Piringan Hitam di Era Streaming

Beberapa hari lalu, seorang teman bertanya dengan nada heran yang sulit disembunyikan, “Lah, dia masih ngeblog. Emang masih ada yang baca?”

Pertanyaan itu seolah menahbiskan anggapan kalau blog hanyalah tren sesaat yang masa jayanya sudah habis. Dan memang pada kenyataannya banyak blog yang dulunya aktif kini mati suri seiring munculnya berbagai media sosial. Jujur saja, selama beberapa tahun saya pun sempat ada di fase malas meng-update blog karena selain alasan kesibukan domestik di rumah dan kantor, juga sempat terbuai juga oleh kepraktisan Twitter dalam berjejaring (yang sekarang sudah berganti nama jadi X). Waktu itu rasanya jauh lebih gampang menjangkau audiens lewat tulisan singkat 140 karakter yang receh, ketimbang harus menyusun paragraf-paragraf panjang. Belum lagi sekalinya kita viral, banyak yang retweet, penambahan jumlah followers akan otomatis mengikuti. Memanfaatkan jumlah followers, saya pun kerap membagikan tautan tulisan baru di sana, sambil berharap trafik blog bakal naik.

Lambat laun semangat ngeblog itu luntur juga. Tapi rasanya bukan cuma saya, orang-orang pun tampak mulai jenuh, dan satu persatu mulai meninggalkan rumah digital masing-masing. Begitu pula budaya blogwalking alias kegiatan saling sapa di kolom komentar jadi tak sehangat dulu. Saat semua orang berbondong-bondong ‘bedol desa’ ke aneka situs microblogging, saya pun tak punya pilihan lain selain FOMO, melakukan hal yang sama.

Imbasnya, blog saya lebih banyak sarang laba-labanya ketimbang tulisan-tulisan baru. Padahal dulu, produktivitas menulis saya ada di level dewa. Bayangkan, sehari bisa lahir dua sampai tiga tulisan yang sengaja saya endapkan untuk stok postingan beberapa hari ke depan. Benar-benar masa di mana ide dan mood menulis bisa lahir kapan saja, di mana saja. Sekarang? Jangankan bisa memproduksi satu tulisan seminggu, bisa selesai satu draf dalam sebulan saja sudah jadi keajaiban dunia, yang layak dirayakan dengan standing ovation!

Anehnya, justru di saat orang-orang mulai skeptis dengan blog, saya malah merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali menulis. Mencoba kembali menghidupkan kapsul waktu yang mengurasi sisa-sisa golden era, masa-masa di mana blog masih memegang takhta sebagai primadona jagat maya. Di semesta digital yang trennya punya shelf life super singkat, bertahan selama hampir dua dekade menjadikan blog ini sebagai sebuah ruang yang sangat personal. Kalau iseng scrolling ke arsip lama, seperti melihat bagaimana saya bertransformasi. Tentang bagaimana cara saya menulis, memilih diksi, dan memandang dunia melalui perspektif yang terus berkembang.

Saya ingat betul masa-masa keemasan itu, saat blog masih menjadi simbol prestise di jagat maya. Ada beberapa tulisan saya yang sempat viral, atau setidaknya cukup ‘ramai’ dibagikan melalui rantai email yang jadi media sosial paling organik pada masanya. Di tahun 2009, saya juga sempat diwawancarai oleh Tempo menyoal fenomena ngerumpi.com, awal mula situs vertikal yang menjadi ajang berkumpulnya para peselancar dunia maya yang tertarik dengan isu perempuan, yang dalam perkembangannya menjadi salah satu gerbang awal budaya berbagi di ranah digital Indonesia bersama dengan situs-situs user generated content (UGC) yang lain yaitu politikana.com dan curipandang.com.

Wawancara tersebut benar-benar membuka jalan. Ada rasa surreal saat menyadari blog saya yang biasanya ada sepuluh pengunjung saja sudah terasa mewah, tiba-tiba saya dihadapkan pada lonjakan trafik ratusan orang per hari. Apa saya nggak keder? Banget! Tapi pada akhirnya, saya belajar bahwa blog bukan soal statistik pengunjung saja. Tapi lebih jauh, adalah tentang bagaimana melalui tulisan-tulisan sederhana akhirnya bisa mempertemukan saya dengan lingkaran pertemanan baru.

Tapi kenyataan sekarang sudah jauh berubah. Konten-konten video pendek jadi ‘bahasa’ baru yang dianggap lebih seksi ketimbang deretan kalimat panjang. Efeknya? Attention span kita makin tipis. Baru baca beberapa paragraf saja rasanya sudah gatal mau scrolling Tiktok atau Instagram lagi. Akhirnya kita jadi kehilangan daya tahan untuk menikmati sebuah cerita hingga akhir.

Meminjam istilah Rhenald Kasali, disrupsi sudah masuk ke semua lini, mulai dari cara kerja fleksibel di coworking space sampai gaya hidup cashless yang praktis. Ada pula narasi yang mengatakan kalau masa depan adalah milik mereka yang paling muda. Tapi bagi saya yang berdiri di borderline antara Gen X dan Milenial, pergeseran ini justru terasa challenging, di mana kuncinya ada di self upgrade yang tidak punya tanggal kedaluwarsa.

Ketertarikan saya pada dunia tulis-menulis ini pun sebenarnya punya akar yang lumayan dalam dan agak ajaib. Waktu masih SD dulu, kalau anak-anak lain menganggap sesi mengarang di ulangan Bahasa Indonesia itu beban, bagi saya itu justru momen showtime! Dan lucunya, saya punya metode ‘sesat’ dalam menulis. Saat guru mewajibkan kami menyertakan kerangka karangan, saya justru menulis dulu sampai tuntas baru kemudian kerangka karangannya saya buat di akhir. Jadi, kerangkanya bukan sebagai panduan menulis, tapi malah merangkum apa yang sudah saya tulis. Gaya menulis liar tanpa kerangka itu terbawa hingga sekarang. Saya lebih suka menulis secara organik. Saya biarkan ide-ide mengalir begitu saja, meski risikonya alur saya sering ‘main’ ke mana-mana. Metode tanpa kerangka inilah yang menemani saya di berbagai proyek buku kolaborasi sepanjang 2009 hingga 2015.

Sejak kecil pun imajinasi saya sudah punya cara sendiri untuk bermain-main. Saya sering membuat cerita-cerita legenda KW tentang asal-usul bentang alam suatu wilayah, kadang juga iseng membuat komik strip, sampai tiba-tiba random menulis skenario drama yang akhirnya saya tahu seperti itulah bentuk skenario yang sesungguhnya. Nah, demi memperkaya diksi dan membangun dunia yang berwarna itulah, saya betah menghabiskan waktu untuk membaca berbagai buku dongeng, mendengarkan Sanggar Cerita (iya, ketaker umurnya), kadang RPUL, RPAL, hingga kitab suci legendaris anak 90-an yaitu Buku Pintar. Anyway, hi there, Iwan Gayo!

Hobi ini pun berlanjut ke aksi ‘berburu’ diksi di koran langganan orang tua. Satu yang paling saya ingat adalah saat saya menemukan kata ‘oknum’. Entah kenapa saya menganggap kata itu punya vibe yang keren. Sempat bertanya juga ke ayah saya tentang arti kata ‘oknum’ ini, tapi sepertinya ayah saya terlalu general menerjemahkan sebagai ‘orang’. Berhubung saya anggap kata itu aman, maka saya selipkan ke dalam karangan bertema ajakan untuk melakukan penghijauan di sekolah waktu kelas 6 SD. Hasilnya? Diksi itu dianggap kurang tepat oleh guru saya. Menurut beliau, istilah ‘oknum’ dinilai terlalu berat dan berbau kriminal untuk tulisan persuasi anak SD yang isinya justru mengajak teman-teman menanam pohon dengan riang gembira. Tapi ya, itulah pelajaran pertama saya, diksi yang keren belum tentu tepat kalau diletakkan di konteks yang salah. Kalau dipikir-pikir, saya memang se-eksperimental itu sejak kecil. Well, the audacity of my younger self!

Menurut saya, menulis itu semacam otot yang wajib dilatih. Ibarat pelari maraton, jika jarang diajak berlari, otot itu akan kaku dan kehilangan kelincahannya. Pada akhirnya, di tengah hiruk-pikuk jagat maya yang bisingnya minta ampun ini, aktivitas menulis menjadi salah satu coping mechanism agar saya tetap utuh di tengah riuh. kalau boleh saya ibaratnya, menulis itu seprti melempar pesan dalam botol ke tengah samudera, kita tidak pernah tahu siapa yang akan menemukannya. Namun, ada kepuasan tersendiri membayangkan jika suatu saat ada yang mampir atau menemukan sesuatu di blog ini untuk ‘dibawa pulang’, entah itu sekadar bahan bacaan receh, renungan, atau bahkan ide untuk tulisan baru.

Ngeblog mungkin terdengar sangat jadul sekarang. But hey, piringan hitam juga jadul, kan? Tapi kita semua tahu, suaranya punya karakter yang lebih ‘bernyawa’, yang tidak bisa dikalahkan oleh musik streaming mana pun.

devieriana

Ilustrasi: Dihasilkan oleh AI Gemini

Continue Reading

Verba Volant, Scripta Manent

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer

Setelah vakum beberapa tahun lamanya, akhirnya saya mengobati kerinduan saya aktif menulis kembali. Seperti biasa, topik tulisan saya random. Topik kejadian keseharian, review film, psikologi, parenting, pekerjaan, dan sebagainya. Banyak teori yang bilang kalau menulis di blog harus ada temanya supaya ada audiens yang secara khusus tertarget, misalnya blog yang khusus me-review tentang kecantikan, gadget, atau kuliner. Tapi menurut saya menulis tema random tentang keseharian juga memiliki daya tarik tersendiri. Menulis dengan tema random bagi saya memberikan kebebasan untuk menulis apa pun yang kita suka yang mencerminkan kehidupan sehari-hari atau berbagai minat kita saat itu.

Beberapa teman baru, yang mungkin baru mengenal saya bertanya, “Kak Devi ternyata masih suka nulis, ya? Kenapa, Kak? Kan sekarang zamannya udah zaman visual, orang lebih tertarik nonton konten video ketimbang tulisan.” Saya sudah suka menulis sejak SD. Sepertinya ada saja hasil ‘tulisan’ yang saya buat waktu itu, misalnya tiba-tiba membuat tulisan fiksi anak-anak, cerita legenda, atau komik ala-ala. Pelajaran bahasa Indonesia juga menjadi salah satu pelajaran favorit saya, karena ada sesi mengarang indah. Dulu saya juga punya cara kerja yang unik dalam membuat tulisan/karangan. Kalau teman lain membuat kerangkanya dulu baru menulis, saya justru sebaliknya. Saya buat karangannya dulu, baru saya buat kerangka karangan sebagai pelengkap. Sejak kecil pula saya suka mencari kosakata-kosakata baru yang kurang lazim digunakan. Masih ingat, dulu karena sering membaca surat kabar, saya menemukan kata ‘oknum’. Dengan bangga saya gunakan kata itu dalam tugas mengarang  pada pelajaran bahasa Indonesia. Tapi karena tidak sesuai dengan tema tugas waktu itu, sehingga kata itu justru dicoret oleh guru. Tak apa, yang penting sudah sempat memakainya.

Bukan hanya itu, konten blog lebih mudah diakses dan ditemukan dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan postingan media sosial yang cepat berlalu. Ketika seseorang menulis di blog, tulisan tersebut memungkinkan untuk diindeks oleh mesin pencari seperti Google, sehingga orang lain dapat menemukan tulisan tersebut bertahun-tahun setelah dipublikasikan. Hal ini tentu sedikit berbeda dengan postingan di media sosial yang cenderung tenggelam dalam lautan konten baru yang terus bermunculan setiap detiknya. Blog juga memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam menyusun dan menyampaikan informasi. Kita dapat membuat artikel yang panjang dan mendalam, menyertakan berbagai jenis media seperti gambar, video, dan infografis, serta mengelompokkan tulisan-tulisan tersebut ke dalam kategori yang memudahkan navigasi bagi pembaca. Jadi, sebenarnya menulis di blog telah lama menjadi salah satu cara paling populer untuk berbagi informasi, pengalaman, dan pemikiran dengan audiens yang lebih luas.

Bagi saya pribadi, blog ini dapat dianggap sebagai tempat penyimpanan digital memori saya, seperti ruang virtual di mana saya dapat dengan bebas menuangkan pikiran dan berefleksi. Blog ini menjadi tempat perlindungan, rumah pikiran, sebuah tempat yang tenang di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Lebih jauh blog ini juga berfungsi sebagai portofolio yang menampilkan perkembangan saya sebagai penulis yang sedang berkembang.

Semua hal ini sejalan dengan pepatah Latin yang mengatakan “Verba volant, scripta manent”, yang berarti kata-kata yang terucap akan terbang pergi, tetapi kata-kata yang tertulis akan tetap abadi. Dalam era digital, pepatah ini mengingatkan kita akan pentingnya menyimpan informasi secara tertulis. Verba volant, scripta manent menekankan adanya kekuatan dan kekekalan kata-kata tertulis dibandingkan dengan yang terucap. Kata-kata yang tertulis memiliki daya tahan yang luar biasa, memungkinkan pemikiran dan ide untuk hidup lebih lama daripada ucapan yang segera dilupakan. Inilah yang membuat aktivitas menulis di blog bukan hanya relevan di masa lalu, dan kini saja, namun juga memberikan dapat kontribusi jangka panjang bagi dunia pengetahuan dan budaya jika dibutuhkan.

— Devieriana —

Continue Reading

Menulis saja…

shakespeare-blog-cartoon

Jujur, saya sering iri melihat teman-teman yang punya banyak kegiatan, punya banyak pengalaman yang berhubungan dengan banyak orang, punya pengalaman mengelola sebuah kegiatan, teman yang sering bepergian ke dalam negeri atau ke luar negeri entah itu untuk berlibur atau dalam rangka dinas. Hmm, sudah se-desperate itukah hidup saya sampai saya harus iri dengan kehidupan orang lain? Hehehe, bukan begitu.

Saya punya beberapa teman pramugari yang sering berbagi foto dan ceritanya di group whatsap/bbm. Foto-foto ketika dia singgah di sebuah kota/negara, ketika dia berkesempatan mampir di sebuah tempat tertentu, foto ketika dia menikmati suasana/makanan khas daerah yang disinggahi itu, menceritakan segala excitement sekaligus kekesalan yang dia rasakan pada kami. Intinya cerita tentang apapun. Nah, irinya saya bukan karena kenapa saya tidak jadi pramugari, tapi iri karena dia sebenarnya punya banyak cerita yang bisa ditulis di blog baik itu dalam bentuk foto atau tulisan, daripada cuma di-share di whatsap/bbm dengan kami. Pengalamannya pergi ke banyak negara dan berbagai kota/benua, bertemu dengan banyak orang, merasakan perubahan suasana dari satu tempat ke tempat yang lain, menikmati berbagai suguhan khas di sebuah kota/negara, merupakan sebuah pengalaman yang tidak semua orang berkesempatan mengalami.

Saya juga punya teman-teman yang sering terlibat dalam penyiapan sebuah acara/forum kegiatan internasional yang melibatkan para pemimpin negara. Buat saya itu juga menarik untuk diabadikan dalam sebuah tulisan, karena tidak semua orang bisa punya kesempatan mengelola sebuah kegiatan tingkat internasional, tidak semua bisa merasakan adrenaline rush ketika detik-detik penyelenggaraan acara sudah semakin dekat, tidak semua bisa merasakan bagaimana pusingnya mereka ketika ada masalah di lapangan dan bagaimana mereka harus segera mengambil keputusan supaya acara kembali berjalan normal.

Sebenarnya ada banyak topik yang bisa menjadi bahan tulisan di blog. Tidak harus berawal dengan kejadian-kejadian besar yang epic. Banyak hal sederhana dari keseharian kita pun bisa dijadikan tulisan di blog. Cuma kadang saya yang sering kurang peka menangkap sebuah ide untuk dijadikan topik tulisan, dan lebih sering beralasan, nantilah, belum ada ide nulis, nih. Sayangnya teman-teman saya yang punya banyak kejadian menarik tadi juga belum tertarik untuk mengabadikan semua kegiatannya itu ke dalam bentuk tulisan dengan alasan tidak ada waktu, sibuk, ribet, dan alasan aku nggak tahu harus mulai menulis dari mana.

Seperti halnya usia manusia yang punya batas, usia profesi pun ada batasnya. Kita tidak selamanya akan berada di posisi yang sama dan mengerjakan pekerjaan yang sama, ada saatnya kita mungkin berpindah tempat kerja, menjalani pekerjaan yang berbeda dengan sebelumnya, dan mengalami hal-hal baru lainnya. IMHO, sebuah blog/photoblog bisa jadi sarana untuk mendokumentasikan semua kegiatan kelak ketika kita sudah tidak lagi aktif terlibat dalam pekerjaan/kegiatan itu.

Sama seperti seorang teman yang mendokumentasikan semua proses hidupnya sejak dia masih single, menikah, hamil. detik-detik melahirkan, hingga akhirnya sekarang Si Kecil sudah bisa berlarian ke sana ke mari. Semua sengaja direkam rapi olehnya dalam bentuk tulisan. Alasannya:

Aku kan bukan public figur yang otobiografinya bisa dibaca oleh siapa saja, Devi. Salah satu tujuanku nulis di blog ya biar aku punya dokumentasi hidup. Biar nanti kalau anak-anakku sudah gede, sudah bisa baca, mereka bisa lebih tahu/kenal ibunya lewat blog. Mereka bisa baca gimana kehidupan ibunya sebelum mereka ada. Gimana kehidupan setelah kedua orang tua mereka menikah. Gimana kehidupan setelah mereka ada, dan apa saja perubahannya. Sederhana saja, aku pengen punya biografi online yang bisa dibaca sama anak-anakku kelak. Syukur-syukur kalau ternyata ada topik yang berguna buat pembaca yang lain. Itu juga kalau ada, hehehe…

Sama seperti dia, awal mula saya menulis di blog selain ingin menyalurkan kelebihan energi dan ide yang sering berlompatan di kepala, alasan lainnya karena ingin punya dokumentasi tentang apa yang terjadi di hidup saya, kegiatan apa saja yang pernah saya lakukan, dan apa saja yang pernah saya pikirkan di suatu waktu. Walaupun tidak semua hal sempat saya ingat dan bisa langsung saya tuangkan dalam bentuk tulisan, tapi inti mengapa saya menulis di blog adalah karena waktu tidak bisa ditarik ke belakang, dan otak punya kapasitas memori yang terbatas untuk menyimpan dan mengingat semua hal.

Ada juga yang menarik dari hasil ngobrol dengan seorang teman dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu,

Mbak, aku tuh sering baca blog kamu, dan tahu nggak, itu bikin aku menyesal. Menyesal kenapa aku nggak nulis sejak dulu. Ada banyak kejadian luar biasa dalam hidupku beberapa waktu ini baik dari segi pekerjaan atau pribadi. Tapi aku lebih sering melewatkan itu karena bingung sendiri, aku harus menulis topik yang mana dulu? Gimana cara mengawalinya? Lagi pula kejadiannya sudah terlanjur terlewat jauh.

Tidak ada kata terlambat asalkan kita mau. Kalau mau memulai menulis ya sudah menulis saja. Topik yang mana dulu? Ya mana saja yang paling diingat. Tidak ada aturan yang mengharuskan seseorang menulis di blog itu harus begini/begitu. Tidak ada peraturan yang mewajibkan sebuah postingan di blog itu reverse atau chronological. Mau menulis saat itu juga dan langsung di-publish, silakan. Atau mau di-back date biar tulisannya terkesan aktual sesuai dengan waktu kejadian? Monggo. Atau kalau sedang banyak ide dan ingin disimpan dulu untuk di-publish nanti (scheduled post)? Tidak ada yang melarang kok. Bebas!

And by the way, everything in life is writable about if you have the outgoing guts to do it, and the imagination to improvise. The worst enemy to creativity is self-doubt.

Sylvia Plath

 

 

[devieriana]

 

Ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

“Please DO NOT ban yourself!”

 Kalau ditanya kebodohan paling epic apa yang pernah kamu lakukan? Saya akan menjawab dengan lantang: “ngeban diri sendiri di blog!” \m/

Iya, ceritanya kemarin saya ngeronda di blog. Blog saya ini nggak tahu gimana awalnya kok bisa sampai banyak banget spamnya. Nah, biar nggak terlalu banyak spam yang masuk salah satunya ya saya harus rajin-rajin nengokin, dan nge-block-in IP-IP yang mencurigakan dan berpotensi spamming.

Kamis malam kemarin pas saya lagi semangat-semangatnya mantau aktivitas dan statistik di blog saya, nggak tahu saya lagi mikir apa waktu itu , tiba-tiba pas lihat ada satu IP yang mencurigakan dan dia lumayan banyak melakukan aktivitas di blog, langsung deh saya banned tanpa ba-bi-bu. Sukurin! >:p

Tapi sejurus kemudian gantian saya bengong, masih nggak ngeh gitu. Kok saya dapat notifikasi segede gaban obesitas di layar laptop saya begini, ya?

“Sorry, for security reason and prevent any spamming action to this blog, your IP xxx.xxx.xx.xx have been blocked permanently from this blog, please try again later or please contact our admin xxxxxxx@xxxxx.com – Thank You”

WHAT? Saya terblokir di blog saya sendiri? Trus saya diminta untuk menghubungi diri saya sendiri untuk di-open blokir? Lah, ini gimana ceritanya, sih? Wah, rese, jangan-jangan ada yang sengaja ngerjain, nih! 😐 Dalam hati saya mulai ngomel-ngomel dan panik. Sempat mau hubungi teman yang biasa bantu-bantu saya manage blog (kalau pas lagi ada trouble) buat open blokir.

Tapi sejurus kemudian tiba-tiba saya mulai ngeh dan cekikikan sendiri. Ya Allah, kebodohan apa yang telah saya perbuat malam Jumat ini… *tepok jidatnya Syahrini*. Akhirnya, dengan cekikikan saya pun login ke blog via smartphone dan membuka blokir blog saya sendiri. Yaaay! Berhasil! Berhasil! Berhasil! \:D/=D>

Lha iya, padahal dulu si teman saya ini pernah bilang ke saya begini lho:

Teman: “kamu sering-sering tengokin tuh blog kamu. Kalau ada IP-IP yang mencurigakan kamu langsung blokir aja…”

Saya: “iyaaaa…”

Teman: “tapi ingat, jangan sampai ngeblokir IP kamu sendiri :p”

Saya: “haiyah, ya enggaklah… kan di atas Ban Options itu tertera IP kita berapa, host name-nya apa, dll-nya. Trus lagian kan juga ada tulisannya: “Please DO NOT ban yourself” ;))”

Teman: “yap, pinter! :-bd”

Ealah, ternyata malam kemarin saya melakukan apa yang sudah diwanti-wanti sama si teman, padahal dulu saya ngotot nggak bakal ngeban diri sendiri. Ampuni aku, Ya Allah…. [-o<

Ih, ini mah namanya kualat, Kak! 😐

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Scribo Ergo Sum

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Ananta Toer

Scribo, Ergo Sum, aku menulis, maka aku ada. Sebuah kalimat yang diambil dari bahasa latin, yang merupakan pengembangan ungkapan Rene Descartes, Cogito Ergo Sum yang berarti aku berpikir maka aku ada.

Tergelitik oleh tweet seseorang yang mengatakan begini, kalau Anda bisa menulis, sekarang dan nanti, tulislah yang berguna dan mempunyai tujuan bukan untuk diri sendiri tapi orang lain, itu jauh lebih terhormat. Uhuk! Jadi merasa tertohok. Lha gimana, wong tulisan saya masih sesuka-suka saya, belum ada yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain.

Sebenarnya opini itu tidak sepenuhnya salah. Justru opini yang bagus karena memberikan motivasi menulis tentang hal-hal yang bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak melulu berisi tulisan tentang curhat yang menye-menye. Lebih jauh lagi, mungkin dia ingin menyampaikan pesan tentang think before publish.

Tapi, kalau kita melihat latar belakang, tujuan, dan motivasi seseorang menulis/membuat blog kan bermacam-macam. Ada yang menulis di blog karena ingin berbagi ilmu yang dimiliki, ingin menyalurkan hobby yang ditekuni, ada juga yang berawal dari sekadar iseng, cuma ingin menuliskan keseharian yang dilaluinya (semacam diary online), atau mungkin justru hanya ingin berbagi gambar/foto yang dibubuhi sedikit narasi (photoblog). Berawal dari motivasi yang berbeda-beda itu, IMHO, bukan berarti orang yang sekadar menulis untuk diri sendiri, yang kontennya tidak selalu bermanfaat untuk orang lain itu berarti tidak seberapa terhormat.

Kemampuan menulis setiap orang juga berbeda-beda. Ada yang bagus di jenis penulisan cerita fiksi, ada yang jago menulis puisi dan tulisan-tulisan metafora, ada yang bagus ketika menulis artikel, dengan tema tertentu, ada yang selalu bisa membuat pembacanya tertawa karena tulisan-tulisan yang kocak, dll. Nah, apakah lantas semua tulisan itu pasti bermanfaat bagi pembacanya?

Kalau saya, karena awalnya dulu bikin blog salah satunya untuk menyalurkan hobby menulis, jadi ya saya tulis saja apa yang saya ingin tulis. Temanya pun random. Bisa cerita tentang keluarga, teman, pekerjaan, dan pengalaman sehari-hari. Bahasa yang saya gunakan pun masih belepotan, tulisan saya lumayan ancur, wajar kalau tidak ada yang meninggalkan komentar karena mungkin tulisan saya tergolong tulisan absurd. Tapi tidak apa-apa, namanya juga masih belajar. Lagian juga tidak ada ceritanya orang bisa langsung expert. Seiring perkembangan waktu, dari hasil blog walking, dan baca sana-sini, pelan-pelan saya mendapat pencerahan juga. Intinya, semua pasti pernah mengalami masa-masa jahiliyah ketika pertama kali menulis.

Biarkan saja tulisan itu mengalir apa adanya. Dalam perkembangannya nanti pasti akan ada proses pembelajaran kok. Entah itu dari cara menemukan ide, cara menuangkan gagasan menjadi tulisan yang menarik, pemilihan diksi, dll. Semua berawal dari nol, tidak ada yang langsung mahir. Seperti kata Melinda Haynes, Forget all the rules. Forget about being published. Write for yourself.

Jadi kalau mau menulis ya menulis saja. Tidak perlu takut apakah nanti tulisan kita ada yang baca atau tidak, akan ada yang komen atau tidak, akan ada manfaatnya untuk orang lain atau tidak. Dibaca syukur, kalau ternyata ada manfaatnya dan menghibur pembaca anggap saja itu sebagai bonus. Hampir sama seperti kata Melinda Haynes di atas, ternyata  Cyril Connolly mengatakan hal yang hampir sama, Better to write for yourself and have no public, than to write for the public and have no self.

Btw, kalian paling suka menulis tentang apa?

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi diambil dari Posterous saya

Continue Reading
1 2 3 5