Tentang Memaafkan

 

Sekitar tahun 2004-2005, saya pernah membaca trilogy David Pelzer True Story, yang terdiri dari buku yang berjudul A Child Called It, The Lost Boy, dan A Man Named Dave. Sebuah trilogy mengharukan tentang bagaimana kisah nyata seorang anak terbuang dan menderita, yang mencoba bertahan hidup melawan child abuse yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, hingga sampai pada kisah dia dewasa dan mulai menemukan jati dirinya. David Pelzer menuturkannya dalam bahasa yang sangat menyentuh, hingga kita bisa merasakan apa yang dialaminya dulu.

Dari ketiga buku itu yang paling berkesan adalah buku yang berjudul A Man Called Dave. Dalam buku ini Dave bercerita tentang keberhasilannya menemukan jati diri, dan terlebih lagi adalah kekuatannya yang luar biasa untuk memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya dulu.

Ngomong-ngomong tentang memaafkan, ternyata memaafkan itu bukan perkara mudah. Butuh kebesaran hati dan keikhlasan luar biasa untuk mau memaafkan orang yang telah menyakiti hati. Jujur, saya juga pernah mengalami hal yang kurang mengenakkan dengan seseorang, dan sampai sekarang saya belum mampu memaafkan apa yang sudah dia lakukan beberapa waktu yang lalu.

Sebenarnya untuk urusan maaf-memaafkan saya adalah orang yang paling mudah memaafkan, karena pada dasarnya bukan tipikal pendendam. Kalau ada yang kurang sreg dan lalu saya melampiaskannya dengan ngomel, saya pikir masih wajar, toh tidak sampai berlarut-larut. Setelah semua uneg-uneg sudah tersampaikan, dan saya juga sudah berhasil menguasai emosi, biasanya sudah tidak ada lagi yang saya simpan untuk diungkit-ungkit. Saya juga berusaha melupakan apa yang sudah membuat saya marah, jengkel, dll itu seketika ketika kami saling meminta maaf. Saat itu juga kasus itu selesai. Bahkan sering kali saya sudah memaafkan mereka jauh sebelum mereka meminta maaf.

Tapi entah kenapa, untuk sebuah kasus yang tidak bisa saya ceritakan detailnya di sini, sampai sekarang saya belum bisa memaafkan. Kasus yang buat saya luar biasa, karena melibatkan seorang public figure yang dikenal sangat bersih pencitraaannya di media. Untuk sebuah urusan yang awalnya saya tidak berminat untuk ikut terlibat di dalamnya, akhirnya malah jadi terseret ke mana-mana, ikut dimaki-maki (mulai yang berbahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa binatang, sampai bawa-bawa istilah kaum zaman dahulu). Orang tua saya saja tidak pernah memaki anak-anaknya, lha kok dia yang baru lahir tahun berapa sudah sefasih itu memaki-maki orang seenak perut. Bahkan yang paling jahat, dia menggunakan ‘kekuatan hitam’ untuk menyakiti sahabat saya.  Bukan itu saja, dia juga memutarbalikkan fakta, dan  menempatkan dirinya sebagai korban. Hadeeeh….  L-)

Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak dibiasakan berkata kasar; apalagi memaki atau ‘ringan tangan’. Dulu, kalau ada salah satu dari kami yang ketahuan Mama ngomong kasar sedikit saja (baik itu ke teman atau saudara), sebagai hukumannya kami harus menahan panas dan pedasnya cabe merah yang dilumat mentah-mentah di bibir kami sampai habis. Tindakan yang lumayan keras, tapi efeknya terasa sampai sekarang 😕

Saya tidak peduli apakah dia artis film/sinetron, model, pengusaha, dll… buat saya dia butuhkan saat ini adalah pendidikan tentang manner, karena saya curiga sepertinya di keluarganya tidak pernah diajarkan tentang bagaimana harus berbicara dengan sesama manusia. Seringkali saya tersenyum miris melihat hampir setengah juta follower dia di twitter yang memuja dan menyanjung fisiknya, memuji betapa baik dan manis sikapnya, tanpa tahu bagaimana kepribadian asli sosok yang mereka puja itu :-q

Saya bukan orang yang berhati malaikat; yang dengan mudah memaafkan orang lain. Saya bukan nabi, pun Tuhan yang Maha Pemaaf. Dalam hal tertentu ada prinsip-prinsip hidup yang tidak bisa diutak-atik, terutama jika itu berkaitan dengan saya dan keluarga. Saya tahu, ada kalanya kemarahan yang tidak harus dibalas dengan kemarahan. Ada dendam yang tidak harus dibalas dengan dendam. Ada perlakuan buruk yang tidak harus dibalas dengan perlakuan yang sama buruknya. Tapi untuk kasus yang satu itu mungkin cuma waktu yang akan menyembuhkan saya.

Seperti yang saya bilang tadi, memaafkan bukan perkara yang mudah. Semoga seiring dengan waktu, kelak saya akan lebih dewasa, lebih terbuka hati, sehingga bisa ikhlas memaafkan orang yang telah menyakiti saya, dan melupakan kejahatan apa yang telah dia lakukan beberapa waktu yang lalu. Semoga saya segera diberikan kesadaran bahwa mempertahankan rasa marah, benci, dan sakit hati itu sangat melelahkan.

Tidak selamanya kita hidup di masa lalu, life must go on. Again, semoga saya segera diberikan kemudahan untuk memaafkan. Aamiin… [-o<

[devieriana]

 

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Scribo Ergo Sum

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Ananta Toer

Scribo, Ergo Sum, aku menulis, maka aku ada. Sebuah kalimat yang diambil dari bahasa latin, yang merupakan pengembangan ungkapan Rene Descartes, Cogito Ergo Sum yang berarti aku berpikir maka aku ada.

Tergelitik oleh tweet seseorang yang mengatakan begini, kalau Anda bisa menulis, sekarang dan nanti, tulislah yang berguna dan mempunyai tujuan bukan untuk diri sendiri tapi orang lain, itu jauh lebih terhormat. Uhuk! Jadi merasa tertohok. Lha gimana, wong tulisan saya masih sesuka-suka saya, belum ada yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain.

Sebenarnya opini itu tidak sepenuhnya salah. Justru opini yang bagus karena memberikan motivasi menulis tentang hal-hal yang bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak melulu berisi tulisan tentang curhat yang menye-menye. Lebih jauh lagi, mungkin dia ingin menyampaikan pesan tentang think before publish.

Tapi, kalau kita melihat latar belakang, tujuan, dan motivasi seseorang menulis/membuat blog kan bermacam-macam. Ada yang menulis di blog karena ingin berbagi ilmu yang dimiliki, ingin menyalurkan hobby yang ditekuni, ada juga yang berawal dari sekadar iseng, cuma ingin menuliskan keseharian yang dilaluinya (semacam diary online), atau mungkin justru hanya ingin berbagi gambar/foto yang dibubuhi sedikit narasi (photoblog). Berawal dari motivasi yang berbeda-beda itu, IMHO, bukan berarti orang yang sekadar menulis untuk diri sendiri, yang kontennya tidak selalu bermanfaat untuk orang lain itu berarti tidak seberapa terhormat.

Kemampuan menulis setiap orang juga berbeda-beda. Ada yang bagus di jenis penulisan cerita fiksi, ada yang jago menulis puisi dan tulisan-tulisan metafora, ada yang bagus ketika menulis artikel, dengan tema tertentu, ada yang selalu bisa membuat pembacanya tertawa karena tulisan-tulisan yang kocak, dll. Nah, apakah lantas semua tulisan itu pasti bermanfaat bagi pembacanya?

Kalau saya, karena awalnya dulu bikin blog salah satunya untuk menyalurkan hobby menulis, jadi ya saya tulis saja apa yang saya ingin tulis. Temanya pun random. Bisa cerita tentang keluarga, teman, pekerjaan, dan pengalaman sehari-hari. Bahasa yang saya gunakan pun masih belepotan, tulisan saya lumayan ancur, wajar kalau tidak ada yang meninggalkan komentar karena mungkin tulisan saya tergolong tulisan absurd. Tapi tidak apa-apa, namanya juga masih belajar. Lagian juga tidak ada ceritanya orang bisa langsung expert. Seiring perkembangan waktu, dari hasil blog walking, dan baca sana-sini, pelan-pelan saya mendapat pencerahan juga. Intinya, semua pasti pernah mengalami masa-masa jahiliyah ketika pertama kali menulis.

Biarkan saja tulisan itu mengalir apa adanya. Dalam perkembangannya nanti pasti akan ada proses pembelajaran kok. Entah itu dari cara menemukan ide, cara menuangkan gagasan menjadi tulisan yang menarik, pemilihan diksi, dll. Semua berawal dari nol, tidak ada yang langsung mahir. Seperti kata Melinda Haynes, Forget all the rules. Forget about being published. Write for yourself.

Jadi kalau mau menulis ya menulis saja. Tidak perlu takut apakah nanti tulisan kita ada yang baca atau tidak, akan ada yang komen atau tidak, akan ada manfaatnya untuk orang lain atau tidak. Dibaca syukur, kalau ternyata ada manfaatnya dan menghibur pembaca anggap saja itu sebagai bonus. Hampir sama seperti kata Melinda Haynes di atas, ternyata  Cyril Connolly mengatakan hal yang hampir sama, Better to write for yourself and have no public, than to write for the public and have no self.

Btw, kalian paling suka menulis tentang apa?

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi diambil dari Posterous saya

Continue Reading

Suatu Sore Bersama Bapak UKD

Jumat lalu, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.15, semua orang di ruangan saya mulai sibuk mengantri di depan mesin absensi, terutama yang naik bus jemputan. Entah bagaimana kondisi terakhir di luar kantor, yang jelas mereka ingin segera pulang, terbebas dari demonstrasi dan kemacetan, dan tiba di rumah dengan selamat. Beberapa teman masih ada di ruangan dan memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan ketimbang langsung pulang, sambil menunggu kemacetan sedikit reda.

Saya sendiri baru keluar kantor sekitar pukul 16.30-an dan mendapati jalanan depan kantor yang sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, baik kendaraan pribadi, taksi, busway, sampai ojeg yang biasa mangkal di depan kantor pun tidak terlihat sama sekali. Awalnya saya pikir karena lampu merah di ujung jalan sekitaran Harmoni, tapi masa iya lampu merahnya selama ini? Dalam hati mulai curiga kalau lalu lintas sepertinya sedang diarahkan melalui jalur alternatif, menghindari arah Istana, Monas, Bundaran HI, dan sekitarnya 😕

Baru saja berpikir demikian, datanglah dua bapak UKD (Unit Keamanan Dalam) yang kebetulan akan pulang menggunakan motor. Mereka ngobrol sebentar di depan gerbang, persis di samping saya. Berhubung saya sudah familiar dengan beliau berdua, saya pun ikut nimbrung dalam obrolan mereka tentang jalan alternatif menuju rumah masing-masing. Berasa salah pulang jam segini deh 😐

Bapak 1: Mbak Devi, nunggu jemputan atau taksi?

Saya: sebenernya tadi mau naik busway Pak, tapi kok saya males jalan ke Harmoni situ, ya ;)). Jadi ya udahlah naik taksi aja. Tapi kok dari tadi kayanya nggak ada yang lewat sini ? 😕

Bapak 2: kayanya sih emang nggak ada yang lewat depan sini, Mbak. Kan depan Istana dan Monas situ udah penuh demonstran, jadi ya nggak akan bisa lewat…

Saya: hah, serius, Pak? 😮 Waduh, tak kirain tadi masih bisa dilewatin. Soalnya tadi masih ada 1 taksi yang mau putar depan sini ngangkut penumpang sebelum saya. Jadi sekarang udah blokir total, ya? 🙁

Bapak 2: iya. Mbak Devi rumahnya di daerah mana, tho?

Saya: Duren Tiga, Pak…

Bapak 2: saya juga setiap hari lewat situ, Mbak. Apa njenengan mau bareng saya?

Saya: ngg.. Matur nuwun, Pak. Nggak usah, nanti saya malah ngerepoti. Saya nunggu taksi aja 😀

Bapak 1: Lah, sekarang aja udah nggak ada yang lewat gini, bisa-bisa nanti Mbak Devi pulang malem, lho…

Saya: gitu ya, Pak? :-s . Tapi kan Bapak cuma bawa helm satu, nanti Bapak ketangkep polisi lho kalau mboncengin saya nggak pakai helm…

Bapak 2: wis tho ora-ora, Mbak Devi nggak usah khawatir. Insyaallah nggak ada apa-apa. Monggo, naik aja. Daripada nanti malah nggak bisa pulang, lho…

Hmm, ya udah deh. Akhirnya saya putuskan untuk nebeng Bapak –yang ketika akan sampai rumah baru saya ketahui bernama Pak Hendro itu– dengan tanpa helm sehingga rambut saya berkibar-kibar kemana-mana. Psst, aslinya saya lumayan agak deg-degan juga sih kalau ketangkep polisi ;))

Persis di traffic light dekat Istana barulah saya melihat kondisi yang sebenarnya. Massa berkerumun di depan Istana Merdeka dan seputaran Monas, sejumlah polisi anti huru-hara pun sudah bersiaga penuh. Demonstran yang memenuhi jalanan itu memblokir jalan yang menuju ke arah Bundaran HI dan sekitarnya, sehingga kami harus memutar lewat belakang Kemkominfo dan lalu lewat Tanah Abang, atau bisa juga memutar ke arah Jalan Juanda.

Sepanjang jalan kami ngobrol sesekali, sambil saya mengabari keluarga kalau saya baik-baik saja dan sedang dalam perjalanan pulang diantar sama salah satu bapak anggota UKD. Ya maklum, keluarga saya kan ada di Jawa Timur, dan pasti sudah melihat di TV betapa rusuhnya kondisi Jakarta Jumat kemarin. Apalagi kantor saya berada di lokasi yang sangat dekat dengan salah satu target tujuan demonstrasi. Rute jalan yang biasa saya lalui ketika akan pulang pun melalui jalur yang sedang diblokir massa itu. Jadi kalau mereka khawatir ya wajar.

Tak terasa perjalanan kami sudah hampir sampai Mampang.

Bapak 2: Mbak Devi dulu masuk Setneg tahun berapa?

Saya: saya ikut seleksinya sih akhir 2009, efektif masuk baru Januari 2010, masih baru 2 tahunan kok, Pak  😀

Bapak 2: sama, saya juga baru sih, saya masuk Setneg itu Juni 2009

Saya: oh, gitu? Dulu ditugaskan di mana, Pak?

Bapak 2: sejak tahun 1987 saya di Paspampres, Mbak. Mbak Devi paling baru lahir ya tahun segitu?

Lah, saya baru tahu kalau Bapak itu dulunya Paspampres. Saya selama ini mengira beliau itu dulunya dari mana gitu. Tapi (menurut info yang saya dapat) kebanyakan bapak-bapak yang sekarang bertugas di Unit Keamanan Dalam itu dulunya memang Paspampres.

Terima kasih untuk tumpangannya ya, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya pulang dengan selamat sampai di depan gang rumah saya. Kalau nggak ada Bapak, nggak tahu deh saya sampai rumah jam berapa 🙂

 

[devieriana]

Continue Reading

Interview bersama RPK FM

Hari Kamis lalu saya habis vaksin HPV  yang ke-2 (total vaksin yang harus dijalani sebanyak 3x). Seperti bulan lalu, efek setelah disuntik pasti sore/malamnya lengan yang disuntik akan terasa superpegal seperti habis kerja berat dan pasti ‘kemeng’ (nyeri, linu). Kalau efek demam sih tidak selalu terjadi pada tiap perempuan yang habis divaksin HPV ya, tapi kalau saya kebetulan selalu disertai demam. Belum lagi pas lagi ‘kemeng-kemeng’-nya eh nggak sengaja ditepok kenceng banget sama adik saya. Hmmppffft…. :((

Anyway, beberapa waktu lalu di milis @IDceritaJKT ada tawaran mengisi salah satu segmen acara di Radio Pelita Kasih 96.3 FM. Berhubung waktu itu saya masih belum ada kegiatan apa-apa akhirnya mengiyakan tawaran itu bersama sama Kak Fiki dan Kak Lian. Nah, pas hari Jumat, sehari menjelang siaran, saya jadi ragu sendiri, kok badan saya belum fit gini ya? Efek demamnya masih ada, dan kebetulan saya memang sedang flu. Hmm, datang apa enggak, ya? :-s . Tapi berhubung sudah terlanjur janji sama teman dan penyiarnya ya sudahlah saya menyempatkan diri untuk memenuhi undangan siaran. Sabtu pukul 06.30 pagi saya pun berangkat ke studio, karena acaranya akan berlangsung pukul 07.00 – 08.00.

Sesampai di lokasi saya celingukan sendiri mencari di mana letak studionya, karena di lokasi tersebut hampir semuanya adalah bangunan tua. Gedung-gedungnya tampak usang, atapnya banyak yang sudah jebol di sana-sini, dindingnya pun kusam termakan usia, dan banyak pohon besar yang rindang. Hmm, agak ragu juga sih awalnya. Serius lokasi radionya ada di sekitar sini? 😕 Tapi kalau lihat beberapa tulisan yang tertera di sana sih sepertinya masih affiliate dengan radio tempat saya diundang untuk siaran, ada percetakannya juga kalau tidak salah. Ah, untunglah tak lama kemudian ada Kak Lian yang datang dengan motornya, langsung dari Pamulang, jadi saya nggak berasa ada di lokasi uji nyali sendirian *lambai tangan ke arah kamera* \:D/

Setelah tanya sama mas-mas yang ada di situ, ternyata studionya terletak di belakang gedung-gedung tua itu. lokasinya memang agak masuk ke belakang. Ketika melihat penampakan gedung yang kami maksud ternyata itu adalah adalah ex gedung Harian Suara Pembaharuan. Hmm, terlihat sama tuanya sih, tapi sedikit terlihat lebih terawat dan “hidup”, karena ditunjang adanya aktivitas harian di gedung itu. Sesampainya di sana kami diminta untuk mengisi buku tamu, dan langsung berkenalan dengan dua orang penyiar yaitu Mas Ijul (Yuliyono) dan Mas Harun Harahap yang ternyata dua-duanya adalah PNS 😀

Tepat pukul 07.00, kami berdua diminta masuk ke studio, biar mengenal lokasi dan menyesuaikan diri dengan dinginnya udara studio yang katanya dingin banget itu, walaupun setelah masuk studionya ternyata masih dinginan kantor saya yang suhunya menyamai ruang server itu. Oh iya, program bincang-bincang yang bertajuk “U and the City: The Place to Share Your Community” ini adalah acara yang dikelola oleh Goodreads Indonesia, yaitu sebuah komunitas pembaca dan pecinta buku di Indonesia.

Studionya bersih, dan nyaman. Di sana sudah tersedia 6 mikropon, 6 headset, 6 kursi berwarna orange, dan 1 buah komputer LCD (entah berapa inch) yang akan menampilkan sms-sms atau tweet pendengar yang masuk selama acara. Kalau melihat “peralatan perang” kaya gini jadi ingat pekerjaan di masa lalu 😉

Sesi interview pun berjalan santai dan lancar. Pertanyaan yang diajukan seputar komunitas Indonesia Bercerita dengan segala aktivitasnya. Kak Fiki yang datang 15 menit kemudian langsung bergabung dengan kami, dan nememani sharing di acara yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu.

Wah, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, itu tandanya acara talkshow “U and The City” pun harus berakhir. Terima kasih buat RPK 96.3 FM yang sudah memberi kesempatan kami untuk sharing seputar komunitas kami. Semoga informasi yang kami bagikan kemarin berkenan dan berguna bagi semua yang mendengarkan, ya 😉

[devieriana]

 

Foto by Kak Fiki

Continue Reading

Nostalgia Trainer

Kemarin malam saya ngobrol dengan sesama “alumnus” tempat saya bekerja dulu. Ngobrol-ngobrol reuni gitu, jadinya malah mengenang cerita-cerita konyol, dan bandel-bandelnya kita, suka duka, dan dosa-dosa selama jadi customer service. Tapi juga ingat ke masa-masa serius ketika harus “babat alas.” Jaman ketika kartu AS baru launching dan baru akan buka call centre sendiri. Asli ribet deh, tapi seneng, karena jadi punya tambahan pengalaman baru. Jadi trainer, mengajar 😀

Seumur-umur yang namanya mengajar di depan calon-calon call centre officer ya baru kali itu. Waktu itu saya dan 3 orang teman lainnya diminta untuk memberikan training ke para calon call centre officer. Kami dibagi dengan spesialisasi materi tertentu, dan kebetulan saya kebagian pegang materi prepaid secara keseluruhan.

Ternyata mengajar itu seru, ya. Serunya, karena bisa ketemu anak-anak baru setiap hari. Apalagi waktu itu mereka masih unyu-unyu gitu, masih bisa dibo’ong-bo’ongin…*eh!* ;)). Alasan lain ya karena disitu kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman sebagai yang pernah menjalani dunia per-callcentre-an lebih dulu. Halah :p. Tapi saya juga akhirnya jadi tahu kalau jadi pengajar itu berat. Menyelesaikan 2 materi yang banyak itu hanya dalam satu hari tentu butuh konsentrasi tinggi. Apalagi ketika harus mengajar di jam-jam mengantuk, sekitar pukul 13.00-15.00. Materi terberat adalah sesi penghitungan tarif. Makanya selalu saya bilang ke mereka di awal mengajar bahwa di tengah hari nanti saya akan meminta perhatian mereka secara penuh, karena kita akan belajar tentang tarif, kalau sampai ada yang nggak menyimak akan saya jewer ;)). Bukan apa-apa, kan buat mereka juga soalnya. Materi paling ribet itu ya tentang tarif. Kalau basic-nya nggak kepegang, kesananya akan makin salah kasih edukasi ke pelanggan. Belum lagi kalau kena mistery shopping dan tapping oleh Quality Assurance Officer, bisa merah-merah nilainya.

Tugas lain selain mengajar, kami juga sering bergantian melakukan interview kalau sedang buka lowongan. Karena yang diutamakan adalah suara, jadi ya salah satu tes yang harus dijalani oleh mereka adalah tes vokal. Yang paling jadi perhatian ketika melakukan tes vokal adalah tempo bicara, volume, intonasi, dialek, dan artikulasi. Artikulasi yang jelas dan terstruktur dengan baik akan membantu tersampaikannya informasi dengan jelas pula. Salah satu tes kami waktu itu  adalah dengan meminta mereka membaca:

“Gemah Ripah Rapih Tour and Travel selamat pagi, dengan ….. bisa dibantu? Maaf dengan bapak/ibu siapa saya bicara?”

Mengapa dialek juga penting untuk diperhatikan? Idealnya, sebuah call centre yang melayani secara umum dan melayani pelanggan secara nasional, seharusnya sudah tidak terdengar lagi suara dengan logat daerah tertentu. Sebagai contoh, lidah Jawa umumnya akan khas terdengar ketika mengucapkan kata-kata berhuruf “b”, “p”, dan “d”. Sedangkan lidah orang Sunda biasanya akan sering tertukar ketika mengucapkan huruf “f” dan “p”. Begitu juga dengan beberapa dialek daerah lainnya. Disitulah kepekaan telinga dibutuhkan.

Ngomong-ngomong tentang suara, dulu, ketika baru masuk call centre suara saya yang tipis dan tempo bicara yang cenderung cepat. Tapi saya belum menyadari itu. Nah, setiap bulan kami ada sesi olah vokal, yaitu kegiatan mendengarkan rekaman suara kami dan melakukan koreksi terhadap layanan kami, dipandu oleh seorang supervisor layanan. Di sesi itulah saya dikoreksi habis-habisan. Bagaimana tidak, saking cepatnya saya bicara, rata-rata layanan bisa saya selesaikan dalam waktu antara 1-3 menit sekali telepon! Tapi sejak sesi itulah saya insyaf berbicara cepat 😀

Oh ya, kemarin ada yang tanya bagaimana kita mengukur kecepatan suara ketika bicara. Kalau saya dulu “terapinya” dengan sering merekam suara sendiri di handphone. Saya latihan mengucapkan salam dan pura-pura sedang melayani pelanggan. Setelah direkam lalu saya dengarkan, dari situlah akhirnya saya tahu kalau tempo bicara saya melebihi kecepatan cahaya! :-s

Sebenarnya ada beberapa yang mau saya share tentang vokal (dan teman-temannya) 😀  Tapi kalau saya tulis jadi satu di sini kok kayanya akan kepanjangan, ya. Jadi, nanti kapan-kapan aja deh saya posting tersendiri 😀

Hmm, kangen ngajar 😉

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari google

Continue Reading