Dulu, saya pernah mengira bahwa kehilangan sebuah bagian dari tubuh berarti kehilangan esensi diri sebagai perempuan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya justru belajar bahwa keutuhan tidak selalu tentang apa yang ada di dalam fisik kita, melainkan tentang bagaimana kita menerima setiap babak baru kehidupan dengan syukur yang lebih dalam.
Membaca kembali catatan saya setahun lalu, ‘An Unexpected Stay, A Life Reset‘, rasanya seperti menengok kembali momen ketika hidup berubah dalam sekejap. Tak pernah terbayang sebelumnya, saya harus berdamai dengan kenyataan yang tidak pernah saya duga, harus menjalani operasi pengangkatan rahim.
Kehilangan salah satu organ itu hanyalah awal dari serangkaian perubahan yang harus saya terima. Masa-masa awal pascaoperasi memang tidak mudah. Saya menjadi lebih cepat lelah. Metabolisme tubuh yang melambat juga menyebabkan berat badan saya terasa lebih cepat naik dibandingkan sebelumnya. Belum lagi saya sering diserang hot flash secara tiba-tiba, sampai-sampai kipas angin portabel jadi barang yang wajib ada di tas saya.
Perjalanan setahun kemarin menyadarkan saya bahwa kesehatan organ reproduksi sama pentingnya dengan menjaga kesehatan anggota tubuh lainnya. Posisinya yang tersembunyi sering membuat kita luput memberikan perhatian, padahal di sanalah letak salah satu sumber kekuatan utama bagi seorang perempuan. Semakin dini kita peduli pada sinyal tubuh, semakin besar peluang kita untuk memberikan penanganan terbaik bagi diri sendiri. Namun, jika pada akhirnya hasil medis mengharuskan kita mengambil keputusan besar, janganlah berkecil hati. Jika satu-satunya jalan untuk menjadikan kita lebih sehat dan berumur panjang adalah dengan merelakan sebuah organ, maka itulah bentuk kasih sayang tertinggi kita terhadap diri sendiri dan keluarga di rumah.
Setahun telah berlalu, dan kini saya melihat kembali perjalanan ini dengan cara pandang yang baru. Mungkin sekarang ‘rumah’ di dalam tubuh sudah tiada, namun ada ruang untuk rasa syukur yang lebih besar. Seperti Ramadan tahun ini yang bisa saya lalui sebulan penuh tanpa jeda, saya maknai sebagai kesempatan dari Allah untuk hidup lebih sehat dan berkualitas bagi diri sendiri dan orang-orang tersayang. Hal ini menjadi pengingat sekaligus penguat bahwa di balik setiap kehilangan, selalu ada hal yang layak untuk disyukuri dan peluang untuk memulai babak kehidupan yang lebih baik.
Untukmu, para perempuan luar biasa di luar sana yang juga sedang atau pernah mengalami hal yang sama:
Kehilangan rahim bukan berarti kehilangan esensi kita sebagai perempuan. Kita tetaplah perempuan dan ibu yang utuh bagi anak-anak kita dan keluarga kita, tetap menjadi pribadi yang berdaya di tempat kerja, dan tetaplah jiwa yang sempurna di mata Sang Pencipta, dengan atau tanpa rahim di dalam tubuh kita.
Kita tidak kurang. Kita hanya sedang bertumbuh dalam bentuk yang berbeda.
Sebagai penutup, saya ingin berhenti sejenak, dan memberikan pelukan paling hangat untuk diri saya sendiri.
“Terima kasih ya, badanku. Terima kasih sudah bersabar melalui masa-masa sulit itu. Terima kasih sudah berjuang dengan sangat hebat untuk pulih paripurna dalam waktu yang singkat. Kamu telah membuktikan bahwa kamu jauh lebih kuat dari apa yang pernah aku bayangkan.”
Saya bersyukur telah melampaui masa-masa kritis pada tahun lalu. Kini, dengan raga yang telah kembali pulih dan sehat, saya siap melangkah untuk menyambut hidup yang lebih berkualitas dengan cerita-cerita baru yang jauh lebih indah.
Everything is going to be okay, and indeed, it is already okay.
Devi Eriana
