(Bukan) Negeri Dongeng

Disclaimer : tulisan ini diilhami oleh sebuah curhat seorang teman yang menurut saya inspiratif  🙂 .

Siapa sih yang waktu kecil nggak kenal sama cerita putri-putri cantik & pangeran tampan dari negeri Disney, macam Cinderella, Snow White, Beauty and The Beast, atau cerita-cerita dengan perfect ending lainnya? Sempat mikir nggak kalau cerita-cerita dongeng seperti inilah yang akhirnya “meracuni” otak perempuan untuk terus berkhayal tentang sosok sang Prince Charming? Mengkhayalkan hadirnya sosok lelaki sempurna yang keren, berkarir cemerlang, kaya, baik hati, rajin menabung, suka berkebun, berkemah, berlatih semaphore & tali temali? lah jadi Pramuka.. ;)).Saya aja dulu kalau nonton cerita putri-putrian yang endingnya romantis, happily ever after gitu suka dengan mulut ternganga, sambil khayalan terbang kemana-mana Maksudnya berkhayal saya yang jadi putrinya, trus nanti ada pangeran tampan yang bakal menikahi saya gitu.. Ya gapapalah namanya juga masih kecil ya, wajar. Lha kalau sekarang saya masih mikirin yang kaya begitu nggak nikah-nikah kali sayanya. Tapi bukan berarti kalau saya menikah karena nggak ada pangeran manapun yang mau sama saya ya. Ya memang iya sih.. *histeris*. Ya yang pasti karena sudah ada seleksi alam yang akhirnya menyatukan kita dengan seseorang.  🙂 .

Itu kalau khayalan perempuan ya, sedikit berbeda dengan kaum lelaki, mereka punya sosok ideal yang disebut “cantik” secara lebih real, bisa ditunjukkan keberadaannya dengan jelas seperti sosok siapa, contohnya Dian Sastro, Pevita Pearce, Luna Maya, Mulan Jameela atau ikon-ikon cantik lainnya. Tapi pada umumnya kaum lelaki jauh lebih realistis. Artinya, meskipun mereka punya atau memimpikan sosok ideal, tapi mereka sukup sadar kalau itu semua di luar jangkauan mereka. Dengan demikian mereka lebih pasrah dan mau menerima siapapun sosok yang lebih realistis untuk menjadi pasangan hidup mereka 😀 .

Logikanya, kalau dunia ini hanya dipenuhi oleh perempuan cantik dan lelaki tampan, semuanya sukses, kaya, dan  berkarir cemerlang, lha terus yang tidak cantik , tidak tampan, tidak punya karir cemerlang &  tidak kaya mau dikemanakan? Disuruh tenggelam aja di laut? Nggak kan? Ayolah, kita bukan hidup di negeri dongeng. Kadang kita jatuh cinta justru dengan orang-orang yang tidak sempurna, jauh dari sosok ideal kita dulunya. Nggak ada yang salah dengan cinta. Kita juga tidak mungkin menahan diri lantaran kita jatuh cinta dengan orang-orang yang bukan standar massa kan?

Hidup juga tidak selalu seperti cerita dongeng atau film Hollywood yang berakhir bahagia dengan dua tokohnya yang berciuman mesra. Hidup kita juga kan skenario film atau panggung broadway dengan peran-peran tertentu dan orang lain yang jadi penontonnya plus berhak me-rating apakah bagus, sedang atau jelek.

Orang lain kadang “menetapkan” tuntutan & standar tersendiri yang menjadi ukuran baik/buruk seseorang. layak atau tidak untuk menjadi pasangan kita. Tapi balik lagi, yang akan menjalani hidup selanjutnya kita sendiri juga kan? Jadi kalau memang kita sudah mantap, sudah merasa sesuai dengan calon pasangan kita ya go a head. Sekaranglah saat bagi kita untuk melepaskan diri dari “penjara” tuntutan- tuntutan atas hidup kita. Karena yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi dengan kita adalah diri kita sendiri. Apakah nantinya kita akan bahagia atau tidak bukan orang lain yang menentukan tapi kita sendiri.

Lagi pula, ukuran kebahagiaan bukan hanya diukur dengan fisik atau materi, kan? Fisik bisa luntur seiring dengan usia, materi juga bisa dicari kan? Kalau sudah rezeki nggak akan kemana-mana kok. Kan semua sudah ada yang mengatur, bukan? 🙂 . Jodoh adalah masalah waktu, someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, every story we’re told implores us to wait for it. Saat seorang memang ditakdirkan untuk kita, dia akan datang dengan sendirinya tanpa diundang & kita rencanakan. Happiness is entirely a state of mind.

[devieriana]

Continue Reading

All Good Things in 2009

Pergantian tahun kali ini buat saya berasa cepat sekali. Betapa tidak, sepertinya baru kemarin saya berhiruk-pikuk  dengan hal-hal yang serba baru dalam kehidupan saya, menjalani pekerjaan & rutinitas yang serba terjadwal membuat saya begitu merasakan cepatnya pergantian hari demi hari, bulan demi bulan, dan tak terasa akan segera menjadi pergantian tahun yang sekarang tinggal dalam hitungan jam ini.

Seperti biasa, saya tidak terlalu mengistimewakan pergantian tahun dengan acara yang gimana-gimana. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya selalu saja dirumah & pastinya.. selalu ketiduran tepat saat pergantian tahun
:mrgreen: (nggak berbakat jadi hansip sayanya). Lha wong pas saya tanya sama suami, jawabannya juga begini kok   :

Saya  : ” kemana kita tahun baru ntar? ”
Suami  : ” emang penting harus kemana & dimana? ”
Saya  : ” kagak, kali aja mau ngajak plesir kemana gitu.. :-” ” *ngarep*
Suami  : ” halah, pake nanya mau plesir dimana.. Wong kamu seringnya tiap tahun baru pasti ketiduran. Jangankan melek tengah malam, wong jam 9 aja matamu udah tinggal segaris. Udah, dirumah aja..”

Memang moment pergantian tahun buat sebagian orang dianggap penting & patut untuk dirayakan, tapi buat saya kok (selalu) biasa-biasa aja ya? Apa gara-gara nggak ada yang ngajak saya begadang atau hangout buat tahun baruan ya? Ciih, kasian banget deh, kesannya kagak ada yang ngajak  😀 . Buat saya yang penting bukan acara hura-hura atau perayaannya, tapi lebih ke esensi, berkontemplasi (tsaaah..), mengadakan perenungan tentang apa saja yang sudah saya raih, kegagalan apa yang sudah terjadi sepanjang tahun ini, apa saja yang sudah saya lakukan buat keluarga, teman, karir saya. Itu yang menurut saya jauh lebih penting, supaya kita bisa menentukan ke arah mana & apa tujuan kita di tahun depannya.

Intinya sampai dengan saat ini sih belum ada rencana kemana-mana , akan ada dirumah aja sepanjang malam, besok paginya juga bakal jadi ibu rumah tangga, nyuci & beberes rumah. Kalau tahun lalu adalah tahun yang super berat buat saya karena ada banyaknya masalah yang menimpa saya. Termasuk salah satunya ketika Tuhan mengambil (calon) buah hati saya. Namun tak lama sesudahnya di tahun ini alhamdulillah ada banyak berkah yang saya terima. Bahkan jika saya catat di bulan November 2009 kemarin Allah memberikan saya rezeki yang nggak tanggung-tanggung & beruntun. Sampai saya takut menerimanya. Bukan apa-apa, takut saya jadi terlalu euphoria & jadi lupa diri. Tapi syukurlah ada banyak teman & keluarga yang selalu mengingatkan saya untuk tetap “menjejak kaki di tanah” (eh, saya bukan kuntilanak lho yang nggak menjejak tanah), artinya tetap down to earth dengan segenap berkah yang Tuhan sudah kasih sama saya.

Tahun ini ada banyak berkah yang saya terima. Diantaranya, suami yang jauh lebih sabar, mengerti & mendukung saya 100% (yang sering baca disini pasti tahu gimana kesabaran suami saya kan? 😀 ). Karir yang alhamdulillah ada peningkatan di awal tahun & pertengahan tahun ini. Saya juga diberikan kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman baru lewat banyak jejaring sosial & blog. Itu belum termasuk betapa groginya saya ketika diinterview & masuk majalah TEMPO bersama teman-teman dari ngerumpi :)) *nyisir*.  Di bulan Oktober waktu iseng saya ikut seleksi CPNS Setneg dan alhamdulillah diterima. Kenapa saya bilang iseng? Karena memang nggak pernah ada rencana saya mau ikut-ikutan cpns. Tapi pas nyoba sekali,  alhamdulillah masuk. Di bulan November saya juga iseng ikut lomba menulis artikel tentang perempuan alhamdulillah dapat juara 3 :D.  Terpilih untuk meliput pagelaran akbar Jakarta Fashion Week yang beberapa postingannya bisa dijumpai disini . Sekarang dapat kabar kalau buku kompilasi : Berbagi Cerita Berbagi Cinta bersama  teman-teman blogger juga sudah mau di-publish. Saya bersyukur untuk setiap berkah yang saya terima sepanjang tahun ini.

Buat sebagian orang mungkin cerita ini akan dianggap belum seberapa & biasa saja ya, tapi buat saya, teman dekat & keluarga saya yang tahu benar betapa tahun 2008 adalah tahun penyesuaian yang benar-benar berat buat saya, di tahun ini saya bersyukur bisa melalui itu dengan baik & Tuhan memberikan pengganti atas semua yang dicobakan pada saya tahun lalu.

Jika ditanya resolusi, saya bukannya nggak punya resolusi. Resolusi, rencana, keinginan, cita-cita yang ingin dicapai pasti ada. Yang jelas pasti harus ada pencapaian yang jauh lebih baik lagi di tahun depan. Poin-poin rencana juga pasti ada, tapi harus selalu diukur dengan kemampuan &  menyesuaikan dengan situasi & kondisi nantinya seperti apa, lebih ke mencoba menjalani segala sesuatunya secara mengalir dan realistis. Yang lebih penting lagi adalah konsistensi, positif thinking, optimis & usaha yang maksimal, insyallah nanti hasilnya juga akan maksimal. Amiieeen..

Jadi, apapun resolusi kita, semoga semuanya tahun depan bisa tercapai ya.. Semoga ada hal-hal baik yang senantiasa menyertai kita di tahun depan.. Amien..

Happy New Year 2010 everyone 🙂


gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Ayah Juga Lupa

 father & son

 

Tulisan ini teruntuk Papa saya yang hari ini sedang berulangtahun yang ke 65 tahun. Sebuah tulisan yang jadi salah satu tulisan favorit saya, diambil dari buku karya Dale Carnegie : How To Win Friends & Influence People. Tulisan yang selalu membuat saya “mewek” & teringat Papa saya yang kalau habis marah pasti minta maaf duluan, padahal belum tentu beliau yang salah juga 😥 . I love you Pa & I send you song, hope you’ll like it.. Happy Birthday Dear Father.. 🙂

Ini dia  :

AYAH JUGA LUPA
W. Livingstone Larned

Dengar, Nak : Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembap. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal-hal yang ayah pikirkan, Nak : Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikutmu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, “Selamat jalan, ayah!”, dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab : “Tegakkan bahumu!”

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. “Kaus kaki mahal dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati!”. Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. “Kau mau apa?”, semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca, ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah;  Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual :  Dia cuma seorang anak kecil , anak lelaki kecil! 

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk terbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

———-

Sebagai ganti dari mencerca orang, mari kita coba untuk mengerti mereka. Mari kita berusaha mengerti mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal itu jauh lebih bermanfaat dan menarik minat daripada kritik; dan untuk melahirkan simpati, toleransi dan kebaikan hati. Untuk benar-benar mengenal semua, kita harus memaafkan semua.

 

Seperti yang dikatakan Dr. Johnson : “Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya”

Mengapa saya dan Anda harus melakukannya? 😉

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=T4Igb5Yors4&hl=en_US&fs=1&rel=0]

gambar diambil dari  sini

Continue Reading

Renungan Sesuap Nasi

Tulisan ini saya tulis karena saking herannya saya sama orang-orang disekeliling saya tentang betapa pilih-pilihnya mereka sama makanan. Awalnya ok, mungkin saja masakan hari itu kurang menggugah selera sehingga kurang menerbitkan nafsu makan. Tapi ketika pemandangan itu semakin sering saya lihat, saya kok jadi bertanya-tanya sendiri ya, ada apa sih? Wong saya makan juga nggak kenapa-kenapa, enjoy aja. Kalau dibilang nggak enak banget, dimananya sih yang nggak enak? Kayanya normal-normal aja deh.  “Ya namanya orang seleranya kan beda-beda bu, belum tentu yang buat lidah kamu enak, buat lidah orang lain juga enak..”. Apa mungkin saya yang rakus ya, apa aja mau? 🙂

Nggak tahu apa yang membuat mereka berubah & seringkali nggak mau makan menu yang sudah disediakan. Padahal menunya selalu berganti-ganti tiap hari, dan menurut saya menunya juga pantas, layak & bersih. Sekarang “trend” yang berkembang di sekeliling saya adalah “nggak makan ah, menunya nggak enak” & berbondong-bondonglah mereka memesan makanan dari luar. Awalnya saya menganggap okelah ya, mungkin mereka bosan karena menurut mereka menunya begitu-begitu saja (walaupun aslinya ganti-ganti lho menunya.. 🙂  ). Ya namanya juga jatah makan dengan budget yang sudah ditentukan. Jadi ya wajarlah kalau menyesuaikan dengan harga. Nggak mungkin misal jatah makan siang Rp 20.000,- tapi menunya seharga Rp 50.000,- , ya rugi bandarnya. Istilahnya gitu..

Kalau saya kebetulan nerimo aja, selain saya juga males kalau mesti ribet delivery order. Kebetulan juga nggak pernah rewel soal makanan. Enak enggak enak & apa yang tersedia ya itu yang akan saya makan, nggak komplain, nggak menuntut mesti gini gitu. Lha wong saya juga nggak bisa masak, plus nggak ada waktu juga buat masak 😀 . Tapi memang hal itu juga yang jadi salah satu wejangan kedua orangtua saya. Enak/nggak enak, apapun yang dihidangkan, nikmatilah, sambil disyukuri bahwa kita masih bisa makan. Salah satu bentuk penghargaan buat oraang yang sudah bersusah payah menyediakan makanan buat kita & ingatlah diluar sana ada banyak orang yang kekurangan, yang nggak bisa makan karena nggak mampu beli makanan atau nggak ada yang bisa dimakan.

Saya bukan bermaksud sok bener, sok menggurui, atau sok perhatian sama orang yang berkekurangan ya. Cuman seringnya suka introspeksi dalam diri sendiri aja, kalau misal saya sekarang jadi yang terlalu pilih-pilih makanan, apa iya dulunya mama saya tiap hari selalu masak makanan yang enak & mewah buat kami? Dengan gaji papa yang nggak besar itu mama harus berusaha mengatur keuangan bagaimana caranya biar cukup buat hidup sebulan dengan 3 anak yang biaya kuliah & sekolahnya juga besar. Makan enak sekali-kali bolehlah, ibaratnya “rekreasi”, masa iya mau makan tahu &  tempe terus, sekali-kali makan lauk ayam boleh dong. Ya maklumlah, kami hanya keluarga sederhana. Itulah yang membuat saya selalu merasa bersyukur Alhamdulillah Tuhan masih ngasih rezeki cukup sehingga kami sekeluarga masih bisa makan dengan layak sampai dengan hari ini.

Sekedar ingin membuka mata, coba deh lihat sekeliling kita, ada banyak kaum yang hanya untuk sesuap nasi saja mereka harus bekerja banting tulang, susah payah, kadang tak peduli cuaca, musim, & waktu. Jangankan untuk makan sehari 3x, ada makanan yang bisa dimakan aja sudah alhamdulillah banget. Seperti kisah yang saya tuturkan disini & disini, kalau kita yang jadi bapak dan ibu itu mungkin akan bisa merasakan sendiri bagaimana susahnya cari makan ya. Jangankan untuk memilih makanan yang enak, mikir hari ini bisa makan apa enggak aja sudah bikin stress kali ya. Iya kalau ada yang bisa dimakan, lha kalau enggak?

Jadi, coba mulailah syukuri apa yang sudah Tuhan kasih sama kita. Apapun itu bentuknya. Karena ada banyak orang diluar sana yang nasibnya tidak seberuntung kita yang masih bisa ketemu makanan (enak) setiap hari…

Maaf, hanya sebentuk renungan.. 🙂

 

[devieriana]

Continue Reading

Inilah Jakarta, Darling!

 

Beberapa kali saya melintasi daerah-daerah pinggiran kota Jakarta yang kumuh. Kadang hanya sekedar melintas, tapi kadang juga karena mencari jalan tikus untuk menghindari banjir atau kemacetan. Pemandangan yang membuat trenyuh kerap tersaji secara gamblang & apa adanya. Gambaran sebuah usaha untuk survive di ibukota terpampang jelas di depan mata.

 

Salah satunya adalah para penjaja makanan di sepanjang kolong kereta api. Jika ditilik dari keamanan & kenyamanan tentu jauh dari kata “aman & nyaman”, apalagi jika dibandingkan dengan restoran dengan pelayanan prima dan lingkungan yang cozy baik untuk sekedar hangout, ngobrol atau makan bersama keluarga/kerabat. Tapi apalah daya ketika perut mulai meronta minta diisi tentu tak banyak pilihan yang ada di otak mereka selain bagaimana cara menyumpal mulut dengan makanan yang “nampol” di perut. Higienitas? Ah itu urutan nomor sekian, yang penting kenyang aja dulu.

“Welcome to Jakarta, darling! Inilah Jakarta, lengkap dengan kehidupan keras yang menempa manusia-manusia di dalamnya. Jadi, jangan heran kalau lihat hal-hal begitu. Itu mah udah biasa. Kalau nggak kaya gitu mana bisa hidup di ibukota kaya begini. Bukankah ibukota lebih kejam dari ibu tiri,? “, begitu kata seorang sahabat ketika iseng saya bercerita tentang hal-hal yang saya lihat.

 

Kenapa jadinya ironis banget sama slogan pariwisatanya Jakarta, “Enjoy Jakarta”, ya. Buat yang kemampuan finansialnya diatas rata-rata  ya jelas enjoy. Lha kalau buat yang kemampuan finansialnya cekak, nggak punya pekerjaan alias pengangguran, apanya yang mau di-enjoy? Paling-paling juga dijawab, “siapa suruh datang Jakarta?” 😀

 

Seperti pemandangan yang saya lihat, yaitu menjamurnya warung-warung di bawah rel kereta api. Hanya mencoba membayangkan, bagaimana ya rasanya makan di sela getaran kereta api yang setiap kali melintas tepat diatas mereka? Bagaimana rasanya berusaha menikmati makanan tapi dalam keadaan was-was (buat yang tak terbiasa makan disana)? Katakanlah saya sedang berkhayal ya.. apa mereka tidak khawatir kalau tiba-tiba kereta apinya anjlok lalu menimpa mereka yang tengah asyik makan disana? “ya jangan makan disanalah, kaya nggak ada pilihan tempat makan yang lain aja, kan banyak tuh yang nggak di bawah rel kereta api..”. Ok, ini hanya sebuah umpama. Pada kenyataannya mereka justru hidup dari hasil membuka kedai makanan disana selama bertahun-tahun. Toh buktinya mereka juga bisa eksis walaupun kondisi kedai makanan mereka sangat jauh dari kata “aman & nyaman”. Karena buat konsumen kelas mereka, “yang penting murah & kenyang”. Meski mungkin pernah terselip juga kekhawatiran di benak mereka seperti yang saya bayangkan tadi. Life must go on. tak ada pilihan lain selain bertahan dengan bisnis di lokasi berbahaya, karena mendirikan “usaha” dengan lahan & lokasi yang layak jelas jauh dari kemampuan finansial mereka. Jangankan buka usaha dengan lokasi yang layak, buat hidup aja mereka masih ngos-ngosan.

 

Ah, bisnis memang tak pernah kenal rasa takut. Setidaknya bagi para pemilik warung di bawah rel kereta api itu. Bagi mereka, dimana ada pasar & kesempatan, disitulah ada uang. Terlebih lagi jika menilik kondisi perekonomian negara kita yang sering tidak berjalan sebagaimana mestinya.

 

Ya, seperti kata sahabat saya :  Inilah Jakarta, darling!

 

 

 

Continue Reading