Happy 6 Months Old, Baby!

----Hari ini, Sabtu, 17 Januari 2015, Alea genap berusia 6 bulan. Tak terasa dia sudah berusia 6 bulan. Padahal sepertinya baru kemarin saya menggendongnya keluar dari rumah sakit, sekarang dia sudah bisa berguling sana-sini, ngoceh babibubabibu, ‘berkomunikasi’ ala bayi, bahkan dia sekarang sudah bisa ‘menyatakan’ maunya apa melalui kode-kode dan bahasa tubuh.

Dia sedang tumbuh sebagai balita yang lucu dan menggemaskan. Iya, lagi dalam masa anak yang paling dikangenin. Ada satu hal yang… mmmh… entahlah, apakah itu copy paste dari emaknya atau bukan. Dia paling suka diajak jalan-jalan. Buat dia, kalau dia sudah dipakaikan topi itu tandanya dia akan diajak jalan-jalan, sekalipun itu cuma keluar ke ibu warung di ujung gang. Apalagi kalau sudah buka pagar; senangnya bukan main. Dia akan melonjak-lonjak dalam gendongan. Atau kalau sedang di atas stroller kaki dan tangannya akan bergerak bersama-sama. Kegirangan.

Kalau tidur dia paling anti diselimutin. Mau pakai selimut tipis atau tebal pasti akan ditendang-tendang, kecuali dia diselimuti sudah dalam keadaan tidur pulas :D . Entahlah, mungkin ‘trend’ bayi sekarang seperti ini, ya? Karena seperti sepupunya (anak adik saya) pun demikian. Ketika diajak oleh adik saya berlibur di daerah pegunungan, adik saya dan isterinya pakai jaket tebal, pakai kaos kaki, tidurnya pun pakai selimut, eh balita mereka yang usianya terpaut 3 bulan dengan Alea malah tidur dengan setelan yukensi dan stoking celana panjang. Beuh, sepertinya Alea juga begitu.

Dua minggu yang lalu dia sempat pilek, tapi alhamdulillah, dia sembuh dengan sendirinya. Ngomong-ngomong tentang ASI, saya bersyukur bisa memberi Alea ASI hingga saat ini. Padahal dulu sampai stress sendiri lantaran ketika diperah, ASI hanya keluar sedikit sekali, cuma basahin pantat botol :cry: . Belum pakai acara demam dan luka segala. Tapi syukurlah masa itu sudah berlalu. Sekarang alhamdulillah soal per-ASI-an lancar (walaupun kadang harus kejar tayang). Pokoknya kalau soal ASI banyak suka dukanya.

Oh ya, sekarang dia sudah boleh makan makanan pendamping ASI. Sebenarnya sudah mulai ‘di-training‘ sejak 1 minggu yang lalu. Setiap pukul 10 pagi dia makan pisang yang dikerik lembut, dan makan bubur bayi rasa manis/gurih setiap pukul 3 sore, selebihnya dia tetap mengkonsumsi ASI. Sejauh ini alhamdulillah dia tidak rewel ketika disuapi. Malah sepertinya saat makan dan minum vitamin (di mana itu adalah saat dia merasakan rasa lain selain ASI) menjadi saat yang menyenangkan buat dia. Semoga dia makannya tambah banyak, dan nggak suka pilih-pilih makanan, biar kaya mamanya, ihihihik…

Selamat 6 bulan ya balitaku. Semoga selalu sehat, tumbuh kembang sempurna, makin pinter, dan jadi kebanggaan keluarga. Doa kami selalu menyertaimu. Mwach!
Love you, Alea…

 

Happy Holiday!

Museum Angkut 2

Hai, apa kabar kalian? Bagaimana suasana pergantian tahun di tempat kalian? Saya, seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya menghabiskan suasana pergantian tahun di tempat tidur. Apa lagi kalau bukan tidur :lol: . Mau belum ada bayi atau sudah ada bayi pun sama saja. Bedanya, tahun ini saya melewatkan pergantian tahun di Jawa Timur, di rumah orang tua saya, sambil ngeloni bayi yang tidurnya kurang begitu tenang ketika pergantian hari karena di luar sana bunyi mercon dan kembang api sahut menyahut sampai kurang lebih pukul 01.00 wib.

Oh ya, ini adalah pertama kalinya saya beserta keluarga mudik ke Jawa Timur, bersama Alea tentu saja. Sebelum berangkat kami sempatkan untuk memenuhi jadwal kontrol Alea ke dokter sekalian konsultasi tentang semua hal yang harus dilakukan ketika terbang bersama bayi. Karena membawa bayi saat bepergian menggunakan pesawat terbang itu sedikit lebih ribet dibanding mengajak anak yang usianya di atas satu tahun. Kata dokternya Alea saat memberikan penjelasan pada kami, pada saat mengangkasa, biasanya udara di dalam kabin cenderung tidak stabil. Udara panas atau dingin dapat berubah cukup cepat. Itulah sebabnya bayi harus mendapat perhatian lebih, karena tidak semua bayi mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan di angkasa. Kalau dilihat dari usia dan kondisi kesehatan Alea insyaallah Alea aman diajak bepergian naik pesawat.

AleaSebenarnya mau pergi naik pesawat yang jam berapapun sih aman-aman saja untuk bayi. Oleh dokter kami disarankan untuk mudahnya dan biar nggak ribet, pilih saja jam penerbangan yang merupakan jam tidurnya bayi. Tapi mau terbang di jam berapapun sih sebenarnya nggak ada masalah kok. Intinya bayi harus dalam keadaan sehat, tidak sedang flu, dan ketika take off dan landing bayi harus disusuin (dalam keadaan mengunyah).

Awalnya sih agak mikir juga, kalau jam tidur yang panjang ya malam hari atau pagi-pagi buta. Agak kasihan juga kalau harus membangunkan Alea di pagi buta untuk berangkat ke bandara. Tapi bismillah sajalah, semoga segalanya dimudahkan. Eh, ndilalahnya kami dapat penerbangan paling pagi, jam 05.00 dengan menggunakan Lion Air. Kami mulai bersiap pukul 02.30 dini hari, dan mulai membangunkan Alea pukul 03.00. Untungnya dia nggak rewel, bahkan jam segitu dia langsung bangun, ngoceh-ngoceh, ketawa, gegulingan, ceria sekali, seolah tahu kalau mau diajak pergi. Dia juga tidak rewel selama perjalanan menuju bandara, walaupun cenderung diam. Entah diam melihat pemandangan yang masih gelap gulita, atau sebenarnya dia masih ngantuk :D

Sesampainya di bandara suami langsung mengurus segala sesuatunya termasuk konfirmasi ke petugas bandara/maskapai bahwa kami membawa bayi, karena ada formulir khusus yang harus diisi. Entahlah missed-nya di mana/siapa, hingga kami di atas pesawat pun tidak ada formulir yang kami isi, padahal hampir di setiap gate kami lapor ke petugas, bahkan sampai di ruang tunggu pun kami konfirmasi kalau kami bawa bayi. Agak heran juga. Apakah memang cukup dengan lapor secara lisan aja atau seharusnya ada formulir yang harus kami isi?

Ketika kami sudah duduk di seat kami, barulah ada pramugari dan petugas yang ‘ngeh’ kalau kami membawa bayi. Duh! Lha tadi ke mana saja? Tidak adakah koordinasi dari petugas maskapai di bandara dengan yang on board? Pramugari yang sama menanyakan pada saya berapa usia bayi sebanyak 2x. Kalau mbak itu jadi petugas callcentre bisa saya kasih nilai nol di poin “mendengarkan dengan sungguh-sungguh” lho :-p. Barulah setelah itu ada petugas yang meminta saya untuk mengisi form. Owalah, Mas, Mas. Tadi ke mana saja?

Alhamdulillah Alea tidak rewel sama sekali, selama penerbangan dia tidur dengan pulas dan baru bangun ketika sudah landing di Juanda. Kok ngerti ya kalau sudah sampai tempat tujuan, ya? :mrgreen: . Pun ketika dalam perjalanan dari Juanda menuju ke rumah, dia juga tidur dan langsung bangun ketika sudah masuk komplek rumah :lol: . Padahal dia kan baru pertama kali ke rumah eyangnya, kok bisa bangun pas sudah dekat rumah ya? :lol:

Museum Angkut 1Selama liburan kami menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama seluruh keluarga, sekalian jalan-jalan ke Malang. Ah, ya… kami juga menyempatkan ke Museum Angkut. Iya, itu satu-satunya tempat yang sempat kami kunjungi selama di Malang. Itu juga sampai di sana sudah sore karena kami harus mengantarkan adik yang pulang duluan ke Jakarta lantaran dia sebenarnya belum dapat cuti. Maklum pegawai baru :D

Ah ya, secara keseluruhan Museum Angkut itu keren, karena menyajikan banyak sekali objek foto yang instagramable, dan spot foto yang lucu buat ajang narsis-narsisan. Tapi sayang, jiwa narsis saya sudah mulai punah. Sudah nggak pede lagi berfoto dengan badan yang menggendut dan pipi chubby seperti sekarang :lol: .

Oh ya, hampir saja saya lupa. Akhirnya saya bisa merasakan makan Bebek Sinjay yang tersohor asal Bangkalan itu! Awalnya sih beneran mau ke Bangkalan Madura sana Tapi pas kita lihat di Jln. Jemursari , Surabaya (depan taman Pelangi) kok ternyata juga ada cabang, tanpa pikir panjang kita pun langsung capcus nongkrong di depot yang pengunjungnya ramai, sampai antre-antre. Soal rasa, jangan ditanya. Enaknya pakai banget! Apalagi dimakan pas nasinya anget, bebeknya juga empuk, kremesannya juga gurih, plus ditambah pakai sambal pencit (mangga muda). Beuh… *lap iler*

bebek sinjaySo far liburan kali ini alhamdulillah lancar, dan menyenangkan. Sengaja kami pilih pulang di hari Sabtu, 3 Januari 2015, supaya hari Minggunya kami bisa istirahat. Kebetulan kali ini kami naik Garuda, penerbangan pukul 06.15 wib. Isi kabin pesawat kebanyakan anak-anak yang sepertinya akan pulang selepas libur panjang. Sengaja kami pilih penerbangan pagi biar Alea bisa bobo selama di perjalanan. Dan ternyata kami tidak salah pilih jadwal, karena Alea tidur pulas dalam gendongan sejak di ruang tunggu bandara sampai dengan di Soekarno-Hatta. Anak pintar! :-*

Hmm, sepertinya mulai siap untuk merencanakan liburan berikutnya. Hei, Bromo apa kabar, ya? Masih belum sempat ke sana padahal sudah direncanakan berkali-kali. Entahlah, mungkin kami memang belum berjodoh.

Bagaimana dengan liburan kalian di akhir tahun kemarin? Semoga juga sama menyenangkannya ya :)

 

Amazing 2014

it's a wrap

Tak terasa akhirnya kita sudah berada di penghujung tahun 2014, tahun yang katanya bersimbolkan kuda; shio saya :mrgreen: . Dalam beberapa hari ke depan kita akan segera meninggalkan tahun 2014 ini dan siap menyambut pergantian tahun yang baru 2015.

Dibandingkan tahun sebelumnya, tahun 2014 ini menjadi tahun yang relatif penuh dengan cerita, dan sekaligus menjadi awal segala perubahan dalam hidup saya. Highlight-nya adalah kehadiran seorang gadis kecil yang akhirnya mengubah seluruh hidup saya.

Tahun 2014 adalah tahun di mana saya resmi menyandang status ibu. Sebuah status yang sudah begitu lama saya tunggu pasca kehamilan pertama saya tahun 2008. Akhirnya di tahun inilah Allah mengizinkan saya dan suami untuk memiliki buah hati, setelah ‘kosong’ selama kurang lebih 6 tahun. Allah begitu baik, ketika Dia mengiyakan suatu kebaikan, Dia akan menyertakan kebaikan-kebaikan lainnya di belakangnya. Allah bukan hanya menganugerahi saya kehamilan yang sehat, tapi juga menghadiahi saya proses persalinan yang lancar, mudah, dan murah. Saya yang awalnya agak paranoid menggunakan BPJS ternyata ketika melahirkan secara cesar kemarin justru dibuat ternganga karena saya hanya membayar biaya naik kelas kamar saja sebesar Rp 315.000,00, selebihnya free. Bukan itu saja, ketika pasien lainnya mengalami kesulitan mencari kamar lantaran semua kamar penuh, sedangkan saya… seperti serbakebetulan, ada 1 kamar kelas 1 yang kosong, dan bisa segera saya tempati beberapa jam tepat setelah saya operasi. Alhamdulillah.

Sudah, itu sajakah? Ketika teman-teman dan tetangga saya yang kebetulan juga mengalami kelahiran cesar dan mereka masih susah payah mengembalikan staminanya pascaoperasi, alhamdulillah dalam 2 hari pascaoperasi saya sudah bisa menggendong Alea dan berjalan ke sana-ke mari (walaupun awalnya ya mewek juga karena namanya perut habis disayat tapi harus ‘dipaksa’ untuk bergerak supaya otot-otot di sekitar perut agar tidak kaku) sehingga pemulihannya jauh lebih cepat. Makanya saya sudah diperbolehkan pulang setelah 3 hari saya berada di RSUD Pasar Rebo, padahal dulu saya sempat seminggu di RS Medistra karena pemulihan saya berjalan lebih lama (mungkin juga karena secara fisik dan mental saya tidak sesiap sekarang). Dan seminggu setelah operasi saya malah sudah bisa belanja di rest area dekat rumah :lol: Allah memang sangat sayang sama saya. Dia bekerja dalam cara yang luar biasa dan tak tanggung-tanggung ketika memberi kebaikan kepada umatnya.

Ketika saya membuat postingan ini, gadis kecil saya sudah berusia 5 bulan 6 hari. Tak terasa sudah hampir setengah tahun dia bersama kami. Alhamdulillah, dia sehat dan dikaruniai tumbuh kembang yang sempurna. Hari ini terakhir saya mengantor sebelum cuti panjang sampai dengan awal tahun 2015. Besok, 24 Desember 2014 kami sekeluarga akan terbang ke Surabaya untuk berlibur di sana sampai dengan tanggal 3 Januari 2015, so ini akan menjadi penerbangan pertama Alea. Yaay! Akhirnya dia akan bertemu dengan keluarga besar Mamanya di sana :mrgreen:

Apakah lalu semua kejadian di tahun 2014 berjalan manis dan sempurna? Tentu saja tidak. Ada  beberapa kejadian yang kurang mengenakkan, yang awalnya terasa sulit saya lalui. Tapi lagi-lagi, kok ndilalah semuanya seperti sudah diatur oleh Allah, semua hal yang saya anggap sulit dan tidak mungkin itu semuanya dimungkinkan. Ah, Allah memang baik banget!

Kalau dari segi pekerjaan alhamdulillah semuanya lancar. Di tahun inilah untuk pertama kalinya saya merasakan bagaimana hiruk-pikuknya kantor saya ketika pergantian pemimpin negara terjadi. Eh, tidak secara langsung juga sih, karena di hari yang sama ketika pergantian Presiden saya sedang tidak berada di kantor. Tapi ikut merasakan kesibukan, keribetan, dan keharuan yang sama walaupun hanya memantau di social media :mrgreen:

Intinya, tahun 2014 ini adalah tahun yang ‘nano-nano’ buat saya. Semua peristiwa asam, manis, pahit, campur jadi satu. Tahun pembelajaran yang disertai dengan ‘kurikulum’ baru yang mengajarkan saya tentang bagaimana menjadi orangtua dan menjadi pribadi yang kuat.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2015? Adakah resolusi seperti tahun-tahun sebelumnya? Ah, saya sebenarnya tidak pernah serius beresolusi kok, karena sering kali yang awalnya saya jadikan resolusi hasilnya malah bablas; tapi yang bukan jadi resolusi malah jadi :lol: . So, mendingan saya jalani saja tanpa ada resolusi-resolusian. Atau biar nggak berat, sebut saja rencana tahun 2015 :mrgreen:

Dear Allah, I thank you for this amazing 2014. Thank you for such a memorable journey, where the ups and downs are there. People jugde and learn from the past, they evaluate the things that they did, and project it to the future. They predict what tommorrow will be, but the future still remains Your mystery.

For everything that occured —the good and the bad thing— I feel so grateful and delighted because I have seen Your love and your kindness through this wonderful year. Your hands never let me go, Your protection is gentle and strong.

Dear Allah, I am pretty excited to welcome 2015 with a bunch of love, and faith again an again. Because I want to walk with You, want to feel and embrace the love You have.

Therefore, since all my plans are meaningless without Your blessings, I ask for Yours so then, let Your will be done in my life.

Semoga apa yang kita kerjakan dan cita-citakan di tahun 2015 berhasil dan menjadi berkah untuk kita semua. Semoga kita diberikan usia yang penuh manfaat, dan kesehatan yang sempurna. Kiranya Allah memperkenankan segala doa kita. Aamiin ya rabbal alamiin…

Jadi, sebelum saya berlibur sampai dengan awal tahun depan, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi teman-teman yang merayakannya; dan Selamat Tahun Baru 2015 bagi semuanya.

Sampai bertemu (di postingan) tahun depan ya… :D
Daaagh!

 

 

 

sumber ilustrasi dari bedbathandbeyond

A Self Reminder: Allah Sang Mahasutradara

-----

“Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di depan Allah, begitu pula sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Dialah Sang Mahatahu akan segala sesuatu…”

—–

Buat saya, hidup itu seperti layaknya sebuah film. Kita adalah aktor-aktor yang sedang menjalani sebuah script atau skenario, sedangkan Tuhan adalah sutradaranya. Film (kehidupan) saya dan film (kehidupan) kamu, pasti berbeda. Tapi, meski berbeda bukan berarti kita tidak pernah ada dalam satu frame yang sama. Mungkin saja kita yang berada di belahan bumi yang berbeda dipertemukan oleh-Nya untuk menjalani sebuah skenario; misalnya saling bertemu, mengerjakan sesuatu bersama, atau cuma sekadar saling sapa satu sama lain. Tapi sebaliknya mungkin saja kita yang duduk bersebelahan justru tidak saling mengenal satu sama lain karena kita lalu pergi begitu saja tanpa ada percakapan/perkenalan sama sekali. Bisa saja, kan? :)

Sesekali dalam hidup, kita pasti akan tertawa. Dan sebagai penyeimbang, kita pun pasti pernah menangis. Walau demikian hidup harus tetap berlanjut, kan? Dalam skenario itu mungkin kita harus beradegan berlari, terjatuh, berjalan, merangkak, bahagia, terluka, menangis dan tertawa, begitu seterusnya untuk menggenapkan skenario yang sudah ditulis oleh-Nya.

Saya adalah salah satu yang telah menjalani sebagian skenario-Nya. Hidup saya tidak selalu bahagia, tapi juga tidak selalu sedih. Namun apapun itu saya syukuri tiap sesi dalam hidup saya, karena saya yakin bahwa Allah punya rencana mahaindah yang tidak saya ketahui. Saya juga yakin dengan janji Allah, bahwa Dia tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Dan, Dia menepatinya. Saya adalah salah satu ‘korban’ ketakjuban betapa indah skenario yang telah dibuat Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Sebagai manusia yang punya banyak sekali kekurangan, saya juga sering melakukan perbuatan dosa, baik sengaja atau tidak. Dan selama itu pula Allah masih bersabar melihat tingkah laku saya. Hingga akhirnya Allah menegur saya dengan sebuah kejadian yang menjadi sebuah turning point dalam hidup saya. Kejadian yang sempat membolak-balikkan hati saya, menjungkirbalikkan nalar saya, me-roller-coaster-kan hidup saya. Di titik itulah saya sadar bahwa Allah sedang menegur saya dengan cara yang radikal; sekaligus menyapa saya dengan lembut.

“Kalau sudah begini, kamu mau minta tolong sama siapa? Manusia?”

Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Sejak itulah kehidupan spiritual saya berubah 180 derajat, karena sejatinya dengan dekat dengan-Nya-lah hidup saya jauh lebih tenang. There’s a blessing in every disguise. Saya yang dulu sering meninggalkan shalat, saya yang jarang bersedekah, saya yang jarang mengingat Allah, saya yang pecicilan sana-sini, pelan-pelan berubah. Saya luruh dalam tangis memohon ampun hampir di setiap sujud di sepertiga malam. Padahal sebelumnya, jangankan untuk tahajud, menggenapkan shalat 5 waktu saja rasanya enggan. Shalat hanya saya lakukan ketika ingin, ketika sempat, ketika ada maunya. Ya, saya pernah berada dalam fase sejahiliyah itu. Keimanan saya masih sangat tipis di usia saya yang sudah lebih-lebih dari seperempat abad ini :(

Seringkali kita menyebut sebuah kejadian itu cuma sebuah kebetulan, padahal tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau (iseng) kita tengok lagi ke belakang tentang film kehidupan kita, pasti ada episode di mana kita mengalami adegan-adegan layaknya sebuah kebetulan, padahal semuanya adalah hasil campur tangan Allah.

Ya Allah, terima kasih untuk semua reminder-Mu. Terima kasih untuk semua peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Apapun itu. Terima kasih karena masih berkenan mengingatkan hamba-Mu yang suka bertingkah semau-maunya ini.

Terima kasih, karena masih Engkau izinkan kami untuk meneruskan film kehidupan kami di planet bumi yang merupakan panggung termegah kami ini…

 

 

sumber ilustrasi: clipartbest.com

Ladies and Gentleman, Ricad Hutapea!

ricad hutapea

 

Saya mengenal saxophonist satu ini secara tidak sengaja. Berawal dari twitter, lalu disambung dengan obrolan di email dan watsap tentang permusikan, hingga akhirnya kakak satu ini memberikan saya sebuah CD.

“Eh, serius ini buat aku?”

“Iya, buat Kakak…”

“Aww, terima kasiiih…”

Yaaay! Senang! Ya senanglah, lha wong dikasih :lol: Nggak ding, kebetulan saya juga penggemar smooth jazz; dan kebetulan dia bermain di aliran musik yang sama dengan selera musik saya. Jadi rasanya kok gatel kalau nggak di-review ya :D

Pertama kali saya mendengarkan secara utuh CD-nya Ricad yang bertajuk Jalan Pertama ini saya langsung terkesan. Apalagi lagu pembukanya yang berjudul Struggle. Kalau mendengarkan lagu itu rasanya kita sedang dibawa ke suasana kafe, dengan suasana lampu yang temaram, sambil ngobrol-ngobrol dan ngopi-ngopi cantik. Permainan saxophone-nya smooth dan luwes, layaknya seorang saxophonist yang sudah lama malang melintang di jagad musik tanah air.

Siapa sangka kalau sebenarnya dulu Ricad tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pemain saxophone. Waktu SD dia lebih suka ikut paduan suara ketimbang bermain alat musik. Baru ketika dia sudah menginjak bangku SMP ketertarikannya terhadap penguasaan alat musik mulai tumbuh. Dia mulai menyukai keyboard; dan ternyata ketertarikannya ini didukung penuh oleh keluarganya. Oleh karenanya, untuk mendalami alat musik keyboard Ricad pun dimasukkan ke lembaga pendidikan musik Sonora. Tak heran kalau akhirnya ketika dia mulai masuk ke tingkat pendidikan formal yang lebih tinggi dia memilih untuk masuk di SMK Musik Perguruan Cikini dan mengambil jurusan piano klasik di bawah bimbingan Raras Miranti. Di sinilah awal mula dia mulai berkenalan dengan alat musik saxophone karena dia merasa jenuh terus-terusan bermain piano klasik :D . Akhirnya untuk memaksimalkan penguasaan alat musik saxophone, selama 3 bulan Ricad belajar secara intensif di Sekolah Musik Farabi, pimpinan Dwiki Darmawan.

Jiwa Ricad rupanya sudah mulai berlabuh ke saxophone. Itulah yang menjadi alasan Ricad untuk meneruskan pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta dan mengambil jurusan saxophone klasik di bawah bimbingan Irianto Suwondo. Tak hanya sampai di situ, Ricad juga mengasah kemampuan bermain saxophone kepada guru-guru musik lainnya, yaitu Arief Setiadi, F.A. Talafaral, dan Yoseph Sitompul. Merekalah yang mengajarkan Ricad bagaimana memainkan saxophone dengan tone yang soulful.

Mengusung aliran jazz, Ricad membentuk Music Voyage Quartet di tahun 2011. Kemampuan bermusiknya dapat disaksikan dalam beragam event jazz tanah air, seperti Java Jazz, JakJazz, Indonesian Jazz Festival, dan pagelaran Jazz Gunung. Tak hanya di atas panggung, Ricad ternyata juga terlibat dalam pembuatan album beberapa musisi tanah air, seperti Monita Tahalea dan Tohpati. Oh ya, dia juga berhasil menciptakan 2 buah single hasil kolaborasi dengan DJ Andez .

Bagaimana kok akhirnya dia bisa kenal dengan beberapa dedengkot musik jazz Indonesia? Ternyata itu awalnya juga secara tidak sengaja. Ricad bercerita kalau sebenarnya di sekitar tahun 2012-2013 dia diajak ngobrol dan bermain bareng di kafenya Indra Lesmana yaitu Red White Lounge oleh Chaka Priambudi (pemain bassnya Monita Tahalea). Ketika mereka tampil, ternyata Indra Lesmana tertarik dengan permainan saxophone-nya Ricad. Nah, dari situlah akhirnya Ricad diajak untuk menggarap project Tribute To Chick Corea untuk ditampilkan di Red White Lounge. Chick Corea ini adalah salah satu musisi jazz kawakan Amerika.

Di penghujung tahun 2014 ini, Ricad merilis albm instrumental pertamanya yang bertajuk Jalan Pertama. Di album ini ada 10 lagu yang kebetulan semuanya diaransemen sendiri oleh Ricad. Selain Struggle, saya juga suka lagu Someone To Watch Over Me yang dinyanyikan secara ringan oleh Monita Tahalea dan tentu saja diiringi permainan saxophone-nya Ricad. Kerenlah pokoknya!

Oh ya, sementara ini, untuk membangun engagement dengan fans, CD sengaja dipasarkan sendiri oleh teman saya ini. Jadi, kalau kalian ada yang berminat membeli CD-nya Ricad, atau mengajak berkolaborasi, ingin mendengarkan seberapa kerennya permainan kakak yang satu ini, silakan mention dia di twitter @ricadhutapea atau langsung ke email ricadhutapeamusic@gmail.com deh, dia pasti akan senang hati menyapa dan melayani kalian :D

Buat temanku, Ricad. Terima kasih ngobrol-ngobrolnya. Sukses terus buat karir bermusiknya. Teruslah berinovasi dan memberi warna baru bagi musik Indonesia.

Semangat ya! ;)

 

 

 

gambar diambil dari twitternya Ricad