Tentang Belanja di Pasar Murah

shopping-cartoon

Ting tung! *buka pesan di whatsapp*
“Eh, ada bazar Dharma Wanita di Gedung 3? Ke sana yuk!”
– read –

Ting tung! *buka pesan di grup ibu-ibu biro*
“Besok ultah kantin Kayumanis, ada bazar sembako, yang mau pesen bawang merah, bawang putih, gula, beras, dll, buruan pesen ya, kuatir kehabisan…”
– read –

Ting tung! *buka pesan di whatsapp emak-emak*
“Up date harga Indongapret dan Lapamidi. Diskon minyak goreng, pampers, susu anak, beras…”
– read, delete –

“Eh, ada pasar ikan segar tuh di depan toko souvenir, Kak Devi nggak ke sana?”

Hampir semua ajakan belanja ini itu berakhir dengan gelengan kepala, atau penolakan halus. Entah kenapa, sejak zaman dulu, setiap kali ada broadcast whatsapp tentang program belanja ini itu, diajak pergi ke bazar, atau pasar murah, selalu tidak pernah tertarik atau antusias. Kalau pun iya pernah beli di bazar kantor itu tahun 2011, beli mukena berbahan parasit warna cokelat tua seharga 120 ribu dan itu juga hasil komporan teman.

Beda dengan hampir semua teman kantor saya yang perempuan terutama, kalau ada bazar hampir dipastikan kembali ke ruangan dalam keadaan dua tangan yang penuh dengan jinjingan belanjaan. Entah itu sembako, jilbab, mukena, sepatu/baju anak, atau makanan siap saji. Beberapa kali saya ‘paksakan’ pergi ke bazar yang diadakan kantor, tapi ndilalah selalu kembali ke ruangan dengan tangan kosong.

Entahlah, apa mungkin belum pernah ‘nemu’ barang yang pas dengan apa yang saya butuhkan, atau belum nemu yang kebetulan lucu, dan atau harus dibeli. Tapi kalau soal sembako, saya orangnya praktis saja sih. Kalau habis ya beli, tapi kalau masih ada ya dihabiskan dulu. Ya tipe orang seperti saya mungkin ada negatifnya, kalau mendadak butuh dan persediaan sedang habis, ya bakal kelimpungan. Ya tapi daripada numpuk dan makan tempat, gimana dong? Apalagi rumah saya tipe-tipe imut minimalis yang bisanya buat menyimpan stok barang secukupnya. Tapi biasanya sih saya selalu cek apa saja yang sudah hampir habis, baru saya belikan stoknya. Atau kalau memang sudah waktunya belanja bulanan ya dicatat apa saja yang habis dan perlu dibeli, supaya nggak kalap belanjanya. Ah, dicatat saja masih suka kalap, apalagi nggak dicatat *self keplak*.

Kadang saya mikir juga, kok saya nggak kaya ibu-ibu lainnya yang selalu riang gembira memborong sembako murah, atau kalap beli pernak-pernik buat bocah ya? Sudah pernah saya paksakan untuk ke bazar pun hati ternyata tidak tertarik sama sekali. Jangan-jangan event organizer-nya yang kurang kreatif nih sehingga barang-barang yang dijual kurang menarik perhatian saya ya… *ngomong sama tembok*

Bukannya nggak butuh sembako juga sih, pasti butuh dong. Emang kita anak debus, yang makannya beling sama gabah, hahaha. Ya bayangkan, di rumah kami cuma bertiga; saya, suami, dan Alea (usia 22 bulan). Kebetulan saya dan suami bukan tipe orang yang makannya banyak. Suami juga bukan orang yang makan apa saja cocok, cenderung picky. Picky-nya cocok-cocokan sama lidah dia, misal untuk masakan, dia kurang suka sama yang olahan ikan, apapun bentuknya. Trus, masakan yang mengandung kecap, atau yang terlalu pedas. Sementara saya adalah pemakan apa saja. Jadi kadang saya yang menyesuaikan dengan lidah suami. Begitu juga dengan Alea yang makannya belum seberapa. Jadi kalau harus menimbun sembako kok rasanya agak ribet gimana gitu. Menurut saya sih…

Kalau soal belanja pernak-pernik anak, biasanya saya cenderung beli kalau memang sreg pengen beli atau beneran nemu yang lucu. Anak seusia Alea kan cepat numbuhnya ya, jadi saya biasanya beli seperlunya saja, kalau kebetulan Alea belum punya, atau ada barang yang lucu, atau memang sudah waktunya beli. Bukan apa-apa, khawatir mubadzir, sudah beli banyak baju, belum sempat dipakai eh tahu-tahu sudah nggak muat karena anaknya tambah besar.

Jadi, kalau saya jarang beli di bazar atau pasar murah, bukan berarti saya sok-sokan anti bazar atau pasar murah lho ya, mungkin belum nemu pas butuhnya saja.

Makanya ayo dong, ajak saya ke mana gitu, yang barangnya lucu-lucu dan harganya miring, dan biar saya bisa kalap belanjanya… *lho*

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Jadi Ibu ‘Beneran’

Alea dan Mama :D

Lama juga ya saya tidak up date blog, padahal ada banyak cerita yang bisa ditulis di sini. Tapi ya semua terkait masalah waktu, kesempatan, dan niat menulis yang kadang menguap begitu saja *self toyor*

Jadi ceritanya sudah hampir sebulan ini Alea saya bawa ke kantor, bukan ikut saya kerja seharian di ruangan, tapi saya titipkan di daycare Taman Balita Sejahtera yang kebetulan dikelola oleh Dharma Wanita Persatuan kantor saya. Lah, kenapa kok tiba-tiba Alea harus dititipkan di daycare? Tentu keputusan ini sudah melalui pemikiran yang masak walaupun pada awalnya terasa berat. Bukan hanya berat buat saya, tapi juga buat eyangnya, dan tentu saja buat Alea yang tiba-tiba harus merasakan ‘berpisah’ sejenak dengan keluarga yang dikenalnya, dan seharian harus berada di tempat ‘asing’/baru, dengan teman-teman baru dan para bunda yang pengasuh. Tapi gapapalah, sekalian latihan buat Alea bersosialisasi dan mendapatkan pendidikan pra sekolah, walaupun usia Alea belum genap 2 tahun.

Rasanya waktu hampir 2 tahun ini sudah ‘cukup’ bagi mama saya untuk mengasuh/menjaga Alea. Sejak Alea lahir sampai dengan Alea hampir berusia 2 tahun mamalah yang setiap hari merawat dan menjaga Alea. Jadi memang saya lumayan terbantu dengan adanya mama di rumah. Tapi dengan berbagai pertimbangan, mama memang harus kembali pulang untuk menemani papa di Surabaya. Sementara untuk memutuskan mencari baby sitter/pengasuh saya masih banyak mikirlah. Makanya, sebulan pertama adalah masa percobaan bagi saya, Alea, dan mama untuk menjalani rutinitas baru sebelum akhirnya nanti mama benar-benar pulang.

Hari pertama Alea di daycare lumayan terlihat menyenangkan, dia terlihat antusias dengan komentar pertamanya ketika melihat banyak anak kecil seusianya, “wooow!. Tak disangka-sangka, dia pun langsung bisa mingle dengan teman-teman barunya, ikut senam, main perosotan, dlll. Melihat tingkah polahnya yang lucu itu antara sedih dan haru karena saya harus meninggalkan batita saya sendirian. Jujur, jauh dalam hati sih saya baper abis; tidak tega meninggalkan Alea di tempat baru dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Tapi bismillah sajalah, semoga dia baik-baik saja. Tapi ya namanya bocah, lama-lama dia sadar juga kalau mama, papa, dan eyangnya tidak ada bersamanya, kalau mulai rewel ya sangat dimaklumi. Tapi ada yang lumayan melegakan, menurut bunda pengasuhnya, nafsu makan Alea bagus, minum susunya juga bagus, dan kemampuannya menyesuaikan diri di tempat baru sangat cepat, termasuk berbeda dengan anak lain seusianya.

Hari pertama dilalui dengan alhamdulillah lumayan tanpa drama. Hari kedua, lihat pagarnya daycare saja dia sudah tidak mau, apalagi hari ketiga, dan keempat (yang kebetulan bertepatan dengan hari Jumat dan ndilalahnya dia pas flu berat), dramananya lumayanlah. Mungkin karena badannya lagi kurang nyaman, jadi maunya ya sama mamanya aja. Jadi kata bunda-bundanya di daycare Alea memang agak rewel.

Trus, apa kabar setelah hari keempat? Alea nggak masuk selama 2 minggu karena flu batuk pilek disertai demam tinggi. Ya menurut dokter sih common cold saja sih, kalau demam tingginya itu karena radang tenggorokan. Tapi ya tetap saja saya baper karena pikiran sudah ke mana-mana. Untungnya waktu itu mama belum pulang ke Surabaya, jadi masih ada yang merawat Alea selama dia sakit.

Sebagai ibu kadang memang harus ‘tegaan’ ya. Maksudnya, jangan terlalu baperan, harus kuat gitu. Kebetulan dokternya Alea menyarankan Alea harus dinebulizer supaya pernafasannya agak enakan, saya sih nurut saja, selama ini kebetulan flu batuk pileknya memang tidak separah yang ini, jadi kalau memang harus diuap mendingan diuap deh, biar flunya beres sekalian. Nah, melihat Alea harus dinebulizer dan menangis meraung-raung itu pun sebenarnya antara tega nggak tega tapi ya kalau nggak tega nanti dia nggak sembuh-sembuh dong. Dinebulizer itu kan sebenarnya nggak sakit, tapi berhubung bocahnya tegang lihat suster, liat alat-alat yang buat dia, “eh, aku mau diapain nih…” itu ya jadi bikin dia nangis, hehehe. Tapi lucunya, setelah proses penguapan itu selesai, Alea diajak ngobrol oleh suster yang menangani penguapan, “Nah, udah selesai nih. Nggak sakit, kan? Enak, kan?”. Dengan muka lucu Alea menjawab, “enyak..”, sambil mengangguk. Kalau enak kok nangis? *uyel-uyel*

Nah, baru terasa beneran jadi ibu itu ya pas mama beneran pulang ke Surabaya. Jungkir balik iya, karena Alea maunya apa-apa sama saya. Kalaupun mau sama papanya ya kalau lagi main, atau nonton film. Nah, selama mereka sedang nonton film atau tidur saya membereskan rumah. Sempat keteteran sih, sampai akhirnya menemukan format yang pas, terutama buat saya. Pokoknya nyuci, beberes rumah, nyiapin perlengkapan yang harus dibawa Alea, dan setrika baju yang dipakai besok pagi itu harus malam hari, karena kalau baru dipegang pagi, nggak bakal beres semua. Jadi, di awal-awal kemarin sih baru tidur pukul 1 malam, dan bangun pukul 4 pagi. Tapi makin ke sini setelah mengutak-atik ‘formula’ beberes ini itu, lumayan bisa tidur pukul 11 malam, dan bangun pukul 5 pagi.

Pukul 06.30 saya dan Alea sudah harus siap berangkat. Berhubung kantor papanya Alea di Sudirman, jadi kalau harus nganter dulu ke kantor saya di Veteran, bakal ribet di jalur balik menuju kantornya, karena biasanya macet parah di sekitaran Kanisius. Tapi kalau berangkatnya pagi banget Aleanya belum bangun, dianya nanti malah uring-uringan. Jadi dibikin enjoy sajalah, win-win solution biar sama-sama nggak terlambat, salah satu harus naik Go-Jek.

Kalau biasanya ke kantor cuma bawa 1 tas kerja saja, sekarang tambah 1 tas baby plus gendongannya Alea. Kadang kalau dilihat-lihat kaya bukan orang mau ngantor, tapi udah kaya orang mau mudik, hahahaha. Ternyata jadi ibu ‘beneran’ itu tidak mudah, ya. Iya, ibu beneran, ketika masih ada mama kemarin saya belum merasa jadi ibu yang sesungguhnya, karena saya belum merasakan sendiri mengasuh anak, merasakan bangun paling pagi dan tidur paling malam demi mengerjakan segala sesuatu agar selesai tepat waktu dan tidak keteteran. Untuk semua perjuangan yang telah dilakukan oleh seorang ibu demi keluarganya, itulah kenapa Betty White pernah bilang, “It’s not easy being a mother. If it were easy, fathers would do it.”

“Sometimes being a mom is just the most overwhelming job on the planet. But when you pause to filter you response trough love, your children will learn how to handle life well instead of letting life handle them. “
– Stephanie Shott –

Selamat pagi, selamat menjelang akhir pekan 🙂

 

 

Continue Reading

Di Balik Topeng Media Sosial

Media sosial, sebagaimana pernah saya tulis di tahun 2013, yang bertajuk Avatar , ibarat pisau bermata dua; dia dapat menjadi sahabat penuh manfaat tapi juga bisa jadi musuh terjahat. Bagi yang mampu mengelola akun media sosialnya dengan baik, menjadi selebriti di dunia maya bisa jadi ‘panggung’ yang menguntungkan, karena tanpa harus bersusah payah mempopulerkan diri, mengikuti audisi, atau job interview, (jika beruntung) ‘panggung’ mereka bisa ditonton oleh banyak orang dan dihadiahi dengan uang, barang, paket liburan, dll.

Dulu, ketika masih aktif di media sosial, saya memang ikut memanfaatkannya untuk banyak hal. Misalnya berbagi info tentang kegiatan komunitas yang saya ikuti, sharing knowledge, atau menggalang dana untuk misi sosial. Tapi sekarang, saya sudah banyak mengurangi hiruk pikuk di dunia media sosial. Mungkin karena semua ada masanya; mungkin saya orangnya mudah bosan, mungkin juga fokus saya saat ini bukan lagi ke media sosial seperti beberapa tahun yang lalu, tapi lebih ke keluarga, utamanya ke Si Kecil yang sekarang sedang memasuki golden age.

Ada seorang teman yang sengaja tidak bermain di media sosial apapun, alasannya, “gue nggak mau sosmed memperbudak hidup gue…” Lho, bukannya kita tetap bisa mengontrol mau posting apa, dan kapan, ya? Tanya saya. “Iya, tapi tetep aja kan lo memposting hal yang ‘diminta’ sama sosmed. Misal, di facebook, “what’s on your mind”, atau di status twitter, “what’s happening”, di instagram ‘minta’ lo posting caption foto ini itu. Nah, maksud gue tuh kaya gitu itu…” Saya nyengir. Media sosial itu kalau buat saya sih tempat bermain alias playground, tapi pernah ada di suatu masa ketika saya kebanyakan mainan sosial media walaupun tidak sampai mengalami adiksi. Jadi, dengan setengah hati saya terpaksa mengiyakan statement-nya itu.

Jadi ingat kisah Essena O’neill, seorang remaja asal Australia yang juga seorang selebgram. Sebagai seorang selebritas media sosial, hampir segalanya telah dia miliki utamanya dari hasil endorse barang di youtube/instagram. Tapi ternyata Essena yang memiliki ratusan ribu pengikut di Youtube dan Instagram itu mengatakan bahwa segenap popularitas dan barang branded yang dimilikinya belum membuatnya bahagia. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri, berterus terang kepada para fansnya tentang kisah yang berada di balik setiap foto-foto yang sempurnanya itu. Puncaknya, pada medio 27 Oktober 2015, ia menghapus lebih dari 2000 foto di instagramnya sebagai upayanya melawan adiksi terhadap sosial media. Keputusan itu diambil karena dia merasa hidupnya selama ini terlalu ‘dikonsumsi’ oleh media sosial, sehingga dia seolah hidup dalam dunia ‘dua dimensi’.

Dia mengakui bahwa sangat mudah baginya untuk memperoleh follower baru di media sosialnya, atau mendapatkan ‘likes’ di setiap foto yang diunggahnya. Tapi sejujurnya, yang mampu membuatnya bahagia adalah ketika dia melihat secara kenyataan bahwa dia menginspirasi orang lain untuk membuat perubahan positif atas hidupnya, bukan cuma mendorong mereka untuk membeli sesuatu yang baru sebagaimana barang yang dia endorse di balik foto-foto yang dia unggah di media sosial.

Ada orang-orang yang tampil di instagram dengan kesempurnaan tertentu dan menjadi ‘standar’ kesempurnaan fisik manusia. Tapi siapa sangka sebenarnya secara hidup mereka tidaklah sebahagia dan secantik yang ditampilkan di media sosial. Sama halnya seperti orang-orang yang berusaha menginspirasi dan memberi semangat ke orang lain, sementara di saat yang sama sebenarnya dia juga sedang butuh pencerahan, inspirasi, dan suntikan semangat. Been there done that. Sebaliknya, ada orang-orang yang berpenampilan biasa saja, tapi mereka justru orang-orang yang bahagia seutuhnya, mereka juga memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga dan lingkungan sosial mereka, bahagia menjadi diri mereka sendiri tanpa berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda.

Dengan demikian bukan berarti media sosial bisa dijadikan tolok ukur kebahagiaan dan pengakuan, or even worse, pencitraan. Sangat mudah ‘menciptakan’ hidup yang ‘ideal’ melalui filter yang impresif di media sosial. Karena tujuan media sosial selain untuk mengekspresikan diri, juga bisa berfungsi sebagai sneak peek atau penggalan hidup sang pengguna, di mana hal itu dapat menjadi indikator kepribadian, pun status sosial ekonominya.

Di balik itu semua, saya pribadi setuju bahwa media sosial dapat menjadi salah satu bagian dari personal branding dan sangat sayang kalau tidak dimanfaatkan sama sekali di era yang makin kompetitif ini. Bagi orang-orang yang berjiwa enterpreneur, publisitas dan exposure akan mempunyai peran yang sangat bagus jika dimaksimalkan penggunaannya.

Itulah mengapa terlalu mendalami peran dalam sandiwara pencitraan hanya demi berlomba mendulang followers, meraup ‘likes’, serta memancing pujian yang sebenarnya bukanlah kehidupan nyata itu sedikit berbahaya bagi kesehatan jiwa. Akan ada saatnya di mana kita letih berpura-pura dan ingin tampil apa adanya.

Semoga saja sebelum nafsu dan emosi mengambil alih kendali atas ujung jari kita untuk mengunggah sisi rapuh dan kelemahan kita, akal sehatlah yang mampu membantu mengurungkan niat agar harga diri tetap terjaga. Karena sesungguhnya fame dan pure itu cuma beda tipis.

Just my two cents.

Continue Reading

Spotlight: Break The Story, Break The Silence

spotlight

“If it takes a village to raise a child, it takes a village to abuse one.”
– Mitchell Garabedian –

Pffiuh, setelah seminggu berkutat dengan mata pelajaran ujian kedinasan, akhirnya malam ini sempat juga nonton film keren yang bertajuk Spotlight. Film yang sudah beberapa waktu lalu saya download tapi belum sempat ditonton.

Spotlight adalah film Amerika bergenre drama biografi (diangkat dari kisah nyata), yang disutradarai oleh Tom McCarthy, dan skenarionya ditulis oleh Tom McCarthy, bekerja sama dengan Josh Singer. Dirilis pertama kali pada tanggal 6 November 2015 oleh Open Road Films. Spotlight memenangi Academy Award untuk Best Picture dan Best Original Screenplay, dari enam nominasi total yang diperolehnya. Cerita ini dibuat berdasarkan pada serangkaian cerita oleh Tim Spotlight aktual yang sempat memperoleh anugerah Pulitzer Prize for Public Service tahun 2003. Jadi, kalau di-review, Spotlight ini semacam one to the beat-nya tahun 2015. Film sekeren itu kok ya saya baru nonton, coba!

Film ini menceritakan tentang kiprah unit jurnalis investigasi surat kabar The Boston Globe, Spotlight, yang mengkhususkan diri menangani kasus-kasus besar dan prosesnya mampu memakan waktu panjang. Tim Spotlight terdiri dari Walter Robinson (Michael Keaton), sebagai Editor, yang akrab dipanggil Robby. Disusul kemudian tiga reporter, Michael Rezendez (Mark Ruffalo); Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams); Matt Carroll (Brian dArcy James); dan Ben Bradlee Jr. (John Slattery) sebagai Deputy Editor.

Kebanyakan staf The Boston Globe, adalah orang yang lahir dan tumbuh di Boston, serta dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik yang taat. Boston adalah sebuah kota di mana hampir setengah populasi adalah Katolik. Pun halnya dengan pembaca The Boston Globe. Sedikit berkebalikan dengan editor in chief mereka yang baru, Marty Baron (Liev Schreiber), dia berasal dari Miami dan seorang Yahudi. Ini penting, sebab kasus yang ditangani itu akan memberikan dampak yang besar pada beberapa karakter di dalamnya.

Kisah diawali tahun 2001, ketika Marty Baron (Liev Schreiber) mengambil alih kendali editorial The Boston Globe. Dia mempertanyakan mengapa Spotlight tidak menginvestigasi skandal pelecehan seksual yang melibatkan instansi tertua dan terpercaya di dunia, yaitu gereja, dan mengapa pengadilan menyegel dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kasus itu? Dari sinilah jalancerita bermula.

Investigasi besar itu pun dimulai. Para jurnalis menghadapi hambatan besar, baik hambatan yang berangkat dari asumsi-asumsi mereka sendiri, maupun hambatan yang berasal dari orang-orang kuat yang mencoba untuk menghentikan mereka. Namun hambatan itu toh harus dihancurkan oleh tim demi mengungkap kebenaran, meskipun kali ini mereka harus bersinggungan dengan gereja; sebuah institusi dengan kekuatan yang luar biasa, baik secara politik maupun budaya. Sebuah institusi di mana Tuhan diyakini keberadaannya, di mana jemaat lebih memilih diam menutup mata, daripada harus melawan gereja, karena melawan gereja sama saja seperti melawan utusan Tuhan, atau justru melawan Tuhan itu sendiri. Keadaan seolah makin klop, karena gereja pun memilih menutup rapat kasus ini.

Film ini menunjukkan bagaimana laporan pelecehan anak oleh pendeta Katolik perlahan diperluas dan dibentangkan. Empat jurnalis ini bekerja spartan (pantang menyerah, disiplin, percaya diri) membongkar skandal yang bahan-bahan investigasinya pernah diterima oleh Robby 20 tahun yaang lalu,saat dia masih di desk Metro The Boston Globe.

Seorang pendeta bernama John Geoghan diduga telah melakukan pelecehan seksual kepada sekitar 80 anak laki-laki. Yang menjadi permasalahan adalah, sebenarnya Kardinal Law dari Uskup Besar Boston diduga mengetahui hal tersebut namun dia hanya mendiamkannya. Berawal dari nama satu pendeta ini, tim berhasil menguak fakta-fakta baru. Di tahap awal, ada 13 nama pendeta yang diduga melakukan pelecehan seksual sebelum akhirnya berkembang menjadi 90 nama pendeta. Kebanyakan keluarga para korban pelecehan itu diberi uang tutup mulut agar mereka diam, dan tidak ada yang (berani) mengungkap kasus itu secara nyata. Hingga akhirnya tim ini menemukan fakta yang mengejutkan bahwa kejahatan seksual terhadap anak kecil ini telah terjadi secara masif dan melibatkan jaringan gereja Katolik global. It is a city-wide problem.

Fenomena gunung es, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kasus ini. Sebagaimana telah tersebut di atas, jumlah pelaku pelecehan seksual ini bukan hanya satu, tapi puluhan orang. Bayangkan, jika dari satu pelaku saja sudah memunculkan banyak korban, bagaimana jika pelakunya ada puluhan? Kasus yang sedang coba mereka ungkap ini barulah sebatas kasus yang mencuat ke permukaan saja, Tom McCarthy secara eksplisit memaparkan data-data skandal yang belum terbongkar di lebih dari lima puluh tempat di dunia. Horor!

Semua anggota tim bekerja semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus ini. Lihat saja usaha Mike Rezendes ketika mengejar seorang pengacara nyentrik bernama Mitchell Garabedian (Stanley Tucci) demi mendapatkan informasi yang diperlukan. Walaupun sempat mendapatkan penolakan keras di awal usahanya, Mike Rezendes tak patah semangat. Terbukti, kegigihannya itu mulai membuahkan hasil. Satu persatu informasi yang dibutuhkan pun mulai terkumpul, bahkan dia bisa bertemu dengan sumber informasi Si Pengacara, Patrick McSorley (Jimmy LeBlanc). Saya terkesan dengan cara Mike menggali informasi, dan memperlakukan sumber informasinya. Dia bukan hanya mendengarkan mereka dengan telinga, tapi juga dengan hati, penuh empati.

Perjuangan Sacha demi melakukan wawancara dengan para narasumber pun tak selalu berjalan lancar. Berbagai penolakan dihadapinya. Seperti ketika Sacha mencoba menghubungi salah satu pendeta yang masuk dalam daftar tersangka, Ronald Paquin (Richard O’Rourke), seorang pensiunan imam, yang sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan Sacha dengan jujur dan ramah. Namun tetap saja dia membela diri, alasannya melakukan tindakan itu karena dulu dia pun adalah korban pelecehan seksual. Sayangnya wawancara itu terpaksa terhenti karena seorang perempuan bernama Jane Paquin (Nancy E. Carroll) tiba-tiba muncul dari balik pintu, dan meminta Sacha untuk tidak melanjutkan wawancara.

Adegan yang menyedihkan juga terjadi ketika Joe Crowley (Michael Cyril Creighton), yang sejak kecil menyadari dirinya gay itu ternyata dimanfaatkan oleh seorang pastor bernama Shanley. Bukan hal mudah untuk menceritakan kembali hal pahit yang menimpanya di masa kecil, tapi bagaimana pun demi mengungkap kasus yang telah memakan banyak korban ini, dia harus menekan rasa traumanya itu.

Ada satu adegan yang menarik di film ini. Ada sebuah grup di mana para korban pelecehan seksual itu berkumpul. Phil Saviano adalah ketua perkumpulan tersebut. Dia juga menceritakan hal apa saja yang telah dilakukan oleh para pastor tersebut ketika dia masih kecil kepada tim Spotlight. Saviano kecil menganggap pastor adalah orang baik, semacam perwakilan Tuhan di dunia. Pelaku, yang notabene jauh lebih tua secara usia, dan dianggap lebih paham dalam hal pengetahuan agama, memposisikan dirinya sebagai orang suci yang jauh dari dosa, dan ‘dekat’ dengan Tuhan. Melalui akses inilah otak cabul para pemuka agama itu bekerja memperdaya para calon korban yang usianya jauh di bawah mereka, dan pengetahuan agamanya masih jauh dari cukup.

“I was eleven. And I was preyed upon by father David Holly in Wester. And I don’t mean ‘prayed for’, I mean ‘preyed upon’.”

Awalnya, saya menduga cerita dalam film ini akan disajikan secara rumit, dan dengan alur cerita yang membosankan. Tapi ternyata dugaan saya salah, kerumitan yang muncul di film ini ternyata tidak se-complicated yang saya perkirakan. Kerumitan yang masih relatif mudah dipahami. Sekalipun film ini mengusung tema yang sensitif tapi alur ceritanya tetap nyaman untuk diikuti.

Spotlight menunjukkan bagaimana kerja yang sesungguhnya di dunia jurnalistik itu. Tom McCarthy memotret kinerja institusi media dengan sangat cermat. Usaha jurnalisme dalam menggali dan membawa ketidakadilan ke pusat perhatian publik terasa sangat tajam di film ini. Semua tersaji dalam takaran yang tepat, rapi, sistematis, dan proporsional, tanpa kesan eksploitatif yang berlebihan atau kurang sopan. Spotlight menggarisbawahi salah satu fungsi media sebagai alat kontrol sosial. Jika ada kejahatan dan terjadi secara sistemik, IMHO, sudah selayaknya medialah yang harus menjadi pencerahnya, bukan malah ikut bermufakat dengan golongan pelaku kejahatan.

Mengubah budaya tertentu memang bukan hal yang mudah, tapi jika memang diperlukan, ya harus dilakukan.

 

 

 

sumber ilustrasi dari IMDB

Continue Reading

Tentang Demo Angkutan Umum Itu

Selasa (22/03/2016) lalu, di Jakarta terjadi demo para pengemudi angkutan umum secara besar-besaran. Isu demo ini saya dengar juga dari pengemudi taksi Express yang saya tumpangi menuju arah pulang kantor sehari sebelumnya.

Sebagai pengguna harian berbagai sarana transportasi massal (kecuali kereta api), saya lumayan agak mikir juga, kira-kira pas ngantor besok saya naik apa, ya? Setiap harinya, kalau kebetulan suami nggak bawa motor ya saya berangkat naik taksi atau pesan ojek online untuk mengantar saya ke kantor. Pun demikian halnya ketika pulang. Sejak adanya ojek online saya lebih sering memesan ojek via aplikasi ketimbang naik armada lainnya. Dulu, sebelum ada ojek online saya memilih naik Transjakarta, atau kalau sedang malas jalan ke halte Harmoni/Monas, pulang agak telat, atau sedang hujan deras, saya pilih praktisnya saja, naik taksi.

Penggunaan berbagai alat transportasi berbasis aplikasi online sejauh ini sebenarnya sangat memudahkan konsumen. Ngomong-ngomong, dulu sebelum ada Gojek, Uber, Grab, dll, saya adalah pengguna setia aplikasi online-nya Bluebird. Mengingat saya dulu tinggal di rumah mertua yang ‘nun jauh di sana’; maksudnya jauh dari jalan raya gitu. Jadi kalau mau mau pesan taksi saya prefer menggunakan aplikasi, ketimbang telepon ke callcentre, atau jalan ke depan gang. Selain itu pesan via aplikasi bisa dipantau sudah sampai mana taksinya, nyasar/enggak, dan bisa ditelepon kalau memang drivernya kebingungan cari alamat kita. Jadi intinya sih penggunaan teknologi yang bisa dimanfaatkan secara online oleh konsumen itu sudah ada dari sebelum ada Gojek, Uber, Grab, dll. Cuma mungkin belum maksimal, belum banyak yang familiar, dan belum banyak yang install. Mungkin, ya.

Sempat ngobrol juga dengan pengemudi taksi yang saya tumpangi kemarin sambil menunggu kemacetan di bilangan Semanggi terurai,

+ “Emang kalau pada demo semua, perusahaan nggak rugi, Pak?”
– “Ya kan perusahaan yang nyuruh, Mbak. Ya mungkin mereka sudah paham konsekuensinya apa…”
+ “Emang yang demo pada dapat apaan?”
– “Ya paling makan siang sama minum doang, Mbak”
+ “Boleh nggak kalau nggak ikut, atau semua harus ikut demo?”
– “Harus, Mbak. Kalau ada yang narik ya penumpangnya harus diturunin…”
+ “Wah, tega dong, ya? Kalau ternyata isinya ibu-ibu bawa bayi/anak kecil gimana, Pak? Nekat diturunin juga?”
– “Ya kan sudah ada kesepakatan sebelumnya kalau memang besok nggak boleh ada yang naikin penumpang. Besok juga rencananya mau ada sweeping mobil Xenia dan Avanza, Mbak. Kan kebanyakan taksi online pada pakai armada itu.”
+ “Emang demo yang sebelumnya belum ada solusinya apaan gitu?”
– “Belum, Mbak. Makanya masih pada mau demo. Solusi dari menterinya juga ya gitulah, ngambang nggak jelas gitu. Besok itu rencananya demo besar-besaran tapi ya udah itu demo terakhir, nggak akan ada demo-demoan supir taksi lagi…”
+ “Ooo… “

Saya pun manggut-manggut sambil tetap mikir, besok saya ke kantor naik apa ya? Bisa sih naik motor bareng suami, tapi dianya kasihan, bakal muter-muter. Kantor saya di sekitaran Monas, lha suami di Sudirman, arah baliknya ke Sudirman yang lewat Kanisius itu yang suka bikin BT macetnya. Tapi ya sudahlah, urgent ini. Sekali-kali ribet nggak apa-apalah…

Ndilalah Senin malam saya harus mengantar Alea ke RS Medistra lantaran demam tinggi hampir 40 derajat celcius. Walaupun keesokan harinya suhu badan Alea sudah turun tetap saja saya harus stand by, kalau-kalau suhu badannya naik lagi. Padahal hari itu saya sudah diagendakan oleh Biro Keuangan untuk memandu acara sosialisasi tentang SPT Tahunan Pajak Penghasilan, dan pagi itu pun saya sudah siap mau setrika baju kerja, tapi ya sudahlah, demi anak, saya pun batalkan jadwal ngemsi saya, bagaimana pun kondisi kesehatan anak jauh lebih penting. Beruntung ada cadangan MC yang bersedia menggantikan saya hari itu.

Kembali lagi ke demo supir taksi, dalam hati saya merasa bersyukur tidak jadi ngantor hari itu. Ribuan sopir taksi Indonesia telah membawa kemacetan luar biasa di jalanan protokol ibu kota dalam aksi protes terhadap Uber dan aplikasi angkutan umum online. Bukan itu saja, suasana demo juga terpantau chaos, dan anarkis. Inti demo hari Selasa kemarin adalah permintaan penutupan layanan transportasi berbasis aplikasi untuk beroperasi di Indonesia karena dianggap ikut berkontribusi dalam menyebabkan penurunan pendapatan bagi perusahaan angkutan umum konvensional.

Entahlah, saya juga tidak bisa berkomentar jauh tentang aksi protes ini. Yang terbayang dalam pikiran saya, dari demo kemarin, IMHO, kalau memang dianggap berbenturan dengan peraturan, ya seharusnya bisa dong dibikin peraturan untuk layanan transportasi berbasis aplikasi online ini, bikin rule-nya. Jadi solusinya bukan asal langsung cabut atau larang. Dengan adanya poliferasi (pertambahan secara cepat) jasa transportasi berbasis online ini emang sudah waktunya pemerintah membuat batasan regulasi, aturan main yang jelas agar mereka tetap terlindungi secara hukum dan tidak melanggar undang-undang.

Just my two cents.

Selamat ber-long weekend, teman!

Continue Reading
1 2 3 97