Berkompromi dengan ketidaksempurnaan..

Beberapa kali saya diskusi dengan tema seperti ini dengan beberapa teman yang berbeda. Tema klasik yang bisa dialami dan bisa terjadi pada siapa saja. Tentang pekerjaan, keluarga, pasangan hidup.

Tak jarang kita harus mau berkompromi dengan takdir, dengan situasi dan kondisi tertentu berkaitan jodoh, pekerjaan, lingkungan, keluarga, dll. Seringkali semua hal tidak berjalan seperti apa yang kita kehendaki. Bahkan ketika sudah hampir kejadian seperti yang kita maui pun endingnya tak selalu mulus. Ternyata Tuhan berkehendak yang berbeda. Mau tidak mau kita yang harus menyesuaikan diri dengan itu semua. Nah, trus gimana dong? Nangis? Nyesel? Jambak-jambak rambut? ~X(. Nyesel pasti ada ya. Tapi masa iya mau nyesel melulu? Endingnya minum jus jambu campur potas..:-ss. Tergantung kitanya mau menerima dan ikhlas menjalani itu semua atau enggak. Tsaah, ngemeng aja nih.. Ngejalaninnya gampang kagak? Ya, kalau kitanya ikhlas menjalaninya, insyaallah pasti ada jalanlah.. *benerin sorban kotak-kotak* ;))

Nah kalau masalah klisenya tentang jodoh, nih. Ada seorang teman yang (ternyata) menikah dengan orang yang jauh dari tipe idealnya. Padahal waktu pacaran saya tahu betul bagaimana tipe mantan-mantan pacarnya. Tapi pas menikah justru bukan yang romantis, bukan yang kaya raya, wajah dan tampilannya pun bahkan sangat bersahaja untuk ukuran pria selera dia. Nah lho, salah pilih? :-o. Enggak juga. Sejauh ini dia juga fine-fine aja dengan suaminya. Bahkan sudah dikaruniai 2 anak yang lucu-lucu. Kelihatannya juga bahagia-bahagia aja dengan kehidupan berkeluarganya (semoga sesuai dengan apa yang saya lihat ya :D). Kita nggak pernah tahu dengan siapa kita akan berjodoh kan ya? Yang jelas, kadang memang sosok yang jadi pasangan kita belum tentu adalah sosok yang sesempurna impian atau cita-cita kita.

Sekali lagi saya mengutip pernyataan Steven R. Covey :

“Your life doesn’t just “happen.” Whether you know it or not, it is carefully designed by you. The choices, after all, are yours. You choose happiness. You choose sadness. You choose decisiveness. You choose ambivalence. You choose success. You choose failure. You choose courage. You choose fear. Just remember that every moment, every situation, provides a new choice. And in doing so, it gives you a perfect opportunity to do things differently to produce more positive results.”

Intinya, semua yang terjadi dalam hidup kita adalah hasil dari pilihan yang sudah kita ambil. Apakah nanti resikonya baik/buruk itu adalah sebagai bentuk konsekuensi logis atas pilihan kita, termasuk ketika kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut lengkap dengan segala kekurangannya, atau ketika kita memutuskan untuk tetap bersama dengannya apapun yang akan terjadi. Bahkan ketika kita menyadari bahwa diluar sana ada banyak orang lain yang kualitas pribadinya jauh melebihi segalanya yang dimiliki oleh pasangan kita tapi kita tetap memilih dengan pasangan kita. Pastinya berat ya? Iyalah, secara ya hari gini, yang namanya godaan ada dimana-mana, Bo! #:-s*ngelap keringet* *meres serbet*

Kalau kata seorang filsuf Amerika, Sam Keen, “Love isn’t finding a perfect person. It’s seeing an imperfect person perfectly”. Tidak ada seorang manusia pun yang terlahir sempurna. Pun halnya dengan mencintai seseorang. Kita ditakdirkan hidup berpasang-pasangan. Namun terkadang kita ternyata berjodoh dengan seseorang yang tidak sesempurna yang kita impikan. Ya contohnya saya aja deh. Saya pengennya sih nikah sama Darius Sinathriya gitu. Eh nggak tahunya Darius nikahnya sama Dona Agnesia, bukan sama Devi Eriana. Ya karena alasannya jelas. Dona lebih sempurna ketimbang saya ;))  *melihat wajan dan kompor beterbangan*

Kata Mama saya, kita hidup bukan mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

Ya, setidaknya sesempurna yang kita mampu..

Eh, iya.. I love you..
@};-

[devieriana]

Continue Reading

Obrolan Absurd (2)

Sudah lama saya nggak posting tentang yang absurd-absurd disini ya ;)). Kalau kapan hari saya posting tentang Obrolan Absurd sama temen-temen, sekarang sekalian suami saya juga suka ketularan absurdnya.Yang absurd siapa sebenarnya sih tergantung situasi dan kondisi aja sih. Saya? Ah saya kan sebenarnya anak yang pendiam, nggak ngomong kalau nggak ditanya.. *ngikir kuku* :-”

1. Dengan si hubby : Balada radang tenggorokan

Saya : Duh, paling males deh kalau lagi radang gini. Pasti demam.. 🙁
Hubby : Ya udah nih minum minyak ikan nih..  *mengulurkan botol besar berisi kapsul minyak ikan punya Bapak dan meminta saya mengambil 2 butir kapsul bening*
Saya : Emang ngaruh gitu kalau minum minyak ikan? Efeknya apa? *ragu-ragu*
Hubby : Ya udah ambil, minum. Bawel amat! Efeknya? Abis ini kamu bisa renang!


2. Sama si hubby : Balada macet (di depan lampu merah KFC Mampang)

Hubby : Yaelah, macetnya kok ya sampai sepanjang ini? Hari apa sih ini?
Saya : Sabtu, malem Minggu. Halah kaya baru jadi orang Jakarta aja pake ngeluh macet segala..
Hubby : Ya tapi ini antrian macetnya panjang banget kali..
Saya : Ya kan mereka mau nonton Harry Potter, Bibo.. *kalem*
Hubby : *noleh ke belakang dengan tatapan aneh ke saya*
Saya : Ya? Kenapa? Ada yang salah gitu? *muka inosen*
Hubby : @#$%*&@#


3. Sama temen di BBM Group : Balada makan siang

Temen 1 (Istana Negara) : Temans, yuk makan bareng di kantin yuk ..
Temen 2 (Istana Bogor) : Duh, aku nggak punya temen nih.. Makan sendiri dong aku .. 🙁
Saya : Jangan sedih gitu dong.. kan disana juga banyak temen angkatan kita..
Temen 2 : Oh ya? Emang ada lagi yang ditempatkan di Istana Bogor selain aku?
Saya : Lah, aslinya kan seangkatan kita bukan 37 orang, tapi 58.
Temen 2 : Hwaa, iyakah? Kok aku baru tahu? 😕
Saya : Iya, sisanya berbentuk rusa!


4. Sama temen SMA di BBM : Balada MC acara pengajian


Saya : Aduh, mendadak sakit peruuut.. 🙁
Temen : Lha, ngapain sih? Kebelet?
Saya : Nggak, psikis sih.. 🙁 :-ss
Temen : Trus, kenapa?
Saya : Mmmh.., nganu, disuruh ngemsi di acara pengajian kantor nih 🙁
Temen : Mwahahahaha.. KAMU?! Ngemsi di acara pengajian?! :)) . Nggak salah ta panitianya ini? :))
Saya : Iyaaa.. Udah pake jilbab niih.. 😐
Temen : Mwahaha, eh, kamu jadi MC di acara pengajian lagi dihukum sama Allah yah?! :))
Saya :  *plak! tabok pake talenan*


5. Sama temen SMA : Balada crepes


Temen : Oii, gimana ngemsinya? 😀
Saya : Alhamdulillah lancar.. Kamu lagi dimana ini?
Temen : Lagi dijalan, mau pulang. Keujanan, neduh dulu. Eh, aku pinjem duitnya napaaah..
Saya : Hahaha, gak keliru tah? Heh, kebodohan apa yang sudah kamu lakukan? ;))
Temen : Nganu, aku kan tadi neduh, trus beli crepes. Lha, pas crepes-nya udah jadi aku baru sadar kalo dompetku ketinggalan
Saya : KAPOK!! :)) Ya wis ninggal-ninggal apa dulu sana, kunci motor kek, kaos atau apa gitu..
Temen : Aku tadi mau ninggal crepes-ku sebagai jaminan tapi sama masnya nggak boleh.. 😐
Saya : Ya emang itu masnya yang bikin *plak!!*. Gila! :))
Temen :
gimana kalo masnya aku kasih penawaran diskon liputan dan foto manten gitu ya 😕 —> kebetulan temen saya ini fotografer & videografer.
Saya : Jangan lupa suruh bedakan dulu ya. Masa mau diliput kok mukanya
kumus-kumus minyakan bau crepes gitu..
Temen : Siyaap!

Jadi demikianlah, keabsurdan itu akan tercipta jika ada pihak-pihak yang mendadak absurd, sudah absurd dari sononya, atau tertular absurd..
Sekian.
;))

[devieriana]

Continue Reading

Kami lucu? Ah, masa?

Seringkali saya & suami dikomentari sebagai pasangan yang  lucu dan unik. Bukan. Bukan karena saya nikah sama gajah, atau tapir. Tapi mungkin karena keunikan pribadi kami yang menyebabkan orang berkomentar seperti itu. Tapi apa iya kami sebenarnya “selucu” dan “seunyu” itu? 😕

Sebenarnya dulu, waktu jaman penjajahan.. eh kelamaan, dulu diawal pernikahan, kami sebenarnya adalah pasangan yang paling egois sedunia! Okelah saya memang sedikit berlebihan untuk menggambarkan kehidupan awal pernikahan kami. But, I have no words to describe how “lebay” we were at that time. Kami seringkali hidup dalam dunia kami masing-masing. Mengalah adalah kata-kata yang kami hindari. Sama-sama gengsi [-(. Lha iya, wong kami adalah dua orang yang sama-sama keras kepala ~X(.

Saya sebagai anak sulung yang biasa dituakan (berasa kepala suku nggak sih?), dan dikantor juga “terbiasa” memimpin sekian anak buah, tiba-tiba harus menyesuaikan diri dengan karakter suami yang juga sama-sama kerasnya dan nggak mau mengalah. Sementara suami yang dalam keluarganya juga termasuk anak laki-laki yang tertua juga punya sifat yang nyaris sama seperti saya. Kalau pas pacaran kan biasanya kelihatan yang bagus-bagusnya aja tuh. Pas sudah menikah? Wohoho, belum tentu. Friksi itu pasti ada. Jadilah kehidupan awal pernikahan kami layaknya kompor yang selalu panas. Ada saja hal yang dipertentangkan. Eh, masih mending ya kalau penting, seringkali pertengkaran kami justru berawal dari hal-hal sepele dan remeh temeh lho. Ujungnya sudah pasti bisa ditebak, adu argumentasi yang sifatnya debat kusir. Untungnya nggak pernah sampai ada KDRT 😀

Capek? Normalnya sih pasti iyalah ya. Sekarang siapa yang nggak capek harus adu argumen setiap hari. Hingga pernah dalam puncak kondisi lelahnya kami masing-masing, mulai sama-sama eneg dan nggak mau berkomunikasi satu sama lain selama beberapa waktu. Intinya stadium enegnya sudah cukup parahlah untuk ukuran pasangan baru seperti kami. Satu tahun pertama kehidupan perkawinan kami adalah masa perang antar suku. Lalu bagaimana ceritanya kami sekarang bisa saling merasa nyaman satu sama lain dan jadi lucu unyu seperti ini? Kami LUCU? Ah, masa sih? :-j

Ada sebuah sebuah titik balik yang membuat kami sadar tentang besarnya arti sebuah kehilangan. Ketika Tuhan memberikan cobaan pada kami berdua dengan diambilnya si kecil dalam usia 6 bulan dalam kandungan. Itu sebuah kejadian maha besar yang membuat kami sadar kalau ternyata ada hal yang jauh lebih penting daripada sekedar mempedulikan ego, yaitu anak. Dari situlah kami mulai belajar sabar, mulai mengerti satu sama lain. Mencoba mengalah yang bukan berarti kalah. Mencoba membuka dan membersihkan kembali keran komunikasi kami yang nyaris tersumbat. Berusaha lebih mendengar apa yang dimaui oleh pasangan dan berdiskusi sehat dengan kepala dan hati yang dingin. Meminta maaf tidak perlu menunggu dari siapa yang dianggap sudah bikin salah duluan. Intinya berusaha menjadi jauh lebih baiklah.

Alhamdulillah memang, berkah dari Yang Diatas tak pernah putus sejak saat itu. Rezeki dan kemudahan selalu mengalir kepada kami. Menjalani kehidupan perkawinan dengan format yang jauh lebih serius tapi santai. Suami saya kebetulan orangnya kaku dan serius, sementara saya pecicilan dan banyak becandanya. Mungkin akhirnya jadi balance-nya disitu. Malah sekarang suami saya suka kadang-kadang tertular ikut pecicilan, tapi anehnya kenapa saya nggak bisa ikut tertular jadi serius 😐

Jadi kalau sekarang teman-teman melihat kami sebagai pasangan yang mesra dan lucu, itu adalah hasil proses benturan-benturan psikologis sampai lebam dan babak belur. Nggak ada yang menyangka kan?  ;)). Sampai sekarang pun sebenarnya kami masih berusaha belajar memahami & menyesuaikan diri kami masing-masing. Mau se-ego apapun kita kalau sudah niatnya berkeluarga, harus mau menurunkan ego masing-masing karena ini bukan lagi masalah kalah atau menang tapi kehidupan bersama. Berusaha lebih open mind, mau mengerti & mendengarkan pasangan. Dan yang paling penting dari semua itu adalah komunikasi dan saling support untuk kebaikan berdua. Eh, gampang banget ya ngomongnya?  Tapi mengimplementasikannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, dan kebesaran hati untuk menerima pasangan apa adanya.

Menikah itu butuh kesiapan mental dan psikologis, selain faktor-faktor pendukung lainnya ya. Kalau kata Dr. Rose Mini, AP. M.Psi., begini :

1. Jangan takut akan pernikahan.
Sebaiknya sebelum melangkah ke pernikahan, kenali sisi baik dan buruk masing-masing. Karena setelah memasuki pernikahan, akan makin terlihat sifat-sifat yang tadinya tertutup. Jujur akan segala hal dengan pasangan jika ingin pernikahan berhasil.

2. Siapkan diri.
Tanya dengan diri sendiri, sudah siapkah untuk berbagi segala hal dengan si pasangan? Siapkah untuk maju bersama? Sebab, untuk bisa maju bersama butuh upaya dan kerja keras, karena si pasangan tidak memiliki pola pikir yang sama dengan kita, perlu kesabaran dan tenaga ekstra untuk mau menyamakan visi.

3. Jangan takut perubahan.
Perilaku seseorang bisa diubah. Perilaku bukanlah gen yang tak bisa diubah. Jadi, ketika Anda harus berubah untuk bisa keep up dengan pasangan yang berubah, begitu juga si dia.

Ah, sebenarnya ini cuma sharing seorang yang masih hijau dan newbie dalam kehidupan berumah tangga kok :-”

[devieriana]

Continue Reading

Trus, salah siapa?

Disclaimer : paragraf awal termasuk curhat colongan. Paragraf berikutnya? Silahkan dibaca.. 😉

Saya itu sebenarnya paling sebel kalau mengeluh/curhat sama suami. Bukan apa-apa, yang saya dapat pasti bukan komentar positif tapi banyak negatifnya. Kesel? Iyalah pasti. Lha wong tujuan saya curhat kan untuk memperoleh dukungan, bukan minta diomel-omelin ~X(. Pernah mengalami yang seperti itu juga nggak? No? 😮 . Woogh, berarti Anda termasuk makhluk beruntung. Nggak kaya saya :|. Dulu ya saya pikir suami saya itu suami yang paling tega sedunia yang nggak pernah mengerti perasaan saya, nggak pernah tahu apa yang saya mau :(( *mulai meres serbet*.

Seperti contoh kasus waktu saya punya masalah sama temen. Seperti biasa, saya bukannya dibela tapi malah dikomentari :

“Ah, kamunya aja yang terlalu sensitif kali. Jadi orang itu jangan terlalu perasa. Biasa aja..”.

Atau misal saya yang mulai curhat dengan lebaynya, komentarnya pun lurus-lurus saja :

“Oh, gitu doang? Biasa aja sih menurutku.. Ya seharusnya kamu dong yang bla5x, bukan malah begini, begini, begitu..”.

Kesel kan? Kesel kan? ~X(. Atau yang baru saja terjadi kemarin, waktu saya kepleset sampai lutut beset-beset :

Saya : Biboo, aku habis jatuuuh. Jalannya licin.. :((

Hubby : Oh.. Trus gimana, enak nggak tadi jatuhnya? *ngeliatin lutut saya berdarah-darah dengan muka lempeng*

Saya : Sejak kapan sih ada cerita jatuh itu enak?!! :((

Hubby : Trus tadi bangunnya ditolongin siapa? *cengengesan*

Saya : Aku bangun sendirilah.. 😐

Hubby : Oh, kasian dong. Terus besok masih pakai high heels lagi kalau hujan-hujan?

Saya : Hwaaa… Ho-ooooh.. :(( —> eh, serius lho saya masih sempat jawab gitu sambil mewek

Hubby : Kan udah dibilangin pakai sendal kalo hujan, kamunya bandel tetep pakai sepatu. Trus salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue? ;;)

Saya : 😐 —> pengen lari ke hutan, lalu ke pantai sambil pecahkan gelas biar ramai..

Nah, seperti itu deh contohnya. Itu baru masalah jatuh, belum masalah yang lainnya. Pokoknya dia orang yang jarang memberikan kata-kata yang membesarkan hati kalau saya lagi curhat. Tapi terkadang justru dari situlah saya akhirnya sadar, dibalik “kejahatan” dan respon-respon pedas untuk semua curhat saya, rasanya kok jauh lebih realistis ya. Jadi mengajak berpikir untuk tidak menyalahkan siapa-siapa dulu sebelum mengintrospeksi diri sendiri. Bisa saja saya jatuh kemarin bukan karena jalanan yang licin, atau hak sepatu saya yang ketinggian. Tapi karena sayanya yang kurang hati-hati. Sudah tahu jalanan licin kok pakai high heels. Saya yang cari masalah kan? :p :-”

Dulu saya pernah baca -entah dimana, saya lupa sumbernya- : menyalahkan orang lain adalah sebuah seni. Saking indahnya kemasan “menyalahkan” ini membuat kita seringkali tidak sadar kalau sudah melakukan pelimpahan kesalahan kepada orang lain. Yang sering terjadi adalah ketika kita mulai dihadapkan pada sebuah masalah, maka solusi termudah yang bisa ditemukan adalah, “ini salah siapa sehingga menyebabkan kejadian seperti ini?”.

Kata-kata terakhir yang cukup menohok saya adalah, “lah, bukannya kamu sudah baca The Seven Habits. Terus mana implementasinya?”. Saya cuma bisa nyengir aja. Ok, saya memang suka baca tapi kalau sudah baca suka lupa saya tadi baca apa ;)) *melihat lemparan buku melayang-layang di udara ke arah saya*

Yah, baiklah. Terimakasih hubby, sudah mengingatkan saya untuk kembali mengingat poin ini di buku Seven Habit of Highly Effective People-nya Steven R. Covey :

“Your life doesn’t just “happen.” Whether you know it or not, it is carefully designed by you. The choices, after all, are yours. You choose happiness. You choose sadness. You choose decisiveness. You choose ambivalence. You choose success. You choose failure. You choose courage. You choose fear. Just remember that every moment, every situation, provides a new choice. And in doing so, it gives you a perfect opportunity to do things differently to produce more positive results.”

“Habit 1: Be Proactive is about taking responsibility for your life. You can’t keep blaming everything on your parents or grandparents. Proactive people recognize that they are “response-able.” They don’t blame genetics, circumstances, conditions, or conditioning for their behavior. They know they choose their behavior”.

Ternyata, suami saya itu sebenernya baik juga yah..  😕

[devieriana]

Continue Reading

Perempuan & fetishisme rambut panjang

Percakapan saya bersama teman kemarin sore, komentar di BBM gara-gara saya ganti profil picture ;)) :

Teman: wogh, rambutmu kaya iklan shampoo. Kalo gitu kamu kok kaya Kajol Kuch Kuch Hota Hai.. ;))

Saya : hahaha, bagus panjang kan ya. Aku nggak pernah punya rambut panjang..

Teman : itu rambutnya dhemit ya :))

Saya : hanjritos, dhemit? :-o*plak!*

Teman : itu rambut sambungan ya 😕 (maksudnya hair extension)

Saya : ho-oh.. sambungan sama taplak!

Teman : Lho, yang bener sambungan apa bukan sih?

Saya : ya bukanlah, asli ini! Asli sambungan! :))

Teman : keaslian panjangnya rambutmu diragukan! 😕

Saya : nggaklah, ini rambut asli, panjangnya juga asli, niat manjangin sejak setengah tahun yang lalu..

Teman: lha kok tumben dipanjangin?

Saya : iya di request sama si hubby

Teman: iya, kenapa ya para lelaki itu suka sama perempuan yang rambutnya panjang? 😕

Saya : ya biar njambaknya gampang.. :-“

Teman: jawabanmu sangat natural, pengalaman pribadi ya?

Saya : lha ya ngapain suamiku njambak-njambak rambut, kurang kerjaan apa?

Teman: ya kali bua ngetes rambutmu kuat apa enggak..

Saya : ho-oh, kemarin juga digantungi sama lemari sih

Teman: eh, gimana rasanya punya rambut panjang? gerah nggak?

Saya : err..kadang-kadang sih gerah dan rempong (ribet), tapi ya sekarang udah biasa..

Nah ya, saya itu sebenarnya dari dulu memang nggak pernah punya rambut panjang. Sepanjang-panjangnya rambut saya paling panjang sebahu, habis itu potong cepak lagi. Lebih suka rambut pendek karena selain lebih irit shampoo juga praktis aja gitu, nggak perlu repot mengeringkan atau ngeblow rambut dulu. Dibiarkan alakadarnya juga jadinya tetep keren kalau menurut saya. Secara saya kan orangnya nggak bisa anteng gitu ;)).

Sebenarnya sejak awal menikah saya itu sudah diminta memanjangkan rambut sama suami, karena menurut dia saya lebih pantes berambut panjang daripada rambut cepak. Nah sementara saya paling males punya rambut panjang karena selain ribet dan saya kurang telaten kalau harus ngasih ini itu, krimbath, hair spa dan teman-temannya. Paling-paling saya rajin pakai kondisioner dan perapi rambut aja, karena rambut saya itu termasuk yang nggak bisa berinisiatif rapi sendiri.

Tapi herannya ya, kebanyakan teman-teman pria, dan suami saya memang lebih suka melihat wanita dengan panjang. Pernah saya iseng tanya sama hubby, jawabannya :

Suami: ya kalau rambutnya pendek berasa kaya jalan sama cowok juga, kalau rambutnya panjang kan berasa jalan sama perempuan..

Saya : lha kalau kamu lagi jalan sama cowok rambut gondrong masih berasa jalan sama perempuan juga?

Suami: ya nggaklah, beda. Kamu tuh, masa iya aku nggak bisa bedain mana perempuan mana laki-laki sih?!
*sambit mercon*

Saya : ya abisnya kamu aneh. Masa misalnya nih ya, rambutku cepak, udah dandan dan pakai rok, masih juga kamu ngerasa lagi jalan sama laki-laki?

Suami : perempuan itu akan lebih terlihat feminin kalau rambutnya panjang..

Saya : :p ;)) :-”

Nah kalau yang pernah saya baca, ada beberapa alasan kenapa pria lebih suka dengan wanita yang berambut panjang, diantaranya :

“Komitmen. Mengingat untuk merawatnya diperlukan usaha, uang, dan kemauan lebih. Faktor-faktor tersebut mengindikasikan bahwa wanita berambut panjang memiliki perencanaan keuangan yang baik, kepercayaan diri, memiliki kesadaran cukup baik terhadap kesehatannya, juga melambangkan kelembutan. Kualitas kesehatan dan seberapa panjang rambut wanita juga menjadi daya tarik tersendiri di mata seorang pria”

Hmm.. masa sih? Rambut saya panjang tapi kok nggak pinter-pinter amat mengatur keuangannya ya? :-?. Saya juga bukan termasuk perempuan yang lembut tuh. Salah teori kayanya. Atau jangan-jangan karakter saya yang salah? 😮 ;)). Kalau panjang banget apa nggak malah tambah nyeremin ya? Apalagi kalau tahu-tahu udah berdiri di belakang kita pakai baju putih.. :-ss X_X

“Rambut panjang mampu menutupi bagian-bagian tertentu di wajah seorang wanita, seperti membuat garis rahang terlihat lebih ramping, dan membuat tulang pipi tidak terlalu terlihat mencuat..”

Oh, kalau ini saya agak setuju, secara pipi saya sekarang agak kelebihan lemak ;))

“Rambut panjang akan mengesankan wanita lebih feminin..”

Nah ini, saya itu orangnya nggak terlalu feminin sih ya. Tapi setidaknya sedang mencoba terlihat lebih feminin dengan rambut panjang ;;)

Kalau saya sih, mau apapun bentuk/model rambutnya, atau mau seberapa panjang rambutnya, terserah. Asalkan itu nyaman buat si pemilik rambut, sesuai dengan karakter wajah dan kepribadiannya sih akan terlihat bagus-bagus aja kok. Oh ya satu lagi, yang penting rambutnya sehat :-bd.

Nah kalau kalian lebih suka rambut panjang atau pendek? 😉

[devieriana]

Continue Reading
1 8 9 10 11 12 15