Yakin Mau Jadi PNS?

 

“Keluarkan gadget kalian, dan coba tuliskan apa cita-cita kalian ketika masih SMA!”

Serentak, para CPNS yang sedang mengikuti kegiatan on boarding mengikuti perintah menteri mereka. Cita-cita semasa SMA dituliskan pada sebuah situs yang bisa diakses dari gawai masing-masing. Tak berapa lama, cita-cita itu tampil di layar proyektor lengkap dengan angka persentase. Hasilnya sedikit mencengangkan. Di antara sekian banyak bidang pekerjaan, PNS mendapat persentase paling besar.

Saya bertanya dalam hati, apakah jawaban mereka jujur atau hanya karena ditanya oleh seorang menteri? Apa iya, daya tarik PNS sebesar itu bagi kalangan remaja usia sekolah menengah sekarang? Apa benar, PNS menjadi pekerjaan impian millenials yang sedang —jika kata ini boleh dipakai secara longgar— idealis-idealisnya?

Entahlah.

Sedikit flashback ke masa SMA, saya sama sekali tidak pernah bercita-cita menjadi PNS. Terbersit pun tidak. Saya justru ingin berkarier sebagai bankir, public relation, atau psikolog. Walaupun akhirnya takdir berkata lain.

Tren memang bisa berubah kapan saja. Pekerjaan yang dulu diidolakan, bisa saja menjadi paling sedikit peminatnya. Sebaliknya, pekerjaan yang dulu dianggap remeh, justru menjadi karier impian anak muda.

***

Sejak terlibat sebagai panitia rekrutmen, saya jadi lebih paham karakter millenials ini. CPNS zaman sekarang tak bisa lagi diberi kurikulum pembekalan yang sama dengan angkatan sebelumnya. Era mereka berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya termasuk aneka problematika dan drama yang menyertainya.

Ada beberapa pengalaman unik mengenai CPNS millenials ini. Obrolan saya bersama Aji, misalnya. Sebelumnya, ia pernah menjadi karyawan di beberapa perusahaan swasta dengan core business berbeda-beda. Pekerjaan terakhirnya bahkan menjadi pengemudi angkutan online.

Long story short, sehari setelah menjalani program on boarding, ia mengirimkan pesan singkat melalui Whatsapp. Aji mengisyaratkan ketidaksanggupannya. Menjadi PNS menurutnya melelahkan, ditambah lagi jam kerja yang berantakan. Kalau boleh, ia ingin mengajukan mutasi ke daerah. Atau, kalau tidak boleh, lebih baik mengundurkan diri.

Selama saya menangani rekrutmen, rasanya baru kali ini ada CPNS yang belum sempat mendapat penugasan apa-apa, sudah mengeluhkan (bakal) pekerjaan. Ia galau setelah mendengar cerita dari senior-seniornya. Itulah yang membulatkan tekadnya untuk mundur.

Keesokan harinya, Aji minta izin bertemu. Mungkin supaya ngobrolnya lebih enak. Sebagai seorang kakak angkatan yang lebih dulu berkecimpung di dunia per-PNS-an, saya berbagi pengalaman sebisa saya. Saya berikan contoh-contoh umum dan sederhana sambil sesekali memberi motivasi dan semangat.

Saya berusaha membuka pikirannya bahwa pekerjaan apa pun pasti punya risiko. Ada enak dan enggaknya. Baik pegawai pemerintah maupun pekerja di sektor swasta, baik kantoran maupun freelancer. Harapan saya dari sharing session itu sederhana, ia mempertimbangkan ulang rencana pengunduran diri dan kembali fokus menjalani masa probation.

Rupanya obrolan dengan para senior di unit kerjanya merasuki otaknya lebih dalam ketimbang obrolan dengan saya. Sepanjang obrolan berlangsung, beberapa kali Aji menanyakan hal yang sama: apa saja syarat mutasi ke daerah, atau bagaimana prosedur pengunduran diri, alih-alih memperbaiki niat untuk kembali bekerja.

Alasan lain, Aji ingin menjaga ibunya di kampung halaman.

Lo, kalau memang niat awalnya ingin fokus merawat orang tua, kenapa sejak awal tidak mendaftar CPNS pemerintah daerah atau kementerian/lembaga yang memiliki kantor lebih dekat dengan domisili? Bukan kementerian/lembaga pusat yang sudah pasti bekerja di Jakarta?

Ia menambahkan passion-nya bukan di bidang pelayanan, apalagi keprotokolan. Aji lebih tertarik menjadi guru SD ketimbang petugas protokol. Ia mengaku tidak sanggup pulang larut malam, dinas ke luar kota atau luar negeri setiap hari, sehingga tak ada waktu berkumpul dengan keluarga. Omong-omong, ia belum berkeluarga. Usianya pun masih 25 tahun.

Kalau memang bercita-cita menjadi guru, kenapa tidak melamar formasi di Kemendikbud?

Ia menuturkan, rekrutmen CPNS tahun lalu tidak ada formasi di kementerian lain yang sesuai latar belakang pendidikannya. Ia lulusan D-3 Komunikasi.

Saya penasaran dengan semua alasan yang ia kemukakan, apa sih motivasinya melamar sebagai petugas protokol selain latar belakang pendidikan?

“Ya, karena dalam bayangan saya, jadi petugas protokol itu keren, Mbak…”

Duh!

Alasan lain yang tak kalah nggak nyambung adalah “saya juganggak menguasai public speaking”. Omong-omong, petugas protokol itu tidak pernah disyaratkan menguasai public speaking, lo! Justru seorang gurulah yang wajib punya skill public speaking.

“Ya, tapi kan cuma ngomong ke anak SD ini, Mbak. Lebih gampanglah. Beda kelas public speaking-nya dengan ke orang dewasa”, kilahnya.

Saya gemas meski akhirnya memaklumi. Apa pun itu, bagaimana pun itu, kalau pada dasarnya sudah tidak mau, enggan, tidak suka, alasan bisa dicari. Tak peduli logis atau tidak.

Beberapa CPNS lain yang sempat mengajukan surat pengunduran diri juga membuat alasan yang kurang masuk akal seperti ingin berkarier di swasta. Lo, kalau memang ingin kerja di swasta, kenapa ikut seleksi CPNS?

Ada juga yang beralasan akan mengikuti calon suami yang akan ditugaskan ke luar daerah. Eh, gimana? Calon suami? Calon?

Alasan yang tak kalah ajaib, seorang CPNS menyesal ikut seleksi karena sama saja membuka peluang korupsi. Menurutnya, PNS rentan dengan penyelewengan uang negara. Dia tak mau menjadi bagian penyelewengan itu.

Soal penyelewengan dan korupsi, sebenarnya, siapa saja berpeluang tanpa melihat status PNS atau karyawan swasta. Semua sejatinya tergantung iman, niat, kesempatan, dan kerja sama tim. Kalau memang ada niat, kesempatan bisa dicari, kerja sama bisa diupayakan, penyelewengan mungkin terjadi. Dan lagi, jika memang korupsi itu mudah, tentu banyak yang sudah kaya raya sejak masih CPNS.

***

Konon, millenials adalah generasi digital. Mereka lahir dan tumbuh besar dengan mengakrabi teknologi informasi. Jadi, kenapa sebelum melamar sebuah formasi pekerjaan, tidak googling dulu untuk mencari informasi? Setidaknya, supaya memiliki gambaran bagaimana bentuk, ritme, dan hal-hal teknis lain tentang formasi pekerjaan yang ingin dilamar.

Sebagai tambahan informasi, ketika seorang CPNS mengundurkan diri sebelum pemberkasan, panitia masih berhak mengajukan pengganti. Peserta dengan urutan satu tingkat di bawahnya masih punya peluang dimintakan Nomor Induk Pegawai (NIP) ke Badan Kepegawaian Negara. Namun, jika CPNS mundur setelah NIP jadi, formasi yang ia tinggalkan otomatis kosong sampai ada seleksi CPNS berikutnya. Itu pun kalau tak ada moratorium.

PNS memang tak selamanya enak. Ada kalanya mengalami hari sibuk penuh meeting seharian (baik internal maupun eksternal). Pulang larut malam karena deadline atau ada pekerjaan yang mendesak harus diselesaikan. Ada juga yang karena rumahnya jauh, pulang kemalaman, ia harus menginap di kantor. Pun tak sedikit yang terpaksa ngantor di hari libur karena tumpukan pekerjaan tak mungkin selesai di hari kerja.

Menjadi karyawan swasta pun saya kira sama. Bahkan pressure, standar, maupun target kerja di swasta bisa jadi lebih berat. Perusahaan dapat men-terminate-kan karyawan sewaktu-waktu karena performanya tak sesuai dengan harapan perusahaan. Sementara PNS, pemberhentiannya tidak semudah membalik telapak tangan karena rigiditas berbagai peraturan.

Tentu semua tergantung jenis pekerjaan dan unit kerja masing-masing. Tak semua atau setiap hari harus begitu juga. Intinya, pekerjaan apa pun pasti butuh kekuatan mental dan stamina. Itu yang belum tentu dimiliki oleh semua orang.

Ada baiknya pertimbangkan baik-baik sebelum melamar sebuah pekerjaan, sebijaksana mungkin. Termasuk memilih CPNS. Jangan melamar karena tren semata atau sekadar memenuhi permintaan keluarga. Setiap orang berhak menentukan masa depan karena diri sendirilah yang akan menjalani. Jika merasa enggan atau sangsi, lebih baik tidak mengikuti seleksi sejak awal.

Pilihlah pekerjaan yang sesuai bakat dan minat sehingga dapat bekerja dengan gembira, potensi diri jauh lebih tergali, dan karier berkembang maksimal. Kebanyakan orang berpikir, kesuksesan di tempat kerja akan membuat mereka bahagia. Padahal, saya yakin yang benar justru sebaliknya: kebahagiaan terhadap pekerjaanlah yang mengantar kita pada kesuksesan. Esensi sebuah pekerjaan sesungguhnya adalah ketika pekerjaan itu memberi nyawa bagi yang menjalani.

Jadi, yakin masih mau jadi PNS?

 

Continue Reading

Pilih mana?

career-choices-2

Di sebuah pagi, saya mengetik pesan di smartphone sambil sesekali menyesap secangkir teh poci di kantin,

“Bro, lagi di mana, Bro?”

“Hahaha, aku lagi di kementerian anu, lagi nunggu giliran :D”

“Giliran? Maksudnya kamu lagi ada kerjaan di sana?”

“Nunggu giliran buat ikut test CPNS, sesiku masih nanti, jam 09.40. Hihihik… Doain yak!”

Saya yang awalnya ingin menanyakan hal yang lain, jadi surprise sendiri. Bukan
apa-apa, selama ini saya mengenal dia sebagai sosok yang paling anti sama hal yang berbau tes CPNS-CPNS-an, di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya sama sekali tidak tergambar keinginan untuk menjadi seorang PNS. Pokoknya emoh ajalah. Nah, kalau tiba-tiba mendengar dia ikut test CPNS ya jelas heran. Ada angin apa kiranya sehingga dia tertarik untuk ikut tes CPNS?

Peserta ujian CPNS itu dari berbagai kalangan, kalau bukan fresh graduate, yang belum bekerja sama sekali, atau yang sudah bekerja. Motivasinya pun bermacam-macam, ada yang cuma iseng, ingin mencoba kemampuan/peruntungan, tapi banyak juga yang memang serius ingin cari kerja.

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dicurhati seorang teman via email. Dia mengaku sedang galau karena ‘terjebak’ dalam excitement akan diterima sebagai CPNS di salah satu kementerian (sudah sampai tahap interview user). Tapi uniknya di saat yang sama dia masih sangat nyaman dengan posisi dan lingkungan tempat dia bekerja sekarang. Bermula dari iseng dan sekadar ingin mengukur kemampuan diri sendiri secara rutin dia mengikuti tes CPNS selama 3 tahun berturut-turut. Hingga akhirnya tahun ini dia dinyatakan lolos seleksi Tes Kemampuan Dasar dan berhak ikut tahap selanjutnya. Melihat pengumuman itu mendadak dia galau sendiri; galau membayangkan bagaimana kalau setelah dijalani ternyata menyandang status sebagai PNS itu tidak sesuai dengan harapan dan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata menjadi PNS itu pekerjaannya jauh lebih membosankan dibandingkan dengan pekerjaannya sekarang; dan banyak lagi ‘bagaimana-bagaimana’ lainnya. Ya wajar sih, karena di dalam mindset-nya PNS masih identik dengan birokrasi yang ribet, mengurus apa-apa sulit, belum lagi dari segi materi dan budaya kerja yang menurut dia masih kalah jauh dari swasta.

Kita sederhanakan saja, sebenarnya semua pekerjaan itu pasti ada sisi positif dan negatifnya; tergantung dari sisi mana kita melihat, kan? Begitu juga dari segi tantangan kerja dan pendapatannya. Kalau orang Jawa bilang, “urip kuwi sawang sinawang”, cuma melihat kulit luarnya saja…
*benerin blangkon*

Tapi ada kalanya kita butuh move on ketika pekerjaan yang sekarang dirasakan kurang memberikan kenyamanan, atau kita butuh pengalaman yang jauh lebih menarik/menantang, atau kita butuh pengembangan karir yang lebih signifikan. Ya kenapa tidak? Mungkin ini saatnya kita mengajukan pengunduran diri. Banyak kok yang sudah enak kerja di swasta, malah resign dan jadi PNS atau berwiraswasta. Pun sebaliknya, ada yang awalnya jadi PNS lalu resign dan melamar kerja di perusahaan swasta/BUMN karena katanya lebih sesuai dengan jiwanya.

Pekerjaan itu seperti jodoh; cocok-cocokan. Awal mula saya menjadi PNS juga sempat stress sendiri karena harus merasakan perubahan yang sangat drastis; baik secara lingkungan, sistem kerja, gaji, budaya kerja, dan lain-lain. Soal pindah tempat kerja memang bukan hal baru buat saya, tapi karena kebetulan bidang pekerjaan yang saya isi sebelumnya masih saling berkorelasi jadi penyesuaiannya tidak terlalu sulit.

Soal cocok-cocokan tadi, kalau memang setelah dijalani ternyata pekerjaan itu dirasa kurang nyaman, kurang ada tantangannya, atau karirnya dirasa kurang berkembang, ya sudah, tinggal mengajukan surat pengunduran diri saja. Atau, kalau ternyata yang di dalam mindset kita kisarannya masih di besaran gaji, ya mungkin inilah saat yang tepat untuk berkarir di sektor swasta karena jelas lebih menjanjikan pendapatan yang lebih besar daripada menjadi PNS. Seperti yang pernah saya tulis di sini ๐Ÿ˜‰

Jadi, gimana? Masih galau? ๐Ÿ˜€

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Think Outside The Stigma

Kemarin ada Mbakย Latree Manohara menge-tag saya dan beberapa teman —yang kebetulan juga PNS— di twitter begini,

“I may not be the best, but I do my best http://bit.ly/uqpwGO

Ah ya, lagi-lagi bicara tentang stigma yang sudah melekat di PNS. Stigma, semacam penamaan yang buruk terhadap sosok tertentu akibat adanya pengetahuan dan pemahaman yang kurang tepat. Klasik. Stigmatisasi bisa terjadi kepada siapa saja, profesi apa saja, status dan kondisi apa saja dalam masyarakat.

Dalam hal stigmatisasi negatif tentang PNS, bak dua sisi mata uang, diantara yang kontra pasti masih ada yang pro. Berusaha memberikan perspektif yang lebih humanis, karena masih banyak aparatur negara yang punya dedikasi, loyal, dan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Walaupun mungkin lebih banyak tertutup oleh stigma yang terlanjur terbentuk di masyarakat ya… ๐Ÿ™

Oh ya, sekedar flashback, sekitar bulan Oktober 2010, saya juga pernah membaca hal serupa di twitter, dan (saking gemesnya) saya menuliskannya dengan judul Totem Pro Parte. Totem Pro Parte adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Generalisasi.

Tapi lagi-lagi trenyuh waktu baca salah satu tulisan seperti ini:

“PNS? Apa sih kerjaan mereka ? MAKAN GAJI BUTA. Masih mending mereka yang jadi kuli, tiap hari kerja keras tapi memuaskan. PNS kerja cuma nyari gaji seumur hidup+gaji pensiun, tapi apa yang mereka berikan tak sebanding seperti kerja kuli tadi”

Apa iya profesi yang saya jalani sekarang stigmanya sudah separah ini? Antara sedih sekaligus geli, saya cuma bisa berdoa, semoga yang bilang begitu kalau sudah lulus kuliah nggak jadi kuli ya, Nak ;)).

Serba salah sih memang, karena kita tidak bicara dengan orang yang benar-benar paham dengan kondisi yang ada di lapangan. Kalau cuma sekedar melihat dari luar dan kemudian melakukan judgement, ya semua orang pasti bisa.Tapi kok ya rasanya terlalu picik ya, kalau ada yang menggeneralisasi opini, “semua PNS itu magabut, nggak guna, tukang korupsi!” Nah gimana kalau ada yang bilang “semua mahasiswa sekarang itu tukang tawuran!”ย  Kira-kira fair nggak, ya? ๐Ÿ™‚

Saya mau cerita sedikit yang di kantor saya, ya. Kalau bicara soal kerjaan, kami juga sama hectic-nya kok dengan yang bekerja sebagai non PNS. Banyak diantara kami yang terpaksa harus pulang larut malam karena memang tumpukan pekerjaan yang menjelang deadline (maksimal sekian jam atau sekian hari sudah harus diterima oleh pejabat ini itu). Saya juga pernah mengalami hal serupa, apalagi kalau sedang menyiapkan seleksi CPNS, boro-boro bisa pulang jam 4 atau jam 5 :(. Di jam makan siang pun kami tidak bisa seenak udel meninggalkan ruangan, lantaran harus ada yang posisi standby di ruangan, just in case ada permintaan yang mendadak. Kalau sedang tugas di Bogor kami juga seringkali baru selesai kerja pukul 1 dini hari, dan pukul 6 pagi sudah harus meluncur kembali ke Jakarta untuk ngantor seperti biasa. Acara menginap di kantor pun sudah menjadi agenda rutin tahunan bagi kami ketika harus menyiapkan perhelatan 17 Agustusan.

Di pagi hari kami juga harus mempertimbangkan waktu dan jarak tempuh dari rumah menuju kantor. Karena kalau tidak, ya pasti akan terlambat, dan kompensasinya adalah pemotongan tunjangan kinerja sebesar 1%. Kedengarannya sih kecil ya, ah cuma 1% ini. Tapi kalau sudah akumulasi, besaran potongannya bukan hanya terlihat hanya satuan persen saja, tapi langsung menjadi puluhan persen, dan itu jumlahnya… hiks… ngenes! ๐Ÿ™ . Kalau ada pemandangan pukul 8 masih ada yang baru datang, itu pasti malu hati sendiri. Saya pernah baru sampai kantor pukul 8 lebih sedikit karena mendadak kendaraan bermasalah, dan kantor sudah sangat sepi. Keluar belanja atau menghilang pas jam kerja? Hadeuh, boro-boro… :-s

Intinya sih, semoga ini bisa berlaku untuk semua hal, jika kita hanya mengetahui sedikit saja tentang sesuatu, atau hanya kulit luarnya,ย  jangan buru-buru mengkritisi, mengambil kesimpulan secara sepotong-sepotong, dan atau membuat opini sendiri secara totem pro parte, menggeneralisasi sebuah kondisi padahal hanya untuk mengambil sebagian informasi saja.

โ€œDonโ€™t criticize what you donโ€™t understand, Son. You never walked in that manโ€™s shoes.โ€

– Elvis Presley –

picture source : here

Continue Reading

Diinterogasi di kantor sendiri

Setiap pagi, seperti biasa saya datang diantar suami. Biasanya di ujung gerbang sudah siap siaga seorang security (kami menyebutnya dengan Unit Keamanan Dalam (UKD)) dengan metal detectornya. Kalau yang ini sih mereka sudah hafal dengan wajah saya. Kadang malah guyon dulu sebelum saya masuk gedung.

Tadi pagi, begitu masuk gedung dan sedang menuju ke arah lift, seperti biasa saya menyapa selamat pagi kepada siapapun bapak-bapak UKD yang sedang bertugas di dalam. Nah anehnya 2 bapak-bapak ini memandang saya seolah-olah saya ini orang asing, atau tamu yang asal nyelonong masuk. Memang sih hari ini saya nggak ke mesin absen (handkey) karena seharusnya saya masih dalam hitungan dinas luar, jadi saya langsung menuju lift. Eh, mendadak lift saya ditahan..

“Selamat pagi, Paaak.. :)”

“Selamat pagi. Mohon izin, mau kemana, Bu?” —–> melihat saya dari atas kebawah, memperhatikan penampilan saya dengan tatapan menyelidik

“Lah, ya mau kerja dong Pak.. :-o” —-> mulai merasa aneh

“Mau kerja? Dimana?” —-> dengan tatapan menyelidik*

“Loh, saya ini orang kepegawaian lho Pak.. “

“Masa sih? Kok saya nggak pernah liat Mbak ya?”

“Makanya Bapak sering-sering tugas di Gedung I, kapan-kapan main ke Kepegawaian dong, Pak. Kubikel saya ada di dekat ruang tamu, depan pintu masuk.. “

” Ya soalnya kan Mbak juga nggak pakai nametag..”

“Nametag saya selalu bawa, cuma memang didalam tas, saya males bongkar-bongkarnya nih Pak. Tapi jangan kuatir pasti ada kok..” —-> mulai merasa nggak nyaman

“Dengan Mbak siapa ini?”

“Nama saya Devi. Temen-temen Bapak yang lain familiar sama muka saya kok. Kalau Bapak kapan-kapan menyampaikan surat ke Kepegawaian pasti ketemu saya dulu..”

“Oh, ya sudah Mbak Devi, silahkan..” —–> membukakan lift untuk saya

“Terimakasih.. ๐Ÿ˜ ” *muka lempeng*

Baru kali ini lho saya diinterogasi di kantor sendiri ~X(. Berasa nggak dipercaya saya adalah karyawan tempat saya bekerja :((. Memang sih saya nggak pernah pakai seragam kecuali ada acara tertentu (cenderung masih seperti penampilan saya di kantor sebelumnya) karena memang tidak diwajibkan juga, dan saya juga baru pakai nametag kalau sudah didalam ruangan dan mulai bekerja. Soal dikira bukan PNS sih bukan cuma sekali dua kali, sering. Bahkan waktu pertama kali saya bekerja di sini ada yang mengira saya ini rekanan atau konsultan dari perusahaan mana gitu. Intinya bukan PNS gitulah *mainan kuku* ๐Ÿ˜

Ya deh, besok-besok saya pakai nametag dari rumah. Eh, atau kapan-kapan perlu bikin tato di jidat berbentuk nametag yang lengkap dengan foto dan NIP kali yah.. ๐Ÿ˜•

Continue Reading

Jangan jadi PNS!

Beberapa hari yang lalu saya menerima pesan dari teman di twitter, minta waktu buat ngobrol katanya. Ya, berhubung saya lagi santai ya saya layani. Obrolan via BBM itu pun berlangsung “gayeng”, santai & akrab. Maklum dia memang salah satu teman lama tapi terbilang jarang ngobrol sama saya.

Intinya dia mengajak diskusi tentang pekerjaan. Kebetulan dia seorang karyawan swasta yang bekerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di Jakarta. Pertanyaan pertama telak, masalah gaji. Kalau ditanya masalah pendapatan besar atau kecil pasti jawabannya adalah relatif. Saya tidak bilang gaji saya besar atau kecil, tapi alhamdulillah cukup (setidaknya buat saya). Karena berapa pun pendapatan kita kalau pengeluaran & kebutuhan hidup kita juga membutuhkan biaya yang besar ya pasti akan merasa kurang. Itulah kenapa saya jawab : alhamdulillah, cukup.

Dia seorang pria, single, dan akan menikah. Sekarang ini sedang mempertimbangkan untuk pindah kerja dengan syarat gajinya paling tidak sama besar dengan tempat kerjanya sekarang, pekerjaannya tidak terlalu hectic, dan waktu luangnya banyak. Waduh, sempat puyeng juga saya ketika dimintai pendapat. Kalau tempat kerja yang seperti itu adanya dimana ya? :-?. Ya, jadi bos saja, buka usaha sendiri, wiraswasta gitu :).

Dia juga sempat heran kenapa saya pindah dariย tempat kerja saya yang lama dan memilih berkarir memilih berkarir sebagai PNS. Apakah gaji sebagai PNS lebih besar dari tempat kerja saya yang sebelumnya? Karena dia justru sedang ingin pindah ke perusahaan tempat kerja saya yang lama. Tapi dia jadi mikir lagi ketika tahu saya pindah, jangan-jangan karena beban kerjanya terlalu tinggi, gajinya sedikit, atau ada sebab lainnya apa. Aduh, asli saya jadi mikirnya kok dia naif banget ya. Karena yang namanya kerja dimana-mana itu ya pasti ribet. Soal gaji besar/kecil itu sifatnya relatif, ada tunjangan apa saja buat karyawannya ya itu tergantung kebijakan yang punya perusahaan. Kalau soal waktu ya itu pinter-pinternya kita menyiasatinya saja, ya kan?

Saya jadi PNS itu sebenarnya tidak sengaja, seperti cerita saya disini. Kalau saja saya tidak ikut seleksi CPNS ya mungkin sampai sekarang saya masih di kantor yang lama, berkutat dengan quality assurance, hectic bikin laporan,ย  menangani komplain ketidaksesuaian penilaian, melakukan assuring hasil kerja anak buah saya, ribet melakukan coaching dan konseling ke anak buah.

Sekarang gini, ini sekedar sharing ya. Tujuan bekerja memang salah satunya adalah mencari gaji/pendapatan. Gaji besar dengan iming-iming status jabatan tertentu dan tunjangan ini itu pastiย  jadi magnet terbesar para pencari kerja. Iya dong, buat apa kerja kalau tidak ada hasilnya, kan? Tapi apa iya lantas semua dipukul rata bekerja cuma dilihat dari besaran gaji yang diterima saja? Bagaimana kalau gaji besar tapi kompensasinya harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk diri sendiri dan keluarga, beban kerja yang tinggi, ditambah dengan fisik yang kelelahan. Kalau ada yang berpendapat, “kalau memang konsekuensi tugas dan tanggung jawab pekerjaan ya harus dijalani dong..”. Ok, mungkin ada yang rela hidup seperti itu, tapi ketika sudah berkeluarga nanti pasti ada orientasi-orientasi yang akan berubah, bukan lagi cuma materi yang dikejar, tapi pasti akan mempertimbangkan quality time bersama keluarga.

Dia lalu tanya lagi apakah THP (take home pay) saya masuk 2 digit? Saya lagi-lagi cuma bisa tertawa :)). Ya buat saya itu lucu. Bayangkan ya, untuk CPNS macam saya kok sudah punya gaji dua digit? Ini niat nanya apa ngasih tebakan? :-?. Masuk akal nggak sih kalau belum apa-apa gaji saya sudah menyamai gajinya deputi? Semua pasti ada aturan dan standarnya dong, Mas.. ๐Ÿ™‚

Teman : tapi standar gaji staf di tempat kerja lama kamu dua digit lho, Dev..

Saya : bentar, aku tanya sama kamu. Tempat kerjaku yang lama itu swasta apa negeri?

Teman : ya 50-50, kan yang 50% dikuasai oleh Singtel

Saya : status pegawainya swasta atau PNS?

Teman : errr.. swasta

Saya : lha ya sudah, kenapa kok kamu membandingkan standar gaji swasta sama negeri? Ya jelas beda dong. Kalau mau membandingkan ya apple to apple. Jangan apple to durian. Bonyoklah ;))

Teman : tapi kelebihan pekerjaanmu yang sekarang nggak ada PHK mendadak ya, Dev. Beda sama kalau jadi pegawai swasta, isinya ketar-ketir melulu..

Saya : ya semua pekerjaan itu pasti ada segi positif dan negatifnya. Semua pasti punya resiko, tinggal gimana kita menjalaninya aja sih..

Teman : ya udah, aku nitip info kalau-kalau ada informasi kerjaan yang sesuai sama spesifikasiku ya..

Sayaย  : mmh, yang waktunya lebih luang, kerjaan nggak terlalu overload, dan yang penting gajinya sama dengan tempat kerjamu sekarang ya? ;))

Teman : hihihi, iya.. Kalau pakai ijazah S2 gimana? bisa?

Saya : apanya? dapet gaji 2 digit?

Teman : iyaa.. :))

Saya : bentar deh, tuntutan-tuntutan itu tadi untuk standar cari kerjaan di swasta apa PNS sih? ๐Ÿ™

Teman : ya aku maunya di departemen atau BUMN gitulah..

Saya : jadi, pengen jadi PNS?

Teman : ya aku maunya sih kaya begitu.. Tapi kan aku nggak tau rejekiku dimana.. Ya, nitip ajalah, kalau ada info-info yang sesuai dengan kualifikasiku ya..

Saya : woogh, nyarinya dimana ya PNS yang kaya begitu.. #-o

Jadi saran saya ya, selama orientasinya masih berkutat di besaran gaji, mending jangan jadi PNS deh, apalagi yang baru jadi CPNS minta gajinya langsung dua digit ;)). Karena semua orang juga tahu gaji PNS masih kalah jauh dengan gaji pegawai swasta lho ;). Kalau mengumpulkan materi mending kerja di swasta dulu, bisa sembari menabung kan? Nah nanti kalau sudah bosan dan ingin punya lebih banyak waktu dengan keluarga sambil nyambi buka usaha dirumah boleh deh jadi PNS (eh, keburu tua nggak sih?) ;)).

Semua pekerjaan pasti ada plus minusnya, tidak mungkin ada pekerjaan yang semuanya sesuai dengan keinginan kita. Apalagi kena kata-kata “urip iku sawang sinawang”, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Melihat si A kerja disitu kok kayanya enak, ikutlah kita kerja satu perusahaan dengan si A. Tapi ketika sudah dijalani baru merasa ternyata kerjaan si A tidak seindah yang kita bayangkan, sama hectic-nya dengan pekerjaan kita yang sebelumnya :-o.

Rezeki itu sudah ada yang mengatur, pun halnya dengan pilihan karir. Soal mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri tinggal memilih mana yang paling sesuai dengan hati nurani kita, mana yang lebih sreg untuk dijalani. Memilih pekerjaan itu sama seperti memilih jodoh, semuanya kembali ke masalah hati ๐Ÿ™‚

Oh ya, tadi pagi saya menemukan link bagus untuk sekedar dibuat baca-baca tentang How to find a job you will love . Semoga bermanfaat ya :-bd

ilustrasi dari sini

Continue Reading