Metamorfosis & Buku Usang Masa Lalu

Pagi  ini buka facebook ada 1 email (lagi) dari teman lama jaman SMP. Beneran teman lama yang enggak pernah samasekali kontak sejak lepas SMA. SMA-pun kami beda sekolah walaupun masih sama-sama SMA tugu di daerah Malang. Dia SMA 1, saya SMA 3 Malang. Ketemu lagi di facebook dengan kondisi masing-masing sudah jauh berbeda (pastinya).

Teman saya ini menurut kacamata saya yang minus ini samasekali gak ganteng, tapi heran dulu kenapa banyak banget yang ngefans ya. Di tiap kelas ada. Saya dulu sampai mikir, “ah, apa menariknya sih? ganteng juga enggak.. Biasa aja deh perasaan. Kalau sok cool sih.. err.. iya. Jangan-janagn dia pakai susuk, lagi..” *dijeburin sumur*. Tapi anehnya dia ibarat magnet yang siap menarik perhatian wanita manapun. Jiaah, lebay sangatlah.. 😀 . Nah ketemulah kita di dunia pencak facebook ini. Komen pertama pasti “caci maki” diri masing-masing. Maksudnya, saling meledek perubahan masing-masing & membandingkan dengan moment terakhir ketemu. Hyaiyalah beda jauh, udah hampir 13 tahun yang lalu gitu, pastinya sudah ada metamorfosisnya. Masa iya seumur hidup mau terlihat keling, tengil & culun terus? Ulat aja berubah dari kepompong terus jadi kupu-kupu, masa iya kita berubah dari ulat bulu jadi ulat daun, kan ya gak mungkin.. 😀

Iseng dong kita kangen-kangenan.. eh, in positif way ya, kagak ada itu yang namanya tepe-tepe. Ngobrol punya ngobrol akhirnya saya punya ide bikin reuni SMP. Pasti bakalan seru tuh. Lha kok jawabannya gak disangka-sangka :

“ah, aku tahu kenapa kamu pengen reuni SMP.. Pasti kamu penasaran sama gebetanmu waktu itu kan?”, tebakan menyelidik ..
“hah, gebetan yang mana?”, ngeles
“jangan sok gak ngaku deh.. :p “

Saya tertawa :)). Jujur, saya malah gak kepikiran kearah sana lho. Justru saya membayangkan yang seru-serunya reunian setelah sekian lama nggak ketemu. Let me tell you, iya memang ada seseorang yang pernah susah banget dilupakan. Butuh waktu hampir 6 tahun untuk bisa bener-bener lupa sama sosoknya. Bayangkan, itu mulai jaman SMP lho, xixixi.. Centil banget deh saya ya  *sambil bedakan*

Boleh dibilang dia adalah sosok pertama yang bikin saya “ngimpi” bakal hidup happily ever after sama dia *toyor-toyor kepala sendiri*. Sosok yang sederhana, hitam manis, kurus, tinggi. Jaman dulu nih, namanya masih cinta munyuk (baca : monyet) pasti masih melihat lawan jenis dalam batasan fisik, ganteng atau cantik. Tapi seiring dengan bertambahnya usia pasti dong ada yang namanya pergeseran sosok ideal dari segi fisik ke segi-segi lainnya, misalnya kepribadian, background edukasi, intinya yang berhubungan dengan masa depanlah. Eh, tapi bukan berarti kalau saya akhirnya ngga jadi sama “si mas” ini lantaran dia tidak punya masa depan lho ya. Tapi saya lebih memandang karena memang dia bukan jodoh saya, itu aja. Toh sejak SMP-SMA kami hampir tidak pernah ketemu lagi, sampai sekarang..

Sampai disindir-sindir nih sama teman yang tadi di YM :

“emang kamu gak penasaran? gak pengen tahu kabarnya kaya gimana?”
“apaan sih? 😀 ”
“dia udah sukses lho sekarang.. Mau nomer HPnya ga? xixixi..kali aja bisa CLBK-an”
“hush..kamu belum pernah diiris tipis-tipis trus diperesin jeruk nipis ya?!”
“hahahahaha.. iya deh kagaaakk..”

Ya saya yakin dia juga sudah lupa sama saya, sudah berubah, sudah berkeluarga juga pastinya. Ya sutrah.. whatever & wherever you’re now.. err.. apakabar? long time no see. Semoga baik-baik aja, salam buat keluarga ya.. 🙂
*standar* :))

[devieriana]

Continue Reading

Suatu sore di belakang Setiabudi Building

Sore itu jalanan di belakang Setiabudi Building itu lengang, basah setelah diguyur hujan sejak siang tadi. Lelaki renta yang bungkuk itu berdiri di pinggir jalan di samping plastik besar yang berisi barang pulungannya. Kakinya telanjang, bajunya kumal & berlubang. Usianya mungkin sekitar 70an. Badannya kecil, tulang belulang & tubuhnya yang ringkih mengintip di sela bajunya yang compang-camping. Dia diam sambil tertunduk, bertahan dengan penyangka tongkat ditangan kirinya, menggigit bibir bawahnya seolah sedang menahan sakit yang luar biasa. Ya, kaki kanannya dibebat perban warna coklat, kakinya timpang. Badannya seolah ingin menumpu pada tongkat yang dipegang di tangan kanannya. Dia sendirian. Dia kesakitan. Entah apa yang sedang dirasakannya. Nyeri? Perih? Ngilu?

Saya berlalu. Walau sejurus kemudian saya kembali menoleh, jauh setelah saya meninggalkannya sendiri. Aduh, kenapa sih saya ini? Lambat sekali otak saya bereaksi. Kenapa setelah jauh saya baru ingin kembali?

“mas, kamu lihat bapak yang tadi gak?”, tanya saya pada suami yang menjemput saya sore tadi
“kenapa? kamu mau ke bapak itu?”, tanyanya. Ah dia bisa membaca pikiran saya rupanya..
“iya.. kasian dia mas, kaya orang kesakitan gitu. Sudah tua, sendirian pula. Mas keberatan gak kalau kita berbalik arah?”
“ya udah kita balik ke bapak tadi yuk..”

Ketika saya sampai di tempat bapak tua itu, posisinya ternyata masih sama. Menunduk dengan salah satu kaki setengah diangkat bertopang pada kayu yang dipegangnya sambil menahan sakit. Tas plastik besar itu masih teronggok di samping trotoar belakang Setiabudi Building. Saya turun dari motor, menghampiri dia. Saya raih pelan tangannya ..

“Pak, ini buat Bapak.. buat beli makan ya pak..”, saya menggenggamkan beberapa lembar uang ke tangannya yang dingin. Dia menatap saya seolah tak percaya. Mendadak matanya berkaca-kaca, dia menangis..Ya menangis, tergugu, sambil mengucap alhamdulillah berkali-kali.. Airmata saya meleleh pelahan. Dia menggenggam tangan saya, tulus dia berkata, “terimakasih banyak Neng, alhamdulillah, Allahu akbar.. Alhamdulillah ya Allaah..Neng, ..”, dia masih menggengam tangan saya. Saya meraih bahunya, menepuknya perlahan, “maaf ya pak, saya mungkin ngasihnya ga banyak.. “, bisik saya pelan, bingung & tak mampu lagi berkata-kata..
“Ya Allah.. terimakasih banyak Neng. Bapak doakan Neng dapat berkah yang banyak ya.. Semoga Allah memberikan segala kemudahan buat Neng.. Alhamdulillah ya Allah”, serunya parau sambil tak henti-henti  mengucapkan alhamdulillah & mendoakan kami. Kali ini airmatanya meleleh deras..

Saya menangis, kami bertiga menangis di pinggir jalanan yang sepi. Entah kenapa tidak ada seorang pun yang melintas saat itu. Mungkin salah satu cara Tuhan menyampaikan rezeki untuk bapak itu melalui kami ya.

Ini bukan cerita fiksi atau rekayasa. Pengalaman pribadi saya sore tadi selama beberapa menit bersama seorang bapak tua yang miskin & (sepertinya dia sedang) sakit 🙁 . Belum pernah sekalipun selama hidup saya mengalami kejadian seemosional ini dengan orang asing yang entah itu pemulung atau pengemis.  Selama ini kalau pengen ngasih ya sekedar ngasih, ngga pakai nangis, mewek, apalagi sampai meninggalkan kesan yang mendalam seperti tadi. Sepanjang jalan sampai di rumah saya masih menangis. Cengeng banget ya? Sedikit menyesal karena saya hanya bisa memberinya uang sekedarnya, mungkin nilainya tak seberapa.. 🙁

Jujur saya jadi malu pada diri saya sendiri. Seolah barusan Allah menyadarkan saya, betapa beruntungnya saya telah diberi kemudahan dalam mencari rezeki, kesehatan, kesempatan baik, keluarga & teman-teman yang menyayangi saya. Seperti merasa ditampar, ketika saya banyak mengeluh, terlalu banyak menuntut, kok sepertinya kurang bersyukur sekali saya ini..

Ah, jadi kangen sama kedua orangtua saya nih .. 🙁

[devieriana]

Continue Reading

perfect guy : kenapa masih single?

george clooneyMau cerita dulu yah.. *sambil menata posisi  duduk*

Bisa dikatakan “ritual” tiap pagi saya adalah mendengarkan keluhan, “mamiii.. komputerku mati, ga bisa diapa-apain udah di ping, restart” tetep ga mau nyala..”, atau “mbaak, intelixku ga bisa download, upload failure melulu”, atau “mbak, astridku kok lemot ya?”. Ya begitulah keluhan anak-anak under saya. Belum sempat duduk, naruh tas & nafas, sudah dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan aduan seperti itu.. Ok, tak apalah, namanya emak ya harus sabar ya :). Ditampung dulu satu-satu nanti baru diadukan ke yang lebih pinter menangani masalah beginian, hehehehe.. (kirain diselesaikan sendiri, xixixi.. Hyaa jelas enggaklah, secara basic saya bukan IT. Tar malah meledak semua PC anak-anak saya. Halah..)

Karena seringnya saya berhubungan sama aplikasi-aplikasi error ini akhirnya ya harus berhubungan sama teman-teman IT. Seperti halnya tampilan para IT’ers lainnya, kebanyakan penampilannya santai, dandan alakadarnya, bahkan kadang kucel. Yah begitu pula tampilan si Abang ini. Satu sisi kalau dia lagi dikejar deadline bisa hanya ngomong sepatah-sepatah kalau ditanya & kesannya jutek (walaupun kadang keliatan banget usaha bersikap nice-nya). Tapi kalau sedang santai dia bisa jadi manusia yang lucu & menyenangkan ketika diajak ngobrol. He’s just human, isn’t he? wajarlah, hehehe..

Tadi pagi saya sempat ngobrol sama dia, “bang, kamu itu aslinya baik banget lho orangnya. Gitu kok ya belum ada cewek yang nyantol ya? Kemana semua perempuan-perempuan ini? Ada high quality jomblo disini kok gak ada yang nengok ya?”. Dia tertawa & langsung menyentil telinga saya.

Mmh, apa iya semua wanita disini hanya melihat seorang pria dari sosok/tampilan luarnya saja? Berarti sama dong seperti pria yang katanya makhluk visual? *ditampar bolak-balik* Atau memang wanita diam-diam juga melihat secara physical seorang pria ketika kenal pertama kali? Ya iyalah, namanya juga punya mata, Neng.. 😀 . Banyak lho pria yang secara otak dia pintar, fisik juga ok, pekerjaan mapan, tapi kenapa belum mendapatkan pasangan? Salahnya dimana? Social life, communication skill, approaching skill-nya, atau apanya ya? Jadi ingat salah satu episode take Me Out Indonesia nih.. Kalau tidak salah dia seorang manager usia 40 tahun, goodlooking, tapi sayang tidak ada satu wanitapun yang menyalakan lampu untuk memberinya kesempatan. What’s wrong with this guy.. or .. hey woman, what’s wrong with all of you out there?

Ok, tidak ada seorangpun yang sempurna. Kalau mau nyari cacat-cacatnya ya semua orang pasti punya. Apa sih kriteria lain yang dicari seorang wanita dalam diri seorang pria yang sudah bisa dikatakan almost perfect macam itu?

[devieriana]

gambar ngambil dari sini

Continue Reading

Child Labour

Enggak tahu kenapa saya selalu tertarik membahas tentang pekerja anak, arahnya mungkin lebih ke prihatin sebenernya ya. Selain saya adalah pencinta anak (eh bukan yang suka ama anak kecil kaya fedofilers ya ;))), juga mungkin naluri wanita, naluri seorang ibu ya.. Sedih dengan kehidupan anak-anak yang terpaksa harus menjadi pekerja dibawah umur. Anak – anak yang seharusnya masih harus menempuh pendidikan, masih menikmati masa anak-anaknya terpaksa harus menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya. Di negara kita Indonesia tercinta ini tidaklah sulit menemukan pekerja anak.. & bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun..

Salah satunya adalah anak-anak yang bekerja di atas jermal. Jermal adalah semacam tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan. Jermal tersebut terpencil dan sulit dijangkau. Saya pertama kali mengenal istilah jermal saat saya membaca buku Readers Digest beberapa tahun yang lalu & sampai sekarang masih membekas. Dari situlah saya mengetahui bahwa jermal-jermal ini mempekerjakan anak dibawah umur (dibawah usia 15 tahun). Jermal sering ditemui di perairan di Sumatera Utara, perairan selat Malaka. Mending sih kalau mereka dibayar dengan upah yang layak & jam kerja yang layak pula. Beberapa waktu yang lalu sempat melihat tayangan Kick Andy yang membahas tentang peekerja anak (anak jermal) , kok mendadak saya jadi trenyuh ya. Mereka (anak-anak yang bekerja di jermal) ini hanya dibayar Rp 200.000/bulan, dengan libur hanya 2x selama sebulan, jam kerja yang tidak pasti (subuhpun mereka masih bekerja. Kurang jelas antara masih bekerja atau sudah mulai bekerja) . Kasihan banget saya liatnya..  🙁

Padahal, seharusnya anak-anak seusia mereka yang masih usia sekolah mereka juga memiliki : hak hidup, hak tumbuh & berkembang, hak untuk mendapatkan perlindungan, dan hak untuk berpartisipasi (didengarkan pendapatnya). Namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa akar semua ini adalah :  kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, pola pikir yang keliru tentang menjadikan anak sebagai tumpuan nafkah keluarga, serta masih belum maksimalnya law enforcement (undang-undang yang benar-benar melindungi hak-hak anak).

Suka sedih melihat mereka harus berpeluh-peluh diantara sampah, hujan, & rawannya kriminalitas kota besar. Padahal seharusnya mereka menikmati masa kanak-kanaknya dengan indah ya.. Semoga sih kedepannya jumlah pekerja anak di Indonesia bisa makin turun ya.. Amin..
Bisa enggak sih? .. Wallahualam.. 🙁

Bersyukurlah kita & anak-anak kita yang bisa melalui masa kecil dengan indah & mengalami tumbuh kembang sesuai usianya..   🙂

 

Selamat Hari Anak Nasional.. We do love you..

 

[devieriana]

Continue Reading

Ngidam : Keinginan Bayi atau Ibunya?

pregnant ladyKita sering mendengar kata ‘ngidam‘, kan? Buat para wanita yang sudah pernah merasakan hamil dan ngidam pasti tahu bagaimana rasanya ngidam. Ngidam adalah suatu rasa yang “kepengen banget” terhadap sesuatu yang kebanyakan dirasakan oleh para ibu hamil, dan kadang suka jadi alasan, “eh, ini keinginan bayinya, lho”, walaupun sekarang mengalami menjadi kata-kata umum untuk menggambarkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan.

Kita coba spesifikkan ke ngidamnya para ibu saja, ya. Yang namanya ngidam datangnya suka sekonyong-konyong, mendadak, dan tidak bisa diprediksi. Tidak pandang waktu, cuaca, situasi, dan kondisi. Bisa saja pagi-pagi buta, tengah malam, atau tengah hari bolong. Jenis keinginannya pun tidak tanggung-tanggung, dan terkadang juga aneh. Permintaannya mulai ‘kelas standar’ sampai ‘kelas mahal’. Yang standar sih cuma minta mangga muda (yang setelah dibelikan sekilo cuma diiris ujungnya aja habis itu udahan), ada juga yang tengah malam minta sepaket nasi kuning lengkap. Nah yang kaya gini nih yang mulai aneh…, tengah malam buta mana ada yang jual nasi kuning, coba? Kalau teman saya lebih lucu lagi, pengen makan bakso tapi minta ditaruh dalam mangkok gambar ayam jago, dan yang jualan harus berkepala gundul. Yaelah, mau makan bakso aja ribet bener, ya? ;)) Kalau yang kelas berat contohnya tiba-tiba pengen mobil, rumah mewah, sampai dengan perhiasan emas dan berlian, dan berbagai macam keajaiban ngidam lainnya. Kalau yang emas berlian itu isterinya teman saya, hihihi… Kadang masih suka takjub aja kalau dengar ceritanya, “Pah, tadi pas abis bangun tidur mendadak aku pengen gelang emas yang ada mata berliannya… Beliin ya, Pah. Ini yang minta bayinya lho. Kalo nggak diturutin nanti bayimu ngileran!”  Nah, kalau ini sudah mulai nggak jelas, nih. Beneran itu keinginan bayinya? 😕

Sebenarnya ngidam itu harus atau enggak sih selama hamil? Apakah benar mitos yang menyebutkan kalau ngidam tidak keturutan nanti anaknya suka ngiler? Ngidam itu keinginan ibu atau bayinya? Apakah ngidam itu sebagai ‘sarana’ mencari perhatian suami/keluarga? 😕

Pas saya hamil untungnya tidak sampai ngidam kelas berat, paling unik cuma mendadak makan mie instant yang dibikin di warung tegal depan gang, sama pengen foto-foto di taman bunga ;)). Kalau makan mie instan itu harus berantem dulu sama suami, alasannya kan kurang higienis dan nggak sehatlah. Bahkan dibikinkan suami yang bentuknya sama persis pun sama bikinan mas-mas di warung depan, lengkap dengan telur dan sayuran, nggak saya makan dan akhirnya  dimakan sendiri sama suami saya ;)). Kalau keinginan foto-foto itu munculnya jam 12 malam. Hahaha, serem ya? ;)). Nah, kalau ini saya masih bisa compromise sama suami, kita foto-fotonya besok paginya saja di TMII, kebetulan besok hari Minggu.

Nah, sekarang coba bandingkan dengan ngidamnya beberapa teman yang pengen dibelikan mobil, handphone baru, sampai gelang emas berukir ini itu & bermata berlian. Ini bukan saya iri lho, cuma ‘kagum’. “Ya namanya juga bawaan bayi say, nanti kalau nggak dituruti bayinya bisa ngiler-ngiler lho..,” begitu pembelaan sang bunda kalau saya komentari, “ngidammu kok mahal banget, ya ;))” Beruntung suami-suami mereka pas orang mampu, jadi soal permintaan-permintaan yang sesuatu itu nggak masalah. Lain lagi kalau suami pas budget-nya pas-pasan terus isterinya minta dibeliin barang-barang kaya tadi, apa ya cuma bisa mengelus dada? ;))

Kalau dilogikakan, mana mungkin bayi sekecil itu sudah mengerti perhiasan, pakai milih pula harus yang modelnya begini-begitu. Lha wong, melihat keadaan di luar perut ibunya saja dia belum mengerti, apalagi masalah mobil, rumah, handphone dan aneka jenis dan bentuk perhiasan itu tadi.  Jadi kasihan sama bayinya, demi alasan ngidam, bayi kok seolah jadi dibuat ‘tameng’ untuk meluluskan keinginan sang ibu, ya? “Oh, jadi kamu mau ngomong ‘ngidam’ itu aslinya  keinginan ibunya, gitu?” Mmmh, kayanya sih begitu ;))*dijambak*. Agak terkesan ‘aji mumpung’ gitu. Mumpung hamil, kan perhatian suami tercurah ke bunda dan calon buah hati nih. Belum tentu kalau pas lagi nggak hamil semua keinginan bisa dituruti ;)) *digerus pake ulegan*

Jadi bagaimana menurut kalian, sebenarnya ngidam itu keinginan bayi atau ibunya? :-?. Ah ya, biar kali ini saya nulis  postingan dengan ending menggantung :))

[devieriana]

gambar diambil dari sini

Continue Reading