Diatas Langit Masih Ada Langit ..

Yang namanya manusia pasti nggak luput dari yang namanya sombong. Sudah manusiawi itu. Ketika sedikit saja merasa dirinya lebih baik dari yang lain pasti bibit-bibit kesombongan mulai muncul di hati masing-masing. Eh, saya lagi nggak ngomongin siapa-siapa kok, lagi ngomongin diri sendiri 😀 . Lagi pengen kontemplasi aja seperti biasa. Perenungan yang saya dapat dari hal-hal yang seringkali luput dari mata kita.

Jadi, ceritanya ada seorang ibu yang ketemu sama saya di lobby waktu ngurus kelengkapan & pemberkasan cpns. Dengan begitu bangganya dia menceritakan seluruh prestasi & kehebatan si anak. Yah, saya pikir wajarlah. Karena ketika seorang anak berprestasi pasti nama baik orangtua akan ikut terangkat. Karena itu juga akan menunjukkan bagaimana perjuangan orangtua mendidik & menjadikan anaknya sukses. Walaupun itu juga sebagian besar karena kerja keras anaknya sendiri, karena ketika berjuang, orangtua hanya mendukung, mendoakan, mensupport dari belakang sementara sang anak berjuang sepenuh tenaga mencapai apa yang dicita-citakan.

Saya sendiri ketika mencita-citakan sesuatu selalu berusaha melihat kemampuan saya sendiri. Karena hanya saya yang mampu mengukur kapasitas & kemampuan saya sampai mana. Nggak kan ngoyo kalau saya merasa nggak mampu. Orangtua pun sifatnya hanya mendukung untuk apapun yang saya cita-citakan, apapun yang saya lakukan selama itu baik & bermanfaat buat saya kedepannya. Tutwuri handayani, gitulah 😀 .

Kemarin, ibu yang saya temui di lobby itu bercerita dengan semangat ’45 tentang anaknya yang asisten dosen, yang lulus dengan IPK cumlaude, yang pas cpns selalu melampaui test interview. Intinya aanaknya itu pinteer & dia sangat bangga sama anaknya. Iyalah, wajar. Sayapun kalau jadi dia mungkin juga sama rasa bangganya sama anak saya. Tapi mendadak ilfil ketika dia mulai meremehkan, mengecilkan orang lain seolah hanya anaknyalah yang paling hebat diantara semuanya. Saya yang waktu itu ditanya IPK-nya berapa & lulusan mana harus menelan hampir seluruh kesabaran saya ketika  jawaban-jawaban saya berujung pada nada yang seolah bilang.. ” it’s ok. But sorry, you loose, darling”. Tahu gitu saya nggak usah jawab kali ya 🙂 .

Seperti misal tentang IPK, responnya bikin males banget, ” Oh, anak saya IPK-nya lebih tinggi dari mbak, 3.8. Kalau mbak berarti nggak nyampe 3.8 dong ya..”. Bu, kalau IPK saya nggak nyampe 3.8 ya berarti lebih rendah dari anak ibu. Paham kok, nggak perlu dipertegas lagi..

Atau pas nanya lulusan mana, ” Oh, lulusan Unibraw.. anak saya Unpad lho..”. Hmm, masalahnya dimana ya? Toh sama-sama negeri kan?

Atau pas nanya saya sekarang kerja dimana, ” Oh di Telkomsel.. Kalau anak saya udah asisten dosen.. sebenernya dia udah ditawarin kerja ikatan dinas di Unpad tapi dianya nggak mau..dengan alasan.. bla..bla..bla..”. Nih ya bu, saya mah yang penting alhamdulillah udah kerja, dapet gaji, and I love my boss.. eh my job.. Rejeki orang kan beda-beda. Emang kalau jadi asisten dosen itu gengsinya lebih tinggi gitu ya?

Baru agak kesekaknya disini  : ” anak saya itu udah nyoba cpns kemana-mana & alhamdulillah semuanya melampaui tahap interview, mulai departemen ini, departemen itu, depdagri, deplu, dll.. kalau tes tulis sih selalu lulus semua deh.. Sampai bingung mau konsen ke yang mana. Ini aja pas lolos disini ya udah saya suruh konsen kesini aja. Kalau mbaknya udah nyoba berapa kali & berapa yang lolos?”. Kali ini suami saya yang jawab, ” alhamdulillah cuma sekali doang & langsung lolos bu..”. Aduh, sebenernya saya pengen ngikik-ngikik denger jawaban suami. Maafkan suami saya ya bu.. harusnya saya jawab ” saya udah nyoba berkali-kali nyoba test cpns & hanya ini yang lolos.. ” 😆

Saya sih paham betul, mungkin beliau overexcited dengan kepandaian & keberhasilan anaknya. Ya iyalah wajar, anak perempuan, masih muda, pinter, sekarang diterima di instansi yang sama kaya saya. Wajib bangga. Tapi kebanggaan itu akhirnya membawa dia jadi sedikit pongah, mengecilkan arti & keberadaan orang lain. Makanya tadi saya sms mama buat sekedar ngingetin kalau emang mama/papa ditanya sama orang tentang kami (saya & adik-adik saya), berceritalah sewajarnya. Jangan over excited, jangan sampai mengecilkan orang lain, ikutlah berbangga ketika orang lain juga bercerita tentang kelebihan anak-anaknya. Intinya jangan berlebihan. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain yang dengar cerita kita juga sama excited responnya seperti saat kita saat menceritakannya. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain juga sama tertariknya mendengar cerita kita. Karena tak jarang maksud mereka hanya sekedar ingin berbasa-basi 🙂

Jadi keywordnya adalah.., jangan lebay, diatas langit masih ada langit. Itulah perenungan bagus saya dapat hari ini.  😀

 

 

Continue Reading

Think Before You Speak

Dalam keseharian pasti kita pernah mengeluarkan kata-kata yang menurut kita lucu, tapi belum tentu buat orang lain juga sama maknanya dengan kita. Maksudnya menghibur tapi malah jatuhnya ngajak berantem. Hal-hal seperti inilah yang membuat kita harus lebih hati-hati dengan pernyataan atau bahkan jokes kita sendiri.

 

Masih ingat kan dengan “stop using words autis for your daily jokes”? Sudah lama saya meninggalkan kata-kata itu sebagai bahan becandaan. Bukan hanya kata-kata autis, tapi juga kata-kata lain yang berisi tentang ejekan untuk menunjukkan kekurangan orang lain. Baik itu fisik, mental, maupun status seseorang. Apa untungnya juga kita menggunakan bahasa-bahsa macam itu? Akankah kita akan jauh merasa lebih baik & sempurna setelah mengucapkannya? Apakah lantas derajat kita akan jadi lebih tinggi setelah menggunakan kata-kata itu sebagai guyonan sehari-hari? Bagaimana jika ternyata kita sendirilah yang menyandang segala keterbatasan & ketidakberuntungan itu? Apa yang akan kita rasakan ketika ada orang lain yang menggunakan bentuk kekurangan fisik/psikis kita sebagai lelucon? Perih, pedih, sedih, marah, tersinggung, atau justru legowo menerima dengan  pasrah? Selegowo-legowonya orang pasti masih akan tersembul rasa pedih ketika ada kekurangannya yang disinggung orang lain, apalagi digunakan sebagai lelucon atau cela-celaan.

 

Sebelum saya menuliskan inti tulisan ini, saya ingin bertanya, apa sih yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar kata-kata “JANDA”? Apakah mata Anda langsung membulat, imajinasi Anda berputar pada sosok wanita tanpa suami, yang masih muda, cantik, seksi, yang image-nya sering dilekatkan dengan perusak rumah tangga orang? Atau seorang sosok wanita tanpa suami yang tegar, berjuang sendiri membesarkan buah hatinya, pontang-panting mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, berperan menjadi ayah & ibu sekaligus?

 

Beberapa hari lalu saya mendapati status facebook seorang teman yang merasa dilecehkan karena orang lain menggunakan status pernikahan (baca : janda) sebagai guyonan. Dia adalah seorang single mother sekaligus wanita karir yang cerdas dengan dua buah hati yang menjelang remaja. Sebut saja dia Mbak Cantik. Sebagai seorang ibu yang sangat tough menjaga keluarganya dia memang berjuang sendirian, tanpa didampingi oleh seorang suami. Kehidupan pernikahannya hancur ditengah jalan karena adanya prinsip yang sudah tak bisa lagi sejalan. Perannya sekaligus menjadi ibu & ayah membentuknya sebagai a half mother & a half father. Sosok ibu yang hangat & penyayang, sekaligus sebagai ayah yang melindungi & mencari nafkah.

 

Saya pribadi mengenalnya sebagai sosok yang keras & tegar. Jauh dari gambaran seorang “janda” yang image-nya di masyarakat selalu saja dikonotasikan negatif. Padahal siapa yang ingin hidup sendiri? Siapa yang dulunya menjawab ketika ditanya “apa cita-citamu?” dengan lantang menjawab “menjadi janda!”. Siapa yang sengaja memilih kehidupan perkawinannya tidak utuh, membesarkan buah hatinya sendiri tanpa didampingi seorang suami? Rasanya tidak ada. Semua pasti bercita-cita hidup secara complete, utuh, dengan didampingi seorang pasangan.

 

Lantas apa yang membuat beliau sedemikian marah? Lagi sensitifkah dia? Saya kurang tahu pasti, tapi yang jelas semua itu berawal dari celoteh salah satu presenter acara talkshow di TV yang sempat membuat jokes dengan kata-kata “janda”. Tentu saja lengkap dengan konotasi negatif yang sudah melekat didalamnya. Membuat seisi studio tertawa terpingkal-pingkal mungkin merupakan sebuah prestasi besar buat dia sebagai seorang presenter, komedian, entertainer. Tapi tak sadarkah dia bahwa leluconnya itu telah melukai hati seorang perempuan yang terpaksa harus hidup tanpa suami seperti Mbak Cantik tadi? Bersyukurlah dia yang keluarganya masih utuh. Tapi apa lantas sang presenter itu berhak mengeluarkan jokes semena-mena dengan kata-kata “janda” tadi? Well, katakanlah teman saya ini sedang sensitif, not in the good mood. Tapi saya juga tidak berhak untuk menyuruhnya diam, jangan protes. Itu hak dia untuk suka atau tidak suka dengan lelucon yang sebenarnya tidak lucu untuk dijadikan bahan tertawaan.

 

Tidak ingin menggurui siapapun, hanya sekedar ingin mengajak Anda semua berbagi, berpikir, merenungkan. Sudah sempurnakah kita sebagai manusia? Kepuasan macam apakah yang sebenarnya kita cari ketika berhasil mentertawakan kekurangan & ketidaksempurnaan orang lain? Apakah setelah kita berhasil mengajak orang lain tertawa dengan apa yang kita pikir lucu padahal bodoh itu lantas akan membuat derajat kita jadi lebih tinggi daripada orang yang kita hinakan? Apakah kita tahu bagaimana sulitnya menjadi seorang single mother yang berjuang menghidupi buah hatinya? Hidup ditengah terpaan & cibir miring akan stereotype yang sudah terbentuk dalam masyarakat kita tentang status seorang “janda”. Belum lagi media yang juga ikut menambah kuat image “janda” sebagai sosok penggoda rumah tangga orang. Memang, kalau mau cuek, nggak usah mikirin, sebodo teuing juga bisa. Tapi apa yang bisa kita lakukan sebagai sosok diluar beliau? Apakah kalau beliau cuek-cuek saja berarti hatinya ikhlas menerima? Apakah kalau dia juga ikut tertawa hatinya juga demikian adanya? Belum tentu, teman. Dalamnya laut memang bisa kita ukur, tapi dalamnya hati manusia siapa yang tahu?

 

Semoga ada hal baik yang bisa kita ambil & renungkan bersama. Sehingga kedepannya kita bisa lebih bijaksana dalam berbuat & berkata-kata. Terutama sebelum kita melontarkan pernyataan atau lelucon untuk orang disekitar kita…

 

Think your thoughts & choose your words carefully

 

 

[devieriana]

 

Continue Reading

Suatu Sore Didepan Balairung UI

Lama ya saya nggak posting disini ya 😀 . Bukan karena udah ogah, tapi ada banyak kegiatan yang menyita waktu saya akhir-akhir ini. Ide nulis sih ada, bahkan sampai saya tulis dimana-mana untuk “menyelamatkan” dari mendadak hilangnya ide-ide itu. Tapi ya sekali lagi karena kesibukanlah yang membuat saya nyaris nggak punya waktu untuk menuliskannya disini.. *alasan..* :mrgreen:

Beberapa hari yang lalu saya disibukkan sama seleksi CPNS yang hampir tahap final & setumpuk kerjaan yang menunggu saya konsumsi satu persatu. Ada satu kejadian yang membuat saya trenyuh ketikaa saya menunggu di sekitar Balairung UI tempat saya psikotest kemarin. Sore itu hujan cukup deras, bahkan disertai dengan angin kencang. Saya bersama 2 orang peserta psikotest ngobrol di teras balairung sambil menunggu jemputan & hujan reda. Diujung sana ada seorang wanita setengah baya terlihat sedang sibuk mengutak-atik isi tempat sampah. Ya, dia seorang pemulung. Sore yang makin pekat itu agaknya tak menyurutkan langkah wanita itu untuk berhenti memungut apapun yang bisa dimasukkan tas plastik besar warna hitam itu. Tak terkecuali kardus bekas makan siang kami, bekas botol/gelas air mineral, dan kertas-kertas yang sudah tidak terpakai.

Ada satu pemandangan yang membuat nyaris tidak bisa membendung airmata saya. Ibu itu menyisihkan nasi sisa makan siang kami yang tidak termakan & mengumpulkannya di tempat tertentu. Dengan telaten dia memisahkan nasi dengan lauk pauknya. Dikumpulkan jadi satu dalam sebuah tempat yang sudah dia bawa sebelumnya. Entah, mata saya yang minus ini kurang jelas melihat bentuk tempatnya. Tapi sepertinya sebuah tas plastik warna hitam.

Trenyuh melihatnya. Bayangkan, nasi sisa itu dikumpulkan & akan dibawa pulang oleh ibu itu. Mungkinkah nasi yang tentu saja sudah tidak layak konsumsi itu akan dimakan, dimasak, atau dijadikan nasi aking? membayangkan mereka makan nasi sisa saja sudah bikin saya mau nangis, gimana saya mau melihat langsung ya? Saya tahu bukan hal yang mudah, pun bukan sebuah pilihan hidup untuk menjadi seorang pemulung & hidup dalam garis kemiskinan. Siapa juga yang bercita-cita hidup serba berkekurangan macam ibu itu, kan?

Jadi merasa bersalah karena siang itu saya tidak menghabiskan seluruh makanan yang sudah disediakan oleh panitia. Bukan karena makanannya nggak enak, atau kurang layak. Tapi kebetulan saya masih kenyang karena sarapan agak banyak, belum lagi jam 10 ada break & snack yang agak berat. Jadilah jatah makanan saya itu hanya mampu saya makan setengahnya. Setengahnya lagi.. tidak saya makan.. 🙁

Pelan-pelan saya menghampiri pemulung setengah baya itu. Kembali menggenggamkan beberapa lembar ribuan ke tangan ibu itu yang sekali lagi saya tahu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya hanya membayangkan dirumahnya sekarang (kalau dia punya rumah), pastilah sudah menanti anak/keluarganya untuk diberi makan. Itu kalau mereka dalam keadaan sehat, kalau ternyata dalam keadaan sakit? Duh saya yang yang nggak tega membayangkannya..

“Bu, ini buat ibu.. Maaf saya nggak bisa kasih banyak ya bu.. Semoga bermanfaat..”

Ibu itu melihat saya sambil setengah berkaca-kaca. Ah mata teduh itu, bikin saya yang sensitif ini juga pengen nangis.

“Makasih mbak.. Alhamdulillah. Alhamdulillah ya Allah..”

Saya hanya tersenyum sambil setengah mati menahan supaya airmata saya tidak jatuh.

Dalam hati saya merasa, duh kok saya sok banget ya sudah buang-buang makanan. Sementara ibu ini harus rela memungut sisa makanan orang buat dikonsumsi lagi. Berkali-kali saya istighfar & tak henti-henti saya mengucap syukur atas semua yang sudah Tuhan kasih sama saya. Sekali lagi, Tuhan mengajak saya belajar dari hal-hal & orang-orang kecil disekitar saya. Pelajaran kecil yang tentunya “nancep” banget dikepala & benak saya..

 

 

[devieriana]

 

Continue Reading

Mbak Sri & Tas Usang Saya ..

Pernahkah kalian ketika tidak berniat memberi tapi justru pemberian kita yang tanpa niatan itu diterima dengan segenap hati oleh orang lain? Saya pernah..

Pada awalnya nggak pengen ngasih barang itu ke orang lain. Karena saya tahu barang yang saya maksudkan itu nggak layak kalau dikasih ke orang. Kalau memang niatnya ngasih ya sekalian yang bener, bukan barang rusak & usang begitu.

Kebetulan saya punya beberapa tas yang sudah jarang saya pakai, ada beberapa diantaranya yang sudah rusak entah resleting jebol, sobek diujungnya, kulit tasnya sudah banyak yang mengelupas atau jahitannya yang sudah lepas sana-sini. Intinya memang itu tas umurnya sudah tua, saya juga sudah jarang pakai. Sementara saya sendiri sudah terlalu malas untuk membawanya ke tukang reparasi tas. Sungguh, bukan mau sok kaya, tapi memang saya terlalu malas saja. Lantaran bingung kemana harus saya ungsikan tas-tas yang bertumpuk di pojokan kamar itu akhirnya terpikir untuk menitipkan ke si mbak yang bekerja di rumah ibu untuk entah terserah mau diapain. Mau dibuang boleh, diloakkan juga nggak papa, toh memang kebetulan saya sudah nggak menggunakannya lagi. Justru itu maksud saya, minta tolong diloakkan saja ketimbang numpuk nggak jelas di kamar, dipakai enggak, dibuang juga enggak.

Akhirnya saya sengaja taruh di depan kamar dengan harapan nanti kalau si mbak bersih-bersih bakal lihat itu & langsung membawanya ke tukang loak. Soal nanti laku berapa terserah deh, buat si mbaknya aja. Tapi salahnya saya nggak kasih notes ke si mbak soal titipan maksud itu tadi karena saya sudah buru-buru ke kantor. Sekitar pukul 4 sore ada sms di HP saya yang kasih tahu kalau tas-tas saya itu dibereskan, dirapikan sama si mbak karena dikirain saya yang nggak sempat ngurusin “harta benda” saya itu. Panteslah, wong memang saya nggak kasih notifikasi apa-apa masalah tas-tas seabreg itu. Akhirnya saya telepon si mbak & menjelaskan maunya saya gimana.

Mendadak hati saya tersentuh mendengar suara yang berbinar-binar meyakinkan bahwa benar tas-tas itu sudah tidak lagi saya pergunakan.

“beneran mbak udah nggak pakai?”

“iya mbak, minta tolong dibantu beresin aja. Terserah deh mau mbak Sri apain, biar nggak numpuk di pojokan kamar. Diloakin boleh, dibuang juga nggak papa mbak. Soalnya beberapa tas itu ada yang udah sobek & rusak.. “

“makasih ya mbak.. Nganu, tasnya boleh buat saya aja nggak mbak? Nanti saya juga mau bagi ke adik saya. Buat kami lebaran di kampung.. Dia pasti seneng banget..”

Sontak saya terdiam.. Ya Tuhan, sungguh bukan itu maksud saya.. Kalaupun saya berniat ngasih, nggak akan saya ngasih barang yang sudah nggak jelas bentuknya seperti itu. Apalagi untuk berlebaran.. Speechless.

“mbak Devi? Boleh ndak?”

“eh.. iya.. anu.. aduh gimana ya mbak, itu kan udah ada yang sobek, bolong, rusak.. Udah jelek, nggak sempurna mbak. Kalau mbak mau mending saya belikan aja nanti yang baru. Masa lebaran bawa tas rusak sih mbak.. “, ujar saya kikuk

“Udah mbak, nggak papa.. Besok pagi mau saya bawa ke pasar, mau saya perbaiki ke tukang reparasi tas. Lumayan 2 hari, sebelum saya mudik ke kampung..”, jawabnya di ujung telepon dengan nada gembira.

Saya hanya bisa terharu..

“iya mbak.. boleh. Buat mbak Sri semua kok..”, jawab saya akhirnya..

Masyaallah.. hati saya kembali tertegun. Begitu berharganya nilai barang yang sudah saya anggap sampah di mata orang kecil macam si mbak itu. Sampai tadi pagi dia bertemu sayapun masih membahas tas-tas yang awalnya mau saya buang itu ternyata benar-benar di bawa ke kampung untuk di bagi dengan adik semata wayangnya.

” Matur nuwun ya mbak.. Adik saya seneng banget dapet tasnya mbak Devi. Katanya tasnya bagus-bagus.. Saya bilang : ya bagus, wong itu dari Jakarta, Nduk..”

Saya tersenyum, mendengar ceritanya perempuan berperawakan kecil itu sambil mengaduk teh untuk sarapan pagi.

” Maaf ya mbak Sri.. saya kemarin itu benernya bukan bermaksud ngasih ke mbak. Jujur saya bingung mau dikemanakan tas-tas rusak itu. Saya juga enggak pakai lagi soalnya. Saya yang nggak enak sama mbak Sri, masa ngasih barang rongsokan gitu. Kalau niatnya ngasih ya yang bener sekalian. Gitu maksud saya..”

“Sampun, ndak papa mbak.. saya yang matursuwun banget. Tasnya masih bagus-bagus kok.. adik saya saking senengnya sampai dipakai terus tiap silaturahmi ke rumah teman atau saudara. Ketrima banget kok mbak 🙂 .”

Terharu saya.. Betapa kembali Tuhan mengetuk pintu kesadaran saya untuk tetap bersyukur karena diberikan kehidupan yang jauh lebih layak dari si mbak & keluarganya. Mengingatkan kembali tentang pentingnya arti berbagi dengan sesama.. secara ikhlas..

 

[devieriana]

Continue Reading

Kisah Hidup dalam Sebuah Taksi

Hari ini setelah seharian diterpa “badai” telpon komplain, emailing & negosiasi sana-sini ditambah curhatan masal dari seluruh Indonesia tentang THR & teman-temannya akhirnya baru bisa pegang kerjaan sendiri sekitar jam 14.00, itupun sudah dengan “hawa” kurang bersemangat & pengen pulang, lantaran sudah terlalu sore untuk mulai kerja sementara pikiran & energi saya sudah tercurah untuk mengurusi tetek bengek masalah hak & kewajiban anak-anak saya sejak pagi.

Berhubung hari ini saya & suami ada buka bersama di kantor masing-masing jadi ya nggak bisa pulang bareng. Okelah tak apa, dan sayapun memutuskan untuk naik taksi. Lumayan kan bisa sedikit rileks.

Ternyata driver taksi yang saya tumpangi termasuk orang yang suka ngobrol. Awalnya saya pikir, “ah.. bapak ini cuma pengen basa-basi aja kali ya..”. Tapi ketika saya sadar bahwa dia nggak bisa berhenti ngobrol, akhirnya sayapun mulai mengkonsenkan diri dengan obrolan pak supir yang ternyata asli Cilacap (Jawa Tengah) itu.  Sebenarnya ini bukan kali pertama saya diajak ngobrol & curhat sama seorang supir taksi. Kebetulan saya memang “pawakan” (bakat) dicurhati orang. Dan ini pengalaman kedua saya dicurhati seorang supir  taksi.

Cerita itu mengalir sejak saya naik sampai saya tiba di tempat tujuan. Cerita unik tentang kehidupannya dia, pertemuan dengan istrinya, kebanggaan terhadap keluarganya, cita-citanya,  kecintaan & hormat kepada kedua orangtuanya. Kepandaian kedua buah hatinya & kerinduannya terhadap keluarga di Tegal. What a perfect family, pikir saya. Di sela-sela kisah hidupnya saya sempat berpikir, apa iya dia juga menceritakan hal-hal seperti ini ke semua penumpang dia atau cuma ke saya aja?

“Dulu saya nggak pernah cinta sama istri saya lho mbak..”

“ha? kok bisa pak? bapak dijodohin?”

“dijodohin sih enggak, ada “adat” di daerah istri saya.. Kalau seorang perempuan sudah dikunjungi teman pria, pasti disuruh nikah.”

“oh ya? masih ada yang kaya begitu ya pak?”

“ya adalah mbak.. namanya juga masih di daerah.. Jujur saya menikah dalam keadaan serba nggak siap. Semua ditanggung keluarga istri saya.. Ya abis gimana, wong niat saya cuma main kok malah ditodong suruh nikah..”

“ya bapak kan bisa nolak pak, kalo emang ga suka..”

“ya gak bisa gitu juga sih mbak.. wis pokoknya ribet aja.. Namanya anak, ya wis nurut aja daripada dianggap durhaka.. Uniknya saya ini pas hari H pernikahan saya , paginya saya masih di Jakarta, nyupir.. Jujur saya nggak punya uang buat menghidupi calon istri & keluarga saya mbak.. Saya benernya malu.. Calon kepala keluarga kok nggak bisa menghidupi keluarganya..”

“Lho.. trus.. perhelatan pernikahannya gimana pak?”

“hahahaha.. ya ditunda.. dandanan istri aya aja sempat dibongkar.. Tapi malamnya saya datang mbak..”

Saya tertawa.. Kisah yang aneh, tapi nyata. Taksi sudah mulai melintas di Gatot Subroto & saya mulai tertarik dengan cerita hidupnya..

“Trus kalo nggak cinta kok bisa punya anak dua pak?”, tanya saya iseng banget..

” Ya namanya tiap hari ketemu, serumah, tidur bareng.. lama-lama saya ya cinta sama dia mbak.. Saya kok merasa beruntung punya istri kaya dia. Pinter, taat beribadah nggak terlalu banyak menuntut, sederhana & pandai mengatur keuangan keluarga.. Nggak kaya istri teman saya yang kerjaannya minta uang melulu..”, tuturnya polos..

“ya itulah yang namanya jodoh ya pak.. Nggak pernah bisa ditebak datangnya darimana. Ada yang ngoyo banget cari jodoh tapi kalau Yang Diatas belum bilang “ya” ya belum ketemu-ketemu.. Ada juga yang nggak ngoyo nyari jodoh.. eh malah diparingi yang sempurna kaya istrinya bapak ya..”

“iya mbak.. wis pokoknya alhamdulillah dengan kehidupan & keluarga yang Allah sudah kasih ke saya sekarang ini mbak.. “

“Lebaran ini bapak mudik?”

“enggak mbak, mungkin habis lebaran. Kerjanya mungkin nanti agak ngoyo, biar bisa bawa uang lebih buat anak istri di rumah.. Walaupun mereka udah bilang sama saya kemarin begini, “Yah, lebaran ini ibu sama anak-anak nggak usah beli baju lebaran. Uangnya disimpen aja buat bikin rumah & anak yatim yah..”. Saya sampe terharu mbak.. “

“Alhamdulillah mereka pada mau ngerti ya pak..”

Saya tertegun, betapa Tuhan seringkali memberikan saya pelajaran hidup melalui jalan yang tak pernah saya sangka. Salah satunya lewat kesederhanaan hidup bapak supir taksi ini. Saya malu, saya yang dikaruniai lebih banyak kelebihan, keberuntungan & kemudahan sama Allah ini masih saja banyak melontarkan keluhan-keluhan nggak penting. Lebih sering melihat dengan tatapan iri ke arah warna rumput tetangga yang jauh lebih hijau daripada rumput di halaman saya sendiri. Lebih sering melihat ke atas ketimbang ke bawah.

Astaghfirullah..

Terimakasih untuk curhat & pelajaran sederhana tentang hidup hari ini ya pak..

[devieriana]

Continue Reading
1 4 5 6 7 8 10