Jagalah dia, Tuhan ..

Lelaki tua itu mendorong gerobaknya sambil tertatih. Tubuhnya bungkuk & terlihat begitu renta. Gerobak kecilnya berisi berbagai barang loakan. Ada beberapa bekas botol mineral, majalah usang, sepatu & sandal bekas, serta beberapa kalung warna-warni menjuntai di leher botol mineral.

Warna pakaiannya sudah tak bisa lagi dideskripsikan dengan jelas. Entah putih, abu, coklat, atau krem. Begitu pula celana yang digunakannya. Lubang-lubang kecil menghiasi di beberapa bagian celananya. Dia juga menggunakan sepatu. Sepatu keds usang warna putih (tentu sudah jauh dari warna aslinya), yang ujungnya berlubang, membuat jemari kakinya menyembul di balik sepatunya yang sudah tak layak pakai itu. Sol sepatunyapun sudah terlihat tak melekat. Menganga disana-sini.

Sesekali dia berhenti untuk sekedar menghela nafas, lalu berjalan kembali mendorong gerobak kecilnya sambil tertatih. Seorang pemuda penjual roti menghentikan sepedanya, mengulurkan sebungkus roti dagangannya kepada lelaki renta itu. Wajahnya yang letih terlihat sedikit sumringah menerima roti dari tangan pemuda itu sambil mengucap “terimakasih” yang terbaca dari bibirnya yang pucat. Diapun menghentikan gerobak & memarkirnya di depan gedung bertingkat yang pekerjanya terlihat sibuk lalu lalang mengejar waktu. Dinikmatinya sepotong demi sepotong roti itu. Lahap. Sambil sesekali dia mengulas senyum ditengah kunyahan di bibirnya.

Saya tersenyum padanya. Lelaki itu, masih lelaki tua yang sama yang kadang melintas di depan Atrium Mulia, kantor saya. Hanya segelintir orang yang mau peduli padanya. Kadang hanya melirik tanpa melakukan apa-apa. Pernah saya sengaja berhenti hanya untuk sekedar menyapa.

“Mari pak.. Saya duluan..”

Dia mengangguk sambil tersenyum. Mungkin heran lantaran masih ada yang mau bicara dengannya. Karena kebanyakan makhluk kantoran macam kami terlalu sibuk dengan hal remeh-temeh macam itu. Jangankan buat menegur, masuk kantor pas jam 08.00 saja sudah bagus. Jadi buat apa harus membuang waktu hanya untuk menyapa orang macam bapak tua itu?

Pagi ini saya mencarinya. Entah kenapa 2 hari ini bayangan bapak tua itu mondar-mandir di kepala saya. Benar-benar kepikiran. Sampai tadi pagi saya juga menggumam sendiri sambil siap-siap berangkat kantor,

“bapak tua yang suka ndorong gerobak itu kasian banget ya..”
“iya..”, jawab suami saya

Saya kaget sendiri. Ternyata matanya sama dengan mata saya. Yang saya pikir dia tidak pernah memperhatikan, ternyata memberi perhatian juga pada bapak itu.

Diam-diam saya berdoa dalam hati, “Ya Allah.. beri saya kesempatan untuk bertemu lagi dengan bapak itu ..”. Apakah Tuhan akan mengabulkan & kembali memberi kesempatan pada saya untuk mengulang moment emosional seperti kisah Suatu sore di belakang Setiabudi Building? Entahlah.. Saya hanya berdoa, semoga dia baik-baik saja.

Sebentar lagi Ramadhan tiba. Apakah dia juga ikut menjalankan ibadah puasa layaknya kami? Atau.. justru berpikir tak ada bedanya puasa Ramadhan tahun ini atau tahun-tahun sebelumnya dengan hari-hari yang dilaluinya selama ini lantaran dia hampir setiap hari dia berpuasa karena tidak ada yang bisa dimakan?

“Semoga Tuhan memberi kita kesempatan untuk bertemu lagi ya Pak. Hanya sebuah doa yang bisa kukirimkan untukmu,  jika Tuhan masih mengijinkanmu untuk bertemu Ramadhan tahun ini, selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga semua amal kebaikan & ibadahmu diterima Allah SWT..

Allah senantiasa menjagamu Pak Tua.. “

—————————

To all : Selamat menjalankan ibadah puasa.. Semoga amal ibadah & puasa kita tahun ini diterima Allah SWT, dan semoga kita menjadi insan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.. Amien..

[devieriana]

Continue Reading

Seleb Juga Manusia

Marshanda & video-video youtube-nya spontan jadi perbincangan minggu ini. Tak heran karena serangkaian video “gak penting” dia menghiasi youtube. Reaksinya beragam, tapi tak sedikit yang berkomentar miring/negatif. Apalagi video response-nya yang juga tak kalah lucu & dibuat-buat. Whatever. Itu hak kalian..

Ketika semua sedang ramai memberitakan, menertawakan, menggunjingkan, mencaci maki Marshanda, saya kok miris ya. Saya melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ada apa dengan Marshanda? Kenapa dia berbuat seperti itu, mencaci maki teman SD-nya, menampilkan sosok lainnya sebagai seorang artis dari image kalem, lemah lembut & manis, berubah seketika menjadi sosok yang bisa membuat banyak orang terperangah. What? Itukah Marshanda?

Selebritis juga manusia. Punya sisi aneh, unik, gila, bejat, bodoh, tolol, alpha, sama seperti manusia lainnya. Wajar, namanya juga manusia,  bukan malaikat. Kalau malaikat ngapain juga upload-upload video gak penting kaya begitu di youtube, iya kan? Yang ada juga pada sibuk nyatet amal ibadah kita di dunia.

Sama halnya dengan Marshanda, dia pasti juga punya sisi sewajarnya manusia. Gak mungkin selamanya bisa tampil sempurna. Wong sudah berusaha tampil sempurna aja masih dicacatin, dicari-cari sisi buruknya. Iya  kan? Capek lho kalau harus menuruti image & tuntutan publik bahwa seorang selebritis itu wajib & harus selalu tampil sempurna. Mereka juga ingin dikenal sebagai sosok pribadi apa adanya, bukan figur artisnya. Berbahagialah kita yang bisa hidup bebas tanpa kuntitan kamera & wartawan infotainment. Jangankan masalah upload video di youtube, kalian jalan ke warung pakai daster doang bisa-bisa besoknya masuk infotainment & dinarasikan

“artis Z diketahui hanya bisa belanja di warung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Apakah ini seiring dengan turunnya popularitasnya di kancah dunia hiburan sehingga dia sudah tidak mampu lagi memenuhi standar hidup layaaknya seorang selebritis?”.

Mbook, ini cuma gara-gara ketahuan belanja diwarung buat beli vetsin doang, narasinya bisa jadi seenak imaginasi sang script writer ya? Masa iya sih cuma beli vetsin doang mesti dandan dengan make up lapis 7 kaya Krisdayanti?

Memang, banyak yang menyoroti sisi etika Marshanda ketika menyebut nama-namateman SD di video itu seolah dia benci banget dengan orang-orang yang disebutkannya itu. Tapi teman, coba deh lihat lebih dalam ke kehidupan Marshanda. Background kehidupannya gak semulus karirnya didunia hiburan. Ketika sekarang dia berubah total dari sosok yang kalem menjadi sosok yang lebih “berani”, saya melihat itu sebagai proses dari sosok polos & manisnya anak-anak menjadi sosok yang lebih dewasa. Itu pertama. Kedua,  dia seorang anak korban bullying semasa sekolah dulu. Saat itu dia hanya bisa diam & tidak berani melawan. Ketiga, dia besar dalam keluarga yang broken home. Praktis, perhatian & kasih sayang keluarganya tidak semaksimal anak yang hidup ditengah keluarga yang utuh. Bisa jadi diapun tidak punya tempat untuk berbagi senyaman kita. Dia tidak tahu harus share ke siapa, kemana, bagaimana cara menyelesaikan masalahnya. Bisa jadi she trusts no one now. Keempat, karirnya sekarang juga ga sebagus kemarin-kemarin, mulai sedikit redup. Bisa jadi dia stress karena banyak hal. Memikirkan karir, sekolah, masalah keluarga.

Maaf kalau saya kesannya sok tahu ya temans.. Cuma ingin berbagi, cuma ingin share apa yang ada di pikiran saya saja. Ketika semua mulai membicarakan, mentertawakan, mencaci maki. Cuma 1 yang terlintas di pikiran saya. Kasihan. Ya karena saya melihat dia beyond all those things. Itulah kenapa saya tidak ingin ikut mentertawakan kekonyolan dia ataupun video-video responses-nya. Even dia sendiri santai menanggapi respon publik.

Saya bukan & tidak pernah menjadi bagian dalam dunia selebritis, tapi saya tahu betapa beratnya menyandang gelar selebritis itu. Kalian pikir nyaman keluyuran di mall/cafe dengan paparazzi ada di kiri kanan kalian, kamera infotainment nyolong-nyolong menyorot kalian dari kejauhan, atau tiba-tiba ada yang mendadak menyodorkan microphone menyodorkan pertanyaan untuk konfirmasi padahal kalian lagi pengen santai dengan keluarga?

Ada satu hal yang bisa saya ambil sisi positifnya disini, kalau kita tidak ingin menjadi bahan tertawaan & bahasan publik, mulai pilah & bedakan mana area pribadi & mana area publik. Apapun itu jika area pribadi sudah menjadi konsumsi publik itu juga kurang bagus. Pintar-pintar memilih objek untuk di share ke masyarakat luas. Jika Anda adalah publik figur berarti apapun yang Anda lakukan (baik/buruk) sudah pasti akan disorot oleh masyarakat. Dan jika itu adalah keburukan… selamat, Anda akan menjadi topik pembicaraan masyarakat (meskipun bisa saja Anda ngeles dengan mengatakan, “I don’t care.. Go to hell !!” ). Sekalipun Anda selebritis, pikirkan juga untuk tetap menjaga nama baik keluarga. Karena, apapun yang Anda lakukan keluarga pasti akan tersangkut-paut.

Jadi, siapa bilang jadi selebritis itu selamanya enak? Masih mau jadi selebritis? 😉
*dilempar mikropon & kamera infotainment*

 

 

[devieriana]

 

Continue Reading

Maafkan aku mencintai suamimu..

forbidden love

Wanita cantik itu seperti biasa, selalu terlihat bersemangat di tengah aktivitas paginya. Senyum cerah mengembang diantara kedua pipinya. Sapaan hangat pada setiap orang yang berpapasan dengannya meluncur disela bibir yang tersapu lipstik nude warna pink. Stiletto Manolo Blahnik & stelan Michael Korrs pagi itu membalut tubuhnya dengan sempurna. Ah, cantik sekali dia pagi ini. Aura wajahnya bersinar-sinar bagai gadis yang tengah jatuh cinta..

Ya, dia sedang jatuh cinta.. Bak seorang remaja yang baru mengenal cinta, love is in the air.

Semerbak segar aroma Gucci – Envy Me langsung menghembus ke seisi ruangan. Sesaat kemudian jemarinyapun dengan lincah menyalakan laptop & mulai mengetikkan sandi di yahoo messengernya. Tak lama , dia sudah terlihat asyik dalam perbincangan maha mesra dengan seseorang diujung sana.

Lelaki itu, seorang eksekutif muda yang tinggal di benua Eropa untuk menyelesaikan studinya di Jerman. Terpikat pesona wanita cantik itu dari situs pertemanan. Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk saling bertekuk lutut diujung anak panah sang cupid. Ya, sampai kini mereka masih jatuh cinta. Cinta seorang wanita & lelaki dewasa.

Ah, saya lupa bercerita..

Continue Reading

Dad, I hate you, but you're dying now

hands

Dahinya berkerut, bibirnya setengah menggumam tak jelas, matanya nanar melihat kearah kedip ponsel di samping  keyboardnya. Saya melirik sekilas, setelah itu kembali konsen dengan setumpuk kerjaan yang harus saya genapkan hari ini. Sementara di kubikel lain teman-teman bercanda riuh saling meledek satu sama lain. Cerah ceria, maklum baru gajian. Saya menimpali sesekali sambil tetap konsen ke follow up komplain ketidaksesuaian hasil kerja team saya.

Beberapa waktu berlalu handphone itu berdering lagi. Reaksinya tetap sama, kening berkerut, gumaman tak jelas & kembali cuek dengan “teriakan” handphonenya.

“Nomer siapa sih ini, telpon-telpon melulu?”, sungutnya kesal. Saya lepas headset & mulai memperhatikan,
“ya harusnya tadi diangkat aja kan gapapa dear..”
“ah males mi, gak kenal nomernya.. pasti iseng”

Begitulah dia. Nomor tak dikenal = orang iseng. Entah karena terlalu sering dia menerima telepon iseng ya sehingga digeneralisir semua nomor tak dikenal itu nomor orang iseng. Dia yang terlalu ngetop barangkali *nyengir*

Sampai kejadian itu berulang ketiga kalinya. Kali ini bukan hanya saya tapi juga teman yang lain yang juga memperhatikan gaya cueknya dia mengacuhkan telepon. Kali ini rupanya bujukan kami berhasil. Diangkatnya telepon selular itu. Kalau dilihat sepintas dari suaranya yang terdengar melunak & terdengar lebih familiar pasti suara di seberang sana orang yang sudah dikenal.Dia beranjak dari tempat duduknya & keluar ruangan.

Sepuluh menit kemudian dia kembali. Namun wajahnya terlihat sedikit bimbang & gusar.

“ternyata siapa say?”
“oh, tanteku..”, jawabnya datar
“tuh kan, ternyata tante yang telpon kan? emang kamu gak simpan nomernya?”
“dia ganti-ganti nomer mulu Mbak, jadi aku ga update nomornya yang mana”
“Oh, ya udah kalo gitu. Eh tapi..”, saya berhenti sejenak takut pertanyaan selanjutnya terlalu pribadi buat dia. Walaupun akhirnya saya lanjutkan juga..
“err.. kamu gapapa kan?”
Dia diam, wajahnya mendadak berubah, “papa sakit Mbak. Sekarang lagi di RS.. Tadi Om bilang papa sempat.. udah ga napas lagi..”

Saya tercekat. Saya tahu bagaimana hubungan ayah-anak ini. Dulu anak saya satu ini sering curhat sama saya tentang apa saja. Anaknya sedikit tertutup, tapi entah ya, dia selalu cerita sama saya termasuk beberapa hal yang saya anggap urusan pribadi.

Orangtuanya berpisah ketika usia dia & saudaranya masih kecil. Saya kurang tahu pasti masalahnya seperti apa, tapi yang jelas dia punya kenangan buruk dengan sang ayah. Sayangnya waktu tak bisa memupuskan kebenciannya kepada sang ayah yang telah mengukir raganya & sekarang tengah berjuang mempertahankan nyawa di RS. Saya hanya bisa menyarankan untuk meluangkan sedikit waktu yang dia punya untuk sekedar berjumpa dengan sang ayah. Dia sempat berkeras, “tidak sekarang!”.

“dear, kita gak pernah tahu sampai kapan umur seseorang. Apalagi dia papa kamu. Tanpa dia kamu gak akan pernah ada. Ya jenguklah walau sebentar..”
“ah dia udah baikan kok..Dia cuma kecapekan sama ga tau deh ada sakit apa lagi gitu”, jawabnya setengah cuek.
“dear.. yakin kamu gak bakal nyesel kalau kamu ga ketemu lagi sama beliau untuk selamanya? Bukannya ngedoain ya, tapi sekali lagi, kita ga pernah tahu kapan Tuhan akan mengambil nyawa orang terdekat kita. Sebenci-bencinya kamu sama dia dia tetap orangtua kamu. Bukalah hatimu sedikit. Bukan saat yang tepat untuk mempertahankan ego di saat seperti ini. Apalagi ini menjelang Ramadhan. Wis tho, kamu bakal nyesel ketika kamu sadar sebenarnya bisa meluangkan waktu sebentar untuknya tapi kamu gak memberikan kesempatan buat dia.. Just give him a hug & kiss..”

Dia diam, sampai akhirnya dia luluh & mengalah,

“ok, aku akan pergi ke Bekasi, tapi mungkin baru bisa besok atau lusa. Hari ini waktunya udah mepet Mbak..”
“Ya terserah kamulah, yang penting luangkan sedikit waktu buatnya. Seburuk-buruknya dia di mata kamu, sejahat-jahatnya dia sama kamu di masa lalu, dia tetap papamu.. Janji jenguk ya ..”
“iya Mbak..”, sahutnya pelan.

Saya nggak tahu apa yang ada di benak & pikirannya sekarang. Apakah mungkin dia tengah bergulat dengan egonya? Entahlah. Jujur, saya jadi ingat sama papa saya. Kangen sekali sama beliau. Sosok yang juga tak sempurna, tapi selalu berusaha sempurna dalam menyayangi kami bertiga & mama. Seorang yang fun & paling mengerti karakter saya. Beruntunglah kita yang masih dikaruniai orangtua yang masih sehat, terlepas apakah mereka masih bersatu atau sudah tidak bersama lagi. Merekalah harta paling berharga dalam hidup kita. Tanpa mereka tentu kita tiada..

Dear parents, we love you

 

gambar dari sini

Continue Reading

Anak Indigo & Sixth Sense-nya

chakrasystemGara-gara postingan simbok tentang Cerita Malam (kemampuan melihat dunia lain), jadi ingat 2 tahun lalu ketika saya masih jadi trainer & leader di Surabaya nih. Waktu itu kantornya masih di Jl. Basuki Rahmat. Gedungnya sih gak serem, tapi entah ya kenapa selalu saja ada yang melihat penampakan disitu. Kalau bapak-bapak security disitu sih sudah kebal mungkin ya sama hal-hal beginian. Melihat ada “orang” pakai baju putih duduk diatas genteng dengan kaki menjuntai diatas pos satpam jam 12 malam sudah biasa. Atau pas lagi ronda malam trus di lift ketemu sama “mbak-mbak” pakai baju putih dengan rambut seluruhnya menutup muka, sudah biasa. Tapi kalau kita yang bukan “penduduk” ya kederlah. Ya mungkin namanya juga gedung, pastilah ada penunggunya. Selama kita gak mengganggu ya insyaallah ga akan ada apa-apa (gak minta juga deh).

Yang ingin saya bahas ini tentang fenomena indigo atau anak yang berkemampuan supranatural. Hal ini sebenarnya sudah mengemuka puluhan tahun yang lalu. Istilah “indigo” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi biru dan ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu. Menurut para ahli, warna-warna tersebut diidentifikasi melalui cakra di tubuh. Letak indigo ada di kening, persis diantara cakra leher yang berwarna biru dengan cakra puncak kepala yang berwarna ungu. Prinsipnya cakra memiliki spektrum warna merah sampai ungu, seperti warna pelangi.

Cakra leher (tenggorokan) yang berwarna biru adalah wilayah yang tertandai berdasarkan penggunaan penalaran dengan optimalisasi fungsi otak. Dan indigo sifatnya spiritual. Istilah “anak indigo” atau indigo children merupakan istilah baru yang ditemukan konselor terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe.. Seperti halnya film Sixth Sense yang diperankan oleh Haley Joel Osment & psikolog anak yang diperankan oleh Bruce Willis, kebanyakan dari mereka ketika difoto aura, hasil foto aura mereka berbeda dengan kebanyakan dari kita, auranya berwarna nila & IQ-nya diatas 120.

Kemampuan supranaturalnyapun pun bermacam-macam, selain bisa melihat makhluk atau materi-materi halus yang tidak tertangkap oleh indra penglihatan biasa alias indra keenam, mereka juga bisa melakukan telepati, melihat masa lalu/masa depan, juga punya kemampuan berkomunikasi/berbahasa yang bagus. Fisik anak-anak indigo sama dengan anak-anak lainnya, tetapi kebanyakan dari mereka batinnya tua (old soul) sehingga tak jarang memperlihatkan sifat orang yang sudah dewasa atau tua jauh diatas usianya. Sering kali dia tak mau diperlakukan seperti anak kecil dan tak mau mengikuti tata cara maupun prosedur yang ada. Kecerdasannya pun di atas rata-rata.

Ada salah satu diantara agent callcentre yang kebetulan anak buah saya yang bisa melihat penampakan mulai yang dia kategorikan serem sampai yang biasa aja. Mau yang namanya serem, biasa aja, atau lucu sekalipun kalau hantu mah thanks ya.. but no, thanks.. *kabur jejeritan* . Selain melihat penampakan dia juga bisa komunikasi dengan ibunya yang beda kota dengan telepati (hebat gak tuh? jaman sekarang masih bisa telepati. Kalau saya sih telepon sama sms aja deh), dia juga meramal & membaca garis tangan. Makanya dia dijuluki Madam Diana atau Mama Loreng.. 😀

Pernah kalau sambil tandatangan form konseling suka sambil ngobrol sama saya :

“mam, sampeyan pernah liat hantu gak?”
“halaah, enggak, gak mau.. nonton film horror yang bikinan manusia aja aku keder, apalagi yang beneran..Kenapa? jangan bilang kamu mau kasih liat ya.. timpuk nih..”, ancam saya sok galak, tapi asli saya takut beneran padahal adegannya siang bolong lho..
“hehhehe, enggak.. Benernya mereka itu baik kok, gak bakal ganggu kalau kitanya juga ga ganggu..”
“tapi mana kita tahu kalau kita udah gangu mereka atau enggak? Kadang kitanya gak ganggu aja suka digangguin sama mereka, suka dikasih penampakan”
“iya sih.. tapi setauku mereka disini baik semua kok, cuman emang ada yang agak jutek, iseng & suka gangguin..tuh, kuntilanak yang ada di toilet cewek, suka ngagetin tiba-tiba muncul gitu..”

Hyaaa.. merinding gueeeeee.. Dia cerita seperti yang diceritakan itu manusia juga, padahal makhluk halus. Omaigat..

Diana ini adalah salah satu anak indigo yang pernah diwawancara oleh Pro2 FM Surabaya beberapa tahun yang lalu. Di keluarganya hanya & dia, ibunya & om-nya yang memiliki kemampuan seperti itu. Di usia SMP dia sudah bisa mencari uang sendiri dengan memberi kursus bahasa Inggris yang muridnya diatas usianya (SMA & mahasiswa). Yang membuat saya makin melongo adalah di awal masuk SMA dia sudah bisa membantu mengerjakan skripsi mahasiswa (you know-lah ada kalanya mahasiswa-mahasiswa itu malas, tidak mengerjakan skripsinya sendiri, alias orang lain yang mengerjakannya).

Pernah juga saya iseng tanya sama dia kenapa kalau hari Jumat dia masih menggunakan stelan kerja lengkap dengan jas? Padahal hari Jumat boleh pakai jeans (santai tapi sopan). Dia jawabnya begini :

“mbak, aku tuh ga bisa pakai jeans.. Ibuku tuh pasti tahu kalau aku pakai jeans ke kantor. Nanti pasti dia akan ngeroweng (baca : ngomel) seharian. Aku gak bisa konsentrasi..”
“lah, kan ibumu gak tau kamu kerja pakai baju apaan. Kan dia gak di Surabaya”
“iya mbak.. dia itu bisa ngeliat aku dari jauh. Sekalinya aku membangkang pasti suaranya bakal ada dimana-mana..”

See, dia memang tumbuh dengan pribadi yang unik, tapi dia menyenangkan. Jawabannya yang polos, lugu & beda bisa membuat saya geleng-geleng kepala sekaligus tertawa. Saya juga pernah dinasehati panjang lebar sama dia.
Padahal usianya terpaut 4 tahun dibawah saya. Begitulah kalau old soulnya lagi keluar.

Begitu juga dengan salah satu putri dari sahabat yang juga bisa melihat makhuk dari dimensi lain ketika diajak jalan-jalan ke Musium Fatahillah :

“ibu, kenapa orang itu melihat aku terus?”
“mana? ibu gak ngeliat ada orang disini”, jawab ibunya sambil celingukan ke arah seluruh ruangan
“itu bu, yang ada di pojokan..”, tunjuk si anak

Ibunya langsung merinding..

atau ketika istirahat di taman, munculah pertanyaan ini :

“Bu, kenapa orang itu dirantai & dipenjara? kasian sekali dia. Dia meringkuk di sel bawah tanah..”

Ibunya hanya bisa menelan ludah tak bisa komen apa-apa. Tapi dia sadar kalau buah hatinya itu bisa melihat dunia lain. Jadi ya mulai terbiasa. Tapi dia mengaku masih suka belum siap kalau seketika dibilang ada “seseorang” disebelahnya dengan penggambaran detailnya seperti apa.. Hyaiyalah, saya aja nulis ini sambil merinding disko.

Anak indigo paad umumnya bisa menjelajah ruang dan waktu. Artinya ketika tubuh anak indigo berada di suatu tempat, pada saat bersamaan dia tahu apa yang terjadi di lokasi lain. Mereka juga lebih banyak bertanya & lebih kritis. Jika orangtua tidak mengerti bahwa anaknya indigo, si anak akan cenderung memberontak, agresif, dan nakal. Selain itu ciri lain anak indigo adalah mereka lebih suka menyendiri. Begitu berada pada suatu situasi atau lingkungan baru, anak indigo akan mencermati keadaan sekelilingnya dengan sangat teliti. Kemampuan mereka mengenal suasana dan individu juga luar biasa.

Sama halnya dengan Diana. Dia memang pendiam, tapi sejak awal dia sudah tahu siapa & bagaimana karakter saya (padahal baru kenal), bagaimana situasi & kondisi tempat kerjanya, serta siapa saja yang ada disitu (yang visible & invisible), dll.

Mereka memang berbeda, tapi mereka bukan anak aneh. Mereka suka berbicara sendiri, dapat melihat masa lalu dan masa depan serta cenderung lebih matang dari usianya. Kecerdasan anak-anak Indigo juga di atas rata-rata dan mereka mampu melakukan hal-hal yang bahkan belum pernah mereka pelajari sebelumnya. Karena sering bicara sendiri, banyak orangtua anak Indigo menyangka anak mereka menyandang autisme atau hiperaktif,
padahal bukan. Tapi melalui penanganan & pendekatan yang tepat mereka akan berkembang normal seperti teman-teman lainnya. Selain itu juga salah satu jalan supaya para orangtua lebih legowo dalam menerima kelebihan sang anak adalah mengembalikan kemampuan sang anak sebagai wujud kebesaran Tuhan. Karena bagaimanapun semua tidak akan terjadi tanpa seijin-Nya bukan?

Sebenarnya masih banyak cerita menarik tantang fenomena indigo ini. Mungkin selanjutnya ada yang mau share tentang pengalamannya bersama mereka?

Monggo.. 🙂

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=Lz3LUEklLRU&hl=en&fs=1&]

Continue Reading