Business Etiquette

IMG-20130301-06376

Seperti janji saya di tulisan sebelumnya, saya akan melanjutkan cerita selama mengikuti Protocol Training Programme for Indonesia di Singapore beberapa waktu yang lalu. Postingan yang sedikit panjang, semoga tidak membosankan untuk dibaca, ya ;;)

———-

 

MISS SINGAPORE!

Di program diklat keprotokolan ini kami tidak hanya belajar tentang hal-hal teknis mengenai keprotokolan saja, tapi juga belajar tentang soft skills dan business etiquette. Materi ini sama pentingnya dengan materi teknis yang diajarkan di hari kedua sampai dengan hari keempat karena seorang protokol bukan harus menjadi seorang yang kaku; dia justru harus bisa menjadi seorang yang luwes dan bisa membawa diri; seorang yang menguasai konsep etika, baik etiket pergaulan di dalam dunia kerja maupun etiket pergaulan secara umum.

Training tentang Business Etiquette ini berlangsung selama 2 hari di Park Royal Hotel di daerah Kitchener Road, Singapore. Seperti yang sempat Uda Faizal ceritakan di saat menjemput kami dari Changi menuju hotel, materi Business Etiquette ini akan dibawakan oleh seorang mantan Miss Singapore!  Serentak kami berseru riuh! Padahal belum tahu yang akan mengajar kami nanti Miss Singapore tahun berapa ;)), yah… yang penting antusias saja dulu, karena ini bisa jadi pengalaman langka bisa bertemu dengan seorang mantan ratu kecantikan dari negara lain. Ah, jangankan mantan ratu kecantikan dari negara lain, lha wong sama mantan ratu kecantikan dari negara sendiri saja belum tentu bisa ketemu, kok :-j

Diklat hari itu dimulai tepat pukul 09.30 waktu Singapore dengan didahului acara foto formal bersama. Setelah acara sambutan dari perwakilan Ministry of Foreign Affair kami langsung masuk ke materi Business Etiquette yang ternyata beneran dibawakan oleh mantan Miss Singapore lho. Tapi tahun 1987, yaitu, Ms. Marion Nicole Teo! Yaaay! \:D/

marion teo
Marion Nicole Teo

Awalnya saya belum sadar kalau perempuan tinggi semampai yang tadi sempat bicara dengan liaison officer kami itu adalah calon trainer yang akan mengajar kami selama 2 hari ke depan; saya juga belum ngeh kalau dialah yang dimaksud oleh Uda Faizal sebagai Miss Singapore itu. Baru sadar kalau Marion —demikian kami memanggil— adalah mantan Miss Singapore setelah dia memperkenalkan diri, walaupun tanpa cerita dengan kalimat eksplisit, “saya adalah Miss Singapore tahun 1987”, tapi dari detail cerita yang sempat dia share di depan kelas sudah membuat kami tahu bahwa yang berdiri di depan kami ini adalah sosok yang diceritakan oleh Uda Faizal kemarin.

———-

FIRST IMPRESSION

Marion membuka slide-nya dengan kalimat ini:

“You never get a second chance to make a first impression ”
– Will Rogers –

Marion: “It is only 10 seconds for people to form an opinion of  you. This opinion stays in their mind, and you rarely get a second chance to change it; most of the time you haven’t even said a full sentence…”

Kesan pertama itulah adalah yang akan menjadi hal yang paling diingat pertama kali. Ketika kita bertemu dengan seseorang, kita memiliki kurang lebih 5 menit untuk membangun hubungan yang positif dengan orang tersebut. Tapi bagian yang memiliki pengaruh 4x lebih besar untuk memproyeksikan diri kita di depan orang lain adalah komunikasi yang berasal dari bahasa nonverbal (body language). Dalam hal ini eye contact, body movement, cara bersalaman yang baik, dan cara bertukar kartu nama yang benar, memegang kunci keberhasilan pembentukan first impression.

Lalu, bahasa nonverbal apa sajakah yang bisa mempengaruhi first impression itu? Ada yang dinamakan “The Rule of Ten”:

1. First 10 words, adalah 10 kata pertama yang menunjukkan penghargaan kita kepada orang lain;
2. Top 10 factors, lebih ke tampilan fisik, seperti misalnya tatanan rambut yang sesuai dengan bentuk wajah, kondisi kulit yang sehat dan terawat,penggunaan make up yang sesuai dengan situasi dan kondisi, senyum yang tulus dan tidak dibuat-buat, gigi yang terawat, confident shoulders (bahu yang tegak, tidak membungkuk), kerah baju yang bersih, dan penggunaan aksesoris yang sesuai;
3. Top bottom 10 factors, meliputi tampilan bagian bawah kita, contohnya sepatu yang bersih dan tersemir, pemilihan sepatu yang sesuai (sepatu berujung lancip membuat kesan tinggi), pemakaian kaos kaki dengan warna yang sesuai (terutama untuk pria), kerapian kuku kaki (terutama untuk perempuan yang menggunakan sepatu dengan model peep-toe shoes), stocking yang dipakai tidak sobek/bergaris/berlubang, celana dengan garis setrika yang rapi (iron fold), dll. Untuk perempuan, umumnya warna sepatu menyesuaikan dengan warna tas, sedangkan untuk laki-laki, warna sepatu bisa menyesuaikan dengan warna belt.
4. Last 10 minutes of  interactions, atau percakapan penutup; ini juga penting dalam membentuk image yang positif. Usahakan kesan terakhir inilah yang akan menjadi lasting impression 😉

———-

 

PERKENALAN

Dalam perkenalan, tentu kurang afdol kalau tidak bersalaman, kan? Nah, cara bersalaman yang ideal tentu bukan dengan cara meremas tangan lawan bicara terlalu keras, atau terlalu ‘lembek’ sehingga terkesan kurang antusias, atau durasi bersalaman yang terlalu lama (ceritanya lupa melepas tangan lawan bicara gitu ;))). Bersalamanlah secara wajar,  ayun tangan lawan bicara maksimal 2-3 kali. Di acara kenegaraan, sering kali kita melihat 2 orang kepala negara yang  bersalaman dengan mengayun tangan agak lama; hal ini sengaja dilakukan untuk kepentingan pemotretan/dokumentasi.

Saya juga baru tahu kalau ternyata ada jarak ideal dalam bersalaman. Jika bersalaman dengan sesama laki-laki, jaraknya adalah kurang lebih 1 lengan. Jika bersalaman antara lelaki dan perempuan jaraknya kurang lebih 1.5 lengan. Jika bersalaman antarperempuan jaraknya boleh lebih dekat.

Cara penyebutan nama pun diatur secara formal dan non formal. Untuk penyebutan nama secara formal kita bisa menyebut last name orang tersebut, misalnya Ms. Teo. Tapi kalau nonformal kita boleh menyebut nama depan orang tersebut, misalnya Ms. Marion. Kalau di Indonesia aturan ini tidak terlalu berlaku, kebanyakan kita menyebut seseorang dengan nama depannya karena kita tidak memberlakukan first name atau last name, kecuali dalam pergaulan internasional

DSCN0301
Business Etiquette training

Soal serah terima kartu nama pun ada etikanya. Name card holder sebaiknya dibawa di tangan (kiri), bukan di saku celana. Kalaupun memang harus ditaruh di saku, tempatkanlah di saku kemeja/jas, karena ada kultur di negara tertentu yang kurang suka jika kartu nama dikeluarkan dari dalam saku celana.

Setelah menerima kartu nama jangan lupa untuk mengulang nama si pemberi kartu nama. Serahkan kartu nama dengan menggunakan 2 tangan; wajah kartu nama menghadap si penerima (supaya memudahkan si penerima membaca kartu nama kita). Jangan menuliskan apapun di balik kartu nama yang diberikan oleh orang lain, jika memang harus menulis suatu info tentang orang tersebut tulislah di kertas lain, atau biarkan si pemberi kartu nama itu yang menuliskan additional info tentang dirinya.

Marion: “di setiap pertemuan formal/nonformal, biasanya saya selalu membawa sebuah kertas kecil seukuran kartu nama, to write down whatever I think is important; ini untuk mencegah saya menulis apapun di balik kartu nama orang lain, kecuali dengan seizin pemilik kartu nama.”

—–

TABLE MANNERS

DSCN0315
table manner

Di diklat Business Etiquette yang berlangsung selama 2 hari penuh ini kami banyak belajar tentang etika secara khusus dan umum. Ada yang unik, ternyata di Singapore jika ada yang bertanya, “have you eaten?” kita harus menjawab, “yes, thank you”, karena kalau kita menjawab dengan “no, not yet” pasti dipikir kita minta dibelikan makan ;))

Ada banyak up date informasi yang saya peroleh, salah satunya tentang  dining etiquette  yang ternyata sudah banyak berubah dengan dibandingkan dengan pelatihan table manner yang diadakan di Hotel Mulia Senayan 2 tahun yang lalu. Di Asia, kita tidak harus mengikuti tata cara makan yang sesaklek western style; kita boleh memodifikasi tata cara makan menyesuaikan dengan kultur orang Asia.

—–

COLOURS MANAGEMENT & FASHION SENSE

Hampir semua yang diajarkan oleh Marion semuanya menarik, tapi yang paling menarik yaitu Colours Management (padu padan warna) dan Fashion Sense (gaya berbusana). Di materi ini kami belajar tentang bagaimana cara memadu padan busana dengan warna yang sesuai, mengukur body profile (proporsi tubuh, panjang leher, mengenali  bentuk wajah, dan bentuk bahu). Di sini kami juga diajarkan tentang Illusion Dressing (bagaimana memilih busana sehingga terlihat badan terlihat lebih ideal, lebih tinggi, dan lebih langsing).

color management 1

color management
warm colours and cool colours

Soal pemilihan warna jas, semakin gelap warna setelan jas itu, semakin formal pulalah tampilannya. Setelan jas abu-abu lebih banyak digunakan sebagai setelan jas kerja. Sedangkan warna setelan jas biru tua biasanya dipakai untuk setelan pagi/siang hari, atau sebagai setelan jas nonformal di malam hari. Untuk pakaian resmi, setelan jas warna hitam masih merupakan pilihan terbaik :-bd.

single breasted suit
Single Breasted Suit (kancing paling bawah selalu dibiarkan terbuka)

Ada up date yang saya baru tahu seputar etika pemakaian jas. Sejauh yang saya ketahui,  jika jas itu berbentuk Single Breasted (seperti foto di atas, bagian depan jas jenis ini bertemu di bagian tengah, jumlah kancingnya bervariasi bisa dua atau tiga kancing) tutuplah kancing paling atas untuk jas berkancing dua, dan dua teratas bila memiliki tiga kancing. Posisi kancing jas paling bawah harus selalu dalam keadaan terbuka. Setahu saya itu merupakan etika umum penggunaan jas. Bila seseorang membuka kancing jasnya paling bawah pertanda dia paham cara memakai jas yang benar, karena dengan melepas kancing paling bawah tampilan jas akan tetap terlihat baik ketika tangan dimasukkan ke dalam saku  celana. Nah, kemarin ketika saya tanyakan itu kepada Marion, dia menjawab hal yang sebaliknya; mengancingkan seluruh kancing jas saat posisi berdiri itu tidak masalah, karena tidak ada aturan baku yang mengatur tentang itu.

Hmmm… jadi galau :-??

—–

“Fashion is a reflection of your taste. Wear to suit who you are, what you do, and your age.”
@};-

 

[devieriana]

foto: koleksi pribadi dan salah satunya dipinjam dari sini

Continue Reading

Hello, Singapore!

Ministry of Foreign Affair Singapore

Hmm, kayanya saya harus bersih-bersih sarang laba-laba dulu, ya. Kelamaan nggak posting blog, Kak, hampir sebulan penuh… #-o

——————–

Ah ya, beberapa hari yang lalu (tepatnya mulai tanggal 24 Februari – 2 Maret 2013) saya berkesempatan mengikuti diklat keprotokolan di Singapore. Diklat ini merupakan lanjutan dari diklat keprotokolan yang sudah dilaksanakan tahun sebelumnya di Pusdiklat Sekretariat Negara. Kebetulan yang terpilih mengikuti diklat ini sebanyak 14 orang, terdiri dari 11 orang dari Kementerian Sekretariat Negara, 2  orang dari Arsip Negara Republik Indonesia, dan 1 orang dari Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno. Diklat yang bertajuk Protocol Training Programme for Indonesia ini diselenggarakan oleh Ministry of Foreign Affairs Singapore  (MFA) bekerja sama dengan Pusdiklat Sekretariat Negara selaku penyelenggara Diklat Keprotokolan di Indonesia.

Hari Minggu (24 Februari) siang, Garuda Indonesia membawa kami dalam penerbangan selama kurang lebih 1.5 jam menuju negara bersimbol Merlion itu. Sesampai di Changi kami sudah langsung dijemput oleh Liaison Officer dari MFA Singapore, seorang pria bertubuh tambun yang ramah, jenaka, dan fasih berbahasa Indonesia, yang belakangan lebih akrab kami panggil Uda Faizal. Kok seperti panggilan orang Indonesia? Iya, karena ibunya kalau tidak salah orang Indonesia, jadi di separuh tubuhnya mengalir darah Indonesia.

group discussion
group discussion

Selama di Singapore kami menginap di Landmark Village, sebuah hotel yang berdiri di kawasan Victoria Street, yang dekat dengan  Bugis Market, stasiun MRT, dan Arab Street. Hotel yang strategis, karena memberikan kami kemudahan akses ke mana-mana secara cepat, selain itu di sana lebih mudah ditemukan makanan halal karena dekat dengan Arab Street. Alhasil beberapa kali kami makan nasi Padang, nasi Briyani, dan martabak ;))

Kalau di dunia bisnis kita mengenal istilah Business Etiquette, kalau di pemerintahan kita mengenal istilah Protocol. Kenapa sih ada protokol-protokolan segala?

Protocol is a set of rules prescribing good manners in official life and in ceremonies involving governments and nations and their representatives. Protocol is a recognised system of international courtesy. Protocol observes good manners and procedures aimed at making your superior and guests “look good”

Jadi antara manner dan protocol itu berhubungan erat karena keduanya sama-sama dalam core yang sama yaitu etika, yang ditinjau dari dua sisi yang berbeda. Bedanya, kalau di dunia bisnis, manners/etika yang kita gunakan bisa diaplikasikan jauh lebih luwes, sedangkan di dunia pemerintahan, penerapan manner-nya disebut dengan  protocol; penerapannya jauh lebih strict karena lebih menekankan pada perilaku yang baik dan sesuai dengan prosedur, yang bertujuan agar pimpinan kita dan tamu negara looks good.

mr heng
Mr. Heng, instruktur di MFA

Training yang semula kami bayangkan akan berlangsung serius karena sebagian besar pengajarnya adalah pejabat-pejabat Kemlu Singapore itu ternyata justru menjadi ajang diskusi dan studi banding yang menarik tentang keprotokolan Indonesia dan Singapore. Jika dibandingkan dengan keprotokolan di Indonesia, Singapore menganut sistem keprotokolan yang jauh lebih sederhana. Selain karena negaranya tidak sebesar Indonesia, juga adanya alasan tersendiri mengapa mereka memberlakukan sistem keprotokolan yang lebih simple dibanding negara lainnya.

Dalam sebuah kesempatan jamuan makan siang bersama mereka di Stamford Hotel, saya mengobrol dengan salah satu protokol di sana, mereka menyebutkan jumlah tim protokol di Kementerian Luar Negeri Singapore hanya 20 orang; itu pun sudah all in one; artinya mereka melayani keprotokolan untuk Presiden, Perdana Menteri, para menteri, sekaligus para pejabat di sana. Berbeda dengan di Indonesia yang tim protokolnya yang jumlahnya jauh lebih banyak. Ada tim keprotokolan khusus Kepresidenan, yang terdiri dari tim advance, main group, dan Paspampres. Begitu pun di Sekretariat Wakil Presiden, ada tim keprotokolan sendiri. Demikian pula halnya dengan para menteri; masing-masing punya tim keprotokolan di kementerian mereka masing-masing.

slides
seating plans for functions

Anggota tim protokol di Singapore hampir semuanya adalah PNS Kementerian Luar Negeri, sedangkan di Indonesia selain PNS, sebagian berasal dari militer. Oh ya, jangan membayangkan busana yang mereka gunakan sehari-hari sama seperti seragam PNS di Indonesia, ya. Busana mereka jauh lebih casual. Bahkan di hari terakhir kami diklat di sana, kami sempat diajar oleh instruktur yang menggunakan busana model you can see, lho 😉 *uhuk! batuk rejan*. Sampai-sampai team leader kami berbisik pada saya, “Mbak, hadeeuh… mendadak pusing nih gue :|”  :))

Sempat bertanya-tanya juga mengapa keprotokolan mereka jauh lebih simple dibandingkan dengan keprotokolan di Indonesia. Jawabannya ternyata semua bermula dari PM Lee Kuan Yew yang dari dulu kurang menyukai tatanan protokoler yang (menurut beliau) serbakaku. Beliau lebih menyukai hal-hal yang praktis. Sejak saat itulah seluruh keprotokolan yang berlaku di Singapore dijalankan dengan aturan yang sangat simple. Tetapi sesederhana-sederhananya keprotokolan ala Singapore mereka tetap memperhatikan kaidah dan tatanan keprotokolan yang berlaku secara internasional, artinya mereka tidak lantas membuat aturan sendiri yang berlawanan dengan tatanan keprotokolan yang berlaku secara internasional. Ya beda-beda sedikit, tapi masih tolerable-lah 😉

DSCN0268
motorcade officer

Selain adanya ‘keunikan’ di Photograph Standing Positions masih ada lagi uniknya. Di Singapore, tim Patwal untuk motorcade ternyata dikomandoi oleh seorang perempuan cantik berperawakan kecil, yang sepintas lebih mirip anggota girl band ketimbang tim protokol apalagi seorang komandan motorcade. Tapi jangan salah, di balik perawakan kecilnya itu ternyata dia ‘gahar’ juga ketika bertugas di lapangan. Tercetus sebuah pertanyaan kami kepadanya tentang bagaimana kalau misalnya jika ada seorang kepala negara yang menginginkan patroli pengawalan selama mereka di Singapore menggunakan standard pengaturan motorcade ala negara mereka? Dengan tegas dia menjawab dalam bahasa Inggris yang sangat fasih:

“I dont care who you are, how old you are, and what’s your position,  selama kalian ada di Singapore, dan itu berhubungan dengan patroli pengawalan, it becomes my responsibility. Kalau seandainya ada protokol yang insist ingin menggunakan standard motorcade sesuai dengan yang berlaku di negaranya, it’s easy for me … I will not run that motorcade! B-)”

Keren, kan? Tapi bagus sih, berarti dia mewakili protokol Kemlu punya prinsip dan standard. Ya iyalah, masa tamu mau bikin aturan sendiri di negara orang? 😕 Ah, coba di Indonesia ada satu  aja mbak yang kaya gini 😕

Oleh Kementerian Luar Negeri Singapore kami tidak hanya diberi materi yang bermanfaat sebagai bahan perbandingan di bidang keprotokolan, juga yang tak kalah pentingnya kami dijamu secara layak sehingga jarum timbangan pelan namun pasti bergeser ke kanan, dan yang paling ‘hore’ adalah kami diajak ke Night Safari ! Ternyata program acaranya  kurang lebih sama dengan yang di Taman Safari Indonesia kok. Lumayan makin bikin mampet hidung saya, karena kebetulan memang sedang flu berat, berangkatnya pun waktu hujan, acaranya di malam hari (namanya juga Night Safari), dan berangkat+pulangnya naik bus ber-AC yang superdingin :-&

VIP Complex Changi
VIP Complex Changi Airport

Ah ya, bukan hanya itu, kami juga diberikan kesempatan untuk masuk dalam Changi VIP Complex. Sebuah kompleks bandara VIP lengkap dengan ruang tunggu/inap kelas hotel bintang 5 yang ada di Changi International Airport, yang digunakan sebagai ruang tunggu sementara dan tempat pendaratan pesawat kepala negara atau kepala pemerintahan. Selain itu, Changi VIP Complex bisa digunakan on case to case jika ada permohonan dari kedutaan masing-masing negara. Jadi intinya Changi punya bandara tersendiri yang bisa digunakan untuk pendaratan eksklusif tamu negara (kepala negara/kepala pemerintahan), tanpa mengganggu jadwal penerbangan reguler di Changi Airport.

Ruang Tunggu VIP Complex Changi
waiting room at VIP Complex Changi Airport
Ruang Tunggu VIP Complex Changi (2)
suite room at VIP Complex Changi Airport

Secara keseluruhan diklat kemarin berjalan lancar dan menyenangkan. Lebih banyak waktu diklatnya sih ketimbang jalan-jalannya. Kalau sempat jalan-jalan itu ya karena kita sempat-sempatkan, sekalian beli makan malam sih biasanya. Bersyukur karena teman-teman tidak ada satupun yang jaim, hampir semuanya lucu. Kalau di dunia keprotokolan yang sbenarnya penggunaan honorific ‘Her Royal Highness’, ‘Her Majesty’, dan berbagai salutation penghormatan yang hanya layak dipergunakan untuk kepala negara/pemerintahan, tapi di sana kami justru menggunakannya dengan semena-mena, misalnya untuk menyebut diri sendiri atau teman yang lain ;)). Bahkan kami juga suka mempraktikkan pengawalan untuk ‘ibu negara’ dengan berpura-pura sebagai Paspampres sambil berjalan menuju stasiun MRT. Ibu negaranya siapa? Ya salah satu teman kami juga yang ngomongnya suka ceplas-ceplos dan kocak banget. Kenapa dia yang kita jadikan ‘ibu negara’? Karena dia yang paling sering ke Singapore, jadi dia yang paling tahu jalan. Kita angkat sebagai ‘ibu negara’ lebih karena kita butuh dia sebagai guide selama di Singapore :)) *sungkem dulu ke Mbak sesepuh*

Kalau boleh dibilang, diklat di sana selama 5 hari itu kurang banget. Bagaimana tidak, ketika kita sudah mulai berhasil membangun chemistry antara kita dengan Singapore, eh kitanya malah pulang :((

Ah ya, cerita lainnya akan saya share di postingan berikutnya saja, ya. Karena kalau dijadikan satu di sini kepanjangan, Kak 😉

[devieriana]

foto: koleksi pribadi

Continue Reading

“Kalau ada celah…”

Beberapa hari menjelang ujian CPNS, saya menerima beberapa sms/telepon dari beberapa pihak yang ingin mencari “celah”, berusaha mencari jalur alternatif yang memungkinkan mereka/sanak saudara mereka bisa lolos tes CPNS. Ada yang sekadar bertanya, tapi ada juga yang ngotot keukeuh ingin dibantu. Lah, kenapa saya yang jadi sasaran permintaan bantuan sih? Saya ini cuma staf biasa, yang tidak punya akses apa-apa. Tapi ya namanya juga usaha, siapapun yang dianggap punya akses bisa jadi sasaran pencarian celah, kan? Intinya mereka ingin mendapatkan jaminan kepastian akan diterima sebagai PNS.

Ada cerita seru di balik lobby-melobby ini. Ada seseorang yang menelepon saya lumayan lama, inti tujuannya untuk mencari “celah” (padahal jelas-jelas saya memang tidak punya kewenangan apa-apa). Lagi pula sistem penerimaan CPNS yang sekarang berbeda dengan sistem tahun-tahun sebelumnya. Penerimaan CPNS tahun ini dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, dan pengelolanya bukan lagi kementerian penyelenggara, melainkan konsorsium 10 perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia. Kementerian hanyalah sebagai pihak penyelenggara seleksi CPNS, tapi bukan yang membuat soal, bukan yang memeriksa hasil test, dan bukan yang menentukan hasil tesnya. Semua proses rekrutmen itu akan dilakukan oleh konsorsium berdasarkan passing grade yang sudah disepakati secara nasional. Jadi kemungkinan untuk masuk melalui jalur instan sangat kecil karena kementerian tidak punya hak untuk menentukan apakah Si A, B, C, berhak lolos ujian/tidak.

Bagi saya orang-orang seperti mereka ini unik. Kenapa? Ya mereka adalah sebagian kecil manusia yang berorientasi pada hasil akhir tanpa mau menikmati proses menuju hasil akhir itu. Kalau mereka sudah berniat ikut ujian CPNS ya kenapa tidak diikuti saja prosedurnya secara wajar? Kalau memang sudah rezeki, nggak akan ke mana, kok. Pokoknya just do your best, let God do the rest aja deh 😀

Di antara yang berusaha mencari celah itu ada yang sampai ngotot begini… :

“Tolonglah Vi, Tante ini dibantu… Itu lho, Si A, anaknya Pak X itu kan pengen banget bisa kerja di Setneg. Pak X juga pengen anaknya kerja kaya kamu, tolonglah Tante dibantu. Kasih tahu kemana Tante harus melobby? Ketemu siapa, di bagian apa? Pak X siap menyediakan sarana dan prasarana apapun yang dibutuhkan biar anaknya bisa diterima di Setneg. Tolong ya, Vi. Pokoknya kalau ada info celah sekecil apapun, kamu kasih tahu Tante, ya… Tante minta tolong banget!”

Ibarat hacker yang mencari celah pada sebuah sistem keamanan pada komputer, Si Tante mendekati saya secara intens dengan iming-iming “sarana dan prasarana”. Perlu diketahui, “Pak X” ini adalah seorang mantan kepala daerah. Sewaktu masih menjabat mungkin dia sudah terbiasa dengan “koneksi”, plus “penyediaan sarana dan prasarana” untuk melancarkan urusannya. Jadi kalau ada istilah “sarana dan prasarana” itu semacam kode yang kurang lebih artinya “kami harus membayar berapa biar urusan kami lancar?” Bahkan awalnya isteri Pak X rencananya mau bertemu saya untuk membicarakan kemungkinan anaknya bisa diterima atau tidak. Hadeeh… 😐

Bukan sok idealis, tapi memang saya tidak bisa bantu. Selain saya tidak mau dibeli, sistem juga tidak memungkinkan adanya praktik semacam itu. Teringat dengan obrolah dengan seorang teman yang diambil dari quotes film Kita versus Korupsi: “rumahmu adalah kamu, kalau kamu tidak jujur di luar, di rumahmu pasti lebih dari itu.”

Bahkan ada seseorang yang jauh-jauh dari Lampung ke kantor saya untuk sekadar menanyakan apakah ada “celah” yang memungkinkan keponakannya bisa diterima di kantor saya tanpa harus susah payah ikut ujian. “Ya kalau pun harus ujian nggak apa-apalah, Mbak. Tapi setidaknya keponakan saya itu ada jaminan pasti diterima di sini gitu, Mbak. Saya juga PNS di Pemprov Bangka Belitung, kok…” Lha terus kalau Bapak juga jadi PNS, kenapa keponakannya nggak dimasukin ke kantor Bapak aja? 😐

Dalam sebuah kesempatan saya sempat share cerita-cerita itu ke salah satu rekan di kantor. Ternyata dia juga punya cerita yang nyaris sama. “Aku juga terima request-request kaya gitu. Aku bilang aja, “siap, nanti saya monitor” biar yang nitip seneng. Tapi yo cuma tak monitor thok, emangnya mau aku apain? ;))”, tuturnya sambil terkekeh.

Paradoks, di satu sisi PNS kerap mendapatkan kritikan pedas yang berhubungan dengan kinerja PNS, tapi di giliran pas ada pembukaan lowongan CPNS, jumlah peminat/pelamar yang masuk hingga puluhan ribu padahal posisi yang dibuka cuma ratusan bahkan cuma puluhan formasi saja. Kemungkinan diterimanya juga tidak terlalu besar, tergantung jumlah formasi yang dibutuhkan dan jumlah pelamar yang masuk. Belum lagi kalau ada yang berhasil masuk jadi PNS pasti ada pertanyaan synical, “kamu punya kenalan siapa di dalam?” atau “kamu bayar berapa bisa masuk jadi PNS di kementerian anu?”

Seorang teman pernah pernah bilang begini, “cari pekerjaan itu kaya cari jodoh. Pilih pekerjaan yang sesuai dengan hatimu, minatmu. Kamu nggak perlu memaksakan untuk menjadi seseorang dengan profesi tertentu kalau pada kenyataannya kamu nggak enjoy, kamu tersiksa, dan kamu terpaksa. Kan kamu yang menjalani pekerjaan itu. Jadi PNS bukan jaminan kamu akan sejahtera, begitu juga dengan menjadi pegawai swasta. Mau jadi PNS, swasta, atau punya usaha sendiri sekali pun kalau kamu nggak menikmati pekerjaanmu, nggak pinter mengolah pendapatanmu ya sama aja, jatuhnya bakal boring-boring juga, bangkrit-bangkrut juga, kere-kere juga…” Saya tertawa sekaligus mengiyakan dalam hati 😀

Jadi, apapun pekerjaan kita, dinikmati dan disyukuri saja, insyaallah berkah. Seperti syair lagu D’Massive, “syukuri Alphard yang ada, hidup adalah anugerah”

Ya iyalah… lha wong Alphard :)) *bukan postingan berbayar!*

 

[devieriana]

 

Foto: dokumentasi pribadi

 

Continue Reading

Serba-serbi CPNS

 Sejak beberapa bulan yang lalu hampir semua kementerian sudah mulai disibukkan dengan aktivitas rekrutmen/seleksi CPNS. Memang tahun ini masih terhitung tahun moratorium (penundaan) pengadaan CPNS, tapi berhubung ada banyak permintaan jabatan yang dikecualikan, maka rekrutmen pun dilaksanakan tapi dengan jumlah formasi yang tidak sebanyak rekrutmen reguler. Di kementerian saya saja hanya tersedia 20 formasi yang akan diperebutkan oleh ribuan pelamar.

Metode seleksinya pun berbeda dengan seleksi di tahun-tahun sebelumnya. Ujian dilakukan secara serentak tanggaln 8 September 2012 di semua kementerian. Kalau dulu kita bisa ikut ujian di beberapa kementerian karena jadwal ujian yang tidak bersamaan, kalau sekarang pelamar harus memilih akan mengikuti ujian di kementerian mana.

Dari sekian ribu pelamar yang masuk tentu saja tidak semua lolos seleksi administrasi dan hadir waktu verifikasi berkas fisik. Ada saja yang gagal karena faktor tertentu. Nah, mulai tanggal 28-31 Agustus kemarin pelamar-pelamar yang sudah lolos seleksi administratif diharuskan datang sendiri untuk verifikasi berkas ke Pusdiklat Setneg.

Kebetulan saya bertugas di hari ketiga dan keempat. Di hari pertama saya tugas kok ya pas pusing luar biasa dan demam tinggi setelah vaksin HPV sehari sebelumnya. Entah kenapa setiap kali habis vaksin badan saya selalu demam, nah yang kemarin termasuk reaksi yang terlebay, karena disertai pusing, mual, dan demam tinggi. Jadi,  memaksakan tetap tugas di sela kondisi badan yang kurang fit itu sesuatu banget. Karena tetap harus ramah padahal kepala nyut-nyutan dan badan menggigil. Alhamdulillah hari terakhir tugas badan sudah mendingan dan bisa lebih maksimal ketika melayani verifikasi berkas.

Jadi panitia CPNS itu tentu ada suka dukanya, termasuk lucu dan gemesnya. Berhubung telepon biro ada di meja saya, otomatis sayalah yang harus mengangkat dan kadang menjawab pertanyaan mereka. Seringnya mereka kurang membaca pengumuman dengan teliti, padahal di sana sudah disebutkan dengan jelas semua syarat, ketentuan, dan keterangan lainnya. Yah, berasa dejavu jadi petugas callcentre, padahal sudah pensiun 7 tahun yang lalu 😀

Ada beberapa kejadian absurd yang terjadi selama proses rekrutmen cpns ini. Berikut ini beberapa diantaranya.

 

1. Sudah diprint, Mbak!

Suatu siang, seorang pelamar dari Maluku Utara menelepon untuk memastikan informasi yang dibacanya di website kami.

Pelamar: Mbak, saya Raymond (bukan nama sebenarnya) pelamar dari Maluku Utara. Saya sudah dinyatakan lolos seleksi administrasi kemarin, kartu ujian juga sudah saya print, jadi saya tinggal datang nanti tanggal 8 September di Gelora Bung Karno ya, Mbak? *logat Indonesia Timur yang sangat kental*

Saya: Mas Raymond sudah baca semua pengumumannya, belum?

Pelamar: Oh, sudah, Mbak. Sudah.. Di situ disebutkan saya lolos seleksi administrasi, sudah saya print kartu ujiannya, dan saya nanti datang ujian tanggal 8 September 2012, toh?

Saya: Mas Raymod mendaftar untuk posisi apa?

Pelamar: Perancang Perundang-undangan

Saya: Kalau Perancang Perundang-undangan berarti Mas Raymond harus datang ke Jakarta Hari Kamis, 30 Agustus, pukul 09.00-15.00 wib, dong

Pelamar: E.. saya tidak ada informasi itu, Mbak. Mbak bisa kirimkan saja infonya ke email saya?

Saya: Lho, semua ada di website, silakan dilihat kembali, di sana juga sudah disebutkan secara jelas apa saja yang perlu dibawa. Atau silakan pengumumannya di-print saja biar bisa dibaca-baca ulang, sekaligus di situ kan ada petanya, biar nanti Mas Raymond nggak kesasar waktu mau ke Pusdiklat…

Pelamar: Oh sudah, Mbak… itu sudah saya print *mulai ngeyel*

Saya: Apanya, Mas?

Pelamar: Kartu ujiannya….

Saya: :(( *banting-banting konde*

 

2. Depannya aja, Mbak?

Setiap pelamar yang datang ke meja verifikator sudah haruis membawa berkas lengkap berupa ijazah, transkrip, KTP, surat pernyataan yang sudah dibubuhi materai, dan foto 3×4 dengan background warna merah.

 

Saya: Di belakang foto silakan ditulis nama dan nomor pesertanya ya, Mbak….

Pelamar: Oh, ok… di belakang belakangnya aja ya, Mbak?

Saya: Ya kalau Mbak mau bagian depannya digambarin kumis juga gapapa…

 

3. Toilet di mana, ya?

 

Pelamar: (sambil mengisi form surat pernyataan dan menulisi bagian belakang foto) Mbak, kalau toilet di mana ya, Mbak?

Saya: Tuh, di gedung depan, kan ada petunjuknya toilet belok kanan…

Pelamar: (sambil menulis tapi ngga menoleh ke arah yang saya tunjukkan tadi) Di mananya, Mbak? Di gedung depan itu terus ke?

Saya: Itu lho, gedung depan setelah keluar pintu ini lho, kan nanti ada tulisan toilet, trus ada panah-panahnya. Atau kalau kamu bingung ikutin aja remah-remah roti yang kita sebar menuju toilet….

Pelamar: emang saya semut? ;))

 

Lho, emang bukan? Ya kali, bakal lebih mudah nemuin toiletnya kalau dikasih remah-remah roti atau patahan ranting pohon 😐

 

4. Tolong dibulatkan…

Namanya juga usaha, ada saja usaha calon pelamar untuk mengelabuhi panitia demi bisa mengikuti seleksi, salah satunya dengan memudakan usia, dan atau memperbesar IPK. Kebetulan di kementerian kami minimal IPK yang dipersyaratkan adalah 3.00. Jadi ketika pelamar mencoba memasukkan IPK yang kurang dari 3.00 pasti akan ditolak. Nah, banyak yang berusaha menginput IPK 3.00 supaya bisa masuk ke sistem dan mengisi data. Biasanya ketahuannya kalau verifikasi berkas asli, karena kadang ukuran bekas yang di-attach terlalu kecil sehingga tidak bisa diverifikasi secara maksimal, jadi kita beri kesempatan untuk menunjukkan berkas asli.

 

Saya: Maaf ini IPK kamu kan 2.99, jadi mohon maaf belum bisa ikut ujian, ya. Kan minimal IPK yang dipersyaratkan 3.00. Jadi ini berkas aslinya saya kembalikan, surat pernyataan dan kartu ujian saya tarik, ya…

Pelamar: Lho, kalau saya nggak lolos kenapa saya diinfokan lolos seleksi administratif, Mbak? 😐

Saya: Karena IPK yang coba kamu masukkan 3.00, otomatis sistem mengizinkan kamu masuk untuk mengisi data. Sementara file attachment yang kamu masukkan sangat kecil jadi nggak bisa terbaca oleh kami. Makanya kami beri kesempatan kamu untuk menunjukkan berkas asli. Dan ternyata IPK kamu kurang dari yang dipersyaratkan. Jadi mohon maaf belum bisa ikut ujian, ya…

Pelamar: Yah…, tapi kan IPK 2.99 kalau dibulatkan juga bisa jadi 3.00, Mbak 😐

 

Kayanya anak ini belum pernah dibulatkan terus ditaburi wijen, ya? 😐

Sebenarnya jadi panitia itu seru, karena ada “hiburan” dibalik menyeleksi pelamar yang masuk. Seperti ketika ada seorang pelamar yang memasukkan data tertulis secara serius, tapi begitu dilihat attachment-nya lha kok semuanya foto. Empat file yang seharusnya berisi lampiran foto 4×6 background merah, ijazah, transkrip, dan KTP itu semuanya terisi foto narsis. Mending kalau dia perempuan ya, ini laki, Kak ;)).

Foto pertama adalah foto dia ketika diwisuda, memakai toga lengkap, menggenggam ijazah, senyum lebar, dengan pose yang agak miring. Foto kedua adalah foto dia bersama seorang bayi di baby stroller, tampak atas. Foto ketiga adalah foto gaya alay, diambil dengan kamera HP yang diambil tampak atas. Foto keempat adalah foto dia dengan baju batik lengan panjang dengan background katering kondangan, lengkap dengan dekorasi bunga di pinggir-pinggir meja prasmanan. Hmppfft… Dikira aplikasi kita ini facebook apa, yah? 😐

Alhamdulillah tahapan-tahapan awal seleksi sudah terlampaui, tinggal hari besarnya aja nanti tanggal 8 September nanti. Buat yang akan mengikuti ujian, jangan lupa berdoa, dan sarapan. Nggak usah terbebani, santai aja, kalau sudah rezeki nggak akan ke mana kok 😉

Good luck, ya! :-bd

 

[devieriana]

Continue Reading

Suatu Sore Bersama Bapak UKD

Jumat lalu, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.15, semua orang di ruangan saya mulai sibuk mengantri di depan mesin absensi, terutama yang naik bus jemputan. Entah bagaimana kondisi terakhir di luar kantor, yang jelas mereka ingin segera pulang, terbebas dari demonstrasi dan kemacetan, dan tiba di rumah dengan selamat. Beberapa teman masih ada di ruangan dan memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan ketimbang langsung pulang, sambil menunggu kemacetan sedikit reda.

Saya sendiri baru keluar kantor sekitar pukul 16.30-an dan mendapati jalanan depan kantor yang sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, baik kendaraan pribadi, taksi, busway, sampai ojeg yang biasa mangkal di depan kantor pun tidak terlihat sama sekali. Awalnya saya pikir karena lampu merah di ujung jalan sekitaran Harmoni, tapi masa iya lampu merahnya selama ini? Dalam hati mulai curiga kalau lalu lintas sepertinya sedang diarahkan melalui jalur alternatif, menghindari arah Istana, Monas, Bundaran HI, dan sekitarnya 😕

Baru saja berpikir demikian, datanglah dua bapak UKD (Unit Keamanan Dalam) yang kebetulan akan pulang menggunakan motor. Mereka ngobrol sebentar di depan gerbang, persis di samping saya. Berhubung saya sudah familiar dengan beliau berdua, saya pun ikut nimbrung dalam obrolan mereka tentang jalan alternatif menuju rumah masing-masing. Berasa salah pulang jam segini deh 😐

Bapak 1: Mbak Devi, nunggu jemputan atau taksi?

Saya: sebenernya tadi mau naik busway Pak, tapi kok saya males jalan ke Harmoni situ, ya ;)). Jadi ya udahlah naik taksi aja. Tapi kok dari tadi kayanya nggak ada yang lewat sini ? 😕

Bapak 2: kayanya sih emang nggak ada yang lewat depan sini, Mbak. Kan depan Istana dan Monas situ udah penuh demonstran, jadi ya nggak akan bisa lewat…

Saya: hah, serius, Pak? 😮 Waduh, tak kirain tadi masih bisa dilewatin. Soalnya tadi masih ada 1 taksi yang mau putar depan sini ngangkut penumpang sebelum saya. Jadi sekarang udah blokir total, ya? 🙁

Bapak 2: iya. Mbak Devi rumahnya di daerah mana, tho?

Saya: Duren Tiga, Pak…

Bapak 2: saya juga setiap hari lewat situ, Mbak. Apa njenengan mau bareng saya?

Saya: ngg.. Matur nuwun, Pak. Nggak usah, nanti saya malah ngerepoti. Saya nunggu taksi aja 😀

Bapak 1: Lah, sekarang aja udah nggak ada yang lewat gini, bisa-bisa nanti Mbak Devi pulang malem, lho…

Saya: gitu ya, Pak? :-s . Tapi kan Bapak cuma bawa helm satu, nanti Bapak ketangkep polisi lho kalau mboncengin saya nggak pakai helm…

Bapak 2: wis tho ora-ora, Mbak Devi nggak usah khawatir. Insyaallah nggak ada apa-apa. Monggo, naik aja. Daripada nanti malah nggak bisa pulang, lho…

Hmm, ya udah deh. Akhirnya saya putuskan untuk nebeng Bapak –yang ketika akan sampai rumah baru saya ketahui bernama Pak Hendro itu– dengan tanpa helm sehingga rambut saya berkibar-kibar kemana-mana. Psst, aslinya saya lumayan agak deg-degan juga sih kalau ketangkep polisi ;))

Persis di traffic light dekat Istana barulah saya melihat kondisi yang sebenarnya. Massa berkerumun di depan Istana Merdeka dan seputaran Monas, sejumlah polisi anti huru-hara pun sudah bersiaga penuh. Demonstran yang memenuhi jalanan itu memblokir jalan yang menuju ke arah Bundaran HI dan sekitarnya, sehingga kami harus memutar lewat belakang Kemkominfo dan lalu lewat Tanah Abang, atau bisa juga memutar ke arah Jalan Juanda.

Sepanjang jalan kami ngobrol sesekali, sambil saya mengabari keluarga kalau saya baik-baik saja dan sedang dalam perjalanan pulang diantar sama salah satu bapak anggota UKD. Ya maklum, keluarga saya kan ada di Jawa Timur, dan pasti sudah melihat di TV betapa rusuhnya kondisi Jakarta Jumat kemarin. Apalagi kantor saya berada di lokasi yang sangat dekat dengan salah satu target tujuan demonstrasi. Rute jalan yang biasa saya lalui ketika akan pulang pun melalui jalur yang sedang diblokir massa itu. Jadi kalau mereka khawatir ya wajar.

Tak terasa perjalanan kami sudah hampir sampai Mampang.

Bapak 2: Mbak Devi dulu masuk Setneg tahun berapa?

Saya: saya ikut seleksinya sih akhir 2009, efektif masuk baru Januari 2010, masih baru 2 tahunan kok, Pak  😀

Bapak 2: sama, saya juga baru sih, saya masuk Setneg itu Juni 2009

Saya: oh, gitu? Dulu ditugaskan di mana, Pak?

Bapak 2: sejak tahun 1987 saya di Paspampres, Mbak. Mbak Devi paling baru lahir ya tahun segitu?

Lah, saya baru tahu kalau Bapak itu dulunya Paspampres. Saya selama ini mengira beliau itu dulunya dari mana gitu. Tapi (menurut info yang saya dapat) kebanyakan bapak-bapak yang sekarang bertugas di Unit Keamanan Dalam itu dulunya memang Paspampres.

Terima kasih untuk tumpangannya ya, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya pulang dengan selamat sampai di depan gang rumah saya. Kalau nggak ada Bapak, nggak tahu deh saya sampai rumah jam berapa 🙂

 

[devieriana]

Continue Reading
1 4 5 6 7 8 16