Dad, I hate you, but you're dying now

hands

Dahinya berkerut, bibirnya setengah menggumam tak jelas, matanya nanar melihat kearah kedip ponsel di samping  keyboardnya. Saya melirik sekilas, setelah itu kembali konsen dengan setumpuk kerjaan yang harus saya genapkan hari ini. Sementara di kubikel lain teman-teman bercanda riuh saling meledek satu sama lain. Cerah ceria, maklum baru gajian. Saya menimpali sesekali sambil tetap konsen ke follow up komplain ketidaksesuaian hasil kerja team saya.

Beberapa waktu berlalu handphone itu berdering lagi. Reaksinya tetap sama, kening berkerut, gumaman tak jelas & kembali cuek dengan “teriakan” handphonenya.

“Nomer siapa sih ini, telpon-telpon melulu?”, sungutnya kesal. Saya lepas headset & mulai memperhatikan,
“ya harusnya tadi diangkat aja kan gapapa dear..”
“ah males mi, gak kenal nomernya.. pasti iseng”

Begitulah dia. Nomor tak dikenal = orang iseng. Entah karena terlalu sering dia menerima telepon iseng ya sehingga digeneralisir semua nomor tak dikenal itu nomor orang iseng. Dia yang terlalu ngetop barangkali *nyengir*

Sampai kejadian itu berulang ketiga kalinya. Kali ini bukan hanya saya tapi juga teman yang lain yang juga memperhatikan gaya cueknya dia mengacuhkan telepon. Kali ini rupanya bujukan kami berhasil. Diangkatnya telepon selular itu. Kalau dilihat sepintas dari suaranya yang terdengar melunak & terdengar lebih familiar pasti suara di seberang sana orang yang sudah dikenal.Dia beranjak dari tempat duduknya & keluar ruangan.

Sepuluh menit kemudian dia kembali. Namun wajahnya terlihat sedikit bimbang & gusar.

“ternyata siapa say?”
“oh, tanteku..”, jawabnya datar
“tuh kan, ternyata tante yang telpon kan? emang kamu gak simpan nomernya?”
“dia ganti-ganti nomer mulu Mbak, jadi aku ga update nomornya yang mana”
“Oh, ya udah kalo gitu. Eh tapi..”, saya berhenti sejenak takut pertanyaan selanjutnya terlalu pribadi buat dia. Walaupun akhirnya saya lanjutkan juga..
“err.. kamu gapapa kan?”
Dia diam, wajahnya mendadak berubah, “papa sakit Mbak. Sekarang lagi di RS.. Tadi Om bilang papa sempat.. udah ga napas lagi..”

Saya tercekat. Saya tahu bagaimana hubungan ayah-anak ini. Dulu anak saya satu ini sering curhat sama saya tentang apa saja. Anaknya sedikit tertutup, tapi entah ya, dia selalu cerita sama saya termasuk beberapa hal yang saya anggap urusan pribadi.

Orangtuanya berpisah ketika usia dia & saudaranya masih kecil. Saya kurang tahu pasti masalahnya seperti apa, tapi yang jelas dia punya kenangan buruk dengan sang ayah. Sayangnya waktu tak bisa memupuskan kebenciannya kepada sang ayah yang telah mengukir raganya & sekarang tengah berjuang mempertahankan nyawa di RS. Saya hanya bisa menyarankan untuk meluangkan sedikit waktu yang dia punya untuk sekedar berjumpa dengan sang ayah. Dia sempat berkeras, “tidak sekarang!”.

“dear, kita gak pernah tahu sampai kapan umur seseorang. Apalagi dia papa kamu. Tanpa dia kamu gak akan pernah ada. Ya jenguklah walau sebentar..”
“ah dia udah baikan kok..Dia cuma kecapekan sama ga tau deh ada sakit apa lagi gitu”, jawabnya setengah cuek.
“dear.. yakin kamu gak bakal nyesel kalau kamu ga ketemu lagi sama beliau untuk selamanya? Bukannya ngedoain ya, tapi sekali lagi, kita ga pernah tahu kapan Tuhan akan mengambil nyawa orang terdekat kita. Sebenci-bencinya kamu sama dia dia tetap orangtua kamu. Bukalah hatimu sedikit. Bukan saat yang tepat untuk mempertahankan ego di saat seperti ini. Apalagi ini menjelang Ramadhan. Wis tho, kamu bakal nyesel ketika kamu sadar sebenarnya bisa meluangkan waktu sebentar untuknya tapi kamu gak memberikan kesempatan buat dia.. Just give him a hug & kiss..”

Dia diam, sampai akhirnya dia luluh & mengalah,

“ok, aku akan pergi ke Bekasi, tapi mungkin baru bisa besok atau lusa. Hari ini waktunya udah mepet Mbak..”
“Ya terserah kamulah, yang penting luangkan sedikit waktu buatnya. Seburuk-buruknya dia di mata kamu, sejahat-jahatnya dia sama kamu di masa lalu, dia tetap papamu.. Janji jenguk ya ..”
“iya Mbak..”, sahutnya pelan.

Saya nggak tahu apa yang ada di benak & pikirannya sekarang. Apakah mungkin dia tengah bergulat dengan egonya? Entahlah. Jujur, saya jadi ingat sama papa saya. Kangen sekali sama beliau. Sosok yang juga tak sempurna, tapi selalu berusaha sempurna dalam menyayangi kami bertiga & mama. Seorang yang fun & paling mengerti karakter saya. Beruntunglah kita yang masih dikaruniai orangtua yang masih sehat, terlepas apakah mereka masih bersatu atau sudah tidak bersama lagi. Merekalah harta paling berharga dalam hidup kita. Tanpa mereka tentu kita tiada..

Dear parents, we love you

 

gambar dari sini

Continue Reading

Suatu sore di belakang Setiabudi Building

Sore itu jalanan di belakang Setiabudi Building itu lengang, basah setelah diguyur hujan sejak siang tadi. Lelaki renta yang bungkuk itu berdiri di pinggir jalan di samping plastik besar yang berisi barang pulungannya. Kakinya telanjang, bajunya kumal & berlubang. Usianya mungkin sekitar 70an. Badannya kecil, tulang belulang & tubuhnya yang ringkih mengintip di sela bajunya yang compang-camping. Dia diam sambil tertunduk, bertahan dengan penyangka tongkat ditangan kirinya, menggigit bibir bawahnya seolah sedang menahan sakit yang luar biasa. Ya, kaki kanannya dibebat perban warna coklat, kakinya timpang. Badannya seolah ingin menumpu pada tongkat yang dipegang di tangan kanannya. Dia sendirian. Dia kesakitan. Entah apa yang sedang dirasakannya. Nyeri? Perih? Ngilu?

Saya berlalu. Walau sejurus kemudian saya kembali menoleh, jauh setelah saya meninggalkannya sendiri. Aduh, kenapa sih saya ini? Lambat sekali otak saya bereaksi. Kenapa setelah jauh saya baru ingin kembali?

“mas, kamu lihat bapak yang tadi gak?”, tanya saya pada suami yang menjemput saya sore tadi
“kenapa? kamu mau ke bapak itu?”, tanyanya. Ah dia bisa membaca pikiran saya rupanya..
“iya.. kasian dia mas, kaya orang kesakitan gitu. Sudah tua, sendirian pula. Mas keberatan gak kalau kita berbalik arah?”
“ya udah kita balik ke bapak tadi yuk..”

Ketika saya sampai di tempat bapak tua itu, posisinya ternyata masih sama. Menunduk dengan salah satu kaki setengah diangkat bertopang pada kayu yang dipegangnya sambil menahan sakit. Tas plastik besar itu masih teronggok di samping trotoar belakang Setiabudi Building. Saya turun dari motor, menghampiri dia. Saya raih pelan tangannya ..

“Pak, ini buat Bapak.. buat beli makan ya pak..”, saya menggenggamkan beberapa lembar uang ke tangannya yang dingin. Dia menatap saya seolah tak percaya. Mendadak matanya berkaca-kaca, dia menangis..Ya menangis, tergugu, sambil mengucap alhamdulillah berkali-kali.. Airmata saya meleleh pelahan. Dia menggenggam tangan saya, tulus dia berkata, “terimakasih banyak Neng, alhamdulillah, Allahu akbar.. Alhamdulillah ya Allaah..Neng, ..”, dia masih menggengam tangan saya. Saya meraih bahunya, menepuknya perlahan, “maaf ya pak, saya mungkin ngasihnya ga banyak.. “, bisik saya pelan, bingung & tak mampu lagi berkata-kata..
“Ya Allah.. terimakasih banyak Neng. Bapak doakan Neng dapat berkah yang banyak ya.. Semoga Allah memberikan segala kemudahan buat Neng.. Alhamdulillah ya Allah”, serunya parau sambil tak henti-henti  mengucapkan alhamdulillah & mendoakan kami. Kali ini airmatanya meleleh deras..

Saya menangis, kami bertiga menangis di pinggir jalanan yang sepi. Entah kenapa tidak ada seorang pun yang melintas saat itu. Mungkin salah satu cara Tuhan menyampaikan rezeki untuk bapak itu melalui kami ya.

Ini bukan cerita fiksi atau rekayasa. Pengalaman pribadi saya sore tadi selama beberapa menit bersama seorang bapak tua yang miskin & (sepertinya dia sedang) sakit 🙁 . Belum pernah sekalipun selama hidup saya mengalami kejadian seemosional ini dengan orang asing yang entah itu pemulung atau pengemis.  Selama ini kalau pengen ngasih ya sekedar ngasih, ngga pakai nangis, mewek, apalagi sampai meninggalkan kesan yang mendalam seperti tadi. Sepanjang jalan sampai di rumah saya masih menangis. Cengeng banget ya? Sedikit menyesal karena saya hanya bisa memberinya uang sekedarnya, mungkin nilainya tak seberapa.. 🙁

Jujur saya jadi malu pada diri saya sendiri. Seolah barusan Allah menyadarkan saya, betapa beruntungnya saya telah diberi kemudahan dalam mencari rezeki, kesehatan, kesempatan baik, keluarga & teman-teman yang menyayangi saya. Seperti merasa ditampar, ketika saya banyak mengeluh, terlalu banyak menuntut, kok sepertinya kurang bersyukur sekali saya ini..

Ah, jadi kangen sama kedua orangtua saya nih .. 🙁

[devieriana]

Continue Reading

Bomb Blast (again) Here ..

jw marrot bombingKemarin, Jumat tanggal 17 Juli 2009 Jakarta kembali diguncang bom di Ritz Carlton & (again) JW Marriot. Kebetulan saya waktu itu sudah di kantor siap dengan aktivitas kerja saya. Jelas kagetlah. SMS dari rumah langsung sampai, menanyakan kabar & kondisi saya, apakah baik-baik saja. Tak heran karena lokasi kantor saya hampir berdekatan dengan 2 lokasi itu (terutama JW marriot). Kantor saya di Rasuna Said – Kuningan, sementara JW Marriot ada di lingkar Mega Kuningan , lumayan dekatlah. Kalau beberapa tahun lalu saya belum menjadi warga Jakarta & hanya tahu lokasinya lewat gambar di televisi & internet/surat kabar. Tapi sekarang, saya hampir  tiap hari melewati depan JW Marriot kalau pulang kantor (via belakang Ambassador Mall) & beberapa kali lewat depan Ritz Carlton kalau menghindari rute banjir di belakang kedubes daerah Jl. Denpasar.

Kalau ditanya apa perasaan saya sekarang, jujur saya ngeri, takut & paranoid. Ini adalah 2 tahun saya di Jakarta. Kalau soal musibah, terror, dll memang bisa terjadi dimana saja & kapan saja & bisa menimpa siapa saja. Justru itulah ngerinya. Bayangkan, setelah kondisi yang sudah lumayan kondusif setelah aksi terror bom di tahun 2003, lha kok ya sekarang ada bom lagi. Apakah masa kurang lebih 6 tahun tanpa kegiatan pengeboman itu sudah dianggap sebagai suatu kondisi aman? Jadi tingkat pengamanan mengendur? Entahlah..

Kalau mau jujur nih (semoga bisa jadi koreksi juga), saya sering mengalami & melihat dengan mata kepala sendiri adanya beberapa kelonggaran sistem pengawasan di beberapa gedung & mall,  seems they just did it cursory,  terkesan hanya sebagai formalitas memeriksa pengunjung beserta their luggage. Kalau pagi saya datang ke kantor  atau misal sore saya ke mall, sebelum masuk gedung seperti biasa pasti ada formalitas pengecekan tas dengan metal detector, tapi kadang juga banyak enggaknya tuh. Malah justru saya doang yang masuk via pintu metal detector  tas saya cuma di oper dari satu security ke security lainnya tidak dibuka, tidak di cek. Pernah saya justru yang memberikan tas saya buat diperiksa malah securitynya yang mempersilahkan saya masuk tanpa diperiksa.

Security : “masuk aja mbak gapapa..”
Saya : “emang udah ga diperiksa pakai di metal detector lagi ya pak?”
Security : “kadang masih pakai sih mbak.. cuma kalau pagi gini suka saya matikan, hemat baterei..”

Alamak.. hemat baterai katanya.. :O .Wah, longgar sekali ya pengawasan gedung-gedung di Jakarta kalau kaya gini caranya ya. Ok, saya tidak menggeneralisir  security treatment untuk para pengunjung tiap gedung/mall seperti itu. Yang saya khawatirkan justru ditengah lengahnya mereka inilah justru kondisi yang akan dimanfaatkan para bomber. Kita tidak menyangka kan kalau siapapun bisa “nyaru” jadi bomber? Buktinya saja mereka bisa nyaru jadi tamu di hotel, atau nyaru jadi pengunjung restoran.. nah apa bedanya dengan nyaru jadi karyawan gedung tertentu? Who knows? 😕

Di luar sana (entah), mungkin sang mastermind pengeboman ini sedang tertawa menepuk dada. Merasa rencananya telah berhasil. Kira-kira apa ya yang ada di otak mereka atau hatinya terbuat dari apa? Batu, semen, besi, atau apa? Dimana ya letak sisi manusianya? Gimana ya kalau salah satu diantara korban itu justru adalah keluarganya sendiri.. Nyawa kok dibuat mainan.. 🙁

Terlepas dari apapun motif & siapapun mastermind dibalik pengeboman itu (mau Al Qaeda & Jamaah Islamiyah network atau bahkan suspect lain diluar itu) , no more I can say.. Mengucapkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Mr. Tim MacKay beserta korban-korban lainnya, semoga arwah para korban diterima disisi Allah SWT & semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini lagi ya Tuhan.. Amien ya rabbal alamien..

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading

Rencana Tuhan Yang Tak Kumengerti

Dulu, setiap kali saya mengalami kegagalan atau kesedihan, yang saya salahkan adalah keadaan & Tuhan. Anggapan saya : Tuhan itu gak pernah sayang sama saya secara total!. Dari sekian banyak keberhasilan yang Allah beri selalu diimbangi dengan kegagalan yang saya terima. Tidak pernah terpikir dalam otak saya ketika Allah menjawab doa & keinginan-keinginan saya melalui cara-cara yang tak pernah disangka, bahkan kadang justru melalui kesedihan & kegagalan yang saya alami.

Seperti halnya ketika saya ingin membuat orangtua saya bangga, Tuhan memang memberi saya kesempatan lulus SMA dengan NEM kepala 5, orangtua saya bangga. Tapi tidak diikuti dengan lolosnya saya di UMPTN. Saya merasa gagal. Apalah artinya NEM segitu kalau saya gagal di UMPTN? Ah, Tuhan memang tidak serius mengabulkan doa saya ah 🙁 . Pikir saya waktu itu..

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil program diploma Kesekretariatan di Universitas Brawijaya – Malang, Tuhan kembali memberi kesempatan pada untuk lulus dengan IPK diatas 3.7 & sekali lagi alhamdulillah bisa membuat orangtua saya dengan bangga duduk di deretan VIP. Tapi apakah lantas dengan lulus cumlaude itu diiringi dengan jaminan cepatnya saya memperoleh pekerjaan? NO.. It’s a BIG NO! Kembali saya mengalami kegagalan & lagi-lagi saya berpikir,  “Aduh Tuhan.. kenapa selalu setengah-setengah sih kalau ngasih keberhasilan sama saya?” *bletak*

Kalau pun iya saya akhirnya bekerja, bukan di sebuah perusahaan berskala nasional, tapi ya alhamdulillah saya sudah bekerja & punya penghasilan sendiri. Kembali saya kurang puas & mengeluh. Sampai saya pindah-pindah kerjaan pun nasib baik belum juga beranjak mengikuti saya 🙁

Sampai akhirnya, Tuhan memberi kesempatan buat untuk bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi selular terbesar di Indonesia. Perusahaan yang awalnya too high for me to reach, rasanya nggak mungkin banget bisa bekerja disitu. Tapi kok ya ndilalah Tuhan kasih saya kesempatan bekerja disana, sampai sekarang..

Selesai masalah pekerjaan, ganti masalah jodoh. Saya kembali mengeluh pada-Nya :

“Aduh Tuhan, kok saya nggak cepet-cepet nikah sih? Umur saya toh sudah cukup. Lagipula saya juga nggak memilih yang muluk-muluk. Asalkan dia bisa memberi nafkah untuk keluarga & perhatian sama saya & anak-anak kelak, insyaallah cukup kok..”.

Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan suami saya yang.. OMG benar-benar jauh beda dengan saya &  teman-teman gaul saya. Watak & sifat yang jauhnya bumi langit sama saya. Sempat mikir lagi : “ah, Tuhan lagi becanda ya? Ini sih kejauhan, samasekali jauh dari ekspektasi saya, profil yang nggak pernah saya bayangkan. .” *dikeplak sama Tuhan nih lama-lama* —> “katanya tadi minta yang biasa aja gapapa, sekarang protes kok gak kaya temen-temen kamu, gimana sih?!” (gitu kali Tuhan ngomongnya ya? ;))).

OK, doa saya menikah dengan orang yang “biasa saja” itu tadi terkabul. Walau awalnya tetep penasaran kenapa saya menikahnya justru bukan dengan si A atau si B yang jauh lebih match sama saya. Jujur waktu itu masih muter-muter dengan keputusan saya sendiri. Bukan berarti saya nggak cinta sama suami lho ya.. 😀 . I do love him with all my heart. Tapi sekali lagi yang namanya jodoh itu nggak bisa dipaksakan ya. Walaupun secinta-cintanya kita sama seseorang kalau Yang Diatas bilang NO, ya nggak bakalan kejadian.. 🙂

Sampai akhirnya saya hamil. Sifat & watak suami yang keras versus ego saya yang ketinggian menghasilkan percikan-percikan api di kehidupan rumah tangga kami. Biasalah perang antar suku ;)). Sampai saya bilang sama Tuhan :

“Ya Allah, semoga si kecil kelak bisa jadi peredam emosi kami, semoga bisa membuat suami saya jauh lebih lunak sikapnya, semoga bisa lebih rukun lagi ya Allah. Semoga Engkau lapangkan jalan rezeki keluarga kami ya Allah.. Semoga nantinya akan ada perubahan kearah yang lebih baik.. Amien.”

Saya nggak pernah sadar kalau doa itu ternyata didengar & dikabulkan. Tapi dikabulkan dengan cara yang sama sekali tidak pernah saya sangka, bahkan cenderung menyedihkan. Si kecil meninggal dalam kandungaan usia 6 bulan. Itu pengalaman yang paling menyedihkan yang pernah kami terima. Tapi tahukah perubahan apa yang terjadi terhadap suami (& saya) setelah itu? Ajaib, suami menjadi lebih sabar, lebih perhatian, lebih ngemong, dan pokoknya jauh lebih baik dari sebelumnya, hingga sekarang. Yang awalnya saya mau resign setelah melahirkan ternyata tidak jadi & alhamdulillah saya diangkat jadi Team Leader Quality Assurance di callcentre Telkomsel Regional Jakarta. Alhamdulillah.. Belum lagi saya sempat berleha-leha menjadi TL di regional Jakarta, kembali Allah kasih kesempatan pada saya untuk jadi TL QAO Nasional..

Sama dengan halnya jodoh. Orang-orang yang saya anggap ideal buat saya di masa lalu, mendadak semuanya disingkap keburukannya oleh Allah. Subhanallah.. Saya jadi bersyukur punya pasangan seperti suami saya yang sekarang, yang sederhana, apa adanya, nggak neko-neko & (insyaallah) tidak pernah membagi hatinya untuk siapapun.

Sampai sekarang masih suka merinding kalau mengingat doa-doa saya dijawab oleh Tuhan dengan jalan yang tidak  pernah saya sangka-sangka. Suka malu hati kalau ingat marah-marahnya saya sama Dia. Kalau selama ini saya cuma sekedar menghibur kalau ada teman/keluarga yang susah : “selalau ada hikmah yang bisa kita ambil disetiap kegagalan &  musibah yang kita terima”. Tapi kali ini saya bisa sangat yakin :

“yes, absolutely.. there’s a blessing in every disguise..” 🙂 .

Ya Allah, maafkan aku yang terlalu banyak menuntut ini ya.. [-o<

[devieriana]

Continue Reading

Stop Child Abuse !!

child abuse
child abuse

Entah sejak kapan pastinya saya mulai peduli dengan kekerasan pada anak (child abuse). Apakah sejak saya mulai membaca trilogi kisah nyata David Pelzer True Story (A Child Called  It, The Lost Boy, A Man Named Dave) & buku-buku karya Torey Haydens & perjuangannya melawan child abuse via autumn campaign “Talk Till It Stops”.

 

Di satu sisi saya merasa sangat bersyukur terlahir di tengah keluarga yang harmonis & hangat. Kalaupun saya pernah dijewer atau dicubit masih dalam skala yang wajar, tidak sampai yang sampai saya mengalami trauma akibat child abuse-lah. Masih ingat dalam memory saya, ketika masih kecil melihat betapa Papa sangat menyesal telah memarahi & membuat saya menangis. Masih saya ingat juga ketika malamnya setelah kejadian itu Papa mendekati tempat tidur saya & menyangka saya sudah lelap (padahal pura-pura tidur), Papa mengucap maaf sambil mengecup kening saya sambil berbisik, “Wuk, maafin Papa karena udah bentak kamu  tadi ya..” (tiwuk itu panggilan sayangnya Papa/Mama ke saya & adik perempuan saya). Saya hanya bisa pura-pura tidur dengan posisi diam padahal sudah mau nangis dari tadi. Begitu Papa keluar kamar.. langsung deh nangis bombay :((

 

Anak-anak hanya makhluk lugu tak berdosa yang tak berhak mendapatkan penyiksaan dalam bentuk apapun dari orang dewasa di sekitarnya. Baik itu berupa kata-kata (pelecehan secara verbal), maupun siksaan secara fisik. Apalagi jika ditinjau dari data di Media Indonesia menyebutkan tingkat kasus kekerasan pada anak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun sebagaimana anomali sosial yang muncul di masyarakat, daari sedemikian  banyaknya data diatas itu hanyalah “tip of an iceberg”, artinya dari data tersebut sebenarnya ada ribuan (atau bahkan lebih) kekerasan yang tak terungkap atau sengaja ditutupi oleh pelaku maupun korban child abuse. Dengan banyaknya kasus kekerasan pada anak yang tidak terungkap ini seolah-olah kotak pandora kekerasan tertutup rapat. Sebab pelaku tindak kekerasan tersebut seringkali justru adalah orang-orang terdekat dari para korban. Seperti misalnya, orang tua (ayah dan ibu), dan kerabat dekat (paman, bibi, kakek, nenek dan kakak), atau bahkan orang yang tidak dikenal.

 

Beberapa hari yang lalu malah sempat lihat tayangan di televisi yang mengabarkan ada seorang balita yang meninggal akibat dihajar oleh ayah tirinya. Masyaallah.. sudah separah itukah kenakalan yang dilakukan si anak sampai tega-teganya si ayah menghakimi anak tirinya yang masih balita? Ada juga berita tentang seroang anak yang hanya gara-gara tidak mendengar ketika ayahnya memanggil langsung disiram kopi panas & dihajar hingga babak belur.

 

Kok mereka gak sadar ya, bahwa sesungguhnya anak yang tinggal bersama mereka hanya titipan? Seharusnya meereka banyak bersyukur telah dikaruniai keturunan, seharusnya mereka melihat begitu banyak orangtua di luar sana yang belum dikaruniai keturunan. Mengapa yang sudah diberikan keturunan kok malah menyiksa titipan-Nya? Analoginya, kita ke supermarket, kita titip helm & jaket ke petugas penitipan barang. Apa iya petugasnya berhak untuk merusak barang yang kita titipkan? Enggak kan?

 

Sebagaimana salah satu puisi Kahlil Gibran yang berjudul “Anakmu bukan anakmu” :

Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu, curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.

 

Karena kita juga tidak ingin mengalami kondisi seperti apa yang dikatakan oleh Freud (ahli psikologi analis) : pengalaman traumatis yang dialami seseorang akan tersimpan jauh di alam bawah sadar seseorang, dan dalam kondisi tertekan akan menciptakan perilaku menyimpang melebihi dari efek trauma yang pernah dialaminya.

 

Hargailah nyawa & hidup mereka sebagaimana para orangtua kita menghargai nyawa & merawat kita dengan segenap jiwa. Kita tidak pernah tahu nasib apa yang akan kita lalui kedepannya, siapa tahu mungkin justru kita akan bergantung padanya ketika usia kita mulai senja.

 

 

gambar ngambil dari sini

 

Continue Reading