Mbak Sri & Tas Usang Saya ..

Pernahkah kalian ketika tidak berniat memberi tapi justru pemberian kita yang tanpa niatan itu diterima dengan segenap hati oleh orang lain? Saya pernah..

Pada awalnya nggak pengen ngasih barang itu ke orang lain. Karena saya tahu barang yang saya maksudkan itu nggak layak kalau dikasih ke orang. Kalau memang niatnya ngasih ya sekalian yang bener, bukan barang rusak & usang begitu.

Kebetulan saya punya beberapa tas yang sudah jarang saya pakai, ada beberapa diantaranya yang sudah rusak entah resleting jebol, sobek diujungnya, kulit tasnya sudah banyak yang mengelupas atau jahitannya yang sudah lepas sana-sini. Intinya memang itu tas umurnya sudah tua, saya juga sudah jarang pakai. Sementara saya sendiri sudah terlalu malas untuk membawanya ke tukang reparasi tas. Sungguh, bukan mau sok kaya, tapi memang saya terlalu malas saja. Lantaran bingung kemana harus saya ungsikan tas-tas yang bertumpuk di pojokan kamar itu akhirnya terpikir untuk menitipkan ke si mbak yang bekerja di rumah ibu untuk entah terserah mau diapain. Mau dibuang boleh, diloakkan juga nggak papa, toh memang kebetulan saya sudah nggak menggunakannya lagi. Justru itu maksud saya, minta tolong diloakkan saja ketimbang numpuk nggak jelas di kamar, dipakai enggak, dibuang juga enggak.

Akhirnya saya sengaja taruh di depan kamar dengan harapan nanti kalau si mbak bersih-bersih bakal lihat itu & langsung membawanya ke tukang loak. Soal nanti laku berapa terserah deh, buat si mbaknya aja. Tapi salahnya saya nggak kasih notes ke si mbak soal titipan maksud itu tadi karena saya sudah buru-buru ke kantor. Sekitar pukul 4 sore ada sms di HP saya yang kasih tahu kalau tas-tas saya itu dibereskan, dirapikan sama si mbak karena dikirain saya yang nggak sempat ngurusin “harta benda” saya itu. Panteslah, wong memang saya nggak kasih notifikasi apa-apa masalah tas-tas seabreg itu. Akhirnya saya telepon si mbak & menjelaskan maunya saya gimana.

Mendadak hati saya tersentuh mendengar suara yang berbinar-binar meyakinkan bahwa benar tas-tas itu sudah tidak lagi saya pergunakan.

“beneran mbak udah nggak pakai?”

“iya mbak, minta tolong dibantu beresin aja. Terserah deh mau mbak Sri apain, biar nggak numpuk di pojokan kamar. Diloakin boleh, dibuang juga nggak papa mbak. Soalnya beberapa tas itu ada yang udah sobek & rusak.. “

“makasih ya mbak.. Nganu, tasnya boleh buat saya aja nggak mbak? Nanti saya juga mau bagi ke adik saya. Buat kami lebaran di kampung.. Dia pasti seneng banget..”

Sontak saya terdiam.. Ya Tuhan, sungguh bukan itu maksud saya.. Kalaupun saya berniat ngasih, nggak akan saya ngasih barang yang sudah nggak jelas bentuknya seperti itu. Apalagi untuk berlebaran.. Speechless.

“mbak Devi? Boleh ndak?”

“eh.. iya.. anu.. aduh gimana ya mbak, itu kan udah ada yang sobek, bolong, rusak.. Udah jelek, nggak sempurna mbak. Kalau mbak mau mending saya belikan aja nanti yang baru. Masa lebaran bawa tas rusak sih mbak.. “, ujar saya kikuk

“Udah mbak, nggak papa.. Besok pagi mau saya bawa ke pasar, mau saya perbaiki ke tukang reparasi tas. Lumayan 2 hari, sebelum saya mudik ke kampung..”, jawabnya di ujung telepon dengan nada gembira.

Saya hanya bisa terharu..

“iya mbak.. boleh. Buat mbak Sri semua kok..”, jawab saya akhirnya..

Masyaallah.. hati saya kembali tertegun. Begitu berharganya nilai barang yang sudah saya anggap sampah di mata orang kecil macam si mbak itu. Sampai tadi pagi dia bertemu sayapun masih membahas tas-tas yang awalnya mau saya buang itu ternyata benar-benar di bawa ke kampung untuk di bagi dengan adik semata wayangnya.

” Matur nuwun ya mbak.. Adik saya seneng banget dapet tasnya mbak Devi. Katanya tasnya bagus-bagus.. Saya bilang : ya bagus, wong itu dari Jakarta, Nduk..”

Saya tersenyum, mendengar ceritanya perempuan berperawakan kecil itu sambil mengaduk teh untuk sarapan pagi.

” Maaf ya mbak Sri.. saya kemarin itu benernya bukan bermaksud ngasih ke mbak. Jujur saya bingung mau dikemanakan tas-tas rusak itu. Saya juga enggak pakai lagi soalnya. Saya yang nggak enak sama mbak Sri, masa ngasih barang rongsokan gitu. Kalau niatnya ngasih ya yang bener sekalian. Gitu maksud saya..”

“Sampun, ndak papa mbak.. saya yang matursuwun banget. Tasnya masih bagus-bagus kok.. adik saya saking senengnya sampai dipakai terus tiap silaturahmi ke rumah teman atau saudara. Ketrima banget kok mbak 🙂 .”

Terharu saya.. Betapa kembali Tuhan mengetuk pintu kesadaran saya untuk tetap bersyukur karena diberikan kehidupan yang jauh lebih layak dari si mbak & keluarganya. Mengingatkan kembali tentang pentingnya arti berbagi dengan sesama.. secara ikhlas..

 

[devieriana]

Continue Reading

Lelaki Sayap Jingga

angel

Perempuan bersayap pelangi terpekur di sudut malam bersama pendar cahaya keperakan. Jemarinya ngilu, bibirnya bisu, wajahnya layu. Menunggu lelaki bersayap jingga pulang membawa jutaan kilowatt rindu & kerjap mata yang menyimpan cinta..

Melihat lelaki sayap jingga itu begitu jauh, berdiri tegak pada sebuah pulau kecil. Butuh sebuah perahu untuk mencapainya, butuh ribuan kayuh untuk menjumpanya, butuh ribuan kepak sayap untuk memeluknya. Sayang sayap kecilnya sedang patah, terbebat perban dedaunan kering. Hanya sepenggal harapan akan perjumpaan, di sebuah tempat, pada suatu waktu. Di sebuah ruang & hati dimana dia bisa menikmati mahligai rembulan lelaki bersayap jingga yang cahayanya memancar lembut melerai gundah jiwa..

Perempuan bersayap pelangi itu akhirnya lelap diujung malam. Terkulai tak berdaya, letih ditemani pendar cahaya keperakan & rembulan yang berjelaga..

—————————–

* Lagi pengen belajar nulis beginian.. Kalau jelek maklumin yah.. Namanya juga belajaran  😀

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading

Di Sisa Waktuku Bersamanya ..

100_2592

Ada hal yang sedikit unik berkaitan dengan lebaran tahun ini. Uniknya di tanggal kita mudik. Maksud hati lebaran di Surabaya, shalat Ied disana, pulang sebelum lebaran. Kenyataannya, malam takbiran kita masih di Carrefour Mall Ambasador – Jakarta buat nyari buka & membeli beberapa keperluan lebaran..

Sebenarnya bukan maksud hati malam takbiran malah ngelayap di mall ya, tapi intinya kita nggak prepare kalau lebarannya bakal maju 1 hari. Kita waktu booking tiket masih menggunakan acuan lebaran di kalender yang notabene tanggal merahnya bakal jatuh di tanggal 21 & 22 September 2009. Jadi kalau kita booking tiket untuk flight tanggal 20 September 2009 seharusnya nggak masalah dong, wong lebarannya tanggal 21. Siapa yang mengira kalau akhirnya lebarannya justru maju sehari dari perkiraan awal kita? Masih ingat kami masih sibuk muter-muter di Carrefour ketika semua pramuniaga & pengunjung Carrefour anteng mantengin tivi buat memastikan apakah lebarannya jadi tanggal 20 atau 21 apakah haari itu jadi tutup jam 20.00 atau 22.00. Saat itu diam-diam saya berdoa dalam hati semoga hilal tidak terlihat karena memang mendung tebal banget sore itu 😀 Trus, ngaruh? Enggak, blas. ;)) Namanya alam mana bisa ditebak sih. Toh akhirnya hilal terlihat juga di beberapa titik lokasi yang sudah ditentukan. Tak ayal, lebaranpun akhirnya ditetapkan jatuh pada tanggal 20 September 2009.

Apakah saya menyesal? Sedikit :p. Tapi ya sudahlah tak apa, toh besok malamnya pun tetap bisa ketemu keluarga di Surabaya. Tetap bisa berkumpul di hari pertama lebaran. Sama aja, yang penting esensinya kan? Alhasil malam itu langsung kita berangkat ke Cipayung (rumah mertua) untuk persiapan shalat Ied keesokan paginya sekaligus membawa bertas-tas perlengkapan mudik 😀

100_2531

Alhamdulillah semua lancar dari hari pertama lebaran sampai kami mudik & kembali ke Jakarta. Relatif tidak mengalami kendala yang berarti. Jadwal yang padat sejak hari pertama mengharuskan saya untuk membagi waktu & menjaga kesehatan, karena sistemnya marathon, alias bikin capek. Tapi justru saat-saat seperti itulah yang bikin saya sadar bahwa ternyata ada banyak orang & keluarga yang sayang & care sama saya. Bahkan disela waktu kerja beberapa teman  masih meluangkan sedikit waktunya buat ketemuan & reunian bareng saya. Buat teman-teman baru mereka masih menyempatkan diri untuk kopdar. Untuk semua saudara yang pintunya masih terbuka untuk kami kunjungi. That was the priceless moment..

with friends

Semoga Tuhan masih mengijinkan kita untuk bertemu lagi di lebaran-lebaran berikutnya ya..

Amien..

[devieriana]

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Lebaran ala Facebook ..

Lebaran tahun ini boleh dibilang lebarannya Facebook. Betapa tidak, sampai dengan penghujung tahun ini pengguna situs jejaring sosial ini meningkat sangat signifikan dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun lalu pengguna facebook belum “semeriah” sekarang, kalau tahun ini hampir semua punya account di Facebook. Istilahnya kalau nggak punya account kurang hip, kurang update, nggak keren gitu. Padahal ya nggak gitu-gitu amat sih. Teman-teman saya banyak kok yang nggak punya account, bahkan adik saya sendiri bilang males bikin account & nggak pengen punya 😀 .

Kenapa saya beri judul lebaran ala facebook? Karena lebaran tahun ini hampir semua bikin tag foto ucapan selamat lebaran, minal aidzin wal faidzin untuk seluruh orang yang jadi friendlistnya. Awalnya sih saya anggap biasa, tapi lama-lama kok makin banyak ya. Okelah ya kalau saya nggak suka tinggal saya remove tag-nya, tapi masa iya saya me-remove satu persatu sementara yang ngetag saya banyak banget. Akhirnya pasrah, sisanya saya biarkan apa adanya. Bukan sok nggak mau di tag. Masalahnya kalau  sudah di tag berarti saya akan terus menerus menerima email notifikasi setiap kali ada yang memberikan respon/komen di foto tersebut. Kalau soal tagging notes nggak masalahlah.. apalagi kalau memang si empunya account sengaja bikin sendiri (original), bukan sekedar copy paste, saya masih hargai itu & rela-rela aja di tag. Well nggak penting, ini cuma sekedar curhat saya masalah “tagging-menagging” kok 😀 . Buat yang sudah terlanjur nge-tag saya di foto, mohon maaf kalau ada beberapa diantaranya terpaksa saya remove karena banyak banget.. sumpah. Maaf yah..:(

Ada pengaruh nggak dengan penggunaan sms & kartu ucapan selamat lebaran ketika semua orang sudah menggunakan account facebook-nya untuk bersilaturahmi & bermaaf-maafan di hari lebaran kemarin. Jelas, ada banget. Kalau tahun lalu saya sibuk bersms ria dengan keluarga, sahabat untuk sekedar mengucapkan selamat hari raya & minta maaf. Tapi tahun ini berkurang drastis. Nggak tahu apakah cuma saya saja yang mengalami ini atau hampir semuanya seperti itu. Jujur, tahun ini saya nggak terlalu banyak menerima ucapan selamat hari raya via sms, karena semua sudah mengucapkan di facebook. Kalau nggak di wall ya di message (kebanyakan di message). 

Cukup efektif sih ya, kita bisa sending message yang sama ke semua teman yang ada di friendlist kita in just one click, daripada kita harus kirim sms yang mengeluarkan biaya. Hari gini siapa sih yang nggak mau gratisan. Buat yang menggunakan koneksi internet hanya dari kantor kirimnya beberapa hari sebelum cuti. Lumayan kan menghemat beberapa ribu rupiah ketimbang sengaja akses dari warnet atau handphone.

Kalau beberapa tahun yang lalu, jaman situs jejaring sosial masih belum se-booming sekarang yang diuntungkan adalah para produsen kartu lebaran & kantor pos tentunya. Betapa tidak, saat lebaran adalah saat panennya mereka karena banyaknya pembeli kartu lebaran mereka. Pastinya akan dikirim via pos yang notabene menguntungkan pihak kantor pos, bukan? Jaman saya masih SMP & SMA dulu aja bisa puluhan sampai ratusan ribu sendiri kalau kirim kartu lebaran saking banyaknya yang pengen saya kirimin. Kalau sekarang? Jangankan beli kartu lebaran, ngelirik aja enggak. Kalau untuk kerabat & sahabat yang di luar negeri kebanyakan mereka juga pakainya email sih, jadi ya kartu lebaran sepertinya sudah jadi barang langka sekarang. Masih ada sih, tapi kuantitasnya pasti sudah nggak sebanyak dulu-dulu.

Tadi saya ngobrol dengan salah seorang kawan yang mengeluh HP-nya sampai jebol gara-gara kebanyakan dapat notifikasi email dari facebook karena tagging ucapan lebaran via facebook. Kalau kaya begitu apa iya mau menyalahkan yang nge-tag? Ya nggak bisa begitu juga sih. Serba salah, mau diapa-apain mereka juga teman, susah juga kan kalau mau melarang. Tapi ada juga kok yang memberanikan diri untuk pasang status di facebook, macam warning gitu, yang intinya dia nggak mau ada tagging foto ucapan selamat lebaran. Kalau mau ngucapin ya via wall to wall, message atau sms. Lumayan efektif sih, karena semua ucapan & permohonan maaf itu jadi akan berasa lebih personal & kena ke yang dituju.

Ya terlepas dari budaya baru yang semakin hi-tech & maya ini semoga silaturahmi yang terjalin bukan bersifat maya, seperti dunianya. Semoga tali silaturahmi itu tetap nyata adanya.. 🙂

Mohon maaf laahir & bathin yaaaa…  🙂

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Siapa Bilang Kuburan Sepi?

Tahun ini adalah lebaran ketiga saya di Jakarta, hanya bedanya tahun ini saya berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman tepat di hari pertama lebaran walaupun shalat Ied-nya di Jakarta. Ya itulah, karena salah perhitungan sih sebenarnya, lantaran kita mengira lebaran tahun ini bakal jatuh di tanggal 21 September 2009. Selain itu tiket yang masih available & affordable ya tanggal segitu. Selebihnya sudah fully booked & hargaya selangit. Dengan asumsi kalau harga tiket keberangkatan saja sudah segitu mahal, lha kalau harganya selangit juga masa saya cuma bisa mudik tapi nggak bisa balik ke Jakarta? Ya intinya sih duitnya dibagi-bagi gitu lho 😀

Ada pemandangan yang menarik ketika saya mengunjungi makam anak saya tahun ini di TPU Cipayung. Menariknya dimana? Kalau tahun lalu lingkungan makam masih standar, ramainya pun masih ya standar keramaian makam di hari rayalah. Hanya ada beberapa tukang jual kembang, air mawar & buku yassin saja. Selebihnya sih pengunjung yang kebanyakan datang berombongan bersama keluarga. Tapi tahun ini.. lebih mirip pasar pindah. Selain tukang kembang & penjual buku yassin ada juga tukang bakso, tukang minuman ringan, eskrim, tukang burger, penjual mainan anak-anak, tukang buah, tukang balon, peralatan rumah tangga, sampai penjual marmut.. Ya marmut, kelinci, terwelu dan sebangsanya.. Jangan membayangkan ini ada di luar kompleks makam ya, bener-bener di dalam areal pemakaman. Buat jalan aja sampai miring-miring saking padatnya. Buat jalan aja sampai miring-miring saking padatnya.

Jangan membayangkan situsi makam yang “singup”, sunyi, menyeramkan, lengkap dengan mitos pocong & memedi yang lain. Kali ini lokasi makam kok jadi berasa alun-alun ya, saking banyaknya yang berjualan di area ini. Hampir di setiap sudut makam tidak ada yang terlewatkan. Ibarat ada sentra ekonomi mikro yang pindah ke sana. Kalau Centro Departement Store bisa pindah kesini mungkin pindah juga kali ya? Sekalian sama midnight sale-nya..

Mungkin inilah yang namanya berkah lebaran ya.. ada saja orang-orang yang bisa mengais rezeki diantara euphoria merayakan lebaran. Karena belum tentu di hari biasa jualan mereka bisa selaris manis ini. Sama halnya dengan bisnis tahunan jual kue lebaran, kan juga sama hanya dilakukan setahun sekali. Orang yang setiap harinya sibuk bekerja & tidak bisa setiap hari berkumpul bersama keluarga benar-benar memanfaatkan moment lebaran ini sebagai ajang silaturahmi & berbagi kasih bersama orang-orang yang dicintainya. Termasuk menjamu kerabat & sanak keluarga yang datang untuk bersilaturahmi dengan berbagai kue & hidangan khas lebaran.

Semua orang punya cara masing-masing merayakan lebaran.Punya cara masing-masing untuk mencari rezeki & membaginya bersama keluarga, termasuk mengais rezeki di tanah pemakaman.

So, kalau lebaran begini,  masih ada yang bilang makam itu sepi & menyeramkan?
(Iya kalau malam mah tetep aja sepi. Nggak percaya? coba aja dateng kesana pas jam 12 malem gitu, tar manyun aja di bawah pohon beringin besar yang ada di tengah makam ya sambil makan kuaci..
– emang kita nggak ada kerjaan makan kuaci di kuburan tengah malem di bawah pohon beringin?
* dinyalain menyan *)

Continue Reading