Balada Batu Akik

-----

Sudah beberapa bulan ini hampir semua teman-teman saya sibuk diskusi tentang topik yang satu ini. Topik apa lagi kalau bukan tentang akik! Sebenarnya sih bukan topik yang baru ya. Tapi entah kenapa baru sekarang ini menjadi topik yang unik, spontan, dan masive. Hampir semua teman saya yang jari jemarinya dulu ‘bersih’ dari perhiasan (kecuali cincin kawin), sekarang mendadak pada tersemat cincin akik. Padahal dulu, sebelum akik menjadi trend seperti sekarang ini, mereka sering komentar kalau akik itu identik dengan pelawak Tessy, atau dukun; kalau kebetulan ada yang batu akik yang dipakai segede gaban.

Tapi kini batu akik menjadi fenomena unik tersendiri. Penggemarnya pun random, dan datang dari berbagai kalangan. Pokoknya kalau nggak pakai akik, nggak kekinian. Batu akik menjadi idola hampir di semua kalangan, tak memandang usia, jenis kelamin, kelas sosial, dan profesi. Pokoknya kalau sudah membahas akik, wuih… bisa kapan saja dan di mana saja. Durasi waktunya pun bisa tak terbatas.

Para akik lovers ini tak segan-segan mengeluarkan kocek hanya untuk mendapatkan batu akik yang mereka sukai. Ukurannya pun bermacam-macam, dari mulai yang kecil imut sampai yang seukuran… entahlah… (saking speechless-nya melihat ukuran mentah batu akik). Penjualnya pun bisa ditemui di berbagai tempat; mulai dari pinggir jalan, hingga ke Pasar Rawa Bening sebagai pusat penjualan batu akik. Teman saya yang memang kolektor batu akik sempat nanya:

“Eh, suamimu suka pake cincin akik, Dev?”

“Enggak, dia nggak suka. Lagian, nggak usahlah! Hahahaha…”

“Wah, bisa nih kalo diracunin biar suka . Kantor suamimu di mana? Mau kita culik ke Rawa Bening… Hahaha…”

Sampai segitunya ya, hahahahah. Tapi untunglah, suami saya bukan penggemar perhiasan. Lha wong cincin kawin saja masih utuh tersimpan di lemari kok, boro-boro pakai cincin akik.

Di ruangan, obrolan tentang batu akik sudah menjadi topik wajib sehari-hari. Bukan hanya di dalam diskusi langsung saja di ruangan, tapi juga merambah ke obrolan di whatsap group. Sudah, di situ saja? Ya belumlah. Kemarin saja, waktu mau upacara, sempat-sempatnya bapak-bapak itu ngobrol dulu tentang koleksi akik masing-masing sambil menyebutkan apa saja kelebihan akik yang dimilikinya. Sudah? Beluuuum! Kemarin, pas ngisi di acaranya ibu-ibu Dharma Wanita, ternyata mereka pun pakai! Pokoknya sesuatu bangetlah akik ini. Jadi ya boro-boro mau ada moratorium obrolan tentang akik. Nggak mungkinlah untuk saat ini.

Ada berbagai alasan kenapa para kolektor ini mengoleksi batu akik. Katanya, batu-batu dengan jenis tertentu ada yang memiliki unsur klenik, ada juga yang netral saja tapi mempercayai bahwa dalam batuan yang mereka koleksi itu memiliki energi sesuai dengan kandungan mineralnya. Jadi ada batuan yang diyakini memiliki khasiat tertentu bagi penggunanya. Ada juga yang mengoleksi karena warnanya ‘lucu’, jadi bisa disesuaikan dengan warna baju yang dipakai. So, ada banyak motivasi kenapa seseorang itu menggunakan batu akik. Kalau saya sih bagian yang mem-bully teman-teman saya yang pakai cincin batu.

Nah, tapi ada kejadian yang lucu. Ceritanya saya sedang membereskan perhiasan yang baru saja saya pakai pergi ke kondangan. Pas lagi buka salah satu kotak perhiasan, saya kaget sendiri. Ya kagetlah, lha wong ternyata saya sebenarnya juga punya kalung dengan liontin batu Kecubung warna abu/keunguan. Itu perhiasan lawas milik Mama yang sengaja diberikan kepada saya; dan koleksi itu jauh sebelum trend akik melanda dunia persilatan…

Pas saya pasang status di Path beberapa waktu yang lalu, komentar teman-teman yang saya bully,

“Whatever! Pokoknya besok kamu harus pake kalung Kecubung! Kalo enggak, awas aja!”

Duh! Kualat sama para akik lovers nih. Udah rajin-rajin nge-bully, eh ternyata diem-diem punya juga!
Hahahahaha….*sungkem*

[devieriana]

Continue Reading

Me Time

me-time

‘Me Time’ is appreciate yourself by doing what you love.

Benar begitu? Katanya, dengan tetap memiliki ‘me time’ akan memastikan setiap orang tetap ‘waras’, hehehe… Tiap orang pasti punya waktu dengan durasi tertentu untuk memanjakan dirinya sendiri, yang penting untuk meningkatkan kualitas hidup masing-masing.

Setelah beraktivitas setiap hari yang penuh dengan jadwal padat, belum lagi ditambah dengan kemacetan jalan raya yang sungguh ‘tralala-trilili’, menyebabkan berbagai kepenatan fisik dan psikis. Jadi wajar kalau ‘me time’ menjadi sebuah saat yang penting bagi seseorang untuk sejenak beristirahat, menikmati waktu untuk diri sendiri.

Bentuk ‘me time’ sendiri ada bermacam-macam, tidak selalu harus dengan bepergian ke luar kota. Kadang cukup dengan menghabiskan waktu sendirian di toko buku, atau luluran/spa di salon langganan, mendengarkan musik, nonton film, dll. Intinya, setelah melakukan ‘me time’ tubuh dan pikiran terasa rileks, mood kembali bagus, tidak lagi stress.

Teman saya punya ‘me time’ yang unik, yaitu mandi di kantor sebelum jam pulang kerja. Kenapa saya sebut unik? Karena ketika mandi di kantor, dia bisa lebih banyak punya waktu untuk merawat diri. Kalau sudah di rumah, jangankan punya waktu untuk merawat diri, mandi saja superkilat.

“Gue nggak bisa mandi di rumah kalau udah sore, Devi. Lo kan tahu sendiri rumah gue jauh. Pas udah sampe rumah ya udah, anak-anak gue langsung minta perhatian orangtuanya; pada ngajak main. Jangankan sempat lulur-luluran, mandi aja gue cepet-cepetan.”

Saya yang waktu itu masih belum punya anak hanya bisa melongo. Sedemikian ‘langkanyakah’ ‘me time’ ketika sudah berkeluarga dan punya anak?

Eh, sekarang… ketika saya sudah punya momongan, ternyata memang benar, waktu untuk ‘me time’ memang sedikit berkurang waktunya. Berkurang di sini bukan berarti jadi tidak punya sama sekali, ya. Masih punya, tapi durasinya yang berubah jadi tidak selama dan sesering dulu. Even Super Mom needs a break now and again. You won’t be able to take care of your family if you don’t take care of yourself. Betul? 😀

Saya seorang ibu bekerja. Saya hanya bertemu dengan Alea ketika jam pulang kantor sampai bangun tidur keesokan harinya. Sepulang kantor saya hanya punya waktu untuk mandi, shalat, dan makan malam (kadang malah kalau Alea sudah rewel duluan ya saya momong dulu baru mengerjakan hal lainnya, kalau tidak langsung ikut bablas ketiduran). Itu pun saya sudah harus membagi aktivitas dengan persiapan ngantor, dll. Alea sementara ini diemong oleh eyangnya. Jadi bisa dibayangkan betapa terbatasnya waktu saya bersama Alea. Jadi kalau ada waktu buat jalan-jalan, buat ngeloni, buat menyuapi, buat menyusui, buat bermain bersama anak, itulah surga saya. Apalagi proses tumbuh kembang anak itu kan cepat. Seadanya waktu yang saya punya itulah yang ingin saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Trus, ‘me time’ saya sendiri kapan? Di kantor saya masih bisa melakukan ‘me time’ kok. Misalnya menulis blog (yang walaupun lebih lama hibernasinya ketimbang up date-nya,hihihik), atau latihan band dengan teman-teman band saya seminggu sekali sepulang kantor sambil menunggu jemputan suami. Ngeband bareng teman-teman itu juga merupakan suntikan semangat yang luar biasa menyegarkan buat saya. Saya bisa pulang ke rumah dalam kondisi yang tetap semangat, bahkan sesaat ‘lupa’ kalau sedang berada dalam kemacetan luar biasa.

Saya percaya bahwa masing-masing orang punya ‘me time’ versi masing-masing. Kalau kalian, apa ‘me time’ kalian?

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading