Nostalgia Trainer

Kemarin malam saya ngobrol dengan sesama “alumnus” tempat saya bekerja dulu. Ngobrol-ngobrol reuni gitu, jadinya malah mengenang cerita-cerita konyol, dan bandel-bandelnya kita, suka duka, dan dosa-dosa selama jadi customer service. Tapi juga ingat ke masa-masa serius ketika harus “babat alas.” Jaman ketika kartu AS baru launching dan baru akan buka call centre sendiri. Asli ribet deh, tapi seneng, karena jadi punya tambahan pengalaman baru. Jadi trainer, mengajar 😀

Seumur-umur yang namanya mengajar di depan calon-calon call centre officer ya baru kali itu. Waktu itu saya dan 3 orang teman lainnya diminta untuk memberikan training ke para calon call centre officer. Kami dibagi dengan spesialisasi materi tertentu, dan kebetulan saya kebagian pegang materi prepaid secara keseluruhan.

Ternyata mengajar itu seru, ya. Serunya, karena bisa ketemu anak-anak baru setiap hari. Apalagi waktu itu mereka masih unyu-unyu gitu, masih bisa dibo’ong-bo’ongin…*eh!* ;)). Alasan lain ya karena disitu kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman sebagai yang pernah menjalani dunia per-callcentre-an lebih dulu. Halah :p. Tapi saya juga akhirnya jadi tahu kalau jadi pengajar itu berat. Menyelesaikan 2 materi yang banyak itu hanya dalam satu hari tentu butuh konsentrasi tinggi. Apalagi ketika harus mengajar di jam-jam mengantuk, sekitar pukul 13.00-15.00. Materi terberat adalah sesi penghitungan tarif. Makanya selalu saya bilang ke mereka di awal mengajar bahwa di tengah hari nanti saya akan meminta perhatian mereka secara penuh, karena kita akan belajar tentang tarif, kalau sampai ada yang nggak menyimak akan saya jewer ;)). Bukan apa-apa, kan buat mereka juga soalnya. Materi paling ribet itu ya tentang tarif. Kalau basic-nya nggak kepegang, kesananya akan makin salah kasih edukasi ke pelanggan. Belum lagi kalau kena mistery shopping dan tapping oleh Quality Assurance Officer, bisa merah-merah nilainya.

Tugas lain selain mengajar, kami juga sering bergantian melakukan interview kalau sedang buka lowongan. Karena yang diutamakan adalah suara, jadi ya salah satu tes yang harus dijalani oleh mereka adalah tes vokal. Yang paling jadi perhatian ketika melakukan tes vokal adalah tempo bicara, volume, intonasi, dialek, dan artikulasi. Artikulasi yang jelas dan terstruktur dengan baik akan membantu tersampaikannya informasi dengan jelas pula. Salah satu tes kami waktu itu  adalah dengan meminta mereka membaca:

“Gemah Ripah Rapih Tour and Travel selamat pagi, dengan ….. bisa dibantu? Maaf dengan bapak/ibu siapa saya bicara?”

Mengapa dialek juga penting untuk diperhatikan? Idealnya, sebuah call centre yang melayani secara umum dan melayani pelanggan secara nasional, seharusnya sudah tidak terdengar lagi suara dengan logat daerah tertentu. Sebagai contoh, lidah Jawa umumnya akan khas terdengar ketika mengucapkan kata-kata berhuruf “b”, “p”, dan “d”. Sedangkan lidah orang Sunda biasanya akan sering tertukar ketika mengucapkan huruf “f” dan “p”. Begitu juga dengan beberapa dialek daerah lainnya. Disitulah kepekaan telinga dibutuhkan.

Ngomong-ngomong tentang suara, dulu, ketika baru masuk call centre suara saya yang tipis dan tempo bicara yang cenderung cepat. Tapi saya belum menyadari itu. Nah, setiap bulan kami ada sesi olah vokal, yaitu kegiatan mendengarkan rekaman suara kami dan melakukan koreksi terhadap layanan kami, dipandu oleh seorang supervisor layanan. Di sesi itulah saya dikoreksi habis-habisan. Bagaimana tidak, saking cepatnya saya bicara, rata-rata layanan bisa saya selesaikan dalam waktu antara 1-3 menit sekali telepon! Tapi sejak sesi itulah saya insyaf berbicara cepat 😀

Oh ya, kemarin ada yang tanya bagaimana kita mengukur kecepatan suara ketika bicara. Kalau saya dulu “terapinya” dengan sering merekam suara sendiri di handphone. Saya latihan mengucapkan salam dan pura-pura sedang melayani pelanggan. Setelah direkam lalu saya dengarkan, dari situlah akhirnya saya tahu kalau tempo bicara saya melebihi kecepatan cahaya! :-s

Sebenarnya ada beberapa yang mau saya share tentang vokal (dan teman-temannya) 😀  Tapi kalau saya tulis jadi satu di sini kok kayanya akan kepanjangan, ya. Jadi, nanti kapan-kapan aja deh saya posting tersendiri 😀

Hmm, kangen ngajar 😉

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari google

Continue Reading

Dunia Halo-Halo…

Satu minggu lalu adalah minggu yang sibuk dan melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan, tapi juga karena jadwal pelantikan yang dilakukan secara marathon selama satu minggu penuh. Diawali dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKPPPP) di hari Senin, keesokan harinya di Sekretariat Militer Presiden, esok Rabunya lanjut di Sekretariat Wakil Presiden, hari Kamisnya di Sekretariat Kementerian Sekretariat Negara, dan ditutup dengan hari Jumat di Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden (pukul 09.00), dan Sekretariat Presiden (pukul 15.30).

Sebelumnya tidak pernah terbayang dalam pikiran saya bahwa saya akan dilibatkan  dalam bidang keprotokolan seperti ini. Setelah menjalani kegiatan bersama tim keprotokolan selama beberapa kali, barulah saya mengikuti Diklat Keprotokolan selama 2 minggu. Dulu ketika masih berstatus CPNS, saya bersama satu teman seangkatan, dites oleh para protokol senior di ruangan saya untuk membaca SK Mensesneg dan susunan acara. Semacam casting kecil-kecilan, gitu. Saya pikir kami cuma disuruh baca saja, ternyata sore harinya kami dipanggil untuk siap bertugas besok pagi di acara pelantikan dan pengambilan sumpah PNS.

Demam panggung selama menunggu acara berlangsung itu pasti. Ya, namanya juga baru pertama kali tugas seperti ini, ada semacam keraguan dan takut salah. Tapi setelah dijalani alhamdulillah semua berjalan lancar, keraguan itu juga hilang dengan sendirinya. Yang perlu diperhatikan adalah tempo bicara, fokus dengan apa yang dibaca, intonasi, aksentuasi, dan artikulasi yang jelas.

Sejak aktif di “dunia halo-halo” itulah, saya mulai lebih concern dengan tenggorokan saya, karena efek bekerja di callcentre beberapa tahun lalu, entah kenapa tenggorokan saya menjadi jauh lebih sensitif :(. Tidak bisa lagi minum minuman dingin dan atau terlalu manis sembarangan, karena pasti nanti akan radang tenggorokan dan batuk. Saya tuh kalau sudah batuk sembuhnya bisa seminggu lebih, jadi ya lebih baik menjaga diri supaya jangan sampai sakit aja. Eh, tapi saya sebenarnya suka kalau suara saya lagi recover, agak serak-serak gede gimana gitu, justru terdengar lebih “bulat” kalau di mikropon, hihihihi. Meminjam istilah Mas Adoy suara yang keluar mirip dengan voice over 😉

pengarahan sebelum gladi bersih

Pengalaman pelantikan yang paling mengesankan adalah ketika menjalani pelantikan Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat. Alasannya selain lokasi pelantikannya paling jauh, juga kultur yang berlaku disana jauh berbeda dengan di Jakarta. Kalau di Jakarta, kami harus sudah siap minimal J-1 (satu jam sebelum acara, kalau teorinya sih J-2), tamu dan undangan sudah siap minimal 15-20 menit sebelum acara, karena biasanya kami pasti akan melakukan gladi bersih terlebih dahulu, terutama untuk pejabat yang akan dilantik. Nah, kalau di Papua kemarin kami tiba di lokasi dalam keadaan pintu aula yang masih terkunci rapat, belum ada orang sama sekali, padahal sudah kurang satu jam menjelang acara. Hingga 30 menit acara akan dimulai pun belum ada tanda-tanda kedatangan undangan maupun pejabat yang akan dilantik. Tapi saya bisa memaklumi kok, memang kultur dan kebiasaan yang berlaku di Jakarta dan Papua itu berbeda.

Persiapan menjelang pelantikan memang sedikit ribet, apalagi kalau yang dilantik cukup banyak. Bukan hanya koordinasi dengan pihak yang akan dilantik, menyiapkan susunan acara, konfirmasi dengan rohaniwan, menyiapkan pakta integritas dan berita acara pelantikan saja. Tapi dipastikan semua susunan harus benar, baik titelatur, nomenklatur, maupun ejaan nama pejabat yang akan dilantik, terutama di SK-nya.

Bersyukur diberikan kesempatan, ilmu, dan pengalaman keprotokolan seperti ini. Walau sedikit ribet, tapi sejauh ini cukup menyenangkan kok 😀

 

 

[devieriana]

Foto dokumentasi pribadi

Continue Reading

Akhirnya, Papua!

Waktu di Jakarta menunjukkan tepat pukul 21.00 wib ketika HP saya berbunyi. Tertera di layar HP nama salah satu teman di kantor, hmmm… ada apa ya dia kok sampai telepon saya malam-malam? Sambil membetulkan syal, menenteng travelling bag dan celingukan mencari Si Hubby yang mungkin saja sudah terselip menunggu diantara penjemput yang berjejal di depan pintu kedatangan, saya pun mengangkat panggilan itu.

Saya: yak, ada apa Yud?

Teman: kamu dimana, Dev?

Saya: baru aja landing di Jakarta, ini masih di bandara 😀

Teman: lah, emang kamu dari mana?

Saya: dari Surabaya dan Malang, hehehe… Gimana, gimana? Tumben kamu nelepon aku jam segini?

Teman: eh, besok kita jadi tugas ke Papua ya…

Saya: Hah? Ehm.. ya baiklah, oke. Jam berapa kita berangkat? (takut kalau ternyata harus berangkat besok pagi-pagi, kan saya belum packing)

Teman: flight kita malam kok, jam 9-an

Saya: Oh, oke.. berarti aku masih sempet pindah tas-lah ya… *pffiuh*

Teman: iya, hehehe. Sori ya ngasih taunya dadakan, aku juga baru aja terima info. Ya wis, gitu aja Dev, sampai ketemu besok di kantor dan malemnya di Terminal 2F ya

Saya: Ok, makasih infonya… 🙂

Aha! Akhirnya saya ke Papua juga, padahal kemarin-kemarin sempat hanya sebatas wacana lho. Karena awalnya memang pelantikan 13 orang pejabat Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B) ini akan dilakukan di Jakarta, dan akan dilantik oleh Mensesneg, tapi ternyata dalam perkembangannya pelantikan harus dilakukan di Papua. Jadi ya, baiklah, kami pun “diekspor” ke Papua. Ya, sekali-kali tempat pelantikannya yang jauh sekalian ya. Yang pasti rasa penasaran saya tentang Papua akan segera tertuntaskan.

Malam itu, sesampai di rumah, dengan mata yang setengah terpejam saya bongkar tas dan pindah koper untuk menyiapkan perjalanan berikutnya. Namun hanya kuat menyiapkan setengahnya saja lantaran badan sudah terlalu capek.

Kebetulan ini adalah perjalanan dinas saya untuk yang pertama kalinya ke Papua. Saya berangkat bersama 4 orang lainnya (3 orang atasan saya dan seorang teman sesama staf), yang tergabung dalam tim pelantikan di kementerian tempat saya bernaung.

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 7 jam. Kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 21.00 wib, dan tiba di Bandara Sentani, Papua, sekitar pukul 07.00 wit (transit sebanyak 2x, yaitu di Makassar dan di Biak). Sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Papua sering terjadi guncangan, karena ketika kami berangkat sebenarnya cuaca sedang kurang bersahabat, hujan turun dengan deras disertai angin kencang. Malam itu kami terbang dalam harap-harap cemas. Tapi alhamdulillah  akhirnya tiba dengan selamat di Papua, pulau terluar Indonesia 🙂

Bandara Sentani

Hanya satu keinginan saya pagi itu, meluruskan punggung sejenak di tempat tidur dan mandi air hangat untuk merelaksasi otot.  Tapi sayang kami tidak bisa berlama-lama istirahat karena pukul 09.00 wit kami sudah ditunggu di ruang meeting untuk rapat koordinasi pelantikan esok hari. Alhasil kami (terutama saya) meeting dengan terkantuk-kantuk (saya sampai keluar ruangan untuk menyegarkan badan dan mata), sambil lihat pemandangan ini dari lantai 8 tempat kami meeting.

pemandangan dari lt. 8 tepat di depan jendela tempat saya meeting

Setelah makan siang, kami sempat tidur beberapa jam sebelum akhirnya sekitar pukul 16.00 wit kami harus meluncur ke Kantor Gubernur Papua untuk melihat lokasi pelantikan esok hari. Ternyata disana sedang ramai masyarakat setempat yang tengah berlatih paduan suara untuk peringatan Natal, jadi kami hanya sekadar meninjau lokasi saja.

Cuaca di Papua sedang cerah-cerahnya, sehingga Lautan Pasifik yang terhampar persis di depan Kantor Gubernur, dipagari dengan beberapa bukit-bukit yang tampak dari jauh kehijauan, serta merta langsung menyita perhatian kami berlima. Itu baru satu spot saja, belum spot-spot pemandangan lainnya. Ada pemandangan bukit kapur, bukit-bukit hijau, dan deretan rumah dengan genteng warna-warni, sekilas mengingatkan saya pada rumah-rumah di Amerika Latin, belum lagi kalau kita pergi ke daerah Angkasa, spot tertinggi tempat kita bisa melihat Papua lengkap dengan segala keindahannya. Sungguh sebuah kombinasi alam dan warna yang memukau. Tapi kami sepakat, hari itu kami ingin istirahat di hotel saja, menyiapkan energi untuk besok pagi. Kalaupun jalan-jalan ya di seputaran hotel, tidak ke lokasi yang jauh-jauh dulu. Butuh meluruskan punggung dan kaki dulu, deh.

depan kantor Gubernur Papua

Pagi-pagi sekali kami berlima sudah rapi dalam balutan setelan PSL (Pakaian Sipil Lengkap) warna hitam dengan tumpukan map pelantikan warna biru tua dengan lambang garuda warna keemasan. Seperti lazimnya di Jakarta petugas protokol harus siap minimal J-2 (2 jam sebelum acara). Acara rencananya berlangsung pukul 09.00 wit, jadi pukul 07.00 kami sudah siap berangkat ke tempat acara dan memastikan semua peralatan pendukung sudah siap dan berfungsi dengan sempurna.

foto-foto dulu sebelum acara dimulai

venue pelantikan

sibuk masing-masing

Ketika kami sampai disana ternyata kantor gubernur masih sepi, hall tempat acara saja masih terkunci rapat. Haiyaa, bijimana ini… ;)). Tapi akhirnya kami menyadari bahwa kultur dan kebiasaan di daerah memang berbeda dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, misalkan acara dimulai pukul 09.00 wib, maksimal 15-30 menit sebelum acara dimulai para undangan sudah di tempat acara, siap menunggu pejabat yang akan melantik (apakah Menteri atau Sesmen). Lha ini, 15 menit sebelum acara saja belum ada satu pejabat pun yang muncul. Kami berlima sampai mati gaya. Keliling ruangan sudah, melihat-lihat sekeliling sudah, foto-foto juga sudah banyak, mempelajari naskah dan mengoreksi sekali lagi kalau ada yang salah ketik sudah sejak semalam, menyetel volume suara dan menata meja sampai menyiapkan map pelantikan pun sudah semua. Hmm, terus ngapain lagi coba? Sampai akhirnya pukul 09.00 wit baru deh satu persatu pejabat, undangan, rohaniwan, fotografer acara, dan wartawan mulai berdatangan. Pffiuh, akhirnya ya…

Alhamdulillah, acara berjalan khidmat dan lancar, sehingga kami bisa segera berencana kabur kembali ke hotel. Tapi baru saja kami akan melangkah keluar membuka pintu aula,mak byak… samping kiri kanan pintu hingga depan teras kantor gubernur isinya polisi semua. Hadeeh… Ya wajar sih kalau pengamanannya seketat ini karena memang sempat ada isu kalau pelantikan ini akan dibatalkan, akan ada kerusuhan, dll. Isu itu bertiup semakin kencang beberapa hari menjelang acara, dan akhirnya diantisipasi dengan kehadiran 1 SSK polisi yang siap mengamankan jalannya acara, stand by di depan pintu dan lobby gubernuran.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu untuk menyusuri Papua pun tiba. Untung masih siang, jadi kita punya waktu yang panjang untuk jalan-jalan. Kami hanya punya waktu sehari itu saja karena esok paginya kami sudah harus segera bertolak ke Jakarta. Dengan diantar salah satu staf UP4B kami menyusuri sudut-sudut jalanan di Papua. Berbelanja beberapa suvenir untuk orang-orang tercinta dan teman, tak lupa kami juga membeli beberapa batik Papua yang warna dan coraknya terkenal eksotis itu. Oh ya, yang kemarin sempet nanyain koteka dan nitip koteka, nih saya fotoin aja ya. Mau saya beliin tapi takut nggak pas, kan saya nggak tahu ukuran kalian apa :))

corak Batik Papua

koteka

Dari hasil jalan-jalan singkat itu secara keseluruhan saya cuma mau bilang Papua itu alamnya cantik banget! Nggak kalah sama wisata alam di daerah lain. Apalagi kalau siang, kalian akan melihat laut Pasifik terhampar begitu saja di depan mata kalian, begitu luas, tenang, dan biru. Sepanjang jalan cuma bisa bilang Allahu Akbar melulu deh. Karena waktu yang terbatas itu sayang banget belum bisa ke Raja Ampat dan bahkan ke perbatasan RI dengan Papua New Guinea, padahal dari Jayapura ke perbatasan cuma 30 menit.

Teluk Youtefa

Sepertinya masih akan ada perjalanan ke Papua bagian 2 deh, mengingat UP4B kan unit baru, dan yang kemarin dilantik baru sebagian pejabatnya saja, jadi pelantikan pejabat pelengkap berikutnya akan segera menyusul.

Mungkin… ;))

[devieriana]

 

Foto dokumentasi pribadi

Continue Reading

Think Outside The Stigma

Kemarin ada Mbak Latree Manohara menge-tag saya dan beberapa teman —yang kebetulan juga PNS— di twitter begini,

“I may not be the best, but I do my best “

Ah ya, lagi-lagi bicara tentang stigma yang sudah melekat di PNS. Stigma, semacam penamaan yang buruk terhadap sosok tertentu akibat adanya pengetahuan dan pemahaman yang kurang tepat. Klasik. Stigmatisasi bisa terjadi kepada siapa saja, profesi apa saja, status dan kondisi apa saja dalam masyarakat.

Dalam hal stigmatisasi negatif tentang PNS, bak dua sisi mata uang, diantara yang kontra pasti masih ada yang pro. Berusaha memberikan perspektif yang lebih humanis, karena masih banyak aparatur negara yang punya dedikasi, loyal, dan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Walaupun mungkin lebih banyak tertutup oleh stigma yang terlanjur terbentuk di masyarakat ya… 🙁

Oh ya, sekedar flashback, sekitar bulan Oktober 2010, saya juga pernah membaca hal serupa di twitter, dan (saking gemesnya) saya menuliskannya dengan judul Totem Pro Parte. Totem Pro Parte adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Generalisasi.

Tapi lagi-lagi trenyuh waktu baca salah satu tulisan seperti ini:

“PNS? Apa sih kerjaan mereka ? MAKAN GAJI BUTA. Masih mending mereka yang jadi kuli, tiap hari kerja keras tapi memuaskan. PNS kerja cuma nyari gaji seumur hidup+gaji pensiun, tapi apa yang mereka berikan tak sebanding seperti kerja kuli tadi”

Apa iya profesi yang saya jalani sekarang stigmanya sudah separah ini? Antara sedih sekaligus geli, saya cuma bisa berdoa, semoga yang bilang begitu kalau sudah lulus kuliah nggak jadi kuli ya, Nak ;)).

Serba salah sih memang, karena kita tidak bicara dengan orang yang benar-benar paham dengan kondisi yang ada di lapangan. Kalau cuma sekedar melihat dari luar dan kemudian melakukan judgement, ya semua orang pasti bisa.Tapi kok ya rasanya terlalu picik ya, kalau ada yang menggeneralisasi opini, “semua PNS itu magabut, nggak guna, tukang korupsi!” Nah gimana kalau ada yang bilang “semua mahasiswa sekarang itu tukang tawuran!”  Kira-kira fair nggak, ya? 🙂

Saya mau cerita sedikit yang di kantor saya, ya. Kalau bicara soal kerjaan, kami juga sama hectic-nya kok dengan yang bekerja sebagai non PNS. Banyak diantara kami yang terpaksa harus pulang larut malam karena memang tumpukan pekerjaan yang menjelang deadline (maksimal sekian jam atau sekian hari sudah harus diterima oleh pejabat ini itu). Saya juga pernah mengalami hal serupa, apalagi kalau sedang menyiapkan seleksi CPNS, boro-boro bisa pulang jam 4 atau jam 5 :(. Di jam makan siang pun kami tidak bisa seenak udel meninggalkan ruangan, lantaran harus ada yang posisi standby di ruangan, just in case ada permintaan yang mendadak. Kalau sedang tugas di Bogor kami juga seringkali baru selesai kerja pukul 1 dini hari, dan pukul 6 pagi sudah harus meluncur kembali ke Jakarta untuk ngantor seperti biasa. Acara menginap di kantor pun sudah menjadi agenda rutin tahunan bagi kami ketika harus menyiapkan perhelatan 17 Agustusan.

Di pagi hari kami juga harus mempertimbangkan waktu dan jarak tempuh dari rumah menuju kantor. Karena kalau tidak, ya pasti akan terlambat, dan kompensasinya adalah pemotongan tunjangan kinerja sebesar 1%. Kedengarannya sih kecil ya, ah cuma 1% ini. Tapi kalau sudah akumulasi, besaran potongannya bukan hanya terlihat hanya satuan persen saja, tapi langsung menjadi puluhan persen, dan itu jumlahnya… hiks… ngenes! 🙁 . Kalau ada pemandangan pukul 8 masih ada yang baru datang, itu pasti malu hati sendiri. Saya pernah baru sampai kantor pukul 8 lebih sedikit karena mendadak kendaraan bermasalah, dan kantor sudah sangat sepi. Keluar belanja atau menghilang pas jam kerja? Hadeuh, boro-boro… :-s

Intinya sih, semoga ini bisa berlaku untuk semua hal, jika kita hanya mengetahui sedikit saja tentang sesuatu, atau hanya kulit luarnya,  jangan buru-buru mengkritisi, mengambil kesimpulan secara sepotong-sepotong, dan atau membuat opini sendiri secara totem pro parte, menggeneralisasi sebuah kondisi padahal hanya untuk mengambil sebagian informasi saja.

“Don’t criticize what you don’t understand, Son. You never walked in that man’s shoes.”

– Elvis Presley –

[devieriana]

picture source : here

Continue Reading

Mendadak Cuti Bersama

Jumat lalu , kami beraktifitas sejak pagi seperti biasa, sama sibuknya meskipun itu menjelang akhir pekan. Tidak ada perubahan kesibukan yang signifikan, yang membedakan antara rutinitas awal pekan maupun menjelang akhir pekan. Pun halnya gejala, isu, atau pertanda bahwa akan ada informasi cuti bersama. Mengingat, berdasarkan Keputusan Bersama 3 Menteri : Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi RI, Nomor : 2 Tahun 2010, KEP.110/MEN/VI/2010, dan SKB/07/M.PAN-RB/06/2010 tentang Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2011 yang ditetapkan sebagai cuti bersama tahun 2011 adalah hanya untuk tanggal 29 Agustus 2011, 1 – 2 September 2011 sebagai cuti bersama Idul Fitri 1 Syawal 1432 H, dan tanggal 26 Desember 2011 sebagai cuti bersama Hari Raya Natal.

Sejak siang kami juga santai saja, tidak ada yang meributkan tentang rencana cuti bersama, tidak ada yang membahas akan kemana hari Selasa mendatang yang bertepatan dengan libur Hari Raya Waisak, kecuali bagi yang sudah merencanakan untuk mengambil cuti tahunan di hari Senin, karena bertepatan dengan Harpitnas (Hari Kejepit Nasional) :p.

Namun, menjelang pulang kantor sekitar pukul 16.00 wib, mendadak ada teman kantor yang kasak-kusuk karena baru saja menerima sms isu cuti bersama dari teman di kantor sebelah. Berhubung sejak pagi tidak ada selembar surat/pengumuman/fax-pun yang saya terima, saya hanya menanggapi ringan :

“Ah, cuma isu aja kali. Buktinya kita belum terima surat edaran atau fax apapun tuh sampai jam segini. Kalau nggak ada hitam di atas putih sih mending nggak usah percaya dulu deh..”

Namun, semakin sore gosip cuti bersama itu terdengar makin santer. Saya yang berencana pulang tepat waktu pun tiba-tiba menjadi petugas callcentre dadakan. Wajar kalau semua telepon mengarahnya ke biro kami, karena kebetulan kami di Biro Kepegawaian, jadi mungkin dianggap tahu lebih dulu ketimbang biro lainnya, walaupun ada biro yang seharusnya lebih tahu terlebih dahulu yaitu Biro Tata Usaha dan Hubungan Masyarakat. PING dan bbm pun tak henti-henti saya terima. Saya tetap menginformasikan standar saja :

“Mbak, Mas, Jeng, Dek, Kak, berhubung kita belum dapat informasi apapun soal isu cuti bersama, jadi sementara informasi yang bisa kita berikan Senin tetap masuk saja ya, kalau pun toh nantinya kita jadi libur ya sudah kita pulang. Yang penting kan kita nggak terpotong TK-nya (tunjangan kerja) :p”

Nah, aman kan? Tapi, ternyata setelah menerima berondongan pertanyaan senada itu, saya akhirnya jadi penasaran sendiri. Libur beneran nggak sih hari Senin nanti? Walaupun sudah diinformasikan di internet tentang Keputusan Bersama 3 Menteri : Menpan dan  RB, Menteri Agama, dan Menakertrans, SKB Nomor 2/2011/KEP/ Men/V/2011 dan SKB/01/M.Pan-RB/05/2011 yang menyatakan hari Senin tanggal 16 Mei 2011 sebagai Cuti Bersama, tapi tetap saja kalau tidak baca dan terima langsung surat atau arahan dari atasan ya masa sih kita mau ambil keputusan sendiri kalau Senin cuti bersama?

Bersama beberapa gelintir teman yang waktu itu masih belum pulang, kami pun mencari tahu informasi resminya. Sampai akhirnya, menjelang pukul 17.00 wib salah satu Kabag kami menerima telepon dari Deputi Bidang SDM yang telah melakukan konfirmasi ke Sekretaris Menteri PAN & RB yang menyatakan bahwa Senin positif cuti bersama (meskipun konon, suratnya sendiri waktu pengumuman itu di-release ke publik belum ditandatangani, dan baru akan ditandatangani malam harinya. Apa jadinya kalau surat itu ternyata batal ditandatangani padahal informasi sudah tersebar kemana-mana, ya?). Serentak kami berhora-hore dan pasang status serempak di BBM : “Senin cuti bersama! \m/”

Sebenarnya apa yang melandasi adanya cuti bersama dadakan ini juga kurang jelas. Karena kalau sudah terencana dengan matang seharusnya libur tanggal 16 Mei 2011 ini juga diikutkan dalam daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama SKB 3 Menteri yang sudah ditetapkan sejak tahun 2010 dong, bukan dadakan dan serba mepet seperti ini. Dengan adanya kebijakan dadakan kemarin jelas menimbulkan pro dan kontra. Ada yang pro, karena akhirnya bisa merasakan long weekend dengan keluarga, dan bagi yang rumahnya dekat (plus ada dana lebih) bisa mudik dadakan. Tapi tak sedikit pula yang kontra, karena dengan adanya cuti bersama itu jadi merusak rencana kerja yang sudah disusun sebelumnya. Memang tidak semua kantor mengikuti instruksi cuti bersama hari Senin nanti. Banyak kantor yang tetap masuk dan menjalankan aktifitas seperti biasa, tak terkecuali kantor suami saya, dan kantor adik saya yang mengikuti aturan BI :|.

Semoga bisa jadi masukan buat Bapak-bapak diatas sana yang membuat keputusan, ini murni curhatan saya ya, Pak :

“Mohon nanti ke depannya bisa lebih terencana lagi untuk menetapkan kapan kita akan cuti bersama ya, Pak. Supaya kita lebih enak dalam membuat rencana kerja gitu. Biar nggak ada teman yang uring-uringan karena batal sosialisasi, batal rapat terbatas, batal bimbingan teknis, karena sudah mempersiapkan bahan dan materi serta acara secara matang dari jauh-jauh hari sebelumnya. Bukannya saya nggak seneng karena bisa merasakan libur lebih panjang ya Pak, tapi nggak ada untungnya juga sih buat saya,. Jatah cuti tahunan saya tetap terpotong secara otomatis kalau ada cuti bersama, padahal tahun ini saya belum ngambil cuti lho, Pak, mosok sudah berkurang 5 dari jatah 12 hari. Saya rencananya mau ambil cuti panjang buat pulang ke Surabaya karena hanya sempat pulang kalo lebaran aja, Pak. Lha tapi apa asiknya cuti bersama kalau tetap memotong jatah cuti saya.. :|.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini ya, Pak. Kan penghitungan Waisak bukan berdasarkan ru’yatul hilal, atau berdasarkan posisi bulan seperti halnya penetapan Hari Raya Idul Fitri yang bisa saja dalam prakteknya berbeda dengan yang tercantum di kalender. Ini Waisaknya nggak kemana-mana lho Pak, sudah fix sejak kalender awal tahun baru dicetak. Nah, kalau hari Senin mendadak libur begini padahal suami saya nggak libur, terus hari Senin saya ngapain, coba? Oh ya, Pak.. coba lihat kalender bulan Juni 2011 deh. Tanggal 3 Juni kan hari kejepit nasional lagi tuh.. rencananya mau ada SKB ajaib yang dadakan lagi kaya sekarang, gitu? Ih, saya mah ogah bener dah ah.. :|”

Nah, apa pendapat kalian tentang cuti bersama dadakan ini?
Selamat Hari Raya Waisak dan have a nice (long) weekend bagi yang merayakan, ya..
🙂

[devieriana]

 

ilustrasi : http://bisnis-jabar.com

Continue Reading
1 5 6 7 8 9 16