Guru Bagi Sesama

Ada sebuah kata-kata filosofis yang membuat saya masih terngiang-ngiang sampai sekarang sejak melihat sebuah tayangan di salah satu televisi swasta beberapa waktu yang lalu, tentang sekelompok wanita yang bergerak di bidang LSM yang peduli AIDS di Surabaya. Nah kebetulan salah satu diantaranya ternyata seorang wanita yang “hanya” berpendidikan SMP tapi dia justru adalah pemimpin LSM itu.

Salah satu kata-katanya yang menurut saya inspiring sekali kurang lebih seperti ini :

“Suami saya selalu berusaha membangkitkan semangat saya. Dia bilang, kamu harus terus maju, jangan minder walaupun kamu hanya tamatan SMP. Sekolah tidak harus selalu ditempuh melalui pendidikan formal. Siapapun bisa jadi guru bagi lainnya. karena setiap kali kamu bertemu dengan orang lain atau orang baru, selalu ada ilmu baru yang bisa kamu dapatkan dari mereka. Pun halnya dengan tempat/lokasi. Ilmu tidak selalu didapatkan di sekolah. Dimanapun bisa menjadi tempat belajar bagimu..”

Kata-kata sederhana yang maknanya tentu tidak sesederhana kalimat yang terucap ya, karena nyatanya ada banyak makna yang tersirat didalamnya.

Tanpa sengaja seringkali kita justru banyak mendapatkan/mencuri ilmu dari orang lain tanpa kita sadari. Kita meniru sifat baik orang lain, berkaca dari kebijakan orang lain, atau belajar mengatasi masalah dari mereka dan lalu menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Nah, karena saking banyaknya yang sudah kita dapatkan dari orang lain kita baru sadar kalau ternyata ada banyak orang yang sudah berperan & berpengaruh dalam hidup kita.

Guru kita bahkan tidak selalu orang yang berasal dari kalangan akademisi, yang usianya harus lebih tua atau lebih berpengalaman dibandingkan dengan kita. Kita acapkali diajari oleh seseorang yang usianya justru jauh lebih muda daripada kita, seseorang yang pendidikannya jauh dibawah kita, atau bahkan bagi yang sudah memiliki putra/putri seringkali banyak belajar hal dari mereka. Kita belajar dari hal-hal kecil atau sesuatu yang remeh. Lokasi kita mendapatkan ilmu itu pun bukan terbatas lagi di sebuah bangunan dalam lingkup pendidikan, tapi bisa dimana saja. Bisa dijalanan, di rumah, di kantor, warung, fasilitas umum, dan lain-lain.

Saya pun banyak belajar dari teman-teman saya yang usianya sangat beragam, malah kebanyakan lebih muda daripada saya. Belajar bagaimana fokus menelusuri masalah dan mencari akar permasalahannya, belajar bekerja secara teliti, belajar sportif, belajar menjawab secara diplomatis ketika dibutuhkan. Bahkan tak jarang ada sebuah proses pembelajaran ketika ada hal-hal negatif yang menghampiri kehidupan saya, belajar bagaimana menerima sebuah kekalahan/kegagalan dengan positif dan lalu menjadikan sebuah pelecut semangat yang baru untuk sesuatu yang lebih baik ke depannya.

Ternyata banyak sekali pengaruh dan ilmu positif yang bisa kita dapatkan dari orang lain dan lingkungan sekitar ketika kita mau membuka diri. Kita bisa belajar dari siapapun, dimanapun. Karena sesungguhnya “everyone is a teacher for other”. Hmm, kalau begitu bisa jadi tanpa kita sadari mungkin selama ini kita juga telah menjadi guru/panutan bagi orang lain ya? ๐Ÿ˜•

Tuluslah ketika berbagi, akan ada imbalan berupa kebahagiaan tersendiri ketika kita mengetahui orang lain yang juga mendapatkan hal-hal positif karena kita..

Have a nice weekend :-bd

[devieriana]

Continue Reading

Disana, dahulu kala ada negara yang bernama Indonesia

Sebelummya saya ingin bilang kalau saya suka sekali dengan kutipan kata-kata dalam ilustrasi diatas :

“we are poor in the rich country”

“Ask what you can do for your country?”

Indonesia, “unity in diversity”

“What we have to do is to have these differences blend us together in perfect harmony like the beautiful spectrum of the rainbow”

Sebuah tema yang menarik untuk diulas. Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali berita miris yang merujuk pada kerusuhan-kerusuhan berbau SARA dan kasus-kasus yang memicu konflik kekerasan lainnya. Kebetulan tulisan ini saya buat untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Diklat Prajabatan bulan Mei-Juni 2010 kemarin. Sesuai janji saya waktu itu, akhirnya tulisan ini saya posting disini ๐Ÿ˜€ .

Dalam materi Wawasan Kebangsaan itu si bapak widyaiswara (nama lain untuk jabatan trainer) memberikan tugas tertulis dengan tema global : “Disana, dahulu kala ada negara yang bernama Indonesia”, selanjutnya kami diminta untuk membuat sebuah tulisan singkat yang mendeskripsikan tentang tema terkait. Terserah bagaimana kita akan mengembangkan tulisan itu, apakah nantinya ditulis dalam bentuk prosa atau puisi. Saya memilih untuk menjadikannya dalam bentuk prosa (cerpen, fiksi).

—–

Di suatu sore yang gerimis, di sebuah kamar apartemen mewah di pusat kota New York, seorang ibu muda terlihat berbincang akrab dengan seorang bocah lelaki kecil berusia sekitar 10 tahun. Mereka tampak akrab, sambil sesekali diselingi canda ringan keduanya. Sebagaimana karakter seorang anak kecil seusianya si bocah tampak begitu antusias mengeksplorasi apapun yang ada di sekelilingnya.

Sang ibu dengan sangat sabar menjawab semua pertanyaan putra semata wayangnya itu. Sambil sesekali mengusap kepala sang buah hati yang sibuk bertanya ini itu seraya menjelaskan dengan gaya bahasa yang mudah dicerna untuk ukuran anak seusianya.

Ah ya, tampaknya sekarang mereka tengah membahas tentang negara-negara di dunia. Sebuah buku peta tua bersampul kulit warna coklat tua terbuka di karpet tempat mereka menghabiskan waktu petang itu. Mirko, demikian nama bocah lelaki kecil itu kerap disapa, tampak kagum dengan segala yang diceritakan sang ibu. Namun mendadak sang ibu tertegun tatkala membuka selembar halaman yang bergambar sebuah negara kepulauan. Mirko menatap ibunya sungguh-sungguh, sambil bertanya :

โ€œ Ibu, kenapa ibu terlihat sedih? Ada apa, Bu?โ€

Sang ibu tampak tak segera menjawab. Diam-diam sebulir airmata mengalir di pipinya. Dia terisak lirih sambil berusaha tersenyum. Dia tak ingin terlihat sedih di depan anak semata wayangnya itu. Tapi mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai menceritakan kepada Mirko apa yang menjadi sumber rasa sedihnya itu.


โ€œIbu hanya sedang teringat sesuatu. Sesuatu yang membuat Ibu sangat sedih. Teringat akan mendiang kakek & nenek ibu. Mereka eyang buyutmu..โ€

โ€œKenapa? Apa yang terjadi dengan mereka? Dimana mereka sekarang?โ€

โ€œMereka memang sudah meninggal, sayang. Mereka tinggal sangat jauh dari sini. Mereka dulu tinggal di sebuah negara yang bernama Indonesia..โ€

โ€œIndonesia? Dimanakah itu? Apakah Indonesia itu berada di Amerika? Los Angeles? New York? Nebraska?โ€, tanya Mirko bertubi-tubi.

Wanita itu tersenyum. Dielusnya kepala sang buah hati, dan dipeluknya penuh rasa sayang. Matanya menerawang jauh, ke puluhan tahun silam. Peta itu seolah membangkitkan kembali kenangan suram masa kecilnya yang telah terkubur dalam-dalam bersama cerita tentang negara nenek moyang yang sangat dicintainya itu.

โ€œDahulu, waktu Ibu masih kecil, Ibu pernah tinggal sebentar di Indonesia bersama kedua orangtua ibu, iya kakek & nenek kamu. Kami sering melewatkan waktu liburan bersama-sama ke Yogyakarta tempat eyang buyutmu berasal. Tapi tak jarang kami juga melakukan traveling ke berbagai daerah lain di Indonesia. Indonesia itu sebuah negara kepulauan yang indah, sayang. Terdiri dari ribuan pulau dengan kekayaan alam & budaya, serta keramahan penduduk yang luar biasa. Ibu sangat menikmati masa-masa itu..โ€

โ€œIbu, bawa aku kesana. Aku juga ingin melihatnya. Kelihatannya menyenangkan..โ€, rajuk Mirko sambil menarik lengan ibunya.

Sang ibu menghela napas panjang, โ€œsayang sekali, Nak. Kita sudah tidak akan pernah bisa lagi berkunjung ke Indonesia. Karena negara itu sudah lama tidak ada..โ€. Si kecil tampak begitu penasaran, โ€œHah, sudah tidak ada? Apa maksud ibu?โ€.

Kembali dengan sabar sang ibu menjelaskan :

โ€œYa, Indonesia sudah runtuh bersama kenangan terakhir masa kecil ibu disana, Nak. Tak lama setelah eyang buyutmu meninggal, terjadilah kerusuhan yang luar biasa di Indonesia. Negara kepulauan itu sibuk dengan berbagai program dan usaha untuk memerdekakan diri masing-masing, sibuk membentuk negara-negara kecil. Kami sekeluarga yang waktu itu masih ingin menjalankan usaha warisan eyang buyutmu tak mampu berbuat apa-apa. Hampir setiap hari terjadi kerusuhan dan penjarahan dimana-mana, seluruh tempat usaha kami habis dibakar massa. Orang-orang yang tidak mendukung pembubaran negara Indonesia dipaksa untuk meninggalkan Indonesia secepatnya, kecuali mereka memilih untuk menjadi warga negara pulau tertentu. Kami terlalu cinta Indonesia yang seutuhnya, kami tidak ingin memilih salah satu negara bentukan dari negara kepulauan itu. Tapi apa daya, kami tak mampu berbuat apa-apa. Terjadilah eksodus besar-besaran. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk tidak memilih negara manapun dan tinggal disini..โ€

Batinnya terasa perih ketika menceritakan kembali cerita itu. Hanya mampu bergumam lirih sembari menerawang jauh. Ya, anakku.. disana, dahulu kala ada negara yang bernama Indonesia yang kini telah tercerai berai. Ibu merindukan suasana masa kecil ibu waktu itu. Rindu saat-saat ketika Ibu masih bisa merasakan hangatnya matahari tropis Indonesia, merasakan uniknya cita rasa masakan Indonesia, menikmati keberagaman budayanya, menikmati hamparan cantiknya alam Indonesia. Negeri indah dimana ibu pernah memimpikan akan membangun keluarga & menghabiskan hayat ibu disana.

Wanita itu menyusut airmatanya dengan secarik tissue. Inilah saat kembali dia begitu merindukan bekas tanah airnya yang kini bernasib entah seperti apa.

Ah, andai saja dulu semuanya tak pernah terjadi, mungkin Indonesia sudah menjadi negara besar sekarang ini..

—–

Btw, tugas ini ditulis malam hari menjelang besoknya dikumpulkan, ngantri komputer di ruang komputer sama temen-temen, gara-gara nggak bawa laptop. Jadi penasaran saya bikin tugas ini dikasih nilai berapa ya sama si Bapak? ;))

[devieriana]

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Forgiveness is the attribute of the strong

“Sorry seems to be the hardest words”
“Hard to say I am sorry”
“Tiada maaf bagimu! Cuiiih..” :p

Pasti kita sering mendengar kata-kata itu ya? Memaafkan. Sebuah kata yang mudah diucapkan tapi tidak mudah untuk diaplikasikan sepenuhnya dalam tindakan. Apalagi menjelang lebaran begini, pastinya mulai dari Presiden sampai sinden, mulai walikota sampai rakyat jelata akan mengucap mohon maaf lahir dan bathin.

Tapi apa iya kita sudah mampu memaafkan dengan ikhlas untuk kesalahan & kekecewaan yang sudah ditimbulkan oleh orang lain pada kita? Namun jika tidak (belum) bisa, yakinkah kita kalau kita selama hidup tidak pernah melakukan kesalahan kepada orang lain? Yakin kesalahan kita tidak ingin dimaafkan? Memang pada dasarnya karakter dasar manusia bukanlah menjadi seorang pemaaf. Tidak mudah bagi kita untuk berani mengakui kesalahan, dan kemudian meminta maaf. Atau mau begitu saja menerima permintaan maaf orang lain yang sudah menyakiti kita.

Sebenarnya, meminta maaf dan memaafkan adalah hal yang sangat manusiawi karena menunjukkan betapa tak ada seorang anak manusia pun, siapapun dia, yang sempurna, yang luput dari kekurangan, kekhilafan, kesalahan atau dosa. Namun pada kenyataannya urusan maaf memaafkan itu menjadi begitu ruwet lantaran tertutup ego. Kalau sudah ego yang bicara, mbok ya sampai kapan pun yang namanya kata maaf & “saya maafkan kamu” tidak akan pernah muncul dari bibir.

“Ih, ngapain minta maaf, orang dia yang salah kok. Kalau kamu jadi saya, kamu juga pasti nggak akan bisa memaafkan untuk semua hal yang sudah dia perbuat sama saya”

Kebetulan saya bukan termasuk orang yang pendendam. Semarah-marahnya saya sama orang, sekesel-keselnya saya sama orang, nggak pernah bertahan lama. Jujur dulu saya pernah merasa, kok sepertinya saya lemah banget ya mau-mau aja memaafkan orang yang pernah menyakiti saya? Kenapa kok saya nggak punya daya dendam untuk membalas hal jahat apa yang sudah orang lain lakukan sama saya ya? Tapi ternyata saya salah. Justru dengan memaafkan itu saya jadi lebih santai, lebih nyaman, itung-itung melatih diri untuk berjiwa besar. Karena kalau dipikirin terus jadinya bakal capek hati, capek pikiran. Yang ada energi negatifnya pada ngumpul. Makanya kadang masalah-masalah hati itu pergi seketika setelah curhat ๐Ÿ˜€

Pun halnya ketika saya berbuat salah. Jujur sebenarnya saya orangnya nggak betah berlama-lama punya masalah sama orang lain. Masih mending kalau setelah kita nyimpen masalah, terus masalahnya bisa berubah jadi bunga bank atau bunga deposito gitu ya. Kalau menurut saya yang namanya masalah itu (maaf) seperti kentut, kalau disimpen bisa bikin perut mules, nggak bagus buat kesehatan ;)). Kalau memang saya yang salah ya saya yang akan minta maaf (sungguhan), bukan asal-asalan yang hanya sebatas berjabat tangan, berpelukan atau sekedar ucapan maaf di bibir.

Mahatma Gandhi pernah berkata : The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. Hanya orang kuat yang mampu memaafkan orang lain.

Jadi, seberapa besar & kuat jiwa kita tergantung dari seberapa ikhlas kita mampu memaafkan orang lain. Forgiving someone for wrong doing is not an easy thing to do but a necessary thing to do if you want to live in peace.

Seperti beberapa kata dalam lyric lagu India Arie – Wings of Forgiveness berikut ini :

SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1431 H
Maafkan saya kalau ada salah ya, baik yang sengaja maupun yang tidak. Baik yang sudah berlalu atau yang sedang direncanakan..

;))

>:D<

[devieriana]

Continue Reading

Belajar Dari Liu Wei..

Selalu merasa kurang, terlihat lebih buruk daripada yang lainnya, merasa lebih rendah & selalu merasa kurang puas adalah sifat manusia. Tidak ada makhluk yang sempurna di dunia ini. Dibalik kesempurnaan yang terlihat pasti ada kekurangannya. Karena terlalu seringnya kita melihat ke atas kadang kita lupa bahwa di luar sana ada banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan dengan kita.

Bersyukurlah bahwa oleh Tuhan kita masih diberikan anggota badan yang lengkap, sehat, tak kurang suatu apapun, dan masih bisa beraktivitas seperti biasa. Bagaimana jika kita menjadi orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti Liu Wei? Seorang pemuda berusia 23 tahun yang harus rela kehilangan kedua tangannya sejak dia berusia 10 tahun setelah ia menyentuh sebuah kabel listrik saat bermain petak umpet. Setelah 45 hari dia mengalami masa kritis sampai akhirnya dia menyadari bahwa mau tak mau dia harus rela kehilangan kedua tangan untuk selamanya.

Liu Wei sangat frustrasi & merasa tak berguna, apalagi jika mengingat mimpinya menjadi seorang pianis. Bayangkan, perjalanan hidupnya masih sangat panjang, belum sempat dia mewujudkan mimpinya untuk belajar piano & menjadi seorang music producer, dia harus kehilangan tangannya di usia yang masih sangat belia. Bagaimana mungkin dia bisa meraih mimpi-mimpinya jika dia harus kehilangan anggota tubuh paling vital untuk menjadi seorang pianis? Hanya ada 2 pilihan, antara apakah harus menyerah begitu saja pada nasib & membiarkannya bermuara pada sebuah kisah yang entah berujung kemana, atau tetap akan memperjuangkan mimpi-mimpinya?

Tuhan memang Maha Adil, dibalik setiap musibah pasti ada keberkahan yang tersimpan. Ternyata Tuhan tidak mengizinkan Liu Wei menjadi sosok pemuda rapuh & tidak percaya diri. Dengan dukungan orangtuanya dia akhirnya tumbuh menjadi pemuda yang percaya diri.

“My mom keeps tell me, “you’re nothing different” just some people use hand but I use my feet. My mom don’t expect me become successful, just hope I can be healthy & happy. But in my perspective, I have to be successful. My object to be here is getting first 3. So my mom could be proud of me..”

Liu Wei mulai mandiri & pelan-pelan berusaha mewujudkan mimpinya. Tidak ada tuntutan apapun dari keluarganya. Keinginan yang menggebu-gebu itulah yang akhirnya membangkitkan semangat untuk mulai belajar bermain piano dengan menggunakan jemari kakinya sejak usia 19 tahun. Tentu bukan sebuah hal yang mudah ya. Karena kita saja yang normal & berfisik lengkap belum tentu bisa bermain piano dengan sempurna, apalagi yang fisiknya tidak lengkap.

“For people like me, there were only two options. One was to abandon all dreams, which would lead to a quick, hopeless death. The other was to struggle without arms to live an outstanding life”, ujarnya di depan dewan juri “China’s Got Talent”.

Beruntunglah dia tetap memilih opsi yang kedua, tetap berjuang walaupun harus hidup tanpa kedua tangan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Hidup bisa berubah kapan saja, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hitungan detik ke depan. Life is such a fragile thing, in couple seconds you can just lose it..

Selalu bersyukur untuk segala apa yang telah diberikan Tuhan, apapun bentuknya, karena kita tidak pernah tahu apa rencana-Nya dibalik segala keberhasilan & kegagalan yang kita lalui, pun untuk kesedihan & suka cita yang kita hadapi. Tetap berusaha & yakin dengan kemampuan diri sendiri.

Oh ya, satu lagi, keep on chasing your dreams.. ๐Ÿ™‚ :-bd

[devieriana]

Continue Reading

Ketika Hati Terpanggil..

Kalau Anda sempat melihat tayangan Kick Andy di Metrotv kemarin, tanggal 18 Apil 2010, Anda mungkin akan merasakan hal yang sama dengan saya, terharu. Karena tayangan itu benar-benar membukakan mata saya bahwa ternyata masih banyak orang baik di dunia ini. Kok kesannya saya skeptis bahwa sudah tidak ada orang baik di dunia ini ya? Sudah terlalu banyakkah saya menelan berita yang kurang bagus selama ini? Mungkin ya.. ๐Ÿ™

Anda pasti mengenal sosok Anne Avantie bukan? Sosok seorang perancang kebaya yang selalu menghasilkan karya masterpiece dalam setiap goresan kebayanya, salah seorang perancang terbaik yang dimiliki Indonesia. Selama ini kita hanya mengenalnya sebagai seorang perancang busana, tanpa mengetahui kiprah kemanusiaan apa yang telah dilakukan oleh wanita satu ini. Rumah Singgah Kasih Bunda, adalah sebuah yayasan sosial yang didirikannya sebagai tempat anak-anak orang tak mampu untuk mendapat pengobatan gratis berkaitan dengan penyakit hydrocephalus, atresia ani tumor, bibir sumbing, labiopalataschisis, dan penyakit lain yang memerlukan penanganan darurat. Yang membuat terharu adalah statement dia yang menyebutkan, “Apapun penyakit mereka, siapapun mereka, darimanapun mereka, apapun keluhan mereka, ketika mereka datang ke tempat ini, pasti akan kami terima dengan tangan terbuka. Mereka butuh kaki, akan kami buatkan kaki buat mereka. Semuanya kami lakukan tanpa pamrih, ikhlas..”.

Ketika ditanya oleh Andy F. Noya, apakah semuanya ketika membutuhkan operasi semuanya akan dibantu? Anne Avantie pun menjawab dengan senyum tulus seorang ibu, “ya, akan kami bantu..”. Teduh sekali mendengar jawaban itu ya. Melegakan. Begitu pula ketika ditanya apa yang menjadi obsesi terbesar dalam hidupnya. Dijawab dengan menahan tangis, “saya ingin punya klinik sendiri. Selama ini kami kurang tahu mana yang perlu perawatan lebih dahulu, pasien mana yang harus diprioritaskan. Jika saya punya klinik sendiri saya tidak akan lagi tergantung dengan rumah sakit yang sudah ada..”. Mulia sekali. Setidaknya akan ada secercah harapan, Melihat begitu banyak masyarakat kurang mampu yang mengalami masalah serius dengan kesehatannya.

Berikutnya, tak kalah mengharukan bahkan cukup membanggakan bagi kita orang Indonesia. Dimana sosok yang ternyata sangat peduli terhadap bangsanya, namun justru tidak terlihat oleh mata bangsanya sendiri, ternyata mendapat perhatian dari CNN. Dialah sosok Capt. Budi Soehardi yang dianugerahi sebagai CNN Heroes 2009 karena karena dedikasinya menjalankan sebuah panti asuhan di Kupang NTT.

Capt. Budi Soehardi, seorang pilot asal Indonesia yang bekerja untuk Singapore Airlines, one of the best airline in the world, tinggal di Singapura bersama sang istri, Peggy, dan 3 orang anak kandungnya, rela bolak-balik Singapura – Jakarta – Kupang untuk tinggal & menjaga 54 anak-anak di panti asuhan Roslin yang mereka dirikan. Memiliki hubungan yang erat dengan masing-masing dari mereka & menganggap mereka bagian dari keluarga mereka. Mereka masuk panti asuhan sebagai bayi kebanyakan dari keluarga kurang mampu -beberapa dari mereka kecil korban dan pengungsi dari konflik di Timor Timur- sengaja diasuh agar bisa mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak. Diharapkan mereka nantinya akan mampu menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri & mampu mengembangkan diri & lingkungannya kelak. Untuk kepentingan pendidikannya, setiap anak dibekali asuransi sampai perguruan tinggi. Kemandirian yang ditanamkan sejak kecil juga melekat dihati Gerson. Salah satu anak asuh Budi ini, sebentar lagi jadi dokter.

Sambil menangis Budi menceritakan awal ide mengulurkan bantuan untuk mereka di Atambua adalah ketika dia bersama keluarganya di Singapura, hendak melakukan perjalanan keliling dunia. Namun ketika melihat tayangan di televisi yang menggambarkan betapa menderita & mirisnya memakan sebungkus mie instant berduabelas orang, keluarga yang tinggal di kardus, anak-anak mengenakan kain untuk pakaian, dan sanitasi yang nyaris tidak ada. Batinnya terketuk untuk membantu mereka, membatalkan perjalanan keliling dunianya bersama keluargam beralih menjadi misi sosial ke Atambua.

Hari itu juga dia mulai menulis email untuk mulai mengkoordinasi sumbangan keuangan, makanan, pakaian, peralatan mandi, obat-obatan, dll. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, terkumpullah sekitar 40 ton sembako & kebutuhan hidup bagi mereka di Timor Timur. Yang membuat saya merasa amazed adalah, semua dilakukan tanpa publikasi, tanpa sorotan media cetak maupun elektronik yang mengekspos layaknya yang selama ini kita lihat. Yang biasa kita lihat kan pejabat memberi beras sekilo aja ke fakir miskin minta diekspos wartawan ya. Tapi tidak demikian dengan keluarga Budi Soehardi. Semuanya dilakukan dalam diam, namun nyata adanya.

Yang tak kalah hebatnya adalah, Panti Asuhan Roslin ini juga berusaha untuk berusaha bagaimana berswasembada beras. Jaman sekarang jarang sekali yang bersedia sampai sedemikian uletnya, berswasembada beras. Ah salut sekali saya sama pasangan mulia ini.. ๐Ÿ™‚

Jerih payah Budi dan Peggy akhirnya berbuah manis, usaha mulia mereka ini ternyata mendapat perhatian dunia. Pada bulan Desember 2009 di Los Angeles, Amerika Serikat, Budi dinobatkan jadi salah satu CNN Heroes. Wow.. Saya tersenyum sendiri ketika mendengar pertanyaan Andy F. Noya yang menanyakan dengan nada bercanda, “bagaimana sih Pak, rasanya dicium Kate Hudson? Kalau saya yang jadi Anda, saya bakal kepikiran berhari-hari..” ;)). Kate Hudson adalah salah satu aktris International yang juga aktif di Wild Aid.

Lebih terharu lagi saat mendengar Budi menjelaskan, โ€œHeroes sebenarnya adalah istri dan 3 anak saya, mereka mengorbankan liburan mereka selama ini, walau sebenarnya bisa travel dengan fasilitas first class yang saya dapatkan dari fasilitas jabatan sebagai pilot. Tapi mereka memilih budget liburan dipakai untuk membantu Roslin Orphanage”.

Lain lagi kisah seorang Daniel Alexander. Pria asal Jawa Timur itu sudah menjelajahi hampir seluruh belahan dunia, mulai Eropa, Amerika hingga Australia dia jelajahi untuk memberikan pelayanan di bidang agama. Salah satu obsesi terbesar dalam hidupnya adalah ingin membantu orang-orang miskin yang daerahnya sangat tertinggal. Terdengar idealis ya? Memang. Tapi jika niat tulus itu direalisasikan, masihkah kita mengatainya dengan ide yang terlalu idealis? Namun ironisnya, suatu ketika secara tidak sengaja dia membaca sebuah buku yang berjudul From Jerusalem to Irian Jaya (kenapa bukan Jerusalem to Indonesia? kenapa Irian Jaya?), kisah tentang para misionaris yang hidupnya benar-benar didedikasikan untuk membantu masyarakat yang tinggal didaerah-daerah tertinggal, ternyata justru sejak saat itulah dia merasa terpanggil untuk datang & membantu masyarakat di pulau paling Timur Indonesia itu. Jauh-jauh melanglang buana ternyata “pulangnya” ke Indonesia juga ya Pak Daniel ๐Ÿ™‚

Sekali lagi, kenyataan yang harus dia (dan kita juga) terima adalah pulau yang kaya akan sumber daya alam itu ternyata penduduknya banyak yang terbelakang terutama di bidang pendidikan, juga tuli ๐Ÿ™ . Itulah kenapa akhirnya dia bertekad untuk memajukan pendidikan dan penghidupan mereka. Bukan sebuah hal yang mudah untuk mengubah pola pikir & cara pandang masyarakat yang sudah puluhan tahun hidup dalam tatanan kehidupan yang sudah sedemikian terpola. Namun toh akhirnya setelah melalui perjuangan yang keras, Daniel Alexander ditemani istrinya Louise yang warga negara Kanada akhirnya berhasil mendirikan sekolah mulai TK hingga SMA. Sekolah dengan sistem asrama yang didirikan oleh Daniel itu sudah tersebar di berbagai pelosok Papua lho, diantara Jaya Wijaya, Nabire, dan Kerom. Ah, keren banget yah? ๐Ÿ™‚

Menolong sesama bukan berdasarkan nilai seberapa besar yang sudah kita berikan, namun seberapa ikhlas kita melakukannya. Semoga kisah-kisah tersebut mengilhami kita untuk tetap ikhlas dalam menolong sesama ya.. ๐Ÿ™‚

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading