Jejak Bahasa di Era Linimasa

Language is a powerful tool, a reflection of who we are and where we come from. It shapes the way we connect with others, express ourselves, and even how we perceive the world around us.

Tumbuh besar di Jawa Timur membentuk keakraban saya dengan gaya tutur yang lugas, cepat, tegas, dan kadang terdengar keras, meski sejatinya mengandung kehangatan dan kejujuran. Tapi akhir-akhir ini, saya mulai gelisah menyaksikan arah perkembangan bahasa kita, terutama dalam hal makin lumrahnya umpatan dalam komunikasi sehari-hari.

Saya bukan tipe yang gemar memaki, meski kata-kata seperti “cuk” kependekan dari kata “jancuk” bukan sesuatu yang asing di telinga Jawa Timuran macam saya. Dalam konteks pergaulan, ungkapan seperti itu kerap muncul sebagai ekspresi spontan yang penuh dengan arti yang mutitafsir, ya bisa marah, kaget, geli, lucu, atau menunjukkan keakraban dengan lawan bicara, tergantung intonasi dan suasana. Namun yang saya amati belakangan, kata makian mulai kehilangan arti tersebut. Ia bukan lagi menjadi luapan emosi yang muncul dalam kondisi tertentu, namun berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari pola bicara generasi muda. Seolah-olah setiap kalimat kurang asik, kurang gaul, kalau tanpa sisipan umpatan.

Kata-kata kasar yang menyebut hewan, organ tubuh, atau bentuk makian lain dulu jelas dianggap tidak pantas. Pada masanya, tidak sedikit orang tua yang sampai mengoleskan cabai ke mulut anak sebagai hukuman ketika mereka ketahuan berkata kasar atau tidak sopan. Kini situasinya berbeda. Dalam obrolan ringan, saat bermain gim, atau bahkan ketika membahas hal remeh, umpatan seperti “anjing”, “njir”, “bangke”, “tai”, “njing”, atau “cok” bukan hanya memenuhi media sosial, tetapi juga muncul begitu saja dalam percakapan sehari-hari.

Yang menarik, persoalannya bukan sekadar siapa yang mengucapkannya, tetapi bagaimana kata-kata itu dipakai tanpa mempertimbangkan situasi atau lawan bicara. Anak-anak muda dengan tampilan rapi, outfit modern, tetap bisa menyisipkan umpatan dengan mudah, seolah itu bagian alami dari obrolan. Kontras itu memang tidak berkaitan langsung baik gaya berpakaian atau pilihan bahasa, tetapi yang membuat saya memperhatikan satu hal lain: bagaimana kata “cuk” yang khas Surabaya atau Jawa Timur kini dipakai di luar konteks asalnya. Penggunaannya sering lebih dari bagian dari tren.

Media sosial turut mendorong perubahan ini. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X memberi ruang ekspresi yang luas dan cepat. Di tengah arus informasi, tekanan sosial, dan berbagai perdebatan yang silih berganti, umpatan sering dipakai sebagai pelampiasan spontan. Apalagi tanpa kehadiran lawan bicara secara langsung, batas empati pun jadi terasa lebih longgar, membuat siapa saja lebih bebas mengucapkan apa pun yang terlintas tanpa banyak mempertimbangkan efeknya.

Media sosial bukan hanya tempat kita berbagi cerita, tetapi juga pelan-pelan membentuk cara kita berkomunikasi. Algoritmanya bekerja seperti kurator pribadi: setiap komentar, klik, atau tontonan akan menentukan jenis konten yang muncul di linimasa. Dari sinilah muncul istilah filter bubble, gelembung digital yang membuat kita lebih sering melihat hal-hal yang sesuai dengan selera kita. Dalam urusan bahasa, kondisi ini akan menciptakan echo chamber, yaitu ruang gema yang terus mengulang gaya bicara tertentu.

Akibatnya, jika lingkungan pertemanan kita terbiasa memakai kata seperti “anjing”, “tai”, “cok”, atau “njir” dalam obrolan sehari-hari, dan semuanya menanggapinya sebagai hal biasa atau lucu, pola itu mudah terbawa. Umpatan yang dulu punya muatan emosi atau konteks budaya perlahan kehilangan rasanya. Kata-kata tersebut jadi terdengar datar, bahkan berubah fungsi, sekadar jadi pengisi jeda atau penutup kalimat.

Kata kasar tentu tidak serta-merta menggambarkan siapa diri kita. Namun ketika frekuensinya makin sering muncul dalam percakapan, ada perubahan kecil yang ikut terbentuk dalam cara kita berinteraksi. Walau tidak selalu dimaksudkan negatif, kebiasaan ini bisa perlahan mengurangi kepekaan dan menciptakan jarak halus dalam hubungan sosial.

Saya paham bahwa bahasa selalu berubah. Slang, logat, dan gaya bertutur pasti akan terus muncul. Saya pun tidak menolak itu. Hanya saja, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, sebenarnya apa yang sedang kita anggap wajar? Jika setiap umpatan dibalas dengan, “Itu hal biasa, dari dulu juga begitu,” bukankah itu tanda bahwa kita mulai kehilangan kepekaan? Rasanya penting untuk melihat kembali, apa yang kita anggap kemajuan, dan apa yang mungkin diam-diam kita lepaskan?

Mungkin benar, saya bukan bagian dari generasi yang paling akrab dengan bahasa kekinian. Bisa jadi telinga saya juga sudah tidak sefleksibel dulu. Tetapi saya tetap percaya bahwa kebebasan berekspresi perlu disertai kesadaran akan konteks, waktu, dan rasa hormat. Cara kita berbicara menunjukkan cara kita berpikir. Dan ketika umpatan bukan lagi tentang emosi, tetapi justru menjadi kebiasaan, bukankah itu tanda bahwa kita perlu mengevaluasi ulang kepekaan dan batas kita? Mengikuti tren tidak berarti harus mematikan nalar kritis, kan?

Just my two cents.

-Devi Eriana-

ilustrasi diambil dari shutterstock.com

Continue Reading

PDA: Romansa di Tengah Publik

Di tengah perjalanan sebuah bus Transjakarta yang melaju dari arah Kota Tua menuju ke Balai Kota, naiklah sepasang anak muda yang sejak naik hingga turun mereka duduk bersebelahan, dan saling bergandengan tangan. Selama perjalanan, mereka beberapa kali saling melakukan hal-hal kecil kepada pasangannya satu sama lain. Mengusap/mencium pipi, membelai rambut, membetulkan kerah baju, meletakkan tangan di paha pasangan, berbisik mesra lalu terbahak, dan berpelukan, semuanya dilakukan di ruang publik di dalam transportasi umum, Transjakarta. Anyway, jarak perjalanan yang ditempuh keduanya hingga sampai di pemberhentian terakhir lumayan jauh, kan? Jadi, bagi penumpang yang duduk berhadapan dengan mereka, sepertinya lebih baik pindah ke Mars, deh.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kemesraan bukan hanya bisa dilihat secara langsung, tetapi juga dapat dilihat melalui media sosial. PDA bisa terjadi di mana saja: di taman, pusat perbelanjaan, transportasi umum, bahkan di tempat kerja. Seperti misalnya di platform media sosial Instagram, ada akun Instagram milik sepasang selebgram muda yang aktif membagikan konten kemesraan mereka di antara konten-konten kajian keagamaan. Walaupun banyak komentar yang memuji mereka dengan kata-kata seperti “ih, lucu deh kalian”, “mesra banget”, “uwuu..,” “duh, kita mah cuman bisa nyengir aja” dan berharap untuk menemukan pasangan seperti mereka, namun di dunia maya, respon yang diterima tidak selalu positif.

“Mempertontonkan kemesraan di depan publik, hmm, kok agak gimana, ya?”

“Menurutku, meskipun mereka pasangan yang sah, sebaiknya kemesraan tidak terlalu diumbar, apalagi diunggah ke media sosial. Tidak semua orang merasa bahagia seperti mereka, dan khawatirnya malah menimbulkan ain. Ini cuma pendapatku saja, ya. Maaf kalau ada yang nggak setuju.”

“Haduh, ya udah sih biar aja. Pasangan-pasangan mereka sendiri kok kalian yang ribet! Kalau nggak suka, unfollow aja..”

Public Display of Affection (PDA) atau menunjukkan kasih sayang di tempat umum sering kali menjadi perdebatan hangat. Ada yang melihatnya sebagai bentuk cinta yang romantis, sementara lainnya merasa terganggu, tidak nyaman dengan hal tersebut. Menurut Wikipedia, pamer kemesraan atau umbar kemesraan adalah perbuatan mempertunjukkan kemesraan di depan umum, yang biasanya dilakukan oleh pasangan, seperti pacar atau pasutri.

Banyak pasangan memilih untuk menunjukkan perasaan mereka kepada publik melalui PDA. Tidak ada yang tahu secara pasti tentang maksud dan tujuan orang yang melakukan PDA. Mungkin mereka berharap gestur-gestur berpegangan tangan atau berpelukan di tempat umum dapat menunjukkan kedekatan mereka kepada orang lain. Atau malah justru sebaliknya, untuk menyembunyikan ketidakamanan dalam hubungan mereka? Lebih dari sekadar mengekspresikan kasih sayang, PDA juga tentang menunjukkan komitmen mereka di hadapan orang lain.

Masing-masing individu memiliki preferensi yang beragam dalam mengekspresikan kemesraan di depan publik. Ada yang senang memperlihatkan kasih sayang kepada pasangan mereka secara terbuka, tetapi banyak juga yang lebih suka menjaga privasi dengan tidak menunjukkan kemesraan di depan orang lain. Hal ini sering dipengaruhi oleh latar belakang pribadi, budaya keluarga, atau norma sosial yang mereka anut.

Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Kanada, dan sebagian besar Eropa, Public Display of Affection (PDA) sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah dan diterima secara sosial. Namun, di beberapa negara Asia dan Timur Tengah, PDA sering kali dianggap tidak pantas atau bahkan dianggap tabu. Dalam media dan budaya populer, PDA sering digambarkan sebagai sesuatu yang romantis dan diidamkan. Film, acara TV, dan musik memiliki pengaruh besar dalam cara orang mengekspresikan perasaan cinta mereka.

Kontroversi seputar PDA melibatkan berbagai isu, tidak semua orang merasa nyaman melihat PDA, terutama jika dianggap terlalu intim. Adanya perbedaan generasi juga memengaruhi, di mana generasi yang lebih tua mungkin kurang mendukung PDA karena norma sosial pada masa lalu berbeda dengan generasi muda saat ini. Perbedaan pendapat juga muncul karena setiap individu memiliki toleransi yang berbeda terhadap kemesraan di depan umum. Isu lainnya termasuk pendapat bahwa PDA sebaiknya dibatasi untuk menjaga kesopanan di tempat umum. Namun pembatasan PDA di beberapa tempat ini mengundang pertanyaan tentang seberapa jauh norma sosial dapat membatasi kebebasan individu. Oleh karena itu, penting bagi mereka yang suka melakukan PDA untuk mempertimbangkan situasi/konteks, lokasi, serta menghormati respons dan norma budaya setempat.

Jadi, walaupun PDA bisa dianggap sebagai bentuk ekspresi cinta yang berbeda-beda maknanya bagi setiap orang dan budaya, yang terpenting adalah bagaimana kita menemukan keseimbangan antara ingin mengekspresikan kasih sayang dan tetap menjaga kenyamanan serta kesopanan di tempat umum. Hal ini penting agar kita menciptakan lingkungan yang menghargai keragaman dan saling menghormati.

— devieriana —

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Verba Volant, Scripta Manent

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer

Setelah vakum beberapa tahun lamanya, akhirnya saya mengobati kerinduan saya aktif menulis kembali. Seperti biasa, topik tulisan saya random. Topik kejadian keseharian, review film, psikologi, parenting, pekerjaan, dan sebagainya. Banyak teori yang bilang kalau menulis di blog harus ada temanya supaya ada audiens yang secara khusus tertarget, misalnya blog yang khusus me-review tentang kecantikan, gadget, atau kuliner. Tapi menurut saya menulis tema random tentang keseharian juga memiliki daya tarik tersendiri. Menulis dengan tema random bagi saya memberikan kebebasan untuk menulis apa pun yang kita suka yang mencerminkan kehidupan sehari-hari atau berbagai minat kita saat itu.

Beberapa teman baru, yang mungkin baru mengenal saya bertanya, “Kak Devi ternyata masih suka nulis, ya? Kenapa, Kak? Kan sekarang zamannya udah zaman visual, orang lebih tertarik nonton konten video ketimbang tulisan.” Saya sudah suka menulis sejak SD. Sepertinya ada saja hasil ‘tulisan’ yang saya buat waktu itu, misalnya tiba-tiba membuat tulisan fiksi anak-anak, cerita legenda, atau komik ala-ala. Pelajaran bahasa Indonesia juga menjadi salah satu pelajaran favorit saya, karena ada sesi mengarang indah. Dulu saya juga punya cara kerja yang unik dalam membuat tulisan/karangan. Kalau teman lain membuat kerangkanya dulu baru menulis, saya justru sebaliknya. Saya buat karangannya dulu, baru saya buat kerangka karangan sebagai pelengkap. Sejak kecil pula saya suka mencari kosakata-kosakata baru yang kurang lazim digunakan. Masih ingat, dulu karena sering membaca surat kabar, saya menemukan kata ‘oknum’. Dengan bangga saya gunakan kata itu dalam tugas mengarang  pada pelajaran bahasa Indonesia. Tapi karena tidak sesuai dengan tema tugas waktu itu, sehingga kata itu justru dicoret oleh guru. Tak apa, yang penting sudah sempat memakainya.

Bukan hanya itu, konten blog lebih mudah diakses dan ditemukan dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan postingan media sosial yang cepat berlalu. Ketika seseorang menulis di blog, tulisan tersebut memungkinkan untuk diindeks oleh mesin pencari seperti Google, sehingga orang lain dapat menemukan tulisan tersebut bertahun-tahun setelah dipublikasikan. Hal ini tentu sedikit berbeda dengan postingan di media sosial yang cenderung tenggelam dalam lautan konten baru yang terus bermunculan setiap detiknya. Blog juga memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam menyusun dan menyampaikan informasi. Kita dapat membuat artikel yang panjang dan mendalam, menyertakan berbagai jenis media seperti gambar, video, dan infografis, serta mengelompokkan tulisan-tulisan tersebut ke dalam kategori yang memudahkan navigasi bagi pembaca. Jadi, sebenarnya menulis di blog telah lama menjadi salah satu cara paling populer untuk berbagi informasi, pengalaman, dan pemikiran dengan audiens yang lebih luas.

Bagi saya pribadi, blog ini dapat dianggap sebagai tempat penyimpanan digital memori saya, seperti ruang virtual di mana saya dapat dengan bebas menuangkan pikiran dan berefleksi. Blog ini menjadi tempat perlindungan, rumah pikiran, sebuah tempat yang tenang di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Lebih jauh blog ini juga berfungsi sebagai portofolio yang menampilkan perkembangan saya sebagai penulis yang sedang berkembang.

Semua hal ini sejalan dengan pepatah Latin yang mengatakan “Verba volant, scripta manent”, yang berarti kata-kata yang terucap akan terbang pergi, tetapi kata-kata yang tertulis akan tetap abadi. Dalam era digital, pepatah ini mengingatkan kita akan pentingnya menyimpan informasi secara tertulis. Verba volant, scripta manent menekankan adanya kekuatan dan kekekalan kata-kata tertulis dibandingkan dengan yang terucap. Kata-kata yang tertulis memiliki daya tahan yang luar biasa, memungkinkan pemikiran dan ide untuk hidup lebih lama daripada ucapan yang segera dilupakan. Inilah yang membuat aktivitas menulis di blog bukan hanya relevan di masa lalu, dan kini saja, namun juga memberikan dapat kontribusi jangka panjang bagi dunia pengetahuan dan budaya jika dibutuhkan.

— Devieriana —

Continue Reading

Di Balik Topeng Media Sosial

media sosial

Media sosial adalah ruang pamer dan pintu gerbang yang sangat luas. Namun, media sosial juga ibarat pisau bermata dua. Ia dapat menjadi sahabat penuh manfaat atau musuh terjahat.

Bagi yang mampu mengelola akun media sosial dengan baik, dunia maya bisa jadi panggung yang menguntungkan. Semua orang bisa menjadi idola tanpa harus bersusah payah memopulerkan diri, mengikuti audisi, ataujob interview. Jika beruntung, panggung mereka bahkan bisa ditonton oleh banyak orang. Bonusnya, uang, barang, paket liburan, dan lainnya akan mengikuti.

Meski begitu, tak semua orang antusias memiliki akun media sosial. Rico, misalnya. Karyawan swasta di bilangan Sudirman ini memilih tidak bermain media sosial apa pun. Meski setiap platform media sosial memberi hak bagi pemilik akun untuk mengendalikan jenis informasi yang bisa dilihat oleh orang lain, tetap saja pria usia 30 tahun itu tidak tertarik.

“Aku nggak mau media sosial memperbudak hidupku, tukas lelaki berkacamata itu, orang akan selalu terpancing mengunggah apa pun yang diminta oleh media sosial. Misalnya, Facebook dengan whats on your mind-nya, Twitter dengan whats happening-nya, atau Instagram yang meminta kita mengunggah foto ini itu, disertai dengan caption tertentu.”

Berbeda dengan Anindita, mahasiswa yang pernah memiliki akun di sejumlah platform media sosial ini berkomentar, “Sebenarnya, bermain sosmed itu asyik-asyik saja selama nggak sampai kecanduan. Dulu, aku punya teman yang sangat eksis di sosmed. Awalnya sih dia menikmati popularitas itu. Tapi semakin dia dikenal orang, semakin dia dianggap baik, pintar, bijaksana, dan menyenangkan, semakin dia terjebak dalam pencitraan yang melelahkan.”

Kata-kata mutiara memang banyak bertebaran di media sosial, atau kalimat-kalimat bijak dan inspiratif yang dapat memotivasi orang lain. Anindita berpendapat, ketika seseorang terlalu sempurna di media sosial, yang terlihat justru bukanlah dirinya sendiri melainkan sebuah citra atau avatar.

“Sebagai manusia, kita pasti punya sisi baik dan buruk, kan? Dia juga manusia biasa yang bisa capek, sebel, galau, dan ngomel-ngomel juga kalau lagi marah. Sampai akhirnya dia sadar, jenuh dengan semua pencitraan yang dibangunnya itu. Ada kerinduan menjadi diri sendiri”, tuturnya.

2015 lalu, kasus serupa terjadi pada selebgram remaja asal Australia, Essena Oneill. Ia bisa dikatakan memiliki segalanya, terutama dari hasil mempromosikan/mereviewproduk di Youtube atau Instagram. Namun, Essena yang memiliki 1 juta pengikut di Instagram, 265.000 pengikut di Youtube, dan 60.000 pengikut di Snapchat itu mengaku segenap popularitas dan barang-barangbranded yang dia miliki ternyata tak membuat bahagia.

Dia pun memutuskan berhenti dari ingar bingar media sosial dan kembali menjadi diri sendiri. Essena berterus terang kepada para fans tentang kisah di balik setiap fotonya. Foto-foto sempurna itu sejatinya hasil bidikan beratus-ratus kali dengan pengeditan super lama. Hal itu tentu saja menuai pro dan kontra.

Puncaknya 27 Oktober 2015, dia menghapus lebih dari 2.000 foto di Instagram sebagai upaya melawan delusi dan adiksi terhadap media sosial. Keputusan itu diambil karena Essena merasa hidupnya selama ini terlalu dikonsumsi oleh media sosial. Dia seolah hanya hidup dalam guliran linimasa dunia dua dimensi.

Sama seperti para social media influencer lain, mudah bagi Essena untuk memperolehfollowers baru, atau mendapat likesdi setiap foto yang dia unggah. Namun, pada akhirnya, sesuatu yang mampu membuatnya bahagia adalah ketika dia bisa menginspirasi orang lain untuk membuat perubahan positif atas hidup. Bukan sekadar mendorong mereka membeli barang-barang baru sebagaimana yang diaendorse.

“Di Instagram ga ada orang miskin. Di Twitter ga ada orang bodoh. Di Path ga ada orang susah. Di Facebook semua punya temen. Di hati, kosong”, kata akun @radenrauf di Twitter. Kalimat tersebut seolah mewakili pemikiran banyak warganet. Saat tulisan ini dibuat, cuitan tersebut telah di-retweet 1800 kali.

Foto-foto yang ditampilkan di Instagram memang bukan foto yang biasa saja. Semua tampak sempurna dan istimewa. Yang tak pernah kita tahu di balik foto-foto itu adalah bagaimana kehidupan pemilik foto yang sebenarnya. Sama halnya dengan orang-orang yang berusaha menginspirasi dan memberi semangat kepada orang lain. Di saat yang sama, bisa saja mereka sendiri sedang butuh pencerahan, inspirasi, atau suntikan semangat.

Dan sebaliknya, orang-orang yang hidup biasa saja, dengan penampilan yang datar-datar saja, boleh jadi justru pemilik kebahagiaan yang seutuhnya: ikatan yang kuat dengan keluarga dan realitas sosial, serta menjadi diri sendiri tanpa sibuk berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda.

Sekalipun sangat mudah menciptakan kesan hidup yang ideal melalui berbagai aplikasi dan filter yang impresif, bukan berarti media sosial bisa dijadikan tolok ukur kebahagiaan seseorang, pengakuan atas sesuatu hal, atau mendefinisikan penggunanya.

Tujuan media sosial sejatinya, selain sebagai alat untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri, adalah sebagaisneak peek. Penggalan hidup sang pengguna yang dapat menjadi indikator kepribadian pun status sosial ekonomi. Media sosial dapat menjadi salah satu bagian daripersonal branding yang sayang jika tidak dimanfaatkan sama sekali di era yang makin kompetitif ini. Bagi orang-orang berjiwa enterpreneur, publisitas danexposure memiliki peran yang sangat bagus jika dimaksimalkan.

Citra media dapat menjadi bahan makanan bagi ego manusia. Itulah mengapa terlalu mendalami peran dalam sandiwara pencitraan hanya demi mendulang jumlahfollowers, likes, serta comments/pujian yang sebenarnya tidak nyata, bisa berbahaya bagi kesehatan jiwa. Ada saatnya kita akan letih berpura-pura dan ingin tampil apa adanya.

Sebelum nafsu dan emosi mengambil kendali atas ujung jari dan mengunggah sisi rapuh dari diri kita, akal sehat harus menghentikannya agar harga diri tetap terjaga. Karena di antara ketenaran dan kemurnian, sesungguhnya cuma bersekat tipis.

 

[devieriana]

 

tulisan yang sama juga di-publish di Birokreasi

 

ilustrasi dipinjam dari sini

 

Continue Reading

Kenapa Masih Main Twitter?

Twitter IconSampai dengan saat ini, twitter masih bisa dibilang sebagai media sosial yang efektif, bukan hanya untuk berjejaring, tapi juga berdiskusi, hiburan, hingga mencari lowongan kerja. Tidak seperti Linkedin, Twitter adalah jaringan yang terbuka, di mana kita bisa dengan mudah terhubung dengan seseorang hanya dari apa yang mereka posting di twitter.

Sekitar tahun 2006, zaman Twitter masih baru diluncurkan, belum banyak orang yang berminat punya akun Twitter. Hingga akhirnya, di sekitar tahun 2010, mulailah Twitter diminati. Apapun bisa ditemukan dengan mudah di sini. Bahkan kalau masih ingat, ada banyak sekali gerakan sosial atau komunitas yang lahir di Twitter.

Dalam perkembangannya, Twitter mulai dianggap terlalu ‘riuh’ dan membosankan karena banyak yang menjadikannya sebagai media bagi para ‘mulut api’ yang menyebarkan kebencian, bullying, spam, politik, dan tujuan-tujuan ekonomis lainnya. Twitter pelahan mulai ditinggalkan oleh penggunanya sekitar tahun 2014, di mana saat itu warganet banyak yang mulai beralih ke media sosial baru yaitu Path, yang (konon) lebih eksklusif karena hanya diperuntukkan bagi circle pertemanan yang dekat saja. Tapi tidak sedikit juga warganet yang kembali ke mainan lama mereka yaitu Facebook.

Sama halnya dengan pengguna medsos lainnya, saya memilih tidak terlalu aktif bermedia sosial, dan memilih kembali menulis di blog yang lebih banyak sarang laba-labanya ketimbang postingan barunya. Walau tidak sampai menghapus akun, tapi akun-akun itu sempat telantar selama beberapa waktu.

Jika dilihat secara keseluruhan, Twitter memang tidak banyak berubah, intinya masih sama dengan platform yang diluncurkan pertama kali, sekitar 11 tahun yang lalu. Kita bisa lihat dan bandingkan dengan platform media sosial lainnya yang lebih sering memutakhirkan tampilan, newsfeed, dan fitur-fitur mereka, yang semakin membuka alternatif solusi komunikasi dan berbagi bagi para penggunanya.

Sejak kenal Instagram — yang bagi saya kehadirannya menggantikan salah satu platform media sosial tempat berbagi foto yaitu Posterous — makin ‘terjerumuslah’ saya sebagai jamaah Instagramer, walaupun postingannya jarang ada yang berfaedah, yang feed-nya ngasal, dan hanya sekadar posting saja. Tujuan punya akun Instagram ya sekadar biar kekinian. Iya, saya memang anak yang latah. Kadang-kadang.

Kehadiran Instagram dengan cepat menjadi idola baru pengguna media sosial. Menurut saya sih wajar, karena segala postingan yang mengandung unsur visual itu selalu lebih menarik dibandingkan dengan yang hanya berupa tulisan saja. Seeing is believing, right?

Sampai suatu hari, ketika sedang marak-maraknya Pilkada Jakarta, sekitar bulan April 2017, tangan saya tiba-tiba ‘gatal’ ingin menulis sesuatu di Twitter, buat iseng saja, sekadar buat lucu-lucuan. Tapi siapa sangka kalau ternyata postingan iseng itu justru di-retweet sebanyak 328 kali, dan di-love sebanyak 68 kali. Mengingat saya bukan akun selebtwit yang tidak terbiasa mendapatkan impresi sebanyak itu dari warganet, jelas kaget.

Legowo
Meski penggunanya tidak sebanyak dulu, tapi Twitter masih punya magnet tersendiri sehingga dia tetap dicintai penggunanya. Termasuk saya. Terlepas apakah nantinya kita akan monolog seperti biasa, atau mendapat balasan dari warganet lainnya, buat saya sih tidak ada masalah, toh dari dulu niatan saya membuat akun media sosial selain untuk sharing, juga sebagai media penambah teman, hiburan, dan penambah informasi/pengetahuan.

Meski Twitter adalah media sosial yang postingannya dibatasi oleh jumlah karakter, tapi justru di sanalah segala ide, gagasan, ‘suara’ kita lebih ‘didengar’ oleh warganet. Sekarang kita bukan hanya bisa memposting tulisan saja, tapi juga gambar, video, polls, dan informasi non-text lainnya yang tidak termasuk dalam hitungan 140 karakter. Pengguna Twitter itu adalah orang-orang yang kreatif dalam mengolah kata. Lihat bagaimana cara warganet menyampaikan ide/opini/cerita melalui 140 karakter tapi tetap dimengerti oleh warganet lainnya.

Twitter juga menjadi salah satu media sosial yang penyebaran informasinya paling cepat. Bayangkan, hanya dengan menekan tombol retweet saja, sebuah informasi bisa menjadi viral seketika. Contoh paling mudah, ketika akun @handokotjung mendapatkan 243 replies, 2.280 kali retweet, dan 962 likes ketika dia memposting:

Ayla View
Saya sendiri, selain menggunakan Twitter sebagai sarana untuk ‘nyinyir’ posting status random tak berfaedah, juga sering menggunakannya untuk berbagi info lowongan CPNS. Bahkan dulu ada kejadian yang berkesan buat saya, ketika saya mendampingi para pelamar saat interview user. Sambil menunggu jadwal interview, mereka saya ajak ngobrol. Di tengah obrolan dengan beberapa pelamar, ternyata mereka adalah salah satu follower saya di Twitter, bahkan juga yang pembaca blog saya.

“Kak Devi ini yang suka posting lowongan CPNS di Twitter itu, kan? Saya tahu ada lowongan di Setneg karena baca linimasa Kak Devi. Oh ya, saya juga silent reader-nya blog Kakak lho…”

Ah, senangnya, ternyata postingan saya ada juga yang dianggap berguna bagi warganet, hihihik.

Twitter juga sebagai media yang memungkinkan penggunakan berinteraksi secara langsung, cepat, dan personal dengan akun lainnya. Selain itu, Twitter juga bisa menjadi tempat belajar dan menambah pengetahuan secara gratis. Sebut saja akun @IvanLanin menjadi idola baru saat ini karena beliau memberikan pengajaran dan pengaruh positif bagi warganet tentang bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar; disampaikan dengan kalimat efektif yang mudah dipahami. Bukan itu saja, tak jarang beliau yang kelihatannya cool itu bisa membaur menjadi lucu/iseng ketika menjawab pertanyaan jahil para warganet.

Jadi kesimpulannya, jawaban versi saya kenapa saya masih main Twitter, karena merangkum cerita dalam 140 karakter itu selalu menarik untuk dilakukan, dan Twitter masih terlalu seru untuk ditinggalkan begitu saja.

Kalau kalian, kenapa masih mainan Twitter?

[devieriana]

Continue Reading
1 2 3 5