I never thought a regular Wednesday would end with me lying on a hospital bed, staring at white ceilings and counting the beeps of machines. It wasn’t part of the plan. I mean, who plans to swap weekend Netflix for an IV drip and a hospital gown that doesn’t quite cover your dignity? But sometimes, life doesn’t ask for your permission—it just throws you straight onto a gurney.
Rabu (26/2) itu saya masih melanjutkan aktivitas seperti biasa, menyelesaikan pekerjaan rutin, ikut tes konversasi Bahasa Inggris, lalu munggahan bersama teman-teman kantor menyambut Ramadan. Tidak ada pertanda apa pun. Saya pikir hari itu akan berakhir seperti biasanya: pulang, istirahat, dan bersiap untuk aktivitas esok hari. Tapi ternyata, Allah punya rencana lain.
Menjelang pulang kantor, perut saya mendadak terasa kembung, nyeri, melilit, dan perih yang makin lama makin menusuk. Saya pikir, ah ini cuma gangguan pencernaan biasa, bisa jadi akibat saya ada salah makan di munggahan. Tapi makin lama rasa sakitnya kok makin intens. Posisi apa pun terasa salah. Mau berdiri atau duduk, salah. Miring ke kiri sakit, ke kanan pun tak nyaman. Karena saya pulang kantor pun sudah sore menjelang malam, akhirnya mencoba konsultasi via aplikasi kesehatan, HaloDoc. Berdasarkan keterangan yang saya berikan, dokter menyebut ada kemungkinan maag. Keluhan yang belum pernah saya alami seumur hidup. Saya diberi resep, meminum obat yang diberikan sambil terus berbaik sangka bahwa ini ‘cuma’ maag, dan esok hari saya pulih seperti semula.
Namun ternyata, meski obat sudah saya minum, kondisi saya tak kunjung membaik. Saya makin tak bisa tidur sampai pagi. Belum lagi ditambah masalah baru, saya juga mengalami diare. Kondisi yang awur-awuran ini menyebabkan tubuh saya makin lemas, nafsu makan juga mulai terganggu.
Keesokan harinya, dengan sisa tenaga, saya mencoba pergi ke klinik dekat rumah dengan naik taksi. Ternyata di klinik ini pun hasil pemeriksaan tak jauh berbeda, dugaannya pun tak jauh dari asam lambung. Tapi apa memang asam lambung, maag, atau gerd deritanya sesakit ini, ya? Sama seperti hari kemarin, kali ini pun saya berharap akan segera pulih setelah menelan obat-obatan yang diresepkan. Siapa tahu beda dokter, beda resep, bisa sembuh.
Tapi ternyata saya salah. Kondisi saya makin memburuk. Demam yang naik turun, diare yang tak kunjung membaik, ditambah lagi nyeri yang mulai mendera di area ulu hati. Saya nyaris tidak bisa berdiri tegak, jalan membungkuk menahan sakit. Melihat kondisi saya yang tak kunjung membaik itu, akhirnya persis di 1 Maret 2025 adik saya mengantar ke RS MMC Kuningan. Di sana, saya langsung ditangani oleh dr. Fatih Anfasa, Sp.PD. Melihat kondisi saya yang lemah dan mengenaskan itu, beliau langsung menyarankan rawat inap. Dugaan awal saya mengalami tipes, atau mungkin TBC usus, atau bisa juga infeksi organ dalam lainnya. Semua belum pasti.
Dari observasi yang dilakukan selama saya rawat inap, hasil laboratorium menunjukkan memang iya saya positif tipes, plus defisiensi vitamin D, dan HB saya 7. Haduh, kok banyak sekali. Namun di luar itu, saya merasa ada yang tidak beres dengan perut saya. Meski suhu tubuh perlahan normal dan keluhan lain nyaris tak terasa, perut saya tetap terasa penuh, begah, dan kembung, padahal asupan makanan sangat sedikit.
Saat ini pikiran saya cukup terbagi karena harus menjalani perawatan di rumah sakit tepat di tengah pekan UTS Alea (10 tahun). Ini merupakan pengalaman pertama saya tidak bisa mendampinginya belajar di rumah secara langsung. Mengingat Alea belum terbiasa belajar mandiri dan selalu mengandalkan saya untuk membimbingnya, saya dan suami harus mencari cara lain. Solusinya, sepulang sekolah Alea akan datang ke rumah sakit membawa buku-buku pelajarannya agar kami bisa belajar bersama di samping ranjang. Situasinya memang sangat jauh dari kata ideal. Saya tidak bisa leluasa menjelaskan materi, karena keterbatasan gerakan dan juga tetap harus menghargai pasien di sebelah saya nyaman beristirahat. Namun, saya tetap upayakan untuk menemani Alea mempersiapkan ujian.
Puncaknya adalah ketika Rabu sore (6/3), saat saya sedang bersama Alea, tiba-tiba perut bagian bawah terasa nyeri hebat. Rasa sakitnya datang begitu tiba-tiba, disusul suhu tubuh yang naik hingga 38,3°C. Segera saya dibawa ke ruang radiologi untuk menjalani USG abdomen. Sayangnya, karena nyeri yang sangat mengganggu, proses pemeriksaan tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Jangankan disentuh atau ditekan, terkena kain baju sendiri saja rasanya semriwing.
Keesokan harinya, saya dijadwalkan menjalani pemeriksaan CT scan abdomen dengan zat kontras (zat yang digunakan dalam pemeriksaan medis seperti CT scan untuk memperjelas gambar, sehingga membantu dokter melihat struktur tubuh dengan lebih detail). Sebelum CT scan, saya diminta untuk memimum cairan kontras, dan lalu berpuasa sejak pukul 07.00, untuk memastikan usus kosong sehingga hasil scan-nya hasilnya akurat dan untuk menghindari efek samping yang mungkin muncul akibat zat kontras, seperti mual atau muntah. Kalau ditanya rasa cairannya bagaimana, jelas jauh dari kata enaklah, di lidah saya, aftertaste-nya seperti minum cairan rasa logam.
Proses pemeriksaan CT scan abdomen ini umumnya berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam, bergantung pada jenis pemindaian dan kebutuhan medis. Usai pemeriksaan, saya kembali ke kamar untuk beristirahat sambil menanti hasil, dengan perasaan yang campur aduk. Akankah hasilnya ‘baik-baik saja’ atau justru parah?
Dan benar saja, siang itu kamar rawat saya mendadak ramai, bukan oleh keluarga atau teman yang datang menjenguk, melainkan lima dokter yang masuk bersamaan. Ada dokter spesialis bedah digestif, dokter obgyn, dokter bedah umum, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter anestesi. Mereka menanyakan apa saja keluhan yang saya rasakan, lalu menginfokan hasil CT scan abdomen pagi tadi. Dokter Arief Gazali menjelaskan bahwa kondisi di dalam perut saya cukup kompleks, ada kista, ada cairan, endometriosis, adenomiosis, dan perlekatan di usus. Jujur, mendengar semua penjelasan itu, pikiran saya langsung penuh. Sampai akhirnya dokter Darmawan Lesmana memutuskan, “hari Jumat setelah Jumatan kita operasi, ya. Laparoskopi aja, lukanya kecil aja kok, jadi pemulihannya lebih cepat.”
Jumat, tanggal 7 Maret 2025, tepat pukul 12.00 siang, saya dibawa masuk ke ruang operasi. Tak ada lagi yang bisa saya upayakan, selain berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kuasa. Saat ranjang saya mulai didorong menuju ruang operasi, sejujurnya ada rasa takut meski sudah berserah. Di dalam hati saya tak henti merapal doa agar lebih tenang. Hingga akhirnya anestesi disuntikkan, saya pun perlahan tertidur, dan setelah itu, semuanya gelap.
Saya baru benar-benar siuman sekitar pukul 20.45 malam. Hampir sembilan jam berlalu, dan saya sama sekali tak tahu apa saja yang telah terjadi selama saya tak sadarkan diri. Di ruang pemulihan/transisi ada suster yang berjaga menunggu hingga saya siuman. Keluhan pertama yang saya rasakan bukan rasa nyeri di area bekas operasi, tapi rasa pegal di bagian punggung. Wajar saja, tubuh saya berjam-jam terbaring di atas meja operasi yang keras dan datar.
Beberapa saat kemudian, saya mulai merasakan ketidaknyamanan di area hidung dan tenggorokan. Rupanya, ada dua jenis selang yang terpasang. Satu untuk oksigen, dan satu lagi selang sonde yang digunakan untuk mengalirkan nutrisi langsung ke lambung. Tak lama setelah saya sepenuhnya sadar, tubuh saya dipindahkan ke ICCU dan langsung dibalut dengan selimut penghangat untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil setelah prosedur medis.
Tak lama, suami saya datang ke ICCU. Wajahnya tampak lelah dan cemas. Rupanya selama saya berada di meja operasi, ia sempat beberapa kali dipanggil oleh dokter, dan harus menandatangi formulir persetujuan tindakan kedokteran, karena prosedur yang awalnya hanya direncanakan sebagai laparoskopi harus diubah menjadi major surgery dan itu jelas membuatnya khawatir.
Dengan suara lirih, ia berkata, “maafin aku ya, Ma. Aku memberi persetujuan dokter melakukan sesuatu atas tubuhmu tanpa persetujuanmu. Tapi semua buat kebaikan dan kesehatanmu. Sekali lagi, maafin aku, ya. Alhamdulillah, aku bersyukur kamu sudah melalui masa kritis, alhamdulillah kamu masih hidup…”
Hah, masih hidup? Gimana maksudnya?
Suami saya belum sempat bercerita panjang lebar lantaran dia harus bolak-balik mengurus berbagai urusan administratif dan lainnya. Tak lama kemudian, adik saya datang bersama Alea yang terlihat mengantuk dan lelah karena menunggu seharian hingga saya siuman. Adik saya menjelaskan bahwa selama di ruang operasi, Dokter menemukan infeksi yang cukup serius di rahim saya, gabungan antara kista, adenomiosis, endometriosis, perlekatan di usus dan liver. Jadi, yang awalnya, dokter hanya merencanakan laparoskopi, namun selama prosedur berlangsung, kondisi yang ada memaksa perubahan rencana menjadi bedah mayor. Pembersihan usus dan liver tetap dilakukan. Sayatan vertikal dibuat dari atas pusar hingga ke bagian bawah perut. Prosedur yang semula hanya bertujuan untuk membersihkan saja, demi melihat kompleksitas masalah di dalam rahim, dokter memutuskan untuk melakukan histerektomi (pengangkatan rahim) untuk mencegah keluhan yang sama terjadi berulang di masa yang akan datang.
Saya tercenung. Ternyata 8 jam lalu, ada peristiwa besar yang baru saja mengubah perjalanan hidup saya. Namun entah kenapa, saya tenang sekali mendengar cerita itu. Hanya sedikit terkejut namun tidak menangis atau sedih. Semenerima itu. Meski akhirnya ada bagian tubuh yang pernah menjadi tempat bagi anak saya bertumbuh harus dilepaskan.
Dan, ketika semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing, dan tinggal saya sendirian di ICCU, saya terjaga penuh. Dengan segenap penyerahan diri memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar saya diberi kesempatan untuk pulih, menjalani hidup yang lebih sehat, lebih ringan, dan tetap bisa membersamai keluarga tercinta.
Singkatnya, tak lama setelah keluar dari ICCU, sekitar pukul 15.00 saya dipindahkan kembali ke ruang rawat inap. Seharusnya, inilah awal untuk mulai latihan ringan miring ke kanan dan kiri, lalu mencoba duduk, berdiri, hingga perlahan berjalan. Namun ternyata tubuh saya belum mampu. Bukan hanya karena rasa nyeri yang masih terasa, tapi juga secara mental saya belum siap. Berbeda dengan saat melahirkan Alea dulu, operasi sesar karena placenta previa sudah diinformasikan sejak awal, sehingga saya sudah mempersiapkan fisik dan mental lebih awal. Namun tidak untuk kali ini. Operasi datang begitu mendadak, tanpa memberi waktu mempersiapkan diri lahir batin.
Butuh waktu tiga hari pascaoperasi sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk duduk, lalu berdiri dan mencoba melangkah pelan. Memang agak terlambat. Apalagi melihat perban yang rasanya begitu besar membalut area perut. Like, wow! Awalnya saya merasa belum sanggup menekuk bagian perut untuk duduk. Ternyata, setelah dicoba, saya mampu juga, meski masih terengah-engah. Mulanya saya hanya berjalan pelan di dalam kamar, hingga akhirnya berani melangkah keluar, menapaki koridor di lantai tempat saya dirawat.
Alhamdulillah, tanggal 15 Maret 2025 saya diizinkan pulang. Hasil laboratorium menunjukkan banyak perbaikan. Hati saya rasanya hangat, lega, dan sangat bersyukur. Akhirnya saya diperbolehkan pulang, setelah 15 hari menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu, saya pulang dengan membawa berbagai macam obat yang harus saya minum secara rutin sampai tiba waktu kontrol berikutnya.
Namun ternyata, titik paling menantang justru datang setelah saya kembali ke rumah.
Kini, saya harus mulai mengandalkan diri sendiri tanpa bantuan sigap dari perawat maupun dukungan alat medis lainnya. Meskipun tubuh masih terasa lemah dan langkah kaki belum sepenuhnya stabil, saya tetap berusaha untuk bergerak perlahan. Kondisi ini sungguh menantang bagi saya. Selain sesak napas akibat batuk yang belum reda, rasa mual juga sering datang mendadak karena lambung yang masih dalam masa penyesuaian. Akibatnya, berat badan saya merosot drastis dari 54,5 kg menjadi 42,3 kg. Saya sempat bingung sendiri saat memilih pakaian, karena hampir semua baju koleksi saya berukuran S dan M. Namun sekarang, sepertinya ukuran tubuh saya jauh menyusut di bawah itu. Baju-baju yang biasanya pas, kini semuanya terasa sangat longgar saat dikenakan. Saya sampai terpikir, apa iya saya harus pakai baju ukuran kids?
Selama di rumah, setiap hari saya berusaha menantang diri melakukan aktivitas-aktivitas baru untuk melatih mobilitas dan memulihkan kekuatan otot, seperti mandi (selama di rumah sakit saya hanya mandi seka, itupun dibantu oleh perawat), keramas, memotong kuku kaki, menyapu lantai, mencuci baju atau piring kotor, atau sekadar menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya. Dan yang paling mengharukan adalah, ketika di pulang kontrol dari rumah sakit, ternyata saya sudah bisa pulang sendiri naik Gojek! Rasanya ingin memberi pelukan ke diri sendiri, menyadari bahwa semua anggota tubuh saya seberusaha itu untuk pulih.
Kini, saya sudah kembali ke kantor dan menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan, pada tanggal 9 April lalu, saya sudah memandu acara Halal Bihalal di lingkungan Sekretariat Lembaga Kepresidenan. Saya juga berusaha menjalani hidup yang lebih sehat dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat positif.
Melalui tulisan ini, dengan setulus hati, saya ingin berterima kasih kepada keluarga tercinta atas kasih sayang dan dukungan yang tak pernah surut, kepada sahabat-sahabat yang setia memberi perhatian dan bantuan tulus selama saya dirawat di rumah sakit, para perawat yang telah dengan sabar merawat saya selama di rumah sakit, serta kepada para dokter luar biasa yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan penyembuhan saya:
- dr. Darmawan Lesmana, SpB-KBD – dokter bedah digestif
- dr. Arief Gazali, SpOG – dokter obsgyn
- dr. Fatih Anfasa, SpPD, MSc, PhD – dokter spesialis penyakit dalam
- dr. Caroline Supit, Sp.B – dokter spesialis bedah
- dr. Yoseph Rohedi Yosi Asmara, Sp.An, FIPM, FIPP, CIPS – dokter spesialis anastesi
Berkat tangan dingin, keputusan cepat, dan ketulusan hati Bapak/Ibu Dokter, saya bisa menceritakan kembali kisah ini dengan penuh rasa syukur. Terima kasih telah menjadi bagian dari mukjizat kecil dalam hidup saya.
– Devi Eriana –






