Happines Unframed

“I thought you’re happier when I’m not around..”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Alea saat kami melihat-lihat arsip foto lama di Instagram saya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa menarik simpulan seberat itu hanya setelah melihat kotak-kotak gambar kecil di layar ponsel?

Kebetulan Alea belum memiliki akun media sosial. Komentar tadi bermula saat kami ngobrol berdua tentang aneka bentuk potongan rambut. Saya ingin menunjukkan rambut Pixie saya pada tahun 2013. Namun, siapa sangka, selagi saya menggulir layar, matanya yang jeli sibuk mengamati. Ia menemukan bahwa galeri Instagram saya di masa lalu begitu berwarna, jauh sebelum dia hadir dan memenuhi beranda.

Lewat nalarnya yang polos, ia sedang mempertanyakan apakah kehadirannya benar-benar membuat hidup saya lebih berwarna, atau justru sebaliknya? Sebab di mata Alea, foto-foto saya pada rentang 2010 hingga 2014 tampil dengan warna-warna cerah dan kontras yang tajam. Berbeda dengan masa setelah ia lahir, di mana pilihan warna saya berubah menjadi deep & muted colors. Bagi Alea, warna cerah adalah simbol mutlak dari kebahagiaan. Maka saat warna di beranda saya tampak lebih redup, ia menyangka kegembiraan saya pun ikut berkurang.

Mungkin Alea benar. Instagram saya tak lagi seberwarna dulu. Entah mungkin karena kini saya jauh lebih pemilih ketika akan mengunggah konten. Ada idealisme bahwa setiap konten yang saya unggah harus punya cerita yang layak untuk dibagikan. Lagipula, stok foto diri saya sudah tak sebanyak dulu. Sekarang saya lebih sering berada di balik kamera ketimbang di depan lensa, sengaja ingin memberikan ruang bagi cerita-cerita yang lebih baik dibagikan ketimbang disimpan sendiri, terlepas dari apakah ada manfaatnya bagi orang lain atau tidak.

Sambil mencoba meredam haru yang mendadak menyeruak, saya flashback ke era 2010-an, ketika Instagram masih menjadi media sosial yang bersaudara dekat dengan Posterous dan Tumblr. Masa ketika sebagian dari kita mungkin rela menjinjing DSLR ke mana-mana, sengaja berburu objek foto, mengedit dengan saturasi terbaik, dan memastikan setiap inci gambar terlihat sempurna saat diunggah di berbagai platform media sosial.

Dulu, meski hanya bermodal kamera ponsel, saya selalu punya waktu untuk mencari sudut pandang yang pas agar hal-hal sederhana yang saya tangkap bisa terlihat unik. Objeknya pun bisa apa saja, bahkan hal-hal paling acak sekalipun, misalnya setangkai bunga di pinggir jalan, jamur yang tumbuh di sela kursi kayu, arsitektur gedung, mandatory photo memotret bentang alam dari jendela kabin pesawat, hingga cahaya yang membiaskan dasar botol mineral.

Saat itu, saya merasa sebuah gambar baru benar-benar ‘hidup’ jika hadir dengan shadow yang pekat serta warna yang tajam. Keindahan tampilan foto harus kontras agar warnanya bisa langsung dikenali mata.

Namun, ada satu hal yang luput dari ingatan saya adalah Alea tidak pernah melihat proses di balik layar itu. Ia tidak tahu bahwa dulu saya harus ‘memoles’ hasil foto sedemikian rupa agar tampak estetik.

Sementara bagi Alea, setiap gambar yang ia lihat adalah kejujuran yang ia serap utuh. Ia tidak akan mencari saya di balik titik-titik stories Instagram. Ia akan mencari saya di beranda utama dan memastikan bahwa dunia ibunya ini benar-benar masih berwarna ataukah kebahagiaan itu justru memudar sejak ia ada?

Namun, pada kenyataannya, kehadiran Alea memang mengubah cara mata saya menerjemahkan warna. Karena dunia saya menjadi ‘penuh’ sejak kehadirannya. Saya tidak lagi merasa perlu membuktikan kebahagiaan itu lewat polesan warna yang menyala di layar ponsel.

Saya menatap matanya, mencoba mencari kata yang paling sederhana untuk bisa ia simpan dalam ingatannya.

“Alea, rasa sayang orang tua itu tidak bisa diukur dari seberapa berwarnanya postingan mereka di Instagram. Kebahagiaan juga tidak ditentukan oleh seberapa sering kita mengunggah foto keluarga untuk dilihat orang lain.”

Saya mengusap rambutnya, memastikan ia merasa tenang.

“Dulu, kenapa Mama sering posting hal-hal random berwarna terang, Ya, memang begitulah cara dunia bercerita saat itu. Dulu Mama punya banyak waktu untuk memotret objek-objek random dan menulis apa pun di blog, karena itu adalah cara untuk mengisi waktu, jauh sebelum ada Alea. Tapi begitu Alea lahir, kebahagiaan Mama jadi jauh lebih terlihat. Mungkin foto-foto di Instagram Mama tidak lagi seberwarna dulu, tapi itu bukan berarti Mama tidak bahagia. Justru, Mama ingin menampilkan apa adanya keseharian Mama sama Alea. Because you’re the colour itself, Alea.

Air matanya mulai menggenang. Saya melanjutkan pelan.

“Mama sebenarnya lebih suka menulis cerita tentang Alea di Instastory. Di sanalah, Mama mencatat cara berpikir Alea yang unik atau obrolan-obrolan kita yang random. Mama menyimpan semuanya di sana supaya orang-orang tahu betapa istimewanya Alea. Dan kalau kelak kamu cari nama kamu di internet, kamu akan menemukan nama itu tertulis pertama kali di blog Mama di bulan Juli 2014. Selang beberapa hari setelah kamu lahir. Karena sejak hari itu, kamu adalah inti dari semua cerita yang Mama tulis.”

Dalam sekejap, binar matanya redup. Air mata yang ia tahan pun luruh. Ia dekap tubuh saya erat-erat, menyandarkan isak tangisnya dalam pelukan saya. Ada rasa haru yang menjalar saat menyadari bahwa ternyata selama ini, dalam diamnya, ia begitu teliti mengamati setiap keping kebahagiaan saya.

Ketelitian itu sebenarnya selalu ada dalam rutinitas sepulang saya dari kantor. Dengan tulus ia pasti akan bertanya, “How was your day, Mama? Was everything good?” Ia pun punya cara yang sangat manis untuk mengungkapkan isi hati tanpa perlu menunggu alasan. Kapan pun dia mau, dia bisa saja berucap, “I love you…” yang kini saya sadari, itulah caranya menjaga agar ‘warna’ dunia saya baik-baik saja.

Sedikit saja perubahan pada raut wajah saya, ia akan cemas bertanya, “Mama, what’s wrong? Are you okay?” Padahal, mungkin memang begitulah ‘setelan wajah’ saya setelah seharian bergelut dengan lelah, sehingga tidak selalu bisa tampil cerah ceria setiap saat. Namun bagi Alea, sedikit saja mendung bergayut di wajah saya, itu sudah cukup menjadi penanda bahwa dunia saya sedang tidak baik-baik saja. Karena bagi Alea mata adalah indera utama yang ia gunakan untuk menyerap dunia. Di balik tatapan matanya ada pikiran yang sedang bekerja keras mengartikan cinta dengan cara yang sangat luar biasa.

Kesadaran itulah yang membuat saya terdiam dalam sebuah kontemplasi panjang semalam. Apakah selama ini saya terlalu sibuk berdiri di balik lensa, mengabadikan setiap jengkal tumbuh kembangnya hingga lupa untuk masuk ke dalam bingkai yang sama?

Memang ada kebahagiaan tersendiri setiap kali Google Photos memunculkan kembali foto-foto lama. Melihat fisiknya yang berubah, tawanya yang terekam kamera, dan binar matanya yang tak pernah gagal membuat hati saya terasa penuh. Namun, dokumentasi kebersamaan kami bertiga memang kerap kali tidak lengkap, kadang hanya berdua, atau lebih sering hanya dia seorang diri. Saya baru menyadari bahwa Alea tidak hanya butuh direkam. Ia butuh kami ada di dalam frame yang sama dengannya. Ia butuh bukti visual bahwa kami melangkah beriringan.

Jarangnya potret bertiga di beranda ini tak lepas dari kondisi kami yang menjalani pernikahan jarak jauh. Kondisi yang akhirnya menempatkan saya sebagai sosok satu-satunya yang hadir secara fisik dalam kesehariannya. Nun jauh di sana, papanya menjadi pilar yang memastikan kebutuhan kami terpenuhi, agar saya bisa sepenuhnya mendampingi tumbuh kembang Alea dengan optimal.

Di saat-saat inilah saya diajarkan bahwa kebahagiaan kadang tidak tumbuh dalam hiruk-pikuk. Sejujurnya belakangan ini, saya merasa jauh lebih nyaman menumpahkan isi kepala ke dalam bentuk tulisan ketimbang harus berpose di depan kamera. Mungkin kedewasaan perlahan menggeser keinginan untuk menjadi pusat perhatian. Ada potongan waktu yang terasa terlalu sakral jika harus diganggu oleh bunyi shutter kamera; ada tawa yang cukup disimpan rapat dalam ingatan, tanpa perlu divalidasi oleh jumlah likes di media sosial.

Namun, teguran Alea itu menyadarkan saya untuk mulai mencoba lagi. Saya ingin punya banyak kesempatan untuk mendokumentasikan kebersamaan kami lebih banyak dengan warna-warna cerah. Tentu saja kali ini bukan demi estetika, melainkan agar kelak ia punya jejak visual yang mengingatkannya akan betapa menggembirakannya masa kecil yang dia lalui bersama kami.

Ternyata, kepolosan cara berpikir seorang anak punya caranya sendiri untuk menyentuh hati. Dari Alea, saya belajar tentang arti kehadiran yang utuh, bahwa tugas orang tua bukan sebatas mencukupi raga anak-anaknya saja, melainkan juga merawat persepsi dan saling bertukar isi hati. Menjadi ibu ternyata adalah perjalanan pulang. Dari saya yang dulu sibuk ‘mencari cahaya’ dan spotlight, kini bertumbuh menjadi rumah bagi cahaya itu sendiri.

Kini saya tidak lagi membutuhkan saturasi warna yang tajam untuk merasa benar-benar hidup. Sebab spektrum warna yang paling jujur itu telah saya temukan pada binar mata Alea, pada renyah tawanya yang pecah saat kami berkelakar, pada emosi yang silih berganti mewarnai perjalanan tumbuh kembang kami bertiga, pada rentetan cerita absurd yang mewarnai hari, dan pada hangat yang menyusup di antara pelukan kami setiap waktunya.

Tugas saya sekarang adalah meyakinkan Alea bahwa dialah alasan dunia ini terasa jauh lebih berwarna, meski warna itu tak lagi mampu ditangkap oleh sensor kamera mana pun.

Untuk Alea:
Maafkan Mama ya, jika beranda digital Mama yang sempat kamu lihat tampak lebih redup. Itu karena Mama sedang terlalu sibuk memandangi cahayamu yang begitu benderang di dunia nyata.

-Devieriana-

Gambar ilustrasi: Gemini AI & tangkapan layar Instagram @devieriana

Continue Reading

Inside Out 2

Film Inside Out perdana ditayangkan di Cannes pada 18 Mei 2015 dan kemudian dirilis di Amerika Serikat pada 19 Juni 2015. Sepuluh tahun berselang setelah kesuksesan film Inside Out, Pixar kembali memanjakan para penggemarnya dengan sekuel yang dinantikan, Inside Out 2 pada 14 Juni 2024. Jika dalam sekuel pertama dikisahkan Riley berusaha mengatasi masa kanak-kanak dengan menghadapi perasaannya terkait kepindahan keluarganya dari Minnesota ke San Fransisco, sekarang Riley telah menemukan rumah baru dalam bentuk sahabat-sahabat barunya, Bree dan Grace. Dalam sekuel ini, fokus cerita lebih pada hubungan Riley dengan teman-temannya daripada keluarganya, juga tentang rumitnya perjalanan emosional Riley yang saat ini berusia 13 tahun, dan sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke SMA. Riley sangat fokus pada olahraga hoki yang telah membuatnya meraih banyak penghargaan.

Joy, Anger, Sadness, Fear, dan Disgust dihadapkan pada tantangan tentang rumitnya dinamika emosi masa remaja. Anxiety, Ennui, Embarrassment, dan Envy merupakan karakter-karakter baru yang memperkaya alur cerita dalam Inside Out 2. Masing-masing karakter ini mempersonifikasikan emosi dan perasaan yang lebih kompleks, serta menambahkan lapisan emosi yang lebih dalam dalam perjalanan emosional Joy, Anger, Sadness, Fear, dan Disgust. 

Anxiety, yang mewakili kecemasan, memperkenalkan ketegangan dan kekhawatiran yang mendalam. Ennui, yang berarti kebosanan, membawa nuansa emosi yang lebih suram, monoton, dan membosankan. Embarrassment yang mewakili rasa malu, memperkenalkan konflik internal yang terkait dengan harga diri dan citra diri Riley. Sementara itu, Envy, yang mewakili rasa iri, membawa persaingan dan konflik interpersonal yang lebih pelik. Jujur saya kagum dengan konsep desain Envy dan Embarrasement, yang menunjukkan bahwa “iri hati” digambarkan sebagai emosi yang kecil, sementara “malu” digambarkan sebagai emosi yang besar, yang secara realistis mencerminkan definisi dari kedua emosi tersebut.

Entah mengapa rasanya sekuel kedua ini sengaja menunggu kita tumbuh (lebih) dewasa. Mungkin salah satu tujuannya adalah supaya kita bisa lebih memahami apa yang dirasakan Riley yang sudah menjadi seorang remaja. Dan, memang, bahasan di film ini jauh lebih mendalam dari apa yang saya pikirkan sebelumnya.

Riley mulai mengalami dan menghadapi berbagai emosi yang berbeda saat memasuki masa pubertas. Riley mengalami munculnya berbagai emosi baru menggantikan emosi-emosi masa kanak-kanak dengan yang lebih dewasa. Perasaan kebahagiaan tergeser oleh kepanikan, ketakutan ditutupi oleh kebosanan, dan terkadang sarkasme digunakan untuk menyembunyikan rasa malu. Ketidakpastian Riley tentang masa depannya dalam grup hoki Firehawk membuatnya cemas dan mengambil langkah yang salah. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan untuk secara penuh mendampingi anak-anak saat mereka merasa cemas, memberikan validasi perasaan, dan membantu mereka mengambil keputusan yang tepat.

Dalam perjalanannya membentuk jati diri, Riley juga pernah berusaha untuk menjadi orang lain agar diterima dalam grup hoki Firehawk, yang salah satu anggotanya, Valentina “Val” Ortiz adalah idola Riley. Namun pada akhirnya Riley menyadari pentingnya kejujuran dan menjadi diri sendiri. Dalam keadaan ini, penting bagi kita para orang tua untuk mengedukasi anak-anak agar tetap setia pada identitas mereka sendiri, tanpa perlu meniru orang lain hanya serta merta ingin diterima dalam lingkungan tertentu. Pun halnya ketika Joy berusaha keras menghapus kenangan negatif Riley untuk membentuknya menjadi pribadi yang positif, pada akhirnya, Joy menyadari bahwa semua kenangan, baik positif maupun negatif, penting untuk perkembangan Riley, karena kenangan tersebut membentuk bagian integral dari identitas dan pengalaman hidup Riley.

Ada saat di mana Riley mengalami momen emosional saat bermain di lapangan. Akibat tindakan terlalu ambisiusnya, menyebabkan dia dihukum sementara tidak bisa bermain di lapangan. Dia menangis, kecewa, dan merasa emosional, namun akhirnya menemukan kedamaian setelah menerima dan merangkul semua emosinya, berdamai dengan dirinya sendiri, serta memperbaiki hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Sadness isn’t just crying. It’s the emotion of change, acceptance and most importantly, love.

Satu momen yang cukup membekas dalam benak dan berhasil membuat saya sesenggukan di sepertiga film. Adalah saat Joy menyadari bahwa hidup Riley tidak harus selalu diisi dengan kebahagiaan. “I don’t know how to stop anxiety, maybe it’s true that when you grow old, you’ll feel less happy.” Dan sejujurnya semua itu benar. Tapi semua itu tidak menjadi masalah. Tidak masalah merasa cemas, tidak masalah merasa takut, dan tidak masalah menyadari bahwa dunia ini bukan hanya tentang kebahagiaan. Saat kita tumbuh dewasa, kita menyadari bahwa Joy (kebahagiaan) bukanlah satu-satunya emosi yang utama. Tidak masalah merasakan apa pun yang perlu kita rasakan. Kita semua adalah campuran emosi, dan itulah yang membuat kita unik dan indah. Film ini mengajarkan kita bahwa semua emosi valid. Oleh karenanya orang tua wajib mengenalkan berbagai emosi kepada anak serta mengajari mereka cara mengendalikannya.

Inside Out 2 dengan sangat akurat menggambarkan berbagai emosi yang muncul karena berbagai perubahan yang menekan dalam kehidupan seorang manusia. Komedi yang menghibur dipadu adegan yang memperluas pemikiran dan perasaan, Pixar berhasil menciptakan sebuah film yang enjoyable. Alih-alih mengandalkan kisah klise yang sudah terlalu sering digunakan, mereka berhasil menjaga agar ceritanya tetap unik, tanpa kesan menggurui. Film ini cocok dinikmati oleh anak-anak sebagai tontonan yang menghibur, sementara bagi orang tua, film ini dapat menjadi kesempatan belajar tentang pentingnya memahami kondisi emosional anak-anak.

Inside Out 2 dirilis secara eksklusif di bioskop pada 14 Juni 2024, hampir tepat sepuluh tahun setelah rilis film pertamanya pada 24 Juni 2015. Keberhasilan Inside Out 2 ini tak bisa dipandang remeh. Dengan pendapatan mencapai 295 juta dolar AS hanya dalam sepekan penayangan perdananya menjadikan Inside Out 2 sebagai salah satu film animasi dengan pembukaan penayangan terbaik sepanjang masa. Hal ini menunjukkan betapa menarik dan kuat cerita/narasi yang dimiliki oleh Inside Out 2. Tentu saja dengan keberhasilan ini, Pixar sekali lagi mengukuhkan posisinya sebagai raja animasi yang mampu menyentuh hati dan pikiran penonton dari segala usia, sekaligus menegaskan kontribusinya dalam mengangkat standar industri animasi secara keseluruhan.

— devieriana —

Ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Beyond the Report Card

Pagi itu, saya, suami, dan Alea, bersiap untuk menghadiri penerimaan rapor di sekolah. Kami sengaja tiba di sekolah 30 menit lebih awal untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Di depan kelas, sudah ada beberapa orang tua yang sudah mendapat giliran sebelumnya. Saya pun bergabung di antara mereka, sekadar say hello dan berkoordinasi tentang pembagian kenang-kenangan untuk guru Alea. Di antara topik percakapan pagi itu jauh dari bahasan tentang nilai atau prestasi akademis. Sebaliknya, kami lebih banyak berdiskusi tentang rencana liburan, destinasi menarik, dan kegiatan lainnya. Meskipun ada yang sempat menceritakan hasil rapor anaknya yang naik/turun dari semester lalu, namun topik itu segera berganti dengan obrolan ringan lainnya.

Tibalah giliran Alea tiba untuk masuk ke kelas untuk menerima rapor. Jantung saya berdegup makin kencang meski mencoba menenangkan diri dan menaruh harapan yang paling realistis. Saya tanamkan dalam pikiran saya, apapun hasilnya, saya yakin itu adalah pencapaian terbaik yang Alea bisa raih selama kelas 4. Setelah mempresentasikan tentang target dan realisasi pembelajaran semester 2 dalam Student-Led Conference, tibalah penyerahan rapor kelas 4 semester 2. Meski diselingi dengan candaan-candaan di antara Miss/Mr-nya Alea, namun hal itu tidak cukup mampu mengompromikan detak jantung saya yang makin menjadi-jadi. Buku rapor pun dibuka, satu persatu nilai mata pelajaran mulai dibandingkan dengan semester sebelumnya. Saya menyimak dengan saksama. Rasa haru tiba-tiba saja menyeruak. Ada rasa hangat yang menghampiri. Tertera nilai-nilai Alea yang hampir semua meningkat secara signifikan dibandingkan dengan semester sebelumnya. Alhamdulillah, Ya Rabb.

Jujur, setiap kali terima rapor, saya butuh lebih mempersiapkan mental dalam menerima hasil belajar Alea. Karena dalam kesehariannya, Alea adalah anak yang lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, sementara mata pelajaran di sekolah meskipun bilingual, banyak pelajaran berbahasa indonesia yang menuntut pemahaman secara menyeluruh. Selama ini Alea harus struggle menghadapi berbagai pelajaran yang berbahasa Indonesia yang perlu dihafal. Apalagi waktu kemarin mata pelajaran IPAS, di mana bab terakhirnya membahas tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia. Bukan suatu hal yang mudah bagi Alea menghafalkan berbagai istilah berbahasa Sansekerta. Seringkali untuk menghafal beberapa istilah bahasa Indonesia, Alea harus menghubungkan dengan kata tertentu supaya mudah diingat. Dia pun membutuhkan waktu belajar yang sedikit lebih lama supaya mendapatkan gambaran dan pemahaman yang lebih mendalam. Kecuali di mata pelajaran bahasa Inggris, saya tidak perlu menghabiskan waktu yang lama untuk mendampingi Alea belajar.

Bahasa Inggris bagi Alea layaknya bahasa ibu, karena kesehariannya baik berkomunikasi dengan kami di rumah (meskipun kami selalu berbahasa Indonesia, namun jawaban Alea 90% menggunakan bahasa Inggris) maupun dengan teman-temannya di sekolah atau bermain Roblox pun Alea konsisten menggunakan bahasa Inggris. Sedikit intermezzo, ketika kami menginap di salah satu hotel di Bali, di kolam renang dia bisa langsung mingle dengan sekelompok anak keluarga turis asing asal Australia. “Mama, I made friends with some of Australian kids. May I met them again tommorrow in the pool?”  Alea adalah seorang native speaker.

Dan seperti biasa, seusai sesi terima rapor, saya selalu berbagi kabar dengan aunty-nya Alea (adik saya), dan eyangnya Alea (Mama saya). Sama, mereka pun bersyukur atas pencapaian akademik Alea. Tapi entahlah, sepertinya Mama bisa membaca pikiran saya meski jarak jauh. Tiba-tiba saja Mama berpesan, “Sudah, jangan membanding-bandingkan Alea dengan anak lainnya. Setiap anak punya latar belakang yang berbeda-beda, tumbuh dalam lingkungan yang unik, dididik oleh orang tua yang berbeda, serta menganut nilai-nilai yang bervariasi. Pelajaran-pelajaran Alea jauh lebih menantang daripada pelajaran kamu yang dulu. Jadi beri dia kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri. Kamu sebagai orang tua wajib memberi dukungan supaya Alea bisa terus memperbaiki diri.” Ah, Mama. Bagaimana Mama bisa tahu apa yang sedang saya pikirkan? Tak terasa, air mata mulai menggenang di pelupuk mata.

Malamnya, ketika semua sudah terlelap, pikiran saya tetap sibuk. Sibuk berkontemplasi dan mengevaluasi diri sendiri. Mencurahkannya ke dalam bentuk tulisan sebagai pengingat diri. Sebagai ibu bekerja yang juga mahasiswa, saya merasa belum adil dalam meluangkan waktu untuk berbagai peran dalam hidup saya. Acapkali saya belum bisa memberikan waktu yang maksimal untuk Alea. Dalam beberapa semester kemarin saya berjibaku mengatur keseimbangan hidup. Belum lagi batas waktu penyelesaian tugas kuliah dan jadwal ulangan Alea yang saling berkejaran, hal itu sering membuat saya cranky. Memang inti dari semua ini adalah manajemen waktu.

Sedikit flashback ke masa saya masih sekolah, nilai ulangan dan rapor saya tidak selalu dihiasi dengan angka-angka sempurna. Tak jarang nilai saya lebih pantas dikatakan mengenaskan dibanding sempurna. Beberapa kendala yang saya alami mungkin kombinasi antara keterbatasan saya dalam mencerna pelajaran, atau mood belajar yang tidak selalu stabil. Jadi kalau ada nilai mata pelajaran yang di atas 80, sudah selayaknya dia diperlakukan layaknya sebuah mahakarya yang patut diselebrasi. Entahlah, apakah kedua orang tua saya pernah bangga pada saya waktu itu. Titik kulminasi prestasi akademis saya adalah saat menuntaskan pendidikan di sekolah menengah atas dan bangku kuliah. Di luar itu, saya adalah siswa dengan nilai yang rata-rata.

Sebagai orang tua, melihat anak berhasil dan selalu menjadi yang terbaik di kelas adalah suatu kebahagiaan dan kebanggaan. Prestasi anak merupakan hasil dari kerja keras mereka dan dukungan orang tua. Namun, dalam lingkungan yang kompetitif, penting untuk menyadari bahwa kemampuan anak tidak bisa diukur secara hitam-putih. Meskipun penting untuk memastikan anak meraih prestasi baik di sekolah dan menunjukkan peringkat, sejatinya terdapat aspek non-akademis yang lebih berpengaruh dalam menentukan kesuksesan anak di masa depan. Hidup penuh ketidakpastian, hidup bukan layaknya soal ujian kelas yang selalu punya kunci jawaban. Banyak kejutan tak terduga muncul di berbagai tikungan kehidupan, kemampuan sosial, emosional, dan mengambil risiko memainkan peran penting dalam kesuksesan anak.

Setiap anak memiliki minat dan bakatnya sendiri, dan proses pendidikan adalah perjalanan seumur hidup. Mungkin di sekitar kita ada siswa yang menyukai Matematika namun tidak jago di bahasa Inggris, ada siswa yang menyukai Sejarah namun tidak pintar di Matematika, dan ada pula siswa yang kurang pintar di bidang akademis namun jago dalam olahraga atau aktivitas fisik, karena setiap anak memiliki minat dan bakatnya masing-masing. Setiap anak itu unik dan istimewa. Akan tidak adil rasanya, jika anak hanya dinilai dari ranking atau nilai akademisnya. Anak juga perlu memahami bahwa you’re not the center of the universe, tidak semua keinginan bisa terwujud, kehidupan tidak akan selalu sesuai harapan, dan ini merupakan bagian penting dalam pembelajaran menghadapi tantangan dan penyesuaian diri. Dengan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus, anak-anak dapat belajar untuk menjadi lebih tangguh, fleksibel, dan mampu mengatasi rintangan yang mungkin terjadi di masa depan. Memberikan pemahaman ini juga dapat membantu mereka mengembangkan sikap positif terhadap kegagalan dan ketidakpastian, yang pada akhirnya akan membantu mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu yang kuat dan mandiri.

Pasti bukan hal mudah bagi kita yang hidup di zaman tolok ukur kepandaian dilihat dari nilai rapornya. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengubah mindset bahwa nilai rapor hanya sebagai salah satu indikator untuk mengetahui titik lemah, titik unggul, dan progress belajar anak, sehingga kita sebagai orang tua tahu di titik mana harus membantu anak belajar. Dan, penekanan yang berlebihan pada ranking dan nilai akademis sejatinya dapat memberikan tekanan psikologis (kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, dan persepsi yang keliru tentang nilai diri) pada anak. Untuk itulah, orang tua wajib memerhatikan kesehatan emosional anak, serta memberikan apresiasi terhadap beragam bakat dan minat yang dimiliki oleh setiap anak. Sesekali boleh lho mengajak mereka keluar rumah, menikmati lingkungan, bergaul, belajar dengan cara praktik langsung.

Setiap anak memiliki potensi dan kelebihan yang tidak selalu tercermin dalam pencapaian akademis. Ketika orang tua memerhatikan aspek non-akademis, kesehatan mental, dan motivasi intrinsik anak, akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berkelanjutan bagi anak-anak tercinta.

Semangat mendampingi anak-anak belajar dan berkembang, Parents!

— Devieriana —

sumber gambar dipinjam dari https://www.educationworld.com/teachers/beyond-report-card-alternative-ways-assess-student-progress

Continue Reading

Tentang Penerimaan Diri

Beberapa waktu lalu, ada obrolan menarik antara saya dan Alea. Tentang konsep penerimaan diri, dan tentang kalah atau menang. Wah, sepertinya sedikit berat ya untuk obrolan dengan anak TK. Mmmh, tapi tidak seberat yang disangka, kok.

Dulu, Alea bukan anak yang bisa menerima kekalahan. Apapun itu dia yang harus jadi pemenangnya. Kalau sampai kalah, dia akan ngambeg, nangis, atau justru blaming ke teman yang menang. Dan itu terjadi berkali-kali, sejak sebelum dia sekolah hingga awal TK nol besar. Awalnya kami mengira mungkin karena di rumah hanya dia sendiri yang anak-anak, belum ada ‘temannya’ alias adik.

Di sesi Parents & Teachers Meeting, saya dan suami selalu diberi tahu bagaimana perkembangan dan keseharian Alea di sekolah ketika bergaul dengan teman maupun guru. Dan hasilnya masih sama. Banyak cerita ngambegnya, masih kurang percaya diri, dan PR lainnya yang menjadi tugas kami sebagai orang tua untuk memperbaiki.  

Sampai akhirnya saya berkesempatan menjemput dia pulang sekolah, dan ngobrol banyak setelahnya. Iya, ngobrol bareng anak TK. Sebenarnya Alea itu anaknya enak kalau dinasihati asal suasana hatinya pas. Karena kalau kurang pas, pasti akan ada pembelaan sana-sini dulu sebelum akhirnya mengiyakan atau menerima nasihat dari saya, suami, atau eyangnya. 

Seperti misalnya ketika kami ngobrol soal kalah-menang di sekolah.

Kalah menang itu hal biasa, Alea. Apalagi kalau pas lomba, pasti ada yang kalah. Kalau menang semua, bukan lomba, dong.”

“Tapi Alea nggak suka kalau mereka yelling, Mommy!”

“Maksudnya bukan yelling kali, ya. Tapi itu ekspresi kegembiraan, saking happy-nya. Gapapa, semua juga pasti akan begitu kalau menang. Alea masih inget nggak pas Papa dan papanya temen-temen Alea ikut lomba tarik tambang di sekolah kapan hari? Kan mereka menang tuh, gimana? Happy, nggak?”

Dia mengangguk. Tapi matanya mulai memerah menahan tangis yang nyaris tumpah. 

Happy, kan? Terus papa-papa yang kalah gimana? Marah-marah? Nggak, kan? Biasa aja, kan? Malah ketawa-ketawa karena mereka jatuh rame-rame. Ya begitulah, namanya juga permainan. Trus, Alea masih inget nggak video pas Mama sama temen-temen choir Mama menang? Sampai jingkrak-jingkrak, teriak-teriak, dan sampai ada yang nangis juga, kan? Ya gitu emang ekspresi kalau kita menang. Saking happy-nya, Nak…”

Dia diam, walau air matanya masih mengalir di pipinya. 

“Trus, ada lagi… Alea inget kan pas Mama gambar-gambar desain baju buat ikut lomba? Itu Mama nggak menang, lho. Mama kalah. Tapi ya gapapa, Mama santai aja. Kan masih ada lomba-lomba lain yang bisa Mama ikuti nanti.”

Lagi-lagi dia diam, tapi saya percaya sedang ada proses mencerna dan berpikir di situ. Kadang kalau sedang ngobrol sama Alea ya seperti ngobrol biasa saja. Bukan seperti ngobrol dengan anak TK. Bedanya saya beri contoh-contoh sederhana yang mudah dibayangkan olehnya. 

Dan pernah suatu ketika, ketika saya baru pulang dari Pekan Kebudayaan Nasional di GBK, sambil menunjukkan video di handphone, saya (pura-pura) mengadu ke Alea. Sambil ingin tahu bagaimana responnya.

“Alea, tadi kan Mama ikut lomba bakiak. Tapi, Mama sama temen-temen Mama kalah. Mama sedih…”

Responnya adalah, 


“Jangan sedih, Mama. Kalah itu gapapa. That’s okay.”

Dia bangun dari duduknya, dan memeluk saya. Seolah memberi suntikan semangat supaya saya tidak sedih lagi. Hiks, jadi terharu 🙁 

Alhamdulillah, ternyata inti obrolan kapan hari sampai juga maksudnya ke Alea. 

Ada juga baiknya perlu disampaikan kepada anak-anak bahwa hidup itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyenangkan saja. Sebaliknya ada kalanya kita akan akan mengalami pasang surut, kekecewaan, kesedihan, dan penolakan.

Untuk anak-anak seusia Alea yang pemahamannya masih terbatas, bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana supaya bisa lebih mudah dicerna. Sekaligus disertai dengan contoh-contoh yang pernah kita alami, dan bagaimana kita menghadapi hal tersebut. Dengan demikian anak akan bisa melihat dua hal sekaligus. Pertama, hal ini memungkinkan mereka melihat kita sebagai role model positif. Kedua, menunjukkan kepada anak bahwa situasi yang sama juga bisa terjadi kepada orang lain.

Tidak perlu menuntut terlalu banyak agar anak berubah cepat sesuai seperti yang kita mau. Sama seperti orang dewasa, anak pun butuh waktu untuk mencerna apa yang kita inginkan, sifat apa yang harus dia ubah, atau bagaimana dia harus bersikap jika suatu hal terjadi. 

Satu hal penting yang kita perlu kita terima bahwa kita tidak sempurna, dan tantangan adalah bagian dari perjalanan hidup. Dan yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana cara kita memandang dan merespon mereka.

— devieriana —

ilustrasi diambil dari sini

Continue Reading

Ketika Alea Ikut Ke Kantor

 

Sesungguhnya, membawa anak ke kantor ketika sedang tidak ada support village itu bukan perkara mudah. Apalagi jika itu dilakukan setiap hari selama hampir satu bulan setengah. Banyak cerita yang ‘nano-nano’ ketika membawa anak ikut ke kantor. Tapi bagaimanapun, profesionalisme baik sebagai ibu maupun sebagai pegawai kantoran harus tetap dijaga. Risiko seorang ibu bekerja.

Bukan kali pertamanya saya membawa Alea ke kantor. Sejak Alea balita pun sudah pernah ikut saya ke kantor kalau kebetulan eyangnya harus pulang selama beberapa waktu. Terhitung sudah hampir satu bulan ini Alea saya bawa ke kantor karena eyangnya sedang umroh, plus akungnya juga sedang sakit di Surabaya, jadi otomatis Alea tidak ada yang menjaga/mengasuh.

“Emangnya nggak ribet bawa anak ke kantor?” Pertanyaan itu pasti ada. Jawabannya, ya awalnya pasti ribetlah. Tapi dinikmati saja. Salah satu proses ribetnya menjadi orangtua bekerja itu ketika anak tidak ada yang menjaga di rumah, alternatif solusinya kalau nggak orangtuanya yang cuti, ya anaknya yang dibawa ke kantor. Nah, berhubung saya tidak memungkinkan mengambil cuti sampai sebulan lamanya, ya Alea saya bawa ke kantor. Ribet dikit nggak apa-apalah. Alhamdulillah sejauh ini Alea nggak pernah rewel sih anaknya.

Salah satu cara supaya anak tetap betah di tempat kerja orangtuanya itu mudah saja. Penuhi dulu apa yang jadi kebutuhannya. Bawakan makanan dan mainan favoritnya, insyaallah anak akan nyaman. Tapi sebenarnya hal penting lainnya adalah lingkungan kerja (orangtua) yang nyaman, sih. Jujur ruangan kerja saya sebenarnya tidak nyaman untuk ukuran anak-anak. Penuh berkas, sempit, dan tidak ada lucu-lucunya. Tapi justru di situlah seninya. Semuanya tergantung bagaimana kita menjadikan anak tetap betah sampai waktu pulang tiba.

Nah, selama membawa anak ke kantor ada cerita seru apa? Oh, banyak. Tapi ada satu moment yang tidak akan saya lupakan, yaitu membawa Alea ke acara pelantikan. Deg-degan nggak, tuh? Super!

Dari awal ketika saya tahu kalau akan ada pelantikan pejabat Administrator dan Pengawas pada tanggal 2 Mei 2018, hati saya sudah gamang. Sebagaimana diketahui, hampir di setiap acara pelantikan atau acara-acara lainnya, atasan berkenan meminta saya untuk menjadi pembawa acara. Kalau saya dalam kondisi normal, sedang tidak membawa bocah sih cincay saja. Tapi jelas akan lain cerita ketika saya harus membawa Alea ke sebuah acara yang superformal. Memandu acara tentu jadi saat yang sedikit deg-degan dan mengkhawatirkan.

Durasi acaranya sih cuma 30 menit, tapi sepanjang 30 menit itulah khidmat-khidmatnya acara pelantikan. Apalagi pelantikannya dipimpin langsung oleh Menteri Sekretaris Negara. Kebayang bagaimana khawatirnya saya, kan? Memandu acara sekaligus mengawasi anak.

Jujur, saya was-was. Walaupun Alea sudah saya brief sejak beberapa hari sebelum hingga menjelang acara berlangsung, tetap saja pada praktiknya tidak semudah itu bagi balita usia 3 tahun 10 bulan itu. Apalagi ketika harus berada di tengah-tengah orang asing yang berkumpul dalam satu ruangan. Ketidaknyamanan itu menyergap Alea bahkan sejak awal masuk Gedung 3, menuju foyer Aula Serbaguna

Alea adalah anak yang tidak bisa langsung akrab dengan orang baru. Apalagi jika jumlahnya langsung banyak. Jangankan dicolek, ditanya siapa namanya saja, dia enggan menjawab. Apalagi kalau yang bertanya itu bukan orang yang dikenal. Itulah mengapa saya hanya bisa mempercayakan Alea ke beberapa teman yang kebetulan sudah dekat dengan Alea, untuk mem-back up saya.

Sebelum acara dimulai, saya cium kening Alea, usap kepalanya, dan bisikkan ke telinganya, “Nak, Mama tugas dulu sebentar, ya…”

Sepanjang acara berlangsung, doa dan wirid tak henti-henti saya baca dalam hati. Semoga Alea tidak rewel selama acara berlangsung. Mungkin terdengar egois, ya. Bagaimana mungkin saya menuntut seorang balita untuk bisa memahami acara orang dewasa yang sedang saya pandu. Bagaimana mungkin saya menuntut Alea bersikap sama dengan orang dewasa lainnya, sementara jiwanya jiwa main-main. Saya paham sebesar apa risiko yang harus saya tanggung kalau saya berani membawa Alea ke dalam ruangan pelantikan. Saya harus siap menghadapi risiko tak terduga misalnya Alea tiba-tiba rewel di tengah acara. Tapi entah kenapa, dalam hati saya yang paling dalam, saya percaya kalau Alea memahami tugas ibunya, dia paham kata-kata saya. Mungkin feeling seorang ibu, ya.

Lima menit pertama, aman. Sepuluh menit, lima belas menit berikutnya, aman. Dua puluh lima menit, hingga tiga puluh menit lengkap, alhamdulillah aman.

Luar biasa, Alea! Terima kasih, Nak…

Selama 30 menit itu Alea tidak rewel, tidak uring-uringan. Dia konsen dengan film Mini Mouse di gawai saya, hingga akhir acara. Konon, memberikan gawai kepada anak, sebenarnya kurang baik efeknya. Tapi bagi sebagian orangtua memberikan anak tontonan di gawai mungkin bisa menyelamatkan keadaan ketika dibutuhkan. Tentu saja untuk sementara waktu.

Lalu sudahkah itu saja? Berikutnya, ketika saya diminta mengajar tentang MC dan dirigen oleh Kementerian Sosial di Royal Amarroossa, Bogor. Dilema lagi, kan? Tidak mungkin saya mengajak Alea selama mengajar di kelas, sekalipun itu cuma mini class yang pesertanya cuma 10 orang. Akhirnya, senjata terakhir saya gunakan. Saya minta bantuan adik saya untuk menjaga Alea sementara saya pergi ke Bogor selama setengah hari. Alhamdulillah, adik saya menyanggupi. Pun, ketika saya harus bertugas sebagai pembaca saritilawah di acara buka bersama di lingkungan Sekretariat Lembaga Kepresidenan beberapa waktu lalu. Walaupu ada drama-drama sedikit, tapi alhamdulillah teratasi.

Kalau jadi petugas upacara Hari Kebangkitan Nasional, saya sudah izin belum bisa bertugas sebagai pembawa acara, karena akan lebih tidak mungkin lagi kalau saya harus membawa Alea ikut dalam upacara yang durasi dan prosesinya lebih lama daripada pelantikan.

Bersyukur punya atasan dan lingkungan yang sangat suportif dan kooperatif menyikapi para ibu bekerja yang dalam waktu tertentu terpaksa harus membawa anak mereka ke kantor.

Bagaimana dengan kalian? Adakah moment deg-degan ketika harus membawa Si Kecil ke kantor?

 

[devieriana]

Continue Reading