About The Kapan Things

pertanyaan tanpa akhir

Tak terasa, sebentar lagi puasa, dan lalu lebaran. Sebuah moment yang pasti sudah ditunggu-tunggu bagi semua muslim yang merayakannya, bukan? Tapi bagi sebagian orang mungkin acara kumpul-kumpul dengan keluarga tidak selalu menjadi saat yang menyenangkan. Kenapa? Berkumpulnya keluarga besar justru akan memberi kesempatan terlontarnya pertanyaan-pertanyaan klise seputar the ‘kapan’ things. Iya, pertanyaan: “kapan lulus?”, “kapan nikah?”, “kapan punya anak?” dan sejenisnya itu.

Ketika kita berada di tengah banyak anggota keluarga seperti itu rasanya tidak mungkin kalau kita tiba-tiba menghilang, atau menghindar pergi tanpa basa-basi. Apalagi di moment yang memungkinkan kita mengobrol dengan banyak teman atau keluarga yang tidak setiap hari bertemu. Jadi jangan heran kalau pertanyaan ‘the kapan things’ akan menjadi pertanyaan yang tidak mungkin untuk dihindari.

Setiap kali kita melewati satu tahap, maka akan ada pertanyaan mengenai tahap berikutnya. Ketika sampai pada tahap berikutnya, akan muncul pertanyaan baru untuk tahap yang lebih tinggi, begitu seterusnya. Mungkin bagi yang sudah melewati berbagai fase kehidupan yang hampir lengkap (lulus kuliah, sudah bekerja, sudah menikah, sudah punya anak, dan sudah mau punya mantu), tidak sepenuhnya pertanyaan itu bermaksud untuk menyakiti atau menyinggung orang yang diajak bicara. Tapi terkadang justru ‘ice breaker’ semacam itulah yang tanpa sadar bisa menimbulkan rasa sedih, tersinggung, atau tersakiti bagi orang yang ditanya, sekalipun mereka berusaha menjawab dengan wajah yang (di)ceria(-ceriakan), karena bagi sebagian orang pertanyaan-pertanyaan semacam itu termasuk pertanyaan pribadi, dan tidak selalu membuat yang ditanya merasa nyaman.

Sadarkah bagi yang bertanya kalau orang yang belum lulus itu benar-benar tidak ingin menyelesaikan kuliahnya? Atau bagi yang belum punya pasangan itu bukan berarti dia sengaja tidak berusaha mencari calon tambatan hati? Atau bagi yang sudah lama pacaran tapi belum menikah, itu berarti mereka tidak punya rencana ke arah sana sehingga harus ditanya berulang kali dan diburu-buru? Atau bagi yang sudah menikah tapi belum dikaruniai keturunan itu sudah pasti mereka tidak ingin punya anak dan tidak berusaha, sehingga harus ‘dinasihati’ kalau punya anak itu jangan ditunda-tunda? Belum tentu seperti itu, kan? Sadarkah bagi yang bertanya kalau jodoh, rezeki, anak, hidup, dan mati itu masih menjadi otoritas Sang Mahakuasa? Saya percaya, ketika ada doa dan harapan kita yang belum diijabah oleh Allah, sebenarnya Dia ingin menjadikan kita seorang yang terbaik dari diri kita lebih dulu; become an ultimate us.

I have been dealing with those questions for last 7 years since 2007. Respon saya? Mulai ekspresi saya yang masih bisa cengar-cengir, lalu berubah jadi cuek, berubah mulai BT, lalu jadi BT beneran, dan jadi BT banget, sampai malas ketemuan, dan akhirnya berubah jadi netral dan santai lagi. Jujur, bukan hal mudah untuk mengendalikan perasaan saya, butuh proses yang panjang untuk bisa berdamai dengan hati saya sendiri.

Hingga akhirnya, ketika saat itu tiba; ketika Allah memberikan saya kembali kesempatan untuk mengandung, reaksi saya jelas bersyukur, tapi tidak lantas euforia. Saya bahkan cenderung lebih pendiam, tidak terlalu banyak ‘omong’ di dunia nyata maupun di social media. Bahkan di kantor pun pada awalnya juga tidak ada yang ngeh kalau saya sedang mengandung hingga kehamilan saya menginjak usia 5 bulan dan perut saya terlihat mulai membuncit. Saya juga tidak lantas menulis secara heboh apapun yang saya rasakan selama menjalani masa kehamilan, baik itu di blog pun di status bbm/socmed.

Saya juga tidak lantas ganti melontarkan pertanyaan yang dulu sering ditanyakan ketika saya belum hamil ke teman/saudara yang belum hamil, karena saya tahu bagaimana rasanya berada di posisi yang sama dengan mereka. Bahkan untuk mengunggah foto kehamilan saya ke socmed atau menjadikannya sebagai profil picture gadget pun sengaja tidak saya lakukan. Bukan bermaksud tidak ingin berbagi kebahagiaan, selain memang kebetulan selama hamil saya jadi tidak suka difoto (dilarang narsis sama yang di perut kayanya sih), buat saya lebih penting adalah menghargai perasaan orang-orang terdekat yang belum diberikan kesempatan itu oleh Yang Di Atas.

Teman saya pernah bilang begini,

“Kalau kamu ditanya soal jodoh, itu masih jauh lebih ringan ketimbang kamu ditanya soal “kapan punya anak?” Karena menurutku, itu sama aja seperti kita sedang di-judge sama mereka tentang kemampuan kita untuk hamil”.

Andai saja jodoh dan anak bisa dibeli di supermarket, mungkin kita bisa memilih kapan dan dengan siapa kita akan menikah. Kapan saatnya kita ‘membeli’ anak untuk pertama kali dan kapan akan menambahnya sesuai dengan yang kita mau.Tapi toh kenyataannya tidak seperti itu, bukan? Buat saya dua-duanya itu murni rezeki dari Allah. Sebagai manusia kita cuma bisa menjalani sambil berdoa dan berusaha. Rezeki Allah itu bisa hadir dalam bentuk apa saja dan dari mana saja. Kedatangannya pun bisa dipercepat atau diperlambat tergantung dari kesiapan kita menerima rezeki itu. Mungkin menurut kita, kita sudah siap, tapi kalau menurut Allah belum, ya berarti memang belum saatnya. Begitu juga sebaliknya. I do believe, if God brought you to it, He will bring you through it.

Pertanyaan basa-basi seperti “kapan menikah”, “kapan punya anak”, dan berbagai pertanyaan ‘kapan’ lainnya tidak akan seketika berhenti setelah kita menikah atau punya anak. Pertanyaan “kapan nambah anak”, hingga “kapan mantu” pun harus siap kita hadapi saat kita sudah menikah. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, sebagai makhluk sosial kita tidak mungkin menghindari obrolan-obrolan ice breaker semacam itu. Tinggal siapkan saja hati dan mental kita sembari menebalkan telinga. Tapi tidak perlulah sampai kita masukkan ke dalam hati, dibawa rileks saja. Keep enjoy the whole process, dan tetap percaya bahwa Allah selalu memberi sesuatu tepat pada waktunya.*group hugs*

Try to speak for peace and (always) think before you speak

🙂

 

 

[devieriana]

 

sumber ilustrasi dipinjam dari @komik_jakarta

Continue Reading

Penari Trotoar

penari trotoar

Hampir di setiap Jumat, ketika shuttle bus yang saya naiki berhenti di depan trotoar Sarinah-Thamrin, saya selalu melihat lelaki paruh baya ini sedang menari. Penampilannya khas; surjan lurik, celana hitam longgar, blangkon, kacamata hitam, dan kadang dia juga menggunakan sampur (selendang) berwarna hitam yang dililitkan di pinggang. Lelaki ini menari dengan gemulai, ditambah dengan ekspresi wajah yang ceria dan jenaka, diiringi dengan gending/langgam Jawa yang mengalun dari seperangkat stereo yang ditumpangkan di atas motornya. Terlihat sebuah botol plastik berisi air minum yang menemaninya menari.

Kalau bertemu dengan penari jalanan yang berkelompok sih sudah lumayan sering. Dulu, mereka sering lewat di depan gang rumah; berhenti dari warung makan yang satu ke warung makan yang lain, dari toko yang satu ke toko yang lain, dan seterusnya. Biasanya dalam satu kelompok terdiri dari 1-2 orang penari yang mengenakan kostum tari. Dandanan mereka pun lumayan niat, karena mereka berdandan seolah akan pentas di sebuah panggung. Rambut yang tersasak dan bersanggul rapi dengan selipan bunga mawar dan roncean melati artifisial yang diuntai di sanggul mereka, kemben dan jarid wiron yang membungkus torso mereka, ditambah dengan sampur transparan dengan ujung bermote yang diikat di pinggang. Make up mereka pun ‘lengkap’, ala pertunjukan panggung. Biasanya di belakang para penari ini ada seorang pria yang membawa semacam tape recorder yang menyetel gending tari bagi penari di depannya. Apakah mereka menari for free? Tentu tidak. Pertunjukan keliling itu adalah salah satu cara mereka bertahan hidup di ibukota; cara mengamen dengan gaya yang berbeda. Ya, selama ini mengamen itu selalu diidentikkan dengan menyanyi, padahal tidak semua orang bisa menyanyi. Itulah mengapa orang-orang dengan nyali dan kemampuan lebih ini memilih untuk menari di jalanan.

Namun ada yang sedikit berbeda dengan lelaki yang satu ini. Dia selalu tampil sendiri, tidak berkelompok. Kalau dia sedang menari di depan Sarinah, dan kebetulan bus saya sedang berhenti untuk menaikkan penumpang, selalu saya sempatkan untuk menikmati tariannya walaupun cuma sebentar, karena bus saya harus segera jalan.

Uniknya lagi, selalu ada tulisan yang sengaja diletakkan di badan motornya agar terbaca oleh orang lain. Tema tulisannya pun berganti-ganti, misalnya: “Hiburan Tombo Stress”, “Melestarikan Budaya Bangsa”, “Kesenian zaman kuno jangan dilupakan. Milik bangsa Indonesia terbaik di dunia”, dan beberapa tulisan/pesan lainnya.

Kalau dilihat dari keluwesannya menari, kostum yang digunakan, dan musik yang dipilih untuk mengiringinya menari, sepertinya beliau ini bukan asli penduduk Jakarta; mungkin pendatang dari Jawa Timur atau Jawa Tengah.

Seolah tidak peduli dengan tatap mata orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya, dia terus menari walaupun peluh membasahi sebagian wajah dan tubuhnya. Bahkan tak jarang dia melempar senyum ramah kepada beberapa orang yang berjalan sambil lalu di depannya sambil melihatnya menari.

Mungkin karena singkatnya waktu yang saya miliki untuk mengamati penari yang satu ini, hingga sampai sekarang saya belum paham dengan motivasi beliau menari. Apakah untuk menunjang ekonomi keluarga, atau hanya untuk faktor yang lain, misalnya penyaluran hobby atau murni untuk hiburan. Ah, tapi kalau untuk hiburan semata kok sepertinya bukan, ya? Hari gini, di Jakarta pula?

Anggap saja dulu ini adalah salah satu cara beliau untuk mencari nafkah dan bertahan hidup di Jakarta. Lelaki paruh baya ini membuat saya tercenung. Bukan hanya buat beliau; mungkin buat semua kaum pendatang di ibukota; Jakarta masih menjadi salah satu magnet bagi para pengejar mimpi, karena di sinilah mereka menggantungkan harapan tentang kehidupan yang jauh lebih baik ketimbang di kampung halaman. Di sinilah mereka rela berjungkir balik melakukan apapun untuk bertahan hidup dan meraih mimpi, dengan mengandalkan segenap kemampuan yang mereka miliki. Memang tak selalu harus bekerja disektor formal memang; tapi ketika ada celah yang bisa menampung kreativitas mereka, di situlah mereka akan mengais rezeki.

Terlepas dari apapun motivasi Bapak menari di atas trotoar; saya salut sama Bapak. Di usia Bapak yang mulai menapak senja, Bapak masih gigih mencari nafkah di jalur yang halal. Bapak juga masih punya semangat untuk mempertahankan budaya bangsa melalui tarian-tarian Bapak (walaupun bisa dimaklumi gerakannya tentu saja jauh dari pakem dasar sebuah tari). Tapi ah, apalah arti sebuah pakem tari, toh tak semua orang adalah penari dan paham pakem sebuah tarian, bukan? Satu hal yang membuat saya tetap salut sama Bapak. Bapak bukanlah peminta-minta yang cuma menengadahkan tangan, berharap akan jatuhnya iba dari orang di sekeliling Bapak. Semoga hasil keringat dan kerja keras Bapak tidak pernah sia-sia, dan senantiasa bermanfaat bagi keluarga Bapak di rumah.

Terus menari ya, Pak! 😉

[devieriana]

 

Continue Reading

Tentang Resolusi

new year resolution

Tahun 2014 sudah di depan mata dan tinggal hitungan hari. Biasanya orang-orang akan mulai disibukkan dengan membuat catatan rencana atau resolusi untuk setahun ke depan baik itu di blog, diary (kalau masih ada), di kertas warna-warni yang akan ditempelkan di tembok, atau di media manapun yang sekiranya memungkinkan.

Resolusi sendiri lebih kurang merujuk kepada sebuah komitmen yang dibuat oleh masing-masing individu untuk tujuan pribadi atau umum, biasanya sih lebih ke pribadi ya. Contoh resolusi yang paling umum biasanya tentang keinginan untuk mengubah kebiasaan dan gaya hidup yang buruk menjadi lebih baik, atau keinginan membeli atau meraih sesuatu yang belum tercapai di tahun sebelumnya.

Jujur, saya adalah orang yang paling jarang membuat resolusi di tahun baru, dan lebih cenderung ke let it flow. Tapi bukan berarti saya tidak punya daftar rencana sama sekali. Rencana pasti ada, tapi memang jarang saya publish di blog/social media, lebih ke catatan pribadi saja.

Buat saya resolusi itu tidak harus dibuat menjelang pergantian tahun. Resolusi itu bisa dibuat kapan saja, bahkan setiap hari. Jadi kalau bisa dilakukan setiap hari mengapa harus menunggu tahun depan? Mungkin ini terkait dengan kebiasaan. Orang lebih memilih momentum peluncuran resolusi yang bersama-sama karena di saat itu banyak orang yang sama-sama mengeluarkan daftar harapan/keinginan terhadap sesuatu yang baru/lebih baik di tahun yang akan datang.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat di salah satu mall di bilangan Jakarta Selatan. Ndilalah, topik obrolan kami tak jauh-jauh dari soal resolusi. Sebenarnya tanpa sadar, setiap orang pasti pernah membuat/punya resolusi, tapi cara pencapaiannya yang berbeda-beda. Seringkali orang ‘terlena’ membuat daftar panjang resolusi, tapi nyatanya niatnya cuma menyala-nyala di saat membuat/menulis resolusi saja atau paling banter di awal tahun, selanjutnya menguncup begitu saja. Nanti tahun depan bikin resolusi lagi yang daftarnya tidak jauh berbeda dengan yang sudah pernah ada di tahun sebelumnya.

Nah, sebenarnya bikin resolusi yang baik itu seperti apa, sih? Resolusi itu bisa dibagi menjadi tiga, yaitu resolusi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Soal waktu pencapaiannya bisa kita sendiri yang menentukan. Sebelum membuat daftar resolusi tahun ini, coba buka dulu daftar resolusi tahun sebelumnya, buat daftar apa saja yang sudah terwujud, dan apa saja yang belum terwujud.

Kalau kata sahabat saya, membuat resolusi itu bisa diibaratkan seperti akan maju perang. Kita harus punya strategi untuk mencapainya. Memang ilmu tidak ada batasnya, tapi terkadang kita bisa mengambil pelajaran/ilmu dari apa yang sudah pernah kita lalui di tahun sebelumnya untuk mencapai apa yang kita inginkan di tahun ini untuk evaluasi. Ya, siapa tahu apa yang di tahun lalu berhasil kita capai, tapi ketika cara yang sama itu diterapkan di tahun ini belum tentu berhasil dilakukan, atau malah justru sebaliknya.

Yang terjadi selama ini ketika kita mengalami kegagalan, spontan kita langsung bilang, “Yah, gagal deh…:-(” . Padahal itu sudah menjadi sebuah kalimat negatif yang punya kans untuk menguncupkan semangat kita. Tuhan itu adalah prasangka hambanya. Jadi kuncinya ada di mindset. Mindset kita yang harus diubah, kalau sekarang belum berhasil, besok pasti berhasil! Prasangka dan kata-kata kita harus dipositifkan terlebih dulu.

Sahabat saya lalu mmberi sebuah pertanyaan begini, “Kalau udah bikin resolusi pnjang-panjang nih, trus nggak ada yang berhasil, gimana caranya menenangkan hati?” . Nah, itu juga pertanyaan yang juga berjumpalitan di kepala saya saat itu :-p.

Salah satu caranya dengan bikin rencana jangka pendek, menengah, dan panjang. Tulis atau gambar rencana-rencana itu dalam berbagai bentuk yang mudah diingat. Misalnya rencana jangka pendek ditulis dalam sebuah bangun segitiga, beri warna tertentu, lalu beri tagline, misalnya: “I have a dream” dengan font yang catchy. Tuliskan di bawahnya apa saja rencana jangka pendek yang ingin kita capai, tidak harus banyak, yang penting realistis. Lalu, bikin lagi rencana jangka menengah dengan bentuk yang lain, misalnya bulat, beri warna kuning, beri tagline yang berbeda dengan yang sebelumnya, misalnya: “Target Terwujud”, lakukan cara yang sama. Yang terakhir, bikin bentuk lain untuk menuliskan rencana jangka panjang, misalnya bentuk hati, beri warna, tagline, dan rencana-rencana yang diharapkan tercapai.

Nah, bagaimana kalau ternyata yang tercapai terlebih dulu bukan target jangka pendeknya, tapi justru justru target jangka panjangnya? Tuhan itu bekerja dengan sangat random. Dia paling tahu kapan saat yang paling tepat untuk memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Tapi bukan berarti karena kita tahu Tuhan bekerja dengan random lantas kita, “ya udah sih, serahkan aja sama yang Di Atas, toh Dia yang paling tahu apa yang paling pas buat kita…” Ya udah, kalau caranya seperti itu mau lulus kuliah tahun berapa juga nggak akan pernah tahu :mrgreen:

Sahabat saya lagi-lagi memberikan sebuah contoh yang paling simple untuk bisa saya pahami. Proses pencapaian resolusi itu kurang lebih seperti apa yang pernah dia lakukan dalam sebuah seminar. Dia bertanya pada audience-nya,

“Siapa yang mau duit Rp 500.000,00 hari ini juga?”

Serentak seluruh isi kelas mengangkat tangan, tanda mereka semua ingin mendapatkannya. Sahabat saya lalu meminta mereka mengetik sebuah sms berisi resolusi mereka di HP masing-masing. Secepat kilat mereka mulai sibuk mengetik di HP masing-masing. tak lama kemudian sahabat saya itu menyebutkan nomor HP tujuan dan meminta mereka semua mengirimkan ke nomor HP yang dia sebutkan tadi, karena siapa yang smsnya dia terima lebih dulu dialah yang berhak memperoleh uang senilai Rp500.000,00. Spontan kelas menjadi gaduh. Di sanalah terlihat proses sebuah resolusi itu ‘dikabulkan’. Ada yang mendengarkan nomor yang disebutkan tadi dengan sungguh-sungguh dan saat itu langsung mengirimkan sms, ada yang kurang mendengarkan dengan baik penyebutan nomornya, ada yang ketika akan mengirimkan sms ternyata tidak ada pulsa, ada yang punya pulsa dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh ternyata ketika mengirim pesan terkena bad connection, dll.

Ini juga merupakan catatan untuk saya pribadi, intinya adalah, menuliskan resolusi itu tetap perlu, yang penting niatnya harus ada. Selain berusaha jangan lupa terus berdoa dan jangan pernah putus asa, karena Tuhan paling tahu kapan saat yang paling tepat untuk kita mencapai apa yang kita inginkan, dan memberikan apa yang kita butuhkan ;).

“Happiness keeps you sweet. Trials make you strong. Sorrows make you humble. Success makes you glowing, and God keeps you going. May you have a greatest New Year of 2014!”

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari http://bestjacksonpersonaltrainer.com

Continue Reading

Know Your Limit

Semalam, salah satu teman kantor me-whatsap saya. Dia melampirkan sebuah capture kalimat yang berbunyi:

path

Ketika membaca kalimat itu entah mengapa saya jadi sedih, meski saya tidak mengenal orang yang dimaksud dalam capture tersebut (Mita Diran a.k.a @mitdoq), tapi tiba-tiba teringat beberapa sahabat saya yang bekerja tak kenal waktu. Karena tuntutan pekerjaan tak jarang mereka hanya sempat istirahat selama beberapa jam dan harus segera siap/stand by untuk kembali bertugas atau menyelesaikan deadline.

Dulu, sewaktu saya masih belum berkeluarga, masih euforia-euforianya dengan pekerjaan, hampir sebagian besar waktu saya berikan untuk pekerjaan. Bahkan di waktu-waktu yang seharusnya saya luangkan bersama keluarga pun harus rela saya lepas demi menyelesaikan deadline. Kadang saya berpikir, kok saya seperti nggak punya kehidupan selain pekerjaan dan kantor, ya? Tapi seolah tidak punya pilihan lain, saya kembali tenggelam dengan kesibukan saya di kantor. Sempat juga saya mengeles, “ya nanti kalau sudah berkeluarga kan konsentrasinya bakal beda, nggak ke pekerjaan lagi. Sekarang mumpung masih single, gapapa kali…”

Nah, apakah setelah menikah saya terlepas begitu saja dengan tugas dan deadline? Tidak juga. Bahkan ketika saya cuti pun, cuma fisik saya saja yang (sepertinya) cuti; secara fisik saya di Surabaya, tapi pikiran saya ada di Jakarta. Bagaimana mau merasakan cuti kalau saya masih terima telpon, masih kirim dan terima email, masih mengecek pekerjaan anak buah (walau telpon/sms hanya untuk sekadar mengecek kondisi di lapangan, ada kesulitan/nggak). Bisa saja sih saya matikan HP dan email selama cuti. Tapi nyatanya tidak bisa semudah itu karena ada tuntutan tanggung jawab disana. Di saat itulah saya mulai merasa seperti diperbudak oleh pekerjaan dan deadline.

Bahkan ketika saya sudah beralih status menjadi PNS pun kesibukan itu masih ada. Bedanya, kesibukan saya waktu itu lebih ke kegiatan komunitas. Hampir setiap akhir pekan ada saja jadwal kegiatan di sana-sini. Bahkan di sela-sela jam kerja atau pulang kerja pun saya ada jadwal meeting. Akibatnya, tubuh saya jadi mudah drop. Apalagi saya bukan orang yang sering berolah raga untuk menjaga kebugaran tubuh. Badan saya pun menjadi rentan sakit, sering kena flu, radang, demam, dan sebangsanya.

Sama seperti kasus Mita Diran, salah satu rekan kerja suami di tempat kerjanya yang dulu juga bernasib sama. Kerja di sebuah perusahaan kontraktor membuatnya tidak lagi kenal waktu. Demi terselesaikannya target pekerjan sesuai dengan jadwal dia relakan fisiknya bekerja ekstra keras. Rasa capek luar biasa yang mendera tubuhnya tidak lagi dirasakannya, kurangnya waktu istirahat, jadwal makan yang tidak teratur, konsumsi kopi, rokok, dan suplemen penambah stamina yang berlebihan demi ‘menjaga’ agar fisiknya tetap fit dan terjaga, membuatnya harus dirawat di RS sebelum menghembuskan nafas yang terakhir di sana.

Kita itu manusia, bukan robot atau mesin. Bahkan robot/mesin saja punya waktu/jadwal untuk maintenance, kenapa tubuh enggak? Tubuh juga punya alarm yang akan memperingatkan kita ketika dia butuh istirahat. Tapi yang ada seringkali justru manusianya yang bandel, mengabaikan peringatan itu dengan alasan, “kalau nggak diselesaikan sekarang keburu kerjaan yang lain datang dan numpuk-numpuk”, atau iya, bentar lagi, nanggung nih…. Capek yang seharusnya dibawa istirahat justru menjadi pemicu untuk menggunakan obat/suplemen penambah stamina. Baru sadar kalau ternyata tubuh punya batas ketika sudah ambruk, terbaring di rumah sakit :(.

Kalau kata Nick Deligiannis :

“Remember, a professional is a person who never allowed himself to dissolve in the job and no longer have time for personal life”

Buat yang masih suka bekerja tak kenal waktu, know your limit. Love and listen to your body.

 

[devieriana]

Continue Reading

Bukan Jakarta kalau…

traffic-jam

…nggak macet!

———-

Demikian seloroh klasik hampir semua orang yang mengomentari betapa macetnya lalu lintas di Jakarta. Seolah ingin menggambarkan bahwa macet dan Jakarta adalah dua buah kata identik yang sudah lumrah dan jamak. Kalau Jakarta sepi, lengang, seperti halnya suasana beberapa hari menjelang Lebaran malah aneh, karena Jakarta itu terlanjur identik dengan macet.

Sudah hampir sepekan ini Jakarta dilanda kemacetan yang luar biasa parahnya. Bukan hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi saja, tapi juga dirasakan oleh seluruh pengguna jasa layanan angkutan umum. Tingginya volume kendaraan yang melintas makin memperburuk kondisi lalu lintas, belum lagi cuaca hujan hingga menyebabkan banyaknya genangan di beberapa ruas jalan, makin memperparah kondisi lalu lintas di ibu kota tercinta ini.

‘Penderitaan’ yang dirasakan bukan hanya kaki yang pegal-pegal karena terlalu lama berdiri, dan waktu yang terbuang di jalanan lebih lama, tapi juga bahan bakar yang terhambur jadi lebih banyak, ditambah dengan ke-BT-an tingkat tinggi yang menyergap hampir semua yang terjebak di kemacetan. Sepertinya orang yang hidup di Jakarta itu harus punya stok kesabaran, ketabahan, dan daya tahan tubuh yang luar biasa untuk berjuang menghadapi kemacetan setiap harinya.

Bayangkan, dengan kondisi fisik dan psikis yang lelah karena sudah seharian beraktivitas di kantor masih harus ditambah dengan lamanya waktu tempuh menuju rumah yang lebih lama. Sesampai di rumah pun cuma sempat istirahat ala kadarnya, karena besok paginya harus bangun lebih awal, dan kembali berkejaran dengan waktu supaya tidak terlambat di kantor.

Beruntung hari Jumat kemarin saya memutuskan untuk pulang tepat waktu, sehingga antrean di halte Transjakarta belum terlalu padat, masih dapat tempat duduk, begitu pula level kemacetan jalan raya masih dalam batas ‘wajar’. Level wajar di sini maksudnya kendaraan masih bisa jalan di tengah kemacetan, tidak sampai stuck dan berhenti dalam waktu yang lama. Di saat saya sudah leyeh-leyeh di rumah, di twitter dan status bbm teman-teman saya bermunculan keluhan terjebak kemacetan di mana-mana,  ada yang keluar kantor pukul 16.15 tapi sampai di rumah hampir pukul 22.00 WIB, bahkan ada yang menjelang pukul 24.00 WIB! Epic, ya? 😐

Banyak orang yang ‘menyalahkan’ makin macetnya Jakarta akhir-akhir ini salah satunya disebabkan karena adanya sterilisasi jalur busway. But, hey… bukankah macetnya Jakarta bukan baru terjadi sehari dua hari ini? Toh, meski sudah ada peraturan tentang sterilisasi jalur busway nyatanya masih banyak juga kendaraan yang masuk ke jalur busway, apalagi ketika jalur jalanan normal sudah sangat padat, satu-satunya ‘alternatif’ untuk bisa tetap jalan ya masuk ke jalur busway. Oh ya, satu lagi. Trotoar. Pffft!

Kondisi seperti itu sih masih ‘mending’. Bagaimana kalau misalnya Transjakarta mengalami trouble di tengah jalur karena mesinnya tergenang air/mati, sementara itu di belakang bus berderet antrean kendaraan yang bermaksud mengambil kesempatan jalur bebas hambatan. Mau tidak mau mereka ikut berhenti total karena beberapa separator busway yang sengaja dibuat tinggi itu tidak memungkinkan mereka untuk memotong jalur seperti dulu. Tidak ada jalan lain selain ikut pasrah menanti hingga Transjakarta selesai diperbaiki. Nah, makin PR lagi, kan?

Tapi beruntung kemarin saya tidak coba naik angkutan alternatif yaitu shuttle bus. Memang sedikit agak lama menunggu shuttle bus itu lewat di Sudirman, tapi daripada saya terjebak di halte Harmoni selama berjam-jam karena ternyata Transjakartanya tidak beroperasi untuk sementara waktu lantaran banjir di sekitar Kampung Melayu, yah well… saya diam-diam bersyukur, walaupun sampai rumah hampir pukul sembilan malam 😐

Jadi ingat beberapa baris kalimat dari Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu tulisannya yang bertajuk Menjadi Tua di Jakarta,

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa”

Soal bertahan hidup di Jakarta, menjadi Homo Jakartensis, menjadi sosok-sosok yang mengembara dalam pencarian, sebenarnya cuma masalah pilihan. Kalau ternyata masih kuat bertahan hidup di sini ya silakan dilanjut dengan segala konsekuensinya. Tapi kalau sudah tidak kuat ya silakan lambaikan tangan ke kamera… :mrgreen:

Btw, kapan ya jalanan di Jakarta suasananya mirip seperti car free day setiap harinya?
*tidur lelap*

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading
1 5 6 7 8 9 30