Happy Anniversary..

Teruntuk suamiku yang lucu walau kadang suka nyebelin : Happy 3rd Wedding Anniversary.. @};-

Di ulang tahun yang ketiga ini, ijinkanlah aku mengucapkan terimakasih untuk *buka gulungan daun lontar* :

1. Mau jadi ojeg pribadi yang nganter aku kesana-kemari karena selain buta jalan juga nggak pernah apal sama daerah Jakarta.. #pengakuan

2. Kesabaran menghadapi kelakuan ajaib istrimu yang imut & manis baik (tiada tara) ini ..

3. Kesabaran ketika aku ngomel-ngomel nggak jelas kalau pas lagi PMS, walau yaa sebenernya sih wajarlah ya, wong namanya juga lagi PMS. Situ belum pernah ngerasain sih ya, gimana rasanya mood naik turun nggak jelas, esmosi tanpa sebab yang kadang kita sendiri nggak tahu kenapa bisa begitu. Makanya, kalau aku lagi ngomel-ngomel gitu diemin aja, nanti juga reda sendiri.. >:) –> ini adalah contoh ngomel kalau lagi PMS

4. Kesabaran ketika aku mendadak sok tau & ternyata eh ternyata.. akhirnya kamulah yang benar —> contoh tentang ngeyel tapi salah \m/

5. Bersedia nraktir aku kapan aja walaupun kita nggak ada yang ulang tahun, dan.. walaupun nantinya pas tanggal tua ganti aku yang nraktir kamu soalnya kan aku udah terima tunjangan kinerja pas tanggal 20, sementara kamu gajiannya kan menjelang akhir bulan —> dibahas :))

6. Telah menemaniku ketika senang maupun susah… :(( *ambil serbet kotak-kotak ijo saputangan*

Ya, gitu deh.. dengan ini aku ucapkan terimakasih untuk semua jasa-jasamu, ternyata kamu itu (sebenernya) baik ya..

Jadi..

kapan rencananya sepatu lucu yang ada di Centro – Plaza Semanggi itu kita beli? :-”  *mlintir-mlintirin ujung taplak*

Well, I know there’s a reason
And I know there’s a rhyme
We were meant to be together
And that’s why

We can roll with the punches
We can stroll hand in hand
And when I say it’s forever
You understand

That you’re always in my heart
You’re always on my mind
But when it all becomes too much
You’re never far behind

And there’s no one
That comes close to you
Could ever take your place
‘Cause only you can love me this way

I could have turned a different corner
I could have gone another place
Then I’d of never had this feeling
That I feel today, yeah

And you’re always in my heart
Always on my mind
When it all becomes too much
You’re never far behind

And there’s no one
That comes close to you
Could ever take your place
‘Cause only you can love me this way
Ooh..

And you’re always in my heart
You’re always on my mind
And when it all becomes too much
You’re never far behind..

And there’s no one
That comes close to you
Could ever take your place
‘Cause only you can love me this way
Ooh..

Only you can love me this way..

Love you, Bibo!
17 Juni 2007 – 17 Juni 2010

[devieriana]

Continue Reading

You love me, you love me not..

Suatu pagi, saya datang dengan wajah setengah bersungut-sungut lantaran merasa kesal sama suami. Gimana nggak kesel, lha wong saya lagi sakit eh malamnya saya malah diomel-omelin. Bukannya dirawat atau dikasih kata-kata yang manis gitu, atau didoain biar cepat sembuh, tapi malah diomelin panjang lebar sampai rasanya kuping meleleh. Ah, mulai lebay lagi kan? ;))

Begitu naruh tas saya langsung ngomel ke temen saya :

Saya : “Hadeuh, kesel banget deh sama suamiku. Masa sakit-sakit begini semalem malah dimarahin. Nggak ada kasian-kasiannya..”, ngomel sambil terbatuk-batuk.

Teman : “hehehe, kenapa? kenapa? Kamunya bandel kali Dev? “

Saya : “halah, bandel apa sih? kebanyakan mainan layangan juga kagak. Cuma gara-gara aku minum obat batuk yang menurut dia over dosis aja. Yang harusnya 4 jam sekali, aku minum 2 jam sekali.. Ketauan sama suamiku, aku terus dimarahin..” (diucapkan dengan nada tanpa bersalah)

Teman : “Lha yo mesti. Wong kamu emang cari perkara, bikin aturan sendiri. Keracunan obat kapok kamu ;)). Tenang, kamu nggak sendirian, aku juga habis marahin istriku gara-gara dia bandel. Nggak aku bolehin makan bakmi karena aku takut perutnya sakit. Eh maksa makan bakmi juga. Wong namanya lagi hamil, aku nggak tega, ya sudah aku turutin. Tak beliin bakmi. Akibatnya perutnya kembung sampai sekarang nggak sembuh-sembuh.Tak marahin, tak diemin. Gitu sama suami nggak nurut. Aku emang marah banget sama dia Dev, tapi lama-lama nggak tega. Semarah-marahnya aku sama dia itu ya karena bentuk sayangku ke dia. Kalau orang Jawa bilang, “ngeman”, tapi kadang yang di-eman itu nggak nyadar kalau dia lagi disayang sama suaminya…”

Saya :
“wogh, gitu ya ternyata?” *manggut-manggut*

Sebagai pasangan hidup, suami saya termasuk pasangan yang kadar romantisme dibawah 50%. Jangankan ngasih bunga sama saya (dibahas lagi? ;)) ), bilang “I love you..” aja bisa dihitung dengan jari. Kalau pasangan lain mungkin bisa bilang I love you di facebook sehari sepuluh kali, kita nggak pernah tuh bilang kaya begitu di facebook. Ngiri? Ah, nggaklah. Kalau soal kemesraan kita sudah sepakat nggak akan show off di situs-situs pertemanan. Ya lagian juga buat apa? Wong handphone juga ada, kalau komunikasi ya tinggal BBM atau sms, lebih pribadi juga tho? Ya itu kalau kami. Prinsipnya bisa beda sama pasangan lain.. 🙂

Nah dialog diatas itu kebetulan saya lakukan bersama seorang teman kantor. Niat awalnya sih curhat. Tapi ujung-ujungnya kok saya jadi ketawa sendiri. Karena ndilalah orang yang saya curhati kok sifatnya hampir sama sama suami saya. Bahkan saya akhirnya bisa paham bahwa rasa sayang/perhatian suami itu tidak selalu lewat kata-kata mesra tapi justru lebih ke tindakan. Semarah-marahnya suami saya, sejahat-jahatnya dia menurut saya kadang ya dia masih ada benarnya. Rasa sayang yang ditunjukkan dia sama saya memang beda bentuk dengan apa yang saya inginkan. Kadang nih ya, yang namanya perempuan pengen sekali-kali diromantisin sama pasangan, dikasih kata-kata yang indah. Err.. digombalin gitu ya? Eh, ya enggak gitu juga, tapi pengenlah sekali-kali dikasih perhatian yang romantis sama suami sebagai bentuk rasa sayang dia ke kita. Uhuk! @};-

Tapi kalau nyatanya ke kita justru nggak seperti apa yang kita bayangkan, gimana coba? Disaat kita pengennya diperhatikan, dianya malah ngomel-ngomel nggak jelas. Ya siapa yang nggak kesel kalau kaya begitu ya? (mulai cari massa) ;)). Tapi ternyata kita (terutama saya) seringkali salah terima. Justru dibalik omelan & ceracauannya itu dia menunjukkan rasa perhatiannya sama kita. Tsaaahh.. (menyibakkan poni)

Seperti contohnya saya yang ngarang sendiri dosis obat batuk itu tadi. Dia ngomel karena takut lambung saya atau bahkan ginjal saya yang kena, sama kaya mertua saya. Dia nggak pengen itu terjadi sama saya. Atau ketika saya memaksakan dia untuk menerobos hujan (yang menurut saya cuma) gerimis itu & dia menolak mentah-mentah, itu karena dia nggak pengen saya & dia jadi sakit. Karena dia tahu badan saya itu rentan banget sama flu. Pun halnya ketika saya santai menyantap sambal tanpa kira-kira, dia yang sibuk ngomel panjang lebar karena nggak pengen perut saya bermasalah. Juga ketika dia ngomel tak henti-henti ketika melihat saya bandel tetep mantengin layar laptop ketika malam beranjak larut & saya nggak tidur-tidur. Itu karena dia khawatir badan saya demam lagi, karena dia hafal betul kondisi badan saya yang nggak bisa dipaksakan itu ;;) .

Jadi kesimpulannya, emang sayanya yang bandel kok. Seringkali menuntut pasangan harus begini-begitu, menutup mata ketika perhatian pasangan diaplikasikan dalam bentuk yang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Sekarang pilih mana, dikasih bunga & dikasih kata-kata mesra yang belum tentu keluar dari hati (sekedar menyenangkan hati kita)  atau diperhatikan dengan tulus & tanpa basa-basi? Pasti pilihan kedua kan? (moga-moga nggak cuma saya yang memilih opsi kedua ya ;)) ).

Jadi, berhentilah mengeluhkan & membandingkan pasangan kita. Mulailah bersyukur dengan jodoh kita masing-masing karena sejatinya Allah menjodohkan kita karena Dia tahu apa yang sesungguhnya kita butuhkan bukan yang kita inginkan 😉

[devieriana]

gambar ngambil dari sini

Continue Reading

Pasanganmu Romantis? Saya, err…

Saya orangnya nggak romantis blas, cenderung suka yang gokil-gokil. Dulu saya juga nggak suka sama pria romantis, karena menurut saya (waktu itu), pria romantis itu tukang gombal *ngepel* ;)). Tapi sejalan dengan bertambahnya usia..tsaahh.. saya akhirnya pasrah pada kenyataan bahwa, sebenarnya saya itu butuh diromantisin dan saya sejatinya adalah perempuan yang romantis. Halaaaah.. :)).

Mantan-mantan saya dulu (eh kok kesannya banyak ya? Ah enggak kok, cuman 5..), juga kebetulan jarang ada yang romantis. Semuanya dalam kadar keromantisan skala 1 s/d 6 . Biasa aja. Sama seperti apa yang saya mau pada waktu itu. Sampai suatu hari ada salah satu penggebet (eh buset, bahasanya..) yang memberikan saya buket anggrek dan dua batang coklat Silverqueen yang kalau diterjemahkan (saya sampai iseng nyari artinya kalau cowok memberikan coklat itu artinya apa lho ;)) ) adalah : “saya ingin mengenalmu lebih jauh”. Saat itu yang saya rasakan justru geli, aneh, lucu, dan.. ya karena nggak biasa itu kali ya. Padahal temen-temen kantor saya udah “ciyah-ciyeh” melulu dari siang. Belum lagi pas pulang, saya kan naik angkot, kebayanglah saya bakal bawa-bawa hand bouquette nan eye catching begitu. Malah ada yang ngirain saya habis menang lomba.

Sampai rumah mama papa saya sampai heran, ini cowok mana yang kesambet sampai ngasih kembang sama saya. Berhubung bunganya bagus ya saya pajang di ruang makan (soalnya kalau di ruang tamu takut dianya GR kalau pas kebetulan main ke rumah saya. Padahal ya nggak pernah main. Ya sebagai langkah antisipasi aja. Ciih, ke-GR-an sangat :p), lagian juga sayanglah kalau dibuang ;)). Nah kalau coklatnya saya makan bareng-bareng sama temen-temen. Itupun pakai acara dilangkahin dulu, karena kata temen saya takut diguna-guna :)) . D’oh, parah sekali ya, jadi pengen mbakar menyan deh..

Suami saya apalagi, termasuk makhluk yang paling nggak romantis sedunia. Mungkin juga karena dia orang teknik ya, jadi nggak bisa & nggak biasa nyastra-nyastra gitu, walaupun nggak ada hubungannya juga antara orang teknik, suka nyastra, atau masalah romantisme ya. Karena menurut dia, rasa sayang/cinta itu tidak selalu harus ditunjukkan dengan kata-kata, tapi lewat perbuatan. Uhuk!! Hmm, ada benernya sih, walaupun sampai sekarang saya belum pernah tuh saya tiba-tiba dikasih kalungan kalung permata atau jari saya diselipin cincin berlian.. *dikeplak*. Lho, katanya lebih ke perbuatan kan? Saya menganggap dia romantis kalau habis gajian, momen ketika dia menyerahkan gajinya sama saya.. *eh* :)).

Gara-gara kebanyakan kumpul sama para “pujangga” blog dan social media, akhirnya jiwa romantis saya muncul dengan sendirinya. Sekali lagi bukan suami saya yang romantis ya, justru saya yang “ngeromantis”, halah ;)) . Yang dulunya nggak pernah nulis tentang sastra, mendadak mau belajar nulis tentang cara menulis dengan majas metafora. Yang dulunya cuma suka baca/ikut lomba baca puisi, sekarang sesekali bikin puisi tentang cinta. Tapi anehnya puisi saya lebih sering puisi patah hati, kenapa yah? :-/ . Lebih gampang aja gitu nulisnya. Ketimbang saya mesti harus merayu pulau kelapa, rasanya kok susah banget ya :((. Ah, berarti romantisnya saya masih tingkat basic, belum intermediate, pun advance :D.

Sampai suatu hari saya nanya ke suami saya :

Saya  : “kamu kok nggak pernah bilang I love you sih sama aku?”
Suami  : “emang harus diomongin ya?”
Saya  : “ya.. mbok ya sesekali gitu. Tapi, ya wis seikhlasnya ajalah, dibilang ya syukur, nggak juga nggak apa-apa deh..” *ngurek-urek tanah*
Suami  : *tertawa* “Cinta atau sayang itu nggak selalu harus diomongin atau diobral..”
Saya  : “ya kagak diobral kali, sesekali bilang lho nggak apa-apa, Bibo (panggilan saya sama dia karena saya selalu membayangkan dia adalah makhluk yang empuk  *dilempar elpiji* )
Suami  : “Aku suka bilang gitu kalau pas kamu udah tidur..”
Saya  : “lah, meneketempreng kalo aku udah tidur..”
Suami  : “ya emang, tujuannya biar ketempreng itu tadi.. Kamu kenal aku berapa lama? Udah tahu kan kalau aku nggak biasa dengan pengungkapan secara verbal. Nggak pernah bisa romantis. Kalau kamu nanya aku sayang apa enggak sama kamu, ya pasti aku bilang sayang kan?”
Saya  : “ya tapi kenapa mesti dipancing dulu? Mbok ya sesekali bilang  I love you kek, atau apa gitu..”
Suami  : “ya udah, I love you Kek..”
Saya : *hiyaaatt*

Ya begitulah kadang-kadang. Kalau soal pengungkapan perasaan secara verbal, suami saya paling nggak jago deh. Tapi pernah sih pas saya ulang tahun, dua tahun yang lalu. Dia yang dari kemarinnya udah bikin masalah dan bikin saya kesel, mendadak siang-siang kekantor nganter kue tart buat saya lengkap dengan lilin dan pisaunya (iya, soalnya emang sudah satu paket) <:-P . Simple, but.. nice :). Mau masih kesel ya gimana ya, lha wong udah disogok tart ulang tahun. Jadi ya, biar gondok (dikit) saya terima kuenya deh.. *pamrih*

Sebulan yang lalu saya request ke suami karena saya “kangen” dikasih bunga. Serius. Saya yang pecicilan ini mendadak pengen dikasih buket bunga padahal nggak ada hujan & nggak ada angin. Nggak tahu deh kerasukan apaan. Terserahlah mau dikasih buket bunga apa aja, pokoknya bukan buket bunga bangkai. Gara-garanya pas pulang saya lewat di Pasar Hias daerah Cikini yang tokonya banyak jualan buket bunga yang cantik-cantik.

Pulangnya saya langsung request dong, buat ulang tahun saya yang kurang 2 bulan lagi  :

Saya  : “Bibo, aku mau dikasih buket bunga dong. Nanti kalau aku ulang tahun aku mau dikirimin buket mawar atau apa gitu ya, ke kantor tapinya yah..”, saya mendadak kecentilan
Suami  : *meraba dahi saya dengan muka khawatir* “kamu nggak apa-apa kan ya?”
Saya  : “eh kenapa sih? aku tuh serius tau, nggak lagi ngigau..”
Suami  : “lah, trus kamu kenapa mendadak pengen dikasih bunga segala?”
Saya  : “ya gapapa, pengen aja, sekali-kali gitu Bibo. Kasih aku buket bunga ya.. Cewek tuh seneng lho kalo dikasih bunga ;;). Nanti ulang tahun nggak usah dibeliin kue tart juga gapapa deh, asalkan aku dikirimin buket bunga aja, ya.. ya..”
Suami  : “Halah sayang, ngapain sih? Aneh bener dah bini gue hari ini. Nih ya, ulang tahun itu beli yang bisa dimakan rame-rame sama temen dikantor gitu. Bunga kan nggak bisa dimakan, diliatin doang, paling-paling tar 2 hari juga udah bubar jalan itu bunga.. Kecuali kamu masih sodaraan sama Suzanna sih ya gapapa, tar aku beliin melati sekalian..”
Saya  : *pasang muka dingin*  “Bang, sate Bang.. seribu tusuk. Mentah juga nggak apa-apa..” :-w –> intonasi Suzanna waktu jadi sundel bolong

Jadi ya gitu deh.. Nggak tahu deh nanti pas saya ulang tahun beneran dia ngasih saya buket bunga atau enggak. Atau, mungkin ada yang mau ngirimin saya hand bouquette? @};- . Kalau iya ada yang ngasih, berarti.. kamu baik deh.. Sini, sini, akun facebook sama twitternya apa sih? Sini aku follow ;))

[devieriana]

Continue Reading

Sang Orangtua Tunggal

Ketika seseorang yang tadinya menikah lalu terpisahkan oleh oleh ajal atau selembar akte cerai, jika keduanya memiliki anak maka sebutannya adalah single parents. Ya, saya lebih suka menyebut dengan istilah “single parents”, ketimbang duda atau janda sekalipun ya memang itu benar status mereka  secara umum. Tapi secara konotasi kok saya merasa lebih nyaman dengan menyebut mereka seperti itu ya 🙂  . Siapa pun pasti tak pernah berharap menjadi orang tua tunggal (single parent). Keluarga yang lengkap dan utuh merupakan idaman setiap orang, ya kan?

Ok, saya nggak akan terlalu dalam membahas tentang sisi seorang single parents, mengupasnya sampai detail. Saya cuma ingin berbagi sebuah cerita yang buat saya menarik..

Saya punya teman seorang single parent yang masih muda. Usianya kini belum genap 25 tahun. Bukan.., dia bukan berpisah karena cerai, tapi suaminya meninggal ketika menjalankan tugas. Almarhum suaminya adalah seorang pilot, dan meninggalkan dia beserta si kecil yang waktu itu masih berusia 5 bulan. Lalu setelah kejadian yang menewaskan suaminya itu apakah lantas dia ber-mellow pillow sorrow, berlama-lama larut dalam kesedihan?

Tidak seperti yang kita bayangkan. Dia yang awalnya sempat down selama beberapa waktu, hanya kurun waktu sebulan setelah kejadian itu dia up lagi dan mulai menjalankan aktivitas seperti biasa. Kembali mencari pekerjaan, kembali berkarir sebagai karyawati.

Memang bukan hal yang mudah untuk begitu saja melupakan kejadian menyedihkan dan lalu larut dalam aktivitas seperti biasa. Tapi kalau dituruti justru malah bikin kita berlarut-larut dalam kesedihan bukan? Rupanya Tuhan memang sudah merencanakan segala sesuatu buat kita. Diberinya kita sesuatu/seseorang yang kita sayang, lalu seketika diambil begitu saja. Jelas bukan tidak ada maksud, justru hikmah dibalik dengan kejadian itulah yang membuat kita (insyaallah) jadi manusia yang lebih baik.

Kemandirian & ketegasan membentuk pola pikir & cara bertindak si ibu satu itu. Kemana-mana sendiri mengendarai mobil hitamnya. Mengatur keuangan sendiri, menyiapkan masa depan buah hatinya sendiri, membagi waktu & konsentrasi antara keluarga & buah hati yang masih balita. Bukan sebuah tugas yang mudah. Tapi saya justru salut melihat dia. Di usia semuda itu dia bisa menangani kehidupannya sendiri, tanpa harus tergantung pada orang lain, itu yang membuat saya salut. Ya memang sih terkadang orangtua kandung & mertuanya masih memberikan bantuan, tapi diluar bantuan itu dia berusaha sendiri. Dia mencoba berbisnis dengan teman semasa kuliahnya, untuk mendapatkan income tambahan. Jadi jika ada keperluan mendadak masih ada dana yang dicadangkan & bisa dipergunakan sewaktu-waktu ketika dibutuhkan.

Yang membuat kasihan kadang melihat “sepak terjangnya” sendirian terpikir untuk menyarankan dia mencari pasangan lagi. Karena di usia yang semuda itu, punya anak balita pula, dia masih membutuhkan figur suami & ayah bagi putri semata wayangnya. Seperti ketika dia harus mengurus ini itu kemana-mana sendiri, termasuk ketika si kecil mengalami panas tinggi & mendadak kejang (stuip) pukul 2 dini hari, dia harus buru-buru melarikan anaknya sendirian ke rumah sakit terdekat. Itu membuat saya trenyuh. Dia selalu berdoa, “Ya Allah, semoga anakku kalau demam nggak sampai stuip.. Kasihan dia..”. Karena menurut dokter stuip itu bisa terjadi pada anak usia 6 bulan s/d 6 tahun.

Dulu saya sempat tanya kenapa nggak tinggal sama orangtua saja sementara? Dia sendiri kurang setuju, karena orangtuanya di Bandung. Sementara mertuanya di Cijantung. Tinggal bersama orangtua akan membentuk mental dia bukan sebagai orang yang tegar & mandiri, karena apa-apa masih diurusin. Oh, saya langsung menciut. Saya yang terpaut 8 tahun sama dia mendadak kalah dewasa pemikirannya.

Tapi walau bagaimanapun seorang wanita masih membutuhkan kehadiran seorang lelaki yang akan melindungi dia & buah hati, yang kelak mampu menjadi contoh, pemimpin & kepala keluarga yang baik. Cinta kepada orang yang kita kasihi memang tidak akan pernah terganti. Namun segala sesuatunya perlu dikompromi ketika kita bicara masa depan & perkembangan psikologis sang buah hati..

[devieriana]

Continue Reading

Selera Yang Menular

Boleh dibilang selera musik saya sangat gado-gado; karena segala jenis musik yang menurut saya terdengar catchy atau syairnya bagus bisa langsung masuk dalam list lagu favorit. Genrenya pun bisa bermacam-macam, tergantung mood & selera saya saat itu :D. Bisa dilihat sebagian  di sini , atau di sini ,dan masih banyak sederetan lagu yang bergenre musik yang berbeda jauh dari selera musik suami saya.

Berbeda dengan suami yang konsisten dengan koleksi lagu di jalur jazz (mulai yang sentimental romantic jazz, instrumental, sampai yang jazz banget). Hampir semua koleksi lagunya jazz atau instrumental yang mengandung saxophone atau lagu-lagu slow yang kalau didengarkan kapan saja masih bisa masuk & nggak ketinggalan jaman. Kadang kalau didengarkan dalam suasana syahdu bisa berasa seperti sedang makan di kafe-kafe yang romantis. Jangankan gitu deh, di suatu malam bertepatan dengan acara gathering temen-temen saya di salah satu villa di Puncak sambil menemani kita yang sedang mempersiapkan makan malam dia langsung memainkan koleksi lagu-lagunya. Asli, berasa lagi di mana gitu. Berasa lagi di Puncak, gitu ;))

Koleksi macam Dave Koz, Kenny G, David Benoit, Dave Grusin, Incognito, Earl Klugh, Lee Ritenour, Michael Buble, Barry White, Al Jarreau, Jammie Cullum nangkring dengan manis di rak CD, ipod, blackberry. Saya yang awalnya kurang peduli dengan selera dan koleksi musik suami saya lha kok sekarang-sekarang malah ketularan. Ringtone saya jadi jazz banget. Ya kalaupun iya sekarang jadi suka dengerin yang jazzy tunes, sukanya sama yang ringan-ringan sajalah, sama kaya dia juga. Nggak sampai yang jazznya ‘black’ banget, ilmunya belum sampai sana saya mah ;))

Salah satu lagu favorit saya yang adem banget buat didengerin malem-malem sambil hujan kaya gini, yang versi aslinya dibawakan bareng David Benoit – Know You by Heart. Tapi versi yang bareng  Jim Brickman juga ok banget lho, kaya gini:

atau ringtone saya, David Benoit – Watermelon Man yang tersohor  ini :

atau mau yang anak muda banget, Photograph – Jammie Cullum yang ini:

Kalau urusan musik mungkin masih bisa ketularan, tapi kalau sudah masalah hobby sudah masing-masing. Saya sibuk apa, dia ribet apa 😀

[devieriana]

gambar pinjam dari sini

Continue Reading