Balada Panitia CPNS (2)

job interview 1

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, instansi tempat saya bekerja juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi PNS. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, seleksi penerimaannya dilakukan secara online, jadi semua calon pelamar memasukkan berkas lamarannya melalui web.

Dari sekian ribu berkas lamaran yang masuk tentu saja tidak semua lolos seleksi. Ada banyak berkas lamaran yang kurang memenuhi syarat. Seperti misalnya pelamar yang sengaja memasukkan berkas lamaran padahal IPK yang dimiliki kurang memenuhi syarat. Atau, ada yang sengaja memanipulasi usia supaya memenuhi syarat; padahal usia yang diperbolehkan untuk melamar adalah 26-30 tahun, atau minimal sudah lulus D-3 sampai S-2. Di sinilah ketelitian panitia diuji. Bukan sekadar percaya dengan apa yang diinput pelamar tapi juga harus meneliti kesesuaian usia yang diinput dengan berkas lainnya. Hal lain yang menyebabkan tidak lolosnya pelamar di seleksi administrasi adalah akreditasi universitas yang tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan yaitu A/B. Ada lho yang status akreditasi universitasnya kedaluwarsa selang beberapa hari sebelum mahasiswa itu wisuda. Duh, sayang banget… :(. Andai saja dia lulus sebelum status akreditasinya kedaluwarsa, itu masih bisa kami pertimbangkan untuk lolos seleksi. Nah, ini juga bisa jadi catatan khusus bagi universitas-universitas yang status akreditasinya belum diperpanjang padahal kedaluwarsanya sudah lama. Nggak kasihan sama mahasiswanya? Hal lainnya yang membuat tidak lolosnya calon pelamar di seleksi administrasi adalah jurusan yang dilamar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan, misalnya: yang dilamar posisi Sekretaris, tapi latar belakang pendidikannya adalah seorang lulusan Tata Boga 🙁

Kalau di tahun sebelumnya Tes Kemampuan Dasar dilakukan secara tertulis dan serentak di seluruh Indonesia, tahun ini Kementerian PAN dan RB memberikan dua opsi tes: manual dan Computer Asissted Test. Instansi tempat saya bekerja memilih untuk menggunakan opsi kedua. Penyelenggaraan tesnya dilakukan pada tanggal 16 – 18 Oktober 2013 di Gedung CAT lantai I, Badan Kepegawaian Negara. Sistem ini menurut saya lebih transparan, karena seluruh peserta langsung bisa mengetahui berapa skor yang diperoleh secara real time di mana seluruh pergerakan nilainya ditampilkan melalui layar besar yang diletakkan di depan pintu masuk gedung tempat tes berlangsung.

Selama kurang lebih setengah bulan menunggu, akhirnya para peserta yang diumumkan lolos TKD berhak mengikuti tahap selanjutnya yaitu Tes Kompetensi Bidang dan wawancara substansi. Khusus untuk sesi wawancara substansi, selama 2 tahun berturut-turut saya selalu kebagian mendampingi para peserta wawancara di Gedung Utama. Tapi tahun ini cukup mengesankan buat saya. Karena selain wawancaranya berlangsung sehari penuh, bahkan di hari pertama interview berlangsung hingga pukul 8 malam, selain itu durasi wawancara untuk masing-masing peserta lumayan lama; minimal 35 menit, maksimal 1 jam. Pffiuh! *usap peluh*

Kalau pewawancara di ruangan lainnya semakin sore staminanya (mungkin) semakin menurun dan tingkat kekritisan pertanyaan substansinya juga sudah tidak setajam di jam-jam awal, kalau di Gedung Utama justru sebaliknya; semakin sore/malam para pewawancara (yang salah satunya adalah Pak Sekretaris Kementerian) malah semakin on fire, durasi wawancaranya semakin lama, terbukti ada yang diwawancara hingga 1 jam lamanya. Kalau saja saya tidak sempat ngobrol dengan mereka di ruang tunggu, saya tidak akan tahu kalau peserta terakhir sesi wawancara hari pertama itu harus pulang ke Yogyakarta malam itu juga. Demi menyelamatkan tiket kereta yang sudah dibeli itu, saya mengirim pesan ke atasan saya untuk mengingatkan para pewawancara itu supaya tidak mewawancara mereka terlalu lama, karena peserta terakhir adalah seorang perempuan yang harus pulang ke Yogyakarta naik kereta api pukul 21.00 wib. Alhamdulillah berhasil! 😀 Psst, sebenarnya sih ini bukan cuma buat mereka saja, buat saya juga kali, karena malam itu panitia CPNS yang tersisa di kantor tinggal saya dan dua orang teman saja… 😥

Keunikan lainnya ada di hari kedua sesi wawancara di Gedung Utama. Kalau di hari sebelumnya wawancara berlangsung hingga malam hari, hari kedua alhamdulillah selesai hingga pukul 15.30 wib saja. Itu juga ‘terselamatkan’ oleh jadwal rapat; kalau tidak ada jadwal rapat mungkin bisa lebih dari itu. Bedanya lagi, kalau di hari sebelumnya jumlah pewawancaranya ‘cuma’ 5 orang, di hari kedua jumlah pewawancaranya menjadi 7-8 orang. Kalah ya sidang skripsi/thesis? :D. Kesamaannya, tingkat semangatnya sama dengan hari sebelumnya, durasinya juga masih sama, dan pertanyaan yang bersifat jebakan juga banyak :D.

Nah, ada yang lucu nih. Untuk mencairkan ketegangan para peserta yang masih menunggu giliran di ruang tamu Sesmen, saya masuk ruangan menemani mereka untuk sekadar mengobrol ringan. Tak disangka, di sela obrolan itu tiba-tiba ada yang bilang begini:

“Mbak, aku tuh silent reader blognya Mbak :D”

Mendadak speechless. Bukan GR atau apa, baru kali ini saya bertemu dengan orang di luar komunitas blogger yang pernah saya temui, yang ternyata mengikuti dan membaca blog saya.

“Hah? Kok kamu sampai tahu blog aku segala? :-o”

“Iya, aku sering blog walking, trus kesasar ke blognya Mbak. Mbak namanya Mbak Devi Eriana, kan? Blog Mbak alamatnya devieriana.com, kan?

 

Hahahahaha, saya jadi terharu :lol:. Ih, bisa gitu, ya? Ternyata mereka memang suka blog walking, dan ndilalah ternyata salah satunya adalah blog saya. Apalagi sejak mereka memutuskan untuk mengikuti tes CPNS di tempat saya bekerja. Mungkin mereka berharap menemukan sedikit clue seperti apa sih lingkungan tempat saya bekerja itu, siapa tahu di blog ini mereka menemukan tips dan trik ikut seleksi CPNS. Padahal… nggak ada… :mrgreen:

Kalau soal blog sih saya ambil sisi positifnya sajalah ya, kalau memang isi blog ini ada yang berguna buat orang lain ya alhamdulillah, tapi kalau nggak ya nggak apa-apa. Lha wong memang tujuan utama menulis di sini juga cuma untuk menulis tentang hal-hal keseharian dan sebagai sarana rekreasi buat saya saja kok 😀

Buat adik-adik yang kemarin ikut proses seleksi CPNS di instansi tempat saya bekerja, kalau ternyata pekerjaan yang kalian lamar ini ternyata berjodoh dengan kalian, semoga semua dilancarkan ya. Tapi kalau memang belum berjodoh tahun ini kalian bisa coba lagi tahun depan selama usia kalian masih memenuhi syarat. Atau siapa tahu sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh lebih baik buat kalian di luar sana. Who knows, kan? 😉

Have a good luck! 😉

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Pilih mana?

career-choices-2

Di sebuah pagi, saya mengetik pesan di smartphone sambil sesekali menyesap secangkir teh poci di kantin,

“Bro, lagi di mana, Bro?”

“Hahaha, aku lagi di kementerian anu, lagi nunggu giliran :D”

“Giliran? Maksudnya kamu lagi ada kerjaan di sana?”

“Nunggu giliran buat ikut test CPNS, sesiku masih nanti, jam 09.40. Hihihik… Doain yak!”

Saya yang awalnya ingin menanyakan hal yang lain, jadi surprise sendiri. Bukan
apa-apa, selama ini saya mengenal dia sebagai sosok yang paling anti sama hal yang berbau tes CPNS-CPNS-an, di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya sama sekali tidak tergambar keinginan untuk menjadi seorang PNS. Pokoknya emoh ajalah. Nah, kalau tiba-tiba mendengar dia ikut test CPNS ya jelas heran. Ada angin apa kiranya sehingga dia tertarik untuk ikut tes CPNS?

Peserta ujian CPNS itu dari berbagai kalangan, kalau bukan fresh graduate, yang belum bekerja sama sekali, atau yang sudah bekerja. Motivasinya pun bermacam-macam, ada yang cuma iseng, ingin mencoba kemampuan/peruntungan, tapi banyak juga yang memang serius ingin cari kerja.

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dicurhati seorang teman via email. Dia mengaku sedang galau karena ‘terjebak’ dalam excitement akan diterima sebagai CPNS di salah satu kementerian (sudah sampai tahap interview user). Tapi uniknya di saat yang sama dia masih sangat nyaman dengan posisi dan lingkungan tempat dia bekerja sekarang. Bermula dari iseng dan sekadar ingin mengukur kemampuan diri sendiri secara rutin dia mengikuti tes CPNS selama 3 tahun berturut-turut. Hingga akhirnya tahun ini dia dinyatakan lolos seleksi Tes Kemampuan Dasar dan berhak ikut tahap selanjutnya. Melihat pengumuman itu mendadak dia galau sendiri; galau membayangkan bagaimana kalau setelah dijalani ternyata menyandang status sebagai PNS itu tidak sesuai dengan harapan dan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata menjadi PNS itu pekerjaannya jauh lebih membosankan dibandingkan dengan pekerjaannya sekarang; dan banyak lagi ‘bagaimana-bagaimana’ lainnya. Ya wajar sih, karena di dalam mindset-nya PNS masih identik dengan birokrasi yang ribet, mengurus apa-apa sulit, belum lagi dari segi materi dan budaya kerja yang menurut dia masih kalah jauh dari swasta.

Kita sederhanakan saja, sebenarnya semua pekerjaan itu pasti ada sisi positif dan negatifnya; tergantung dari sisi mana kita melihat, kan? Begitu juga dari segi tantangan kerja dan pendapatannya. Kalau orang Jawa bilang, “urip kuwi sawang sinawang”, cuma melihat kulit luarnya saja…
*benerin blangkon*

Tapi ada kalanya kita butuh move on ketika pekerjaan yang sekarang dirasakan kurang memberikan kenyamanan, atau kita butuh pengalaman yang jauh lebih menarik/menantang, atau kita butuh pengembangan karir yang lebih signifikan. Ya kenapa tidak? Mungkin ini saatnya kita mengajukan pengunduran diri. Banyak kok yang sudah enak kerja di swasta, malah resign dan jadi PNS atau berwiraswasta. Pun sebaliknya, ada yang awalnya jadi PNS lalu resign dan melamar kerja di perusahaan swasta/BUMN karena katanya lebih sesuai dengan jiwanya.

Pekerjaan itu seperti jodoh; cocok-cocokan. Awal mula saya menjadi PNS juga sempat stress sendiri karena harus merasakan perubahan yang sangat drastis; baik secara lingkungan, sistem kerja, gaji, budaya kerja, dan lain-lain. Soal pindah tempat kerja memang bukan hal baru buat saya, tapi karena kebetulan bidang pekerjaan yang saya isi sebelumnya masih saling berkorelasi jadi penyesuaiannya tidak terlalu sulit.

Soal cocok-cocokan tadi, kalau memang setelah dijalani ternyata pekerjaan itu dirasa kurang nyaman, kurang ada tantangannya, atau karirnya dirasa kurang berkembang, ya sudah, tinggal mengajukan surat pengunduran diri saja. Atau, kalau ternyata yang di dalam mindset kita kisarannya masih di besaran gaji, ya mungkin inilah saat yang tepat untuk berkarir di sektor swasta karena jelas lebih menjanjikan pendapatan yang lebih besar daripada menjadi PNS. Seperti yang pernah saya tulis di sini 😉

Jadi, gimana? Masih galau? 😀

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

“Isteri itu tiga…”

Ustadz WijayantoSetiap bulan, di kantor saya hampir selalu diadakan pengajian bulanan yang diperuntukkan bagi seluruh pegawai. Penceramahnya pun berganti-ganti, mulai dari yang belum dikenal sampai yang sudah terkenal.

Dari sekian banyak ustadz yang pernah didatangkan ke kantor, tidak semuanya bisa memikat hati saya. Halah! Maksudnya, terkait dengan communication skill mereka gitu, Kak. Kan masing-masing pendakwah punya gaya masing-masing; dan tentu saja subjektif sekali tingkat kemenarikannya. Ada yang gaya berdakwahnya lurus, lempeng, nggak ada becandanya sama sekali. Ada juga yang lucu sampai sepanjang acara kita tertawa terus (jadi sebenarnya yang diundang ini ustadz apa komedian?). Atau, ada juga yang gaya bicaranya ceplas-ceplos dan ‘tanpa rasa bersalah’. Ya, intinya semua pendakwah punya gaya dan ciri khas masing-masing; toh intinya tetap sama, berdakwah. Nah, entah mungkin karena saya cenderung makhluk visual dan auditory makanya saya lebih bisa ‘masuk’ ketika diceramahi dengan gaya dan kalimat-kalimat yang menarik :mrgreen:.

Tapi di antara mereka ada satu ustadz yang sejak awal kemunculannya di televisi sudah saya sukai karena gaya berceramahnya yang ‘segar’, gaya bahasa yang digunakan sederhana, lucu, dan tidak lebay. Beliau juga datang dari kalangan akademisi; seorang pengajar program Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan pengisi acara di beberapa stasiun televisi. Beliau adalah Ustadz Wijayanto.

Nah kok ya ndilalah hari Rabu (18/09) kemarin seolah dream come true buat saya, ustadz yang saya kagumi itu diundang untuk memberi tausiyah di kantor saya. Ndilalahnya lagi, kok ya pas saya yang jadi MC-nya. Ya walaupun nggak ngaruh, tapi… ya nggak apa-apa sih, saya cuma seneng aja! 😆

Ceramah yang seharusnya sudah dimulai sejak pukul 12.30 ternyata baru bisa dimulai sekitar pukul 13.30-an, karena kami harus menunggu beliau selesai syuting untuk salah satu program televisi yang syutingnya dilakukan di Taman Mini. Ah, tak apalah Pak, yang penting Bapak bisa datang :mrgreen:

Ceramah baru saja masuk sesi preambule, tapi lobby sudah digemuruhkan dengan gelak tawa. Beliau dengan ekspresi datar menceritakan sebab mengapa beliau sampai datang terlambat.

“Maaf, menunggu lama. Tadi saya syuting dulu, jadi ke sininya agak terlambat. Sebenarnya yang lama itu bukan syutingnya, tapi nunggunya. Nunggu mbak-mbak hijabers pada dandan. Itu jilbab diuwel-uwel, dilapis kain warna-warni, dipenitiin sana-sini, dibikin tali-tali, dikasih kembang, trus di ujung kepala dikasih gembok. Nah, itu… makanya lama. Maaf ya, Pak/Bu…”

Digembok? Emangnya pager kos-kosan? 😆

Dari situ mulai mengalir kalimat-kalimat lucu dari bibir ayah 3 orang putra itu. Saya yang duduk di balik sketsel di samping meja sound system pun tertawa sendiri. Secara fisik beliau sama sekali jauh dari kesan lucu, sosok lelaki Jawa berperawakan sedang, berpenampilan kalem dan sederhana, berbaju koko warna putih yang dipadu dengan peci hitam dan celana panjang warna gelap itu ternyata mampu membius perhatian semua yang hadir di sana. Pilihan kata-katanya sederhana, mudah dipahami, tidak semua berisi ayat-ayat Quran, tapi lebih ke keseharian. Mungkin karena latar belakang beliau yang seorang pendidik sehingga menerapkan hal yang sama seperti ketika beliau sedang mengajar mahasiswa-mahasiswanya. Ya kali… :p

Sesekali beliau menyelipkan guyonan segar yang tak disangka-sangka, seperti beberapa kalimat di bawah ini.

“Ibu-ibu suka poligami? | ENGGAAAK! | Kalau bapak-bapak, suka poligami? | SUKAAAA! | Sudah, jangan dibahas lagi. Karena sesungguhnya poligami itu bukan untuk dibahas, tapi untuk dilaksanakan!”

*pecah tawa se-lobby :lol:*

“Lha iya, ibu-ibu ini ya aneh, dulu Nabi pun waktu ditanya siapa yang paling diprioritaskan dan dihormati, beliau menjawab yang pertama adalah? | Ibumuuu… | Lalu? | Ibumuuu… | Lalu siapa lagi? | Ibumuuu… | Baru siapa? | Ayahmuu.. | Jadi, ibunya ada berapa? | Tigaaa… | Ayahnya? | Satuuu.. | Nah, kan? Ibu itu memang harus tiga, ayahnya satu aja cukup; karena ‘is-tri’ itu memang artinya kan 3. Kalau satu namanya ‘is one’. Dua itu ‘is two’. Kalau Eyang Subur itu ‘is seven’. Ibu ini gimana sih; udah nggak bisa matematika, nggak bisa bahasa Inggris pula. Kalau saya sih alhamdulillah, isteri saya tiga. Anaknya…”

*ngakak sambil up date twitter :lol:*

“Manusia itu kalau sudah mengalami ’10 B’ berarti dia harus segera tobat. Nah, ‘B’ apa saja itu? Buta/burem. Kalau Bapak/Ibu bbman aja milih font-nya ukuran 24, itu tandanya sudah harus berhati-hati. Budheg (tuli). Kalau Bapak/Ibu diajak ngomong sudah hah-heh-hah-heh, nanya berkali-kali, itu juga sudah harus waspada. Beser (sering ke toilet untuk buang air kecil), batuk-batuk, boyok (back pain, encok, pegel linu). Cirinya gampang, biasanya sering ditemui kalau pas lagi di pengajian, maunya sandaran di tembok melulu. Nah itu juga harus diwaspadai. Bau balsem/PPO/minyak kayu putih, nah itu apa lagi. Saya itu kalau ketemu sama orang yang bawaannya jaketan terus, kening kiri kanan ditempeli koyo, kalau tiap kali ketemu baunya minyak angin melulu udah pasti mikir, “wah, pasti udah ‘deket’ nih…” Trus, ‘B’ selanjutnya yaitu beruban, bingung (pikun), buyuten (gemetaran), dan bungkuk. Kalau bapak/ibu sudah banyak yang merasa begitu segeralah tobat…”

Sampai sini saja saya sudah terpingkal-pingkal; membayangkan bbm-an dengan font ukuran 24 itu handphone-nya segede apa coba? Talenan? :mrgreen: 😆

“Uban itu jangan dicabuti Pak/Bu, karena uban itu sebagai penanda. Jadi bagi yang sudah beruban… ya sudahlah, wabillahitaufiq wal hidayah, ya. Kemarin ada yang nanya ke saya, “Pak, gimana kalau ubannya saya semir aja?” Halah, ya pasti ketahuan tho ya, malaikat kok arep mbok apusi karo semir!”

Dikira malaikatnya dulu mantan kapster di Johny Andrean apa, ya?

“Bapak/ibu pasti punya panggilan untuk pasangan masing-masing, kan? Mulai sekarang berikan panggilan yang baik untuk pasangan masing-masing. Jangan mentang-mentang isterinya gemuk, terus bapak seenaknya manggil, “Mbrot! Sini, Mbrot!” Ya walaupun memang isteri bapak gemuk, tapi jangan terlalu jujur. Atau, mentang-mentang suami ibu kulitnya item, trus ibu kalau manggil suaminya, “Bleki, sini!””

Sampai sini saya ngakak tak tertolong. Bleki! Emangnya guguk? :mrgreen: 😆

“Saya itu ngapalin Qur’an butuh waktu lumayan lama; 6 tahun. Kalah jauhlah sama Bapak/Ibu. Kalau Bapak/Ibu kan ngapalinnya cepet, 3 bulan pasti sudah hafal… Qulhuallahu ahad sama Inna a’toina”

Pak! 😆

Di sepanjang acara yang berdurasi 1.5 jam itu kami bukan hanya mendapat tambahan pengetahuan tentang agama saja, tapi juga dibuat tergelak-gelak oleh celetukan-celetukan spontan ala beliau. Belum lagi melihat mimik muka beliau yang selalu tanpa ekspresi dan ‘tak bersalah’ itu membuat kami gemas sendiri.

Bahkan di ujung acara, sebelum doa bersama, beliau masih sempat melontarkan celetukan,

“Ini pengajian rutin bulanan? | Iyaa.. | Halah, kok kaya perempuan aja, bulanan. Hambok ya ceramah kaya gini ini diadakan 2 minggu sekali. Mau kan, saya ada di sini 2 minggu sekali?”

Tuh, kan? :mrgreen:

Ah, kalau saya sih mau-mau aja, Pak. Soalnya Bapak lucu… 😆

[devieriana]

 
foto dipinjam dari sini

Continue Reading

Serius pengen jadi PNS?

applicant job

Sejak pembukaan lowongan CPNS mulai digelar, ada banyak sekali perbincangan di social media seputar alasan mengapa ingin menjadi PNS. Geli sendiri baca berbagai alasannya. Ada yang bilang ingin jadi PNS biar kerjanya santai, ada juga yang bilang biar bisa (disambi) mengerjakan hal lainnya, atau biar dapat pensiun seumur hidup, dan ada juga lho yang bilang kepuasan pribadi. Jiyeee, serius kerja jadi PNS demi kepuasan pribadi? 😉

Terlepas dari apapun alasan seseorang ingin bekerja sebagai PNS, pun pendapat lainnya tentang positif negatifnya menjadi PNS, di setiap tahun begitu lowongan seleksi CPNS dibuka ada ribuan pelamar dari seluruh daerah yang mencoba mengisi posisi yang disediakan, walau harus bersaing dengan ribuan pelamar lainnya hanya untuk memperebutkan 1-2 posisi saja. Demi mengikuti seluruh prosedur yang dipersyaratkan, mereka pun rela datang ke lokasi tes walaupun itu jauh. Seperti misalnya di pelaksanaan seleksi CPNS tahun lalu, ada peserta yang datang dari Papua juga lho.

Bersama mereka yang berusaha di jalur ‘normal’, banyak juga yang berusaha mencari ‘kesempatan’ karena merasa punya jabatan, dan atau pernah punya jabatan. Mereka sama gigihnya berusaha mencari ‘celah’ agar bisa memasukkan anggota keluarganya menjadi PNS, mulai dari membawa-bawa nama orang tua, nama pejabat/Presiden zaman tahun kapan, bahkan ada lho yang sampai membawa berkas almarhum kakek/neneknya biar kami yakin bahwa mereka masih kerabat seorang pejabat. Sampai segitunya, ya? 🙂

Seperti halnya siang itu, ketika saya tengah berkutat dengan beberapa berkas pekerjaan, dari arah pintu masuk terlihat seorang perempuan setengah baya, membawa tas tangan, pakaiannya modis, berkerudung, dan wajahnya hanya disapu make up tipis. Cantik natural. Dia datang bersama seorang pria yang usianya sekitar dua puluhan, mungkin putranya.

Dengan sopan beliau menjelaskan maksud kedatangannya ingin bertemu dengan pimpinan saya, tapi berhubung Bapak sedang Diklatpim maka saya coba membantu menanyakan hal-hal standar yang mungkin bisa dibantu oleh pejabat lain yang berwenang. Ya biasalah, tamu kan sering begitu, kurang percaya dengan staf, inginnya bertemu langsung dengan pimpinan, padahal sebenarnya bisa ditangani oleh staf.

Beliau mulai mengeluarkan setumpuk berkas dari dalam amplop plastik berwarna pink. Beberapa di antara berkas itu warnanya sudah menguning; sepintas saya melihat ada goresan tanda tangan mantan Presiden Soeharto di sana. Awalnya saya masih belum ‘ngeh’ dengan maksud beliau menunjukkan sekian banyak berkas pada saya. Sampai akhirnya beliau mulai bercerita tentang siapa dia dan apa maksud kedatangannya ke kantor saya.

Sambil mendengarkan penjelasan ibu itu, selintas saya melirik ke tempat di mana seorang pria muda yang tadi datang bersama Ibu itu duduk. Dia tampak sedang sibuk memainkan smartphone-nya.

“Papa saya dulu pejabat di sini lho, Mbak. Beliau stafnya Pak Solihin G.P, dulu kantornya di Bina Graha. Oh, mungkin Mbak belum lahir ya? Dulu Papa saya itu orang kepercayaannya Bapak (Presiden). Mama saya apalagi, beliau itu aktif mengikuti semua kegiatan kantor ini. Saya juga dulunya penari dan MC di Istana, Mbak. Saya sering nari di depan Pak Harto dan Bu Tien. Makanya, saya ke sini mau mengajukan berkas lamaran CPNS untuk anak saya. Kan pasti ada dong jatah buat keluarga besar kantor ini. Iya, kan?”

Sampai di sini saya bengong. Di saat yang sama rasanya ingin menepuk pipi saya sendiri, supaya sadar kalau saya tidak sedang hidup di Orde Baru.

“Mohon maaf Bu, saat ini untuk seleksi dan pendaftaran CPNS semua dilakukan secara online. Jadi bukan lagi dengan melampirkan berkas fisik :)”

“Iya, saya tahu. Makanya, saya mau ketemu sama Pak Kepala Biro aja, saya mau ngobrol langsung sama beliau. Setahu saya sih ada lho instansi-instansi yang sengaja memberi ‘chance’ buat keluarga pegawai atau mantan pegawai untuk menjadi PNS di instansi yang sama. Apalagi Papa saya dulunya pejabat lho, Mbak…”

Kata-kata ‘pejabat’, ‘papa saya’, beserta sederet kegiatan dan jasa yang pernah dilakukan oleh keluarga beliau di masa lalu mulai berhamburan sekadar untuk meyakinkan saya bahwa beliau pernah sangat dekat dan punya ikatan yang kuat dengan instansi tempat saya bekerja, sehigga puteranya dianggap layak mendapatkan hak istimewa untuk menjadi PNS melalui ‘jalur khusus’.

“Ok, kalau cuma ikut tes mah anak saya pasti bisalah. Dia sudah biasa ikut tes-tes seleksi semacam itu. Yang penting kan ‘tahap setelah seleksi’ itu, kan? Kalau soal ‘itu’ sih saya yang akan bicara secara pribadi dengan Pak Karo. Trus, kalau mau daftar ke mana sih, Mbak?”

Di tengah ketertegunan saya melihat usaha gigih beliau, Ibu itu memanggil puteranya untuk mencatat website yang akan saya diktekan.

“Sini, Yang… Coba dicatat dulu alamat website-nya…”

“Aku udah tahu, Ma. Aku udah pernah cek, tapi belum ada infonya…”

Saya pun menjelaskan kalau memang info dan pendaftarannya belum dibuka. Tapi nanti kalau sudah ada infonya pasti akan di-upload di website yang bisa diakses oleh semua calon pelamar.

“Oh, gitu… Ya udah, syarat-syaratnya aja deh. Biasanya syaratnya apa aja sih? Biar nanti disiapkan sama anak saya…”

“Untuk persyaratan tahun ini kami belum ada informasi resminya, Bu. Karena memang belum ada informasi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Ini persyaratan yang tahun lalu ya, Bu. Usia pelamar maksimal 28 tahun, IPK minimal yang kami persyaratkan adalah 3,00, melampirkan scan transkrip nilai, dan ijazah terakhir. Itu saja. Selanjutnya nanti seluruh pelamar yang memenuhi syarat akan kami panggil untuk verifikasi berkas, dan….”

“Sebentar, sebentar… emang IPK minimalnya harus 3,00 ya? Wah…, berarti anak saya nggak bisa ikut tes, dong? IPK anak saya cuma 2,74. Eh, tapi… sebenarnya dia itu IPK-nya di atas 3,00 lho, Mbak. Kenapa IPK-nya jadi cuma segitu itu karena dia kena tipes. Bener lho, Mbak. Anak saya itu pinter, cuma karena sakit aja nilainya jadi jelek…”

Ibu itu berusaha meyakinkan saya bahwa sebenarnya putranya itu pintar, dan IPK yang tidak mencapai 3,00 itu bukan 100% ‘kesalahan’ putranya, tapi lebih dikarenakan kondisi kesehatan. Padahal sebenarnya tidak ada yang ‘salah’ dengan IPK 2,74 , namanya kemampuan orang kan beda-beda, karena saya pernah punya teman yang IPK-nya ‘nasakom’, alias Nilai (IPK) Satu Koma. Tapi demi menghormati beliau saya menanggapi secukupnya dengan mengangguk paham sambil tersenyum sopan.

Lalu mengalirlah cerita bahwa sebenarnya putranya sudah bekerja di salah satu firma hukum sebagai seorang Pengacara. Dalam hati saya heran, “lah, bukannya menjadi Pengacara itu sudah yang bagus, ya?” Alasan beliau mengusahakan agar putranya bisa bekerja sebagai PNS di instansi tempat saya bekerja karena almarhum kakeknya (ayah ibu itu) pernah bekerja sebagai staf kepercayaan di Istana, dan kebetulan ibu itu dulu juga pernah aktif sebagai penari dan MC di Istana. Jadi apa salahnya kalau sekarang pria muda yang berdiri tegap di sebelahnya ini meneruskan pekerjaan/karir yang sama dengan almarhum kakeknya. Saking speechless-nya, lagi-lagi saya cuma bisa tersenyum mafhum.

Ketika saya ceritakan ini pada sahabat saya dia cuma nyengir,

“I don’t want to prejudice, but she’s a good mom. Semoga pas waktunya anakku kerja I don’t have to do that. It’s a hard job for parents to make kids stand on his own…”

Saya selalu bilang ke junior-junior saya, bahwa bekerja itu tidak harus menjadi seorang pegawai negeri. Kalau memang tujuannya mencari gaji dan tunjangan yang besar solusinya bukan jadi PNS, tapi bekerjalah di swasta atau jadi pengusaha sekalian. Kalau soal menyambi sih, tergantung bisa-bisanya kita membagi waktu saja sih; dulu waktu saya masih bekerja di swasta juga bisa mengerjakan pekerjaan yang lain kok. Kalau hal-hal lain seputar stigma PNS sih saya sudah tidak terlalu kagetlah ya. Soal stigma itu masalah klise. Mengubah stigma itu tidak mudah, apalagi yang sudah tertanam bertahun-tahun. Jadi, soal stigma itu saya anggap cuma soal ‘sawang sinawang‘; soal perspektif saja.

Banyak lho PNS yang memutuskan untuk resign setelah menjalani karir sebagai PNS, dan memilih untuk bekerja sebagai pegawai swasta/BUMN karena setelah dijalani ternyata jiwa mereka sebenarnya bukan sebagai PNS.

Sesungguhnya esensi sebuah pekerjaan adalah ketika pekerjaan itu punya ‘nyawa’ bagi yang menjalaninya.

Jadi, serius masih minat jadi PNS? :p

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Balada 17 Agustusan

Dirgahayu RIAkhirnya, setelah sekian lama hibernasi nggak jelas, blog ini pun ada up date. Kebetulan di bulan Agustus ini ada beberapa kegiatan yang cukup menyita waktu dan tenaga, belum lagi mood menulis yang sedang labil, plus blog yang sempat kacau balau kemarin. Jadi, ya sudahlah ya, semakin drama dan komplekslah alasan ketidakapdetan blog ini 😐

Oh ya, mumpung masih bulan Syawal, semoga masih belum basi untuk memohon maaf lahir batin buat semua teman yang masih rajin blog walking ke blog saya. Mohon maaf kalau ada salah kata dalam kalimat di paragraf-paragraf blog saya. Mohon maaf juga kalau selama ini belum sempat berkunjung untuk melakukan blog walking ke blog kalian. Wis, pokoknya mohon dimaafkan, ya >:D<

Seperti biasa, menjelang 17 Agustus, ada semacam tradisi di kantor saya untuk menginap. Sebenarnya nggak wajib sih, tapi ini sebagai salah satu antisipasi buat yang rumahnya jauh biar nggak datang terlambat waktu upacara esok hari, mengingat ada banyaknya ruas jalan protokol yang akan ditutup menjelang penyelenggaraan upacara di Istana Merdeka.  Alhasil, malam itu saya sukses tidur melungker mirip anak kucing di sofa yang ada di ruangan Pak Deputi. Ya sudahlah, demi tugas negara ini, ya. Halah :p

Berbeda dengan penyelenggaraan upacara 17 Agustusan di tahun-tahun sebelumnya, upacara 17 Agustusan tahun ini tidak bertepatan dengan bulan puasa, jadi malam harinya sambil semuanya mempersiapkan segala pernak-pernik untuk upacara di pagi harinya, di malam harinya seluruh pegawai dihibur oleh penampilan dari beberapa grup band.

Indische - Gedung 1 - 16082013 (1)Untuk pertama kalinya band saya yang unyu itu diberi kesempatan tampil membawakan beberapa buah lagu. Kalau dibandingkan dengan band-band yang tampil di malam harinya, band kamilah yang paling junior dan membawakan genre musik yang berbeda dengan band lainnya. Ketika band lainnya memainkan lagu-lagu Top 40 dan rock, kami membawakan musik-musik yang lembut ala-ala musik-musik lounge. Ya masa semua mau tampil sama, nanti penontonnya bosen :p

Indische - Gedung 1 - 16082013 (2)Uniknya, selama menjelang perhelatan beberapa acara di bulan Agustus yang membutuhkan suara saya itu, saya malah terserang flu berat, batuk, dan pilek :(. Khawatir itu pasti, karena ya nggak lucu kalau sampai suara terdengar bindeng, sengau, atau parau mirip sinden yang kehabisan suara setelah menyanyi semalam suntuk. Yang paling mengkhawatirkan itu karena puncaknya adalah saya harus bertugas sebagai Pembaca UUD 1945 di upacara bendera 17 Agustus, pastinya butuh power suara lebih besar di sana. Tapi untunglah semua berjalan lancar, yang jelas saya merasa sangat terbantu dengan mikropon yang telah di-setting sedemikian rupa sehingga suara saya terdengar utuh ;)). Ah, andai saja mereka tahu betapa tersiksanya saya semalam suntuk karena batuk-batuk :((

Ajaibnya, seusai semua acara itu kok penyakit saya malah sembuh :((. Mungkin si pita suara ‘meminta’ saya untuk tidak terlalu memforsir dia, ya? Tapi alhamdulillah pita suara saya selama menjalankan tugas di beberapa acara kemarin cukup kooperatif, sehingga semua kekhawatiran saya itu tidak terjadi *elus-elus tenggorokan*.

Dirgahayu Indonesiaku. Semoga menjadi negara yang lebih maju, tingkat korupsinya semakin berkurang, dan bukan hanya akan menjadi negara yang mampu mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran terbuka saja, tapi juga mampu meningkatkan standar dan kualitas hidup orang banyak…

Aamiin…

[devieriana]

 

foto diambil dari instagram saya dan koleksi pribadi

Continue Reading
1 3 4 5 6 7 16