Happy Birthday!

” Happy birthday, Dear. Wish you all the best; your future career and mainly your life…”

Sederetan sms dan bbm ucapan selamat membanjiri smartphone saya tanggal 2 Juni 2013 yang lalu sejak pukul 00.00 hingga keesokan harinya. Alhamdulillah tahun ini saya masih diberikan usia, kesehatan, dan kesempatan sama Gusti Allah untuk kembali berulang tahun; merasakan pertambahan jumlah usia, sekaligus pengurangan jatah usia saya di dunia.ย  Alhamdulillah hari lahir saya masih diingat oleh keluarga, dan para sahabat. Sebuah usia istimewa, yang sudah bukan remaja lagi (walaupun masih banyak yang mengira saya berusia early twenty sehingga banyak bapak dan ibu di kantor yang ingin memungut saya jadi menantu… *plak!*).

Dari sekian banyak ucapan dan doa yang dikirimkan oleh teman-teman dan keluarga, ada sebuah ucapan yang menurut saya sederhana tapi ‘dalem’ (sumur kali, dalem), yang sekaligus membuat saya jadi terharu. Ucapan salah satu teman di Bincang Edukasi. Halo, Mas Guntar… doanya saya pajang di sini ya :-h

“Met ulang tahun, Devi. Semoga makin pinter mbikin tulisan yang mbikin terang atinya orang, semoga makin bijak agar setiap lesan yang terucap selalu mbikin adem atinya orang, semoga makin ngetop di kerjaan hingga membesar juga potensi dalam berbagi kebaikan. Aamiin…”

Duh, berat banget ini; ‘menginspirasi’ katanya :-s. Ah, saya belum mampu menginspirasi siapa-siapa kok, Mas. Tulisan saya pun masih jauh dari kata menginspirasi. Lha wong sejak awal niatnya bikin blog cuma mau menyalurkan kelebihan energi saya saja. Sama sekali tidak ada tujuan untuk menginspirasi orang lain segala. But, anyway… terima kasih doanya, ya ๐Ÿ™‚

Buat keluarga, sahabat, teman-teman di socmed, komunitas, kantor, dan grup band saya (eh iya, sekarang saya punya band; iseng sih, mmh… nantilah saya bikin postingan sendiri; kalau sempat ;))) tidak banyak kata yang akan saya umbar di sini, cuma mau bilang terima kasih untuk telepon, sms, perhatian, doa, dan kado yang sudah diberikan. Semoga segala kebaikan dan berkah yang sama juga tercurah untuk kalian semua. Aamiin…

Love you all…
>:D<

 

[devieriana]

 

 

Continue Reading

Suara yang menggelegar itu…

Kalian pernah nggak ada dalam sebuah situasi di antara sekian banyak orang, lalu mendadak ada orang yang teleponan kenceng banget kaya pakai megaphone? Pernah? Saya juga mengalaminya beberapa hari yang lalu.

Seperti biasa, saya pulang kantor menggunakan Transjakarta yang banyak penggemarnya itu. Ketika saya datang, kondisi antrian di halte Harmoni memang sudah mengular, tapi belum terlalu panjang. Di depan saya berdiri seorang wanita paruh baya, berjilbab, berperawakan sedang, yang tengah sibuk smsan. Beberapa saat kemudian dia terdengar sedang menghubungi seseorang dalam bahasa Padang yang kental. Awalnya sih belum terlalu ‘mengganggu’, tapi beberapa saat kemudian entah kenapa mendadak suara ibu itu mendadak naik satu oktaf lebih tinggi.

“OOOH, JADI ANAKNYA IDA LEMAN LAHIRAN? KAPAN? OH, HARI INI? OKE, OKE… YA UDAH… YUK, BYE…!”

Beberapa orang termasuk saya spontan mengernyitkan dahi sambil melirik ke arah ibu itu. Mungkin mereka sepemikiran dengan saya, ibu ini kokย  lebay bnaget ya? Emang nggak bisa ya volume suaranya biasa aja, gitu? Sepintas seolah ingin pamer kalau dia kenal dengan seorang publik figur (yang mungkin saat ini tidak banyak orang yang tahu karena sudah banyak bermunculan artis baru). Belum hilang kelebayan yang tadi, ibu itu bergumam, tapi malah lebih mirip sedang memberi pengumuman ketimbang menggumam.

“Wah hebat, Ida Leman punya cucu lagi! Hari ini anaknya lahiran. Hari ini… berarti tanggal 10 Desember ya, jam 4 tadi lho! Wah, salut! Salut!” *manggut-manggut*

Dalam hati saya mulai ngedumel, “Nih Bu ya, biar kata yang lahiran itu Ida Leman, Ida Royani, Ida Kusuma, Ida Jubaeda… atau Elya Khadam sekalipun, volume suaranya nggak perlu segitu kencengnya kali! &*^%$#@(*&^+~?!ย  =;”

Apakah itu saja kehebohan yang dimunculkan oleh ibu itu? Tentu tidak. Itu baru sebagian saja. Karena kehebohan lainnya terjadi ketika dia menelepon koleganya yang lain untuk mengabarkan hal yang sama. Bedanya, kali ini sambil koordinasi orderan syuting iklan.

“HALOH! EH, KAU SUDAH TAHU KALAU ANAKNYA IDA LEMAN SORE INI BARU LAHIRAN? IYO… AKU TADI BARUSAN TELEPON, KATANYA DIA MASIH SIBUK NGURUSIN ANAKNYA… IYO, KAKAKNYA MORIN… EH, KAPAN MULAI SYUTING IKLAN BEBI PODER? UANGNYA ADA DI AKU INI… AKU TRANSFER DULU 3 JUTA, YA?”

Ternyata beberapa orang sudah terlihat geregetan, karena sudah ada yang bilang, “hih, lebay!”, “berisik banget sih!”. Tapi ibu itu seolah cuek saja dengan kondisi sekitarnya. Mungkin dia pikir sedang teleponan di hutan rimba ๐Ÿ˜•

“OH, SYUTING YANG KEMARIN BATAL LAGI? HALAH, ARTIS SEKARANG ITU MANJA-MANJA! KEMARIN ADA YANG TIBA-TIBA NGEBATALIN SYUTING CUMA GARA-GARA MASUK ANGIN! MASUK ANGIN AJA NGELUHNYA UDAH KAYA ORANG MAU MATI! AKU AJA NIH YA… YANG UDAH 37 TAHUN DI DUNIA ENTERTEINMEN NGGAK PERNAH TUH NGELUH-NGELUH CEMEN KAYA GITU! MASA KERJA DI DUNIA ENTERTEINMEN KOK FISIKNYA NGGAK TAHAN BANTING GITU! [-(“

HAH? Apah?! Waduh, sebagai seorang entertainer sejati saya jadi kesindir nih. Masa fisik saya dibilang nggak tahan banting. Jadi pengen ngangkat lemari! \m/

Tak cukup sampai di situ kehebohan si ibu itu, ternyata di dalam bus pun masih berlanjut telepon-teleponan dengan berbagai orang dengan beragam tema seputar dunia entertainment. Hmm… iya deh, yang sudah berkarir selama 37 tahun di dunia enterteinmen… 8-|

Saya sering menjumpai ‘fenomena’ semacam ibu-ibu tadi. Ada yang bertelepon dengan suara sangat lantang sampai semua yang ada di tempat itu tahu isi percakapan yang diobrolkan. Mulai soal syuting, soal transfer-mentrasfer (apalagi kalau nominalnya puluhan hingga ratusan juta), dll. Entah memang tipikal orangnya yang seperti itu, atau diam-diam ada tendensi tujuan tertentu misalnya untuk pamer.

Kalau untuk kasus ibu yang tadi sih cukup membuat dahi berkernyit, masa sih kita nggak bisa mengukur suara sendiri? Kalau memang kondisi di sekitarnya ramai, mungkin akan dimaklumi kalau kita menelepon dengan suara yang keras karena orang yang di ujung telepon sana kurang mendengar dengan jelas suara kita. Tapi kalau dalam situasi yang tenang, kenapa tidak ngobrol saja dalam volume suara yang normal, jadi obrolan antara 2 orang di telepon tidak sampai jadi konsumsi orang banyak. Apalagi kalau itu cuma urusan pekerjaan atau obrolan tentang orang-orang yang cuma mereka saja yang tahu ya apa gunanya ‘diperdengarkan’ ke banyak orang? Menurut saya ini masalah etika berkomunikasi sih.

Nah, sebelum postingan ini saya tutup, pertanyaan superpenting di postingan ini adalah: siapa sebenarnya ibu itu? ๐Ÿ˜•

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Kompasianival 2012

Jumat sore kemarin (16/11) Masย Bukik mem-bbm saya, meminta tolong untuk hadir mewakili Indonesia Bercerita menerima penghargaan dari Kompasiana di hari Sabtu (17/11). Acara yang bertajuk Kompasianival 2012 ini merupakan rangkaian acara ulang tahun Kompasiana yang ke-4, yang tahun ini diadakan di Skeeno Hall – Gandaria City lantai 3.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 18.00, sampai di sana sekitar pukul 19.00. Baru saja saya mendaratkan kaki memasuki ruangan yang penuh dengan booth-booth komunitas itu kok ya tepat pas acara pengumuman pemenang \:D/. Jadi semacam baru bangun tidur; nyawa belum genap, sudah diminta untuk berbaris ;)). Tapi bagus juga sih, jadi saya kan nggak perlu menunggu terlalu lama untuk menerima penghargaan itu. Bukan apa-apa, soalnya di sana nggak ada yang saya kenal; saya juga tidak bersama kru sekomunitas karena kebetulan masing-masing sudah punya acara di waktu yang sama. Jadi ya sudahlah, yang penting saya hadir untuk menerima penghargaan :D.

Sekadar laporan pandangan mata, Skeeno Hall sebagai tempat perhelatan acara Kompasianival kalau saya perhatikan sepertinya kurang dimanfaatkan secara maksimal, karena terlihat banyak space yang kosong. Entah karena jumlah booth komunitas peserta yang ikut tidak terlalu banyak, atau memang sengaja dibuat seperti itu. Humm, kalau menurut saya suasana di dalam Skeeno Hall juga kurang catchy, (cmiiw) sepertinya lebih banyak didominasi dengan warna hitam, ya? Semoga cuma mata saya aja yang siwer, ya. Dalam ekspektasi saya sepanjang perjalanan menuju ke lokasi acara, saya akan berada dalam sebuah suasana yang heboh layaknya sebuah event bertemakan karnaval. Tapi ketika sampai di sana ternyata nggak seheboh yang ada dalam bayangan saya. Ok, berarti sayanya yang lebay kali, ya? Tapi saya yakin panitia sudah bekerja dengan heboh dan berusaha mati-matian menyelenggarakan acara ini kok ya… ๐Ÿ˜‰

Tentang apa dan bagaimana kriteria secara khusus sehingga 10 komunitas ini dianggap sebagai “Komunitas Paling Berjasa di Media Sosial” dan berhak mendapatkan plakat dan uang tunai sebesar satu juta rupiah (dipotong pajak) ini saya kurang jelas (karena bukan panitia, hehe..). Yang pasti ada 10 komunitas yang berhak meneriman penghargaan itu, beberapa diantaranya ada Coin A Chance, Save Street Child, Ayah ASI, danย Indonesia Bercerita \m/ \:D/

Anyway, selamat ulang tahun buat Kompasiana, semoga semakin hore dan sukses selalu. Terima kasih kepada Kompasianival yang telah memberikan penghargaan kepada komunitas kami, Indonesia Bercerita. Semoga api kecil yang kami sebarkan melalui mendongeng ini tidak akan berhenti sampai di sini saja, namun akan menjadi nyala yang lebih besar lagi, dan semoga akan ada banyak lagi orang yang terinspirasi untuk memiliki semangat yang sama; mendidik dan membangun karakter anak bangsa melalui dongeng \m/.

Buat Indonesia Bercerita, selamat ya… :-* >:D<

 

[devieriana]

 

foto: dokumentasi pribadi

Continue Reading

“Please DO NOT ban yourself!”

ย Kalau ditanya kebodohan paling epic apa yang pernah kamu lakukan? Saya akan menjawab dengan lantang: “ngeban diri sendiri di blog!” \m/

Iya, ceritanya kemarin saya ngeronda di blog. Blog saya ini nggak tahu gimana awalnya kok bisa sampai banyak banget spamnya. Nah, biar nggak terlalu banyak spam yang masuk salah satunya ya saya harus rajin-rajin nengokin, dan nge-block-in IP-IP yang mencurigakan dan berpotensi spamming.

Kamis malam kemarin pas saya lagi semangat-semangatnya mantau aktivitas dan statistik di blog saya, nggak tahu saya lagi mikir apa waktu itu , tiba-tiba pas lihat ada satu IP yang mencurigakan dan dia lumayan banyak melakukan aktivitas di blog, langsung deh saya banned tanpa ba-bi-bu. Sukurin! >:p

Tapi sejurus kemudian gantian saya bengong, masih nggak ngeh gitu. Kok saya dapat notifikasi segede gaban obesitas di layar laptop saya begini, ya?

“Sorry, for security reason and prevent any spamming action to this blog, your IP xxx.xxx.xx.xx have been blocked permanently from this blog, please try again later or please contact our admin xxxxxxx@xxxxx.com – Thank You”

WHAT? Saya terblokir di blog saya sendiri? Trus saya diminta untuk menghubungi diri saya sendiri untuk di-open blokir? Lah, ini gimana ceritanya, sih? Wah, rese, jangan-jangan ada yang sengaja ngerjain, nih! ๐Ÿ˜ Dalam hati saya mulai ngomel-ngomel dan panik. Sempat mau hubungi teman yang biasa bantu-bantu saya manage blog (kalau pas lagi ada trouble) buat open blokir.

Tapi sejurus kemudian tiba-tiba saya mulai ngeh dan cekikikan sendiri. Ya Allah, kebodohan apa yang telah saya perbuat malam Jumat ini… *tepok jidatnya Syahrini*. Akhirnya, dengan cekikikan saya pun login ke blog via smartphone dan membuka blokir blog saya sendiri. Yaaay! Berhasil! Berhasil! Berhasil! \:D/=D>

Lha iya, padahal dulu si teman saya ini pernah bilang ke saya begini lho:

Teman: “kamu sering-sering tengokin tuh blog kamu. Kalau ada IP-IP yang mencurigakan kamu langsung blokir aja…”

Saya: “iyaaaa…”

Teman: “tapi ingat, jangan sampai ngeblokir IP kamu sendiri :p”

Saya: “haiyah, ya enggaklah… kan di atas Ban Options itu tertera IP kita berapa, host name-nya apa, dll-nya. Trus lagian kan juga ada tulisannya: “Please DO NOT ban yourself” ;))”

Teman: “yap, pinter! :-bd”

Ealah, ternyata malam kemarin saya melakukan apa yang sudah diwanti-wanti sama si teman, padahal dulu saya ngotot nggak bakal ngeban diri sendiri. Ampuni aku, Ya Allah…. [-o<

Ih, ini mah namanya kualat, Kak! ๐Ÿ˜

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Cerita Sepanjang Jalan

Seorang ibu berbaju merah berpenampilan rapi menaiki Kopaja yang saya naiki di bilangan Gunawarman. Dia duduk di sebelah saya sambil menggengam selembar uang dua ribuan. Matanya celingukan ke sana-ke mari seolah mencari seseorang/sesuatu. Kalau boleh saya artikan sepertinya ibu itu mencari kenek bus yang biasanya sudah menagih ongkos sesaat setelah penumpang naik. Tapi kebetulan memang Kopaja yang kami naiki itu tidak ada keneknya, jadi semua penumpang yang akan turun dan membayar harus langsung ke sopirnya. Entah kalau yang duduk di belakang, apakah mereka sempat maju ke depan untuk sekadar membayar, atau memilih langsung turun begitu saja.

Ternyata benar apa yang saya perhatikan, ibu itu mencari kenek yang sedari tadi tidak menagih ongkos padanya.

Ibu X: “Eh Mbak, serius ini bus ini nggak ada keneknya, ya?”

Saya: “Sepertinya nggak ada, Bu. Soalnya sejak saya naik dari terminal Blok M semua penumpang bayarnya langsung ke sopirnya”

Ibu X: “Waduh, berarti ribet banget dong, ya? Kenapa nggak dibikin sistem kaya di luar negeri, ya? Begitu penumpang naik, mereka masukin koin di box dekat pintu masuk bus, baru naik. Nanti mereka tinggal turun. Kenapa nggak pakai sistem kaya gitu aja, ya?”

Saya: “Pemerinth kita belum kepikiran sampai ke sana kayanya, Bu :D” *jawab saya ngasal*

Ibu X: “Kalau kaya gini penumpang-penumpang yang di belakang bisa aja mereka males ke depan dan langsung turun, kan? Kasian dong sopirnya… ”

Saya: “Iya, sopirnya modal percaya sama penumpang aja sih kalau udah kaya begini, Bu :)”

Saya lihat ibu itu menggelengkan kepalanya beberapa kali, tanda keheranan. Saya hanya tersenyum samar, memaklumi. Mungkin ibu itu terbiasa dengan kultur di luar negeri, atau baru sekali ini naik Kopaja tanpa kenek. Memang kebayang sih betapa ribetnya transportasi besar tanpa kenek. Kalau di daerah mungkin masih banyak angkot yang tanpa kenek, itu hal yang lumrah. Tapi kalau bus tanpa kenek memang ya butuh kepercayaan tingkat tinggi sih.

Lain lagi cerita seseorang yang baru sebatas dengar cerita saya tentang betapa riweuh dan kumuhnya transportasi umum di Jakarta. Akhirnya kemarin ketika dia berkesempatan ke Jakarta, sengaja dia memilih naik angkutan umum seperti yang biasa saya naiki. Komentarnya, “Ya ampun, Kopaja itu busnya rusuh, jelek, dan nggak higienis banget, ya? Males aku naik Kopaja lagi!” Saya cuma tertawa. Dalam hati saya komentar, ya namanya juga transportasi umum yang murah meriah, bayar 2000 sampai di tujuan dengan selamat saja sudah alhamdulillah. Kalau mau yang higienis, bersih, adem, ya naik taksilah ;)).

“Sekarang aku jadi tahu gimana rasanya jadi kamu yang tiap pulang kantor selalu naik Kopaja/Metromini. Udah macet, busnya kaya begitu, sopirnya kalau nyetir ugal-ugalan. Sekarang aku ngerti gimana rasanya naik angkutan umum di Jakarta. Kamu juga harus hati-hati ya kalau di terminal Blok M, banyak premannya gitu :|” Saya sudah waspada sejak awal saya datang ke Jakarta kok, Kak :). Ya kadang kalau saya lagi males naik angkutan umum, lagi pengen borju dikit,ย  ya saya naik taksi juga sih. Tapi ya nggak sering-seringlah, bisa bangkrut saya.

Dulu saya sempat “mengidolakan” sarana trasportasi Transjakarta sebagai transportasi alternatif yang manusiawi karena ber-AC, tempat duduknya nyaman, dan aman. Tapi namanya orang bisa punya niat jahat kapan saja dan di mana saja, bahkan di Transjakarta sekalipun. Bukan hanya kriminalitas saja yang kerap terjadi, tapi juga pelecehan seksual yang bisa terjadi di atas sarana transportasi ini.

Saya juga pernah hampir mengalami pelecehan seksual di Transjakarta dan membuat sedikit trauma kalau harus pulang malam dari kantor dan naik Transjakarta. Dipepet sampai muka berhadap-hadapan dengan sangat dekat pernah. Hampir dicium sama bapak-bapak bertubuh gempal dan berbaju batik juga pernah :((. Baru kali itu saya begitu ketakutan sampai harus lari tunggang langgang turun dari Transjakarta di terminal Blok M, dan buru-buru naik Kopaja, dan menyembunyikan diri di bangku kosong paling depan.

Kalau kejadian yang paling baru sih kemarin, dalam perjalanan saya pulang kantor naik Metromini 75 arah Pasar Minggu tiba-tiba segerombolan siswa berseragam putih abu-abu memaksakan naik bus yangsudah penuh sesak. Mereka bergelantungan bukan hanya di pintu bus di depan saya sambil saling berpegangan tangan teman-teman lainnya yang punya posisi lebih masuk ke dalam, mereka bergelantungan di jendela-jendela yang saya tahu kacanya juga punya batas kekuatan untuk menahan beban. Sungguh miris dan ngeri. Belum lagi ketika bus harus berbelok ke arah Mampang Prapatan, sopir bus sengaja membelokkannya dengan tajam sehingga belasan siswa SMA itu nyaris terjatuh dan terlindas kendaranan lainnya. Berbagai cacian dan komentar miris menghiasi perjalanan saya sore itu, demi melihat mereka yang seperti punya nyawa cadangan bergelantungan di luar bus seperti itu.

Tiba-tiba seorang bapak duduk di sebelah saya sambil bersedekap dan geleng-geleng kepala.

Bapak X: “Yang di belakang udah bawa parang sama rantai tuh, Mbak…”

Saya: “Oh, ya? ๐Ÿ˜ฎ Mereka ini pulang sekolah atau mau tawuran sih, Pak?”

Bapak X: “Kayanya sih opsi yang kedua, Mbak… Mereka ini biasanya nggak bayar ongkos juga…”

Benar saja, sedetik kemudian mereka turun di daerah Buncit Raya dan memang mereka tidak membayar ongkos naik bus. Sambil mengacungkan kode ibu jari, mereka berteriak, “sampai ketemu di lokasi, yaaa!” Sekelebat saya melihat ikat pinggang spike yang digulung dan dimasukkan ke dalam tas. Hadeeeuh, selain nyawanya yang rangkap tujuh, mereka rupanya juga ikut kursus tawuran, ya? ๐Ÿ˜

Beginilah pemandangan rutin yang saya temui ketika pulang kantor. Tetap waspada kalau mau naik transportasi apapun, sekali pun itu menggunakan taksi. Kalau naik taksi sendirian saya hampir selalu menginformasikan ke keluarga atau teman untuk mencatat nomor lambung taksi, nama pengemudinya, dan arah tujuan ke mana. Ya buat jaga-jaga aja sih. Yang waspada saja kadang masih kecolongan, apalagi yang lengah.

Buat yang baru datang di Jakarta, selamat datang di Ibu Kota kita yang tercinta. Selamat bergelut dengan segala kemacetan, kekusutan, dan hiruk-pikuknya Jakarta. Semangat ya, Kak! \m/

[devieriana]

Continue Reading