Kisah Dibalik Keisengan Itu

Sebelum saya cerita ini itu, mumpung masih bulan Syawal, izinkanlah saya mohon maaf lahir bathin buat semuanya, terutama karena saya sudah lama nggak posting tulisan apa-apa :(( *sungkem*. Bukan maksud hati tidak ingin posting tulisan apapun setelah sekian lama, namun karena kesibukan dan jaringan yang kurang bersahabat mengakibatkan sekian banyak cerita saya menjadi untold stories :(.

Nah, sekarang saya mau cerita tentang sebuah event besar yang diselenggarakan oleh  Citilink sejak bulan lalu sampai dengan bulan ini. Sebenarnya memang dari awal saya sudah mau ikut. Ya, kalau dibilang niat banget sih enggak juga, tapi saya mau ikut. Iseng-iseng berhadiahlah, pikir saya. Nah tapi, berhubung kesibukan dan beberapa acara yang hampir ada di setiap weekend, plus mood yang naik turun, akhirnya desain yang seharusnya segera dibuat dan segera di-submit kepada panitia pun terbengkalai. Kalau saja saya tidak memaksakan diri untuk membawa “peralatan perang” saya berupa krayon, pensil, penghapus, dan spidol ke kantor lalu menyelesaikannya disana, mungkin sampai akhir deadline desain itu tidak akan terwujud.

Menggambar di kantor itu tantangannya banyak. Ide belum pasti ada, dikerubuti teman-teman (berasa tontonan), kerjaan yang silih berganti datang menghampiri. Ya maklum, saya kan menggambarnya pas jam kerja :p. Setelah melalui perjuangan berat, desain baru selesai pukul 4 sore, tapi baru bisa saya submit ke wall Citilink sekitar pukul 9 malam. Biasalah, koneksi ajrut-ajrutan. Tapi syukurlah akhirnya bisa terkirim juga di wall fanpage Citilink di facebook.

Jujur saya sudah jarang buka facebook. Sesekali sih buka tapi parahnya saya sempat lupa kalau ikut lomba desain seragam itu. Makanya ketika masuk semifinal dan final kemarin saya justru tahunya dari teman, bukan hasil melihat sendiri. Tahu-tahu dikasih selamat aja.

Nah, sekarang saya mau cerita tantangan terbesarnya. Ketika saya diumumkan masuk final, waktu untuk mempersiapkan desain menjadi mock up (baju jadi) tinggal beberapa hari menjelang libur lebaran. Bisa dibayangkan dong betapa paniknya saya. Seperti sewajarnya lomba desain, peserta yang dinyatakan sebagai finalis ujung-ujungnya pasti akan diminta membuat mock up desain dan presentasi. Kebetulan saya kebagian tanggal 12 September 2011. Disitulah paniknya. Toko kain di  Tanah Abang sudah banyak yang tutup karena menjelang lebaran, dan warna kain yang ditentukan termasuk jarang ada di pasaran (saya mencari warna yang sesuai dengan permintaan Citilink yaitu Pantone 355C dan atau 360C). Demi mendapatkan warna yang sesuai, kemana-mana saya bawa 2 lembar Pantone warna itu untuk ditunjukkan ke setiap toko kain, supaya warna kain yang saya beli tidak terlalu lari dari yang sudah ditentukan. Benar-benar perjuangan yang melelahkan mencari warna yang sesuai untuk dua desain saya itu, selain juga harus mengejar waktu ke penjahit sebelum mereka mudik lebaran :((

Setelah tahapan yang menegangkan itu saya pikir saya sudah boleh bernafas lega. Iya dong, kan kain dan penjahit sudah dapat, tinggal menunggu hasil jadinya saja, kan? Oh jangan salah, ternyata “cobaan” tidak berhenti sampai disitu. Penjahit yang saya harapkan bisa menyelesaikan 2 desain saya maksimal tanggal 10 ternyata memberitahukan hal yang membuat saya kaget bukan kepalang. Tukang potong yang juga sekaligus tukang pola ternyata baru kembali dari Cilacap hari Sabtu tanggal 10 September. Itu artinya dia baru akan ada di Jakarta tanggal 11 September. Hanya selang sehari menjelang waktu presentasi saya. Belum lagi baca sms dia yang bilang begini : “bantu doa ya, Mbak. Semoga tukang cutting saya balik ke Jakarta tepat waktu”. Hwaa, makin paniklah saya..:((

Namun saya berusaha tenang, ketika hari Sabtu pagi, saya ditelepon Citilink.

Citilink : Halo, dengan Mbak Devi?

Saya : iya, saya sendiri. Dari mana?

Citilink : saya dari Citilink, Mbak. Mbak Devi sudah tahu kan kalau Mbak presentasi hari Senin tanggal 12 September 2011 pukul 09.00-10.00?

Saya : iya, Mbak.. Saya sudah terima emailnya kok..

Citilink : ok, Mbak.. Mbak Devi bisa hadir kan? Sudah siap dengan mock up desainnya kan?

Saya : insyaallah hadir, Mbak. Insyaallah siap..

Citilink : baik, sampai ketemu hari Senin jam 9 ya, Mbak..

Saya : iya, Mbak.. Makasih 🙂

Habis tutup telepon,barulah  rasa suntuk, bete, dan gelisah, campur aduk jadi satu. Kalau orang Jawa bilang “kemrungsung” alias galau. Hanya bisa pasrah dan berdoa semoga diberikan ketenangan, setidaknya hingga saya dipertemukan dengan penjahitnya besok. Jika memang ini adalah rezeki saya dan berkah, semoga dimudahkan dan dibukakan jalannya oleh Allah Swt. Sudah, itu saja doa saya. Terlalu berisiko memang. Suami sih pengennya saya ambil kain yang sudah ada di penjahit itu lalu kita keliling cari penjahit yang lain. Tapi entah kenapa, saya kurang setuju dengan ide itu, karena si Mbak penjahit menyanggupi dan bersedia lembur sampai jahitan selesai. Sampai salah satu sahabat yang saya curhati mengajak untuk shalat dhuha bareng, biar saya lebih tenang. Uniknya posisi saya di Mampang, dia di Cibubur :). Tapi terima kasih lho, saya jadi sedikit lebih tenang dibandingkan sebelumnya 🙂 >:D<

Hari Minggu, tanggal 11 September 2011, tepat pukul 9 saya akhirnya bertemu dengan bapak pembuat pola. Setelah berdiskusi dan menjelaskan maksud desain yang saya maksudkan akhirnya dia pun mulai mengerjakan desain saya yang ribet itu. Ya gimana nggak ribet, lha wong saya dengan tega menggabungkan dua model menjadi satu. Kulot sekaligus sackdress (rok terusan). Jadilah desain yang hybrid. Mumet, mumet deh yang bikin pola. Duh, maaf ya Pak, sudah merepotkan.. :-s. Penjahit saya pun menjanjikan kedua baju itu bisa selesai sekitar pukul 10 malam. Jadi yuk mari kita melekan..

Nah, sekitar pukul 9 malam terjadi sedikit kehebohan. Si Mbak penjahit mendadak sms dan bilang kalau kancing bungkus yang saya minta ternyata tidak ada, sudah dicari ke beberapa toko tidak ada yang ready stock. Makin paniklah saya, mau cari kemana saya malam-malam begitu, jam 9 lebih, plus hari Minggu pula :-s. Terus gimana caranya mengancingkan baju kalau kancingnya sendiri nggak ada? :((. Mau dikasih lem? Ditempel pakai double tape? Sepanjang jalan menuju tempat penjahit itu saya gelisah. Wajah si hubby sudah tidak terdeskripsikan, apalagi saya. Tak henti-henti berdoa semoga ada keajaiban yang terjadi pada saya. Sesampainya disana, alhamdulillah ternyata si Mbak penjahit menyimpan 1 gross kancing warna hijau sisa produksi, yang ketika saya pasangkan di baju saya itu warnanya pas sekali. Alhamdulillah.. *sujud syukur*

Sudah lega dong ya, kan sudah beres, tuh? Oh, siapa bilang? Ternyata setelah saya cek lagi ternyata kemeja hijau mudanya salah model. Oh, no.. :((. Itu artinya jahitan harus dibongkar, harus dibuat pola baru lagi, dan yang jelas itu sangat memakan tenaga dan waktu. Yang seharusnya pukul 22.00 seluruh jahitan sudah jadi, terpaksa molor hingga pukul 01.00 dini hari. Bayangkan, jam segitu saya masih berkutat dengan jahitan dan tukang jahit. Syukurlah, tepat pukul 01.00 seluruh jahitan selesai dalam keadaan sudah rapi terseterika dan dimasukkan dalam portable suit cover, dan saya tiba di rumah seperti habis pulang dugem dong, pukul 02.00 dini hari.. Pffiuh..

Singkat cerita, keesokan harinya, tepat pukul 09.00 saya presentasi di depan Con Korfiatis, beberapa flight attendant, dan beberapa orang dari management Citilink. Awalnya 2 baju itu hanya saya gantungkan sambil saya jelaskan desain saya. Tapi Si Con rupanya kurang puas, maka 2 flight attendant diminta untuk mencoba baju-baju saya. Sempat khawatir kurang pas di badan mereka. Tapi syukurlah, pas, ya walaupun tidak sengepas kalau pakai ukuran mereka sendiri ya. Alhamdulillah presentasi selama satu jam itu berjalan lancar, saya pun tak lagi nervous, karena mungkin saya bawa santai kaya orang lagi ngobrol atau ketika saya sedang ngemsi, kali ya. Kalau menang ya alhamdulillah, kalau kalah pun tak apa. Yang penting sudah berusaha, setidaknya saya sudah mencoba walaupun berangkat dari iseng. Oh ya, foto-foto peserta lainnya bisa dilihat di sini .

Nah, jika direnungkan, sepanjang perjalanan “keisengan” saya hingga menuju final ini (ternyata) saya sudah melakukan sebuah hal yang gambling sekali. Bayangkan, saya percaya bahwa desain saya itu akan beneran jadi, dan berani-beraninya saya menyatakan bahwa saya akan hadir dalam acara presentasi padahal yang di penjahit masih berupa lembaran kain 3 meteran. Lha kalau ternyata tukang cutting/jahitnya nggak jadi datang, jadi apa kain-kain saya itu? Taplak? Seprei? Gorden? :-s

Oh ya, masih ada satu acara lagi, sebagai acara puncaknya yaitu pengumuman yang dikemas dalam acara fashion show, seperti selazimnya launching seragam sebuah maskapai penerbangan. Kalau acaranya terbuka untuk umum, datang yuk! Kasih semangat buat saya gitu :). Untuk waktu dan tempatnya masih tentatif sih. Jujur, saya tidak berani berharap banyak dari hasil semua keisengan ini. Yang jelas, apapun hasilnya akan saya syukuri, kok 🙂

Do your best, and let God do the rest.. 😀

[devieriana]

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Lebaran ala Facebook ..

Lebaran tahun ini boleh dibilang lebarannya Facebook. Betapa tidak, sampai dengan penghujung tahun ini pengguna situs jejaring sosial ini meningkat sangat signifikan dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun lalu pengguna facebook belum “semeriah” sekarang, kalau tahun ini hampir semua punya account di Facebook. Istilahnya kalau nggak punya account kurang hip, kurang update, nggak keren gitu. Padahal ya nggak gitu-gitu amat sih. Teman-teman saya banyak kok yang nggak punya account, bahkan adik saya sendiri bilang males bikin account & nggak pengen punya 😀 .

Kenapa saya beri judul lebaran ala facebook? Karena lebaran tahun ini hampir semua bikin tag foto ucapan selamat lebaran, minal aidzin wal faidzin untuk seluruh orang yang jadi friendlistnya. Awalnya sih saya anggap biasa, tapi lama-lama kok makin banyak ya. Okelah ya kalau saya nggak suka tinggal saya remove tag-nya, tapi masa iya saya me-remove satu persatu sementara yang ngetag saya banyak banget. Akhirnya pasrah, sisanya saya biarkan apa adanya. Bukan sok nggak mau di tag. Masalahnya kalau  sudah di tag berarti saya akan terus menerus menerima email notifikasi setiap kali ada yang memberikan respon/komen di foto tersebut. Kalau soal tagging notes nggak masalahlah.. apalagi kalau memang si empunya account sengaja bikin sendiri (original), bukan sekedar copy paste, saya masih hargai itu & rela-rela aja di tag. Well nggak penting, ini cuma sekedar curhat saya masalah “tagging-menagging” kok 😀 . Buat yang sudah terlanjur nge-tag saya di foto, mohon maaf kalau ada beberapa diantaranya terpaksa saya remove karena banyak banget.. sumpah. Maaf yah..:(

Ada pengaruh nggak dengan penggunaan sms & kartu ucapan selamat lebaran ketika semua orang sudah menggunakan account facebook-nya untuk bersilaturahmi & bermaaf-maafan di hari lebaran kemarin. Jelas, ada banget. Kalau tahun lalu saya sibuk bersms ria dengan keluarga, sahabat untuk sekedar mengucapkan selamat hari raya & minta maaf. Tapi tahun ini berkurang drastis. Nggak tahu apakah cuma saya saja yang mengalami ini atau hampir semuanya seperti itu. Jujur, tahun ini saya nggak terlalu banyak menerima ucapan selamat hari raya via sms, karena semua sudah mengucapkan di facebook. Kalau nggak di wall ya di message (kebanyakan di message). 

Cukup efektif sih ya, kita bisa sending message yang sama ke semua teman yang ada di friendlist kita in just one click, daripada kita harus kirim sms yang mengeluarkan biaya. Hari gini siapa sih yang nggak mau gratisan. Buat yang menggunakan koneksi internet hanya dari kantor kirimnya beberapa hari sebelum cuti. Lumayan kan menghemat beberapa ribu rupiah ketimbang sengaja akses dari warnet atau handphone.

Kalau beberapa tahun yang lalu, jaman situs jejaring sosial masih belum se-booming sekarang yang diuntungkan adalah para produsen kartu lebaran & kantor pos tentunya. Betapa tidak, saat lebaran adalah saat panennya mereka karena banyaknya pembeli kartu lebaran mereka. Pastinya akan dikirim via pos yang notabene menguntungkan pihak kantor pos, bukan? Jaman saya masih SMP & SMA dulu aja bisa puluhan sampai ratusan ribu sendiri kalau kirim kartu lebaran saking banyaknya yang pengen saya kirimin. Kalau sekarang? Jangankan beli kartu lebaran, ngelirik aja enggak. Kalau untuk kerabat & sahabat yang di luar negeri kebanyakan mereka juga pakainya email sih, jadi ya kartu lebaran sepertinya sudah jadi barang langka sekarang. Masih ada sih, tapi kuantitasnya pasti sudah nggak sebanyak dulu-dulu.

Tadi saya ngobrol dengan salah seorang kawan yang mengeluh HP-nya sampai jebol gara-gara kebanyakan dapat notifikasi email dari facebook karena tagging ucapan lebaran via facebook. Kalau kaya begitu apa iya mau menyalahkan yang nge-tag? Ya nggak bisa begitu juga sih. Serba salah, mau diapa-apain mereka juga teman, susah juga kan kalau mau melarang. Tapi ada juga kok yang memberanikan diri untuk pasang status di facebook, macam warning gitu, yang intinya dia nggak mau ada tagging foto ucapan selamat lebaran. Kalau mau ngucapin ya via wall to wall, message atau sms. Lumayan efektif sih, karena semua ucapan & permohonan maaf itu jadi akan berasa lebih personal & kena ke yang dituju.

Ya terlepas dari budaya baru yang semakin hi-tech & maya ini semoga silaturahmi yang terjalin bukan bersifat maya, seperti dunianya. Semoga tali silaturahmi itu tetap nyata adanya.. 🙂

Mohon maaf laahir & bathin yaaaa…  🙂

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Facebook & Mantan Pacar ..

Sebenarnya saya nggak niat-niat banget lho nyari orang satu ini di facebook. Jujur malah nyaris terlupakan. Dia salah satu mantan pas jaman prasejarah dulu 😀 . Yah namanya facebook , siapa sih yang nggak bisa ditemukan disitu kecuali emang orangnya nggak punya acoount disana. Mulai anak SD sampe politisi aja punya. Saya sendiri memanfaatkan situs “jahanam” itu cuma buat sekedar punya & ngumpulin temen-temen lama. Buat apa dikumpulin? Ya kali aja bisa dikiloin, hihihihi.. Gaklah. Becanda itu.

Nah kemarin kok ndilalah “cling” muncul suggestion add as a friend. Kaget? Ya jelas.. (halah biasa aja kali).  Pantes kok kaya pernah kenal *mulai berlebihan deh*. Akhirnya yo wislah ya saya add as a friend. Kan nawaitunya emang buat menjalin silaturahmi. Rupanya gayung bersambut .. halah! Dia approve saya dalam friendlist-nya, dan taraaa.. diapun kaget. Iyalah, sudah nggak ketemu & intouch kurang lebih 12 tahun (ketauan tua banget saya ya?)  terus tahu-tahu saya nongol begitu saja dalam keadaan yang jauh beda daripada yang dulu. Ya intinya outlook saya yang dulu culun udah bedalah sama sekarang (sekarang juga masih culun sih). Tapi kalau sekarang kan udah punya penghasilan sendiri, kadang juga “ngerampok” penghasilan suami, jadi ya sedikit banyak perubahan secara fisik itu pasti ada :mrgreen: .

Mulai deh mengalir obrolan-obrolan nostalgila jaman baheula. Di satu sisi seneng bisa ketemu temen lama, di satu sisi lain ya kita udah bukan siapa-siapa lagi, jadi ya jaga jarak itu perlulah. Bukan bermaksud jaim ya, tapi berusaha menghargai pasangan aja. Kan kita sama-sama udah bukan sosok single lagi 🙂  .Oh ya, saya sama dia dulu cuma bertahan 2 bulan lho, hihihi.. Gak inget deh saya dulu putusnya karena apa, pokoknya nggak lama setelah jadian saya udah menyandang status jomblo lagi 😀 .
DHIEEENG !

Mendadak dia sms begini :

“Do you know this song, My Facebook – Gigi? Gak tau ya, kok aku jadi suka banget sama lagu ini”.

Saya ketawa aja. Eh, jujur waktu saya belum ngeh lho lagunya kaya apaan. Maksudnya kalau sekedar denger musiknya doang sih udah, tapi nggak merhatiin syairnya. Serius. Setelah bales sms dia begini :

“jiaahhh.. efek baru bikin facebook emang suka gitu kali, temennya masih dikit jadi kalo kecanduan ya wajarlah. Lha kalo aku? Sekarang udah males bukanya…”

Nah baru saya buru-buru cari lagunya di youtube. Ternyata isi lagunya kaya begini  :

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=w8Tr_XWaC3M&hl=en&fs=1&rel=0]

Eh.. kok, lho.. anu.. err.. kok isinya tentang mantan yang ketemuan lagi di facebook ya? Telaaattt *ditiban wastafel, lempar ke Antartika* . Yah, salah sms respon yah.. xixixi . Duduls banget deh :)). Kalo kaya gitu kan jadi ketahuan nggak nyambungnya. Ya udah berhubung “clue”-nya udah ketahuan lewat syair lagunya, selanjutnya smsnya saya diemin.. Mendadak jadi takut salah ngomong. Beneran..  😀

[devieriana]

Continue Reading

Pentingkah Update Status di Facebook?

Sejak wabah facebook melanda dunia, mengakibatkan banyak orang mengalihkan sebagian waktunya untuk membuka situsnya Mark Zuckerberg ini. Bahkan ada lho yang menjadi situs wajib buka setiap hari . Mending ga makan daripadaga buka facebook.. oh salah ya? Lebay kayanya kalau begitu, hehehe.. . Padahal sebenarnya facebook fungsinya tak ubahnya dengan beberapa situs pertemanan lain yang sudah ada sebelumnya, macam friendster, flixter, hi5, plurk, dan lainnya. Sekarang ini siapa sih yang ga punya account facebook? mulai kalangan pelajar,ibu rumah tangga, artis, bahkan politikuspun memiliki account di facebook. Katanya kalau ga punya dibilang  :  ” Haduuuh.. jadul banget sih kamu? bikin doong..”

Memang sih diakui facebook cukup powerful untuk utamanya menemukan teman-teman lama yang sudah lost contact, ga ketahuan dimana rimbanya. Tapi ada juga sisi negatifnya : facebook itu “nyandu”, bos. Saya katakan nyandu ya karena rasanya kalau ga bukan facebook sehari tuh mungkin buat sebagian orang berasa udah ketinggalan info banget. Padahal kenyataannya dulu ga punya facebookpun juga gapapa kan? Inget deh, jaman dulu ga ada friendster, apalagi facebook kita juga santai-santai aja kan.. Tapi kenapa sejak ada”mainan baru” itu kita jadi kaya dicanduin ya?

Contohnya aja nih soal status. Kan di facebook kita sering lihat teman-teman kita nulis status di facebooknya tuh . Mulai kegiatan “penting” sampai “gak penting”. Oh maaf, atau mungkin semuanya penting kali ya, kan kita tidak tahu ukuran penting/tidaknya sebuah status buat sebagian orang ya.. . Tapi kok kesannya malah jadi kaya “laporan” sama facebook ya.. Apa-apa ditulis, ngapa-ngapain diinfokan ke semua orang. Kayanya the whole world need to know kegiatannya itu apa saja. Itu kesan yang saya tangkap ya. Saya ngerti, tahu, paham banget kalau facebook itu cuma mainan, cuma buat seru-seruan, cuma buat situs pertemanan, cuma buat hiburan.. mmh, tapi emang penting ya semua kegiatan harus ditulis? Misal nih : “lagi nemenin anakku bobo” (ya kalau lagi nemenin bobo ngapain juga fesbukan.. nemenin bobo mah nemenin aja.. hehehe ), “malam minggu ada di kantor teman” (kalau bapak di kantor teman terus kita mau ngapain pak?), “lagi makan sate ayam.. hmmm.. yummy..” (emang kalau sudah ditulis di facebook terus aromanya bisa nyampe ke temen-temen yang ada di friendlist-nya gitu? Mending kalau di kasih , kalau cuman dipamerin ya kesannya kok jadi kaya ga pernah makan sate ayam, heheh), “lagi mimik susu” (yaelah, ini apa lagi.. wah.. bener-bener status yang sok imut.. hahahaha ).

Status, memang facebook menyediakan kolom untuk kita bisa posting shoutout/status dengan kolom komen di bawahnya. Yang menandakan bahwa apapun kegiatan kita bisa/boleh dikomen oleh orang lain. Buat lucu-lucuan sih seru, tapi ada yang sampai ganti status lebih dari 3x sehari.. Beuuh.. lagi ga ada kerjaankah? Kebutuhan untuk diakui keberadaannya di dunia maya a.k.a eksis, rasanya itu sebutan yang lebih tepat ditujukan untuk orang-orang yang sangat rajin update status di dunia maya via facebook. Berhubung situs 1 itu yang lagi hip sekarang, makanya setiap waktu, setiap saat, pasti rajin update status, posting komen di statusnya orang-orang. Pokoknya tiada hari tanpa update statuslah.. hidup facebook !! Ampun deh..

Saya termasuk orang yang sangat jarang update status facebook. Bukan apa-apa , selain kebetulan kerjaan saya padat  banget (kasian sih sebenernya) , ya karena menurut saya ga semuanya penting untuk diinfokan atau di share ke orang lain. Misal : “lagi banyak kerjaan nih, sibuk bangeeet” –> kalau sibuk kenapa masih sempat mainan facebook? . Atau : “lagi ngantuk berat” –> ya tidurlah, ngapain masih buka facebook juga?Istirahat.. Itu cuma contoh lho ya.. . Eit, ini bukan berarti semua orang harus sama kaya saya ya. Terserahlah mau update status per 5 menit sekali, silahkan. Per 2 hari sekali monggo, atau ga update status samasekali juga tidak ada yang melarang kok. Semua orang pasti punya pendapat yang beda-beda masalah posting status di facebook. Lepas dari masalah eksistensi diri, setiap orang punya maksud, kepentingan & tujuan tersendiri dengan account facebooknya & itu hak masing-masing orang kok.. Saya hanya sekadar pengamat dunia  pencak fesbuk tercinta ini kok ..

.. PEACE ..

Continue Reading

Facebook..

facebook

Heran dengan fenomena baru yang lagi “happening” banget.. Facebook.. Ga tau kenapa orang-orang jadi demam facebook dimana-mana.. Tiap kenalan pasti yang ditanya, “punya Facebook ga?”. Ya untungnya sih saya udah punya dari kapan hari sejak belum booming… heehhehe *gak penting..  *

Mungkin masa kejayaan Friendster sekarang udah tergantikan dengan si Facebook ini ya. Kalo dulu pasti tanyanya, “punya friendster ga?”. Dan bisa dipastikan semua pada punya account biar dibilang eksis & update, hehehehehe… Gara-gara Facebook sampe ada temen yang posting di shoutoutnya, “seberapa banyak Facebook menyita waktu anda di internet, tuliskan dalam persen”.

Hasilnya :

* Waah…byk mas! Yg jelas jam tiduuuur…berkurang, Hiks!

* Another survey ! FB is almost take 50% of my 24 hours life…..!!!!

* Wah ud kyk kesurupan niy hehe…

* buka facebook setelah jam kerja , mau pulang masih macet jadi nunggu jalanan lancar , so pulang malem jangan dikira lembur ….he..he..he..
* Loss 20% jam tidur.. but, gain 100% for golden memories.. meureun….

* mgkn sktr 80%.. Mw’a c online 24 jam,, tp si laptop kayak’a bisa teriak gara2 kepanasan,, hihihi..

* Another survey ! FB is almost take 50% of my 24 hours life…..!!!!

* Kalo waktu aktif sekitar 20-25%, tapi kalo yang pasif (cuman idle) ya sekitar 40-50%…
Apa ada nanti ada manajemen perencanaan facebook?hehe…

* Emang tambah banyak sih. Tapi FB hanya sebagai appetizer. Selanjutnya difollow up sama mail, sms, telpon.

kalau saya nih : “FB itu benernya sama aja kaya another social networking site.. lama-lama juga bosen.. Pasti suatu saat ada titik jenuhnya.. ”

So.. seberapa pentingnyakan si Facebook ini dalam kehidupan bersosialisasi kalian?

Continue Reading