Kisah Hidup dalam Sebuah Taksi

Hari ini setelah seharian diterpa “badai” telpon komplain, emailing & negosiasi sana-sini ditambah curhatan masal dari seluruh Indonesia tentang THR & teman-temannya akhirnya baru bisa pegang kerjaan sendiri sekitar jam 14.00, itupun sudah dengan “hawa” kurang bersemangat & pengen pulang, lantaran sudah terlalu sore untuk mulai kerja sementara pikiran & energi saya sudah tercurah untuk mengurusi tetek bengek masalah hak & kewajiban anak-anak saya sejak pagi.

Berhubung hari ini saya & suami ada buka bersama di kantor masing-masing jadi ya nggak bisa pulang bareng. Okelah tak apa, dan sayapun memutuskan untuk naik taksi. Lumayan kan bisa sedikit rileks.

Ternyata driver taksi yang saya tumpangi termasuk orang yang suka ngobrol. Awalnya saya pikir, “ah.. bapak ini cuma pengen basa-basi aja kali ya..”. Tapi ketika saya sadar bahwa dia nggak bisa berhenti ngobrol, akhirnya sayapun mulai mengkonsenkan diri dengan obrolan pak supir yang ternyata asli Cilacap (Jawa Tengah) itu.  Sebenarnya ini bukan kali pertama saya diajak ngobrol & curhat sama seorang supir taksi. Kebetulan saya memang “pawakan” (bakat) dicurhati orang. Dan ini pengalaman kedua saya dicurhati seorang supir  taksi.

Cerita itu mengalir sejak saya naik sampai saya tiba di tempat tujuan. Cerita unik tentang kehidupannya dia, pertemuan dengan istrinya, kebanggaan terhadap keluarganya, cita-citanya,  kecintaan & hormat kepada kedua orangtuanya. Kepandaian kedua buah hatinya & kerinduannya terhadap keluarga di Tegal. What a perfect family, pikir saya. Di sela-sela kisah hidupnya saya sempat berpikir, apa iya dia juga menceritakan hal-hal seperti ini ke semua penumpang dia atau cuma ke saya aja?

“Dulu saya nggak pernah cinta sama istri saya lho mbak..”

“ha? kok bisa pak? bapak dijodohin?”

“dijodohin sih enggak, ada “adat” di daerah istri saya.. Kalau seorang perempuan sudah dikunjungi teman pria, pasti disuruh nikah.”

“oh ya? masih ada yang kaya begitu ya pak?”

“ya adalah mbak.. namanya juga masih di daerah.. Jujur saya menikah dalam keadaan serba nggak siap. Semua ditanggung keluarga istri saya.. Ya abis gimana, wong niat saya cuma main kok malah ditodong suruh nikah..”

“ya bapak kan bisa nolak pak, kalo emang ga suka..”

“ya gak bisa gitu juga sih mbak.. wis pokoknya ribet aja.. Namanya anak, ya wis nurut aja daripada dianggap durhaka.. Uniknya saya ini pas hari H pernikahan saya , paginya saya masih di Jakarta, nyupir.. Jujur saya nggak punya uang buat menghidupi calon istri & keluarga saya mbak.. Saya benernya malu.. Calon kepala keluarga kok nggak bisa menghidupi keluarganya..”

“Lho.. trus.. perhelatan pernikahannya gimana pak?”

“hahahaha.. ya ditunda.. dandanan istri aya aja sempat dibongkar.. Tapi malamnya saya datang mbak..”

Saya tertawa.. Kisah yang aneh, tapi nyata. Taksi sudah mulai melintas di Gatot Subroto & saya mulai tertarik dengan cerita hidupnya..

“Trus kalo nggak cinta kok bisa punya anak dua pak?”, tanya saya iseng banget..

” Ya namanya tiap hari ketemu, serumah, tidur bareng.. lama-lama saya ya cinta sama dia mbak.. Saya kok merasa beruntung punya istri kaya dia. Pinter, taat beribadah nggak terlalu banyak menuntut, sederhana & pandai mengatur keuangan keluarga.. Nggak kaya istri teman saya yang kerjaannya minta uang melulu..”, tuturnya polos..

“ya itulah yang namanya jodoh ya pak.. Nggak pernah bisa ditebak datangnya darimana. Ada yang ngoyo banget cari jodoh tapi kalau Yang Diatas belum bilang “ya” ya belum ketemu-ketemu.. Ada juga yang nggak ngoyo nyari jodoh.. eh malah diparingi yang sempurna kaya istrinya bapak ya..”

“iya mbak.. wis pokoknya alhamdulillah dengan kehidupan & keluarga yang Allah sudah kasih ke saya sekarang ini mbak.. “

“Lebaran ini bapak mudik?”

“enggak mbak, mungkin habis lebaran. Kerjanya mungkin nanti agak ngoyo, biar bisa bawa uang lebih buat anak istri di rumah.. Walaupun mereka udah bilang sama saya kemarin begini, “Yah, lebaran ini ibu sama anak-anak nggak usah beli baju lebaran. Uangnya disimpen aja buat bikin rumah & anak yatim yah..”. Saya sampe terharu mbak.. “

“Alhamdulillah mereka pada mau ngerti ya pak..”

Saya tertegun, betapa Tuhan seringkali memberikan saya pelajaran hidup melalui jalan yang tak pernah saya sangka. Salah satunya lewat kesederhanaan hidup bapak supir taksi ini. Saya malu, saya yang dikaruniai lebih banyak kelebihan, keberuntungan & kemudahan sama Allah ini masih saja banyak melontarkan keluhan-keluhan nggak penting. Lebih sering melihat dengan tatapan iri ke arah warna rumput tetangga yang jauh lebih hijau daripada rumput di halaman saya sendiri. Lebih sering melihat ke atas ketimbang ke bawah.

Astaghfirullah..

Terimakasih untuk curhat & pelajaran sederhana tentang hidup hari ini ya pak..

[devieriana]

Continue Reading

Rupiah Diantara Seblakan Sampur ..

penari

Penari-penari itu melenggak-lenggokkan pinggulnya di tengah iringan gamelan jawa sambil sesekali menyibakkan sampur (selendang) ke kiri & kekanan. Make up-nya sedikit tebal mirip make up panggung, rambutnya disasak lengkap dengan sanggul & sunggar, pakaiannya terdiri dari kemben & kain panjang. Ditengah terik matahari & dinginnya malam mereka terus menari diiringi gamelan yang dibunyikan oleh tape dengan gerakan seadanya. Mereka cantik & luwes.. Namun sayangnya mereka bukan seniman tobong yang sedang mementaskan tari di sebuah panggung. Panggung mereka bahkan terlalu luas & besar. Panggung mereka adalah jalan raya yang berdebu, penonton mereka adalah orang yang tengah makan di pinggir jalan, tukang ojek, kenek & sopir bus kota, penumpang yang menunggu bus di halte, tukang becak, mbok jamu, dan berbagai kelas masyarakat lainnya. Panggung yang berkelas? Pasti bukan..

Tak jarang bukan uang yang mereka dapatkan, melainkan sindiran, cemoohan, atau tatapan sinis. Hujan, panas, siang, malam, mereka lalui dengan konsisten. Mereka jalani kehidupan mereka sebagai seorang penari jalanan. Melihat mereka berjuang, bergulat dengan lenguh napas metropolitan ini rasanya terlalu naif jika tidak menghargai keberadaan mereka. Sama halnya dengan kaum pendatang di Jakarta, mereka ingin tetap survive. Apapun akan mereka jalani selama itu halal. Menari dengan kostum ribet, tak masalah jika memang itu yang harus mereka lakukan untuk menyambung hidup. Siapa suruh datang Jakarta, begitu syair sebuah lagu. Jika memang hidup di tengah belantara Jakarta sebagai sebuah pilihan, survive adalah sebuah jawaban.

Sebagai seorang (mantan) penari saya sedikit banyak paham dengan gerakan-gerakan mereka. Kadang memang sangat jauh dari pakem, sekedar goyang, seblak sampur, pacak gulu, sudah itu saja. Tapi apalah arti pakem jika toh orang yang menontonnya tidak banyak yang tahu tentang apa itu pakem tari tradisonal Jawa, bagaimana & berapa ketukan ketika mereka harus membawakannya. Tahunya penonton ya mereka dihibur dengan lenggokan tubuh penarinya & irama gamelan. Itu saja. Syukur-syukur kalau endingnya dikasih uang, kalau tidak.. ya sudah, life must go on, kan? So, masih pentingkah gerakan sesuai pakem itu? Ada segelintir orang yang berkedok sebagai penari tradisional jalanan tapi ternyata hanya sebatas “bungkusnya” saja namun gerakannya sangat erotis, nyata-nyata malah melecehkan busana tradisional yang dikenakannya. Sedih nggak sih? Tapi semoga itu hanya sebagian kecil saja yang mengatasnamakan penari tradisional jalanan padahal tarian mereka erotis.. *sigh*

Jika melihat mereka yang tampil secara berkelompok, kemana-mana berduyun-duyun kesana kemari dengan kostum yang eye catching, apa yang ada di pikiran Anda? Kalau saya jujur kasihan sekaligus salut. Kasian karena saya yakin mereka tidak punya pilihan & kemampuan lain untuk bisa terus bertahan hidup di Jakarta. Kalau mereka punya keahlian lain pastinya mereka akan memilih untuk tidak hidup dijalanan seperti itu. Salut karena semangat hidupnya yang harus mengalahkan gengsi & rasa malunya untuk menangguk rupiah guna bertahan hidup di ibukota.

Uniknya saya seringnya justru menikmati “tontonan” itu sebagai hiburan tersendiri, hiburan batin mungkin ya. Walaupun banyak yang komentar sinis,  

“halaah, tarian begitu apa bagusnya sih Dev? Mending kalo bisa menghibur. Ngeliatnya aja gue eneg, lenggok sana, lenggok sini. kalau sekedar kaya begitu sih gue juga bisa. Kalo lo mau liat yang lebih bagus mending ke daerah aslinya aja sana ke Jawa Tengah, atau kalau mau yang jaipong mending ke Jawa Barat sana. Atau kalo mau yang deket bisa ke Taman Mini..”.

Oh, emang harus begitukah? Oke kamu juga bisa kalau hanya sekedar lenggak lenggok badan. Masalahnya, mau nggak? berani nggak menjalani hidup seperti mereka? Kok saya lebih melihat jauh daripada hanya sekedar lenggak-lenggok tubuh ya.. Apapun, bukan hal yang mudah untuk mengalahkan gengsi, apalagi untuk berjuang & bertahan hidup di Jakarta. Semua serba multiple choice. Soal pekerjaan apa yang akan dipilih itu juga salah satu pilihan hidup. Mau jadi kriminal, orang baik-baik, kuli, pekerja kantoran, wiraswasta.. whatever,  it’s all about choice..

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=mTp-OxfkCao&hl=en&fs=1&rel=0]

 

gambar dari sini

Continue Reading

Blood For Life

Pernah gak dalam sebuah kondisi sekarat butuh darah tapi persediaan darah di PMI habis atau kita gak ada info siapa saja yang bersedia jadi pendonor dengan golongan darah yang sesuai dengan golongan darah yang kita butuhkan? Ngeri gak sih ngebayanginnya? Ketika nyawa diujung tanduk & kita ga bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan jiwa yang nyaris putus itu?

Saya? Kebetulan saya belum pernah mengalami kejadian yang berhubungan dengan transfusi darah. Tapi salah satu keluarga saya, yaitu Mama, pernah mengalaminya. Beruntung ketika kondisi krisis ada seorang sahabat baik Mama yang bersedia mendonorkan darahnya. Kalau tidak.. entah apa yang sudah terjadi dengan Mama saya saat itu. Beruntunglah jika Anda belum pernah mengalami kondisi yang semacam itu. Tapi bayangkan jika hal itu terjadi pada keluarga atau orang terdekat Anda. Apa yang akan Anda lakukan? Apalagi jika golongan darahnya termasuk langka, misalnya golongan darah AB.

Oleh karena itulah Blood For Life (BFL) dibentuk. BFL adalah sebuah non profit movement yang murni lahir karena kepedulian kepada sesama. Gratis, tidak ada pengenaan biaya apapun untuk join di BFL, demikian pula dengan pasien yang nantinya kan dibantu, samasekali tidak melibatkan uang sedikitpun. Prinsipnya mailing list ini berfungsi sebagai jembatan bagi pendonor & terdonor. Tidak hanya bagi orang lain yang membutuhkan, jika sewaktu-waktu justru kita sendirilah yang membutuhkan darah itu, BFL siap membantu dengan segala upaya yang ada dengan mengerahkan segenap kesediaan para anggotanya.

Jika mungkin diantara kita banyak yang belum paham syarat untuk melakukan donor darah, berikut persyaratannya :

Syarat-syarat teknis menjadi donor darah :
* Umur 17-60 tahun( usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat izin tertulis dari orang tua)
* Berat badan minimal 45 kg
* Temperatur tubuh: 36,6 – 37,5 derajat Celcius
* Tekanan darah baik yaitu sistole = 110 – 160 mmHg, diastole = 70 – 100 mmHg
* Denyut nadi teratur yaitu sekitar 50 – 100 kali/ menit
* Hemoglobin Perempuan minimal 12 gram, sedangkan untuk pria minimal 12,5 gram
* Jumlah penyumbangan per tahun paling banyak lima kali dengan jarak penyumbangan sekurang-kurangnya tiga bulan. Keadaan ini harus sesuai dengan keadaan umum donor.

Seseorang tidak boleh menjadi donor darah pada keadaan :
* Pernah menderita hepatitis B
* Dalam jangka waktu enam bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis
* Dalam jangka waktu enam bulan sesudah transfusi
* Dalam jangka waktu enam bulan sesudah tato/tindik telinga
* Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi
* Dalam jangka waktu enam bulan sesudah operasi kecil
* Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar
* Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, kolera, tetanus dipteria, atau profilaksis
* Dalam jangka waktu dua minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis epidemica, measles, dan tetanus toxin
* Dalam jangka waktu satu tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies therapeutic
* Dalam jangka waktu satu minggu sesudah gejala alergi menghilang
* Dalam jangka waktu satu tahun sesudah transplantasi kulit
* Sedang hamil dan dalam jangka waktu enam bulan sesudah persalinan
* Sedang menyusui
* Ketergantungan obat
* Alkoholisme akut dan kronis
* Mengidap Sifilis
* Menderita tuberkulosis secara klinis
* Menderita epilepsi dan sering kejang
* Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh darah balik) yang akan ditusuk
* Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya kekurangan G6PD, thalasemia, dan polibetemiavera
* Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang berisiko tinggi mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks, dan pemakai jarum suntik tidak steril)
* Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan saat donor darah.

Terus, gimana caranya join dengan dengan gerakan? Caranya gampang banget, silahkan kirim email kosong ke blood-for-life@googlegroups.com atau ke http://groups.google.com/group/blood-for-life. Atau jika Anda sekedar mau baca-baca dulu apa sih Blood For Life ini, monggo silahkan klik disini , disana bisa ditemukan dengan lengkap info apa saja tentang gerakan kemanusiaan ini.

Temans, kita nggak pernah tahu kapan datangnya musibah & masalah dengan kesehatan. Dengan bergabung dengan gerakan ini kita telah ikut menyelamatkan sebuah nyawa melalui darah kita :).

[devieriana]

Continue Reading

Makan di Warteg? Please deh ..

Perempuan itu seorang diri sambil menikmati hidangan yang tersaji sambil sesekali meneguk air dari botol mineralnya. Tangan kirinya sibuk mengutak-atik Blackberry sambil sesekali tersenyum sendiri (aduh moga-moga dia ga lagi kesambet ya). Saya diam-diam memperhatikan sambil mengunyah daging setengah keseretan.

Dia cantik, penampilannyapun tak biasa. Oh maksudnya pake bulu-bulu merak sama kepala singa gitu? Emang dia pemain reog? Ih, ya kagaklah.. maksudnya penampilan dia itu “agak kurang umum” makan di kaki lima macam warung soto Lamongan pinggir jalan seperti ini. Bukan di depot ya,  tapi warung tenda pinggir jalan lho. Penampilan yang fashionable & classy macam dia “seharusnya” makan di restoran minimal kelas Foodism – Senayan City Lower Ground, Crystal Lagoon gitu.

Sambil makan saya jadi tebak-tebak buah manggis, Anda nebak bener dapat saya yang manis ;)).  Kenapa ya kira-kira kok dia sampai “mau” makan warung kelas jalanan macam ini? Masa iya sih belum gajian? (kalau saya sih iya emang belum, gajian saya per tgl 5 di tiap bulannya. Lah ini kok malah pengumuman..). Kalau udah gajian, masa iya dia gak mampu makan di resto yang sesuai dengan penampilannya dia? Atau, jangan-jangan dia juga sama bokeknya kaya saya? Atau, salah satu alasan dia makan sendiri disini biar gak diledekin sama teman-temannya karena makan di pinggir jalan? Atau jangan-jangan cuma penampilannya aja yang oke padahal gaji juga ga jauh-jauh dari saya yang tiap bulan pasti ngeden dulu kalau mau ngeluarin duit lantaran sudah terlanjur dipakai buat bayar ini itu & kebutuhan hidup di Jakarta yang kejam ini? Ah lama-lama kok saya jadi kebanyakan analisa dan jangan-jangan ya?

Sebenarnya banyak sih yang bergumul di kepala saya tentang si mbak itu. Lho, emang kenapa sih? Gak boleh ya kalau orang yang “keliatannya” berpunya trus makan di warung kelas kaki lima? Emang kalau keliatannya fashionable trus haram hukumnya jajan di pinggir jalan, gitu? Perut ama dandanan emang ada hubungannya? Kalau emang ternyata masakan di warung itu enak & harganya terjangkau siapapun boleh mampir kan? Trus apa yang salah, coba?

Err.. bukan salah, tapi lebih tepatnya (saya yang) heran, takjub, salut & (jujur) ngerasa aneh. Tapi kayanya lama-lama jadi salut deh sama mbak itu. Dia nggak gengsi harus mengisi perut di warung pinggir jalan, sementara dalam pikiran saya dia pasti mampu makan di minimal depot atau rumah makan yang kelasnya berkali lipat di atas warung ini.

Teringat beberapa teman yang begitu jaga image sampai untuk makanpun dia pilih tempat yang syaratnya ini itu & harganya ya pasti menyesuaikanlah. Katanya,

“yah elu dev.. masa sih lu ngajak gue makan disana? Gak oke ah tempatnya.. mending kita makan tuh di… (dia menyebut tempat yang saya tahu harganya berapa untuk 1 porsinya)”

Okelah mungkin saya yang “kelas” sosial & taste-nya beda sama dia kali ya. Atau saya yang gak begitu pinter milih tempat buat hang out. Ada juga yang ketika saya ajak makan di salah satu resto keluarga dianya menolak halus dengan alasan,

“ya ampun beibi.. makan disitu lo? hehehe, kok gak ke sebelahnya aja sih? kan lebih oke tuh tempatnya”.

Lama otak saya muter-muter nggak karuan. Apa salahnya sih mbak, bu, pak, mas, neng, tante, om kalau saya makan di tempat yang menurut kalian “gak oke” itu? Saya kebetulan orangnya gak begitu rewel kalau soal makanan. Selama masakannya enak, tempatnya bersih & harga terjangkau sih ga masalah.. Intinya gak terlalu branded sama barang atau tempat tertentu. Fleksibel ajalah. Toh nanti kalau sudah di dalam perut juga ga bakal ketahuan itu makanan asalnya dari mana. Apalagi kalau sudah keluar. Emang nanti ada struk & labelnya kalau kita habis makan di mana gitu? Enggak kan?  Itulah saya gak terlalu milih-milih kalau soal tempat makan. Pokoknya jenis makanannya bisa dinikmati & bukan berbentuk menyan sama kembang saya sih gak masalah kok..

Kembali saya memperhatikan perempuan itu keluar setelah selesai membayar makanannya. Mobilnya diparkir tak jauh dari warung tempat kami makan.

Mercedez Benz S600

* langsung meneguk air mineral, mendadak keseretan -*

[devieriana]

Continue Reading

If Only It Were True

Semalam saya baru selesai membaca novelnya Marc Levy – If Only It Were True. Novel romantis yang didalamnya ternyata ada banyak sekali istilah kedokteran. Awalnya saya kira penulisnya pasti seorang dokter atau paramedis gitulah karena banyaknya penggunaan istilah-istilah kedokteran di novel itu. Knowledge tentang istilah-istilah yang sering digunakan oleh paramedis dan arsitek ditulis dengan begitu mengalir & lancar.

Setelah dibaca lebih lanjut.. oh ternyata si Marc Levy ini seorang arsitek, sodara-sodara. Eh, padahal biasanya penulis novel itu tulisannya nggak jauh-jauh dari profesinya. Itu bisaanya lhooo.. Tapi banyak juga kok penulis yang berusaha keluar dari comfort zone-nya, keluar dari rutinitas sehari-harinya. Berubah jadi sebuah karakter yang beda samasekali atau bahkan jauh dengan karakter aslinya. Hyaa.., kenapa jadi membahas si Marc Levy sih? Padahal saya mau bahas tentang isi bukunya lho.. 😀

Hmm.. coba ya bayangkan, jika sebuah tiba-tiba sebuah bank memberikan kalian uang sebesar $ 86.400 setiap hari. Catet ya.. setiap hari. Dan jumlah tersebut harus dihabiskan dalam satu hari. Setiap sore uang yang tersisa akan dihapuskan dari account jika kalian gagal untuk menggunakannya sepanjang hari. Apa yang akan kalian lakukan ? Tentunya kalian akan menggunakan uang tersebut setiap sen yang ada, bukan?

Selintas saya memang benar-benar membayangkan bahwa itu adalah real “uang”, $ 86.400. Waduh, buat apa aja ya nantinya? Kontan menari-nari di kepala saya rencana ini itu, beli ini itu, kasih si A, si B, si C, dan segudang rencana lainnya. Lah, kok jadi serius amat saya ngebayanginnya ya.. :mrgreen:  .Setelah bosen ngebayangin, lanjut baca lagi. Oalah, ternyata yang dimaksud  $ 86.400  itu adalah.. WAKTU.. Iya, Sang Waktu..
Lho, kok bisa?

Kita semua memiliki bank seperti itu, temans. Namanya WAKTU. Setiap pagi, kita diberikan waktu 86.400 detik. Setiap malam akan dicatat sebagai kehilangan jika kita gagal untuk menginvestasikan dengan tujuan baik. Jumlah tersebut tidak akan dipindah-bukukan untuk keesokan harinya, juga tidak dapat dilakukan penarikan lebih dari jumlah yang telah ditentukan. Setiap hari akan dibuka sebuah account baru untuk kita dan setiap malam account tersebut akan dihapuskan. Jika kita gagal untuk menggunakan simpanan pada hari itu, it means kita akan kehilangan. Hal ini tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah ada penarikan untuk hari esok. Kita harus hidup pada saat ini, untuk simpanan hari ini . Investasikan hal ini untuk memperoleh dari investasi tersebut kesehatan, kebahagiaan dan keberhasilan yang sepenuh-penuhnya …

Untuk menyadari nilai SATU TAHUN, tanyakan pada seorang pelajar yang gagal naik tingkat. Untuk menyadari nilai SATU BULAN, tanyakan pada seorang ibu yang melahirkan seorang bayi prematur. Untuk menyadari nilai SATU MINGGU, tanyakan pada editor dari majalah mingguan. Untuk menyadari nilai SATU JAM, tanyakan seorang kekasih yang menanti untuk bertemu. Untuk menyadari nilai SATU MENIT, tanyakan seorang yang ketinggalan kereta api.. Untuk menyadari nilai SATU DETIK, tanyakan pada seseorang yang baru saja terhindar dari kecelakan. Untuk menyadari nilai SEPERSERIBU DETIK, tanyakan pada seseorang yang baru saja memperoleh medali perak dalam Olimpiade..

So, tunggu apa lagi? Mulai hargai setiap waktu yang kita miliki. Dan hargailah waktu itu lebih baik lagi, karena kita juga membagikannya dengan seseorang yang khusus, cukup khusus untuk membuang waktu kita. Dan ingatlah bahwa waktu tidak akan menunggu seseorang pun.

Kemarin adalah sejarah …
Hari esok adalah sebuah misteri dan hari ini adalah suatu hadiah
Itulah yang disebut dengan berkat …
Waktu terus berjalan …
Jadi, lakukanlah yang terbaik untuk hari ini..

🙂

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading