Jejak Bahasa di Era Linimasa

Lahir dan pernah menetap di Jawa Timur membuat saya terbiasa dengan budaya tutur yang lugas namun tetap menjunjung tinggi kesantunan. Namun, entah mengapa belakangan ini saya mulai menyimpan gelisah. Ada rasa tidak nyaman yang muncul saat menyaksikan arah perkembangan bahasa kita, terutama tentang betapa laten dan lumrahnya kata umpatan menyelinap ke dalam komunikasi sehari-hari. Saya tidak tumbuh dalam lingkungan yang memaklumi makian. Kata-kata kasar adalah tabu yang sebisa mungkin dijauhkan dari pendengaran maupun ucapan. Meskipun biasanya dianggap sebagai cara spontan meluapkan emosi saat marah atau kaget, makian adalah bahasa yang sebisa mungkin tidak saya pilih untuk mengekspresikan apa pun, terlepas dari bagaimana intonasi maupun situasinya menyertai.

Zaman sekarang, fungsi makian sudah bergeser jauh. Ia bukan lagi alat ekspresi untuk meluapkan perasaan, tapi sudah menjadi gaya bicara sehari-hari. Bahkan ada anggapan unik bahwa obrolan akan terasa ‘kurang mantap’ kalau tidak ada makiannya. Namun, bagi saya pribadi, pergeseran budaya ini tetaplah sebuah anomali yang sulit diterima.

Dahulu, terdapat garis demarkasi yang begitu tegas antara apa yang pantas dan tidak pantas untuk diucapkan. Kata-kata kasar, baik yang meminjam nama satwa maupun merujuk pada organ genital, adalah sebuah tabu absolut. Kita mungkin masih ingat masa di mana kata-kata kasar diganjar dengan olesan cabai di mulut, sebuah metode purba yang pernah digunakan oleh orang tua kita untuk menekankan betapa pentingnya menjaga lisan. Nilai moralnya tetap relevan hingga kini, di mana kita diingatkan untuk lebih bijak memilah pikiran mana yang pantas disampaikan dan mana yang sebaiknya disimpan sendiri.

Sekarang situasinya justru terbalik; makian kian lazim terdengar dalam percakapan sehari-hari. Kekhawatiran terbesar muncul ketika kita dengan begitu ringannya menggunakan istilah pejoratif untuk menghina orang lain, dipicu oleh ketidaksesuaian antara realitas yang kita lihat dengan gaya hidup yang mereka pamerkan di dunia maya. Misalnya, celetukan seperti, ‘Duh, bajunya kampungan banget, sih,’ atau yang lebih ekstrem, ‘Dasar lonte, kerjaannya cuma pamer aurat di sosmed,’ hingga makian intelektual seperti, ‘Gitu aja nggak paham, dasar tolol!’, makian kasar yang dulu dianggap tabu, kini terucap tanpa secuil pun rasa bersalah.

Keadaan ini makin parah karena media sosial menuntut kita untuk berekspresi secara serba cepat dan terus-menerus. Karena tidak saling berhadapan secara langsung, tercipta jarak psikologis yang membuat rasa empati kita perlahan-lahan menghilang. Efeknya, kita jadi terlalu berani bicara apa saja tanpa peduli apakah kata-kata itu melukai hati orang lain. Media sosial yang dulu dipakai untuk berbagi cerita sekarang justru mengubah cara kita berbicara, di mana standarnya makin lama makin rendah.

Pertanyaan saya sederhana, sejak kapan ekspresi seseorang di media sosial menjadi absah untuk dibalas dengan makian yang melukai harga diri manusia? Saat sebuah kata digunakan untuk mengerdilkan orang lain, sejatinya ia telah memasuki wilayah perundungan, di mana tidak semestinya mendapat ruang dalam bentuk dan alasan apa pun. Perlu disadari bersama, bahwa perbedaan selera maupun pilihan hidup adalah sebuah keniscayaan, karena setiap kita tumbuh dari akar dan latar belakang yang tak pernah sama. Namun, di situlah letak keanehannya, seolah kita merasa berhak menghujat orang lain hanya karena mereka tidak tampil seperti apa yang kita harapkan. Sikap merasa paling benar ini tentu tidak muncul begitu saja. Tanpa kita sadari, hal ini banyak dipengaruhi oleh bagaimana dunia digital membentuk cara berpikir kita sehari-hari.

Algoritma di media sosial bekerja seperti asisten yang terlalu rajin menyediakan apa pun yang kita sukai berdasarkan riwayat pencarian kita. Hal ini akan menciptakan echo chamber, ruang di mana kita hanya akan bertemu dengan opini yang serupa dengan kita. Nah, dampaknya ketika lingkaran digital kita mulai menganggap umpatan sebagai sebuah candaan yang wajar, maka pola itu akan menular dengan sangat cepat. Makian yang dulunya adalah bentuk luapan emosi, kini jadi hilang daya sengatnya karena saraf sensitivitas kita sudah terbiasa (mati rasa).

Kenyataan ini akhirnya menggiring kita pada sebuah renungan: apakah penggunaan kata-kata kasar secara otomatis merepresentasikan jati diri kita yang sesungguhnya? Tentu saja, gaya bicara yang kasar tidak bisa serta-merta dijadikan tolok ukur tunggal untuk menilai baik atau buruknya kepribadian seseorang secara utuh. Namun, jika ia dibiarkan menjadi kebiasaan yang berulang, akan ada perubahan subtil dalam cara kita bersosialisasi. Lama-kelamaan, hal ini membuat kita jadi mati rasa dan menciptakan jarak yang makin lebar dalam interaksi kita dengan orang lain.

Sampai kapan pun bahasa adalah entitas yang dinamis. Ia akan terus berevolusi dan melahirkan tren tutur baru yang tak bisa kita cegah. Namun, kita perlu sejenak berkaca, nilai apa yang sebenarnya tengah kita anggap lazim hari ini? Jika setiap makian dibenarkan dengan alasan ‘sudah menjadi kebiasaan lama’, tidakkah itu menjadi indikator bahwa sensitivitas kita terhadap adab sedang merosot? Ataukah, mungkinkah ini hanya sekadar keresahan dari sudut pandang saya?

Bisa jadi telinga saya memang sudah vintage, ketinggalan zaman, lantaran terbiasa dengan era di mana bicara masih menggunakan saringan rasa sungkan. Namun perlu diingat, semaju apa pun dunia, kita tetap butuh kontrol diri. Sangat disayangkan jika demi mengikuti perkembangan zaman, kita malah kehilangan jati diri dan lupa bagaimana cara menghargai orang lain lewat kata-kata yang kita ucapkan.

Just my two cents.

-Devi Eriana-

ilustrasi diambil dari shutterstock.com

Continue Reading

An Unexpected Stay, A Life Reset


I never thought a regular Wednesday would end with me lying on a hospital bed, staring at white ceilings and counting the beeps of machines. It wasn’t part of the plan. I mean, who plans to swap weekend Netflix for an IV drip and a hospital gown that doesn’t quite cover your dignity? But sometimes, life doesn’t ask for your permission—it just throws you straight onto a gurney.

Rabu (26/2) itu saya masih melanjutkan aktivitas seperti biasa, menyelesaikan pekerjaan rutin, ikut tes konversasi Bahasa Inggris, lalu munggahan bersama teman-teman kantor menyambut Ramadan. Tidak ada pertanda apa pun. Saya pikir hari itu akan berakhir seperti biasanya: pulang, istirahat, dan bersiap untuk aktivitas esok hari. Tapi ternyata, Allah punya rencana lain.

Menjelang pulang kantor, perut saya mendadak terasa kembung, nyeri, melilit, dan perih yang makin lama makin menusuk. Saya pikir, ah ini cuma gangguan pencernaan biasa, bisa jadi akibat saya ada salah makan di munggahan. Tapi makin lama rasa sakitnya kok makin intens. Posisi apa pun terasa salah. Mau berdiri atau duduk, salah. Miring ke kiri sakit, ke kanan pun tak nyaman. Karena saya pulang kantor pun sudah sore menjelang malam, akhirnya mencoba konsultasi via aplikasi kesehatan, HaloDoc. Berdasarkan keterangan yang saya berikan, dokter menyebut ada kemungkinan maag. Keluhan yang belum pernah saya alami seumur hidup. Saya diberi resep, meminum obat yang diberikan sambil terus berbaik sangka bahwa ini ‘cuma’ maag, dan esok hari saya pulih seperti semula.

Namun ternyata, meski obat sudah saya minum, kondisi saya tak kunjung membaik. Saya makin tak bisa tidur sampai pagi. Belum lagi ditambah masalah baru, saya juga mengalami diare. Kondisi yang awur-awuran ini menyebabkan tubuh saya makin lemas, nafsu makan juga mulai terganggu.

Keesokan harinya, dengan sisa tenaga, saya mencoba pergi ke klinik dekat rumah dengan naik taksi. Ternyata di klinik ini pun hasil pemeriksaan tak jauh berbeda, dugaannya pun tak jauh dari asam lambung. Tapi apa memang asam lambung, maag, atau gerd deritanya sesakit ini, ya? Sama seperti hari kemarin, kali ini pun saya berharap akan segera pulih setelah menelan obat-obatan yang diresepkan. Siapa tahu beda dokter, beda resep, bisa sembuh.

Tapi ternyata saya salah. Kondisi saya makin memburuk. Demam yang naik turun, diare yang tak kunjung membaik, ditambah lagi nyeri yang mulai mendera di area ulu hati. Saya nyaris tidak bisa berdiri tegak, jalan membungkuk menahan sakit. Melihat kondisi saya yang tak kunjung membaik itu, akhirnya persis di 1 Maret 2025 adik saya mengantar ke RS MMC Kuningan. Di sana, saya langsung ditangani oleh dr. Fatih Anfasa, Sp.PD. Melihat kondisi saya yang lemah dan mengenaskan itu, beliau langsung menyarankan rawat inap. Dugaan awal saya mengalami tipes, atau mungkin TBC usus, atau bisa juga infeksi organ dalam lainnya. Semua belum pasti.

Dari observasi yang dilakukan selama saya rawat inap, hasil laboratorium menunjukkan memang iya saya positif tipes, plus defisiensi vitamin D, dan HB saya 7. Haduh, kok banyak sekali. Namun di luar itu, saya merasa ada yang tidak beres dengan perut saya. Meski suhu tubuh perlahan normal dan keluhan lain nyaris tak terasa, perut saya tetap terasa penuh, begah, dan kembung, padahal asupan makanan sangat sedikit.

Saat ini pikiran saya cukup terbagi karena harus menjalani perawatan di rumah sakit tepat di tengah pekan UTS Alea (10 tahun). Ini merupakan pengalaman pertama saya tidak bisa mendampinginya belajar di rumah secara langsung. Mengingat Alea belum terbiasa belajar mandiri dan selalu mengandalkan saya untuk membimbingnya, saya dan suami harus mencari cara lain. Solusinya, sepulang sekolah Alea akan datang ke rumah sakit membawa buku-buku pelajarannya agar kami bisa belajar bersama di samping ranjang. Situasinya memang sangat jauh dari kata ideal. Saya tidak bisa leluasa menjelaskan materi, karena keterbatasan gerakan dan juga tetap harus menghargai pasien di sebelah saya nyaman beristirahat. Namun, saya tetap upayakan untuk menemani Alea mempersiapkan ujian.

Puncaknya adalah ketika Rabu sore (6/3), saat saya sedang bersama Alea, tiba-tiba perut bagian bawah terasa nyeri hebat. Rasa sakitnya datang begitu tiba-tiba, disusul suhu tubuh yang naik hingga 38,3°C. Segera saya dibawa ke ruang radiologi untuk menjalani USG abdomen. Sayangnya, karena nyeri yang sangat mengganggu, proses pemeriksaan tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Jangankan disentuh atau ditekan, terkena kain baju sendiri saja rasanya semriwing.

Keesokan harinya, saya dijadwalkan menjalani pemeriksaan CT scan abdomen dengan zat kontras (zat yang digunakan dalam pemeriksaan medis seperti CT scan untuk memperjelas gambar, sehingga membantu dokter melihat struktur tubuh dengan lebih detail). Sebelum CT scan, saya diminta untuk memimum cairan kontras, dan lalu berpuasa sejak pukul 07.00, untuk memastikan usus kosong sehingga hasil scan-nya hasilnya akurat dan untuk menghindari efek samping yang mungkin muncul akibat zat kontras, seperti mual atau muntah. Kalau ditanya rasa cairannya bagaimana, jelas jauh dari kata enaklah, di lidah saya, aftertaste-nya seperti minum cairan rasa logam.

Proses pemeriksaan CT scan abdomen ini umumnya berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam, bergantung pada jenis pemindaian dan kebutuhan medis. Usai pemeriksaan, saya kembali ke kamar untuk beristirahat sambil menanti hasil, dengan perasaan yang campur aduk. Akankah hasilnya ‘baik-baik saja’ atau justru parah?

Dan benar saja, siang itu kamar rawat saya mendadak ramai, bukan oleh keluarga atau teman yang datang menjenguk, melainkan lima dokter yang masuk bersamaan. Ada dokter spesialis bedah digestif, dokter obgyn, dokter bedah umum, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter anestesi. Mereka menanyakan apa saja keluhan yang saya rasakan, lalu menginfokan hasil CT scan abdomen pagi tadi. Dokter Arief Gazali menjelaskan bahwa kondisi di dalam perut saya cukup kompleks, ada kista, ada cairan, endometriosis, adenomiosis, dan perlekatan di usus. Jujur, mendengar  semua penjelasan itu, pikiran saya langsung penuh. Sampai akhirnya dokter Darmawan Lesmana memutuskan, “hari Jumat setelah Jumatan kita operasi, ya. Laparoskopi aja, lukanya kecil aja kok, jadi pemulihannya lebih cepat.”

Jumat, tanggal 7 Maret 2025, tepat pukul 12.00 siang, saya dibawa masuk ke ruang operasi. Tak ada lagi yang bisa saya upayakan, selain berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kuasa. Saat ranjang saya mulai didorong menuju ruang operasi, sejujurnya ada rasa takut meski sudah berserah. Di dalam hati saya tak henti merapal doa agar lebih tenang. Hingga akhirnya anestesi disuntikkan, saya pun perlahan tertidur, dan setelah itu, semuanya gelap.

Saya baru benar-benar siuman sekitar pukul 20.45 malam. Hampir sembilan jam berlalu, dan saya sama sekali tak tahu apa saja yang telah terjadi selama saya tak sadarkan diri. Di ruang pemulihan/transisi ada suster yang berjaga menunggu hingga saya siuman. Keluhan pertama yang saya rasakan bukan rasa nyeri di area bekas operasi, tapi rasa pegal di bagian punggung. Wajar saja, tubuh saya berjam-jam terbaring di atas meja operasi yang keras dan datar.

Beberapa saat kemudian, saya mulai merasakan ketidaknyamanan di area hidung dan tenggorokan. Rupanya, ada dua jenis selang yang terpasang. Satu untuk oksigen, dan satu lagi selang sonde yang digunakan untuk mengalirkan nutrisi langsung ke lambung. Tak lama setelah saya sepenuhnya sadar, tubuh saya dipindahkan ke ICCU dan langsung dibalut dengan selimut penghangat untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil setelah prosedur medis.

Tak lama, suami saya datang ke ICCU. Wajahnya tampak lelah dan cemas. Rupanya selama saya berada di meja operasi, ia sempat beberapa kali dipanggil oleh dokter, dan harus menandatangi formulir persetujuan tindakan kedokteran, karena prosedur yang awalnya hanya direncanakan sebagai laparoskopi harus diubah menjadi major surgery dan itu jelas membuatnya khawatir.

Dengan suara lirih, ia berkata, “maafin aku ya, Ma. Aku memberi persetujuan dokter melakukan sesuatu atas tubuhmu tanpa persetujuanmu. Tapi semua buat kebaikan dan kesehatanmu. Sekali lagi, maafin aku, ya. Alhamdulillah, aku bersyukur kamu sudah melalui masa kritis, alhamdulillah kamu masih hidup…”

Hah, masih hidup? Gimana maksudnya?

Suami saya belum sempat bercerita panjang lebar lantaran dia harus bolak-balik mengurus berbagai urusan administratif dan lainnya. Tak lama kemudian, adik saya datang bersama Alea yang terlihat mengantuk dan lelah karena menunggu seharian hingga saya siuman. Adik saya menjelaskan bahwa selama di ruang operasi, Dokter menemukan infeksi yang cukup serius di rahim saya, gabungan antara kista, adenomiosis, endometriosis, perlekatan di usus dan liver. Jadi, yang awalnya, dokter hanya merencanakan laparoskopi, namun selama prosedur berlangsung, kondisi yang ada memaksa perubahan rencana menjadi bedah mayor. Pembersihan usus dan liver tetap dilakukan. Sayatan vertikal dibuat dari atas pusar hingga ke bagian bawah perut. Prosedur yang semula hanya bertujuan untuk membersihkan saja, demi melihat kompleksitas masalah di dalam rahim, dokter memutuskan untuk melakukan histerektomi (pengangkatan rahim) untuk mencegah keluhan yang sama terjadi berulang di masa yang akan datang.

Saya tercenung. Ternyata 8 jam lalu, ada peristiwa besar yang baru saja mengubah perjalanan hidup saya. Namun entah kenapa, saya tenang sekali mendengar cerita itu. Hanya sedikit terkejut namun tidak menangis atau sedih. Semenerima itu. Meski akhirnya ada bagian tubuh yang pernah menjadi tempat bagi anak saya bertumbuh harus dilepaskan.

Dan, ketika semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing, dan tinggal saya sendirian di ICCU, saya terjaga penuh. Dengan segenap penyerahan diri memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar saya diberi kesempatan untuk pulih, menjalani hidup yang lebih sehat, lebih ringan, dan tetap bisa membersamai keluarga tercinta.

Singkatnya, tak lama setelah keluar dari ICCU, sekitar pukul 15.00 saya dipindahkan kembali ke ruang rawat inap. Seharusnya, inilah awal untuk mulai latihan ringan miring ke kanan dan kiri, lalu mencoba duduk, berdiri, hingga perlahan berjalan. Namun ternyata tubuh saya belum mampu. Bukan hanya karena rasa nyeri yang masih terasa, tapi juga secara mental saya belum siap. Berbeda dengan saat melahirkan Alea dulu, operasi sesar karena placenta previa sudah diinformasikan sejak awal, sehingga saya sudah mempersiapkan fisik dan mental lebih awal. Namun tidak untuk kali ini. Operasi datang begitu mendadak, tanpa memberi waktu mempersiapkan diri lahir batin.

Butuh waktu tiga hari pascaoperasi sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk duduk, lalu berdiri dan mencoba melangkah pelan. Memang agak terlambat. Apalagi melihat perban yang rasanya begitu besar membalut area perut. Like, wow! Awalnya saya merasa belum sanggup menekuk bagian perut untuk duduk. Ternyata, setelah dicoba, saya mampu juga, meski masih terengah-engah. Mulanya saya hanya berjalan pelan di dalam kamar, hingga akhirnya berani melangkah keluar, menapaki koridor di lantai tempat saya dirawat.

Alhamdulillah, tanggal 15 Maret 2025 saya diizinkan pulang. Hasil laboratorium menunjukkan banyak perbaikan. Hati saya rasanya hangat, lega, dan sangat bersyukur. Akhirnya saya diperbolehkan pulang, setelah 15 hari menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu, saya pulang dengan membawa berbagai macam obat yang harus saya minum secara rutin sampai tiba waktu kontrol berikutnya.

Namun ternyata, titik paling menantang justru datang setelah saya kembali ke rumah.

Kini, saya harus mulai mengandalkan diri sendiri tanpa bantuan sigap dari perawat maupun dukungan alat medis lainnya. Meskipun tubuh masih terasa lemah dan langkah kaki belum sepenuhnya stabil, saya tetap berusaha untuk bergerak perlahan. Kondisi ini sungguh menantang bagi saya. Selain sesak napas akibat batuk yang belum reda, rasa mual juga sering datang mendadak karena lambung yang masih dalam masa penyesuaian. Akibatnya, berat badan saya merosot drastis dari 54,5 kg menjadi 42,3 kg. Saya sempat bingung sendiri saat memilih pakaian, karena hampir semua baju koleksi saya berukuran S dan M. Namun sekarang, sepertinya ukuran tubuh saya jauh menyusut di bawah itu. Baju-baju yang biasanya pas, kini semuanya terasa sangat longgar saat dikenakan. Saya sampai terpikir, apa iya saya harus pakai baju ukuran kids?

Selama di rumah, setiap hari saya berusaha menantang diri melakukan aktivitas-aktivitas baru untuk melatih mobilitas dan memulihkan kekuatan otot, seperti mandi (selama di rumah sakit saya hanya mandi seka, itupun dibantu oleh perawat), keramas, memotong kuku kaki, menyapu lantai, mencuci baju atau piring kotor, atau sekadar menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya. Dan yang paling mengharukan adalah, ketika di pulang kontrol dari rumah sakit, ternyata saya sudah bisa pulang sendiri naik Gojek! Rasanya ingin memberi pelukan ke diri sendiri, menyadari bahwa semua anggota tubuh saya seberusaha itu untuk pulih.

Kini, saya sudah kembali ke kantor dan menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan, pada tanggal 9 April lalu, saya sudah memandu acara Halal Bihalal di lingkungan Sekretariat Lembaga Kepresidenan. Saya juga berusaha menjalani hidup yang lebih sehat dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat positif.

Melalui tulisan ini, dengan setulus hati, saya ingin berterima kasih kepada keluarga tercinta atas kasih sayang dan dukungan yang tak pernah surut, kepada sahabat-sahabat yang setia memberi perhatian dan bantuan tulus selama saya dirawat di rumah sakit, para perawat yang telah dengan sabar merawat saya selama di rumah sakit, serta kepada para dokter luar biasa yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan penyembuhan saya:

Berkat tangan dingin, keputusan cepat, dan ketulusan hati Bapak/Ibu Dokter, saya bisa menceritakan kembali kisah ini dengan penuh rasa syukur. Terima kasih telah menjadi bagian dari mukjizat kecil dalam hidup saya.

– Devi Eriana –

Continue Reading

Kebaikan Akan Selalu Kembali

Pernahkah kita merenung dalam hati, apakah kebaikan yang kita berikan kepada orang lain benar-benar akan kembali kepada kita atau akan hilang begitu saja? Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam pikiran kita, terutama ketika kita merasa sudah menolong/memberi banyak hal, tapi kok sepertinya tidak ada sesuau yang terlihat seperti ‘balasan’ atas kebaikan yang pernah kita lakukan, ya. Kok sepertinya terdengar pamrih, ya. Bukankah kalau berbuat kebaikan, ya sudah berbuat saja? Tapi pastilah, ada di antara kita pernah (meski secara iseng) berpikir demikian. Tapi ini bukan tentang pamrih.

Bertahun-tahun lalu, ada sebuah kejadian, di mana adik saya mengambil langkah yang bagi saya, luar biasa. Dengan segala keterbatasan yang ada, ia tiba-tiba mewujudkan impian kedua orang tua kami untuk bisa pergi umrah. Tabungan dia tidaklah banyak, namun dari sanalah orang tua kami berangkat ke tanah suci. Saya tahu, itu bukan suatu keputusan yang mudah, namun ada kebahagiaan yang melebihi apa yang sudah dia keluarkan untuk kedua orang tua kami. Pun halnya adik saya yang berkata, “Uang bisa dicari, Mbak. Tapi Papa Mama kan udah nggak muda lagi. Usia manusia nggak ada yang tahu. Ya, mungkin Allah mengizinkan Mama Papa bisa pergi ke tanah suci melalui jalur aku.” Dia meyakini bahwa sekecil apapun kebaikan yang telah dilakukan, akan selalu menemukan jalannya.

Dan ternyata, ia benar.

Enam tahun berselang, tepat di penghujung tahun ini—tanpa pernah ia duga sebelumnya—datanglah undangan untuk berangkat umrah, dan semua serba gratis. Adik saya tentu senang bukan kepalang. Bayangkan, dulu dengan segala keterbatasan, dia memberangkatkan Mama dan Papa, kini dia bisa berangkat ke tanah suci bahkan tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Bukan itu saja, akomodasi dan fasilitas terbaik juga dia dapatkan. Allah rupanya sedang memuliakan adik saya melalui tangan orang-orang baik.

Kebaikan itu punya cara kerja yang unik. Ia tidak selalu kembali pada kita dalam bentuk yang persis sama, tetapi ia selalu menemukan jalannya. Bisa jadi kebaikan itu hadir dalam tawa orang-orang yang kita cintai, dalam kesuksesan anak-anak kita, atau dalam rasa lega di tengah masalah yang semula terasa begitu berat, seolah ada tangan tak terlihat yang membantu kita.

Pun halnya saya. Saya tidak pernah mengklaim diri saya baik atau pemurah, tapi ada satu peristiwa yang bagi saya terasa sangat ajaib, yang membuat saya yakin bahwa Allah hadir membantu saat saya mengalami kesulitan. Beberapa tahun lalu, saat saya masih tinggal bersama mertua, kebetulan rumah mereka berdekatan dengan masjid. Sejak saya tinggal di sana, setiap hari selalu saya sempatkan untuk memasukkan infaq ke dalam kotak amal, dengan jumlah yang random.

Saat saya sedang mengandung Alea, ketika hendak mengambil wudhu untuk salat tahajud, saya mendapati sesuatu yang tidak saya harapkan—saya mengalami pendarahan hebat, dan ketuban saya pecah sebelum waktu kelahiran tiba. Saya dan suami tahu bahwa saya harus kembali melahirkan melalui operasi sesar karena placenta previa. Di tengah malam, dengan kondisi semendadak itu, tentu bukan hal bagi kami untuk menjadwalkan operasi, apalagi mencari kamar di rumah sakit pemerintah.

Selang 8 jam kemudian, saya ditangani oleh tim dokter Rumah Sakit Pasar Rebo, dan operasi sesar pun berjalan dengan lancar. Saya dipindahkan menuju ke ruang pemuliha, di mana di sana saya berkumpul dengan para ibu pascamelahirkan, sebelum menuju ke kamar perawatan masing-masing. Suami saya masih sibuk mencari kamar yang memungkinkan saya bisa rooming-in dengan bayi kami, dan semua kamar terisi penuh. Entah dari mana pertolongan itu datang, yang sebelumnya semua kamar dinyatakan penuh tiba-tiba ada kamar Kelas 1 yang tersedia, dan saya bisa langsung menempatinya tanpa proses berbelit. Ah, rasanya Allah sedang menunjukkan kekuasaan dengan memudahkan segalanya di saat saya sangat membutuhkan-Nya. Bahkan, saya diiizinkan pulih jauh lebih cepat dibandingkan operasi caesar pertama saya pada 2008, yang membutuhkan dua minggu pemulihan—saat itu saya belum siap secara mental karena bayi pertama saya meninggal dalam kandungan.

Memberi bukan tentang berapa banyak yang kita lepaskan, melainkan tentang percaya bahwa ada sesuatu yang baik sedang menanti kita, ada pintu-pintu rezeki dan kebahagiaan yang terbuka yang sebelumnya tidak kita sadari ada. Tak peduli seberapa kecil bentuknya—waktu yang kita luangkan untuk mendengarkan, tenaga yang kita curahkan untuk membantu, atau harta yang kita sisihkan untuk berbagi—jangan pernah ragu untuk berbuat baik. Kebaikan tidak pernah pergi. Ia mungkin menempuh perjalanan panjang berliku-liku, melintasi banyak hati, dan menghidupkan banyak senyum sebelum akhirnya kembali kepada kita atau kepada mereka yang kita cintai. Tapi satu yang pasti, saat ia tiba, kebaikan selalu membawa kehangatan—entah berupa kebahagiaan, kemudahan, atau jawaban dari doa-doa yang pernah kita bisikkan dalam sunyi. Sebagaimana lingkaran yang sempurna, kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.

“Kebaikan itu tidak pernah salah alamat. Meski tak selalu langsung kembali, ia selalu menemukan jalan terbaik untuk menjelma menjadi kebaikan-kebaikan lain untuk pemberinya.”

Continue Reading

Painful Journey

Saat masih kecil, seringkali rasa sakit biasanya datang dalam bentuk yang sederhana—misalnya lutut yang terluka akibat kita jatuh dari sepeda, kepala yang tak sengaja terbentur meja, atau perut yang mules setelah jajan sembarangan. Tapi, biasanya rasa sakit itu cepat hilang karena kita tahu akan ada orang dewasa yang memberi kita pertolongan/obat. Secara mental kita tahu bahwa seiring waktu keadaan kita akan pulih, kita pulih seperti semula. Come back stronger, kalau kata anak sekarang, ya.

Namun, saat mulai memasuki usia dewasa, kita sadar bahwa rasa sakit yang muncul bukan lagi luka secara fisik, karena pencarian jati dirilah yang jauh lebih rumit. Sebagai orang dewasa, kita kini memegang kendali penuh atas hidup kita dan bertanggung jawab atas segala masa depan yang kita pilih. Semakin kita memahami kompleksitas hidup, semakin banyak pula berbagai keputusan besar yang harus diambil yang bisa saja mengubah arah hidup kita. Walaupun kesadaran ini seolah memberi kebebasan, jangan salah, ia juga datang dengan beban dan tanggung jawab yang berat.

Salah satunya adalah saat saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di usia saya sekarang—dengan status sebagai seorang ibu, istri, dan pekerja—saya tahu ini bukan keputusan yang mudah. Perjalanan untuk menyeimbangkan antara pendidikan, pekerjaan, dan peran sebagai ibu dan istri, memang penuh dengan tantangan yang tak terduga. Setiap langkah yang saya ambil mengharuskan saya untuk terus mengatur waktu dan energi dengan bijaksana. Salah satu momen yang paling terasa adalah ketika saya harus membagi waktu antara belajar untuk studi saya dan membantu anak mengerjakan PR atau menyiapkan diri untuk ulangan. Di sisi lain, ada malam-malam panjang ketika saya duduk sendiri di depan laptop, berjuang melawan kantuk, menyelesaikan tugas yang tenggatnya semakin dekat. Di momen-momen seperti itu, rasa “painful” hadir begitu nyata.

Tantangan yang saya hadapi sehari-hari—mulai dari membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga—sering kali terasa berat. Namun, saya tahu ini adalah bagian dari proses belajar dan berkembang. Yang lebih menantang lagi adalah menjalani hubungan jarak jauh dengan suami saya yang kini bertugas di luar kota. Meskipun terpisah jarak, kami terus berusaha saling mendukung, meski komunikasi sering kali terbatas karena kesibukan masing-masing. Ada rindu yang harus dipendam, ada lelah yang kadang tak bisa diungkapkan, namun kami tetap yakin bahwa semua pengorbanan ini adalah demi kebaikan bersama.

Di balik semua tantangan ini, ada keyakinan yang selalu saya pegang teguh. Saya percaya bahwa setiap keputusan yang saya ambil bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk keluarga saya. Ada harapan yang besar saat anak saya melihat ketekunan saya dalam belajar, dan memahami pentingnya kerja keras. Saya juga berharap keluarga saya menyadari bahwa mengejar mimpi tak mengenal usia atau status. Tentu saja, saya sadar bahwa rasa sakit, lelah, dan frustrasi yang kadang muncul adalah bagian dari proses. Justru proses yang penuh tantangan inilah yang mengajari saya untuk lebih sabar, lebih bijak dalam mengelola waktu dan energi, dan untuk terus percaya bahwa di ujung jalan, ada kebaikan yang menunggu.

Dalam hening saya sering merenung, berkontemplasi, dan berpikir tentang betapa banyak orang yang menghadapi tantangan jauh lebih besar dari yang saya hadapi namun tak pernah terceritakan, dan tetap menjalani hidup seperti biasa saja. Di saat-saat seperti itulah yang membuat saya sadar bahwa kita tak bisa membandingkan hidup kita dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan dan perjuangannya masing-masing. Anadaikata pun saya bisa memutar waktu, saya tak akan mengubah apapun. Karena setiap momen, baik suka maupun duka, telah membentuk diri saya menjadi seperti sekarang.

Untuk kamu yang sedang menjalani perjalanan hidup yang berat, ingatlah, kamu tidak sendirian. Setiap langkah kecil yang kamu ambil membawa kamu lebih dekat ke versi terbaik dari dirimu. Tak masalah jika langkahmu terasa lebih lambat dibandingkan orang lain, karena setiap orang punya ritme hidupnya sendiri. Suatu hari nanti, kamu akan melihat kembali dan menyadari bahwa semua rasa sakit dan lelah itu benar-benar layak untuk dilewati. Jangan lupa untuk berterima kasih pada dirimu sendiri, karena meski tantangan terus datang, kamu tetap berdiri teguh. Teruslah berusaha menjadi versi terbaik dari dirimu, karena itu adalah hal yang paling penting.

“Every painful journey carries its own lessons; it’s in the struggle that we find our strength and in the scars that we discover our resilience.”

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Pulang Ke Panggung Tari

Pada Agustus 2024, saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk tampil dalam acara Pelepasan PNS Purnatugas Kementerian Sekretariat Negara—acara tahunan yang biasanya sayalah yang menjadi MC-nya. Namun, tahun ini ada yang berbeda. Alih-alih menjadi MC, saya justru memutuskan untuk tampil sebagai pengisi acara, sebuah perubahan yang sangat signifikan, ya.

Ada cerita unik di balik keputusan menari itu saya diambil. Sejujurnya, saya sempat ragu. Sudah puluhan tahun saya meninggalkan panggung tari, apa iya saya masih bisa menari? Apa iya gerakannya masih luwes? Selama ini teman-teman hanya mendengar cerita saya tentang masa lalu sebagai penari, tanpa adanya bukti konkret yang bisa mereka lihat di masa sekarang, sehingga klaim saya tersebut hingga saat ini belumlah akurat.

Sejak usia 8 tahun, saya bergabung dengan sebuah sanggar tari di Malang, di mana saya ditempa untuk dapat menguasai tari Jawa klasik dan kreasi baru oleh Bapak Alm. Pompong Supardjo, seorang budayawan dan pelatih tari asal Singosari, Kabupaten Malang. Setiap semester, kami mengikuti ujian kenaikan tingkat di depan para penguji di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Kebetulan, beliau juga merupakan teman mama saya ketika masih aktif di Wilwatikta. Dulu, saat mama masih remaja, mama saya seorang penari, sementara Pak Pompong menjadi pengendang (pengrawit) dalam pertunjukan wayang orang dan sendratari kolosal Ramayana, serta berbagai tarian kolosal lainnya yang digelar di taman terbuka (amphiteater) Taman Tjandra Wilwatikta, Pandaan, Jawa Timur.

Jauh sebelum acara tiba, teman-teman dan atasan saya juga sempat meragukan, “Serius, kamu bisa menari?” Ada yang bertanya, “Memang kamu penari, Dev? Kapan latihannya?” hingga ada yang berseloroh, “Jangan becanda lho, Devi!” Mendengar semua itu saya cuma bisa tertawa. “Jadi, menari itu sebenarnya satu-satunya bakat yang belum sempat saya tunjukkan sejak lulus kuliah dan mulai bekerja, apalagi sejak di Setneg. Lucunya, belum sempat saya unjukkan, justru bakat baru seperti MC yang ditemukan oleh Pak Cecep (mantan Deputi Bidang Administrasi Aparatur). Menari, entah kenapa, masih belum ada kesempatan.”

Akhirnya, dengan mantap, saya putuskan untuk menari, dan pilihan saya jatuh pada Tari Punjari  dari Banyuwangi. Bagi saya, Tari Punjari lebih dari sekadar tarian, lebih dari itu, ia membawa saya ‘pulang’ ke masa lalu, ke masa-masa di mana saya masih aktif menari. Kembali ke panggung tari, bukan sekadar membawakan koreografi tarian, juga tentang bagaimana menunjukkan pada diri sendiri bahwa ada bagian dari diri yang masih hidup—sesuatu yang lebih personal dan mendalam.

Tari Punjari adalah tari kreasi baru pertama yang berhasil saya kuasai dengan baik, yang lalu menjadi tonggak keberanian saya untuk tampil di panggung, dan berhasil meraih kemenangan di berbagai kompetisi, tampil di berbagai acara. Dan uniknya, karena saking seringnya saya membawakan tari Punjari, mendapatkan julukan “Devi Punjari”.

Tari Punjari sendiri merupakan karya dari Bapak Sayun Sisiyanto, seorang budayawan Banyuwangi yang begitu berjasa dalam melestarikan seni dan budaya daerah. Tarian ini, tersohor sekitar tahun 1990-an, yang memadukan seni jaran (kuda lumping) dan seni angklung.

Kembali membawakannya setelah vakum menari selama bertahun-tahun tentu bukan hal mudah. Detail gerakan yang dulu terasa begitu mudah dan otomatis kini terasa seperti teka-teki yang harus dirangkai ulang. Selama dua bulan penuh saya berlatih secara mandiri melalui Youtube, mengulang gerakan demi gerakan, dan menghidupkan kembali detail-detail kecil yang dulu merupakan ciri khas saya. Yang menarik, seiring waktu, Tari Punjari telah mengalami banyak modifikasi dalam gerakannya. Namun, untuk pertunjukan kali ini, saya memilih versi yang mendekati orisinal—sebagai penghormatan pada karya Bapak Sayun Sisiyanto dan akar budaya Banyuwangi.

Saat hari pertunjukan tiba, perasaan saya campur aduk—gugup, haru, dan juga bangga. Begitu musik mulai mengalun, saya membiarkan tubuh saya yang ‘berbicara’. Di atas panggung, wiraga, wirama, dan wirasa menyatu dengan sendirinya. Nyatanya, tarian ini memang lebih dari sekadar gerakan fisik. Lebih jauh, Tari Punjari adalah perjalanan waktudi mana saya kembali bertemu dengan diri saya yang dulu— seorang anak kecil yang berjuang mengatasi rasa takut dan ketidakpercayaan diri di atas panggung, yang akhirnya berkembang menjadi sosok yang sebaliknya, dan siap bersaing dalam kompetisi.

Tapi kali ini, saya menari dengan rasa syukur dan bangga, bahwa perjalanan itu telah membawa saya sejauh ini. Kembali menari menjadi pengingat yang manis bahwa setiap langkah yang pernah kita ambil selalu punya cerita yang layak untuk dirayakan.

Continue Reading