Hari Ibu bukan Mother’s Day

Tulisan ini diilhami hasil upacara bendera tadi pagi. Jujur baru kali ini saya “menikmati” yang namanya upacara. Lho, kok bisa? Berarti selama ini nggak pernah “menikmati”? Lhah, ayo sekarang jujur deh, siapa yang hobby mengikuti upacara lengkap dengan segenap prosesi dan alur protokolernya? Pasti nggak ada kan? Sama dong.. hee hee. Terus kok saya bisa bilang “menikmati”? Sebenarnya bukan “menikmati” tapi lebih ke konsentrasi. Saya di upacara kali ini jadi petugas upacaranya. Kan kalau sampai salah, saya yang malu, Bu nail biting. Nah, kebetulannya lagi, khusus di upacara peringatan Hari Ibu ini ada 2 lagu yang dikumandangkan selain Indonesia Raya dan Hymne Mengheningkan Cipta, yaitu Hymne Hari Ibu dan Mars Hari Ibu. Baru kali ini saya dengar..dan lumayan enak big grin

Sebenarnya agak unik kalau kita berbicara tentang hari ini, ketika orang-orang ramai menyebutnya dengan Hari Ibu, padahal sebenarnya konteksnya berbeda jauh dengan peringatan Mother’s Day. Kalau menilik kembali ke sejarah masa lalu peringatan Hari Ibu itu sebenarnya diawali dari bertemunya para pejuang wanita dalam Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 – 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres itu dihadiri oleh sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia, karena disanalah para pemimpin organisasi perempuan se-Indonesia berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.

Para pejuang perempuan itu mengadakan Kongres Perempuan sebanyak 3x. Kongres Perempuan II diadakan bulan Maret 1932, dan Kongres Perempuan III diadakan pada tahun 1938. Cikal bakal peringatan Hari Ibu ini dirumuskan dalam Kongres Perempuan III ini. Jadi, sebenarnya misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini, sodara-sodara.. big grin

Trus bagaimana ceritanya kok bisa Hari Ibu yang misi awalnya mengenang semangat para perempuan untuk memperbaiki kualitas bangsa ini berubah menjadi peringatan yang bersifat motherhood? Sepertinya kata-kata IBU inilah yang membuat pemaknaan Hari Ibu mengarah menjadi Mother’s Day, padahal secara sejarah maknanya jelas jauh. Kalau Hari Ibu berdasarkan Kongres Perempuan III kan maknanya yang tadi. Kalau peringatan Mother’s Day di Eropa dan Timur Tengah sana lebih mengarah ke pujian terhadap ke-motherhood-an (apa sih bahasa Indonesianya? surprise) dan peran perempuan sebagai ibu dan isteri yang seutuhnya. Peringatan Mother’s Day sendiri jatuh pada bulan Maret yang berawal dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno.

Nah, yang terjadi di Indonesia, makna peringatan Hari Ibu itu akhirnya lambat laun mengalami pendangkalan esensi akibat komersialisasi dan bisnis media. Sebagian besar kita akhirnya ikut menjadikan perayaan hari ibu ke arah peringatan hari menyayangi ibu, dan membalas jasa kepada sang Ibu. Lambat laun kita pun ikut terarah pada worshiping motherhood, hanya saja segi waktunya menggunakan tanggal dicanangkannya Hari Ibu yang ditetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Ah, kalau saya nih ya, peringatan Hari Ibu nggak harus diperingati atau dirayakan di hari tertentu. Jika memang peringatan Hari Ibu itu lebih mengarah ke Mother’s Day masa iya sih kalau sekedar mengucapkan “I love you, Mama..”, harus menunggu setahun sekali, itu pun harus di bulan Maret atau Desember? Seharusnya bisa kapan saja kan? Selama saya berkomunikasi dengan orangtua saya berusaha selalu mengakhiri dengan bilang, “Love you, Ma/Pa..”

Tapi ya sudahlah, terlepas apakah hari ini diperingati sebagai Hari Ibu atau Mother’s Day, apapun makna dan esensi yang terkandung dalam peringatan di hari ini, secara khusus saya mau bilang sama Mama saya yang keren itu (kalau baca tulisan ini pasti si Mama bakal GR) :

“Terimakasih buat semuanya ya, Ma. Thousand words from a million language will never be enough to prove that I really love you.. love struck big hug

Untuk semua perempuan dimanapun kalian berada (halah), lagu ini buat kalian .. kiss

20 thoughts on “Hari Ibu bukan Mother’s Day

  1. sayangnya di Indonesia nggak ada hari khusus untuk worshipping motherhood itu jeng. sementara hari kebangkitan perempuan pun juga bisa dirayakan pada tanggal 21 April pas hari Kartini. lagipula para ibu juga pejuang kan? lifetime warrior malah, minimal berjuang meningkatkan kualitas kehidupan anak dan keluarganya big grin
    selamat hari perempuan Indonesia *muaachhh*

  2. @Alfakurnia : Ya wis, nanti tak usulkan untuk bikin Mother’s Day khusus Indonesia, gimana? smug
    *sok iye*

    @Maya : ihihi, saya juga baru tahunya tadi pagi pas menyimak pembacaan Sejarah Hari Ibu. Panjang ternyata, tapi akhirnya ngerti kalau sebenernya awalnya berasal dari kongres-kongresan itu.. big grin

  3. @hanggaady : woogh berarti kamu nggak sempet denger suara seksiku pas baca UUD 1945 ya? hee hee

    @wandy popok : lhaa, sama aja yak? yang sekarang hari ibu, nanti pas hari kartini juga harinya perempuan juga hee hee. Ya lebih beda esensi dan sejarah yang melatarbelakanginya aja kayanya.. big grin

  4. wink!
    sejarahnya begitu tohh. *manggutmanggut big grin*
    keren nih infonya happy

    dan Hymne Hari Ibu dan Mars Hari Ibu yang gimana ya, pengen dengeriiinn tongue

  5. Ooo hari Ibu yo ono upacarane barang yo? Wah kaet ngerti aku… happy suwun2 info tulisannya sangat bermanfaat winking(y)™$?i? big grin(y)™s?? winking(y)™ )

  6. Hahaha. Kalau aku tau pasti dateng, kalau perlu nongkrong dari jam 6 hehehe. Lagi batuk dan flu, takut malah pingsan nanti happy
    Ah nulis juga ah tentang topik ini hihihi

  7. Hiwhiwhiw.. Wah aku baru tau mbak Dev, kalo ternyata Hari Ibu itu ndak sama dengan Mother’s Day. Walaupun ndak ikut merayakan, tapi mengingat banyak banget yg transfer ucapan dan kata mutiara yg berhubungan dengan Hari Ibu di sms, bbm atau socmed” .. berarti masih banyak banget ya yg ndak mudeng soal ini. Thankyou ilmunya mbak Dev winking

  8. Pingback: La bellezza della semplicità » Blog Archive » Haruskah Berkebaya?

  9. Pingback: Komunitas Blogger Malang (Ngalam) » Haruskah Berkebaya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>