Cerita dari Purwakarta

Kemarin pagi, kebetulan saya bersama beberapa teman mewakili kantor untuk hadir dalam acara “Penanaman Satu Miliar Pohon” di Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Berangkat dari kantor sekitar pukul 06.30 wib dan sampai di lokasi sekitar pukul 08.45 wib (padahal acaranya pukul 09.00) :D. Kalau dibandingkan dengan rekan dari kementerian lain kami memang datang belakangan, selang beberapa menit sebelum Presiden beserta rombongannya datang.

Ada beberapa hal menarik ketika saya berkunjung kesana. Yang paling kelihatan nyata ya sambutan masyarakat Jatiluhur yang.. sumpah.. bikin saya terharu :(. Sepanjang jalan menuju lokasi kami disambut oleh murid-murid SD berseragam Pramuka didampingi oleh guru masing-masing, yang mengacung-acungkan bendera kecil sambil melambaikan tangan ke arah kami. Senyum sumringah terkembang diantara bibir-bibir mereka. Jadi iseng mikir, kira-kira apa ya yang ada dalam pikiran mereka ketika melihat kami? Jangan-jangan mereka mengira kami adalah rombongan Presiden atau bahkan mereka menyangka ada Presiden dan Bu Ani bersama kami ya? :-o. Perasaan saya? Jujur nih ya, campur aduk. Antara geli dan terharu. Terharu karena belum pernah ikut ketularan disambut seperti ini. Gelinya, ya saya merasa lucu, karena kami kan bukan siapa-siapa. Duh, andai mereka tahu kalau yang mereka dadahin ini tukang fotokopi semua ya.. :D.

venue

Venue penanaman pohonnya sendiri agak jauh dari tempat kami parkir. Sisanya harus kami tempuh dengan jalan kaki. Mmmh, rasanya sedikit kagok juga ya berjalan diantara murid-murid SD yang berbaris rapi di pinggir jalan begitu :D. Tak lama kemudian Pampampres dan iring-iringan voorijder Presiden mulai memasuki lokasi, dan seperti biasa pulalah sirinenya sedikit berisik dan nggak penting (setidaknya buat saya). Di dalam mobil terlihat Presiden dan Bu Ani sedang melambaikan tangan ke arah kami yang menyempatkan berhenti sebelum melanjutkan perjalanan kaki kami ke venue, dan ke arah barisan murid-murid SD itu. Riuh rendah suara mereka dan tepukan tangan mengiringi kedatangan Presiden dan Bu Ani ke lokasi. Wow, sedemikian dielu-elukannya ya.. Ya kan tidak semua daerah berkesempatan dikunjungi oleh RI 1 kecuali memang sedang ada acara disana.

jalan menuju venue

Janjian sama temen dari tim advance kepresidenan, malah nggak ketemu. Ya gimana mau ketemu, lha wong sampai lokasi kita nggak bisa komunikasi sama sekali. Karena sesuai dengan standar aturan keprotokolan selama acara kenegaraan yang dihadiri oleh Presiden berlangsung untuk sementara waktu sinyal alat komunikasi akan diacak (di-jamming). Baru bisa berkomunikasi lagi ketika saya sudah beberapa meter meninggalkan lokasi, tepatnya ketika sudah di dalam bus pas mau pulang! 😐 .

barisan murid-murid SD di sepanjang jalan

Pulangnya pun ternyata kami masih mengalami hal yang sama. Dari atas bus yang kami tumpangi itu terlihat sederetan murid-murid SD berseragam Pramuka yang bergerombol melambaikan tangan dan bendera-bendera kecil ke arah kami. Bahkan yang bikin saya terharu ada lho seorang bapak tua berseragam hansip yang hormat kepada kami sampai bus yang kami tumpangi hilang dari pandangannya. Ya Tuhan, masih ada ya orang yang seperti itu loyalitasnya? Sayang nggak sempat saya foto karena bapak itu berdiri pas di tikungan dan bus kami mulai melaju ikut dalam iring-iringan rangkaian team kepresidenan.

tim narsis

Sepanjang jalan saya berpikir sendiri. Ternyata masih ada ya antusiasme, loyalitas, dan keluguan khas masyarakat daerah seperti itu? Ditengah-tengah hujatan dan protes ketidakpuasan atas kepemimpinan SBY, ternyata di daerah-daerah seperti itu masih banyak yang menyambut dan mengelu-elukan. Entahlah, saya sendiri kurang bisa membedakan antara benar-benar mengelu-elukan atau sekedar rasa bangga daerahnya menjadi pusat acara nasional yang dihadiri oleh RI 1 beserta segenap menterinya.

By the way, sampai sekarang pun saya masih takjub lho, Sodara-sodara.. 😀

[devieriana]

 

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Balada Panitia CPNS

Halo, ada yang kangen sama saya nggak? ;;). Haduh, sebelumnya maafkan saya kalau lama sekali tidak meng-update blog lantaran kesibukan menjelang pengadaan CPNS. Sebenarnya ada ide buat nulis tapi namanya nulis kalau nggak  konsen hasilnya malah kurang nendang. Halah ;)). Iya, jadi mulai awal bulan November 2010 ini sampai dengan puncak pengadaan CPNS tanggal 15 November 2010 kemarin biro saya memang lagi sibuk-sibuknya. Maklum, ini memang hajatan tahunannya biro saya. Selama beberapa hari kami pulang diatas pukul 19.00 untuk mempersiapkan segala sesuatu berkenaan dengan pengadaan CPNS. Pegel? Iyalah.. :-< . Tapi seru kok 😉

Pengadaan CPNS tahun ini memang sedikit berbeda dengan waktu penerimaan CPNS jaman angkatan saya. Kalau sebelumnya semua masih serba manual termasuk pendaftarannya, tahun ini sudah dilakukan via online. Hanya saja untuk pengambilan kartu ujian peserta yang dinyatakan lulus verifikasi berkas memang harus datang sendiri. Jaman saya kemarin juga begitu, tapi seluruh proses pendaftarannya masih manual, jadi harus datang sendiri. Bisa dibayangkan betapa hiruk pikuk dan sibuknya sibuknya Pusdiklat waktu itu kalau ada hajatan tahunan penerimaan CPNS.

Nah, sebenarnya saya nggak langsung terjun jadi petugas verifikasi, karena saya harus standby di kantor. Tapi ada kesempatan ketika saya harus ke Krida Bhakti (venue tempat melakukan verifikasi dokumen) dan sempat bantu-bantu sedikit disana. Ada hal menarik ketika melakukan proses verifikasi kemarin. Datanglah seorang peserta untuk verifikasi berkas asli ke meja kami berdua (kebetulan saya bagian yang stempel kartu ujian, teman saya bagian verifikasi berkas) :

Peserta : “Pak, kan fotonya seharusnya 3 lembar, tapi saya hanya punya 2 lembar, yang 1 lembar kaya gini boleh nggak, Pak?” –> dia mengulurkan sebuah foto dengan beberap bekas cap stempel dibawah dan disamping foto.

Teman : “Lho, lha kok foto bekas gini? Yang masih baru emang nggak ada?”

Peserta : “Nggak ada Pak. Tapi kalau hitam putih saya bawa sekarang. Boleh nggak, Pak?” –> sambil membuka tas ransel lusuhnya.

Saya : “Kan di persyaratannya kemarin disebutkan kalau foto berwarna dan berlatar belakang merah, Mas..”

Peserta : “Iya, Mbak.. Tapi saya nggak punya.. 🙁 “

Saya : “Atau gini aja, masnya coba afdruk dulu ke depan situ, kita disini masih sampai jam 15.00 kok..”

Peserta : “Mmmmh.. iya, tapi gini Mbak, Pak.. uang saya ngepres, tinggal sepuluh ribu..” —> dia mukanya memelas banget, sambil menatap kami bergantian.

Saya : “Emang Mas ini rumahnya dimana?”

Peserta : “Rumah saya di Pekalongan, saya baru datang tadi pagi dan langsung kesini..” –> nunduk 🙁

Makjleb! Andai saya ke Krida Bhakti bawa dompet, insyaallah saya akan bantu tapi sayangnya kok ya pas nggak bawa :(. Untunglah teman saya memberikan kebijakan boleh mengumpulkan  kekurangan fotonya nanti sebelum ujian tanggal 15 November 2010.

Nah, entah dimana salahnya sepanjang siang sampai sore saya layaknya petugas callcentre yang menerima telepon dari mana-mana menanyakan sampai jam berapa bisa mengambil kartu ujian dan verifikasi dokumen. Padahal sebenarnya di website sudah ada. Tapi ternyata ada banyak calon peserta yang missed dengan tanggal yang telah ditentukan sementara posisi mereka masih ada yang di Surabaya, Bandung, Yogyakarta, bahkan ada yang masih di Riau padahal waktu sudah menunjukkan pukul 14.15 wib, yang berarti tinggal 45 menit lagi menuju pukul 15.00 wib (waktu terakhir verifikasi & pengambilan nomor ujian) #-o.

Sebagaimana penyelenggaraan test CPNS di tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan kali ini pun diadakan di Tennis Indoor Senayan. Pukul 07.00 wib venue sudah mulai disibukkan dengan mulai hadirnya peserta dan tentu saja kami, para panitia yang hari itu ber-dress code batik tampak sudah mulai hilir mudik di arena & tribun, berkumpul untuk melakukan briefing sebelum penyelenggaraan ujian.

sebagian kecil panitia.. (yang narsis saja tentunya) :p

Alhamdulillah, penyelenggaraan ujian yang diadakan mulai pukul 08.30 – 13.30 wib berjalan lancar. Jumlah peserta yang mengikuti ujian sekitar 980 peserta dari total 4430 pelamar, yang terdiri dari S-1, D3 dan SMK. Walaupun di awal-awal ujian sempat ada beberapa calon peserta yang ternyata datang tapi belum melakukan verifikasi dokumen sehingga sayang sekali mereka tidak dapat mengikuti ujian, walaupun mereka dinyatakan lolos seleksi administratif tapi kalau ternyata missed di salah satu tahapan tentu akan membuat mereka jadi kurang memenuhi syarat.


persiapan

pelaksanaan ujian CPNS

Jadi, demikianlah teman-teman, kesibukan saya selama hampir sebulan ini. Ceritanya cuma “segini” ya, padahal kalau dijabarkan lagi bisa lebih lho :D. Nah, kalau saya nggak update selama beberapa minggu ini bukan karena saya males posting, tapi memang lagi sibuk beneran.. –> gaya ;)) *pijit-pijit kaki*. Jadi, siapa yang mau bantuin pijit tangan sama kaki saya? *tetep pakai high heels* :p

[devieriana]

 

 

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Pintar saja tidak cukup!

Selepas upacara kemarin seperti biasa saya kembali disibukkan dengan pekerjaan rutin menangani berkas-berkas dan hal persuratan lainnya. Seperti biasa pula si bapak suka mampir ke kubikel saya untuk sekedar ngobrol, atau iseng melihat-lihat surat masuk.

Sampai akhirnya beliau membaca sebuah surat tentang permohonan izin tugas belajar keluar negeri.

Bapak : “oh, mau sekolah lagi tho? Bapak ini pinter orangnya.. “

Saya : “oh ya? beliau mau ambil S3 ya, Pak?”

Bapak : “iya, walaupun pinter tapi ada satu hal yang disayangkan. Dia kurang bisa membangun hubungan dengan orang lain. Hubungan interpersonalnya kurang bagus..”

Saya : “maksudnya gimana tuh, Pak? :-B”

Bapak :“jadi pegawai negeri itu jangan cuma pinter. Istilahnya, pinter saja nggak cukup..”

Saya : “maksudnya gimana sih pak? bingung sayanya..8-|”

Bapak : “iya, kamu kalau jadi pegawai negeri jangan cuma pintar secara akademis, hubungan interpersonal dengan orang lain juga bagus, mampu bekerjasama dengan orang lain.. “

Saya : “oh gitu. Lah, kalau soal itu ya bukannya tidak hanya berlaku buat PNS aja, Pak. Menurut saya sih itu berlaku buat semua. Intinya kehidupan yang berimbang gitu kan, Pak? Tapi aku pernah ketemu sih pak sama tipikal orang-orang yang kaya bapak maksud itu..”

Bapak : “iya, jadi, kalau kamu nggak bisa bekerja sama dengan orang lain di lingkungan kerja, ya pantesnya kerja jadi Staf Ahli aja..”

Saya : “emangnya kalau Staf Ahli itu gimana kerjanya?”

Bapak : “ya dia akan kerja sendiri. Itulah kenapa tadi saya bilang pintar saja nggak cukup..”

Si bapak lalu meninggalkan saya untuk menjawab telepon di ruangannya dengan sejuta tanda tanya, tsaahh ;)). Jujur percakapan singkat yang menggantung itu membuat saya jadi mikir panjang dan bertanya-tanya sendiri. Apa sih sebenarnya yang ingin disampaikan oleh si Bapak? Pintar itu ukurannya apa? IPK yang tinggi? Lulusan perguruan tinggi ternama atau universitas luar negeri? Lalu maksud dari kalimat “pintar saja nggak cukup” itu apa? Berkenaan dengan attitude? Salah penempatan posisi/jabatan pekerjaan dengan kepribadian? Hmm.. 😕

Memang cara yang paling mudah untuk bisa mengukur tingkat kepandaian seseorang secara hitam diatas putih adalah dengan melihat paparan nilai A, B, C, D , E yang tertera diatas selembar kertas transkrip. Tapi setelah diaplikasikan dalam pekerjaan apakah iya nilai-nilai itu mampu berbicara banyak? Sepertinya kok belum tentu ya../:)

Terkadang para pemimpin dan orang-orang yang berhasil di bidangnya itu bukan berasal dari orang-orang yang nilai akademisnya tinggi, namun justru mereka-mereka yang memiliki tingkat kepedulian terhadap sesama yang tinggi, empati dan loyalitas persahabatan yang kuat, serta perasaan cinta kasih yang luar biasa. Tapi sayangnya banyak perusahaan/instansi yang belum sepenuhnya menyadari hal ini sehingga mereka hanya berpatokan pada nilai akademik yang tinggi dan kemudian menempatkan orang-orang yang mereka anggap “pintar” itu di sebuah posisi yang belum tentu sesuai dengan kepribadiannya. Karena nyatanya belum tentu orang yang pintar itu memiliki kecenderungan mental/attitude yang sesuai dengan tempat kerja dan jenis pekerjaan tertentu. Sehingga rasanya perlu ada upaya cerdas yang mampu mengubah cara pandang nilai akademik sebagai satu-satunya tolok ukur kepandaian seseorang.

Oh iya, dulu saya pernah baca tentang sosok orang yang opsional dan prosedural. Orang opsional akan menganggap orang prosedural itu terlalu birokratis, terlalu terpaku pada teori, bertele-tele dan kurang luwes ketika mengambil kebijakan. Sedangkan orang prosedural akan menganggap orang opsional itu tidak punya pendirian, plintat-plintut, kurang bisa mempertahankan ide dan gagasan yang sudah disampaikan, terlalu excuse, karena pada dasarnya tipikal seperti mereka-mereka ini biasanya mahir dalam hal menerjemahkan ide dan gagasan dalam skema yang berurutan. Namun uniknya orang-orang tipikal opsional yang cenderung kreatif dan banyak ide ini tidak semuanya bisa menjalankan gagasan atau ide yang sudah dibuatnya, sehingga mereka membutuhkan bantuan orang-orang dengan tipe prosedural yang lebih sistematis. Jadi sebenarnya keduanya sama baiknya, sama-sama saling menunjang. Karena sesungguhnya manusia itu mahkluk yang unik, punya kelebihan, kekurangan, dan kecenderungan masing-masing. Jadi, bagian HRD sepertinya juga harus jeli melihat hal-hal yang seperti ini ya, jangan asal menempatkan orang yang dianggap pintar tapi ternyata kurang sesuai dengan kepribadiannya. 🙂

Tapi bukan berarti berorientasi dapat IPK tinggi itu sudah nggak penting ya. Kita tetap harus berusaha secara maksimal dong, do the best lets God do the rest. Namun jangan sampai lupa juga, bahwa hidup kita bukan hanya tergantung dari besaran nilai akademis saja, lebih dari itu perkayalah dengan skill dan kreatifitas yang bisa menunjang bidang pekerjaan yang kita minati nantinya. Oh ya satu lagi, cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bidang pekerjaan kita.

Jadi kesimpulan global untuk percakapan singkat kemarin pagi :

“Menjadi orang yang pintar secara akademis itu bagus, tapi akan lebih bagus lagi jika juga ditunjang dengan pribadi dan attitude yang menyenangkan dalam pergaulan.. :-bd”

[devieriana]

Continue Reading

Jangan jadi PNS!

Beberapa hari yang lalu saya menerima pesan dari teman di twitter, minta waktu buat ngobrol katanya. Ya, berhubung saya lagi santai ya saya layani. Obrolan via BBM itu pun berlangsung “gayeng”, santai & akrab. Maklum dia memang salah satu teman lama tapi terbilang jarang ngobrol sama saya.

Intinya dia mengajak diskusi tentang pekerjaan. Kebetulan dia seorang karyawan swasta yang bekerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di Jakarta. Pertanyaan pertama telak, masalah gaji. Kalau ditanya masalah pendapatan besar atau kecil pasti jawabannya adalah relatif. Saya tidak bilang gaji saya besar atau kecil, tapi alhamdulillah cukup (setidaknya buat saya). Karena berapa pun pendapatan kita kalau pengeluaran & kebutuhan hidup kita juga membutuhkan biaya yang besar ya pasti akan merasa kurang. Itulah kenapa saya jawab : alhamdulillah, cukup.

Dia seorang pria, single, dan akan menikah. Sekarang ini sedang mempertimbangkan untuk pindah kerja dengan syarat gajinya paling tidak sama besar dengan tempat kerjanya sekarang, pekerjaannya tidak terlalu hectic, dan waktu luangnya banyak. Waduh, sempat puyeng juga saya ketika dimintai pendapat. Kalau tempat kerja yang seperti itu adanya dimana ya? :-?. Ya, jadi bos saja, buka usaha sendiri, wiraswasta gitu :).

Dia juga sempat heran kenapa saya pindah dari tempat kerja saya yang lama dan memilih berkarir memilih berkarir sebagai PNS. Apakah gaji sebagai PNS lebih besar dari tempat kerja saya yang sebelumnya? Karena dia justru sedang ingin pindah ke perusahaan tempat kerja saya yang lama. Tapi dia jadi mikir lagi ketika tahu saya pindah, jangan-jangan karena beban kerjanya terlalu tinggi, gajinya sedikit, atau ada sebab lainnya apa. Aduh, asli saya jadi mikirnya kok dia naif banget ya. Karena yang namanya kerja dimana-mana itu ya pasti ribet. Soal gaji besar/kecil itu sifatnya relatif, ada tunjangan apa saja buat karyawannya ya itu tergantung kebijakan yang punya perusahaan. Kalau soal waktu ya itu pinter-pinternya kita menyiasatinya saja, ya kan?

Saya jadi PNS itu sebenarnya tidak sengaja, seperti cerita saya disini. Kalau saja saya tidak ikut seleksi CPNS ya mungkin sampai sekarang saya masih di kantor yang lama, berkutat dengan quality assurance, hectic bikin laporan,  menangani komplain ketidaksesuaian penilaian, melakukan assuring hasil kerja anak buah saya, ribet melakukan coaching dan konseling ke anak buah.

Sekarang gini, ini sekedar sharing ya. Tujuan bekerja memang salah satunya adalah mencari gaji/pendapatan. Gaji besar dengan iming-iming status jabatan tertentu dan tunjangan ini itu pasti  jadi magnet terbesar para pencari kerja. Iya dong, buat apa kerja kalau tidak ada hasilnya, kan? Tapi apa iya lantas semua dipukul rata bekerja cuma dilihat dari besaran gaji yang diterima saja? Bagaimana kalau gaji besar tapi kompensasinya harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk diri sendiri dan keluarga, beban kerja yang tinggi, ditambah dengan fisik yang kelelahan. Kalau ada yang berpendapat, “kalau memang konsekuensi tugas dan tanggung jawab pekerjaan ya harus dijalani dong..”. Ok, mungkin ada yang rela hidup seperti itu, tapi ketika sudah berkeluarga nanti pasti ada orientasi-orientasi yang akan berubah, bukan lagi cuma materi yang dikejar, tapi pasti akan mempertimbangkan quality time bersama keluarga.

Dia lalu tanya lagi apakah THP (take home pay) saya masuk 2 digit? Saya lagi-lagi cuma bisa tertawa :)). Ya buat saya itu lucu. Bayangkan ya, untuk CPNS macam saya kok sudah punya gaji dua digit? Ini niat nanya apa ngasih tebakan? :-?. Masuk akal nggak sih kalau belum apa-apa gaji saya sudah menyamai gajinya deputi? Semua pasti ada aturan dan standarnya dong, Mas.. 🙂

Teman : tapi standar gaji staf di tempat kerja lama kamu dua digit lho, Dev..

Saya : bentar, aku tanya sama kamu. Tempat kerjaku yang lama itu swasta apa negeri?

Teman : ya 50-50, kan yang 50% dikuasai oleh Singtel

Saya : status pegawainya swasta atau PNS?

Teman : errr.. swasta

Saya : lha ya sudah, kenapa kok kamu membandingkan standar gaji swasta sama negeri? Ya jelas beda dong. Kalau mau membandingkan ya apple to apple. Jangan apple to durian. Bonyoklah ;))

Teman : tapi kelebihan pekerjaanmu yang sekarang nggak ada PHK mendadak ya, Dev. Beda sama kalau jadi pegawai swasta, isinya ketar-ketir melulu..

Saya : ya semua pekerjaan itu pasti ada segi positif dan negatifnya. Semua pasti punya resiko, tinggal gimana kita menjalaninya aja sih..

Teman : ya udah, aku nitip info kalau-kalau ada informasi kerjaan yang sesuai sama spesifikasiku ya..

Saya  : mmh, yang waktunya lebih luang, kerjaan nggak terlalu overload, dan yang penting gajinya sama dengan tempat kerjamu sekarang ya? ;))

Teman : hihihi, iya.. Kalau pakai ijazah S2 gimana? bisa?

Saya : apanya? dapet gaji 2 digit?

Teman : iyaa.. :))

Saya : bentar deh, tuntutan-tuntutan itu tadi untuk standar cari kerjaan di swasta apa PNS sih? 🙁

Teman : ya aku maunya di departemen atau BUMN gitulah..

Saya : jadi, pengen jadi PNS?

Teman : ya aku maunya sih kaya begitu.. Tapi kan aku nggak tau rejekiku dimana.. Ya, nitip ajalah, kalau ada info-info yang sesuai dengan kualifikasiku ya..

Saya : woogh, nyarinya dimana ya PNS yang kaya begitu.. #-o

Jadi saran saya ya, selama orientasinya masih berkutat di besaran gaji, mending jangan jadi PNS deh, apalagi yang baru jadi CPNS minta gajinya langsung dua digit ;)). Karena semua orang juga tahu gaji PNS masih kalah jauh dengan gaji pegawai swasta lho ;). Kalau mengumpulkan materi mending kerja di swasta dulu, bisa sembari menabung kan? Nah nanti kalau sudah bosan dan ingin punya lebih banyak waktu dengan keluarga sambil nyambi buka usaha dirumah boleh deh jadi PNS (eh, keburu tua nggak sih?) ;)).

Semua pekerjaan pasti ada plus minusnya, tidak mungkin ada pekerjaan yang semuanya sesuai dengan keinginan kita. Apalagi kena kata-kata “urip iku sawang sinawang”, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Melihat si A kerja disitu kok kayanya enak, ikutlah kita kerja satu perusahaan dengan si A. Tapi ketika sudah dijalani baru merasa ternyata kerjaan si A tidak seindah yang kita bayangkan, sama hectic-nya dengan pekerjaan kita yang sebelumnya :-o.

Rezeki itu sudah ada yang mengatur, pun halnya dengan pilihan karir. Soal mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri tinggal memilih mana yang paling sesuai dengan hati nurani kita, mana yang lebih sreg untuk dijalani. Memilih pekerjaan itu sama seperti memilih jodoh, semuanya kembali ke masalah hati 🙂

Oh ya, tadi pagi saya menemukan link bagus untuk sekedar dibuat baca-baca tentang How to find a job you will love . Semoga bermanfaat ya :-bd

[devieriana]

ilustrasi dari sini

Continue Reading

“Coffee, please!”

Siapa yang tak kenal dengan kopi? Minuman nikmat yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Saking terkenalnya dari situlah dikenal istilah coffee break di setiap acara resmi seperti seminar, meeting, lokakarya, dll. Walaupun teh juga dimasukkan dalam acara “coffee break” tapi yang jelas kopi selalu dipastikan ada & menjadi minuman pendamping untuk menikmati sajian kue-kue kecil. Kalau saya pasti memilih kopi yang saya campur dengan sedikit susu & gula untuk dinikmati saat coffee break.

Dulu sebenarnya saya lebih suka minum teh ketimbang kopi, karena takut kecanduan, padahal kalau cuma sesekali ya belum tentu kecanduan ya. Tapi ketika mulai bekerja di callcentre yang mengharuskan mata tetap “on”, sinkron dengan otak dan mulut di jam-jam mengantuk sejak saat itulah saya mulai menyimpan beberapa sachet kopi instant untuk berjaga-jaga kalau mata saya sudah mulai menurun daya konsentrasinya. Karena saya sangat menghindari bekerja dengan mata tinggal setengah tiang, bukan apa-apa kalau saya salah kasih informasi ke pelanggan & semua itu terekam kan jadi nggak lucu ;))

Dulu, kalau nggak subuh-subuh sudah harus di kantor, ya malam-malam diatas pukul sebelas saya masih terjaga. Sampai dirumah sekitar pukul 12 malam. Itu pun tidak langsung tidur, masih mengutak-atik HP-lah, teleponanlah, baca bukulah, intinya mencari kesibukan yang membuat ngantuk. Oh ya kenapa telponan malem-malem ya karena dulu kan tarif hematnya di jam-jam menjelang tengah malam sampai dengan pukul lima pagi. Jadilah kalau malam kita kebanyakan tidak langsung tidur tapi menghabiskan jam-jam tarif hemat. Walaupun yang ada ya putus sambung melulu karena jaringan padat ;))

Nah, dari pengalaman bekerja di callcentre itulah yang membuat saya akhirnya menjadi peminum kopi. Walaupun tidak selalu, tapi rasanya ada yang kurang kalau sehari tanpa secangkir kopi *alasan*. Alasan lainnya biar mata lebih melek & semangat di pagi hari. Padahal lebih ke sugesti sih, karena tanpa minum kopi pun sebenarnya mata saya juga bisa melek & tetap bisa bekerja dengan normal. Tapi entah ya kalau sudah minum kopi rasanya pikiran saya menjadi lebih terang benderang bak lampu bohlam..  Halah! 😀

Kopi yang saya minum biasanya sih kopi sachet yang “ringan”, bukan yang pakai ampas. Karena kalau yang pakai ampas kesannya saya seperti bapak-bapak, jadi pengen sarungan sambil gitaran di poskamling :)). Selain itu kalau yang pakai ampas kok berasa lebih “keras” ya efeknya? Bisa lebih melek berjam-jam & kalau nggak kuat efeknya detak jantung jadi lebih cepat. Padahal saya juga pernah lho minum kopi hitam kaya begitu, tapi lha kok malah merem ya, tidur ;)). Yah, gagal deh reputasi kopi sebagai biang penyebab melek :p

Ada seorang teman jurnalis televisi yang sangat menggilai kopi. Hidupnya sangat tergantung sama kopi. Dia tidak bisa konsentrasi kalau tidak minum kopi. Sehari bisa menghabiskan anatara 8 sampai 10 gelas kopi, bahkan lebih :-o. Kalau saya sih alhamdulillah tidak sampai sebegitu kecanduannya, sehari cuma minum satu cangkir, selebihnya air bening. Karena kok sepertinya serem aja gitu kalau sampai kecanduan, seperti salah satu tante saya. Kalau kepala lagi pusing banget “obatnya” ya minum kopi, karena kalau dikasih obat sakit kepala malah nggak ngefek.

Segala sesuatu yang sifatnya berlebihan pasti akan kurang bagus efeknya, termasuk mengkonsumsi kopi, walaupun di berbagai situs juga dijelaskan tentang efek positif minum kopi ya. Tinggal kitanya yang harus tetap mengkontrol diri. Minum kopi boleh, jangan lupa diimbangi dengan minum air bening yang banyak untuk lebih memperlancar sirkulasi darah ya.. :-bd

Selamat menikmati kopi ya.. 😉

[devieriana]

Continue Reading