Jadi, direkam atau nggak?

Dalam beberapa hari ini merebaknya kasus tentang video porno yang dimainkan oleh 2 orang yang wajahnya mirip dengan artis Ariel & Luna Maya menjadi trending topic di berbagai media, khususnya di media elektronik. Tak heran jika menjadi trending topic, karena kebetulan keduanya adalah 2 orang artis yang cukup dikenal & image-nya tidak seburuk yang kita kira. Ya memang sih sampai sekarang belum ada kepastian tentang siapa sebenarnya kedua orang yang ada dalam video itu. Tapi publik sudah terlanjur menyimpulkan bahwa memang benar 2 artis itulah yang ada di dalam video itu 😕

Jujur nih, waktu saya mendengar heboh berita ini di twitter saya sedang di dalam kelas prajabatan ;)). Hanya kasak-kusuk sana-sini, baru pas istirahat temen-temen pada heboh membahas ini itu. Rata-rata sih pada nggak percaya, karena image Luna sebagai artis yang fun & jauh dari image negatif, kecuali waktu bermasalah dengan infotainment kapan hari ya. Tapi ya sudahlah kalau itu sih mungkin masih wajarlah ya karena namanya manusia pasti ada keselnya juga kalau dijadikan bulan-bulanan berita infotainment. Toh sekarang hubungan dia dengan pihak media juga sudah baik-baik aja kan? Kalau Ariel, ya selama ini saya (untungnya) nggak ngefans sama dia walaupun secara wajah okelah ya. Trus? Ya nggak ada, cuma pengen ngomong gitu doang :)) *plaakk!!*

Belum habis rasa keterkejutan publik, pagi ini pun kita kembali dikejutkan dengan berita tentang (lagi-lagi) pria berwajah mirip Ariel yang kali ini “versus” wanita yang wajahnya mirip dengan artis Cut Tari. Yaelah, kenapa si mas ini lagi sih yang jadi pemeran utama prianya? Nggak ada “aktor” lain apa yang juga merekam hal pribadinya? ;)). Eh, bukan berarti saya ngarep bakal ada artis lain yang berlaku seperti ini lho ya. Cuma heran aja kenapa dia lagi, dia lagi, ada apa dengan kakangmas satu itu? Lagian kok ya iseng banget ya merekam hal yang sifatnya sangat pribadi tanpa menyadari faktor resiko kalau rekaman/dokumentasi itu jatuh ke tangan orang lain & akhirnya mereka yang akan jadi bulan-bulanan media.

Kita tentu yakin bahwa kalau ada orang yang dengan sengaja merekam/mendokumentasikan hal-hal yang dianggap pribadi, pasti sudah sadar dengan akibat/resiko yang akan ditimbulkan jika dokumentasi itu sampai jatuh ke tangan orang lain yang notabene bukan pihak yang berhak untuk mendapatkan dokumentasi itu kan? Lagian kita juga nggak tahu ke depannya nanti hubungan kita dengan orang yang ada dalam video itu bakal seperti apa. Apakah akan baik-baik saja atau akan bermasalah. Atau jika sampai jatuh ke tangan orang lain kita juga nggak pernah tahu apa motivasi orang itu ketika menemukan & lalu menyebarluaskan dokumentasi pribadi kita. Ya kan?

Dari hari ke hari teknologi sudah semakin canggih. Kita jadi lebih mudah dalam membuat sesuatu. Tapi jangan salah, justru dari kemudahan yang sudah disediakan oleh teknologi itu bisa jadi boomerang/senjata makan tuan bagi kita kalau sampai kita lengah atau tidak bijaksana ketika menggunakannya.

Media digital itu bahaya & jangka waktunya sangat cepat. Iya, segala sesuatu yang sudah jadi digital itu sifatnya sudah tak terkontrol. Contohnya nih ya, jaman sekarang untuk merekam suara, membuat foto, sampai membuat klip pendek saja sudah bisa dibuat dari handphone.  Jadi, sekali saja file yang kita anggap rahasia itu ter-copy berarti ada “harapan” untuk menjadi copy-copy lainnya. Iya kalau cuma satu copy, lha kalau copy itu “beranak” menjadi puluhan bahkan ratusan copy, apa nggak hancur kitanya? :-ss

Contoh lagi nih, misal kita punya 1 foto yang kita posting di suatu forum/situs internet. Ternyata dalam waktu 1 jam jumlah yang mengakses foto kita ada 100 orang & masing-masing membuat 1 copy, berarti ada 100 copy dong ya. Nah lho, itu baru 1 jam, gimana kalau satu hari, berarti sudah ada 2400 copy. Satu bulan (30 hari) = 30 x 2400 copy = 72.000 copy. Gila banget kan? Apa nggak langsung ngetop kita jadinya? Ya syukur-syukur sih kalau manfaatnya positif. Lha kalau negatif? ~X(

Yang sifatnya pribadi biarkanlah tetap ada di zona pribadi. Karena kok rasanya nggak penting banget ya kalau sampai hal-hal yang sifatnya sangat intim kita dokumentasikan, sekali pun untuk alasan koleksi pribadi, kecuali kita benar-benar bisa selamanya waspada untuk tidak membiarkan file itu keluar kemana-mana. Ah, tapi kok kayanya nggak mungkin ya, karena sebagai manusia ada saatnya kita lengah/lupa #:-s. Nggak sadar kalau di luar sana ada orang lain yang sirik atau kurang suka sama kita trus berusaha mencari kelemahan/keburukan kita :-O. Buat mereka yang nggak suka sama kita ya jelas bakal puas banget kalau sampai bisa menemukan kartu truf kejelekan kita :-ss

Setelah kasus video ini tentu ada domino effect yang akan menyertai kehidupan para pelaku yang wajahnya terpampang di video porno tersebut. Kalau memang benar mereka adalah artis-artis yang namanya sudah kita kenal itu, bisa jadi bukan hanya nama baik mereka yang akan hancur, tapi juga karir yang mereka bangun dari nol plus kerjasama dengan pihak-pihak yang menggunakan jasa mereka pun akan hancur berantakan. Ya nggak sih? Kan sayang banget tuh kalau efeknya nanti larinya ke nafkah/pendapatan juga nama baik. Susah lho mendapatkan kepercayaan kembali kalau image kita sudah cacat. Bisa sih, tapi pasti butuh waktu lama buat kembali normal. Ibarat cermin yang pecah, bisa kita satukan, tapi retakannya nggak akan pernah bisa rata.

Ya sudahlah ya, nggak perlulah membuka aib, menghujat & menjelekkan orang lain kalau merasa diri kita bukan makhluk sempurna. Karena toh kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan kita di masa yang akan datang. Coba posisikan dalam posisi mereka yang sedang tersudut seperti saat ini, pasti nggak enak banget kan? Menjaga diri dari perbuatan yang menyesatkan itu yang paling penting. :-bd

Jadi.. gimana? mau direkam nggak nih? :-”

[devieriana]

gambar saya pinjam dari sini

Continue Reading

Selamat Ulang Tahun!

Sepertinya ulang tahun saya yang kesekian ini jadi moment yang langka & cukup bersejarah dalam kehidupan saya deh. Bagaimana tidak, saya merasakan yang namanya ulang tahun di kantor orang & dalam moment yang bersejarah dalam sejarah karir saya. Ya, tepat di tanggal 2 Juni kemarin saya memasuki usia yang ke 17 tahun. Uhuk!! ;;). Kalau kata teman saya, “heu, 17 tahun? Maksudnya 17 tahun cahaya?”. Buset dah :)). Ya baiklah, usia saya bertambah 1 tahun & mengurangi jatah usia hidup saya di dunia selama 1 tahun juga.

Awalnya saya pengen banget merahasiakan ulang tahun saya, karena kalau kata senior-senior saya di kantor, siapa yang ulang tahun tepat pas prajabatan bakal dikerjain habis-habisan. Ya jelas jiper dong saya. Terbukti saya berdoa melulu di twitter.. maksudnya berharap semoga nggak akan dikerjain terlalu heboh aja. Kualat deh yang ngerjain saya, secara saya senior disitu, kecuali sama fasilitator/trainer BPS sih. mereka jelas jauh lebih tua daripada saya ;)). Tapi kok ya beberapa hari sebelumnya para widyaiswara (sebutan untuk trainer) sudah notice kalau saya berulang tahun tanggal 2 Juni nanti. Jadi ya sudahlah ya saya pasrah aja, apalagi sudah diumumkan pula di depan kelas.

Pagi harinya saya ya seperti biasa aja gitu. Suami & beberapa teman sudah mengucapkan secara spesial tepat di pukul 12 malam. Kalau keluarga saya sih biasanya pagi. Pas di kelas pun juga nggak yang terlalu heboh gimana gitu, paling mereka pada ngucapin, “Selamat Ulangtahun ya mbak..semoga..bla3x”. Udah itu doang. Tapi ada 1 sesi yang mengharukan. Ketika salah satu widyaiswara hari itu mengajak teman-teman sekelas untuk menyanyikan lagu Happy Birthday buat saya, wogh..asli saya pengen nangis. Nggak nyangka kalau lagu Happy Birthday terasa begitu sakral & mengharu biru buat saya saat itu.

Saya juga nggak menyangka bakal ada kejutan-kejutan lain yang disiapkan oleh teman-teman. Wong siang sampai sore mereka berlaku wajar. Hanya saja ada satu hal yang mengherankan & sempat membuat saya sedikit curiga :D.Biasanya kalau makan malam, semua pasti kumpul di ruang makan secara lengkap, nggak ada satu pun yang keluar asrama. Lha ini kok pada ngilang satu-satu. Kalau ditanya ada yang mau beli satelah, beli sabunlah, belanjalah, ke ATM-lah. Intinya jumlah teman saat itu yang makan malam di ruang makan berkurang drastis. Heran banget dong. Tapi saya nggak mau GR ah, secara saya juga sedang menunggu kiriman kue tart dari suami saya yang mau kita makan bersama-sama, gitu.. ;;)

Tak lama setelah makan malam, suami saya datang membawakan sebuah kue tart lengkap dengan lilinnya, plus 3 kotak donat J-Co. Akhirnya saya merayakan ulangtahun saya secara sederhana dengan makan tart blackforest dan anek donat bersama teman-teman. Setelah makan tart & foto-foto kita kembali ke alam..eh kamar masing-masing. Saya pun siap tidur. Tapii, sekali lagi ada yang aneh dengan gerak-gerik teman sekamar saya. Yang satu keluar kamar, katanya mau ke kamar sebelah, yang satu lagi mendadak mandi. Intinya saya sendiri yang siap mau tidur.

Tiba-tiba, pas sudah mau merem, terdengar ketukan pintu didepan kamar saya. Ah males banget deh aslinya, soalnya kan sudah PW (posisi wenak) banget itu. Akhirnya ya sudahlah saya buka pintunya..dan..

“HAPPY BIRTHDAAAAYY..!! <:-P, seru semua teman di depan kamar saya.

Satu pan pizza ukuran besar ada di depan saya. Saya pun diberi mahkota balon khas ala Pizza H*t & ketigapuluh sembilan teman saya lengkap menyanyikan lagu Happy Birthday lagi buat saya. Wow, lagi-lagi saya surprise banget <;D. Nggak nyangka mereka menyempatkan untuk merencanakan sebuah kejutan manis buat saya.

Makasih buat kejutan indahnya ya teman-teman. Makasih juga buat doanya. Semoga hal baik yang sama juga buat kalian semua ya.. Yang jelas, kenyang sekali saya malam itu. Sumpah ;))

Love you all, guys.. :*. Lagu favorit saya ini buat kalian yah.. 😉

[devieriana]

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Akhirnya prajabatan juga..

Akhirnya saya pulang juga ke rumah setelah menjalani diklat prajabatan selama satu minggu di Pusdiklat BPS di Jl. Jagakarsa 70 Lenteng Agung. Tapi belum sepenuhnya pulang juga sih karena besok sore saya masih kembali lagi ke Pusdiklat karena hari Senin ujian. Doakan saya ya \m/ :D. Okelah kalau begitu, berhubung oleh-oleh cerita saya cukup banyak, jadi ya akan saya bagi dalam beberapa tulisan ya.. 🙂

Iya jadi ceritanya saya & teman-teman Sekretariat Negara wajib mengikuti diklat prajabatan CPNS disana bersama teman-teman dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Kementerian BUMN, dan Badan Standardisasi Nasional (BSN). Mulai tanggal 31 Mei 2010 s/d 8 Juni 2010. Karena acaranya cukup padat sehingga kita diwajibkan menginap di asrama. Seneng sih karena yang tadinya kita hanya kenal teman-teman dari 1 instansi saja akhirnya bisa kenal dengan teman-teman dari 4 instansi lainnya. Jumlah seluruh peserta diklat adalah 40 orang, dan ya baiklah..semua usianya dibawah saya, sayalah kepala sukunya ;)) *nari hula-hula*.

Selama di asrama kami tinggal sekamar 3 orang. Kebetulan sih saya sama teman yang masih satu instansi. Itu pun juga awalnya saya masih buta dengan karakter mereka. Ya iyalah namanya juga jarang ketemu & berinteraksi karena kita tersebar di berbagai biro. Tapi lama-lama sih akhirnya satu persatu ketahuan karakter aslinya. Ternyata..”wow” dan ajaib-ajaib semua ;)).

Hari pertama, seperti biasa pasti ada sesi pembukaan diklat. Kami masih jaim satu sama lain. Kalau pun toh kita nggak jaim ya sama teman-teman satu instansi. Untuk mengakrabkan 4 instansi berbeda ini biar nggak nge-gap, akhirnya kita diublek-ublek, dipecah sana-sini, duduk dipisah-pisah & disuruh mengenal nama teman-teman sebelah kiri kanan, depan belakang & nanti akan ditanya oleh panitia. Dengan daya ingat yang minim kita mulai mencoba mengenal satu persatu teman sebelah kiri, kanan, depan, belakang. Dan hasilnya..yak kita hafal dong. Awalnya doang tapi ;)) , karena begitu keluar ruangan kita udah tanya lagi, “eh sori, tadi siapa namamu?” :)).

Hari pertama sudah langsung diberi tugas mengarang indah dengan tema “Dahulu, disana ada negara bernama Indonesia”. Tugas ini berkaitan dengan materi Wawasan Kebangsaan. Duh, dejavu banget nggak sih sama materi Wawasan Kebangsaan ini? Kayanya dulu banget saya sudah pernah dapat materi ini, tapi ya gitu deh.. udah dulu banget :).

Tugas ini alhamdulillah lancar, karena kan saya kebetulan suka nulis jadi ya begitulah ;)) (apa sih?). Maksudnya ide tentang tema itu sudah siap ditulis seketika si bapak ngasih tugas itu ke kami. Nantilah kapan-kapan kalau pas saya lagi nggak ada bahan tulisan saya share disini tulisannya :D.

Hari-hari selanjutnya (terutama hari kedua & ketiga) masih lumayan menyenangkan karena materinya masih bermain & pengenalan teman :D. Jadi ya masih berasa fun-nya. Tapi ketika sudah mulai masuk ke materi yang berat-berat, nah mulai deh tuh yang namanya kejenuhan & mata ngantuk bertebaran di kelas ;)). Saya yang beberapa kali memergoki teman saya dalam berbagai gaya aneh sampai nggak bisa menahan tawa ngikik ;)).

Saya sih pernah ngantuk, sekali doang, tapi saya usahakan mata harus tetep melek. Lah pegimane ceritanya tuh? Caranya dengan menggambar ;)). Iya, menggambar ini misalnya :

Asli, ini saya lagi usaha buat menghilangkan kantuk berat sodara-sodara :((. Daripada saya kualat jadi bahan cekikikan mending saya berjuang menahan kantuk dengan menggambar! Toh pas selesai kelas saya juga ngeliat kertas bapak asisten widyaiswara yang duduk di belakang juga menggambar.. errr..wanita berjilbab, entah siapa, kayanya sih salah satu dari kami :)).

Kalau soal foto-foto dan cekikikan yang lain sih nggak perlu dibahas. Karena kami semua kadar lucunya hampir sama. Rekan sejiwa, lucu aja ketawa melulu kalau bareng mereka. Guyonannya nyambung :D. Satu lagi, ngangenin gitu..

Jadi ya..begitu dulu ya ceritanya. Nanti disambung lagi. Lhah, kok malah kaya nulis surat ;))

[devieriana]

 

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Mendongeng? Yuk mari!

Waktu kecil dulu pernah didongengin nggak sama orangtua? Woogh, ada yang nggak pernah? Ah, pasti dulu masa kecilnya kurang bahagia ;)) *dilempar penggilesan*. Saya, sering, bahkan hampir setiap hari. Yang suka mendongeng dulu Papa saya. Tokohnya macam-macam, ada putri, pangeran, nenek sihir, cinderella, putih salju, sampai ke dongeng kancil. Diantara sekian banyak dongeng itu, dongeng favorit yang sering didongengkan oleh Papa saya yaitu Kancil Mencuri Ketimun. Bukan apa-apa, ceritanya sederhana, pendek, & cepat selesai ;)). Saya sering protes sama Papa karena dongengnya kok Kancil Mencuri Ketimun melulu, sampai saya khatam :((. Ya walaupun ada dongeng lainnya tapi dalam seminggu si kancil itu pasti tampil, sampai kadang Papa saya suka ngarang-ngarang sendiri dengan menampilkan pemeran pembantu yang berupa.. kancil juga ;)). Pokoknya tokoh kancil ini eksis bangetlah di jaman saya dulu.

Ketika saya sudah mulai lancar membaca, orangtua saya mulai membelikan saya buku dongeng sendiri. Koleksi saya waktu itu lumayan banyak. Kebanyakan cerita rakyat, tapi ada juga fabel & cerita karangan HC Andersen. Biar nggak bosen orangtua saya mulai membelikan saya kaset dongeng (Sanggar Cerita), ya salah satu alasannya biar tugas mendongeng nggak mutlak jadi tugas Papa saya kali ;)). Akhirnya gara-gara buku juga saya dulu iseng bikin komik/cerita sendiri, saya jilid sendiri, saya baca-baca sendiri :)). Multi talenta banget ya saya? *menyibakkan poni* :-“

Nah, kalau dulu kebiasaan dongeng adalah “hak eksklusif” bagi para orangtua, tapi kenapa sekarang sepertinya langka ya? Jangankan sempat mendongeng, ketika pulang sudah larut malam & dalam kondisi badan yang sudah lelah, anak-anak sudah pada tidur, besok pagi ketemu pas mereka mau berangkat sekolah. Kalau yang masih balita, malah mungkin lebih sering bersama baby sitter ketimbang orangtuanya sendiri. Jadi ya gimana orangtua mau mendongeng kalau badan sudah capek duluan. Yang tertidur nanti justru orangtuanya, bukan yang anaknya ;))

Meskipun saya belum menjadi orangtua kebetulan saya suka membacakan cerita buat anak-anak. Kalau lagi senggang biasanya saya baca cerita buat anak tetangga, cucu ibu kost, atau keponakan. Tapi ketika saya mulai kenal ada situs dongeng yang kebetulan dikelola oleh teman saya , dari situlah ketertarikan saya pada dunia dongeng mulai tumbuh, lalu mulai tertarik untuk menyumbangkan suara saya disana. Uhuk! :-“

Kata teman saya yang lain ketika saya cerita kalau saya jadi salah satu kontributor di sana :

“Kamu tuh ya, jadi orang kok nggak bisa diem.. ada aja kegiatannya.. Ikut inilah, ikut itulah, jadi inilah, jadi itulah. Sekarang malah jadi pendongeng. Eh btw, kok suaramu kaya Sanggar Cerita? “
;))

Ya gapapalah, itung-itung bantu temen.. *kedip-kedip sama simbah ;;) *

Awalnya situs ini dibuat karena beliau merasa prihatin karena kebiasaan mendongeng jaman sekarang sudah mulai langka. Maka dibuatlah situs tersebut dengan kontributor awal beliau sendiri yang kadang bergantian juga dengan beberapa teman blogger. Dongengnya pun beragam. Ada cerita rakyat, aesop fabel, karya-karya Grimm Brothers atau pun HC Andersen. Situs dongeng itu tidak hanya memuat tulisan saja tapi juga “bercerita” alias ada suaranya. Karena kontributor di situ memang sengaja merekam suaranya seperti ketika sedang mendongeng. Apakah syaratnya harus bersuara merdu? Ya nggaklah :-j . Suara abal-abal kaya saya aja buktinya bisa jadi kontributor ;;). Apalagi yang suaranya merdu & empuk. Pasti langsung diterima dengan senang hati sama beliau 🙂

Tahu nggak sih, sebenarnya efek dongeng pada perkembangan anak itu besar lho. Jika dongeng dibiasakan sejak kecil, ibarat sebuah gelombang radio, dengan bercerita pada anak berarti orang tua mengirim sinyal pada buah hatinya. Kalau dilakukan dengan ketulusan hati maka “transmisinya” jadi semakin kuat. Anak bisa merasakan meski belum memahami sepenuhnya. Jika dongeng diberikan pada bayi (anak) efeknya bisa mengaktifkan simpul saraf, merangsang fungsi indra, dan membuat anak akan jauh lebih peka.

Dongeng merupakan sarana yang paling mudah untuk bisa dicerna oleh anak-anak. Dongeng dapat membius anak untuk masuk ke dalam dunia khayal yang luar biasa, karena cerita yang menarik akan merangsang anak untuk membayangkan dan berandai-andai. Selain itu dongeng juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan suatu pesan & sarana untuk menyisipkan nilai-nilai kebaikan. Ahay.. mudah & murah meriah bukan? 😉

Jadi, nggak ada salahnya kan kalau kita mulai membudayakan lagi tentang kebiasaan mendongeng. Oh ya, kalau mau berpartisipasi menjadi pendongeng (seperti saya) silahkan menghubungi simbah ya, biar yang mendongeng lebih bervariasi gitu, nggak saya-saya melulu atau beliau-beliau melulu :p . Ciih, ke-GR-an banget sih? *dilempar elpiji*

Selamat mendongeng! 😉

[devieriana]

Continue Reading

You love me, you love me not..

Suatu pagi, saya datang dengan wajah setengah bersungut-sungut lantaran merasa kesal sama suami. Gimana nggak kesel, lha wong saya lagi sakit eh malamnya saya malah diomel-omelin. Bukannya dirawat atau dikasih kata-kata yang manis gitu, atau didoain biar cepat sembuh, tapi malah diomelin panjang lebar sampai rasanya kuping meleleh. Ah, mulai lebay lagi kan? ;))

Begitu naruh tas saya langsung ngomel ke temen saya :

Saya : “Hadeuh, kesel banget deh sama suamiku. Masa sakit-sakit begini semalem malah dimarahin. Nggak ada kasian-kasiannya..”, ngomel sambil terbatuk-batuk.

Teman : “hehehe, kenapa? kenapa? Kamunya bandel kali Dev? “

Saya : “halah, bandel apa sih? kebanyakan mainan layangan juga kagak. Cuma gara-gara aku minum obat batuk yang menurut dia over dosis aja. Yang harusnya 4 jam sekali, aku minum 2 jam sekali.. Ketauan sama suamiku, aku terus dimarahin..” (diucapkan dengan nada tanpa bersalah)

Teman : “Lha yo mesti. Wong kamu emang cari perkara, bikin aturan sendiri. Keracunan obat kapok kamu ;)). Tenang, kamu nggak sendirian, aku juga habis marahin istriku gara-gara dia bandel. Nggak aku bolehin makan bakmi karena aku takut perutnya sakit. Eh maksa makan bakmi juga. Wong namanya lagi hamil, aku nggak tega, ya sudah aku turutin. Tak beliin bakmi. Akibatnya perutnya kembung sampai sekarang nggak sembuh-sembuh.Tak marahin, tak diemin. Gitu sama suami nggak nurut. Aku emang marah banget sama dia Dev, tapi lama-lama nggak tega. Semarah-marahnya aku sama dia itu ya karena bentuk sayangku ke dia. Kalau orang Jawa bilang, “ngeman”, tapi kadang yang di-eman itu nggak nyadar kalau dia lagi disayang sama suaminya…”

Saya :
“wogh, gitu ya ternyata?” *manggut-manggut*

Sebagai pasangan hidup, suami saya termasuk pasangan yang kadar romantisme dibawah 50%. Jangankan ngasih bunga sama saya (dibahas lagi? ;)) ), bilang “I love you..” aja bisa dihitung dengan jari. Kalau pasangan lain mungkin bisa bilang I love you di facebook sehari sepuluh kali, kita nggak pernah tuh bilang kaya begitu di facebook. Ngiri? Ah, nggaklah. Kalau soal kemesraan kita sudah sepakat nggak akan show off di situs-situs pertemanan. Ya lagian juga buat apa? Wong handphone juga ada, kalau komunikasi ya tinggal BBM atau sms, lebih pribadi juga tho? Ya itu kalau kami. Prinsipnya bisa beda sama pasangan lain.. 🙂

Nah dialog diatas itu kebetulan saya lakukan bersama seorang teman kantor. Niat awalnya sih curhat. Tapi ujung-ujungnya kok saya jadi ketawa sendiri. Karena ndilalah orang yang saya curhati kok sifatnya hampir sama sama suami saya. Bahkan saya akhirnya bisa paham bahwa rasa sayang/perhatian suami itu tidak selalu lewat kata-kata mesra tapi justru lebih ke tindakan. Semarah-marahnya suami saya, sejahat-jahatnya dia menurut saya kadang ya dia masih ada benarnya. Rasa sayang yang ditunjukkan dia sama saya memang beda bentuk dengan apa yang saya inginkan. Kadang nih ya, yang namanya perempuan pengen sekali-kali diromantisin sama pasangan, dikasih kata-kata yang indah. Err.. digombalin gitu ya? Eh, ya enggak gitu juga, tapi pengenlah sekali-kali dikasih perhatian yang romantis sama suami sebagai bentuk rasa sayang dia ke kita. Uhuk! @};-

Tapi kalau nyatanya ke kita justru nggak seperti apa yang kita bayangkan, gimana coba? Disaat kita pengennya diperhatikan, dianya malah ngomel-ngomel nggak jelas. Ya siapa yang nggak kesel kalau kaya begitu ya? (mulai cari massa) ;)). Tapi ternyata kita (terutama saya) seringkali salah terima. Justru dibalik omelan & ceracauannya itu dia menunjukkan rasa perhatiannya sama kita. Tsaaahh.. (menyibakkan poni)

Seperti contohnya saya yang ngarang sendiri dosis obat batuk itu tadi. Dia ngomel karena takut lambung saya atau bahkan ginjal saya yang kena, sama kaya mertua saya. Dia nggak pengen itu terjadi sama saya. Atau ketika saya memaksakan dia untuk menerobos hujan (yang menurut saya cuma) gerimis itu & dia menolak mentah-mentah, itu karena dia nggak pengen saya & dia jadi sakit. Karena dia tahu badan saya itu rentan banget sama flu. Pun halnya ketika saya santai menyantap sambal tanpa kira-kira, dia yang sibuk ngomel panjang lebar karena nggak pengen perut saya bermasalah. Juga ketika dia ngomel tak henti-henti ketika melihat saya bandel tetep mantengin layar laptop ketika malam beranjak larut & saya nggak tidur-tidur. Itu karena dia khawatir badan saya demam lagi, karena dia hafal betul kondisi badan saya yang nggak bisa dipaksakan itu ;;) .

Jadi kesimpulannya, emang sayanya yang bandel kok. Seringkali menuntut pasangan harus begini-begitu, menutup mata ketika perhatian pasangan diaplikasikan dalam bentuk yang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Sekarang pilih mana, dikasih bunga & dikasih kata-kata mesra yang belum tentu keluar dari hati (sekedar menyenangkan hati kita)  atau diperhatikan dengan tulus & tanpa basa-basi? Pasti pilihan kedua kan? (moga-moga nggak cuma saya yang memilih opsi kedua ya ;)) ).

Jadi, berhentilah mengeluhkan & membandingkan pasangan kita. Mulailah bersyukur dengan jodoh kita masing-masing karena sejatinya Allah menjodohkan kita karena Dia tahu apa yang sesungguhnya kita butuhkan bukan yang kita inginkan 😉

[devieriana]

gambar ngambil dari sini

Continue Reading