“Saya Bersumpah..”

Teman-teman, maafkan kalau saya jarang-jarang posting akhir-akhir ini. Mungkin inilah hasil kombinasi antara load kerjaan yang mulai tinggi, mood yang naik turun, dan fakir ide ๐Ÿ˜ :-?? . Iya, itu cuma alasan saya sih, tapi ya sudahlah, semoga sindrom ini tak berlangsung lama yah ๐Ÿ™‚

Oh ya, nanya dong, kalau kalian mendadak disumpahin sama orang kira-kira reaksinya gimana? Ngamuk? Balik nyumpahin? Atau tergantung disumpahinnya gimana dulu? Kalau disumpahin jadi cakep dan kaya sih kayanya mau ya? ;)). Kalau saya disumpahin malah seneng. Karena “disumpahin” yang ini beda dengan sumpah serapah seperti orang yang sedang marah. Walaupun disumpahinnya berat, tapi dengan disumpahin itulah yang akhirnya mengubah status saya menjadi jelas.. Ini sebenernya mau ngomongin tentang apa sih?

Iya, berdasarkan Keputusan Menteri Sekretaris Negara Nomor 40 Tahun 2011 tanggal 28 Februari 2011 telah ditetapkan pengangkatan 51 Calon Pegawai Negeri Sipil menjadi Pegawai Negeri Sipil Kementerian Sekretariat Negara , yang salah satunya adalah saya \:D/. Tanggal 6 April 2011 kemarin adalah hari bersejarah bagi kami ber-51 karena saat itulah kami mengangkat sumpah Pegawai Negeri Sipil menurut agama/kepercayaan kami masing-masing. Dengan demikian berarti hilang sudah huruf “C” di depan status kepegawaian kami menjadi menjadi PNS \m/. Tentu saja dengan telah penuhnya status kami sebagai PNS, penuh pulalah hak (dan kewajiban) kami sebagai Pegawai Negeri Sipil \:D/.

Sekedar cerita, saya masuk sebagai PNS termasuk yang kurang dini, karena angkatan yang sekarang termasuk yang masih “piyik-piyik” (muda-muda). Tapi ya, ketertarikan saya untuk masuk sebagai PNS juga baru muncul di tahun 2009 sih. Itu pun hasil coba-coba dan alhamdulillah masuk [-0<

Oh ya, ada satu moment yang pasti ada di setiap pelantikan pegawai yaitu pengangkatan sumpah diatas kitab suci sesuai dengan agama yang dianut oleh masing-masing pejabat/pegawai yang akan dilantik. Entah kenapa moment pengambilan sumpah dengan mengucapkan “Saya bersumpah..”, bulu kuduk saya langsung meremang, dan kulit saya mendadak merinding. Apalagi ketika (para) rohaniwan mengambil sumpah diatas kitab suci sesuai dengan agama pegawai yang dilantik. Hiiy.. kayanya nggak tahu ya, serem aja gitu buat saya, kenapa ya? :-s. Mungkin karena bersumpah itu berat, apalagi berkaitan langsung dengan Yang Diatas. Walau ironisnya kalau sedang pacaran atau ngobrol dalam kehidupan sehari-hari, untuk meyakinkan orang lain, kayanya gampang bener ya bilang sumpah.

Pernah punya pengalaman bersumpah, diangkat sumpahnya, menyumpahi atau disumpahin, barangkali? ;))

[devieriana]

Continue Reading

Love the job, not the boss!

“hwaaa, kok Bosku gantiii?” :((

“Lho, emang kenapa dengan calon bos barumu?”

“bosku orangnya nggak enak.. ๐Ÿ™ “

“ya udah kalau nggak enak ya jangan dimakan, kasih ke kucing aja..:-“”

“:|”

Tanggal 17 Maret 2011 kemarin adalah tanggal yang sangat bersejarah bagi seluruh pejabat eselon 2, 3, dan 4 di lingkungan tempat saya bekerja. Karena di hari itu ada sejumlah 568 pejabat yang dilantik untuk menempati beberapa posisi baru. Dengan adanya pergantian (rotasi) ini otomatis menimbulkan kejutan-kejutan tersendiri bukan hanya bagi pejabat yang bersangkutan (yang baru tahu akan menduduki jabatan apa baru di hari pelantikan itu) tapi juga para anak buah dibawahnya. Ada yang tetap di posisi lamanya, tapi banyak juga yang mengalami rotasi, dan menempati posisi di biro yang baru.

Saya yang setelah pelantikan baru menyusul berangkat ke Bogor untuk bergabung bersama teman-teman di lokasi outbound setelah mengemsi di pelantikan “akbar” itu, langsung mendapatkan berondongan pertanyaan dari teman-teman, “Mbak, siapa atasanku yang baru?”. Lha ya mana saya hafal, kan ada 568 pejabat disana yang dilantik, dan yang mengalami rotasi juga banyak :(. Reaksi teman-teman yang mulai sibuk mencari tahu siapa calon atasan barunya sangat beragam. Bagi yang sudah menduga siapa calon atasan barunya kebanyakan sudah siap mental. Tapi bagi yang baru tahu siapa atasannya reaksi mereka ada yang suka cita, ada yang biasa saja, ada juga yang shock.

Uniknya ada salah satu teman yang ketika mengetahui siapa atasan barunya, matanya mendadak berkaca-kaca. Iseng saya tanya kenapa, jawabannya simple, “bakal atasanku itu orangnya agak nggak asik, Mbak..”. Saya sih sebenernya nggak mau berkomentar lagi, tapi saya penasaran ;))

“Emang kata siapa kalau calon atasan kamu nggak asik?”

“Ya ada yang bilanglah, Mbak.. :(“

“Atasan kamu yang sebelumnya emang orangnya asik?”

“Sebenernya ya nggak asik juga sih.. Tapi yang sekarang bakal lebih nggak asik lagi..”

“Lah, kalau sama-sama nggak asiknya, harusnya nggak ngaruh-ngaruh amat dong :D. Lagian kan kamu baru dengar “katanya”, belum menjalani sendiri. Siapa tahu akan ada keajaiban. Yang menurut orang lain beliau kurang asik, tapi ternyata buat kamu beliau asik-asik aja.. ;). Standar orang kan beda-beda, Dear.. “

“Iya, sih.. aku juga belum menjalani kerja sama dia. Ah, tapi aku paranoid deh, Mbak.. :(“

Iya, saya tahu, jadi pemimpin yang bisa memenuhi harapan semua orang itu memang tidak mudah. Apa yang kita sangka sudah sesuai (menurut kita) ternyata pada kenyataannya belum bisa memenuhi harapan bagi sebagian orang. Pemimpin kan juga manusia, jadi ya wajar kalau ada yang tidak sempurna.

Dulu, waktu pertama kali kerja, saya nggak langsung dapat atasan yang “asik” kok. Pengalaman kerja saya berasa kerja sama Voldemort :-ss. Kalau ada si boss, kami bisa seharian deg-degan, mode siaga penuh diaktifkan. Karena atasan saya termasuk tipe atasan yang moody dan high temper (mudah marah). Sebagai langkah antisipasi menghindari kena semprot dadakan, kami bersepakat untuk mengetahui mood apa yang sedang dialami si boss secara dini dengan melihat raut wajahnya ketika memasuki kantor. Kami mengodekan ekspresi wajah si boss dalam bentuk “cuaca”. Berhubung ruangan saya berhadapan langsung dengan ruangan pak boss maka kami bisa mengetahui secara live “cuaca” apa yang sedang berlangsung di hadapan kami. Kalau “cuaca cerah” berarti moodnya sedang bagus, nggak ada masalah, kita boleh sedikit tenang hati. Kalau “cuaca mendung”, artinya kita harus waspada karena itu bisa jadi akan hujan atau bahkan badai. Kalau “cuacanya badai dan petir menyambar-nyambar” itu artinya kita harus siaga satu, menyiapkan mental untuk menampung segenap kemarahan, menyiapkan jawaban untuk kasus yang mungkin akan dipermasalahkan. Jadi, selama kerja disana kita berasa kerja di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Lha ya gimana, wong isinya laporan perubahan cuaca melulu.. :|. Tapi positifnya adalah, selama berganti-ganti atasan, mental saya akhirnya jadi lebih siap karena sudah pernah merasakan bagaimana rasanya punya atasan yang “nggak asik” tadi. Untunglah setelah itu atasan-atasan saya asik-asik saja.

Kebalikan cerita diatas, saya juga pernah mendapatkan seorang atasan yang sangat enak diajak bekerjasama. Sangat humble, dan mau membaur bersama kami. Beliau tahu cara mendekati bawahannya, sering menyempatkan berdialog dengan kami secara personal, sekedar mampir di meja kami untuk menanyakan apa yang kami kerjakan, progress apa yang sudah kami dapat, berusaha mengenal kami secara pribadi, hafal seluruh nama-nama kami, dll. Hingga pada suatu hari, ketika kami mulai merasa nyaman dengan beliau yang baru kami kenal 4 bulan itu, secara mendadak beliau harus dipindahkan ke kantor pusat untuk menangani project baru lagi. Kami merasa sangat kehilangan seorang atasan yang kami anggap ideal walaupun kadang gayanya preman ;)). Tapi ternyata ada banyak hal baru yang lebih baik di kantor kami, ada path yang beliau bentukkan untuk kami teruskan perjalanannya. Ada kedekatan baru yang terjalin diantara para karyawan yang selama ini seolah individualis.

Seorang teman memberikan tips begini, “better love the job, not the boss!”. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Karena mungkin maksudnya adalah untuk mengantisipasi timbulnya zona nyaman yang tercipta karena kepemimpinan seseorang sehingga kita tidak akan terlalu terpengaruh jika sewaktu-waktu si boss pergi meninggalkan kita untuk project lain dan lalu digantikan dengan atasan yang baru. Karena sesungguhnya posisi dan pekerjaan atasan itu bersifat dinamis. Dia harus siap ditempatkan dimana saja selagi perusahaan membutuhkan tenaga dan pikirannya.

Ah, ya.. setiap orang pasti punya gaya kepemimpinan yang berbeda-beda, begitu pun dengan kita jika suatu ketika harus menjadi pemimpin. Sebagai bawahan kita tinggal belajar menyesuaikan diri, belajar menerima perubahan kebijakan dan gaya kepemimpinan yang beragam itu. Bagi para atasan semoga tidak segan untuk berbaur, belajar bersama, siap menerima masukan dari bawahan, dan tetap berusaha menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan kerja. Yang penting adalah saling mengingatkan, terutama jika ada hal yang berjalan diluar koridor. Selebihnya biarkan semua berjalan secara natural.

Ah, ya.. semoga suasana kerja kita semakin menyenangkan dengan kehadiran atasan kita yang baru yah.. ๐Ÿ˜‰

[devieriana]

Continue Reading

Balada Callcentre Officer

Seperti beberapa tulisan saya di blog ini yang bertemakan tentang callcentre, jujur sebenarnya tidak pernah menyangka kalau sebagian karir saya akan terdampar di sana. Dengan mengandalkan suara yang seadanya itu saya nekad melamar ke sebuah pekerjaan yang sangat mengandalkan suara. Tapi yang namanya rejeki memang tak akan ke mana ya, karena toh takdir menyatakan bahwa kami berjodoh… >:D<

Dulu, saya pikir bekerja di call centre itu mudah; tinggal duduk, angkat panggilan yang masuk, jawab pertanyaan pelanggan. Selesai. Ternyata lebih dari itu, stress juga ketika harus menyesuaikan diri dengan talk time (panjang waktu melayani), dan jumlah call minimal yang harus ditangani oleh seorang customer service. Belum lagi kalau jumlah panggilan yang masuk sampai bejibun, bisa ngos-ngosan kitanya.

Tapi bekerja di call centre itu seru, lho. Selain kita juga jadi lebih banyak mengenal tipikal pelanggan; mengetahui cara melayani dan berkomunikasi; kita juga bisa mendapatkan ‘hiburan’ gratis dari mereka ;)). Apalagi ketika saya menjadi quality assurance, ada banyak percakapan lucu yang saya dengarkan antara antara pelanggan dan officer. Bisa mendadak tertawa sendiri di kubikal ketika melakukan penilaian sambil mendengarkan rekaman percakapan mereka.

Menjadi orang di balik layar itu seolah punya dua muka. Di satu sisi officer harus tetap ramah walaupun pelanggan sedang ngamuk-ngamuk, emosi harus tetap stabil walaupun sedang mengalami mood swing atau PMS (yang bawaannya pengen ngasah golok melulu). Namun di sisi lainnya mereka tetaplah manusia. Punya sisi manusiawi, emosi dan keunikan tersendiri. Seperti percakapan yang sampai sekarang masih saya ingat berikut ini :

* PELANGGAN vs AGENT NGEYEL

Officer : …. selamat pagi, dengan Ibu siapa saya bicara?

Customer : pagi Mas…nng.. saya dengan Wati..

Officer : baik, dengan Ibu Wati ya..

Customer : jangan panggil Ibu dong, Mbak aja.. *tertawa centil*

Officer : maaf Ibu, untuk lebih sopannya kami diwajibkan memanggil dengan sapaan ibu atau bapak..

Customer : aah, panggil aja Mbak Wati, saya kan belum nikah Mas…ย  ;;)*merajuk*

Officer : mohon maaf ibu, kami hanya bisa memanggil dengan sapaan Ibu atau Bapak saja. Jika Ibu tidak berkenan dipanggil dengan sebutan “Ibu”, bagaimana jika saya memanggil dengan sebutan “Bapak”?

Customer : ya sudah, ya sudah.. saya dipanggil Ibu saja.. ๐Ÿ˜ *dongkol*

Seharusnya memang tidak sekaku ini, kalau ada pelanggan yang keberatan dipanggil Bapak/Ibu kita diperbolehkan untuk menyapa sesuai dengan kenyamanan pelanggan kok. Tapi kasus ini kebetulan memang customernya pas apes, ketemu sama officer yang sama-sama ngeyelnya :))

———-

* AGENT YANG KELEWAT RAMAH & PENUH PERHATIAN

Customer : Mas, saya mau tanya tentang program RedSPOT itu gimana sih maksudnya?

Officer : baik, Program Red spot bisa untuk pengguna kartuHALO, simPATI & kartu As, bisa ketik… bla..bla..bla..bla.. Begitu, Bapak ๐Ÿ™‚ *terdengar sangat ramah*

Customer : oh jadi itu kerja sama Telkomsel dengan merchant-merchant tertentu dengan diskon tertentu juga ya, Mas?

Officer : betul sekali, Bapak.. ๐Ÿ™‚ *tingkat keramahan stadium 4*

Customer : kalau misalnya saya mau makan di Texas, dengan program RedSPOT ini saya dapat diskon berapa, Mas?

Officer : 20% Bapak..

Customer : wah, lumayan juga ya?

Officer : iya, Bapak… jadi kalau misalnya Bapak ke Texas Chicken nanti Bapak tinggal tunjukkan saja sms yang tadi Bapak terima ke kasir. Nanti Bapak akan langsung mendapatkan potongan harga sebesar 20%. Oh ya, satu lagi Pak, jangan lupa…

Customer : ya, Mas?

Officer : jangan lupa dibungkus untuk keluarganya.. ๐Ÿ™‚

Customer : mmh… maksudnya? ๐Ÿ˜ฎ

Officer : iya, jangan lupa bungkus bawa pulang untuk keluarganya, Pak.. ๐Ÿ™‚

Customer : ooh…eh iya.. ๐Ÿ˜€

Ini adalah salah satu contoh agent yang sayang keluarga. Sebenarnya sih, mau bungkus buat keluarga, mau dimakan sendiri, atau mau ditebar-tebar dikasih ke ayam ya terserah pelanggannya juga sih. Lha wong yang beli dia sendiri. Tapi ya nggak apa-apa juga sih, hitung-hitung si officer sudah memberikan edukasi sayang keluarga.

———-

* S = SETAN?

Pelanggan bertanya cara setting GPRS/MMS :

Officer : silakan nanti Bapak ketik S<spasi> Nokia<spasi> type HP lalu dikirim ke 5432

Customer : F ya Mas?

Officer : “S”, Pak..

Customer : ooh.. F ya.. Ya, ya.. trus?

Officer : S pak, dari kata SI-E-RA

Customer : iya, FI-E-RA, kan?

Officer : S Pak..S. Bukan F. S ya Pak, dari kataย  SSEETTAAAN…!

 

Eh lhadalah… SETAN? ๐Ÿ˜ฎ

———-

*MAU RBT APA?

Customer : selamat pagi Mas. Saya mau minta kode nada sambung pribadi, dong..

Officer : baik Bu, untuk judul lagu apa?

Customer : yang judulnya “Kekerasan dalam rumah tangga”. Ada, Mas?

Officer : mohon maaf belum tersedia. Ada kode NSP lain yang ingin diminta?

Customer : kalau “Ceraikan Aku”, atau “Minta Cerai”, ada?

Officer : untuk kode NSP yang tersedia saat ini : “Jangan Bercerai”, “Minta Diceraikan”, “Jangan Ceraikan Aku”, dan yang terakhirย  “Ceraikanlah Saja”. Ibu mau pilih NSP yang mana?

Customer : yak yang terakhir sajalah, Mas.. “CERAIKANLAH SAJA!!”

Kesimpulan dari permintaan NSP ini ditengarai pelanggan ingin minta cerai karena mengalami KDRT.

———-

* BALADA BLUETOOTH

Customer: Mas, gimana sih cara setting bluetooth? Dari tadi saya udah setting, utak-atik sendiri kok nggak bisa nyambung-nyambung sama temen saya, ya?

Officer: Bapak menggunakan HP apa?

Customer: *menyebutkan salah satu merk ponsel*

Officer: *memandu cara setting bluetooth secara step by step dengan sabar*

Customer: sudah, Mas… itu sudah saya lakukan tetap nggak bisa nyambung sama temen saya. Ini yang bermasalah HP atau gimana, sih?! *mulai jengkel*

Officer: Mohon maaf Pak, bluetooth itu fasilitas handphone, Pak. Jadi misalnya setelah diaktifkan bluetooth-nya tidak bisa berfungsi, bisa jadi fasilitas bluetooth-nya mengalami kerusakan, jadi nanti Bapak bisa langsung ke dealer HP…

Customer: Mas, handphone saya ini baru! Masa baru beli kok sudah rusak! Lagian saya butuhnya sekarang kok malah disuruh ke dealer HP. Mas ini bisa melayani nggak, sih? *mulai panas*

Adegan eyel-eyelan pun dimulai, Sodara. Officer yang merasa sudah menjelaskan langkah demi langkah sesuai dengan panduan standar dan bahkan sampai memegang sendiri HP yang setipe dengan yang digunakan oleh penelepon (maksudnya praktik langsung), lama-lama merasa tersudutkan, karena dianggap kurang bisa memberikan penjelasan dengan maksimal, padahal bluetooth HP yang diaktifkannya bisa berfungsi normal.

Akhirnya, percakapan yang durasinya hampir setengah jam itu pun berjalan mulai ‘panas’, Kak.

Officer: baik, posisi Bapak sekarang ada di mana?

Customer: saya ini di Bandung, Mas… *mulai sebal*

Officer: lalu saat teman Bapak ada di mana? di sebelah Bapak? *mulai kesel juga*

Customer: enggak… dianya lagi ada di Semarang. Gini lho, Mas… kita itu mau pakai bluetooth untuk transfer data, maksudnya biar nggak pakai pulsa gitu lho, Mas. Duh, masa gitu aja Masnya nggak bisa paham, sih?! ๐Ÿ˜

Officer: Hmmpppttt …. *diam-diam menangis darah sambil garuk lantai* :((

 

Well…, I feel you, Kak… ๐Ÿ˜ *puk-puk officer-nya*

—————–


* HIDUP LAGI?

Officer : Selamat Pagi. Dengan Ibu siapa saya bicara?

Customer : dengan Ibu Alda Risma..

Officer : ada yang bisa dibantu, Bu Alda?

Customer : Mbak, mau minta Nada Sambung Pribadi..

Officer : silakan, mau NSP dengan judul apa?

Customer : dari album saya sendiri, Aku Tak Biasa

Officer : mohon ditunggu sebentar *mengecek*. Mohon maaf tidak ada, Bu..

Customer : kalau Jangan Kau Sesali?

Officer : mohon maaf juga masih belum tersedia..

Customer menyebutkan beberapa lagu Alda Risma yang lain, tapi sayang memang kode NSP-nya waktu itu tidak ada satu pun yang tersedia. Sampai akhirnya dia saking jengkelnya bilang :

Customer : bener-bener keterlaluan ya kalian.. Masa mulai saya hidup sampai saya mati lagu saya nggak ada satupun yang kalian jadikan NSP? Terlalu!ย  ๐Ÿ˜

Percakapan ini terjadi selang seminggu setelah artis Alda Risma meninggal dunia. Jelas yang menelepon bukan Alm. Alda-lah, karena nomor yang digunakan dari area Makassar. Kata officer-nya pada saya : “untung ya Mbak dia nelponnya siang-siang. Coba kalau malam, callmaster pasti udah aku tinggal kali nih, Mbak…”

Jadi begitulah, namanya layanan bebas pulsa, yang menelpon pun karakter dan motivasinya pun beragam. Berhubung call centre Surabaya melayani Indonesia bagian Timur maka panggilan yang masuk dari area Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Kalau diingat-ingat kadang ya ngenes tapi sekaligus lucu. Berhubung ketika saya masuk dulu teknologi telepon seluler belum se-booming sekarang jadi kalau masih banyak pelanggan gaptek ya wajar. Namanya saja teknologi baru, pasti banyak yang belum familiar. Seperti kisah seorang teman yang sedang melayani pelanggan berikut ini :

Customer : Mbak, gimana sih caranya menghapus kontak di henpon saya. Saya ndak tau caranya? *dengan logat Madura yang kental*

Teman : Bapak menggunakan handphone apa?

Customer : Nokia, Mbak..

Teman : nanti Bapak silakan masuk ke menu kontak, disana Bapak tekan tombol sebelah kiri, ada pilihan delete atau hapus, Bapak tekan delete di nomor yang ingin dihapus ya, Pak..

Customer : HEH! Mbak ini kalau ngomong yang sopan ya! Saya itu cuma mau nanya cara menghapus kontak. Kenapa situ kok ngomong nggak sopan sama saya, pake ngomong SIL*T-SIL*T. Kalau nggak mau melayani, bilang Mbak, nggak usah ngatain saya yang kaya gitu!!ย  X(

Teman : *bengong dengan khusyuk*ย  Lho? :-o.ย  Eh, halo, Pak.. saya ulang proses melakukan penghapusan kontaknya ya.. *menjelaskan ulang*. Nah, nanti kalau ada tulisan DE-LE-TE, Bapak tekan itu ya.. ~X(

Customer : nah, gituu.. kan enak ngomongnya… ๐Ÿ˜

Eh, silakan lho kalau mau nyakar-nyakar tembok… ;))

Jadi, siapa yang berminat jadi callcentre officer? ๐Ÿ˜‰

 

 

[devieriana]

 

Continue Reading

Kemewahan itu bernama waktu luang

Dulu jaman kita masih belum ada kesibukan & belum ada kerjaan, yang namanya waktu luang itu jadi barang murah yang bisa kita nikmati kapan saja sampai kita bosan sendiri. Tapi giliran kesibukan sudah mulai padat merayap rasanya stress, kepala mendadak berasap, gejala penuaan dini mulai menghampiri, sensitif, badan terasa sering pegal-pegal dan pengen jambak-jambak rambut… teman ~X( *lho?!*. Jangankan untuk ngeblog, nafas aja itu juga kalau sempat :-<. Oh ya, baiklah.. memang saya sedang berlebihan.. 8-|

Ceritanya seperti sahabat saya yang baru back for good dari luar negeri dan berencana untuk menetap di Indonesia lagi. Sekarang sedang sibuk-sibuknya mencari pekerjaan disini. Ya namanya juga lagi masa penyesuaian dan sedang dalam proses mencari pekerjaan, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan kesabaran. Saya sering telpon/sms sekedar tanya kabar atau progress pencarian kerjanya. Jawabannya, “Bosen bener dah, nggak ada kesibukan ๐Ÿ™ “. Padahal ketika masih tinggal di luar negeri jadwal dia termasuk padat. Bahkan ketika sakit pun masih dibela-belain ngantor dengan alasan nggak ada yang bertanggung jawab di kantor. Alhasil kalau sedang libur dimaksimalkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Maklum disana dia tinggal sendiri di apartemen dan nggak ada bibik-bibik yang bantu nyuci, nyetrika atau masak. Nah ya, jadi berbahagialah kalian yang hidupnya didampingi oleh seorang asisten rumah tangga, jadi nggak harus susah-susah ngerjain pekerjaan rumah selain pekerjaan kantor :D.

Kebalikan sama teman saya satu lagi. Kalau yang ini edisi super sibuk. Sepertinya angka-angka di kalender dia semuanya berwarna hitam. Mulai Senin sampai Sabtu dia pasti sibuk beredar. Hari Minggu pun kadang masih suka diisi sama acara off air. Jadi narasumber seminar disini, disitu. Meeting dengan klien ini, anu, itu. Belum selesai meeting sudah ditunggu dengan presentasi disana dan disini. Saking sibuknya kadang saya mikir mungkin dia sehari-harinya makan batere ya. Kalau saya dengan jadwal sesibuk itu mungkin sudah jalan pakai infus kemana-mana. Dia baru benar-benar istirahat kalau lagi sakit atau cuti. Tapi ya masa sih kalau pengen istirahat harus sakit dulu? Oh ya, cuti pun jangan salah, dia juga masih meng-handle kerjaan jarak jauh lho. Tipe workaholic sejati memang si teman satu ini \m/.

Ngomongin temen sendiri jadi dejavu, saya dulu juga pernah mengalami masa-masa seperti itu :-s. Kelihatannya aja saya cuti, secara fisik saya di Surabaya. Tapi jiwa saya di Jakarta. Gimana mau merasakan cuti kalau saya masih terima telpon, masih kirim dan terima email, masih ngecek kerjaan anak buah (walau telpon/sms hanya untuk sekedar tanya ada kesulitan/nggak). Harusnya saya matiin HP dan email saya ya. Tapi nggak bisa semudah itu juga. Ada tuntutan tanggung jawab disana. Di saat itulah saya mulai merasa seperti diperbudak sama kerjaan dan deadline.. :-s

Nyadar nggak sih, ketika kita sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan, syndrom I Hate Monday pun menggejala tanpa kita sadari. Belum berangkat ke kantor saja sudah terbayang-bayang tumpukan berkas dan email yang bejibun. Belum buka buku agenda saja sudah meriang duluan membayangkan rentetan jadwal padat didalamnya. Akhirnya saking menumpuknya pekerjaan yang harus diselesaikan terpaksa kita harus bekerja di hari libur dan tanpa dibayar pula *ngenes to the max* :((. Smartphone dan netbook harus menjadi teman di akhir pekan untuk menyelesaikan tugas padahal keluarga, teman, mall dan sale sedang menunggu.. *remet-remet kertas satu rim*

Akibatnya, hubungan dengan keluarga dan kehidupan sosial pun lambat laun jadi terabaikan. Batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan jadi kabur. Akhirnya kebanyakan kita memilih mengorbankan keluarga dan pribadinya untuk memenuhi tuntutan beban pekerjaan yang sudah overload. Tapi nggak semua pekerja bersedia mengorbankan keluarga diatas pekerjaan, malah ada yang akhirnya memilih resign untuk lebih konsentrasi ke keluarganya.

Idealnya sih kita harus bisa mengatur keseimbangan dan tahu posisi kita sedang ada dimana ya. Melihat mana yang paling penting dalam hidup. Keluarga atau pekerjaan? Memang keduanya sama penting tapi pasti ada skala prioritasnya. Ada waktu untuk konsen ke pekerjaan, tapi ada saatnya juga kita menjadi milik keluarga, dan menikmati “me time”.

Kalau kata Nick Deligiannis :

“Remember, a professional is a person who never allowed himself to dissolve in the job and no longer have time for personal life”

Jadi, kapan kita menikur pedikur bareng? :>

[devieriana]

Continue Reading

Diinterogasi di kantor sendiri

Setiap pagi, seperti biasa saya datang diantar suami. Biasanya di ujung gerbang sudah siap siaga seorang security (kami menyebutnya dengan Unit Keamanan Dalam (UKD)) dengan metal detectornya. Kalau yang ini sih mereka sudah hafal dengan wajah saya. Kadang malah guyon dulu sebelum saya masuk gedung.

Tadi pagi, begitu masuk gedung dan sedang menuju ke arah lift, seperti biasa saya menyapa selamat pagi kepada siapapun bapak-bapak UKD yang sedang bertugas di dalam. Nah anehnya 2 bapak-bapak ini memandang saya seolah-olah saya ini orang asing, atau tamu yang asal nyelonong masuk. Memang sih hari ini saya nggak ke mesin absen (handkey) karena seharusnya saya masih dalam hitungan dinas luar, jadi saya langsung menuju lift. Eh, mendadak lift saya ditahan..

“Selamat pagi, Paaak.. :)”

“Selamat pagi. Mohon izin, mau kemana, Bu?” —–> melihat saya dari atas kebawah, memperhatikan penampilan saya dengan tatapan menyelidik

“Lah, ya mau kerja dong Pak.. :-o” —-> mulai merasa aneh

“Mau kerja? Dimana?” —-> dengan tatapan menyelidik*

“Loh, saya ini orang kepegawaian lho Pak.. “

“Masa sih? Kok saya nggak pernah liat Mbak ya?”

“Makanya Bapak sering-sering tugas di Gedung I, kapan-kapan main ke Kepegawaian dong, Pak. Kubikel saya ada di dekat ruang tamu, depan pintu masuk.. “

” Ya soalnya kan Mbak juga nggak pakai nametag..”

“Nametag saya selalu bawa, cuma memang didalam tas, saya males bongkar-bongkarnya nih Pak. Tapi jangan kuatir pasti ada kok..” —-> mulai merasa nggak nyaman

“Dengan Mbak siapa ini?”

“Nama saya Devi. Temen-temen Bapak yang lain familiar sama muka saya kok. Kalau Bapak kapan-kapan menyampaikan surat ke Kepegawaian pasti ketemu saya dulu..”

“Oh, ya sudah Mbak Devi, silahkan..” —–> membukakan lift untuk saya

“Terimakasih.. ๐Ÿ˜ ” *muka lempeng*

Baru kali ini lho saya diinterogasi di kantor sendiri ~X(. Berasa nggak dipercaya saya adalah karyawan tempat saya bekerja :((. Memang sih saya nggak pernah pakai seragam kecuali ada acara tertentu (cenderung masih seperti penampilan saya di kantor sebelumnya) karena memang tidak diwajibkan juga, dan saya juga baru pakai nametag kalau sudah didalam ruangan dan mulai bekerja. Soal dikira bukan PNS sih bukan cuma sekali dua kali, sering. Bahkan waktu pertama kali saya bekerja di sini ada yang mengira saya ini rekanan atau konsultan dari perusahaan mana gitu. Intinya bukan PNS gitulah *mainan kuku* ๐Ÿ˜

Ya deh, besok-besok saya pakai nametag dari rumah. Eh, atau kapan-kapan perlu bikin tato di jidat berbentuk nametag yang lengkap dengan foto dan NIP kali yah.. ๐Ÿ˜•

[devieriana]

Continue Reading