Haruskah Bisa Memasak?

Beberapa waktu lalu, linimasa Twitter diramaikan oleh postingan status dari akun @selphieusagi yang mengatakan, “Udah 2018, masih complain cewek ga masak. Coba ngaca aja, lo bisa dan mau benerin atap bocor, nggak? Keran rusak? Listrik korslet? TV ga bisa nyala? Apa ujung-ujungnya panggil tukang juga?”

Tentu saja cuitan ini mengundang reaksi dan respon warganet. Sebagian menanggapi positif, sebagian lainnya bereaksi sebaliknya. Kalau saya ditanya ada di pihak yang mana, saya tidak ada di pihak manapun. Karena saya sendiri ada di kedua pendapat itu.

Dulu, saya adalah anak perempuan yang paling tidak menyukai dapur. Kalaupun saya terlihat ada di dapur ya karena diminta Mama saya membantu menyiapkan bahan masakan. Itupun tidak setiap hari, dan tentu saja bukan saya yang masak. Jadi, pengetahuan saya dalam bidang masak memasak sangat minim.

Beruntung sejak menikah suami juga tidak menuntut saya harus memasak untuk dia. Sebelum menikah dia sudah di-brief untuk menerima keterbatasan saya dalam hal masak-memasak. Itulah kenapa di awal pernikahan, kami lebih sering beli makanan di luar. Oh ya, bukan cuma di awal pernikahan saja, hingga beberapa tahun berikutnya pun saya masih berada di level mood yang sama kalau diminta ke dapur.

Kalau ada yang melihat saya sedang di depan penggorengan, itu sekadar membuat telur dadar atau mie instan. Kalau saya sedang mau sedikit repot ya paling bikin nasi goreng. Itu pun pakai bumbu siap saji yang tinggal campur semua bahan, langsung jadi. Iya, dulu kehidupan dapur saya semalas itu.

Tapi semuanya berubah sejak ada anak dan saya harus mengurus semuanya sendiri. Jiwa keibuan saya mulai muncul. Rasa malas tergantikan dengan rasa tanggung jawab. Kalau sayanya semalas ini, nanti anak saya makan apa? Dan ternyata perubahan itu juga berdampak kepada keinginan memasak untuk suami.

Kalau dulu saya paling anti ke dapur, sekarang justru paling rajin. Di akhir pekan, kalau mood sedang bagus, saya bisa memasak 3x sehari, pagi, siang, dan malam. Di hari kerja saya juga sempat memasakkan bekal makan siang untuk dibawa suami ke kantor. Kebetulan suami saya sedikit picky dalam hal makanan. Hanya masakan tertentu saja yang dia sukai. Tapi tidak mungkin saya memasak masakan yang itu-itu saja setiap hari. Saya pun ‘memaksa’ dia agar suka makan sayur dan buah.

Buat orang lain yang sudah terbiasa memasak hal seperti ini termasuk hal yang wajar dan biasa saja. Tapi buat seorang pemalas seperti saya tentu ini hal yang istimewa dan luar biasa.

Sedikit flashback, dua hingga tiga dekade yang lalu, perempuan harus tahu cara memasak makanan yang lezat untuk keluarganya, bahkan sebelum menikah. Mereka diajari dan dipersiapkan untuk mengurus pekerjaan domestik kerumahtanggaan yang lekat dengan stereotype gender. Ibu adalah guru alam yang menurunkan resep kepada putri mereka, yang kemudian akan memasak untuk suami mereka.

Berbeda dengan zaman sekarang, di mana perempuan merasa wajar dan biasa saja kalau tidak bisa memasak. Apalagi banyak perempuan yang hidup sebagai wanita karier, sehingga waktu untuk memasak lebih sempit lagi (baca: tidak sempat, karena harus berkejaran dengan waktu). Ditambah dengan adanya berbagai dukungan aplikasi dalam mencari/membeli makanan favorit via online. Zaman sekarang para pengguna aplikasi serba dimanjakan dan dimudahkan. “Kalau bisa beli kenapa harus masak?”, “kalau ada yang gampang, kenapa harus ribet?”, menjadikan memasak bukan lagi suatu syarat mutlak untuk menjalani kehidupan berumah tangga.

Sebenarnya memasak itu tidak terlalu sulit, semua bisa dipelajari. Apalagi zaman sekarang mencari resep online masakan apapun sangat mudah, lengkap dengan cara pembuatannya. Soal enak tidak enak itu kembali ke soal selera. Alah bisa karena biasa.

Malas ke pasar pun bukan lagi alasan. Sudah ada situs belanja bahan makanan online yang sangat membantu ketika kita sedang tidak ingin ke mana-mana tapi tetap ingin membuat sesuatu di dapur. Tapi lagi-lagi semua terpulang pada niatnya.

Sama halnya tentang perdebatan tiada akhir antara sufor dan ASI, working mommies atau stay at home mom, lahiran normal atau caesar, dan hal lain yang sebenarnya cuma masalah pilihan hidup. Pun tentang haruskah perempuan bisa memasak atau tidak, ikut dalam topik yang diperdebatkan. Padahal semuanya tergantung pribadi masing-masing. Istri bisa masak alhamdulillah, tidak pun seharusnya tak apa-apa. Selama ada yang memasakkan, atau mampu membeli makanan secara online, dan yang penting keluarga bisa menerima, ya seharusnya tidak ada masalah.Life is full of choices, right? Choose it wisely.

Kalau saya sendiri berpendapat, seorang perempuan tidak harus jago masak layaknya seorang chef, tapi minimal bisa. Hal itu akan sedikit menguntungkan, apalagi yang hidup dalam kondisi serba pas-pasan. Seorang istri yang bisa memasak akan sangat membantu melonggarkan urusan keuangan, karena tidak perlu membeli makanan di luar. Lebih dari itu, kelak salah satu hal yang akan dikenang oleh anggota keluarganya dari seorang ibu adalah masakannya.

Jadi teringat sebuah film yang berjudul Ratatouille. Bicara tentang film ini tak bisa melewatkan begitu saja adegan di mana Remy Tikus menyajikan hidangan untuk Anton Ego, seorang kritikus restoran. Tak disangka-sangka ternyata sajian itu mengantarkan memori Ego ke masa kecilnya. Kenangan ketika dia jatuh dari sepeda, ibunya menciumnya, dan memberikan semangkuk besar Ratatouille yang ternyata memiliki rasa yang sama dengan yang dinikmatinya kini. Selalu ada respon emosional yang mendalam di balik masakan seorang ibu.

Saya pun sempat mengalami hal yang hampir sama dengan adegan Anton Ego itu. Pernah saya iseng memasak nasi goreng dengan resep ala Mama yang kerap dimasak zaman saya dan adik-adik masih kecil dulu. Hasilnya, yang tersaji bukan sekadar nasi goreng semata, tapi juga kenangan yang hadir menyertainya. Spontan berlompatan kenangan saat di mana kami tak sabar menunggu masakan matang. Saat kami makan dengan lahap, hingga tandas tak bersisa.

Wajar jika sebagai seorang ibu saya pun mencita-citakan hal yang sama. Kelak, ketika anak saya sudah dewasa dan hidup berumah tangga, semoga ada masakan ibunya yang menjadi favorit, yang akan dia tunggu, kenang, dan rindukan. Seperti halnya saya yang selalu rindu masakan Mama, di setiap kali mudik.

Memasak bukan semata-mata bicara tentang ego seorang ibu. Bicara tentang masakan ibu, kita juga akan bicara tentang sentimental value. Selalu ada respon emosional yang mendalam di balik masakan seorang ibu. Ada memori yang akan menguasai indera penciuman, indera perasa, dan alam bawah sadar orang-orang terkasihnya. Cita rasa yang tak akan mampu tergantikan oleh berbagai masakan restoran, atau yang dipesan melalui aplikasi online.

Sebuah perenungan mengantarkan saya pada sebuah pemikiran. Seorang ibu yang tidak suka/pernah memasak untuk keluarganya bukan berarti ibu yang tidak sempurna di mata keluarganya. Bukan pula ibu yang tidak sayang pada anak dan suaminya. Semua ibu sejatinya sempurna, karena wujud cinta seorang ibu bukan melulu dari masakan semata, tapi dari banyak hal yang tak mampu dijabarkan secara rinci satu persatu. Saya pernah menjadi ibu di fase itu, dan saya tak pernah kehilangan cara untuk mewujudkan rasa sayang dan kepedulian saya untuk keluarga.

Soal memasak juga bukan perkara suka tidak suka, mau tidak mau, sempat tidak sempat, mampu tidak mampu, atau saling tuding ini lebih layak menjadi tugas dan kewajiban siapa. Lebih dari itu. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan kelezatan masakan yang dimasak dengan sepenuh hati. Apalagi yang disiapkan oleh orang yang mencintai kita tanpa syarat.

Tak peduli sesederhana apapun makanan yang disajikannya, tapi itulah salah satu cara seorang ibu mengekspresikan cintanya pada keluarga.

Love in a bowl, care of Mom.

Just my two cents….

 

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Lebih dari Sekadar Menahan Diri

“Habis nikah badan kamu kok jadi lebaran sih?”
“Kamu pas hamil kok jadi jelek gini?”
“Itu pipi atau bakpao, kok bulet amat?”

atau

“Buset, itu badan apa lidi? Kurus banget! Makan gih, sana!”
“Sekali-kali makan hamburger, atau apalah yang enak, sana lho, biar badan nggak kaya orang cacingan…”
“Itu siapa sih, item banget? Gede banget pula badannya…”

 

Pasti komentar-komentar seperti itu sudah kerap kita dengar dari orang-orang di sekitar kita, ya. Atau bahkan mungkin kita adalah salah satu orang yang pernah tanpa sadar telah/masih melakukan body shaming kepada orang lain.

Body shaming/bullying, merupakan tindakan perundungan, mengasingkan, membedakan, atau mengolok-olok orang yang memiliki badan/penampilan yang dianggap kurang memenuhi standar ideal. Semacam bias individu terhadap orang- orang yang dianggap tidak menarik, bodoh, malas, atau kurang kontrol diri.

Meskipun laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang sama besar dalam hal menerima perundungan tentang body shaming, namun survey mengatakan frekuensi perempuan yang terkena dampak jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki. Tak heran, karena selama bertahun-tahun ada objektifikasi perempuan, di mana idealnya penampilan seorang perempuan harus terlihat sempurna bak model. Jadi siapapun yang tidak sesuai dengan harapan tersebut berarti ada di bawah pengawasan dan kritik masyarakat.

Banyak orang beranggapan bahwa body shaming cuma bagian dari lelucon ringan atau obrolan iseng semata. Padahal sebenarnya tanpa kita sadari, komentar dan lelucon itu memiliki konsekuensi yang sangat besar bagi yang menerima. Lebih jauh, pernyataan-pernyataan ini sesungguhnya bisa memberi dampak pada kesehatan mental seseorang. Lebih serius lagi bisa mengarahkan mereka kepada depresi, kecemasan, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah tahu latar belakang hidup seseorang. Jadi sebelum berkomentar ini itu, meminta seseorang menambah/mengurangi makan, coba tahan diri dulu, pikirkan baik-baik. Siapa tahu di balik penampilannya yang mungkin baik-baik saja bisa jadi dia tengah berjuang melawan bulimia, anoreksia, atau body dimorphic disorder.

Ada seorang teman yang dulu sering kali mendapat komentar kurang menyenangkan tentang bentuk tubuhnya. Hampir setiap hari ada saja komentar yang mengatakan kalau dia itu gemuk, lebar, besaran, dan istilah lain yang sejenis. Hingga lama kelamaan tertanamlah afirmasi dalam pikirannya bahwa badannya memang gemuk, terlalu lebar untuk ukuran manusia normal, dan bahkan obesitas. Parahnya, dia mulai terserang self-loath (membenci diri sendiri), bahkan menyamakan bentuk tubuhnya dengan babi.

Seringkali dia coba cuek dengan berbagai komentar itu. Bahkan tak jarang dia mencoba menanggapi balik becandaan tentang tubuhnya itu dengan becandaan balik atau komen santai lainnya.

Namun toh pada akhirnya dia pun menyerah. Dia cuma manusia biasa yang punya batas rasa sabar. Kalau komentar tentang bentuk tubuhnya itu hanya terdengar sekali dua kali, mungkin belum jadi masalah yang serius. Tapi kalau komentar itu hampir setiap hari didengar, baik yang diucapkan secara personal maupun ketika bercanda di depan banyak orang, tentu dampaknya jadi lebih serius.

Akhirnya, si teman ini pun bertekad, “fine, gue harus kurus! Biar gue nggak dikata-katain sama orang lagi!” Ya, motivasinya adalah ingin kurus, bukan lagi semata-mata ingin menjalani pola hidup sehat.

Tanpa buang waktu, dia pun mulai mendaftarkan diri menjadi member di salah satu pusat kebugaran. Bukan itu saja, diet ketat pun mulai dia jalani. Beberapa jenis minuman/obat herbal pelangsing pun coba dikonsumsinya, walaupun seringkali berakhir lemas di toilet karena diare parah.

Walaupun kondisi badannya sudah mengajukan protes, dia tak peduli. Sekilo saja angka di timbangan terlihat berkurang, dia sudah sangat bahagia. Angka timbangan jadi parameter diet dan olahraga sukses, Bentuk tubuh ideal pasti akan terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Andai ada opsi tubuh impian itu bisa didapat dalam tempo sehari semalam mungkin dia akan menggunakan opsi itu tanpa pikir panjang.

Nyatanya, antara harapan dan kenyataan kadang tidaklah selalu berbanding lurus. Imbas segala aktivitas olahraga superkeras dan diet superketat itu justru mengantarkannya ke rumah sakit. Dia ditemukan tergeletak pingsan di lantai pusat kebugaran lantaran kecapekan dan pola makan yang berantakan. Dia pun dirawat di rumah sakit seminggu lamanya karena thypus.

Sepulang dari rumah sakit ternyata kondisi kesehatannya jadi jauh lebih rapuh ketimbang sebelumnya. Jadwal menstruasi yang awalnya teratur menjadi berantakan, dia juga kerap dilanda sesak nafas, sering mengalami gangguan pencernaaan, rentan terserang demam, flu, mood swing, emosional, dan parahnya dia mulai mengalami insomnia.

Sekalipun dia berusaha tampil normal, namun ketika dia tanpa sengaja melontarkan kalimat, “kenapa ya, kok kayanya hidup aku nggak pernah happy?” seolah menjadi indikator bahwa dia sedang mengalami stress berat.

Sebenarnya faktor pemicu body shaming sendiri bukan hanya berasal dari lingkungan sekitar. Media pun turut andil dalam membangun dan menyosialisasikan tentang citra standar kecantikan yang ideal. Pun halnya internet dan media sosial yang dipenuhi dengan unggahan bertema ‘thinspiration‘.

Bukan itu saja, dalam industri fashion juga ada promosi ukuran nol. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Phoebe R. Apaegyei menyebutkan bagaimana media menghubungkan antara kelangsingan dan kebahagiaan, ditunjang dengan berbagai penelitian yang mendukung hal tersebut.

Banyak di antara kita lupa, bahwa kesehatan dan kecantikan tidak ditakdirkan hadir dalam satu paket. Tanpa sadar, kita merusak kesehatan hanya untuk mencoba mencapai standar kecantikan populer.

Manusia dianugerahi keunikan masing-masing yang tidak mungkin sama antara yang satu dengan yang lain, baik dari bentuk fisik, sifat, karakter dasar, hingga perbedaan perasaan, keinginan, harapan, dan kepentingan.

Sudah saatnya kita belajar menahan diri untuk tidak lagi melakukan body shaming apapun bentuknya. Perlu diciptakan kesadaran bahwa hal-hal yang berhubungan dengan penyakit mental itu salah satu penyebabnya karena adanya perundungan terhadap penampilan fisik.

Penting bagi kita memiliki perspektif yang luas dalam hal penerimaan segala jenis bentuk dan warna tubuh tanpa harus saling mengomentari perbedaan fisik satu sama lain. Apapun bentuk dan jenis perbedaan itu sesungguhnya kita tetap makhluk Tuhan yang diciptakan paling sempurna.

 

 

 

gambar dipinjam darisini

Continue Reading

Selamat Jalan, Pa…

“His heritage to his children wasnt words or possessions, but an unspoken treasure, the treasure of his example as a man and a father.

— Will Rogers Jr. —

Pagi itu, jalanan Jakarta tak seperti biasanya, lengang. Wajar, karena hari itu bertepatan dengan libur nasional, 1 Juni 2018. Di saat yang sama saya juga tengah menjalankan tugas di kantor sebagai pembawa acara di upacara peringatan Hari Lahir Pancasila. Walaupun jalanan lengang, namun tak demikian halnya dengan pikiran dan benak saya. Ada kecamuk rasa galau di sela menjalankan tugas, terutama setelah mendengar Papa kembali masuk rumah sakit untuk yang kedua kalinya pasca pulang umrah.

Selepas umrah di tanggal 5 Mei 2018, kondisi Papa pelan-pelan mulai menurun. Diawali dengan keluhan di lambung yang menurut diagnosa dokter mengalami peradangan, berlanjut ke keluhan-keluhan kesehatan lainnya. Namun yang membuat hati saya tidak tenang adalah, kali ini Papa sempat tak sadarkan diri sehingga harus dirawat di ruang ICU.

Selepas upacara, saya pun segera memesan tiket sembari mengemasi beberapa barang bawaan dan pakaian seperlunya untuk dibawa pulang ke Sidoarjo, dengan harapan semoga Papa segera pulih.

Sesampainya di rumah sakit, nyatanya bukan hal yang mudah saat menyaksikan tubuh yang dulu gagah perkasa, kini terbaring lemah digerogoti penyakit hingga tak berdaya, pasrah dalam bantuan alat-alat medis. Dan ketika perawat mengizinkan saya masuk ke ruang High Care Unit tempat Papa dirawat, saat itu pulalah air mata tak mampu saya bendung. Laksana mendapat tamparan keras yang bertubi-tubi, tangis saya pun pecah.
“Maafkan Devi yang tidak mampu menjaga Papa dengan baik, ya…”

Tiba-tiba kenangan bersama Papa satu persatu berlompatan dalam ingatan saya. Kenangan tentang bagaimana Papa mengenalkan bahasa Inggris kepada saya, mengiringi saya menyanyi dengan menggunakan gitar kesayangannya, membelikan buku-buku dongeng dan kaset Sanggar Cerita. Tentang bagaimana Papa merespon pertanyaan konyol saya di tengah malam buta tentang kemungkinan saya jadi seorang model kelak ketika saya dewasa nanti. Tentang bagaimana ekspresi kekhawatiran Papa ketika melihat saya menangis dengan jari telunjuk yang berdarah-darah, gara-gara saya jepret sendiri dengan menggunakan stapler. Saking penasarannya saya tentang fungsi alat ini.

Dan yang paling mengharukan adalah bagaimana perjuangan Papa menyediakan air bersih untuk kami sekeluarga lantaran hampir di setiap malam air di rumah kami selalu mati. Terbayang bagaimana Papa harus berjuang mengalahkan dinginnya malam, menempuh jarak 1 km bolak-balik, mengisi jeriken demi jeriken hingga penuh, menaikkannya ke atas motor, menuangnya ke dalam bak kamar mandi kami hingga penuh supaya bisa kami pakai untuk kebutuhan sehari-hari esok pagi. Itu semua dilakukan setiap hari tanpa mengeluh. Teringat pula saat Papa mengantar jemput saya ketika masih sekolah, bahkan ketika saya pulang kerja. Iya, waktu saya masih kerja di Malang. Dan bahkan pernah, ketika motor kami hilang, Papa pun tetap menjemput saya dengan naik angkot. Masyaallah, sesayang, sepeduli, dan semelindungi itu Papa sama saya

Dan, malam itu pahlawan keluarga kami meringkuk dalam balutan selimut rumah sakit warna cokelat. Sosok yang dulunya gagah tegap itu kini nyaris tinggal tulang berbungkus kulit. Dengan penuh perjuangan menekan emosi, saya bisikkan lembut ke telinga Papa,

“Pa, ini Devi datang sama Alea dan Echa. Pa, besok papa harus sehat, ya. Kan besok aku ulang tahun. Aku nggak minta kado apa-apa selain besok Papa bangun dalam keadaan sehat. Ya, Pa, ya…Nanti kalau Papa udah sehat, kita jalan-jalan lagi, yuk! Sekarang Papa bobo aja dulu, besok pagi pas aku ke sini Papa bangun, ya…”

Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir saya malam itu sesungguhnya untuk memberi sugesti pada diri saya sendiri. Sugesti bahwa Allah masih memperkenankan saya punya Papa esok hari. Sugesti bahwa besok pagi, saya bisa diberikan kesempatan untuk berulang tahun bersama Papa. Saya percaya walaupun dalam keadaan tidak sadar, Papa mendengar apa yang saya bisikkan tadi. Malam itu saya pasrahkan segenap doa dan harapan saya kepada Tuhan. Karena di saat seperti ini hanya keajaiban doa dan perkenan Tuhan saja yang mampu membangunkan Papa keesokan hari.

Keajaiban itu nyata adanya. Di pagi buta, adik saya Echa yang semalaman menjaga papa di rumah sakit mengabari via pesan singkat Whatsapp kalau Papa sadarkan diri, sempat membuka mata, dan bahkan sempat menitikkan air mata.

Masyaallah… Tuhan mendengar ‘obrolan’ saya dengan Papa semalam. Tuhan memperkenankan Papa bangun di hari istimewa saya, 2 Juni 2018. Dengan penuh semangat saya pun bergegas menuju rumah sakit yang kebetulan jaraknya tak jauh dari rumah. Cukup berjalan kaki selama 10 menit saja saya sudah tiba di rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, emosi saya teraduk-aduk. Ada banyak rasa yang berkecamuk. Semacam paduan rasa bahagia, haru, namun sekaligus sedih luar biasa. Entah kenapa, jauh di sudut hati saya merasa inilah ulang tahun terakhir saya bersama Papa. Semacam firasat yang ingin saya enyahkan jauh-jauh.

Papa melihat kedatangan saya dari balik gordyn pemisah pasien. Beliau tersenyum samar di balik alat bantu pernapasan. Terlihat ada setitik air yang menggulir di sudut mata, yang segera dihapus oleh Echa, adik saya.

“Assalamualaikum, Papa…”

“Waalaikumsalam… Vi, selamat ulang tahun, ya. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan
dilindungi Allah SWT. Aamiin…”

Kalimat-kalimat itu terucap dengan susah payah, meluncur di antara lidah yang sudah kelu, suara Papa nyaris tak terdengar. Saya mengamininya dalam keharuan luar biasa dan dalam tangis yang setengah mati saya tahan agar tidak tumpah ruah. Saya peluk lembut tubuh ringkih berbalut selimut cokelat itu, sembari menyelipkan ucapan terima kasih karena Papa sudah menyempatkan diri untuk sadar, siuman, bahkan mengucapkan selamat ulang tahun. Kado yang luar biasa indah dari Papa sekaligus Tuhan.

Hari itu kami bertiga berada di sisi Papa lengkap. Di moment itu kami saling mengungkapkan apapun yang selama ini tidak pernah (sanggup) kami ungkapkan di depan Papa. Rasa sayang kami, rasa cinta kami, rasa terima kasih dan penghargaan kami kepada Papa atas semua yang telah beliau berikan kepada keluarga. Walaupun lebaran masih kurang beberapa hari, tapi kami sudah saling meminta maaf dan memaafkan lebih dulu. Sembari menata dan mempersiapkan hati jika hari itu ternyata menjadi hari terakhir kebersamaan kami bersama Papa.

Ibarat nyala lilin yang sesaat sebelum padam, nyalanya akan membesar sesaat. Seperti itulah yang terjadi pada Papa. Fenomena lilinnya Papa itu ternyata di hari ulang tahun saya. Hasil ngobrol bareng Mastein , fenomena lilin itu semacam sebuah kondisi pasien yang sedang sakit parah, terlihat seolah-olah membaik, bisa diajak ngobrol, dll, sebelum akhirnya kondisinya kembali menurun, dan lalu berpulang.

Setelah dirawat kurang lebih 6 hari lamanya, Papa mengembuskan napasnya yang terakhir tepat setelah saya selesai membacakan surat As Sajdah di samping beliau, diiringi bisikan kalimat syahadat yang tak putus-putus di telinga beliau oleh kedua adik saya secara bergantian, di hari Rabu, 6 Juni 2018, pukul 16.24 di Rumah Sakit Umum Daerah
Sidoarjo, dalam usia 72 tahun.

Walaupun kami sudah menyiapkan mental sedemikian rupa, tetap saja bukan hal yang mudah untuk menerima kenyataan bahwa kami sekarang sudah menjadi anak yatim. Bahkan untuk menceritakannya kembali di blog ini pun saya butuh waktu yang lama sekali.

Tapi di balik ini semua kami bersyukur bahwa ada banyak kebaikan yang menyertai kepergian Papa. Papa pergi sepulang umrah, tidak terlalu lama sakit, dan alhamdulillah diberikan sakratul maut yang mudah. Bahkan kami yang mendampingi Papa pun nyaris tak sadar kapan Papa mengembuskan napasnya yang terakhir. Dan yang membuat terharu adalah sampai pukul 2 dini hari pun masih banyak yang takziah mendoakan, baik dari
tetangga, kerabat, teman SMA Papa, dan teman-teman dari Persaudaraan Setia Hati Terate. Masyaallah…

Konon, rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Tapi kami yakin dan percaya, bagaimana pun pedih dan sakitnya sebuah rasa kehilangan, Tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan.Tuhan selalu menyediakan cara untuk memulihkannya kembali.

Terima kasih untuk segala hal baik yang telah Papa lakukan semasa hidup untuk kami. Walaupun raga Papa tak lagi ada bersama kami, doa kami tak akan pernah putus buat Papa. Istirahatlah dengan tenang di sana ya, Pa. Jangan pernah khawatirkan kami, karena percayalah, para malaikat kecilmu ini telah menjadi anak-anak tangguh lebih dari yang Papa bayangkan.

Selamat beristirahat. Semoga kelak kita bertemu di surga-Nya ya, Pa…

 

 

 

PS: ditulis tepat di hari ke-40 kepergian Papa

Continue Reading

Ketika Alea Ikut Ke Kantor

 

Sesungguhnya, membawa anak ke kantor ketika sedang tidak ada support village itu bukan perkara mudah. Apalagi jika itu dilakukan setiap hari selama hampir satu bulan setengah. Banyak cerita yang ‘nano-nano’ ketika membawa anak ikut ke kantor. Tapi bagaimanapun, profesionalisme baik sebagai ibu maupun sebagai pegawai kantoran harus tetap dijaga. Risiko seorang ibu bekerja.

Bukan kali pertamanya saya membawa Alea ke kantor. Sejak Alea balita pun sudah pernah ikut saya ke kantor kalau kebetulan eyangnya harus pulang selama beberapa waktu. Terhitung sudah hampir satu bulan ini Alea saya bawa ke kantor karena eyangnya sedang umroh, plus akungnya juga sedang sakit di Surabaya, jadi otomatis Alea tidak ada yang menjaga/mengasuh.

“Emangnya nggak ribet bawa anak ke kantor?” Pertanyaan itu pasti ada. Jawabannya, ya awalnya pasti ribetlah. Tapi dinikmati saja. Salah satu proses ribetnya menjadi orangtua bekerja itu ketika anak tidak ada yang menjaga di rumah, alternatif solusinya kalau nggak orangtuanya yang cuti, ya anaknya yang dibawa ke kantor. Nah, berhubung saya tidak memungkinkan mengambil cuti sampai sebulan lamanya, ya Alea saya bawa ke kantor. Ribet dikit nggak apa-apalah. Alhamdulillah sejauh ini Alea nggak pernah rewel sih anaknya.

Salah satu cara supaya anak tetap betah di tempat kerja orangtuanya itu mudah saja. Penuhi dulu apa yang jadi kebutuhannya. Bawakan makanan dan mainan favoritnya, insyaallah anak akan nyaman. Tapi sebenarnya hal penting lainnya adalah lingkungan kerja (orangtua) yang nyaman, sih. Jujur ruangan kerja saya sebenarnya tidak nyaman untuk ukuran anak-anak. Penuh berkas, sempit, dan tidak ada lucu-lucunya. Tapi justru di situlah seninya. Semuanya tergantung bagaimana kita menjadikan anak tetap betah sampai waktu pulang tiba.

Nah, selama membawa anak ke kantor ada cerita seru apa? Oh, banyak. Tapi ada satu moment yang tidak akan saya lupakan, yaitu membawa Alea ke acara pelantikan. Deg-degan nggak, tuh? Super!

Dari awal ketika saya tahu kalau akan ada pelantikan pejabat Administrator dan Pengawas pada tanggal 2 Mei 2018, hati saya sudah gamang. Sebagaimana diketahui, hampir di setiap acara pelantikan atau acara-acara lainnya, atasan berkenan meminta saya untuk menjadi pembawa acara. Kalau saya dalam kondisi normal, sedang tidak membawa bocah sih cincay saja. Tapi jelas akan lain cerita ketika saya harus membawa Alea ke sebuah acara yang superformal. Memandu acara tentu jadi saat yang sedikit deg-degan dan mengkhawatirkan.

Durasi acaranya sih cuma 30 menit, tapi sepanjang 30 menit itulah khidmat-khidmatnya acara pelantikan. Apalagi pelantikannya dipimpin langsung oleh Menteri Sekretaris Negara. Kebayang bagaimana khawatirnya saya, kan? Memandu acara sekaligus mengawasi anak.

Jujur, saya was-was. Walaupun Alea sudah saya brief sejak beberapa hari sebelum hingga menjelang acara berlangsung, tetap saja pada praktiknya tidak semudah itu bagi balita usia 3 tahun 10 bulan itu. Apalagi ketika harus berada di tengah-tengah orang asing yang berkumpul dalam satu ruangan. Ketidaknyamanan itu menyergap Alea bahkan sejak awal masuk Gedung 3, menuju foyer Aula Serbaguna

Alea adalah anak yang tidak bisa langsung akrab dengan orang baru. Apalagi jika jumlahnya langsung banyak. Jangankan dicolek, ditanya siapa namanya saja, dia enggan menjawab. Apalagi kalau yang bertanya itu bukan orang yang dikenal. Itulah mengapa saya hanya bisa mempercayakan Alea ke beberapa teman yang kebetulan sudah dekat dengan Alea, untuk mem-back up saya.

Sebelum acara dimulai, saya cium kening Alea, usap kepalanya, dan bisikkan ke telinganya, “Nak, Mama tugas dulu sebentar, ya…”

Sepanjang acara berlangsung, doa dan wirid tak henti-henti saya baca dalam hati. Semoga Alea tidak rewel selama acara berlangsung. Mungkin terdengar egois, ya. Bagaimana mungkin saya menuntut seorang balita untuk bisa memahami acara orang dewasa yang sedang saya pandu. Bagaimana mungkin saya menuntut Alea bersikap sama dengan orang dewasa lainnya, sementara jiwanya jiwa main-main. Saya paham sebesar apa risiko yang harus saya tanggung kalau saya berani membawa Alea ke dalam ruangan pelantikan. Saya harus siap menghadapi risiko tak terduga misalnya Alea tiba-tiba rewel di tengah acara. Tapi entah kenapa, dalam hati saya yang paling dalam, saya percaya kalau Alea memahami tugas ibunya, dia paham kata-kata saya. Mungkin feeling seorang ibu, ya.

Lima menit pertama, aman. Sepuluh menit, lima belas menit berikutnya, aman. Dua puluh lima menit, hingga tiga puluh menit lengkap, alhamdulillah aman.

Luar biasa, Alea! Terima kasih, Nak…

Selama 30 menit itu Alea tidak rewel, tidak uring-uringan. Dia konsen dengan film Mini Mouse di gawai saya, hingga akhir acara. Konon, memberikan gawai kepada anak, sebenarnya kurang baik efeknya. Tapi bagi sebagian orangtua memberikan anak tontonan di gawai mungkin bisa menyelamatkan keadaan ketika dibutuhkan. Tentu saja untuk sementara waktu.

Lalu sudahkah itu saja? Berikutnya, ketika saya diminta mengajar tentang MC dan dirigen oleh Kementerian Sosial di Royal Amarroossa, Bogor. Dilema lagi, kan? Tidak mungkin saya mengajak Alea selama mengajar di kelas, sekalipun itu cuma mini class yang pesertanya cuma 10 orang. Akhirnya, senjata terakhir saya gunakan. Saya minta bantuan adik saya untuk menjaga Alea sementara saya pergi ke Bogor selama setengah hari. Alhamdulillah, adik saya menyanggupi. Pun, ketika saya harus bertugas sebagai pembaca saritilawah di acara buka bersama di lingkungan Sekretariat Lembaga Kepresidenan beberapa waktu lalu. Walaupu ada drama-drama sedikit, tapi alhamdulillah teratasi.

Kalau jadi petugas upacara Hari Kebangkitan Nasional, saya sudah izin belum bisa bertugas sebagai pembawa acara, karena akan lebih tidak mungkin lagi kalau saya harus membawa Alea ikut dalam upacara yang durasi dan prosesinya lebih lama daripada pelantikan.

Bersyukur punya atasan dan lingkungan yang sangat suportif dan kooperatif menyikapi para ibu bekerja yang dalam waktu tertentu terpaksa harus membawa anak mereka ke kantor.

Bagaimana dengan kalian? Adakah moment deg-degan ketika harus membawa Si Kecil ke kantor?

 

Continue Reading

Yakin Mau Jadi PNS?

 

“Keluarkan gadget kalian, dan coba tuliskan apa cita-cita kalian ketika masih SMA!”

Serentak, para CPNS yang sedang mengikuti kegiatan on boarding mengikuti perintah menteri mereka. Cita-cita semasa SMA dituliskan pada sebuah situs yang bisa diakses dari gawai masing-masing. Tak berapa lama, cita-cita itu tampil di layar proyektor lengkap dengan angka persentase. Hasilnya sedikit mencengangkan. Di antara sekian banyak bidang pekerjaan, PNS mendapat persentase paling besar.

Saya bertanya dalam hati, apakah jawaban mereka jujur atau hanya karena ditanya oleh seorang menteri? Apa iya, daya tarik PNS sebesar itu bagi kalangan remaja usia sekolah menengah sekarang? Apa benar, PNS menjadi pekerjaan impian millenials yang sedang —jika kata ini boleh dipakai secara longgar— idealis-idealisnya?

Entahlah.

Sedikit flashback ke masa SMA, saya sama sekali tidak pernah bercita-cita menjadi PNS. Terbersit pun tidak. Saya justru ingin berkarier sebagai bankir, public relation, atau psikolog. Walaupun akhirnya takdir berkata lain.

Tren memang bisa berubah kapan saja. Pekerjaan yang dulu diidolakan, bisa saja menjadi paling sedikit peminatnya. Sebaliknya, pekerjaan yang dulu dianggap remeh, justru menjadi karier impian anak muda.

***

Sejak terlibat sebagai panitia rekrutmen, saya jadi lebih paham karakter millenials ini. CPNS zaman sekarang tak bisa lagi diberi kurikulum pembekalan yang sama dengan angkatan sebelumnya. Era mereka berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya termasuk aneka problematika dan drama yang menyertainya.

Ada beberapa pengalaman unik mengenai CPNS millenials ini. Obrolan saya bersama Aji, misalnya. Sebelumnya, ia pernah menjadi karyawan di beberapa perusahaan swasta dengan core business berbeda-beda. Pekerjaan terakhirnya bahkan menjadi pengemudi angkutan online.

Long story short, sehari setelah menjalani program on boarding, ia mengirimkan pesan singkat melalui Whatsapp. Aji mengisyaratkan ketidaksanggupannya. Menjadi PNS menurutnya melelahkan, ditambah lagi jam kerja yang berantakan. Kalau boleh, ia ingin mengajukan mutasi ke daerah. Atau, kalau tidak boleh, lebih baik mengundurkan diri.

Selama saya menangani rekrutmen, rasanya baru kali ini ada CPNS yang belum sempat mendapat penugasan apa-apa, sudah mengeluhkan (bakal) pekerjaan. Ia galau setelah mendengar cerita dari senior-seniornya. Itulah yang membulatkan tekadnya untuk mundur.

Keesokan harinya, Aji minta izin bertemu. Mungkin supaya ngobrolnya lebih enak. Sebagai seorang kakak angkatan yang lebih dulu berkecimpung di dunia per-PNS-an, saya berbagi pengalaman sebisa saya. Saya berikan contoh-contoh umum dan sederhana sambil sesekali memberi motivasi dan semangat.

Saya berusaha membuka pikirannya bahwa pekerjaan apa pun pasti punya risiko. Ada enak dan enggaknya. Baik pegawai pemerintah maupun pekerja di sektor swasta, baik kantoran maupun freelancer. Harapan saya dari sharing session itu sederhana, ia mempertimbangkan ulang rencana pengunduran diri dan kembali fokus menjalani masa probation.

Rupanya obrolan dengan para senior di unit kerjanya merasuki otaknya lebih dalam ketimbang obrolan dengan saya. Sepanjang obrolan berlangsung, beberapa kali Aji menanyakan hal yang sama: apa saja syarat mutasi ke daerah, atau bagaimana prosedur pengunduran diri, alih-alih memperbaiki niat untuk kembali bekerja.

Alasan lain, Aji ingin menjaga ibunya di kampung halaman.

Lo, kalau memang niat awalnya ingin fokus merawat orang tua, kenapa sejak awal tidak mendaftar CPNS pemerintah daerah atau kementerian/lembaga yang memiliki kantor lebih dekat dengan domisili? Bukan kementerian/lembaga pusat yang sudah pasti bekerja di Jakarta?

Ia menambahkan passion-nya bukan di bidang pelayanan, apalagi keprotokolan. Aji lebih tertarik menjadi guru SD ketimbang petugas protokol. Ia mengaku tidak sanggup pulang larut malam, dinas ke luar kota atau luar negeri setiap hari, sehingga tak ada waktu berkumpul dengan keluarga. Omong-omong, ia belum berkeluarga. Usianya pun masih 25 tahun.

Kalau memang bercita-cita menjadi guru, kenapa tidak melamar formasi di Kemendikbud?

Ia menuturkan, rekrutmen CPNS tahun lalu tidak ada formasi di kementerian lain yang sesuai latar belakang pendidikannya. Ia lulusan D-3 Komunikasi.

Saya penasaran dengan semua alasan yang ia kemukakan, apa sih motivasinya melamar sebagai petugas protokol selain latar belakang pendidikan?

“Ya, karena dalam bayangan saya, jadi petugas protokol itu keren, Mbak…”

Duh!

Alasan lain yang tak kalah nggak nyambung adalah “saya juganggak menguasai public speaking”. Omong-omong, petugas protokol itu tidak pernah disyaratkan menguasai public speaking, lo! Justru seorang gurulah yang wajib punya skill public speaking.

“Ya, tapi kan cuma ngomong ke anak SD ini, Mbak. Lebih gampanglah. Beda kelas public speaking-nya dengan ke orang dewasa”, kilahnya.

Saya gemas meski akhirnya memaklumi. Apa pun itu, bagaimana pun itu, kalau pada dasarnya sudah tidak mau, enggan, tidak suka, alasan bisa dicari. Tak peduli logis atau tidak.

Beberapa CPNS lain yang sempat mengajukan surat pengunduran diri juga membuat alasan yang kurang masuk akal seperti ingin berkarier di swasta. Lo, kalau memang ingin kerja di swasta, kenapa ikut seleksi CPNS?

Ada juga yang beralasan akan mengikuti calon suami yang akan ditugaskan ke luar daerah. Eh, gimana? Calon suami? Calon?

Alasan yang tak kalah ajaib, seorang CPNS menyesal ikut seleksi karena sama saja membuka peluang korupsi. Menurutnya, PNS rentan dengan penyelewengan uang negara. Dia tak mau menjadi bagian penyelewengan itu.

Soal penyelewengan dan korupsi, sebenarnya, siapa saja berpeluang tanpa melihat status PNS atau karyawan swasta. Semua sejatinya tergantung iman, niat, kesempatan, dan kerja sama tim. Kalau memang ada niat, kesempatan bisa dicari, kerja sama bisa diupayakan, penyelewengan mungkin terjadi. Dan lagi, jika memang korupsi itu mudah, tentu banyak yang sudah kaya raya sejak masih CPNS.

***

Konon, millenials adalah generasi digital. Mereka lahir dan tumbuh besar dengan mengakrabi teknologi informasi. Jadi, kenapa sebelum melamar sebuah formasi pekerjaan, tidak googling dulu untuk mencari informasi? Setidaknya, supaya memiliki gambaran bagaimana bentuk, ritme, dan hal-hal teknis lain tentang formasi pekerjaan yang ingin dilamar.

Sebagai tambahan informasi, ketika seorang CPNS mengundurkan diri sebelum pemberkasan, panitia masih berhak mengajukan pengganti. Peserta dengan urutan satu tingkat di bawahnya masih punya peluang dimintakan Nomor Induk Pegawai (NIP) ke Badan Kepegawaian Negara. Namun, jika CPNS mundur setelah NIP jadi, formasi yang ia tinggalkan otomatis kosong sampai ada seleksi CPNS berikutnya. Itu pun kalau tak ada moratorium.

PNS memang tak selamanya enak. Ada kalanya mengalami hari sibuk penuh meeting seharian (baik internal maupun eksternal). Pulang larut malam karena deadline atau ada pekerjaan yang mendesak harus diselesaikan. Ada juga yang karena rumahnya jauh, pulang kemalaman, ia harus menginap di kantor. Pun tak sedikit yang terpaksa ngantor di hari libur karena tumpukan pekerjaan tak mungkin selesai di hari kerja.

Menjadi karyawan swasta pun saya kira sama. Bahkan pressure, standar, maupun target kerja di swasta bisa jadi lebih berat. Perusahaan dapat men-terminate-kan karyawan sewaktu-waktu karena performanya tak sesuai dengan harapan perusahaan. Sementara PNS, pemberhentiannya tidak semudah membalik telapak tangan karena rigiditas berbagai peraturan.

Tentu semua tergantung jenis pekerjaan dan unit kerja masing-masing. Tak semua atau setiap hari harus begitu juga. Intinya, pekerjaan apa pun pasti butuh kekuatan mental dan stamina. Itu yang belum tentu dimiliki oleh semua orang.

Ada baiknya pertimbangkan baik-baik sebelum melamar sebuah pekerjaan, sebijaksana mungkin. Termasuk memilih CPNS. Jangan melamar karena tren semata atau sekadar memenuhi permintaan keluarga. Setiap orang berhak menentukan masa depan karena diri sendirilah yang akan menjalani. Jika merasa enggan atau sangsi, lebih baik tidak mengikuti seleksi sejak awal.

Pilihlah pekerjaan yang sesuai bakat dan minat sehingga dapat bekerja dengan gembira, potensi diri jauh lebih tergali, dan karier berkembang maksimal. Kebanyakan orang berpikir, kesuksesan di tempat kerja akan membuat mereka bahagia. Padahal, saya yakin yang benar justru sebaliknya: kebahagiaan terhadap pekerjaanlah yang mengantar kita pada kesuksesan. Esensi sebuah pekerjaan sesungguhnya adalah ketika pekerjaan itu memberi nyawa bagi yang menjalani.

Jadi, yakin masih mau jadi PNS?

 

Continue Reading
1 2 3 104