luntur juga. Tapi rasanya bukan cuma saya, orang-orang pun tampak mulai jenuh, dan satu persatu mulai meninggalkan rumah digital masing-masing. Begitu pula budaya blogwalking alias kegiatan saling sapa di kolom komentar jadi tak sehangat dulu. Saat semua orang berbondong-bondong ‘bedol desa’ ke aneka situs microblogging, saya pun tak punya pilihan lain selain FOMO, melakukan hal yang sama.
Imbasnya, blog saya lebih banyak sarang laba-labanya ketimbang tulisan-tulisan baru. Padahal dulu, produktivitas menulis saya ada di level dewa. Bayangkan, sehari bisa lahir dua sampai tiga tulisan yang sengaja saya endapkan untuk stok postingan beberapa hari ke depan. Benar-benar masa di mana ide dan mood menulis bisa lahir kapan saja, di mana saja. Sekarang? Jangankan bisa memproduksi satu tulisan seminggu, bisa selesai satu draf dalam sebulan saja sudah jadi keajaiban dunia, yang layak dirayakan dengan standing ovation!
Anehnya, justru di saat orang-orang mulai skeptis dengan blog, saya malah merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali menulis. Mencoba kembali menghidupkan kapsul waktu yang mengurasi sisa-sisa golden era, masa-masa di mana blog masih memegang takhta sebagai primadona jagat maya. Di semesta digital yang trennya punya shelf life super singkat, bertahan selama hampir dua dekade menjadikan blog ini sebagai sebuah ruang yang sangat personal. Kalau iseng scrolling ke arsip lama, seperti melihat bagaimana saya bertransformasi. Tentang bagaimana cara saya menulis, memilih diksi, dan memandang dunia melalui perspektif yang terus berkembang.
Saya ingat betul masa-masa keemasan itu, saat blog masih menjadi simbol prestise di jagat maya. Ada beberapa tulisan saya yang sempat viral, atau setidaknya cukup ‘ramai’ dibagikan melalui rantai email yang jadi media sosial paling organik pada masanya. Di tahun 2009, saya juga sempat diwawancarai oleh Tempo menyoal fenomena ngerumpi.com, awal mula situs vertikal yang menjadi ajang berkumpulnya para peselancar dunia maya yang tertarik dengan isu perempuan, yang dalam perkembangannya menjadi salah satu gerbang awal budaya berbagi di ranah digital Indonesia bersama dengan situs-situs user generated content (UGC) yang lain yaitu politikana.com dan curipandang.com.
Wawancara tersebut benar-benar membuka jalan. Ada rasa surreal saat menyadari blog saya yang biasanya ada sepuluh pengunjung saja sudah terasa mewah, tiba-tiba saya dihadapkan pada lonjakan trafik ratusan orang per hari. Apa saya nggak keder? Banget! Tapi pada akhirnya, saya belajar bahwa blog bukan soal statistik pengunjung saja. Tapi lebih jauh, adalah tentang bagaimana melalui tulisan-tulisan sederhana akhirnya bisa mempertemukan saya dengan lingkaran pertemanan baru.
Tapi kenyataan sekarang sudah jauh berubah. Konten-konten video pendek jadi ‘bahasa’ baru yang dianggap lebih seksi ketimbang deretan kalimat panjang. Efeknya? Attention span kita makin tipis. Baru baca beberapa paragraf saja rasanya sudah gatal mau scrolling Tiktok atau Instagram lagi. Akhirnya kita jadi kehilangan daya tahan untuk menikmati sebuah cerita hingga akhir.
Meminjam istilah Rhenald Kasali, disrupsi sudah masuk ke semua lini, mulai dari cara kerja fleksibel di coworking space sampai gaya hidup cashless yang praktis. Ada pula narasi yang mengatakan kalau masa depan adalah milik mereka yang paling muda. Tapi bagi saya yang berdiri di borderline antara Gen X dan Milenial, pergeseran ini justru terasa challenging, di mana kuncinya ada di self upgrade yang tidak punya tanggal kedaluwarsa.
Ketertarikan saya pada dunia tulis-menulis ini pun sebenarnya punya akar yang lumayan dalam dan agak ajaib. Waktu masih SD dulu, kalau anak-anak lain menganggap sesi mengarang di ulangan Bahasa Indonesia itu beban, bagi saya itu justru momen showtime! Dan lucunya, saya punya metode ‘sesat’ dalam menulis. Saat guru mewajibkan kami menyertakan kerangka karangan, saya justru menulis dulu sampai tuntas baru kemudian kerangka karangannya saya buat di akhir. Jadi, kerangkanya bukan sebagai panduan menulis, tapi malah merangkum apa yang sudah saya tulis. Gaya menulis liar tanpa kerangka itu terbawa hingga sekarang. Saya lebih suka menulis secara organik. Saya biarkan ide-ide mengalir begitu saja, meski risikonya alur saya sering ‘main’ ke mana-mana. Metode tanpa kerangka inilah yang menemani saya di berbagai proyek buku kolaborasi sepanjang 2009 hingga 2015.
Sejak kecil pun imajinasi saya sudah punya cara sendiri untuk bermain-main. Saya sering membuat cerita-cerita legenda KW tentang asal-usul bentang alam suatu wilayah, kadang juga iseng membuat komik strip, sampai tiba-tiba random menulis skenario drama yang akhirnya saya tahu seperti itulah bentuk skenario yang sesungguhnya. Nah, demi memperkaya diksi dan membangun dunia yang berwarna itulah, saya betah menghabiskan waktu untuk membaca berbagai buku dongeng, mendengarkan Sanggar Cerita (iya, ketaker umurnya), kadang RPUL, RPAL, hingga kitab suci legendaris anak 90-an yaitu Buku Pintar. Anyway, hi there, Iwan Gayo!
Hobi ini pun berlanjut ke aksi ‘berburu’ diksi di koran langganan orang tua. Satu yang paling saya ingat adalah saat saya menemukan kata ‘oknum’. Entah kenapa saya menganggap kata itu punya vibe yang keren. Sempat bertanya juga ke ayah saya tentang arti kata ‘oknum’ ini, tapi sepertinya ayah saya terlalu general menerjemahkan sebagai ‘orang’. Berhubung saya anggap kata itu aman, maka saya selipkan ke dalam karangan bertema ajakan untuk melakukan penghijauan di sekolah waktu kelas 6 SD. Hasilnya? Diksi itu dianggap kurang tepat oleh guru saya. Menurut beliau, istilah ‘oknum’ dinilai terlalu berat dan berbau kriminal untuk tulisan persuasi anak SD yang isinya justru mengajak teman-teman menanam pohon dengan riang gembira. Tapi ya, itulah pelajaran pertama saya, diksi yang keren belum tentu tepat kalau diletakkan di konteks yang salah. Kalau dipikir-pikir, saya memang se-eksperimental itu sejak kecil. Well, the audacity of my younger self!
Menurut saya, menulis itu semacam otot yang wajib dilatih. Ibarat pelari maraton, jika jarang diajak berlari, otot itu akan kaku dan kehilangan kelincahannya. Pada akhirnya, di tengah hiruk-pikuk jagat maya yang bisingnya minta ampun ini, aktivitas menulis menjadi salah satu coping mechanism agar saya tetap utuh di tengah riuh. kalau boleh saya ibaratnya, menulis itu seprti melempar pesan dalam botol ke tengah samudera, kita tidak pernah tahu siapa yang akan menemukannya. Namun, ada kepuasan tersendiri membayangkan jika suatu saat ada yang mampir atau menemukan sesuatu di blog ini untuk ‘dibawa pulang’, entah itu sekadar bahan bacaan receh, renungan, atau bahkan ide untuk tulisan baru.
Ngeblog mungkin terdengar sangat jadul sekarang. But hey, piringan hitam juga jadul, kan? Tapi kita semua tahu, suaranya punya karakter yang lebih ‘bernyawa’, yang tidak bisa dikalahkan oleh musik streaming mana pun.
devieriana
Ilustrasi: Dihasilkan oleh AI Gemini

1 Comment
Waini malah ngebahas marathon segala (los pokus) haha
Gaya menulismu makin detil, rapi & dalem kyknya skarang
Soal ngerumpi, aku malah ga ngeh ada wawncara itu, harusnya dirimu dulu jg jd moderator di web riuh itu dulu ya haha
Dan btw, aku sedih arsip tulisanku di ngerumpi yg aku jadiin blog malah dideaktifin sama wordpress hedeh
(Ujung-ujungnya malah curhad..) 😅