Selalu merasa kurang, terlihat lebih buruk daripada yang lainnya, merasa lebih rendah & selalu merasa kurang puas adalah sifat manusia. Tidak ada makhluk yang sempurna di dunia ini. Dibalik kesempurnaan yang terlihat pasti ada kekurangannya. Karena terlalu seringnya kita melihat ke atas kadang kita lupa bahwa di luar sana ada banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan dengan kita.
Bersyukurlah bahwa oleh Tuhan kita masih diberikan anggota badan yang lengkap, sehat, tak kurang suatu apapun, dan masih bisa beraktivitas seperti biasa. Bagaimana jika kita menjadi orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti Liu Wei? Seorang pemuda berusia 23 tahun yang harus rela kehilangan kedua tangannya sejak dia berusia 10 tahun setelah ia menyentuh sebuah kabel listrik saat bermain petak umpet. Setelah 45 hari dia mengalami masa kritis sampai akhirnya dia menyadari bahwa mau tak mau dia harus rela kehilangan kedua tangan untuk selamanya.
Liu Wei sangat frustrasi & merasa tak berguna, apalagi jika mengingat mimpinya menjadi seorang pianis. Bayangkan, perjalanan hidupnya masih sangat panjang, belum sempat dia mewujudkan mimpinya untuk belajar piano & menjadi seorang music producer, dia harus kehilangan tangannya di usia yang masih sangat belia. Bagaimana mungkin dia bisa meraih mimpi-mimpinya jika dia harus kehilangan anggota tubuh paling vital untuk menjadi seorang pianis? Hanya ada 2 pilihan, antara apakah harus menyerah begitu saja pada nasib & membiarkannya bermuara pada sebuah kisah yang entah berujung kemana, atau tetap akan memperjuangkan mimpi-mimpinya?
Tuhan memang Maha Adil, dibalik setiap musibah pasti ada keberkahan yang tersimpan. Ternyata Tuhan tidak mengizinkan Liu Wei menjadi sosok pemuda rapuh & tidak percaya diri. Dengan dukungan orangtuanya dia akhirnya tumbuh menjadi pemuda yang percaya diri.
“My mom keeps tell me, “you’re nothing different” just some people use hand but I use my feet. My mom don’t expect me become successful, just hope I can be healthy & happy. But in my perspective, I have to be successful. My object to be here is getting first 3. So my mom could be proud of me..”
Liu Wei mulai mandiri & pelan-pelan berusaha mewujudkan mimpinya. Tidak ada tuntutan apapun dari keluarganya. Keinginan yang menggebu-gebu itulah yang akhirnya membangkitkan semangat untuk mulai belajar bermain piano dengan menggunakan jemari kakinya sejak usia 19 tahun. Tentu bukan sebuah hal yang mudah ya. Karena kita saja yang normal & berfisik lengkap belum tentu bisa bermain piano dengan sempurna, apalagi yang fisiknya tidak lengkap.
“For people like me, there were only two options. One was to abandon all dreams, which would lead to a quick, hopeless death. The other was to struggle without arms to live an outstanding life”, ujarnya di depan dewan juri “China’s Got Talent”.
Beruntunglah dia tetap memilih opsi yang kedua, tetap berjuang walaupun harus hidup tanpa kedua tangan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Hidup bisa berubah kapan saja, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hitungan detik ke depan. Life is such a fragile thing, in couple seconds you can just lose it..
Selalu bersyukur untuk segala apa yang telah diberikan Tuhan, apapun bentuknya, karena kita tidak pernah tahu apa rencana-Nya dibalik segala keberhasilan & kegagalan yang kita lalui, pun untuk kesedihan & suka cita yang kita hadapi. Tetap berusaha & yakin dengan kemampuan diri sendiri.
Oh ya, satu lagi, keep on chasing your dreams.. 🙂 :-bd
Kalau Anda sempat melihat tayangan Kick Andy di Metrotv kemarin, tanggal 18 Apil 2010, Anda mungkin akan merasakan hal yang sama dengan saya, terharu. Karena tayangan itu benar-benar membukakan mata saya bahwa ternyata masih banyak orang baik di dunia ini. Kok kesannya saya skeptis bahwa sudah tidak ada orang baik di dunia ini ya? Sudah terlalu banyakkah saya menelan berita yang kurang bagus selama ini? Mungkin ya.. 🙁
Anda pasti mengenal sosok Anne Avantie bukan? Sosok seorang perancang kebaya yang selalu menghasilkan karya masterpiece dalam setiap goresan kebayanya, salah seorang perancang terbaik yang dimiliki Indonesia. Selama ini kita hanya mengenalnya sebagai seorang perancang busana, tanpa mengetahui kiprah kemanusiaan apa yang telah dilakukan oleh wanita satu ini. Rumah Singgah Kasih Bunda, adalah sebuah yayasan sosial yang didirikannya sebagai tempat anak-anak orang tak mampu untuk mendapat pengobatan gratis berkaitan dengan penyakit hydrocephalus, atresia anitumor, bibir sumbing, labiopalataschisis, dan penyakit lain yang memerlukan penanganan darurat. Yang membuat terharu adalah statement dia yang menyebutkan, “Apapun penyakit mereka, siapapun mereka, darimanapun mereka, apapun keluhan mereka, ketika mereka datang ke tempat ini, pasti akan kami terima dengan tangan terbuka. Mereka butuh kaki, akan kami buatkan kaki buat mereka. Semuanya kami lakukan tanpa pamrih, ikhlas..”.
Ketika ditanya oleh Andy F. Noya, apakah semuanya ketika membutuhkan operasi semuanya akan dibantu? Anne Avantie pun menjawab dengan senyum tulus seorang ibu, “ya, akan kami bantu..”. Teduh sekali mendengar jawaban itu ya. Melegakan. Begitu pula ketika ditanya apa yang menjadi obsesi terbesar dalam hidupnya. Dijawab dengan menahan tangis, “saya ingin punya klinik sendiri. Selama ini kami kurang tahu mana yang perlu perawatan lebih dahulu, pasien mana yang harus diprioritaskan. Jika saya punya klinik sendiri saya tidak akan lagi tergantung dengan rumah sakit yang sudah ada..”. Mulia sekali. Setidaknya akan ada secercah harapan, Melihat begitu banyak masyarakat kurang mampu yang mengalami masalah serius dengan kesehatannya.
Berikutnya, tak kalah mengharukan bahkan cukup membanggakan bagi kita orang Indonesia. Dimana sosok yang ternyata sangat peduli terhadap bangsanya, namun justru tidak terlihat oleh mata bangsanya sendiri, ternyata mendapat perhatian dari CNN. Dialah sosok Capt. Budi Soehardi yang dianugerahi sebagai CNN Heroes 2009 karena karena dedikasinya menjalankan sebuah panti asuhan di Kupang NTT.
Capt. Budi Soehardi, seorang pilot asal Indonesia yang bekerja untuk Singapore Airlines, one of the best airline in the world, tinggal di Singapura bersama sang istri, Peggy, dan 3 orang anak kandungnya, rela bolak-balik Singapura – Jakarta – Kupang untuk tinggal & menjaga 54 anak-anak di panti asuhan Roslin yang mereka dirikan. Memiliki hubungan yang erat dengan masing-masing dari mereka & menganggap mereka bagian dari keluarga mereka. Mereka masuk panti asuhan sebagai bayi kebanyakan dari keluarga kurang mampu -beberapa dari mereka kecil korban dan pengungsi dari konflik di Timor Timur- sengaja diasuh agar bisa mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak. Diharapkan mereka nantinya akan mampu menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri & mampu mengembangkan diri & lingkungannya kelak. Untuk kepentingan pendidikannya, setiap anak dibekali asuransi sampai perguruan tinggi. Kemandirian yang ditanamkan sejak kecil juga melekat dihati Gerson. Salah satu anak asuh Budi ini, sebentar lagi jadi dokter.
Sambil menangis Budi menceritakan awal ide mengulurkan bantuan untuk mereka di Atambua adalah ketika dia bersama keluarganya di Singapura, hendak melakukan perjalanan keliling dunia. Namun ketika melihat tayangan di televisi yang menggambarkan betapa menderita & mirisnya memakan sebungkus mie instant berduabelas orang, keluarga yang tinggal di kardus, anak-anak mengenakan kain untuk pakaian, dan sanitasi yang nyaris tidak ada. Batinnya terketuk untuk membantu mereka, membatalkan perjalanan keliling dunianya bersama keluargam beralih menjadi misi sosial ke Atambua.
Hari itu juga dia mulai menulis email untuk mulai mengkoordinasi sumbangan keuangan, makanan, pakaian, peralatan mandi, obat-obatan, dll. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, terkumpullah sekitar 40 ton sembako & kebutuhan hidup bagi mereka di Timor Timur. Yang membuat saya merasa amazed adalah, semua dilakukan tanpa publikasi, tanpa sorotan media cetak maupun elektronik yang mengekspos layaknya yang selama ini kita lihat. Yang biasa kita lihat kan pejabat memberi beras sekilo aja ke fakir miskin minta diekspos wartawan ya. Tapi tidak demikian dengan keluarga Budi Soehardi. Semuanya dilakukan dalam diam, namun nyata adanya.
Yang tak kalah hebatnya adalah, Panti Asuhan Roslin ini juga berusaha untuk berusaha bagaimana berswasembada beras. Jaman sekarang jarang sekali yang bersedia sampai sedemikian uletnya, berswasembada beras. Ah salut sekali saya sama pasangan mulia ini.. 🙂
Jerih payah Budi dan Peggy akhirnya berbuah manis, usaha mulia mereka ini ternyata mendapat perhatian dunia. Pada bulan Desember 2009 di Los Angeles, Amerika Serikat, Budi dinobatkan jadi salah satu CNN Heroes. Wow.. Saya tersenyum sendiri ketika mendengar pertanyaan Andy F. Noya yang menanyakan dengan nada bercanda, “bagaimana sih Pak, rasanya dicium Kate Hudson? Kalau saya yang jadi Anda, saya bakal kepikiran berhari-hari..” ;)). Kate Hudson adalah salah satu aktris International yang juga aktif di Wild Aid.
Lebih terharu lagi saat mendengar Budi menjelaskan, “Heroes sebenarnya adalah istri dan 3 anak saya, mereka mengorbankan liburan mereka selama ini, walau sebenarnya bisa travel dengan fasilitas first class yang saya dapatkan dari fasilitas jabatan sebagai pilot. Tapi mereka memilih budget liburan dipakai untuk membantu Roslin Orphanage”.
Lain lagi kisah seorang Daniel Alexander. Pria asal Jawa Timur itu sudah menjelajahi hampir seluruh belahan dunia, mulai Eropa, Amerika hingga Australia dia jelajahi untuk memberikan pelayanan di bidang agama. Salah satu obsesi terbesar dalam hidupnya adalah ingin membantu orang-orang miskin yang daerahnya sangat tertinggal. Terdengar idealis ya? Memang. Tapi jika niat tulus itu direalisasikan, masihkah kita mengatainya dengan ide yang terlalu idealis? Namun ironisnya, suatu ketika secara tidak sengaja dia membaca sebuah buku yang berjudul From Jerusalem to Irian Jaya (kenapa bukan Jerusalem to Indonesia? kenapa Irian Jaya?), kisah tentang para misionaris yang hidupnya benar-benar didedikasikan untuk membantu masyarakat yang tinggal didaerah-daerah tertinggal, ternyata justru sejak saat itulah dia merasa terpanggil untuk datang & membantu masyarakat di pulau paling Timur Indonesia itu. Jauh-jauh melanglang buana ternyata “pulangnya” ke Indonesia juga ya Pak Daniel 🙂
Sekali lagi, kenyataan yang harus dia (dan kita juga) terima adalah pulau yang kaya akan sumber daya alam itu ternyata penduduknya banyak yang terbelakang terutama di bidang pendidikan, juga tuli 🙁 . Itulah kenapa akhirnya dia bertekad untuk memajukan pendidikan dan penghidupan mereka. Bukan sebuah hal yang mudah untuk mengubah pola pikir & cara pandang masyarakat yang sudah puluhan tahun hidup dalam tatanan kehidupan yang sudah sedemikian terpola. Namun toh akhirnya setelah melalui perjuangan yang keras, Daniel Alexander ditemani istrinya Louise yang warga negara Kanada akhirnya berhasil mendirikan sekolah mulai TK hingga SMA. Sekolah dengan sistem asrama yang didirikan oleh Daniel itu sudah tersebar di berbagai pelosok Papua lho, diantara Jaya Wijaya, Nabire, dan Kerom. Ah, keren banget yah? 🙂
Menolong sesama bukan berdasarkan nilai seberapa besar yang sudah kita berikan, namun seberapa ikhlas kita melakukannya. Semoga kisah-kisah tersebut mengilhami kita untuk tetap ikhlas dalam menolong sesama ya.. 🙂
Tadi pagi saya chat dengan salah satu mantan teman sekantor pas jaman di Telkomsel dulu. Dia sekarang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UGM Yogyakarta. Perbincangan ringan ala ibu-ibu (tsaahh…) dan teman lama yang sekian lama nggak ketemu 😀 . Share tentang keadaan terbaru masing-masing, cerita tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, dll.
Obrolan ringan sih, tapi justru dari situlah saya jadi ingat sama tulisan saya sendiri tahun lalu, yang juga sempat di-publish di buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta , yang judul artikelnyaUrip Iku Sawang Sinawang. Ya memang begitu ternyata. Duh saya sampai senyum-senyum sendiri. Bukan apa-apa, berasa kena sama tulisan sendiri aja ;)) . Dulu saya memposisikan diri sebagai orang lain yang curhatnya saya tulis disitu. Sekarang saya harus menelan mentah-mentah tulisan saya karena sekarang.. sayalah objeknya :)) .
Ada perbincangan yang kena banget ke saya, begini :
Teman : “aku tuh baru tahu lho mbak, sebenarnya kalau obsesi terbesar suamiku adalah menjadi PNS” Saya : “hah, seriuss? kok.. bisa? :O “ Teman : “iya, pas aku cerita kalo mbak ketrima jadi PNS, dia tuh pengen banget. Dulu sih dia pernah nyoba, sekali doang, tapi gagal. Ya sudah daripada hancur harga martabak, akhirnya milih kerja di luar negeri aja sekalian, hehehe.. “ Saya : “eh, mosok sih kerjaanku ini diobsesiin sama suamimu? Padahal aku dulu ngira kalian sudah enak kehidupannya. Suami kerja di luar negeri, minyak pula. Kamu dengan kehidupan S2-mu. Mikir, what a perfect life you both gitu..” Teman : “apanya yang perfect sih mbak? Hidup terpisah dengan suami, akunya dimana, dianya dimana. Tapi jujur suamiku kalau disuruh milih, pengen berkarir jadi PNS kaya mbak yang kerjanya nggak sengoyo sekarang, punya banyak lebih banyak waktu buat keluarga. Ah, mbak tuh yang ekarang udah settle, tinggal melangkah-melangkah doang.. Suami istri kerja, salah satunya PNS.. Ah, sempurnalah..” Saya : *masih bengong :O* “ya sudah coba aja tar tahun ini pasti kan ada penerimaan CPNS lagi. Nah kamu ikut aja jeng..” Teman : “ya sih kayanya gitu. Tapi bingung mau kerja atau ikut suamiku ke Dubai ya?” Saya : “ya, apapun untuk saat ini yang menurut kalian bagus sih nggak masalah. asal nanti pas balik ke Indonesia usia kalian salah satu masih cukup daftar CPNS ya monggo..”
Ah, jujur saya terpana lho dengan percakapan simple itu. Bukan apa-apa, saya dulu sempat menganggap mereka memang nggak pernah sekalipun bermimpi jadi PNS seperti saya. Wong salah satunya sudah kerja di oil company, yang notabene semua orang juga tahu prospeknya seperti apa tho? Ya saya shock dong ketika dikasih tahu kalau obsesi terbesar suaminya adalah justru menjadi PNS seperti saya.
Sekarang saya yang bingung nih. Saya mesti bangga, kagum, heran atau gimana ya? ;)) . Saya yang sudah terlanjur “silau” sama kehidupan mereka, lha kok malah mereka “ngiri” sama kehidupan saya yang alakadarnya begini? 😀
Manusia itu memang susah ditebak ya. Ada saja ketidakpuasannya. Yang rambutnya lurus pengen punya rambut ikal/keriting, begitu juga sebaliknya. Yang kulitnya putih pengen kecoklatan, begitu juga sebaliknya, yang kerja di oil company pengen jadi PNS, yang PNS pengen kerja di oil company. Yang jelek pengen cakep, yang sudah cakep pengen lebih cakep lagi (nggak mungkin pengen jadi jelek kan? ;)) ).
Ah, kalau menuruti nafsu, dunia ini isinya cuma orang-orang yang hidup dalam tolok ukur kesempurnaan orang lain. Jadi, daripada kitanya yang capek kenapa kita nggak mulai mensyukuri apapun yang sudah diberikan Allah sama kita ya? Karena hanya Dialah yang mengetahui pantas tidaknya kita memiliki apa yang juga dimiliki/tidak dimiliki oleh orang lain.
Only God knows.. 🙂
Tulisan ini teruntuk Papa saya yang hari ini sedang berulangtahun yang ke 65 tahun. Sebuah tulisan yang jadi salah satu tulisan favorit saya, diambil dari buku karya Dale Carnegie : How To Win Friends & Influence People. Tulisan yang selalu membuat saya “mewek” & teringat Papa saya yang kalau habis marah pasti minta maaf duluan, padahal belum tentu beliau yang salah juga 😥 . I love you Pa & I send you song, hope you’ll like it.. Happy Birthday Dear Father.. 🙂
Ini dia :
AYAH JUGA LUPA
W. Livingstone Larned
Dengar, Nak : Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembap. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.
Ada hal-hal yang ayah pikirkan, Nak : Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.
Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikutmu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, “Selamat jalan, ayah!”, dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab : “Tegakkan bahumu!”
Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. “Kaus kaki mahal dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati!”. Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!
Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. “Kau mau apa?”, semprot Ayah.
Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.
Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca, ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.
Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!
Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual : Dia cuma seorang anak kecil , anak lelaki kecil!
Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk terbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.
———-
Sebagai ganti dari mencerca orang, mari kita coba untuk mengerti mereka. Mari kita berusaha mengerti mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal itu jauh lebih bermanfaat dan menarik minat daripada kritik; dan untuk melahirkan simpati, toleransi dan kebaikan hati. Untuk benar-benar mengenal semua, kita harus memaafkan semua.
Seperti yang dikatakan Dr. Johnson : “Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya”
Tulisan ini saya tulis karena saking herannya saya sama orang-orang disekeliling saya tentang betapa pilih-pilihnya mereka sama makanan. Awalnya ok, mungkin saja masakan hari itu kurang menggugah selera sehingga kurang menerbitkan nafsu makan. Tapi ketika pemandangan itu semakin sering saya lihat, saya kok jadi bertanya-tanya sendiri ya, ada apa sih? Wong saya makan juga nggak kenapa-kenapa, enjoy aja. Kalau dibilang nggak enak banget, dimananya sih yang nggak enak? Kayanya normal-normal aja deh. “Ya namanya orang seleranya kan beda-beda bu, belum tentu yang buat lidah kamu enak, buat lidah orang lain juga enak..”. Apa mungkin saya yang rakus ya, apa aja mau? 🙂
Nggak tahu apa yang membuat mereka berubah & seringkali nggak mau makan menu yang sudah disediakan. Padahal menunya selalu berganti-ganti tiap hari, dan menurut saya menunya juga pantas, layak & bersih. Sekarang “trend” yang berkembang di sekeliling saya adalah “nggak makan ah, menunya nggak enak” & berbondong-bondonglah mereka memesan makanan dari luar. Awalnya saya menganggap okelah ya, mungkin mereka bosan karena menurut mereka menunya begitu-begitu saja (walaupun aslinya ganti-ganti lho menunya.. 🙂 ). Ya namanya juga jatah makan dengan budget yang sudah ditentukan. Jadi ya wajarlah kalau menyesuaikan dengan harga. Nggak mungkin misal jatah makan siang Rp 20.000,- tapi menunya seharga Rp 50.000,- , ya rugi bandarnya. Istilahnya gitu..
Kalau saya kebetulan nerimo aja, selain saya juga males kalau mesti ribet delivery order. Kebetulan juga nggak pernah rewel soal makanan. Enak enggak enak & apa yang tersedia ya itu yang akan saya makan, nggak komplain, nggak menuntut mesti gini gitu. Lha wong saya juga nggak bisa masak, plus nggak ada waktu juga buat masak 😀 . Tapi memang hal itu juga yang jadi salah satu wejangan kedua orangtua saya. Enak/nggak enak, apapun yang dihidangkan, nikmatilah, sambil disyukuri bahwa kita masih bisa makan. Salah satu bentuk penghargaan buat oraang yang sudah bersusah payah menyediakan makanan buat kita & ingatlah diluar sana ada banyak orang yang kekurangan, yang nggak bisa makan karena nggak mampu beli makanan atau nggak ada yang bisa dimakan.
Saya bukan bermaksud sok bener, sok menggurui, atau sok perhatian sama orang yang berkekurangan ya. Cuman seringnya suka introspeksi dalam diri sendiri aja, kalau misal saya sekarang jadi yang terlalu pilih-pilih makanan, apa iya dulunya mama saya tiap hari selalu masak makanan yang enak & mewah buat kami? Dengan gaji papa yang nggak besar itu mama harus berusaha mengatur keuangan bagaimana caranya biar cukup buat hidup sebulan dengan 3 anak yang biaya kuliah & sekolahnya juga besar. Makan enak sekali-kali bolehlah, ibaratnya “rekreasi”, masa iya mau makan tahu & tempe terus, sekali-kali makan lauk ayam boleh dong. Ya maklumlah, kami hanya keluarga sederhana. Itulah yang membuat saya selalu merasa bersyukur Alhamdulillah Tuhan masih ngasih rezeki cukup sehingga kami sekeluarga masih bisa makan dengan layak sampai dengan hari ini.
Sekedar ingin membuka mata, coba deh lihat sekeliling kita, ada banyak kaum yang hanya untuk sesuap nasi saja mereka harus bekerja banting tulang, susah payah, kadang tak peduli cuaca, musim, & waktu. Jangankan untuk makan sehari 3x, ada makanan yang bisa dimakan aja sudah alhamdulillah banget. Seperti kisah yang saya tuturkan disini & disini, kalau kita yang jadi bapak dan ibu itu mungkin akan bisa merasakan sendiri bagaimana susahnya cari makan ya. Jangankan untuk memilih makanan yang enak, mikir hari ini bisa makan apa enggak aja sudah bikin stress kali ya. Iya kalau ada yang bisa dimakan, lha kalau enggak?
Jadi, coba mulailah syukuri apa yang sudah Tuhan kasih sama kita. Apapun itu bentuknya. Karena ada banyak orang diluar sana yang nasibnya tidak seberuntung kita yang masih bisa ketemu makanan (enak) setiap hari…