Kuterima Pinanganmu..

Setelah seharian Jakarta diguyur hujan yang tak kunjung henti hingga sore beranjak malam, saya sibuk sendiri dengan flu berat dadakan : batuk, pilek & demam karena radang tenggorokan yang menyerang sejak pagi. Entah apa yang salah sehingga saya mengalami serangan mendadak nggak pakai babibu seperti hari ini. Tapi yang jelas sepertinya memang kondisi saya sedang drop :-&.

Ditengah guyuran hujan yang awet itu tiba-tiba seorang teman yang sebelumnya hanya saya kenal via facebook jaman tahun jebot mengirimi saya pesan di twitter. Setelah ngobrol lucu-lucuan mendadak dia menawari saya untuk menulis sebuah buku bersama beliau. Karena dia suka dengan gaya bahasa saya di blog yang ringan & lucu. Ih, jadi pengen nyisir poni deh.. :”>

Wohoow.. jelas kaget. Karena tema buku yang beliau tawarkan pun tak main-main, yaitu buku keuangan untuk keluarga. Ternganga setengah tak percaya karena ya itu akan menjadi buku tips keuangan & “buku cerdas” saya bersama beliau yang pinter itu :O. Ya memang sih sebelumnya saya pernah menulis buku, tapi kan buku yang temanya ringan, lebih ke pengalaman sehari-hari. Lha kalau ini? Mendadak saya kok jadi gemeteran gimana gitu ya. Soalnya kan saya hanya rakyat awam soal dunia keuangan & saya tahu menulis buku keuangan itu bukan suatu hal yang mudah.. :-s

Ketika “pinangan” itu diberikan pada saya saya sempat mikir dulu, mampu nggak ya saya mengerjakan project serius macam ini? Saya kan bukan siapa-siapa, dan nggak tahu apa-apa soal perencanaan keuangan :-ss.  Tapi untunglah si bapak itu menenangkan saya bahwa saya boleh mengolah kata-kata sesuai dengan gaya saya, sementara beliau yang mengolah dari sudut keilmuan keuangannya. Ah, jadi sedikit lega. Asli jadi pengen tersanjung mendapat kehormatan menulis buku tips untuk keuangan bersama beliau. Eh, sengaja nggak saya sebut dulu siapa beliaunya ya. Biar surprise gitu ;).

Sahabat saya bilang begini :

“Gut! Ya sudah dicoba dululah. Kenapa enggak? Kalau kita nggak nekad ya nggak akan maju-maju. ‘;) “

Jadi, ya bismillah aja.. semoga bisa selesai sesuai target & konten plus bahasanya nggak malu-maluin ya [-o< 😉

[devieriana]

gambar saya pinjam dari situ

Continue Reading

Jadi, kapan?

“Pacarmu anak mana? Kuliah/kerja?”
“kapan kamu nikah?”
“Kapan punya anak?”
atau “Anakmu sudah berapa sekarang?”

Pasti kita sudah akrab dengan pertanyaan itu ya? Ya, pertanyaan yang “lazim” ditanyakan oleh teman, dan keluarga. Ya syukur-syukur kalau kebetulan kita sudah punya pacar. Syukur-syukur kalau kita sudah menikah. Syukur-syukur kalau kita sudah punya anak. Pasti enteng jawabnya. Lha kalau belum? X_X

Jangan ditanya bagaimana rasanya mendapat pertanyaan seperti itu disaat kita sedang : jomblo, belum menikah, dan belum punya anak ya. Awalnya sih mungkin bisa santai, jawab dengan hahahihi. Tapi kalau terlalu sering dipertanyakan (walaupun kadang bermaksud basa-basi) justru malah membosankan & bikin males jawab :(( . Saya memang nggak sendirian pernah menerima pertanyaan macam itu. Karena kebetulan juga sering dicurhati masalah yang sama ;)). Seperti kemarin saya juga dicurhati lagi sama seorang teman yang BT karena ditanya-tanya melulu sama ibunya kapan akan menikah. Padahal sampai sekarang pacar aja belum punya.

Teman : “hadooh, stress aku mbak.. Jangankan ngenalin pacar ke keluarga. Pacar aja aku nggak punya. Apanya yang mau dikenalin?”

Saya : “emang berapa sih usia kamu sekarang?’
Teman : “25 tahun”

Saya : “ih itu mah masih precil banget. Apalagi kamu laki. Masih mikir karir & memantapkan kerjaan dulu. Lagian kuliah S3-mu belum selesai kan? Belum kerja juga.. Kalau mau buru-buru nikah istri sama anakmu nanti kamu kasih makan apa?”

Teman : “iya, Mama itu maksa aku buat buru-buru nikah. Karena Mama takut aku tuh nggak nikah-nikah karena patah hati”

Saya : ” :)) Mama kamu berlebihan deh. Bilang dong, patah hati kelamaan itu rugi di kamu. Hari gini masih patah hati? Nggak mutu.. “

Begitu juga dengan curhatan seorang teman yang belum dikaruniai momongan.

Teman : “capek ya mbak kalau mesti jawab pertanyaan “anakmu udah berapa?”. Padahal hamil aja aku belum..”:( ”

Saya : “ya kalau mau nurutin perasaan ya pasti makan hati. Santai aja lagi. Semua kan sudah ada yang mengatur. Kalau Tuhan maunya besok kamu hamil ya besok bakal hamil. Udah nikmatin aja dulu pacaran sama suami.. Kalau ada yang tanya lagi jawab aja sambil becanda. Biar kamunya juga nggak stress..”

Teman : “iya, aku juga udah punya pikiran begitu. Tapi yang nanya suka nggak ngira-ngira. Masa bilang, “makanya kamu buruan hamil dong..”. Kalau aku bisa mengatur semauku kapan aku hamil & melahirkan saat itu juga aku bakal ngelahirin bayi. Sedih aja sama pertanyaan yang nggak kira-kira kaya begitu.. ~X( ”

Saya : *speechless*

Itulah kadang saya jadi super hati-hati kalau ketemu temen yang saya lihat profil di facebooknya masih sendiri atau berdua saja, tanpa foto anak atau pasangan atau pas ngobrol nggak menyinggung anak atau pasangan. Takut salah tanya & mereka jadi kurang nyaman sama pertanyaan saya. Ya kecuali mereka sendiri yang membuka ceritanya.

Dulu saya pernah mengalami masa-masa paranoid kalau tiap kali diajak ngobrol sama temen lama yang ketika menanyakan, “sudah hamil (lagi) belum?”, atau “anakmu berapa?”, karena pasti ujung-ujungnya seolah (dalam pikiran saya) mereka ingin ditanya hal yang sama & sudah punya jawaban : “anakku sekian..” atau “istriku lagi hamil..” >:). Karena kalau yang sama-sama belum punya momongan pasti ngerti & nggak akan nanya. Itu dulu , jaman saya masih sensitif ;))

Pernah sih ngerasa kurang nyaman karena kebetulan ada temen yang saya tahu mungkin dia saking suka citanya dengan kehamilan anak pertamanya hingga dia lupa kalau kalimatnya itu membuat orang lain seperti habis diiris-iris trus dikecrutin jeruk nipis.. :((

Teman : “hai mbak, gimana udah isi belum?”

Saya : “belum lagi.. Kenapa? kamu udah ya?”

Teman : “ih, udah dooong. Nih 2 bulan…”

Saya juga paling sebel tiap kali ketemu sama kerabat yang nanya melulu saya sudah hamil lagi atau belum? Kalau jarak waktu pertanyaan satu dengan lainnya cukup lama sih saya bisa maklum, namanya juga lama nggak ketemu. Tapi kalau pertanyaan itu ditanyakan di tiap pertemuan keluarga yang hanya berjarak seminggu, rasanya kok gimana gitu. Yang nanya ini nggak kreatif, nggak ada bahan obrolan lain atau gimana ya.. ~X(. Nanti toh kalau saya sudah hamil pasti saya kasih tahu kok sama halnya ketika saya akan menikah..

Makin kesini saya sih udah kebal. Semua hanyalah masalah waktu. Catatan penting buat keluarga, jangan terlalu sering menanyakan hal yang bisa membuat stress, seperti menyuruh menikah atau menyuruh hamil. Bukannya kita nggak kepengen lho. Kalau orang normal pasti pengenlah. Mungkin maksudnya sebagai bentuk perhatian ya, tapi kalau terlalu sering ditanyakan bisa jadi terror yang bisa bikin kepikiran. Kalau memang sudah waktunya, pasti semuanya akan terjadi kok. Lagian toh kita bukannya nggak berusaha tho? 🙂

Buat yang masih jomblo, nikmati dulu masa kejombloannya sampai tiba jodoh yang cocok dengan kalian (tapi jangan suruh saya nyariin ya, soalnya saya nggak punya stok). Buat yang sudah punya pacar tapi belum menikah, nikmati saja dulu masa pacarannya sambil nunggu restu orangtua & lamaran sang pacar. Ihiiy.. ;;). Buat yang sudah menikah tapi belum punya anak, nikmati dulu masa pacaran bareng suami sambil nabung buat persiapan punya baby. Nggak usah terlalu mikirin omongan orang, nanti malah stress & nggak menikmati hidup. Sayang banget kan? 😉

Percaya deh, semua akan indah pada waktunya kok.. :-bd

[devieriana]

gambar ngambil dari situ

Continue Reading

Anak vs Sinetron

Sebagai orang yang tidak menggemari sinetron, saya terbilang kurang update tentang sinetron apa saja yang sedang tayang, masuk episode berapa, ceritanya tentang apa, aktrisnya siapa saja. Yang saya ingat cuma sinetron jaman tahun jebot yang waktu itu ngehits banget : TERSANJUNG, yang sekuelnya dibuat sampai season enam (belas) mungkin? Dari cerita yang awalnya menarik sampai jadi aneh dan nggak masuk akal. Mulai dari cerita wajah asli sampai kecelakaan dan harus operasi plastik padahal itu untuk menggantikan pemain yang tidak diperpanjang lagi kontraknya oleh rumah produksi #-o

Cerita sinetron kita identik dengan kehidupan yang “bumi langit”. Perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin, yang kalau kaya bisa jadi kaya banget, kalau miskin ya miskin banget. Atau penokohan “hitam-putih”, kalau yang baik ya baik banget, kalau yang jahat ya jahat banget. Padahal kan kalau di dunia nyata yang jahat itu justru “abu-abu” ;)) . Adegan yang sepertinya ada kemiripan satu sama lain di setiap sinetron, misal : kecipratan lumpur dari mobil si kaya yang mengotori baju si miskin nanti ujung-ujungnya ketemu lagi & lama-lama mereka saling jatuh cinta, atau adegan ibu tiri yang jahat banget yang lebih mengingatkan saya pada bintang jadul Joyce Erna (kisah Arie Hanggara) atau ibu tirinya bawang putih ;)).

Memang nggak semua sinetron ceritanya begitu. Ada sinetron yang ceritanya membumi dengan pemain-pemain yang berakting sangat natural, misalnya : Si Doel, Keluarga Cemara. Ceritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari dan akting para pemainnya pun juga alami. Ketimbang sinetron jaman sekarang yang kadang kurang realistis, banyak memunculkan kejahatan & kelicikan. Tapi kenapa justru sinetron yang seperti itu yang justru disukai masyarakat ya? Apakah memang masyarakat kita lebih suka dijejali dengan tontonan-tontonan berbau mimpi dengan lakon yang sangat hitam putih? 😕

Dulu saya pernah berdiskusi dengan salah satu teman jurnalis televisi yang kurang lebih bilang begini :

“tema yang nggak akan pernah basi walau sudah dibahas berulang-ulang di televisi atau novel ada 3 : seks, (perebutan) harta, dan cinta (segitiga). Itu cerita yang luas banget kalau dikembangkan jadi sebuah cerita..”

Terbukti memang, cerita yang kita temukan sehari-hari di televisi atau buku ya temanya nggak jauh-jauh dari itu. Saya pun akhirnya manggut-manggut.

Nah yang lucu nih (entah saya harus tertawa atau prihatin) pas sepupu saya kemarin cerita tentang keponakan saya yang baru berusia 2 tahun, yang mau tidak mau lihat tivinya se-acara dengan yang ditonton orang-orang dewasa yang ada dirumahnya, akhirnya terpengaruh dengan adegan yang ada di televisi. Sampai akhirnya diputuskan untuk berlangganan tv kabel khusus di stel film kartun. Karena sang ibu terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut si kecil yang walaupun saya waktu dengar ceritanya bisa ngakak-ngakak, tapi lama-lama mikir segitu parahnyakah efek tontonan yang tidak tersortir itu?

Kalau dengar percakapan antara si kecil dengan mbak pengasuhnya yang ini saya nggak tahu mesti tertawa atau prihatin ya,

“Mbak, mbak mau mati nggak? Ayo sini masuk kulkas..”.

Nah lho, si Mbak disuruh masuk kulkas. Emangnya dia semacam buah-buahan? Atau, percakapan telenovela banget ketika si kecil menjawab dengan formal :

“entahlah Bunda, aku tidak tahu.. aku benar-benar bingung..”

Padahal cuma ditanya hari ini mau pakai baju warna apa? ;))

Memang sih untuk beberapa tontonan tertentu pihak televisi sudah menyertakan kode tertentu untuk jenis tayangannya. Misal : BO (Bimbingan Orangtua), R (remaja), SU (Semua Umur). Tapi yang namanya orang dewasa kadang suka terlewat, tidak sengaja menonton acara kegemaran mereka sementara ada anak-anak yang juga ikut menonton. Tidak bisa dipungkiri karena memang porsi acara anak-anak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan acara untuk orang dewasa. Bahkan tayangan yang sebenarnya dikhususkan untuk anak-anak pun juga masih berbau konten orang dewasa, misalnya acara Idola Cilik. Bener sih yang nyanyi anak-anak, tapi lihat dong materi lagunya.. lagu dewasa semua. Karena memang lagu anak-anak juga sudah jarang terdengar. jadilah lagu orang dewasa yang dimodifikasi sedemikian rupa, diubah beberapa syairnya menjadi syair yang “lebih anak-anak” :-”

Kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media televisi sebagai kambing hitam berubahnya perilaku anak-anak menjadi lebih agresif & menjadi “kurang anak-anak” alias dewasa sebelum waktunya. Karena yang lebih penting sebenarnya adalah faktor lingkungan. Bagaimana pun mereka lebih banyak bergaul dengan lingkungan sekitarnya ketimbang televisi. Jadi kontrol memang sebaiknya tetap dari para orang tua terutama dalam menyortir tayangan-tayangan mana saja yang pantas & boleh dikonsumsi oleh anak-anak, tayangan mana saja yang butuh pendampingan orangtua, dan tentu saja memilih tayangan mana saja yang aman dari segala bentuk kekerasan baik verbal ataupun tindakan. Karena anak-anak ibarat kertas putih, isinya akan tergantung dari siapa yang menuliskan & apa isi tulisannya.. 😉

[devieriana]

Continue Reading

Asli atau Bayar?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol dengan seorang teman lama di YM. Teman waktu saya masih tinggal di Surabaya. Lumayan lama kami tidak tahu kabar masing-masing sejak masing-masing dari kami menikah. Setelah akhirnya dia menjawab ucapan selamat ulang tahun yang saya kirimkan di YM akhirnya kami lanjutkan dengan saling bertukar kabar.

Saya kabarkan kalau saya sekarang berkarir sebagai PNS. Dia kelihatan tidak terlalu terkejut. Justru meminta saya bercerita apa motivasi saya, dll. Ya sudah saya ceritakan apa adanya. Saya bilang sama dia, kalau mau diceritakan prosesnya dari awal ya terlalu panjang. Akhirnya saya kasih link runtutan ceritanya di sini. Itulah salah satu keuntungan punya blog, punya arsip tentang cerita hidup ;))

Berhubung dia juga waktu itu lagi sibuk jadi sepertinya link yang saya kasih itu belum di baca. Ya iyalah, untuk baca “cerita berseri” yang panjang begitu kan butuh waktu :). Eh, mendadak dia menanyakan sesuatu sama saya dan itu pertanyaan yang cukup “makjleb”. Halah,lebay banget deh ;))

Teman : “aku mau nanya tapi jangan tersinggung ya..”

Saya : “Apa? :-?”

Teman : “kamu kok bisa masuk PNS di situ, bayar apa ikut tes?”

Makjleb! #-o Duh, sumpah nih ya, pertanyaan itu kok ya ditanyakan pas saya PMS ya. Kalau aslinya ya jujur saya pengen jitak-jitakin dia deh, “tuk-tuk-tuk!” ~X( . Tapi untung waktu itu saya lagi dikelilingi malaikat yang baik hati semua, jadi pas di tanya seperti itu hati saya adem ayem kaya ada angin semilir sepoi-sepoi gitu. Dia lagi beruntung aja mood saya pas lagi bagus :p . Jadi ya saya jawabnya juga santai aja gitu, kaya di pantai.. :-” *kipas-kipas*

Saya : “ya ikut teslah, sama kaya yang lain.. Asli!”

Teman : “Asli bayar apa asli ikut test”

Wah, mulai nyari gara-gara nih >:)

Saya : “Ya asli ikut test-lah. Maksudnya gimana sih? Kalau nggak percaya baca aja di situ

Teman : “Ya kali aja ada yang off the record, yang nggak kamu ceritakan”

Saya : “yaelah, kalau mau bayar, aku mau jual sawahnya siapa? Aku kan bukan orang berada :(( “

Teman : “ya kan kamu orang berada..”

Saya : “berada apa? berada di Jakarta? ;)) “

Teman : :))

Dia lalu membandingkan (bercerita) kalau masuk PNS ditempat dia bekerja itu ada yang melalui “jalan belakang”. Biayanya pun sampai ratusan juta. Saya cuma bisa melongo. Memang bukan rahasia lagi sih kalau sistem KKN itu mau gimana-gimana juga masih tetap ada. Tapi saya nih ya, kalau iya syarat menjadi PNS harus mengeluarkan biaya sedemikian banyak sampai ratusan juta rupiah, ya mending saya bekerja jadi pegawai swasta tho, lha wong nggak pakai bayar, malah saya yang dibayar. Ya kan?

Tapi alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan untuk menjadi PNS melalui jalan yang murni dari hasil seleksi. Kalau temen-temen baca cerita saya dari awal, malah yang ada isinya deg-degan melulu. Nggak berani posting blog sebelum ada hasilnya. Malu kalau sudah terlanjur cerita sana-sini nggak tahunya gagal :(( . Teman-teman kantor aja cuma sedikit yang tahu kalau saya ikut seleksi CPNS, padahal awalnya saya yang emoh-emoh ;)). Tapi ya mungkin sudah rejeki ya, jadinya jalannya alhamdulillah mulus.

Sekedar cerita nih, dulu banget waktu saya baru saja tinggal di Jakarta & diajak jalan-jalan sama suami, pertama kali saya lihat gedung dengan halaman luas yang masih satu komplek sama Istana Negara ini cuma bisa kagum sambil dalam hati bilang, “Ya ampun keren banget ya kantor ini. Kapan aku bisa bekerja di sana ya..”. Eh, lha kok ndilalah Allah mengabulkan bisikan hati saya itu 2 tahun kemudian 🙂

Banyak jalan untuk mencari rezeki. Mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri semuanya sah-sah saja, tergantung Allah ngasih rejekinya kemana. Ada yang lebih senang berkarir sebagai pegawai swasta karena secara penghasilan jauh lebih besar, syaratnya pun lebih mudah ;). Ada juga yang lebih memilih berkarir menjadi PNS seperti saya yang harus memulai lagi dari awal & menyesuaikan diri lagi, mencuci otak saya yang masih terlalu swasta itu untuk menjadi PNS ;))

Sebenarnya waktu ikut ujian saya nggak terlalu ngoyo. Saya cuma ikut ujian satu saja di satu kementrian saja & alhamdulillah lolos, walaupun ujiannya berlapis-lapis (seleksi dokumen, test tulis, psikotest & interview). Mungkin salah satu kuncinya karena kemarin saya tidak terlalu ngoyo ya, jadi ketika ikut test tidak ada beban sama sekali.:)

Jadi buat teman-teman yang akan berjuang di seleksi CPNS tahun ini, selamat mempersiapkan diri ya dan nggak usah terlalu ngoyo, santai saja. Kalau sudah rejeki nggak akan kemana-mana kok. Berkarir juga tidak harus menjadi PNS kan? Yang sukses di jalur swasta atau bahkan membuka usaha sendiri juga banyak yang sukses kok. Ok, darling? 🙂

Good luck! :-bd

[devieriana]

Continue Reading

Merindu Bulan Warna Pelangi

Rembulan muda tersembul dari balik awan abu-abu. Tersenyum tipis memandangku malu-malu dari kejauhan. Aku membalas senyumnya seraya mengangguk pelan. Sang jelaga malam mulai sibuk menata prajuritnya menggantikan senja yang beranjak menua. Angin mendadak bersahabat, menyibakkan pelan awan-awan kelabu yang menutupi wajah rembulanku..

Bulan menatapku dari balik pendar mata sendunya, melihatku sendiri di padang savana yang sunyi. “Temani aku Bulan”, pintaku dalam bisik, berharap dia mendengarku. Kulihat Bulan tersenyum, mengangguk pelan seraya melambaikan tangannya padaku. Batinku bergejolak menahan suka tiada tara. Tak henti kupandang wajahnya nan indah berseri, pipinya yang ranum, jemari lentiknya yang memainkan ujung selendang warna pelangi. Ah, dia begitu sempurna…  Apakah aku jatuh cinta?

Bercumbu dalam khayalan, lalu tenggelam dalam impian indah musim semi. Tatapan mata sayu beradu dalam balutan rindu, meranggas dalam malam yang lengas, diiringi bunyi jangkerik & sekerlip dua kerlip bintang yang menerangi percintaan kami. Hanya ada rasa & bahasa yang sulit untuk diterjemah. Biar sajalah kami yang tahu. Biar sajalah kami yang rasa… Hingga ingin ku hentikan waktu, jangan beranjak pagi…

Namun apa daya, setinggi apapun aku berharap, takkan mungkin ‘ku mampu meraih Bulan warna pelangiku. Terlalu tinggi tuk mengepak sayap ringkihku padanya. Pun jika nanti kepak sayapku tergantikan dengan gumpalan-gumpalan kapas ringan.

Adakah angin akan membawaku pada Bulan warna pelangiku? Atau hanya sekeranjang salam berhias pita rindu yang akan sampai padanya? Entahlah..

Nyata bahwa…

 

aku hanyalah seekor pungguk yang merindumu…

 

 

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading