Dunia Halo-Halo…

Satu minggu lalu adalah minggu yang sibuk dan melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan, tapi juga karena jadwal pelantikan yang dilakukan secara marathon selama satu minggu penuh. Diawali dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKPPPP) di hari Senin, keesokan harinya di Sekretariat Militer Presiden, esok Rabunya lanjut di Sekretariat Wakil Presiden, hari Kamisnya di Sekretariat Kementerian Sekretariat Negara, dan ditutup dengan hari Jumat di Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden (pukul 09.00), dan Sekretariat Presiden (pukul 15.30).

Sebelumnya tidak pernah terbayang dalam pikiran saya bahwa saya akan dilibatkan  dalam bidang keprotokolan seperti ini. Setelah menjalani kegiatan bersama tim keprotokolan selama beberapa kali, barulah saya mengikuti Diklat Keprotokolan selama 2 minggu. Dulu ketika masih berstatus CPNS, saya bersama satu teman seangkatan, dites oleh para protokol senior di ruangan saya untuk membaca SK Mensesneg dan susunan acara. Semacam casting kecil-kecilan, gitu. Saya pikir kami cuma disuruh baca saja, ternyata sore harinya kami dipanggil untuk siap bertugas besok pagi di acara pelantikan dan pengambilan sumpah PNS.

Demam panggung selama menunggu acara berlangsung itu pasti. Ya, namanya juga baru pertama kali tugas seperti ini, ada semacam keraguan dan takut salah. Tapi setelah dijalani alhamdulillah semua berjalan lancar, keraguan itu juga hilang dengan sendirinya. Yang perlu diperhatikan adalah tempo bicara, fokus dengan apa yang dibaca, intonasi, aksentuasi, dan artikulasi yang jelas.

Sejak aktif di “dunia halo-halo” itulah, saya mulai lebih concern dengan tenggorokan saya, karena efek bekerja di callcentre beberapa tahun lalu, entah kenapa tenggorokan saya menjadi jauh lebih sensitif :(. Tidak bisa lagi minum minuman dingin dan atau terlalu manis sembarangan, karena pasti nanti akan radang tenggorokan dan batuk. Saya tuh kalau sudah batuk sembuhnya bisa seminggu lebih, jadi ya lebih baik menjaga diri supaya jangan sampai sakit aja. Eh, tapi saya sebenarnya suka kalau suara saya lagi recover, agak serak-serak gede gimana gitu, justru terdengar lebih “bulat” kalau di mikropon, hihihihi. Meminjam istilah Mas Adoy suara yang keluar mirip dengan voice over 😉

pengarahan sebelum gladi bersih

Pengalaman pelantikan yang paling mengesankan adalah ketika menjalani pelantikan Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat. Alasannya selain lokasi pelantikannya paling jauh, juga kultur yang berlaku disana jauh berbeda dengan di Jakarta. Kalau di Jakarta, kami harus sudah siap minimal J-1 (satu jam sebelum acara, kalau teorinya sih J-2), tamu dan undangan sudah siap minimal 15-20 menit sebelum acara, karena biasanya kami pasti akan melakukan gladi bersih terlebih dahulu, terutama untuk pejabat yang akan dilantik. Nah, kalau di Papua kemarin kami tiba di lokasi dalam keadaan pintu aula yang masih terkunci rapat, belum ada orang sama sekali, padahal sudah kurang satu jam menjelang acara. Hingga 30 menit acara akan dimulai pun belum ada tanda-tanda kedatangan undangan maupun pejabat yang akan dilantik. Tapi saya bisa memaklumi kok, memang kultur dan kebiasaan yang berlaku di Jakarta dan Papua itu berbeda.

Persiapan menjelang pelantikan memang sedikit ribet, apalagi kalau yang dilantik cukup banyak. Bukan hanya koordinasi dengan pihak yang akan dilantik, menyiapkan susunan acara, konfirmasi dengan rohaniwan, menyiapkan pakta integritas dan berita acara pelantikan saja. Tapi dipastikan semua susunan harus benar, baik titelatur, nomenklatur, maupun ejaan nama pejabat yang akan dilantik, terutama di SK-nya.

Bersyukur diberikan kesempatan, ilmu, dan pengalaman keprotokolan seperti ini. Walau sedikit ribet, tapi sejauh ini cukup menyenangkan kok 😀

 

 

[devieriana]

Foto dokumentasi pribadi

Continue Reading

Know Your Passion!

“We cannot be sure of having something to live for, unless we are willing to die for it…”
– Che Guevara –

—–

Di suatu siang, di salah satu kedai coffee giant di bilangan Pondok Indah, saya merencanakan janji temu dengan salah satu desainer kenamaan Indonesia, Era Soekamto. Tujuannya cuma satu, mentoring dalam rangka penjurian Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink. Deg-degan itu pasti, selain karena ini kali pertama saya bertemu dengan Mbak Era, saya belum mengenal karakter beliau secara dekat. Waktu itu, yang namanya mentoring bentuknya seperti apa, saya juga masih belum tahu.

Ngobrol punya ngobrol ternyata Mbak Era ini adalah sosok desainer yang ramah, smart, dan sangat total dengan dunia kerjanya. Pelan-pelan kami ngobrol dari satu topik ke topik lainnya, hingga sampailah kami pada topik inti, know your passion. Ada pertanyaan yang cukup menggelitik.

“Kamu jadi PNS itu beneran pilihan kamu, keinginan orang tua, atau alasan tertentu lainnya?”

Jujur ini bukan pertanyaan pertama yang pernah dilontarkan orang lain pada saya. Semacam pertanyaan umum, gitu. Menjadi PNS memang murni keinginan saya, kok. Memang ada banyak hal yang jadi pertimbangan ketika memutuskan untuk menjadi PNS setelah hampir 10 tahun bekerja sebagai pegawai swasta. Selain ada faktor ketidaksengajaan juga ada unsur iseng-iseng berhadiah ;)). Kalau pun saya masih bisa melakukan kegiatan lain di luar status saya sebagai PNS ya itu bisa-bisanya saya mengatur waktu saja. Karena kebanyakan kegiatan itu saya lakukan di luar hari/jam kerja. Jadi, dari hari Senin sampai dengan Jumat saya bekerja, hari Sabtu dan Minggu saya berkomunitas atau mengerjakan hobby lainnya. Lalu, apakahapa passion saya yang sebenarnya?

Lalu beliau bercerita, di luar sana ada banyak orang yang belum tahu passion-nya sama seperti saya. Mereka “terjebak” dalam sebuah rutinitas atau kegiatan yang menyebabkan orang itu tidak bisa memaksimalkan diri dan potensi yang dimilikinya. Demi alasan ekonomi mereka mencoba bertahan hidup dan menjalani rutinitas yang sebenarnya membuat mereka tertekan. Tapi bagi yang sudah menemukan dimana letak passion-nya, mereka akan mampu memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki, bahkan ada yang tidak segan-segan untuk meninggalkan pekerjaan mereka yang sekarang dan memilih fokus di bidang yang mereka sukai.

Ada juga yang ketika dia sudah menemukan apa passion-nya sampai rela keluar dari pekerjaannya yang sudah mapan di sebuah oil company, dan menjadi seorang full time blogger!Ha? Blogger? Iya, dibelain keluar kerja ‘cuma’ untuk jadi seorang blogger, dan sekarang dia hidup dengan pilihannya itu. Bisa? Buktinya bisa, tuh. Malah dianya sudah ke mana-mana dengan status bloggernya itu. Hal yang mungkin tidak akan bisa dilakukan ketika masih berstatus sebagai karyawan sebuah oil company. Kalau bicara tentang passion, kadang ada hal-hal yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Sampai sekarang pun saya masih belum habis pikir betapa ‘gilanya’ orang -orang yang berani membuat keputusan besar untuk hidupnya. Kalau saya mungkin masih mikir seribu kali untuk membuat keputusan seekstrim itu. Itulah mungkin sampai sekarang saya masih belum tahu passion saya dimana 😐

Ternyata, obrolan tentang passion ini berlanjut dari Mbak Era dengan saya, menjadi saya dengan salah satu sahabat saya yang kebetulan seorang dosen. Dari awal obrolan santai berubah menjadi serius.

Teman: hebat ya orang-orang yang sudah menemukan passion-nya apa dan dimana, really live their life!

Saya: iya, salut sama orang-orang yang sudah berani mengorbankan sesuatu yang buat orang lain pasti mikir 1000x, gila aja kalau mengorbankan/meninggalkan sesuatu yang pokok banget untuk mengerjakan sesuatu yang dia suka dan yang belum tentu mengandung materi (uang), kecuali memang hal yang dikerjakan sebelumnya itu sama sekali tidak mendatangkan kepuasan pribadi…

Teman: but having a chance to educate people with the net is also a good thing to do. Mmmh, btw, kamu tuh kalau aku lihat-lihat anak muda banget ya? ;))

Saya: hmm, kok bisa? 😕

Teman: you’re really do adore alternative, though you are working in a very formal and protocol office…

Tahukah kalian kalau percakapan ini berakhir dengan saling gondok karena tidak menemukan kata sepakat tentang passion? Saya melihat dari sudut pandang apa, dia dari sudut pandang apa. Kami seolah sedang memperbincangkan sebuah objek dengan dua sudut pandang yang berbeda. Ibarat bicara tentang seekor gajah, saya pegang telinga, dia pegang belalai, dan kami saling ngotot mendeskripsikan seperti apa gajah itu. What a silly thing! ;))

Teman: for me passion kinda very luxurious thing. Common people like me cannot reach that concept. I’m just a common people, dari daerah pula, dari keluarga biasa, dan sekolah di sekolah biasa. Pasti ya ujung-ujungnya kerja. Nyenengin orang tua, menikah, cari duit buat anak sekolah… Udah. Apa lagi yang aku kejar?

Saya: mmmh, tapi.. bukan gitu maksud akuu… :-s *mulai ngerasa beda sudut pandang dengan si teman*

Teman: hehehe, kenapa? dari tadi aku keliatan synical, ya? Hehehe. For me, just several lucky people can live his dream, most of people just adjusting, tolerating, and maybe they can get happines finally…

Awalnya saya memang merasa si teman ini kok ngeyel banget ya waktu berdiskusi tentang passion, dia seolah-olah berdiri sebagai orang yang berseberangan dengan apa yang saya bicarakan. Tapi lama-lama saya mengerti apa yang dia maksudkan; kecenderungan berpikir tentang yang pasti-pasti saja, yang normal-normal saja. Tidak seberapa tertarik dengan apa itu passion. Apalagi sampai meninggalkan pekerjaan utamanya untuk hal-hal yang belum tentu juntrungnya. Padahal bisa saja kan, apa yang dilakukan dia sekarang itulah passion dia. Andai dia tahu, dia bisa memaksimalkan apa yang sudah dilakukan itu, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utamanya, kan? Kalaupun ada contoh orang yang sampai meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion ya itu kan cuma contoh segelintir orang saja. Nggak semua, dan nggak harus seperti itu.

“Fullfilling dream and things that you called passion is something in life. But not everything. Still so many values which you can always proud about or treasure. But, if you got a chance, then why not? Aku cuman ngerasa udah telat banget buat mengejar apa passion-ku. Or… maybe what am doing now is my passion, mengajar 🙂

Aha! Akhirnya dia menangkap apa maksud saya! \:D/ Tapi sejurus kemudian dia bilang begini:

“Well I’m a father, with three kids. All need care and education. The hell with passion! Sorry, I don’t have any luxurious thing called passion. Maybe I’m nerds, or … I don’t know…”

Lah, kok malah galau?

Ya, saya tahu. Saya mengerti, kok. Setiap orang pasti punya pendapat sendiri tentang passion, tentang bagaimana cara menemukannya, dan lalu menjalaninya secara konsisten sebagai pilihan hidup. Kalau pun toh ada yang memilih untuk menjalani hidup apa adanya ya nggak masalah 😀

Saya sendiri sebenarnya sampai sekarang masih mencoba menemukan apa dan dimana passion saya bersembunyi. Masih coba-coba mencerna hal-hal yang disebutkan di situs http://ineedmotivation.com. Tapi kalau sampai meninggalkan karier saya yang sekarang kok kayanya belum sampai sejauh itu ya saya mikirnya, karena walau bagaimana pun saya cinta pekerjaan saya yang sekarang.

Kalau kalian, sudahkah kalian menemukan apa passion kalian?

 

 

[devieriana]

ilustrasi: pinjam dari passivemoneytalk

Continue Reading

Reuni Di Dalam Pesawat

Masih ingat dengan hadiah Citilink free unlimited ticket yang saya punyai itu, kan? Nah, kebetulan kemarin saya pakai untuk yang ke-2 kalinya PP Jakarta-Surabaya-Jakarta.

Seperti prosedur sebelumnya, saya mengambil tiket di Jalan Gunung Sahari, kantor Garuda Indonesia. Memang dulu staf mereka sempat salah paham tentang pengertian “unlimited ticket”, yang sempat diterjemahkan sebagai free one way ticket. Tapi syukurlah sekarang mereka sudah paham dan tidak terjadi kesalahpahaman lagi ketika saya mengambil tiket gratis.

Kali ini saya mengambil penerbangan kedua, yaitu pukul 07.20. Para penumpang dipersilakan masuk ke dalam pesawat 30 menit sebelum boarding. Di dalam pesawat –seperti biasa– kami disambut oleh pramugari-pramugari Citilink yang masih menggunakan seragam mereka yang lama mereka, yaitu polo shirt warna maroon, dipadu dengan  celana cargo warna khaky. Tampilan rambut mereka yang panjang rata-rata diikat ala pony tail.

Sampai ketika saya sudah duduk di seat saya, 24F, tiba-tiba saya dihampiri oleh salah satu pramugari berambut cepak. Aha! Dia adalah pramugari yang dulu sempat memeragakan desain saya sejak awal ketika masih berupa mock up design (presentasi awal) hingga final design saat Grand Final. Senangnya…, ternyata dia masih ingat saya. Mungkin kami memang “berjodoh” ya, karena kok ya kebetulan ketemu terus sejak awal, bahkan sampai di pesawat ini.

Pramugari: “hei, Mbak… :)”

Saya: “eh, haaai, kamu.. apa kabar?” *cupika-cupiki*

Pramugari: “baik, Mbak gimana?”

Saya: “aku alhamdulillah baik. Eh, kok kalian belum pakai seragam yang baru?”

Pramugari: “iya, belum… Nanti tunggu semua siap, kalo nggak Maret ya April tahun ini kok, Mbak. Kemarin sih sudah nemu sepatu sama tasnya juga…”

Saya: “oh, syukurlah… Pengen cepet lihat kalian pakai uniform baru :)”

Pramugari: “di advertisement Citilink sudah pakai seragam baru kok”

Saya: “iya, udah lihat juga sih. Bagus! :)”

Pramugari: “iya.. Eh, Mbak cuti atau libur nih?”

Saya: “ya cutilah… mana ada PNS libur hari Jumat begini.. :D”

Pramugari: “iya, aku tadi dari jauh udah lihat Mbak.. Kayanya Mbak ini pakai tiket yang gratisan itu… ”

Saya: “hahaha, iya… kan batasnya sampai dengan akhir bulan ini, jadinya kumaksimalkan… ;))”

Pramugari: “oh gitu… eh, Mbak, maaf, aku ijin ke belakang dulu ya, mau prepare sebelum boarding…”

Saya: “oh iya, monggo silakan.. :)”

Saya yang duduk di seat dekat jendela sesaat setelah pesawat lepas landas langsung terlelap karena tadi bangun jam 3 pagi dan langsung bersiap-siap menuju Bandara Soekarno Hatta.

sebelum penjurian

fashion show

Saya baru bangun ketika ada announcement dari pilot bahwa beberapa saat lagi pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Juanda. Belum genap nyawa terkumpul, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada segelas teh lengkap dengan sendok dan 3 sachet gula pasir yang tersaji di atas meja sebelah (kebetulan dua seat sebelah saya kosong). Hmm, ini punya siapa, ya? Buat saya? Kan saya nggak pesan teh…

Saya coba intip seat di depan saya. Mejanya tegak, tidak ada sajian dalam bentuk apapun disana. Saya lalu mengarahkan pandangan ke 3 seat seberang kiri, dan bangku belakang saya. Semuanya sama. Tidak ada satu pun yang memesan teh, atau diberi sajian teh. Hmmm, jadi serius ini buat saya? Tapi kenapa cuma saya? 😕

Sempat beberapa menit saya tidak berani menyentuh teh itu, karena memang merasa tidak pernah pesan sih, ya. Tapi, tunggu deh… Apa mungkin mbak pramugari yang tadi ya, yang sengaja meletakkan ini di meja dekat seat saya? Dengan setengah ragu, teh itu saya minum. Itu pun menjelang landing. Semoga memang ini adalah complimentary drink buat saya, ya. Kalau pun toh nanti bayar ya sudahlah, wong cuma teh ini ;))

Menjelang landing, tiba-tiba mbak pramugari itu melintas. “Eh, Mbak, aku tadi naruh teh di meja sini, udah diminum? Itu buat Mbak lho… :)”

See, benar kan dugaan saya. Terima kasih untuk tehnya ya, Mbak Tasya (?). Semoga saya nggak salah mengingat namamu ya, Mbak. Nice to see you again >:D<

Semoga kita bisa ketemu lagi di penerbangan-penerbangan berikutnya, ya :-h

 

[devieriana]

 

foto: dokumentasi pribadi

Continue Reading

Selamat Natal, Kawan!

Perayaan Natal selalu membuat saya flashback kepada kenangan masa kecil dulu, ketika masih tinggal di Lawang, sebuah kota kecil di Kabupaten Malang. Tentang hubungan harmonis yang terjalin antara keluarga kami dengan murid-murid kolintangnya Papa. Entah, kok rasanya di jaman saya masih kecil dulu kehidupan beragama sepertinya jauh lebih tenang, harmonis, dan penuh toleransi, ya? Tidak seperti sekarang yang kayanya mau ibadah aja dibikin ribet. Belum lagi keamanan ketika menjalankan peribadatan yang belum jelas terjamin. Uniknya lagi hampir setiap tahun selalu ada ‘debat tahunan’ tentang halal/haramnya pemberian ucapan selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. Trenyuh :|. Inikah negara yang katanya menjunjung tinggi azas kebebasan beragama itu? 🙁

Dulu, selain menjadi PNS, Papa mengisi waktu luangnya sebagai pengajar kolintang (alat musik tradisional asal Manado). Dulu memang Papa aktif di kegiatan bermusik, dan kebetulan bisa bermain kolintang, sehingga  Papa sering diminta mengajar di sana-sini. Murid Papa bermacam-macam,  ada ibu-ibu Dharma Wanita, dan jemaat di beberapa gereja.

Sangat menarik jika saya mencermati hubungan baik yang terjalin antara keluarga kami dengan para murid Papa, terutama dengan para jemaat gereja. Ketika kami merayakan lebaran, secara otomatis murid-murid Papa datang ke rumah untuk sekadar bersilaturahmi. Begitu juga ketika Natal tiba, biasanya selain acara utama di gereja mereka berkumpul di rumah salah satu anggota jemaat untuk sekadar kumpul bersama, dan Papa Mama pun biasanya diundang kesana (acara ini murni acara kumpul-kumpul, makan bersama, semacam acara silaturahmi). Sebagai bentuk penghormatan dan toleransi umat beragama Papa Mama pun hadir memenuhi undangan mereka.

Sebagai konsekuensi mengajar kolintang di gereja tentu saja Papa harus paham beberapa lagu gereja yang ingin mereka pelajari/mainkan. Papa juga tidak segan untuk tampil membantu mereka di atas panggung. Kalau sore, kadang saya suka ikut Papa ketika mengajar kolintang, ya walaupun akhirnya saya sibuk bermain sendiri dengan salah satu anak pengurus gereja. Namanya juga anak-anak 😀

Yang paling berkesan hingga saat ini adalah kebaikan sepasang suami isteri jemaat gereja bernama Pak Peter & Bu Peter, yang ternyata punya perhatian dan kepedulian yang tinggi dengan keluarga kami. Pernah suatu malam yang gerimis, seusai mereka berkonsultasi tentang perkolintangan menyambut Natal, tanpa sengaja Bu Peter mendengar adik bungsu saya —yang waktu itu masih kecil— batuk-batuk. Kebetulan adik saya memang sedang sakit flu batuk pilek. Sebenarnya sudah diberi obat pereda flu oleh Mama, tapi entah mengapa belum sembuh juga, kebetulan memang belum sempat ke dokter.

Tak lama setelah mereka berpamitan (kurang lebih setengah jam kemudian) ternyata mereka berdua kembali ke rumah kami dengan membawa obat flu untuk anak yang dikenal manjur di keluarga mereka. Terharu. Alhamdulillah, beberapa hari setelah mengonsumsi obat itu adik saya sembuh. Terharu, segitu perhatiannya, mereka bela-belain kembali ke rumah kami padahal sudah malam dan hujan, cuma untuk membelikan adik saya obat flu ala keluarga mereka. Saya yang waktu itu masih kecil pun sudah bisa merasakan betapa tulusnya hati mereka berdua.

Entah bagaimana kabar mereka berdua sekarang, karena memang sudah lama tidak pernah ada kontak lagi selepas Papa pensiun dan memilih untuk menetap di Sidoarjo.

Persembahan saya untuk teman-teman yang merayakan Natal, dari grup acapella asal Italia favorit saya Neri Per Caso , semoga berkenan 🙂

Semoga kelak kebebasan beragama bukan hanya sebagai slogan kosong dan retorika semata, namun nyata adanya…

“Selamat Natal, Kawan. Semoga kasih dan damai Natal senantiasa dilimpahkan di tengah keluarga kalian. Damai di bumi, damai di hati…”

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading

Unconditional Love

“A mother’s love is instinctual, unconditional, and forever…”
– Unknown –

Beberapa hari yang lalu sebenarnya saya di-mention untuk ikut #Edustory di twitter. Kebetulan temanya adalah kisah yang paling berkesan tentang Ibu. Tapi berhubung saya kelupaan dan baru bergabung ketika waktu untuk #Edustory tinggal 15 menit, maka saya hanya sempat share sedikit sekali tentang cerita masa kecil dengan Mama. Nah, baru hari ini, tepat tanggal 22 Desember (terlepas dari peringatan Hari Ibu yang salah kaprah), seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan berbagi cerita tentang Mama, sebagai penyeimbang tulisan tentang Papa beberapa waktu yang lalu. Mama adalah sosok yang paling menginspirasi dalam kehidupan saya.

Boleh dibilang yang paling dominan dalam mendidik dan mengasuh kami bertiga adalah Mama. Bukan bermaksud mengesampingkan peran Papa di dalam kehidupan kami, tapi Papa sebagai kepala rumah tangga sudah menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) tersendiri yang juga menyeimbangkan kehidupan keluarga kami.

Mama sendiri adalah sebuah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, kadang absurd, namun pengasih, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja (bahkan selalu ingat siapa saja nama teman-teman kami). Beliau bisa berperan ganda dalam keluarga, sebagai ibu, isteri, sekaligus sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun dengan beliau. Mama adalah pendengar yang luar biasa untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Ketika sedih Mama akan ikut sedih bersama kami. Ketika kami bahagia Mama juga akan ikut bahagia bersama kami. Bahkan ketika kami bercerita tentang hal yang konyol sekali pun Mama tak segan untuk ikut absurd bersama kami. Mama kami memang sosok yang istimewa. Seistimewa setiap masakan yang takaran dan rasanya selalu pas! 😉

Waktu kecil, saya dan adik perempuan saya, selalu dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk dandanan anak-anak, mulai rambut, baju, sampai sepatu (mungkin karena anak perempuan, jadi lebih mudah memodifikasi dandanannya ;))). Waktu SD kami berdua juga diwajibkan ikut ekstra kurikuler tari Jawa klasik. Kebetulan dulu Mama adalah seorang penari Jawa klasik yang bergabung dalam Sanggar Tari Wilwatikta, jadi harapan Mama salah satu dari kami berdua ada yang menuruni bakat beliau. Terlepas dari itu menurut Mama menari akan mengasah kepekaan diri, keluwesan, dan membentuk gesture tubuh yang baik (tidak membungkuk).

Dulu sempat berpikir juga, ngapain sih Mama ‘memaksa’ ikut ekskul tari? Tapi lama-lama akhirnya pertanyaan itu terjawab seiring waktu. Ekskul tarilah yang membuat saya sering mendapat tawaran menari dan menjadi wakil sekolah dalam beberapa pagelaran lomba tari tunggal, berpasangan, maupun sendratari. Dari tarilah saya mengenal hobby yang saya jalani dengan hati. Ke mana pun saya pentas, Mama hampir tak pernah absen mendampingi saya. Thanks to Mama >:D<

Kalau untuk “pemaksaan” ekskul ke adik bungsu saya yang laki-laki sepertinya tidak terjadi. Karena toh akhirnya dia bisa menemukan bakat dan minatnya sendiri di bidang fotografi. Mama bukan hanya sebatas peduli dengan pendidikan kami, tapi juga sangat mengikuti perkembangan hasil studi kami mulai dari SD hingga kuliah. Sering memotivasi dengan hadiah-hadiah kecil sebagai hadiah atas pencapaian kami. Walaupun lama-kelamaan kamilah yang akhirnya secara sadar memperjuangkan nilai-nilai kami sendiri karena ingin membuat Papa-Mama bangga.

Kami juga sempat mengalami masa-masa menyedihkan ketika Mama sering pingsan dan pusing berkepanjangan selama sebulan lebih (sebenarnya memang sakit yang sudah lama diderita oleh Mama karena ada syaraf di kepala yang terganggu, biasanya akan kambuh kalau terlalu capek, berpikir berat/sedih). Sementara kami & Papa amat sangat tergantung sama Mama :(. Ketika masa pemulihan ternyata Mama mengalami vertigo, Mama jadi sering hilang keseimbangan. Seringkali ketika kami pulang sekolah menjumpai Mama tertidur dengan lutut dan kaki yang lecet-lecet atau memar kebiruan karena terjatuh akibat memaksakan diri membersihkan rumah atau pergi ke pasar padahal kondisinya masih belum pulih. Kalau kami tegur jawabannya begini,

“ya kalau Mama nggak ke pasar, trus nggak masak, nanti kalian makan apa?”
 Ya Tuhan , bahkan di saat sakit pun Mama masih memikirkan kami 🙁

Puncaknya adalah ketika Mama harus rela melepas adik perempuan saya menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta, Mama bukan hanya sedih, tapi sampai nangis sesenggukan. Waktu perpisahan dengan saya dulu Mama juga sedih, tapi nggak sampai sesedih ini. Mungkin sekarang baru terasa kalau anak-anaknya ternyata sudah pada dewasa, sudah mulai punya kehidupan masing-masing, dan pasti si bungsu juga akan segera menyusul kalau sudah ketemu jodohnya.

Seringkali pagi-pagi beliau mengirim sebuah pesan singkat berisi, “Mama sayang kamu…” atau “Selamat bekerja ya, Sayang. Mama kangen sama kamu…” dan itu sudah cukup membuat airmata saya menggenang :((

Iya, aku juga kangen, aku juga sayang sama Mama…. :-s

“Ya Allah, semoga Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan kedua orangtua kami… Aamiin…”
 

[devieriana]

 

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Continue Reading