Tentang Memaafkan (2)

Konon, hati manusia itu seluas samudera. Tapi dalamnya siapa tahu? Pun tentang kekuatan hati. Tak ada satupun manusia yang tahu kekuatan hati manusia lainnya. Itulah mengapa tidak semua orang memiliki sikap dan pandangan yang sama ketika harus berhadapan dengan komentar tajam dan jahatnya perbuatan orang lain.

Bagi yang terlahir dengan hati yang sekeras baja, semua hal yang membuat rasa sakit hati mungkin akan dianggap sebagai angin lalu, ya. Tapi tidak demikian dengan orang yang hatinya serapuh cangkang telur. Rasa sakit hati akan lebih rentan mendera dan meninggalkan bekas. Bukan hanya sehari, bisa berbulan-bulan, bertahun-tahun, hingga menggumpal menjadi dendam tak berkesudahan, bahkan ada yang dibawa hingga ke liang lahat.

Dari dulu saya mengklaim bahwa saya adalah seorang pemaaf. Jika ada yang menyakiti saya baik itu lewat kata maupun perbuatan, biasanya saya cepat melupakan dan memaafkan. Tapi praktiknya saya belum sepemaaf itu. Ada suatu masa di mana saya pernah menyimpan rasa sakit hati yang berkepanjangan.

Semua berawal dari peristiwa 3 tahun tahun lalu, ketika saya harus pulang mendadak karena sepulang umrah Papa masuk ruang ICU. Kondisi Papa waktu itu sudah tidak terlalu bagus. Selain karena usia, juga ada cairan di paru-paru hingga Papa mengalami kesulitan bernafas dengan lega.

Saya, adik-adik, dan Mama saling bergantian menjaga Papa di rumah sakit. Meski tetap berharap yang terbaik untuk kesembuhan Papa, tapi entah kenapa melihat perkembangan kesehatan Papa yang tidak stabil dan sempat beberapa kali menurun, membuat saya tidak berharap terlalu banyak.

Hingga ketika saya berkesempatan berjaga tepat di hari ulang tahun saya. Keadaan Papa saat itu sedikit lebih baik dan sudah dipindahkan ke ruang HCU setelah sempat tak sadarkan diri di hari sebelumnya,

“Pa, Papa pengen ngobrol atau telepon siapa gitu, nggak?”  

Dengan tersenyum Papa mengatakan kalau ingin sekali disambungkan dengan Oom (kakak kandungnya) di Jakarta, sebentar saja. Dengan sigap saya segera menyambungkan ke nomor Oom, walaupun pasti akan diterima Tante terlebih dahulu, yang penting bisa tersambung, dan dua kakak beradik yang sudah sangat lama tak bertemu ini bisa ngobrol sebentar.

Tapi siapa sangka kalau permintaan sederhana itu tidak dapat saya wujudkan hingga Papa kembali mengalami masa kritis sebelum akhirnya berpulang. Perasaan saya campur aduk, antara sedih, marah, dan menyesal.

Sejak Papa bilang kalau ingin menelepon kakaknya, tak henti-hentinya saya berusaha untuk menghubungi nomor Oom di Jakarta.  Sebenarnya selalu tersambung, walau tidak pernah diangkat. Pesan singkat yang saya kirimkan via aplikasi Whatsapp pun sebenarnya selalu dibaca karena 2 checklist biru pada pesan Whatsapp selalu terlihat. Tapi berhari-hari saya coba menghubungi nomor tersebut, namun tak jua membuahkan hasil.

Hingga selang beberapa hari setelah Papa berpulang, sebuah nomor asing menghubungi saya. Suara di ujung telepon adalah suara yang saya kenal. Suara tante yang saya pernah saya harapkan akan berkenan menyambungkan kepada Oom. Dengan suara yang agak parau beliau menyampaikan kalimat duka cita dan permintaan maaf karena tidak sempat mengangkat telepon dan membalas pesan-pesan saya lantaran terlalu sibuk mengurus rumah dan Oom yang kondisinya mulai menurun. Tante sengaja tidak mengangkat telepon saya, lantaran beliau khawatir hal itu akan mengganggu kesehatan Oom. By the way, hingga akhir hayatnya, Oom tidak pernah tahu kalau Papa sudah pergi mendahului.  

Entahlah, mungkin saat itu hati saya masih diselimuti emosi dan rasa kecewa, sehingga semua kalimat yang diucapkan Tante terdengar begitu egois bagi saya. Seolah semua ingin jadi pihak yang paling dipahami, dimengerti, dan dimaklumi. Jadi meski saat itu mulut saya memaafkan, tapi sesungguhnya tidak demikian dengan hati saya.

Selang dua tahun setelah kepergian Papa, sebuah kabar duka beredar di grup Whatsapp keluarga. Kakak kesayangan Papa ini pun berpulang menyusul hampir semua saudara kandungnya yang sudah lebih dulu pergi. Berhubung beliau dulunya adalah seorang mantan perwira tinggi TNI Angkatan Darat, maka setelah disalati sebagai penghormatan terakhir pada pukul 16.00 akan dimakamkan dengan upacara militer di Taman makam Pahlawan di Kalibata.

Gamang. Haruskah saya pergi melayat? Mampukah saya bertemu dengan orang yang dulu membuat permintaan terakhir Papa tidak terwujud? Apakah lebih baik saya berpura-pura tidak tahu saja kalau Oom meninggal dunia? Saya sempat sebatu itu, lho.

Hingga akhirnya saya ditegur oleh suami,

“Sampai kapan kamu kaya gitu? Memendam rasa sakit yang nggak perlu. Papa insyaallah juga sudah tenang di alamnya. Mama juga sudah lama memaafkan Tante dan memaklumi semua keadaan. Kenapa malah kamu yang belum bisa memaafkan? Mau kamu apakan rasa dendammu itu?”

Air mata saya tumpah bak kubangan sisa air hujan yang menjebolkan plafon rumah. Tuhan, sungguh semua rasa ini membuat saya bukan jadi diri saya. Saya yang katanya seorang pemaaf ini nyatanya adalah seorang tokoh antagonis yang kejahatannya dibalut rasa sakit hati. Rasa yang sama sekali bukan terbangun di hati, namun di kepala, yang kemudian bermetamorfosa sedemikian rupa hingga akhirnya malah membutakan diri saya sendiri.

Dengan emosi yang pelahan luruh, saya sekeluarga dan adik saya sampai juga di Taman Makam Pahlawan Kalibata menjelang magrib, karena memang upacara militer untuk beliau baru selesai. Di blok makam tempat peristirahatn Oom yang terakhir, terlihat seorang perempuan seusia Mama sedang duduk di kursi menghadap gundukan tanah yang masih merah dan penuh taburan bunga. Perawakannya kecil, matanya sembab, wajahnya pucat, dan badannya jauh lebih kurus jika dibanding dengan saat terakhir bertemu beberapa tahun lalu. Beliau adalah Tante saya.

Tante yang menyadari kehadiran kami berdua, langsung berdiri dan memeluk saya erat. Dia menangis tergugu.

Wallahualam, apakah beliau tahu apa yang saya rasa dan pikirkan, ya? Karena di sela sedu tangisnya beliau bilang begini,

“Devi, maafkan semua kesalahan Oom semasa hidup, ya. Maafkan Tante yang nggak bantu Devi buat memenuhi keinginan terakhir Papa buat ngobrol sama Oom. Maafkan keegoisan Tante waktu itu. Jujur kalau inget almarhum Papa, Tante sedih banget dan merasa bersalah. Sampaikan juga maaf Tante kepada Mama, ya. Dengan tulus Tante minta maaf… Semoga Devi berkenan memaafkan …”

Saya mengangguk dalam tangis yang tak kalah derasnya. Di sela azan magrib yang bergema, saat itu pula ego dan luka hati saya luruh bersama air mata. Permintaan maaf yang tulus sudah sewajarnya mendapatkan maaf yang sama tulusnya. Pikiran saya terbuka pelahan. Sekalipun kata maaf dari orang yang telah menyakiti itu penting, tapi sesungguhnya ada hal lain yang jauh lebih penting dari itu semua, yaitu berdamai dengan masa lalu dan memaafkan diri sendiri.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, mata saya bengkak tapi hati saya jauh lebih damai dan lapang.

Ternyata sakit hati yang selama ini saya simpan, tak malah membuat saya merasa lebih baik. Bukannya malah sembuh, rasa sakit dan kecewa yang saya pelihara itu makin menjadi-jadi. Hingga sore itu, ketika semua sudah saling memaafkan, luka-luka saya pun sembuh. Saya tidak pernah ingin mendatangi rasa sakit itu lagi.

Jadi, last but not least, bagi siapapun yang mungkin pernah tersinggung atau sakit hati atas kata-kata dan perbuatan saya, baik yang saya sengaja maupun tidak, dengan segenap kerendahan hati saya mohon dimaafkan, ya 🙂

-devieriana-

picture source mindful.org

.

Continue Reading

Sayembara Voice over MRT Jakarta Itu

Beberapa waktu lalu, Mass Rapid Transit Jakarta (MRT) Jakarta menggelar sayembara untuk mencari pengisi suara di stasiun dan kereta. Hadiahnya pun tak main-main. Bagi pemenang sayembara pengisi suara MRT Jakarta, akan mendapatkan hadiah berupa uang Rp 35 juta. Wow!

Nah, kebetulan saya ikut mengirimkan suara di sayembara itu. Walaupun agak nekat ya, karena sebelum membuat rekaman saya sudah sepenuhnya sadar kalau yang akan ikut sayembara ini pasti kebanyakan dari kalangan yang sudah berpengalaman di bidang kepengisisuaraan. Seperti contohnya penyiar, voice over talent, dan news anchor. Tapi ya namanya mencoba peruntungan, tidak ada salahnya dicoba. Siapa tahu rezeki, kan?

Namun sesungguhnya motivasi saya ikut sayembara bukan semata-mata karena ingin 35 jutanya. Tapi lebih ke menuntaskan rasa penasaran dan memberi tantangan kepada diri sendiri. Bagaimana sih rasanya suara kita bisa didengar oleh lebih banyak orang?

Jujur, hal rekam-merekam suara ini masih awam buat saya, pun halnya tentang jenis suara seperti apa yang diidealkan oleh MRT Jakarta, suara yang dianggap layak diperdengarkan di stasiun dan kereta. Sambil mereka-reka seperti apa dan bagaimananya, sayapun membuat standar sendiri tentang bagaimana suara yang seharusnya didengar oleh para penumpang MRT Jakarta. Dengan catatan standar suara saya bisa jadi berbeda dengan standar suara peserta lainnya.

Berhubung latar belakang pekerjaan saya dulunya di bidang pelayanan dan customer service, maka sebelum membuat rekaman, saya posisikan terlebih dahulu diri saya adalah sebagai pengguna layanan. Kira-kira suara seperti apa sih ingin didengar oleh para penumpang? Kalau menurut saya ya suara yang terdengar empuk, lembut tapi tidak menye-menye, ramah namun tegas, smiling voice, dan tetap informatif.

Nah, bicara soal smiling voice nih, saya sering menggunakannya ketika harus menginformasikan sesuatu yang tanpa harus bertatap muka. Tentu saja ini informasi yang netral dan bukan berita duka, ya.

Customer service terbagi menjadi dua. Customer service by online (callcentre) dan customer service offline (tatap muka). Kalau customer service tatap muka, pelanggan bisa melihat ekspresi wajah, intonasi suara, dan gesture kita secara langsung saat melayani mereka. Tapi tidak demikian dengan layanan di callcentre. Pelanggan hanya bisa mendengar suara kita. Suara yang ramah membuat pelanggan merasa dilayani dengan nyaman. Dari sanalah dasar saya membuat rekaman suara.

Kembali lagi ke proses perekaman suara hingga pengiriman e-mail. Saya melakukan proses perekaman suara di rumah (home recording) berdasarkan script yangs udah diberikan oleh MRT Jakarta. Yaitu Saya pastikan kondisi rumah dan lingkungan sekitar dalam keadaan tenang sehingga tidak ada noise yang masuk ke dalam rekaman.

Nah, berhubung sempat galau jadi ikut atau tidak, berdasarkan ketetapan hati akhirnya pengiriman rekaman dan video saat rekaman dilakukan 2 jam mendekati batas waktu akhir pengiriman rekaman. Deg-degannya setengah mati. File yang lumayan besar itu membutuhkan waktu tersendiri sampai berhasil terkirim ke alamat e-mail panitia.

Selang setelah sekian lama menunggu, akhirnya di 15 Januari 2021, 10 nama finalis pun diumumkan via akun Instagram MRT Jakarta. Nama saya memang tidak ada di sana. Tapi saya cukup berbesar hati kok menerima keputusan MRT Jakarta. Seperti yang saya sempat sebut di atas, mereka mungkin sudah punya standar suara sendiri yang dianggap ideal.

Nah, daripada file rekaman suara saya biarkan saja di HP, akhrnya saya iseng mengunggahnya di akun Instagram saya. Tak berharap banyak akan dapat respon seperti apa. Tapi ternyata semuanya di luar dugaan. Alhamdulillah banyak dukungan dan komentar positif yang saya dapatkan. Berarti sebenarnya suara saya tidaklah jelek-jelek amatlah, ya. Hanya saja memang belum rezeki saya.

Sejauh ini sih ikut sayembara voice over MRT Jakarta ini adalah kegiatan terseru selama tahun 2020 yang katanya suram ini.

Sehat-sehat ya, semuanya…. 🙂

  • devieriana –

ilustrasi gambar dari sini

Continue Reading

Upacara Daring? Kenapa Tidak?

Tahun 2020 menjadi tahun yang memprihatinkan namun sekaligus istimewa bagi bangsa Indonesia. Di tengah pandemi, ternyata kita masih bisa merayakan HUT Kemerdekaan sekalipun dalam keterbatasan.

Untuk pertama kalinya Indonesia melaksanakan upacara peringatan kemerdekaannya secara digital akibat pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih belum reda. Demi memeriahkan acara tersebut, panitia telah menyediakan 17845 undangan digital yang bisa didapatkan secara daring oleh para peserta upacara melalui link registrasi pandangistana.setneg.go.id. Bukan itu saja, para peserta upacara yang telah melakukan registrasi dapat mengikuti gladi bersih upacara dan upacara secara langsung via Zoom.

Presiden Joko Widodo hadir secara langsung dengan didampingi sejumlah pejabat dan pejabat negara di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin, 17 Agustus 2020. Dalam balutan pakaian adat Nusa Tenggara Timur, kain motif Berantai Kaif Nunkolo, Presiden Joko Widodo memimpin upacara peringatan HUT Ke-75 Kemerdekaan RI dalam suasana khidmat.

Rangkaian upacara pengibaran bendera yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 10.30 itu diawali dengan tayangan rekaman wawancara dengan mantan presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, ditampilkan pula pertunjukan musik pra-rekaman yang memberikan penghormatan kepada para pahlawan bangsa.

Dalam salah satu segmen video, penyanyi Raisa membawakan lagu “Indonesia Pusaka” dengan latar belakang tayangan sejumlah petugas medis yang tengah berjuang di garis terdepan dalam melawan penyebaran Covid-19.

Tidak seperti upacara di tahun-tahun sebelumnya, peringatan HUT RI Ke-75 ini tidak menampilkan susunan lengkap tim pengibaran bendera nasional (Paskibraka). Kalau biasanya ada 8 orang Paskibraka, tahun ini hanya ada 3 anggota Paskibraka Nasional 2020 yang bertugas untuk mengibarkan Sang Merah Putih. Semua dilakukan dalam jumlah terbatas, namun tidak mengurangi esensi dan kekhidmatan upacara itu sendiri.

Jika tahun sebelumnya seusai upacara di kantor saya langsung menuju ke Istana Merdeka untuk menyaksikan secara langsung upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, tahun ini saya mengikuti secara daring bersama 17845 undangan lainnya.

Memang jujur rasanya pun berbeda. Karena upacara via daring ini sama seperti menyaksikan upacara secara langsung melalui televisi. Bedanya, karena ini dilakukan via aplikasi Zoom, maka para peserta di bagi ke dalam beberapa room dengan beberapa MC yang mendampingi para peserta upacara hingga upacara berakhir. Selain itu, selama menunggu upacara dimulai, MC menyampaikan beberapa informasi terkait hal-hal yang berhubungan dengan upacara, dan ada gimmick berupa kuis pertanyaan seputar acara dengan hadiah berupa souvenir upacara yang akan dikirimkan ke alamat peserta yang berhasil menjawab pertanyaan.

Oh ya, ada satu hal menarik pada pelaksanaan upacara peringatan HUT Ke-75 Kemerdekaan RI ini, yaitu diberikannya anugerah penghargaan oleh MURI yang diserahkan kepada Sekretariat Presiden, Kementerian Sekretariat Negara, sebagai pemrakarsa dan penyelenggara upacara peringatan HUT kemerdekaan secara daring dengan peserta terbanyak di dunia. Sebab belum ada negara yang menggelar upacara kemerdekaan secara daring yang diikuti oleh ribuan peserta secara langsung.

Dirgahayu Indonesiaku! Mari berjuang dan menjadi pahlawan sesuai dengan porsi dan posisi masing-masing. Tidak tertular dan tidak menularkan COVID-19 adalah cara berjuang terbaik untuk saat ini.

Merdeka dari COVID-19, merdeka Indonesia!

Continue Reading

Catatan di Hari Ke-138

Tak terasa kita sudah 138 hari melakukan segala aktivitas dari rumah. Tahun yang lumayan berat bagi semua orang. Tentu masih segar dalam ingatan ketika pandemi melumpuhkan hampir seluruh negara di dunia, dan bagaimana pandemi mengubah seluruh tatanan sosial, ekonomi, budaya, hingga kepemimpinan politik.

Pandemi menjadikan semua terpaksa harus dilakukan dari rumah. Salah satunya adalah sekolah. Bukan sebuah hal yang mudah terutama bagi anak, yang nature-nya adalah bermain, menyentuk, memeluk, berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya.

Demikian halnya dengan Alea. Anak yang baru senang-senangnya bermain bersama teman-temannya ini terpaksa harus bersekolah di rumah hingga menjelang akhir masa sekolah TK-nya. Zaman sekarang, berhubung level TK saja sudah mengenal istilah wisuda, maka wisuda TK Alea pun terpaksa harus dilakukan secara daring. Semua bahan untuk pembuatan video wisuda harus dikumpulkan secara digital melalui google drive sesuai dengan format yang telah ditentukan. Semua prosesi wisuda, pengalungan medali kelulusan dan pemberian ucapan selamat pun dilakukan oleh orang tua siswa. Ya, anak-anak wisuda sendiri di rumah.

Sekalipun mereka belum paham sepenuhnya makna dan tujuan wisuda, tapi saya yakin kelak era wisuda online ini akan menjadi kenangan tersendiri ketika mereka dewasa. Ketika pandemi telah usai, dan manusia bisa kembali beraktivitas dan berinteraksi dengan manusia lainnya secara normal.

Tahun 2020 juga menjadi tahun awal Alea masuk SD. Beruntung semua proses seleksi siswa sudah dilakukan di akhir tahun 2019. Jadi siswa yang dinyatakan lolos seleksi tinggal masuk dan mulai bersekolah di tahun ajaran baru. Tentu saja proses pembelajaran masih dilakukan jarak jauh secara daring. Berbekal pengalaman di masa TK yang sudah mengena pembelajaran daring, maka ketika beralih ke SD dan masih menggunakan cara belajar yang sama, Alea relatif lebih mudah menyesuaikan. Walau tentu tidak semua anak betah berada di depan PC/laptop dalam waktu yang lama, ya.

Sesekali siswa (didampingi orang tua) harus ke sekolah, sekadar untuk mengambil bahan pembelajaran atau memenuhi jadwal vaksin. Namun, walau hanya sebentar, dan tidak sempat bertemu dengan semua teman sekolahnya, Alea gembiranya bukan main. Serindu itu dia bersekolah.

Semoga semua anak era Covid-19 ini masih betah belajar daring hingga pandemi berakhir. Dan, yang lebih penting adalah semoga para orang tua masih punya stok sabar yang berlimpah dalam menemani anak-anak belajar di rumah, ya.

Selamat menjalani tahun ajaran baru, anak-anak. Tetap semangat belajar walau masih di rumah, ya. Semangat, semuanya!

Continue Reading

Pandemi oh Pandemi

Pandemi coronavirus (COVID-19) telah menyebabkan banyak organisasi di seluruh dunia menyarankan para stafnya untuk mengisolasi diri dan bekerja dari rumah untuk mengurangi penyebaran virus. Bagi banyak orang, yang mungkin untuk pertama kalinya beralih dari tempat kerja komunal ke rumah, tentu butuh banyak penyesuaian.

Ketika sekolah dan kantor ditutup untuk sementara waktu karena wabah Coronavirus, orang tua berusaha mencari cara agar bisa melakukan tiga pekerjaan penuh waktu sekaligus, sebagai karyawan jarak jauh, sebagai orang tua, sekaligus sebagai pengajar di rumah. Tentu bukan suatu hal yang mudah, karena menjalani pekerjaannya sendiri saja sudah membutuhkan energi, apalagi menjalani sekaligus sebagai pengajar di rumah, pasti lebih membutuhkan energi ekstra.

Bekerja di rumah tentu banyak tantangannya. Tak jarang anak-anak menganggap orang tua mereka sedang tidak sedang bekerja Jadilah mereka mengajak bermain. Bagi anak-anak, keberadaan kita di rumah seolah mengibaratkan adanya ketersediaan waktu dan kesiapan kita untuk bermain atau memanjakan mereka. Padahal sebenarnya ada pekerjaan bertenggat waktu yang sudah menunggu untuk diselesaikan. Selama pandemi ini, sekalipun kita berada di rumah, tidak serta merta memberi kita lebih banyak waktu bersama keluarga, karena meskipun kita di rumah, kita juga masih bekerja. Idealnya kita perlu memberikan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, meskipun kedua hal itu akan terjadi di tempat yang sama.

Bagaimana dengan belajar di rumah? Selama pandemi berlangsung, murid belajar via daring setiap hari atau di waktu yang telah ditentukan, para guru mengirimkan rekomendasi pelajaran, lembar kerja, dan PR ke rumah untuk membantu anak-anak untuk tetap berada dalam rutinitas sekolah dan mengikuti pelajaran akademik. Pada awalnya masa pembelajaran, mungkin masih terasa seru bagi orangtua karena bisa menemani anak mereka belajar. Tapi lama kelamaan, seiring dengan semakin bertambahnya target pelajaran dan tugas yang harus diselesaikan, yang terasa bukan lagi seru, tapi justru emosi jiwa.

Bagi keluarga yang didukung dengan akses internet cepat, penyelesaian tugas secara online ini tidak terlalu berkendala. Tapi sebaliknya bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses internet, tentu hal ini jadi beban tambahan karena penyelesaian tugas sekolah maupun pekerjaan jadi terhambat.

Sama halnya dengan para orang tua yang mendambakan bisa kembali beraktivitas di luar rumah seperti sedia kala, anak-anak pun berharap bisa kembali lagi ke sekolah untuk bertemu teman-teman dan guru mereka. Tapi di sisi lain kita semua pasti takut terpapar virus Corona. Sehingga mau tidak mau kita semua harus tetap di rumah sampai dengan pandemi mereda.

Namun selalu ada hal positif di balik semua kejadian negatif. Meskipun histeria massal sedang berlangsung, kenyataannya orang-orang masih membeli barang-barang dan kebutuhan hidup. Itulah sebabnya meskipun beberapa sektor bisnis mengalami kelumpuhan selama pandemi berlangsung, namun pada kenyataannya beberapa bisnis online sebenarnya sedang tumbuh.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita sedang menghadapi badai yang sama, walau tidak berada di kapal yang sama. Bisa saja kapal kita yang tenggelam atau sebaliknya. Tetapi di satu, sisi pandemi ini sejatinya tidak hanya destruktif – namun bisa juga konstruktif. Mereka juga bisa menyebabkan perubahan, dan sering memicu perkembangan ilmiah dan reformasi sosial. Pandemi juga sesungguhnya tengah menguji kreativitas kita dalam bertahan hidup. Semoga kelak ketika pandemi telah reda, kita berhasil lulus dengan lebih banyak keterampilan dan motivasi. We are all trying to survive the apocalypse.

Doa sederhana yang tidak sederhana untuk saat ini, semoga badai segera berlalu. 

— devieriana —

Continue Reading
1 2 3 106