I love my job..

Tulisan ini terinspirasi dari curhatan seorang sahabat.. 🙂

Semua orang pasti punya pekerjaan & karir masing-masing. Mau di swasta atau jadi PNS seperti saya. Pekerjaannya pun pasti juga beragam jenisnya, pun tingkat kesulitannya. Namun tak jarang ditengah-tengah pekerjaan yang kita lakukan secara rutin ada kalanya muncul kejenuhan. Jenuh dengan lingkungan & suasana kerjanya, jenuh dengan jenis pekerjaannya, pun penyebab jenuh lainnya.

Tergelitik dengan pernyataan seorang teman, “aku tuh lama-lama bosan dengan pekerjaanku. Tapi kalau aku nggak kerja aku akan jauh lebih bosan..”, keluhnya di suatu sore. Saya paham dengan apa yang dia rasakan. Kebosanannya disebabkan dengan pekerjaan yang nyaris monoton & kurang ada variasi. Lah dipikir saya juga banyak variasinya? Enggak juga. Pekerjaan saya juga sama monotonnya. Mengerjakan jenis pekerjaan yang sama hampir setiap hari. Apa lama-lama nggak bosan? Tapi ya itu pinter-pinternya kita mengelola kejenuhan & kesibukan yang “itu-itu melulu”.

Untungnya saya selama bekerja bukan tipe “kutu loncat”, yang sering pindah kerja sana-sini. Karir saya kebanyakan bertahan lama, lebih dari 2 tahun. Saya dulu sempat bekerja sebagai seorang fashion designer di sebuah perusahaan garment di Malang. Itu saya jalani hampir 3 tahun lamanya. Bosan? Pernah. Jenuh? Saya nggak bilang enggak. BT karena bos sering marah-marah? Hmm, pasti. Jenuh banget sehingga tidak ada satu ide mode apapun yang dilahirkan hari itu juga pernah ~X( . Intinya ketidaknyamanan ketika bekerja itu pasti ada.

Atau ketika saya bekerja di perusahaan telekomunikasi yang itu, yang namanya jenuh, stress, capek, makan ati, itu juga pasti ada. Tapi ya namanya bekerja di bidang public service ya pasti begitu. Dimarahi pelanggan sudah makanan sehari-hari. Kalau nggak ada yang marah-marah justru malah aneh. Lho?! ;)). Atau ketika saya pindah ke back office & saya memegang pekerjaan yang menuntut jiwa leadership dengan sekian anak buah. Yang namanya stress & under pressure itu pasti ada. Deadline di setiap akhir bulan, yang kalau laporannya nggak selesai efeknya anak buah kita gajiannya juga bakal terlambat. Nah, itu kan juga bentuk tanggung jawab yang besar. Stress? Pasti ada.. :((

Ada satu hal yang membuat saya awet berkarir dalam sebuah pekerjaan, bagaimana caranya supaya saya enjoy dengan pekerjaan saya, lingkungan saya, teman-teman saya. Nggak mungkin sebagai orang baru saya menuntut lingkungan yang harus berubah untuk saya, tapi justru sayalah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saya. Beruntung saya orangnya mudah menyesuaikan diri sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama saya sudha bisa membaur dengan orang-orangnya & pekerjaan baru saya.

Ada hal unik yang saya rasakan ketika berpindah dari karyawan swasta menjadi pegawai negeri. Ada banyak hal signifikan yang saya rasakan juah berbeda dengan pekerjaan saya sebelumnya. Mulai lingkungannya, jenis pekerjaannya, kultur & budaya kerjanya, orang-orangnya, aplikasi & alur kerjanya.. Ah, banyaklah pokoknya. Sempat mengalami  “culture shock”? Pernah, tapi ya itu tadi, alhamdulillah nggak sampai terlalu lama. Apakah lantas saya merasa bosan setelah sekian bulan saya berkarir di sini? Ada banyak hal yang membuat saya belajar. Ada banyak hal menarik yang bisa membuat diri saya berkembang. Salah satunya adalah ketika saya diajak bergabung dalam tim keprotokolan di biro kepegawaian. Yang tugasnya mempersiapkan acara pelantikan pejabat di lingkungan Sekretariat Negara. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari disana ketika bertugas sebagai pembawa acara (MC) atau pembaca Surat Keputusan Presiden/Menteri.

Tapi terlepas dari itu, dari semua karir yang pernah saya jalani ada beberapa hal yang saya ingat :
1. tidak ada satu pun ilmu yang telah kita pelajari di bidang pekerjaan sebelumnya yang akan terbuang percuma, pasti ada yang akan terpakai;

2. ketika kita menjadi orang baru, cepatlah beradaptasi, jangan menuntut lingkungan yang harus beradaptasi dengan kita;

3. terapkan can do attitude, ketika mendapat tugas baru jangan langsung bilang “nggak bisa!”, karena ketika kita bilang “nggak bisa” itu akan menjadi pemicu ketidakbisaan-ketidakbisaan berikutnya, yang penting berusaha dulu;

4. semua ilmu yang kita dapatkan di dalam dunia kerja adalah ilmu yang bisa dipelajari, asalkan kita tekun pasti bisa;

5. jika ada banyak hal yang perlu diingat berkenaan dengan prosedur kerja, jangan segan untuk mencatat, karena yang namanya memory otak pasti ada kapasitasnya;

6. ketika kita merasa kurang nyaman atau mengalami kendala dengan pekerjaan & tidak bisa kita selesaikan sendiri, diskusikanlah dengan atasan, walau bagaimana pun mereka atasan kita & perlu tahu apa yang dialami bawahannya;

7. pimpinan akan melakukan review & menilai hasil kerja kita, just give & do your best.. :-bd

8. kalau memang kita jenuh atau bosan ambillah cuti, refreshing-lah, semoga ada kesegaran baru nantinya ketika selesai cuti;

9. jika memang ternyata ada karir yang jauh lebih baik di luar sana atau ada bisnis wiraswasta yang jauh lebih menjanjikan ya kenapa tidak? Ambiiill.. \m/

10. ketika belum ada pekerjaan baru yang lebih baik, jalanilah pekerjaan yang sekarang dengan sebaik-baiknya & jangan lupa bersyukur karena kita masih diberikan kesempatan memiliki pekerjaan padahal di luar sana ada banyak sekali orang yang kesulitan mencari pekerjaan.. 😉

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading

Balada Kartu Nama..

“Kamu punya kartu nama nggak, Mbak?”
“hehehe, enggak..” *cengengesan*

Setiap kali ngumpul di sebuah forum atau lagi ngobrol sama orang baru, tak jarang yang namanya kartu nama (business card) pasti ditanyakan. Seperti biasa kalau ditanya tentang kartu nama pasti jawaban saya ya kaya begitu. Lha ya gimana, emang nggak punya kok. Dulu jaman saya SD & SMA justru punya, mulai label stiker (dari model yang agak kecil sampai yang lebar) dan kartu nama dipesenin sama si Papa, tiap kali habis pesen lagi. Kalau dipikir-pikir saya itu kecil-kecil aja sudah gaya.. Nggak ngapa-ngapain tapi punya label & kartu nama. Ironisnya pas sudah jadi mahasiswa & karyawan justru malah nggak punya ;)). Hmm.. kemunduran kayanya ya? :p. Eh, pas kerja pernah punya denk, dipesenin sama kantor waktu jaman saya masih kerja di Telkomsel dulu. Itu juga cuma satu box. Ya iyalah masa mau dipesenin satu kontainer?

Setelah satu box itu habis saya nggak pernah punya lagi. Ya kebetulan saya nggak terlalu banyak in touch sama orang yang urusannya sampai perlu harus bertukar kartu nama sih ya. Pekerjaan juga sebatas staf  back office yang nggak mewajibkan sampai harus punya kartu nama. Kebetulan juga nggak punya usaha yang butuh promo sana-sini.  So, lengkaplah sudah alasan saya untuk nggak punya kartu nama kan ya? ;))

Kalau sekarang sih kadang sempet punya keinginan punya kartu nama, secara karir sudah tetap, punya blog, nomer hp yang nggak pernah ganti-ganti, email yang terus aktif, dan sebagainya (biar banyak :p ). Tapi mikir lagi, nanti saya kasih ke siapa ya, karena jaman sekarang orang sudah jarang bertukar kartu nama sih, kecuali untuk kepentingan bisnis. Yang paling sering justru tukar menukar pin BB atau alamat email :D. Ya nggak tahu lagi kalau suatu saat nanti blackberry sudah punah orang bakal tukar menukar apa. Pin ATM kali ya? ;))

Pernah di suatu forum formal seminar keuangan, kebetulan saya diajak sama sahabat financial planner saya yang waktu itu diundang sebagai pembicara di sebuah acara seminar keuangan di Surabaya. Semua yang hadir kebanyakan petinggi perusahaan, ya iyalah wong penyelenggaranya Asosiasi Manajer Indonesia. Jiper? Iya.. soalnya saya berasa paling muda, paling ijo diantara para bos-bos yang berpenampilan eksklusif, berasa paling staf  & yang paling nggak prepare apa-apa. Lha ya memang saya datang karena diajak langsung sama temen saya itu. Dia datang lengkap pakai jas. Saya ya apa adanya baju mau ke kantor yang semi formal tapi rapi. Yang lainnya datang harus bayar, saya datangnya gratis, itu pun juga nyaru jadi asisten temen saya itu dengan gaya sok sibuk :)). Ya (sok) ikutlah saya nimbrung dalam obrolan ringan mereka. Hingga sampailah pada sesi tukar-menukar kartu nama. Waktu itu Blackberry belum sebooming sekarang sih, jadi ya banyak yang punya & kebanyakan dibawa dalam sebuah tempat yang eksklusif. Buat mereka kartu nama itu salah satu gambaran diri mereka, bagian dari harta benda sekaligus modal utama menjalin relasi dengan klien. Saya cuma bisa cengar-cengir manis ketika bilang :

“maaf, saya nggak punya kartu nama..”.

Kalau sekarang kok kayanya jadi kepikiran bikin kartu nama ya. Walaupun entah nanti terpakai atau nggak. Siapa tahu nanti saya jadi orang penting, atau punya usaha yang perlu dipromosikan, kan jadi nggak perlu bingung-bingung lagi soal kartu nama ya.. 😀 *sisir poni* . Untuk sekarang ini ya setidaknya biar kalau ditanya punya kartu nama atau nggak saya bisa kasih ke mereka, gitu ;))

[devieriana]

Continue Reading

Namanya Juga Usaha..

Cara penerimaan pegawai itu ada beberapa macam. Ada yang secara manual : kirim lamaran via pos, atau datang langsung sekaligus interview dengan user (walk in interview). Ada juga yang secara online dengan mengisi form via internet. Untuk seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) kebanyakan sudah melalui sistem online, hanya waktu pemberkasan saja yang memang diharuskan untuk datang langsung.

Proses penerimaan calon pegawai negeri sipil memang berbeda dengan swasta yang bisa sewaktu-waktu bisa memasukkan aplikasi lamaran. Kalau penerimaan cpns hanya dilakukan di waktu-waktu yang telah ditentukan oleh masing-masing kementerian/departemen saja. Tapi itu pun masih sering seseorang yang tetap mengirimkan lamaran walaupun belum ada penerimaan lagi. Via pos dan tak jarang juga disampaikan secara langsung ke Biro Kepegawaian. Kalau di instansi tempat saya bekerja, banyak surat lamaran yang ditujukan langsung ke Presiden RI atau Menteri. Bahkan ada lho seorang teman yang saya baru ngeh kalau itu teman saya di Telkomsel gara-gara baca surat lamaran & lihat fotonya, ternyata dia mengirimkan ke alamat.. Cikeas ;)). Lha ya ngapain coba? Ya jawaban yang kita berikan pun akan standar, para pelamar yang terlanjur mengirimkan lamaran akan diminta mengikuti prosedur penerimaan calon pegawai negeri sipil jika formasi yang dibutuhkan sudah ada.

Tapi kemarin saya sempat baca surat lamaran yang lumayan membuat trenyuh. Surat lamaran seorang bapak yang telah mengabdi menjadi seorang pelayan di sebuah instansi di Surabaya selama 10 tahun & berstatus sebagai pegawai outsource yang kontraknya diperpanjang setiap tahun. Kalau dia bukan seorang lulusan sarjana mungkin orang akan maklum ya. Lha tapi ini dia kebetulan adalah seorang sarjana strata 1 yang seharusnya bisa mendapatkan karir yang jauh lebih baik daripada menjadi seorang pencuci piring kan? Itu yang membuat saya heran sekaligus penasaran. Apa ya yang membuat dia bertahan menjadi seorang pencuci piring selama puluhan tahun? Skill? Kemauan? Percaya diri? Saya yakin selama itu dia bukan nggak pernah berusaha. Pasti dia sebelumnya sudah mencoba mencoba kesana kemari sebelum akhirnya dia “mengabdikan diri” sebagai seorang pelayan.

Saya nggak bilang kalau profesi pelayan itu nggak layak lho ya. Tanpa mereka kadang pekerjaan kita juga keteter. Tapi kalau dibandingkan dengan latar belakang pendidikannya kok sayang ya. Bukankah akan lebih baik jika dia memilih karir yang sesuai dengan tingkat pendidikannya? Apalagi dia sudah berkeluarga & memiliki 1 anak. Seharusnya ada lebih banyak peluang yang bisa dia dapatkan di luar sana. Sebenarnya ada banyak pemikiran yang melintas di pikiran saya waktu membaca surat lamaran itu. Ada banyak kenapa & kalimat tanya disana. Hmm… 😕

Kalau mau, kita nggak harus jadi pegawai. Banyak ahli yang menyarankan kita untuk berwirausaha, karena (kalau kita niat & ulet) hasilnya akan lebih besar daripada jadi pegawai kantoran. Tapi sayangnya memang nggak semua bisa menjalani itu dengan sempurna. Karena selain dibutuhkan waktu, kemauan, keuletan, juga modal yang cukup (lihat-lihat jenis usaha yang dibuka). Nah, kalau kebetulan ada peluang usaha yang bisa dikembangkan jadi usaha yang lebih besar kenapa nggak dicoba?

Terlepas dari itu semua, selain tetap berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik tentu harus tetap bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan & jalani sekarang. Karena di luar sana ada banyak sekali yang kehidupannya jauh dibawah kita..

[devieriana]

Continue Reading

Berpernak-pernik atau Rapi?

Dari dulu mulai kerja di swasta sampai sekarang jadi pegawai negeri yang namanya meja kerja saya selalu standar. Nggak ada barang lain selain kerjaan yang bakal nongkrong disitu, padahal space-nya cukup luas & seharusnya bisa dipajangi pernak-pernik yang sifatnya pribadi, macam foto, pigura, atau mainan-mainan lucu. Tapi nggak tahu ya, saya mikirnya kepentingan saya disitu cuma kerja sih, jadi nggak pernah bercita-cita bakal memajang sesuatu yang nggak ada hubungannya sama kerjaan. Belum lagi kalau kerjaan saya lagi banyak, meja saya yang dulu bisa berbentuk kaya begini :

* meja kerja saya yang dulu *

Kadang suka tiba-tiba pengen & gemes juga liat meja teman yang banyak pernak-pernik lucunya kaya pigura, mainan meja, tumblr (tempat minum) yang semuanya sewarna, satu tema & warnanya cerah. Pernah ada tuh yang isi mejanya full sama pernak-pernik lucu berwarna-warni itu, dan semuanya berwarna orens. Ada juga yang isi mejanya hampir sama tapi warnanya semua ungu. Pas saya lihat ke bawah meja, ada sendalnya ungu juga.. ;)). Sampai-sampai saking banyaknya pernak-pernik yang dipajang diatas meja & CPU yang diletakkan di meja itu hanya menyisakan space kecil seukuran mousepad hanya untuk biar mousepad-nya bisa digerakkan :o. Ini sebagian meja kerja yang sempat saya abadikan :

*cluster-cluster yang full pernak-pernik*

Ada lagi yang lebih lucu. Temen kantor saya yang dulu saking ngefans-nya sama action figure Spiderman meja kerjanya dipenuhi sama boneka-boneka kecil Spiderman. Sampai tumbler & sendalnya pun bercorak sama. Masih ada lagi & kali ini lebih ekstrem, dia punya hewan peliharaan kura-kura. Saking sayangnya sama kura-kura peliharaannya itu dibawalah ke kantor & diletakkan diatas meja. Katanya, “kura-kuraku ini bisa membantu menghilangkan stress lho..”. Oh ya, jadi penasaran jangan-jangan kura-kuranya juga bisa mijit atau ngrimbath gitu. Sampai sempat mikir, “ini meja kerja apa pet shop ya?” ;))

Tiap orang pasti beda-bedalah dalam usahanya menciptakan kenyamanan di ruang kerja. Mungkin salah satunya dengan meletakkan beberapa benda pribadi & penggunaan warna-warna cerah untuk membangkitkan mood, dan katanya sih memang “ngaruh”.

Pernah sih saya iseng nanya & jawabannya panjang ;)) :

saya : “kenapa sih meja kerjanya “meriah” gitu? Kalau ada berkas kerjaan yang numpuk nanti ditaruh mana?”

teman : “Kalau aku ya, dimana pun aku kerja harus bisa kuciptakan kondisi yang senyaman mungkin. Ya kan kita kerja pengennya juga nggak cuma sehari dua hari doang kan? Makanya aku mesti bikin gimana caranya ruangan atau minimal meja kerjaku bisa bikin mood kerjaku selalu bagus. Nah salah satunya ya kasih pigura-pigura, vas bunga, tumblr, pernak-pernik yang lucu kaya begini. Ya emang sih nggak ada hubungan sama kerjaan, tapi ternyata itu berhasil bikin moodku semangat. Kalau ada berkas-berkas? Gampang, tinggal tarik kursi, taruh deh berkas-berkasnya disitu :D. Kalau nggak cukup ya nanti taruh aja bawah. Itulah kenapa selalu aku usahakan nggak ada berkas yang numpuk. Soalnya nanti bisa mengganggu kelucuan meja kerjaku dong ;))”

saya: “Ya..ya.. lebih penting menjaga kelucuan display meja emang sih ya..” ;))

Tapi meskipun sudah pernah saya coba saya malah nggak bisa kerja kalau terlalu banyak pernak-pernik di meja kerja saya, apalagi kalau ada toples berisi makanan. Bakal nggak konsen kerja malah makan melulu, soalnya sudah sering terbukti ;)). Apalagi kerjaan yang sekarang banyak melibatkan dokumen penting yang nggak boleh ada kotoran sedikitpun. Ya masa dokumen bertanda tangan pejabat negara kena minyak? Makanya di meja saya cuma ada tempat minum aja. Itupun isinya air putih. Ih pokoknya meja kerja saya standar banget deh.

*meja kerja saya yang sekarang*

Ya nggak tau juga kali ya, kalau mungkin suatu saat nanti saya berubah pikiran pengen “menghias” meja kerja saya jadi lebih colorful dengan pigura, tumblr, tempat alat tulis, atau.. karpet mungkin? Halah, niat banget bawa-bawa karpet. Jangan-jangan nanti lama-lama saya bawa kasur sama selimut gambar tweety ;)). Hmm, tapi serius nih, kok jadi memikirkan item apa aja yang bakal saya pajang di meja kerja saya itu yah 8->

Bagaimana dengan meja kerja kalian? 😉

[devieriana]

Continue Reading

Selamat Ulang Tahun, Jakarta!

Dulu saya nggak pernah bermimpi akan hidup di kota sebesar Jakarta. Jangankan Jakarta, lha wong di Surabaya, yang kotanya nggak seluas Jakarta aja saya keder walaupun saya lahir di sana ;)).  Tapi rupanya Tuhan punya rencana lain dalam hidup saya. Saya justru terdampar bahkan domisili plus jadi penduduk Jakarta sekarang.

Ya, dalam bayangan masa kecil/remaja saya dulu, Jakarta itu kota yang terlalu metropolis (lha ya jelas, wong namanya juga ibukota). Kota yang menjadi magnet bagi mayoritas penduduk daerah untuk mengadu nasib. Kota yang sama sekali bukan menjadi pilihan bagi saya untuk hidup di dalamnya. Belum lagi orangtua yang awalnya keberatan kalau sampai saya hidup sendiri di Jakarta, maklum. Belum apa-apa saya juga sudah BT lihat macetnya, sumpeknya, polusinya, kerasnya hidup disana. Pokoknya paranoid berat :D. Tapi uniknya, di satu sisi, ketika saya lebih sering melakukan perjalanan ke Jakarta, entah dalam rangka training, job interview atau perjalanan pribadi kok saya justru seringkali merasa Jakarta itu nggak seburuk yang saya paranoidkan ya. Saya justru merasa fun. Sindrom penduduk dari kota kecil kali ya? ;)). Ya, “udik to the max” ;)).

Tapi Tuhan rupanya berkata lain. Saya dipertemukan dengan jodoh saya yang notabene penduduk Jakarta, sehingga mau tak mau saya harus meninggalkan kota kelahiran saya, Surabaya. Alhamdulillah, kebetulan saya bukan orang yang tipenya terlalu lama untuk menyesuaikan diri. Mungkin juga karena saya langsung melanjutkan kerja lagi di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu, jadi saya nggak merasa kesepian atau kesulitan beradaptasi, mengingat di perusahaan ini jugalah saya sebelumnya berkarir di Surabaya.

Kekhawatiran akan mengalami kesulitan hidup di Jakarta beserta segala pernak-perniknya itu akhirnya menguap jauh-jauh. Karena justru di Jakartalah saya bisa mengekspresikan & mengembangkan diri secara maksimal. Alhamdulillah, mungkin saya termasuk salah satu orang yang beruntung karena tidak terlalu mengalami kesulitan yang berarti saat mengalami masa transisi hidup di Jakarta ya. Karena saya justru menikmati masa-masa transisi itu. Saya menjalani seluruh hidup saya yang walaupun pas-pasan dengan enjoy. Kalau soal suka duka ya pasti ada. Tapi terlalu panjanglah kalau diceritakan detail satu-persatu, emangnya saya lagi bikin biografi? ;))

Di Jakarta pulalah saya mulai banyak mengenal teman-teman baru dari berbagai kalangan & bidang pekerjaan. Memperluas jaring pertemananlah istilahnya. Uhuk! Gaya ;)). Bekerja sebagai Quality Assurance leader di callcentre Telkomsel sekaligus mencoba kemampuan sebagai penulis walaupun masih abal-abal :D. Siapa sangka juga kalau akhirnya di Jakarta pulalah saya menyandarkan karir terakhir saya sebagai pegawai negeri sipil di Sekretariat Negara. Iya, karir yang dulunya sempat tidak pernah terpikir sama sekali :).

Ada pepatah yang mengatakan “sekejam-kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibukota”. Buat sebagian orang memang benar begitu adanya. Tapi sebenarnya ibukota itu nggak kejam-kejam amat kok kalau kita punya “tameng” berupa skill, kemauan, kemampuan beradaptasi, tekad yang kuat, kehati-hatian (karena tingkat kejahatan disini tinggi banget) & pengendalian diri (terhadap berbagai godaan). Hidup di Jakarta godaannya banyak banget, kalau kita nggak bisa mengendalikan diri ya udah deh, bablas jaya. Terutama belanja! Eh, kalau ini khusus buat saya denk.. ;))

Sebenarnya bukan hanya di Jakarta, mau dimanapun kita tinggal kalau kitanya nggak siap & nggak bisa menyesuaikan diri ya selamanya akan merasa terbebani. Karena semua kota pasti punya kelebihan & kekurangan. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan diri saja. Karena nggak mungkin lingkungan yang akan menyesuaikan diri untuk kita, tapi justru kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Bukan hal yang mudah ya? Memang..

Tepat di tanggal 22 Juni 2010 ini kau berulang tahun yang ke 483. Selamat ulang tahun, Jakarta!  Tak ada kado khusus untukmu selain baris puisi dari WS Rendra – Doa di Jakarta..

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan –
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

[devieriana]

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading
1 8 9 10 11 12 16