Selamat Jalan, Pa…

“His heritage to his children wasnt words or possessions, but an unspoken treasure, the treasure of his example as a man and a father.

— Will Rogers Jr. —

Pagi itu, jalanan Jakarta tak seperti biasanya, lengang. Wajar, karena hari itu bertepatan dengan libur nasional, 1 Juni 2018. Di saat yang sama saya juga tengah menjalankan tugas di kantor sebagai pembawa acara di upacara peringatan Hari Lahir Pancasila. Walaupun jalanan lengang, namun tak demikian halnya dengan pikiran dan benak saya. Ada kecamuk rasa galau di sela menjalankan tugas, terutama setelah mendengar Papa kembali masuk rumah sakit untuk yang kedua kalinya pasca pulang umrah.

Selepas umrah di tanggal 5 Mei 2018, kondisi Papa pelan-pelan mulai menurun. Diawali dengan keluhan di lambung yang menurut diagnosa dokter mengalami peradangan, berlanjut ke keluhan-keluhan kesehatan lainnya. Namun yang membuat hati saya tidak tenang adalah, kali ini Papa sempat tak sadarkan diri sehingga harus dirawat di ruang ICU.

Selepas upacara, saya pun segera memesan tiket sembari mengemasi beberapa barang bawaan dan pakaian seperlunya untuk dibawa pulang ke Sidoarjo, dengan harapan semoga Papa segera pulih.

Sesampainya di rumah sakit, nyatanya bukan hal yang mudah saat menyaksikan tubuh yang dulu gagah perkasa, kini terbaring lemah digerogoti penyakit hingga tak berdaya, pasrah dalam bantuan alat-alat medis. Dan ketika perawat mengizinkan saya masuk ke ruang High Care Unit tempat Papa dirawat, saat itu pulalah air mata tak mampu saya bendung. Laksana mendapat tamparan keras yang bertubi-tubi, tangis saya pun pecah.
“Maafkan Devi yang tidak mampu menjaga Papa dengan baik, ya…”

Tiba-tiba kenangan bersama Papa satu persatu berlompatan dalam ingatan saya. Kenangan tentang bagaimana Papa mengenalkan bahasa Inggris kepada saya, mengiringi saya menyanyi dengan menggunakan gitar kesayangannya, membelikan buku-buku dongeng dan kaset Sanggar Cerita. Tentang bagaimana Papa merespon pertanyaan konyol saya di tengah malam buta tentang kemungkinan saya jadi seorang model kelak ketika saya dewasa nanti. Tentang bagaimana ekspresi kekhawatiran Papa ketika melihat saya menangis dengan jari telunjuk yang berdarah-darah, gara-gara saya jepret sendiri dengan menggunakan stapler. Saking penasarannya saya tentang fungsi alat ini.

Dan yang paling mengharukan adalah bagaimana perjuangan Papa menyediakan air bersih untuk kami sekeluarga lantaran hampir di setiap malam air di rumah kami selalu mati. Terbayang bagaimana Papa harus berjuang mengalahkan dinginnya malam, menempuh jarak 1 km bolak-balik, mengisi jeriken demi jeriken hingga penuh, menaikkannya ke atas motor, menuangnya ke dalam bak kamar mandi kami hingga penuh supaya bisa kami pakai untuk kebutuhan sehari-hari esok pagi. Itu semua dilakukan setiap hari tanpa mengeluh. Teringat pula saat Papa mengantar jemput saya ketika masih sekolah, bahkan ketika saya pulang kerja. Iya, waktu saya masih kerja di Malang. Dan bahkan pernah, ketika motor kami hilang, Papa pun tetap menjemput saya dengan naik angkot. Masyaallah, sesayang, sepeduli, dan semelindungi itu Papa sama saya

Dan, malam itu pahlawan keluarga kami meringkuk dalam balutan selimut rumah sakit warna cokelat. Sosok yang dulunya gagah tegap itu kini nyaris tinggal tulang berbungkus kulit. Dengan penuh perjuangan menekan emosi, saya bisikkan lembut ke telinga Papa,

“Pa, ini Devi datang sama Alea dan Echa. Pa, besok papa harus sehat, ya. Kan besok aku ulang tahun. Aku nggak minta kado apa-apa selain besok Papa bangun dalam keadaan sehat. Ya, Pa, ya…Nanti kalau Papa udah sehat, kita jalan-jalan lagi, yuk! Sekarang Papa bobo aja dulu, besok pagi pas aku ke sini Papa bangun, ya…”

Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir saya malam itu sesungguhnya untuk memberi sugesti pada diri saya sendiri. Sugesti bahwa Allah masih memperkenankan saya punya Papa esok hari. Sugesti bahwa besok pagi, saya bisa diberikan kesempatan untuk berulang tahun bersama Papa. Saya percaya walaupun dalam keadaan tidak sadar, Papa mendengar apa yang saya bisikkan tadi. Malam itu saya pasrahkan segenap doa dan harapan saya kepada Tuhan. Karena di saat seperti ini hanya keajaiban doa dan perkenan Tuhan saja yang mampu membangunkan Papa keesokan hari.

Keajaiban itu nyata adanya. Di pagi buta, adik saya Echa yang semalaman menjaga papa di rumah sakit mengabari via pesan singkat Whatsapp kalau Papa sadarkan diri, sempat membuka mata, dan bahkan sempat menitikkan air mata.

Masyaallah… Tuhan mendengar ‘obrolan’ saya dengan Papa semalam. Tuhan memperkenankan Papa bangun di hari istimewa saya, 2 Juni 2018. Dengan penuh semangat saya pun bergegas menuju rumah sakit yang kebetulan jaraknya tak jauh dari rumah. Cukup berjalan kaki selama 10 menit saja saya sudah tiba di rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, emosi saya teraduk-aduk. Ada banyak rasa yang berkecamuk. Semacam paduan rasa bahagia, haru, namun sekaligus sedih luar biasa. Entah kenapa, jauh di sudut hati saya merasa inilah ulang tahun terakhir saya bersama Papa. Semacam firasat yang ingin saya enyahkan jauh-jauh.

Papa melihat kedatangan saya dari balik gordyn pemisah pasien. Beliau tersenyum samar di balik alat bantu pernapasan. Terlihat ada setitik air yang menggulir di sudut mata, yang segera dihapus oleh Echa, adik saya.

“Assalamualaikum, Papa…”

“Waalaikumsalam… Vi, selamat ulang tahun, ya. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan
dilindungi Allah SWT. Aamiin…”

Kalimat-kalimat itu terucap dengan susah payah, meluncur di antara lidah yang sudah kelu, suara Papa nyaris tak terdengar. Saya mengamininya dalam keharuan luar biasa dan dalam tangis yang setengah mati saya tahan agar tidak tumpah ruah. Saya peluk lembut tubuh ringkih berbalut selimut cokelat itu, sembari menyelipkan ucapan terima kasih karena Papa sudah menyempatkan diri untuk sadar, siuman, bahkan mengucapkan selamat ulang tahun. Kado yang luar biasa indah dari Papa sekaligus Tuhan.

Hari itu kami bertiga berada di sisi Papa lengkap. Di moment itu kami saling mengungkapkan apapun yang selama ini tidak pernah (sanggup) kami ungkapkan di depan Papa. Rasa sayang kami, rasa cinta kami, rasa terima kasih dan penghargaan kami kepada Papa atas semua yang telah beliau berikan kepada keluarga. Walaupun lebaran masih kurang beberapa hari, tapi kami sudah saling meminta maaf dan memaafkan lebih dulu. Sembari menata dan mempersiapkan hati jika hari itu ternyata menjadi hari terakhir kebersamaan kami bersama Papa.

Ibarat nyala lilin yang sesaat sebelum padam, nyalanya akan membesar sesaat. Seperti itulah yang terjadi pada Papa. Fenomena lilinnya Papa itu ternyata di hari ulang tahun saya. Hasil ngobrol bareng Mastein , fenomena lilin itu semacam sebuah kondisi pasien yang sedang sakit parah, terlihat seolah-olah membaik, bisa diajak ngobrol, dll, sebelum akhirnya kondisinya kembali menurun, dan lalu berpulang.

Setelah dirawat kurang lebih 6 hari lamanya, Papa mengembuskan napasnya yang terakhir tepat setelah saya selesai membacakan surat As Sajdah di samping beliau, diiringi bisikan kalimat syahadat yang tak putus-putus di telinga beliau oleh kedua adik saya secara bergantian, di hari Rabu, 6 Juni 2018, pukul 16.24 di Rumah Sakit Umum Daerah
Sidoarjo, dalam usia 72 tahun.

Walaupun kami sudah menyiapkan mental sedemikian rupa, tetap saja bukan hal yang mudah untuk menerima kenyataan bahwa kami sekarang sudah menjadi anak yatim. Bahkan untuk menceritakannya kembali di blog ini pun saya butuh waktu yang lama sekali.

Tapi di balik ini semua kami bersyukur bahwa ada banyak kebaikan yang menyertai kepergian Papa. Papa pergi sepulang umrah, tidak terlalu lama sakit, dan alhamdulillah diberikan sakratul maut yang mudah. Bahkan kami yang mendampingi Papa pun nyaris tak sadar kapan Papa mengembuskan napasnya yang terakhir. Dan yang membuat terharu adalah sampai pukul 2 dini hari pun masih banyak yang takziah mendoakan, baik dari
tetangga, kerabat, teman SMA Papa, dan teman-teman dari Persaudaraan Setia Hati Terate. Masyaallah…

Konon, rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Tapi kami yakin dan percaya, bagaimana pun pedih dan sakitnya sebuah rasa kehilangan, Tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan.Tuhan selalu menyediakan cara untuk memulihkannya kembali.

Terima kasih untuk segala hal baik yang telah Papa lakukan semasa hidup untuk kami. Walaupun raga Papa tak lagi ada bersama kami, doa kami tak akan pernah putus buat Papa. Istirahatlah dengan tenang di sana ya, Pa. Jangan pernah khawatirkan kami, karena percayalah, para malaikat kecilmu ini telah menjadi anak-anak tangguh lebih dari yang Papa bayangkan.

Selamat beristirahat. Semoga kelak kita bertemu di surga-Nya ya, Pa…

 

 

[devieriana]

 

PS: ditulis tepat di hari ke-40 kepergian Papa

Continue Reading

Di Balik Cerita Ulang Tahun

Happy Birthday

Tahun ini adalah ulang tahun yang istimewa buat saya. Karena di tahun 2017 ini ulang tahun saya jatuh di hari dan weton yang sama dengan ketika saya lahir dulu. Sama-sama jatuh di hari Jumat dan, weton yang sama yaitu Pon! Halah, penting banget, yaa… Ya hari kaya begini kan belum tentu bisa ditemukan di setiap tahun, jadi wajarlah kalau saya menganggap ulang tahun di 2017 ini istimewa. Lebih istimewa lagi ketika jatuhnya di bulan Ramadan. Jadi saya nggak perlu traktiran teman satu biro… *eh*

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya sudah molor duluan sebelum pukul 00.00, waktu di mana orang-orang sering mendapatkan kejutan atau ucapan selamat ulang tahun pertama kalinya. Tapi saya selama ini belum pernah ada kejutan apa-apa tuh. Tapi biasanya sih yang mengucapkan selamat ulang tahun duluan Pak Suami sih, tentu saja sayanya juga sambil merem karena tidak kuat menahan kantuk.

Paginya barulah mulai ramai smartphone saya berbagai ucapan dari keluarga, whatsapp-whatsapp group dan pribadi, sama riuhnya dengan ucapan selamat di sosial media. Ah, kalian… terima kasih ya. Semoga doa yang sama juga tercurah pada kalian semua ya. Aamiin…

Yang lucu dan mengharukan itu pas di kantor. Jadi ceritanya sudah jam pulang kantor. Di ruangan hanya ada beberapa orang teman saja yang masih tinggal karena lembur. Saya sendiri sudah bersiap akan pulang sebenarnya. Sampai akhirnya ada 2 orang teman yang mengajak pulang bareng. Anyway, sampai situ saya masih belum nyadar lho kalau mereka berdua ini mau kasih saya surprise ulang tahun. Yang saya lihat mereka ini kok masih ribet aja nggak pulang-pulang, sementara saya sudah siap dari tadi.

birthday surprise

Ketika saya sedang asyik mainan HP, tiba-tiba salah satu dari mereka datang ke kubikel saya dengan alasan mencari berkas yang ditinggalkannya tadi. Padahal seingat saya dia nggak meninggalkan berkas apa-apa. Sampai akhirnya saya baru sadar kalau mau dikasih surprise ketika tiba-tiba dia menutup mata saya dari belakang, dan datanglah beberapa teman yang masih di ruangan, berkumpul di kubikel saya sambil membawakan mini tart dengan beberapa lilin ulang tahun. OMG! Kalian ini ya… 😀

Setelah mengucap doa dalam hati, saya pun meniup lilin ulang tahun dengan perasaan terharu. Kuenya, tentu saja belum bisa dimakan saat itu juga, kan masih pada puasa, hihihi…

Tak putus sampai situ saja, ternyata keesokan harinya saya diberi surprise oleh Pak Suami dan adik tercinta berupa… dijajanin di mall, boleh milih kado apa aja yang saya suka. Yes! Kesempatan! Saatnya menguras dompet dua orang ini! Hahaha… Eh, tapi nggaklah, saya nggak setega itu. Saya cuma pilih apa yang kebetulan saya butuhkan saja kok. High heels impian saya dan dompet. Sudah itu saja… *nangis lihat bon*

Hari Seninnya, saya pikir semua kejutan dan kado-kadoan sudah selesai dong, ternyata alhamdulillah masih ada yang kasih kado lagi. Kali ini berupa mini ice cream yang bentuknya imut lucu, yang dirajut sendiri oleh temen kantor, dan yang satu lagi yaitu In Ear Monitor, semacam alat untuk memonitor suara yang didesain agar pas terpasang di telinga penyanyi itu lho. Pas terima kado yang ini saya langsung membatin, wah, berasa sudah jadi penyanyi profesional aja ya, pakai IEM, hihihik. Ah, suka semualah pokoknya. Thank you very much, dear you!

Tapi, ngomong-ngomong yah, dari sekian banyak kado ulang tahun yang pernah saya terima, ada satu kado yang belum pernah saya terima sama sekali. Eh, pernah ding, tapi sudah dulu banget dan bukan dalam rangka ulang tahun, di zaman masih belum menikah. Apa itu? Bunga. Lah?! Iya, dulu sudah pernah sih kode-kodean sama suami soal bunga-bungaan ini, sampai dengan kemarin jawaban dia masih keukeuh

“Haiyah, ngapain sih minta dikasih bunga segala, wong ya nggak bisa dimakan, nggak tahan lama. Kasih kado itu yang bermanfaat, tahan lama, bisa dipakai, gitu…”

Jadi ya begitulah, pemirsa. Mungkin beginilah nasib bersuamikan orang teknik yang terbiasa berpikir pragmatis, dan kebetulan bukan tipe romantis. Halah, malah curhat, hahaha. Tapi ada enaknya juga sih nggak dikado bunga, kalau pemikirannya begitu, saya malah bisa minta kado yang lebih mahal dari harga bunga. Ye kaaan…

 

 

[devieriana]

 

 

picture source: from here

Continue Reading

Happy Birthday, Alea!

Alea ketika baru lahir, dan Alea sekarang

 

Minggu pagi, tanggal 17 Juli 2016, sekitar pukul 5 pagi, Alea bangun lebih dulu daripada kami semua. Seolah dia tahu kalau hari ini adalah hari istimewanya, tiba-tiba dia bertepuk tangan sambil masih tiduran di antara kami, dan bersenandung lirih lagu Happy Birthday dengan logat dan suara anak-anaknya yang menggemaskan, “epi… tu yuuu… epi…. tu yuuu… Yeeeey!”. Sontak mata saya terbuka; sambil menahan senyum saya colek papanya Alea yang masih pulas di samping saya untuk ikut diam-diam mendengarkan nyanyian bayinya yang hari ini bukan lagi bayi. Ya, hari ini Alea tepat berusia 2 tahun!

Hari ini adalah ulang tahun Alea yang kedua. Jeda 12 bulan setelah ulang tahunnya yang pertama Alea mengalami banyak sekali perubahan dan pertumbuhan yang signifikan. You are no longer a baby, but a little girl. I didn’t think I could love you more, but I do.

Penguasaan bahasa dan kata-katanya berkembang pesat. Dia sudah bisa menirukan kata apapun yang kami ucapkan, menirukan ekspresi wajah, hampir hafal setiap scene film animasi yang sengaja kami download-kan buat dia tonton di rumah, bahkan baru opening scene-nya saja dia sudah tahu itu film apa, sudah bisa minta minum kalau haus, minta maem kalau lapar, sudah bisa bilang pup, bahkan mengajukan protes ketika dia tidak berkenan terhadap sesuatu, seperti misalnya kemarin malam ketika kami memintanya gosok gigi sebelum tidur:

Eyang: “ayo Alea, gosok gigi dulu sini sama Nan…”
Alea: “Nan, nggak mau, Nan! Mamaaa!”
Eyang: “Oh, maunya sama Mama?”
Alea: “Mama, iya…”

and banyak lagi lainnya…

Kadang saya, papanya, atau eyangnya suka ‘frustrasi’ sendiri ketika tidak mengerti apa yang dia inginkan. Seperti misalnya, dia tiba-tiba bilang, “pipi panyas”. Biasanya, kalau memang iya benar apa yang kami katakan itu sesuai dengan maksud dia, Alea akan merespon, menganggukkan kepala atau mengiyakan apa yang kami katakan. Tapi kalau tidak, biasanya dia akan diam, menunggu sampai respon kami sesuai dengan maksudnya, hahaha… Sepertinya harus kursus bahasa asing nih, spesialisasi bahasa bayi.

Kadang dia juga suka marah kalau apa yang dia inginkan tidak selamanya kami turuti. Kadang sedih juga kalau lihat dia marah, tapi seringnya malah bikin geli. You are cute even when upset, Alea! Hahaha. Tapi sering juga ketika dia melakukan sesuatu dan itu bikin saya kesal ending-nya malah bukan kesal, tapi gemas. Seperti misalnya ketika dia minta snack Pringles, saya bilang:

Me: “Alea, nanti kalau maem, jangan di kamar ya, jangan di kasur, nanti banyak semut. Ya, Nak ya…”
Alea: *mengangguk tanda paham*

Ya sudah, saya nyuci piring di dapur, tapi di sela nyuci piring itu mata saya mengarah ke kamar. Eh, lha kok ndilalah Alea sedang menuangkan remah-remah Pringles ke lantai kamar *tepok jidat*

Me: “Alea! Huhuhu, kenapa kok ditumpahin ke lantai? Kan nanti banyak semut… Emang Alea mau bobo sama semut?” *sambil nyapu lantai*
Alea: “Mau! Hai cemuuuk, dadaaah….” *sambil kakinya diangkat ke kasur karena lantainya mau saya sapu*
Me: *speechless*

Lha? Kok jawabannya malah mau, pakai dadah-dadah segala ke semutnya… Moment seperti itulah kadang yang bikin kita awalnya kesel jadi gemes seketika.

Dan moment yang paling mengharukan adalah ketika dia tiba-tiba melakukan gaya shalat di keset depan pintu, sambil mengangkat kedua tangannya dan lalu sedekap sambil bilang, “Awoooo, hwa bas!”, maksudnya Allahu akbar… Saya bengong melihat dia rukuk dan sujud, lalu berdiri lagi. Kurang lebih mirip dengan gerakan shalat. Dia memang sering ikut saya shalat dan ketika sujud, dia pun ikut sujud. Tapi baru kali ini dia melakukan gerakan menyerupai orang yang sedang shalat. Ah, Alea…

Secara fisik pertumbuhan dia cukup bagus, bahkan banyak yang bilang kalau badannya panjang, lebih tinggi dari anak seusianya, tapi saya tetap saja kurang ‘ngeh‘ dengan perbedaan tingginya. Memangnya kalau anak usia 2 tahun harus seberapa sih? Ya alhamdulillah kalau memang tinggi, kan nanti bisa jadi Paskibraka ya, Nak… hihihik. Aamiin…

Selama beberapa bulan dia di daycare, sedikit banyak mempengaruhi perkembangan emosi dan psikologisnya. Saya akui penguasaan emosinya luar biasa. Pernah suatu ketika dia saya drop di daycare dan saya tidak bisa lama-lama berada di sana karena saya harus mengemsi di sebuah acara. Saya tahu dia kurang suka saya tinggal begitu saja, tanpa saya temani dulu, saya tahu dia pengen nangis, tapi dia hanya mewek sedikit ketika mencium tangan saya dan saya cium kedua pipinya, melihat saya pergi sambil dadah-dadah dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dan ketika dipeluk salah satu bunda pengasuhnya itu saya lihat dia sedang menitikkan air mata. Dia menangis, tapi tidak tantrum, tidak menangis keras seperti anak lainnya. Dia mampu mengendalikan perasaannya. Ah, Alea… kamu bikin Mama baper ketika menuliskan ini, Nak…

Saya dan papanya Alea sedang belajar-belajarnya jadi orang tua. Sudah banyak nasihat yang kami terima baik itu dari orang tua maupun dari diskusi, buku/web parenting. Satu hal yang paling stuck out most adalah, ikutilah nalurimu. Dan itulah yang sedang saya coba. Menjadi orang tua memang tidaklah mudah, and yet you make it all worthwhile; menjadikan segalanya berharga. Bahkan di saat-saat yang sulit sekalipun.

I can’t tell you how much you mean to me, Alea; and how glad I am to have you in my life…

Happy 2nd birthday, my sweetie pie…
I love you now and for always…

[devieriana]

Continue Reading

Happy Thirty Something!

my thirty something

Seharusnya postingan ini saya publish tepat di hari ulang tahun saya, 2 Juni 2015 yang lalu. Tapi apa daya, berhubung bertepatan dengan hari libur, dan kalau sudah libur Alea maunya diemong sama saya, akhirnya baru sempat up date blog lagi hari ini. Gapapalah telat dikit, ketimbang telat banget, hahahaha…

Alhamdulillah, di 30 sekian tahun usia saya tahun ini, Allah masih memberikan kebahagiaan, kesempatan hidup, usia, pengalaman-pengalaman berharga, keluarga dan teman-teman yang sangat support. Ulang tahun di tahun ini alhamdulillah berkesan. Kalau tahun lalu saya ulang tahun dalam keadaan masih mengandung, tahun ini sudah ada tambahan anggota keluarga yang baru yaitu Alea. Bagi saya, Alea adalah salah satu bagian kado terindah yang Allah kasih pada saya.

Seperti tahun-tahun lalu, sejak shubuh hp saya sudah sibuk menerima ucapan selamat ulang tahun. Dan seperti biasa, doa dan ucapan selamat dari kedua orang tua adalah hal yang paling mengharukan. Doa dan ucapan dari para sahabat di Bincang Edukasi, teman-teman kantor, dan teman-teman socmed juga tak kalah menyempurnakan pertambahan angka usia saya tahun ini.

Ada hal unik yang sedikit berbeda dengan ulang tahun-ulang tahun sebelumnya. Tahun ini saya mendapatkan hadiah ulang tahun berupa batu akik dari teman-teman kantor saya, hahaha. Katanya, biar saya nggak ngecengin melulu tiap kali ada yang ngobrolin batu cincin. Jadi, biar saya nggak bawel, dan siap dibaiat sebagai anggota batu lovers, diberilah saya liontin batu Giok Aceh, dan batu Bacan Merah yang imut (katanya sih dipakai buat cincin aja). “Dipake, ya!”, gitu pesan mereka. Ya nantilah, kalau saya sudah ada waktu buat ngiket batunya.

Hadiah ulang tahun dari Mama adalah brownies spesial buatan Mama yang rasanya endeus surendeus (lupa saya abadikan karena keburu amblas sesampainya di kantor). Kalau kado dari adik saya beda lagi, dia memberi saya kado baju batik. Ah, dia paling tahu memang kalau saya sedang mengumpulkan koleksi baju batik; mengingat setiap kali pelantikan sekarang bukan lagi pakai baju PSL (Pakaian Sipil Lengkap, berupa setelan jas) tapi pakai batik. Alhasil saya sering pinjam koleksi dia ketimbang beli, hihihihik. Dasar nggak modal! Kalau dari Si Bungsu dan keluarganya, berupa foto masakan plus tulisan yang dibuat dari saos sambal, hahahaha…

Apapun itu, terima kasih banyak untuk segala doa dan ucapan yang telah kalian berikan. Semoga segala kebaikan tercurah pula untuk kalian semua. Semoga segala doa yang dikirimkan untuk ulang tahun saya kemarin semuanya diijabah oleh Allah SWT. Aamiin ya rabbal alamiin…

Love you loads!

[devieriana]

Continue Reading

Surprise!

Siapa sih yang nggak suka kalau dikasih surprise apalagi di saat spesial dan dilakukan oleh orang-orang yang spesial pula. Ah, saya juga mau, apalagi kalau pas ulang tahun.

Tapi apa jadinya ketika kita berulang tahun justru dapat kejutan yang bikin  jantungan, paranoid, atau hal-hal yang sama sekali tidak kita sukai? Menikmati surprise-nya? I don’t think so deh kayanya. Nah, pasti semua sudah tahu kemana arah pembicaraan saya kan? ;)) Iya, ke arah Tragedi Suster Ngesot yang sedang marak dibicarakan di berbagai media itu 😉

Mungkin buat sebagian orang, hari-hari spesial orang-orang terdekat itu harus dirayakan dengan cara yang “spesial” pula. Ok, saya setuju. Toh, nggak setiap hari ini, kan? Tapi apa iya harus dilakukan dengan cara yang menakutkan dan membahayakan orang lain atau diri sendiri? Kalau menurut saya pribadi sih kok nggak bijak, ya? 😕 Sama halnya dengan memaksa orang lain untuk melakukan kegiatan yang tidak mereka sukai/menakutkan (seperti yang sering dilakukan oleh salah satu stasiun televisi kalau sedang mem-bully host di salah satu acara). Sebenernya sih suka nggak tega aja ngeliatnya. Padahal kalau kondisinya dibalik, belum tentu yang ikut mengerjai itu juga mau menjalani hal yang sama, lho 😐

Bersyukur selama ini —ketika ultah— kejutan yang diberikan oleh teman-teman dan keluarga masih berupa kejutan yang wajar dan manis. Kalau soal dijutekin, dicuekin, atau dibikin nangis saat ultah, itu sih sudah biasa, tanpa itu pun saya sudah pasti mewek kok tiap ulang tahun :-s

Dua tahun ini saya mengalami ulang tahun yang sangat berkesan. Jauh dari kesan seram, malah lucu dan terharu. Ulang tahun yang paling berkesan ya waktu bersamaan dengan prajabatan. Begitu masuk kelas, widyaiswara langsung mengajak kami menyanyikan lagu Happy Birthday, dan itu bikin saya sukses berkaca-kaca. Jadi teringat juga bagaimana saya mengendus kesibukan teman-teman yang diam-diam mempersiapkan ulang tahun saya, mengamati bagaimana cara mereka menghilang satu persatu dari ruang makan dan kamar, sengaja meninggalkan saya sendiri, dan ketika tiba-tiba mereka sudah berkumpul di depan kamar sambil membawa beberapa kardus isi pizza, memahkotai saya dengan balon. Unyu! ;;) Itu asli lucu dan spontan bikin saya nangis dong, Sodara! Belum lagi ditambah ketika saya harus berantem dan dibikin nangis sama hubby hanya perkara kemana harus pesan kue tart! Asli, nggak penting! #-o . Oh ya, saya wajib waspada kalau lagi ulang tahun, karena pasti akan ada settingan-settingan aneh gitulah.

Tapi justru kejadian-kejadian lucu seperti itu yang akan terus teringat. Surprise yang menyeramkan juga akan tetap teringat sih, tapi bikin paranoid. Ya gimana nggak bakal sontak jejeritan kalau pas mau naik/turun lift, pintu terbuka dan tiba-tiba ada penampakan makhluk menyeramkan di depan kita? Iya kalau kita dalam kondisi sehat jasmani dan rohani, lha kalau nggak? Apa nggak tambah panjang urusannya? :-q

Nah, jadi pengen cerita deh. Waktu saya ulang tahun dan bersamaan dengan prajabatan, itu kebetulan di tempat yang ambience-nya memang horor, di Pusdiklat BPS, daerah Lenteng Agung. Namanya pusdiklat dengan banyak ruang kelas dan kamar begitu pastinya kan nggak setiap hari ada orang diklat, istilahnya nggak “bau manusia”. Kalau malam auranya spooky banget, banyak lampu yang sengaja dimatikan, dan hanya dinyalakan di tempat-tempat tertentu dimana kami sering lalu lalang, itu juga nggak semua lampu neon. Bahkan ada teman saya yang indigo sempat melihat penampakan dan tidak lama kemudian kerasukan. Kejadian itu sumpah, horor banget! Gimana nggak horor kalau jatuhnya si teman dan adegan melotot-melotot sambil nunjuk-nunjuk itu pas di depan pintu kamar saya, coba! ^X_X.  Kalau misal teman-teman saya tega sih bisa aja mereka memanfaatkan situasi kondisi pusdiklat yang sudah seram itu, tinggal menyamar menjadi sesuatu yang menyeramkan buat kejutan di ulang tahun saya. Tapi untung semua teman saya baik… ^:)^ *sujud syukur*

Mungkin tragedi suster ngesot di Bandung kemarin setidaknya bisa jadi pelajaran bagi semua pihak untuk nggak semena-mena memberikan kejutan pada teman, apalagi yang menyeramkan. Sebelum memberikan kejutan yang sedikit “heboh” dan “tidak wajar”, ada baiknya dipikir dulu masak-masak, jangan asal kasih surprise tanpa memikirkan aspek keamanan, supaya tidak ada lagi insiden tendang-tendang “hantu settingan” seperti kemarin.

Nah, ngomong-ngomong tentang surprise ulang tahun, kalian pernah dikasih surprise apa waktu ulang tahun? <:-P

[devieriana]

gambar pinjam dari google

Continue Reading