La Belleza della Semplicita

Latest Posts

Solusi dalam Genggaman

*lap-lap blog biar bebas dari sarang laba-laba*

 

Maklum, berhubung sekarang ada kesibukan baru; mengurus Alea yang lagi lucu-lucunya itu ternyata membuat blog ini bukan lagi menjadi satu-satunya hiburan buat saya, hihihihi. Kalau dulu sih iya. Bahkan kalau sedang banyak ide saya bisa posting sehari 2x. iya, mirip seperti minum obat. Jadi harap maklum kalau postingan blog ini tidak sesering dulu karena tenaga, pikiran dan prioritasnya sudah mulai bergeser ke Si Kecil.

Saya lagi punya hobby baru, mendandani Si Kecil itu dengan berbagai baju dan pernak-pernik bayi perempuan yang lucu-lucu. Nggak semuanya saya beli secara langsung di toko sih, kebanyakan justru saya beli via online shop. Sekarang kan zaman serba-online, tinggal search di Instagram atau buka situs di internet saja belanja bisa dengan mudah kita lakukan. Nah, saya itu kalau sudah ketemu pernak-pernik lucu buat bayi suka agak kalap gitu. Baru beli topi, eh besok ketemu jaket bayi, saya beli jaket bayi. Besoknya ketemu lagi rok/jumper lucu, saya beli juga. Tahu-tahu, lho… saldo tabungan kok jadi segini? Maklum, ibu baru. Baru on the job training, jadi apa-apa masih suka kalap ;))

Eh tapi iya lho, sekarang saya lagi suka banget belanja online, padahal dulunya saya anti belanja online karena ya menurut saya meragukan aja sih. Kan kita nggak lihat dan pegang langsung barangnya, cuma bermodal foto dan deskripsi produk saja; kalau tertarik ya silakan pesan, kalau nggak ya tinggal skip. Kalau saya, dengan modal bismillah saja sih sekarang.

Alhamdulillah selama ini sih nggak pernah ada masalah soal jual beli via online. Pilihan cara pembayarannya pun fleksibel, bisa bayar langsung ketika barang diterima atau yang lebih sering disebut Cash On Delivery (COD), atau bisa juga secara transfer. Nah, kalau saya lebih sering menggunakan fasilitas transfer via ATM atau mobile banking daripada COD, karena menurut saya sih lebih praktis.

Pernah juga sih pakai fasilitas COD tapi waktu itu saya lebih sering menggunakan alamat kantor sebagai alamat penerimaan barang karena di rumah tidak ada orang, alhasil delivatornya suka telisipan sama saya. Dianya sampai di kantor tapi sayanya pas keluar kantor atau bahkan pernah saya sudah pulang.

Ngomong-ngomong soal mobile banking, eh beneran lho, mobile banking atau sms banking atau aplikasi perbankan yang bisa diakses dengan mudah melalui HP itu memang ‘racun’ buat saya. Karena saking mudahnya bertransaksi, saya tinggal masuk ke aplikasi, tekan permintaan yang dibutuhkan… TARAAAAA! Transaksi pun berjalan dalam hitungan detik, dan dalam sehari dua hari barang sudah saya terima. Dan setelah itu… tinggal cek saldo. Hppffft! :|

transfer via BCA mobile

Jadi ingat, dulu saya pernah bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi. Di rentang tahun 2004-2006 layanan m-banking masih belum se-booming sekarang. Mengapa bank bekerja sama dengan operator telekomunikasi?

Ya karena operator telekomunikasi memiliki basis pelanggan yang besar dengan jangkauan luas sehingga mampu menjangkau kalangan yang belum bankable supaya ikut mulai menggunakan layanan perbankan via mobile. Waktu itu bank yang sudah bekerja sama dengan operator telekomunikasi tempat saya bekerja yaitu Bank BCA.

Masih saya ingat m-banking BCA saat itu masih merupakan layanan single banking, di mana kartunya pun dibuat secara khusus yaitu kartu yang dilengkapi dengan fitur layanan Bank BCA. Jadi untuk nasabah Bank BCA yang ingin menggunakan layanan ini bisa langsung menukarkan kartu selulernya di pusat layanan pelanggan operator telekomunikasi. Di call center pun setiap harinya, sejak layanan m-banking BCA diluncurkan, ratusan call dari pengguna layanan Bank BCA antre untuk meminta penjelasan cara penukaran kartu, fitur kartu, hingga tarif per transaksi.

Kalau sekarang BCA sudah jauh lebih fleksibel. Tinggal klik saja https://m.klikbca.com atau tinggal masuk ke Application Store smartphone kita di Google Play Store untuk Android, App Store untuk iPhone/iPad, BlackBerry World untuk BlackBerry , terus pilih/search Info BCA, dan… TARAAAA! Aplikasi itu tinggal diinstal. Atau mau cara lain? Tinggal ketik saja https://downloadmbank.klikbca.com/infobca , install dan seluruh layanan transaksi keuangan bisa kita akses dari handphone.

Dari semua itu yang paling penting buat saya yaitu semua sistemnya sudah pasti secure karena semuanya sudah terproteksi. Hmm, jadi ingat lagi pelajaran di pelatihan yang kemarin, bahwa atribut keamanan informasi itu ada 3, yaitu Confidentiality (menjaga informasi dari orang yang tidak berhak mengakses), Integrity (informasi tidak boleh diubah tanpa seizin pemilik informasi, keaslian pesan yang dikirim melalui sebuah jaringan dan dapat dipastikan bahwa informasi yang dikirim tidak dimodifikasi oleh orang yang tidak berhak dalam perjalanan informasi tersebut), dan Availability (ketersediaan informasi). Bukan hanya instansi pemerintah, militer, dan rumah sakit saja yang sudah menerapkan tiga hal itu, semua institusi perbankan juga sudah pasti mengutamakan tiga atribut tersebut.

Kalau soal teknologi perbankan sepertinya kita sudah tidak perlu heranlah ya, karena memang kita sudah masuk ke era less cash society, di mana preferensi penggunaan uang kertas (uang tunai) mulai tergantikan ke sistem pembayaran non-tunai. Masyarakat pun sekarang sepertinya lebih suka memanfatkan fasilitas e-money (uang elektronik) sebagai alat transaksi yang praktis. Bank BCA sebagai salah satu institusi penyedia layanan perbankan sudah lama menyediakan layanan perbankan bertajuk m-BCA yang mudah diakses di mana saja dan kapan saja. Saya sering melakukan transaksi keuangan tanpa saya harus beranjak dari tempat duduk saya, hihihik. Dasar pemalas! :mrgreen:

Ya misalnya kita sedang sibuk atau sedang tidak memungkinkan untuk bertransaksi di ATM/bank, kita tinggal masuk saja ke aplikasi m-BCA, di sana bisa kok melakukan pembayaran tagihan telepon seluler/listrik, isi pulsa, melakukan transfer antarbank, cek saldo tabungan, dan lain-lain tanpa kita perlu pergi ke ATM atau ke bank. Bahkan di saat kita butuh informasi lokasi ATM terdekat pun bisa dengan mudah kita dapatkan. Ibarat memiliki ATM dalam genggaman gitu.

tampilan mobile banking BCA

Waktunya belanja bulanan juga gitu, saya lebih suka membawa uang tunai secukupnya, selebihnya saya bertransaksi menggunakan kartu debet sebagai alat pembayaran di kasir. Pernah dengar kartu Flazz-nya BCA? Ya, itu saya juga pakai sebagai alat pembayaran. Sampai halnya untuk pembelian tiket bioskop pun saya juga lebih sering menggunakan e-money ketimbang tunai.

Bawa uang tunai itu sudah pasti, ya karena belum semua merchant menerima pembayaran dengan menggunakan e-money (misalnya di warung-warung, toko/merchant yang belum ada kerja sama dengan bank), tapi kalau untuk di merchant-merchant yang sudah ada kerja sama dengan bank, saya cenderung menggunakan alat bayar elektronik untuk praktisnya.

Jujur, saya bukan orang yang gampang tergiur promo, tapi suami sayalah yang paling ‘aware’ dengan promo-promo. Misalnya ada promo diskon pemasangan tv kabel, promo di tempat-tempat makan, atau merchant-merchant tertentu, biasanya itu yang selalu dia infokan. Tapi yang paling sering diperhatikan sih biasanya promo tempat makan… Ngomong-ngomong tempat makan, hiks… apa kabar diet? Kabar baik… *ngelap timbangan badan*

Harapan saya sih dengan adanya segala kemudahan yang disediakan oleh berbagai institusi layanan perbankan ini tidak malah menjadikan kita sebagai generasi yang konsumtif, tapi justru menjadikan kita sebagai generasi yang smart dan bijak dalam mengelola keuangan dengan memaksimalkan penggunaan fitur-fitur yang telah disediakan oleh penyedia layanan perbankan itu ya ;)

Aamiiinn…. :D

Eh iya, kalau mau bagi-bagi ilmu nggak dosa kan, ya? Untuk info lebih lengkap tentang BCA bisa lihat-lihat di sini ya :mrgreen:

 

Memanfaatkan teknologi perbankan itu ternyata seru, ya?

Selamat hari Kamis, Temans! ;)

 

 

Selamat datang, dan selamat bekerja!

welcomeTanggal 20 Oktober 2014 lalu kita tentu mengikuti sebuah peristiwa yang paling happening se-Indonesia. Apalagi kalau bukan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Posisi saya waktu itu sedang mengikuti diklat di Pusdiklat, di Cipete. Jadi, tentu saja saya tidak sempat ikut bereuphoria mengikuti pergantian kepala negara itu secara live dari kantor yang waktu itu entah suasananya sudah seperti apa. Tapi untunglah Widyaiswara (trainer) dari Lemsaneg waktu itu sangat kooperatif ketika kami memohon izin agar waktu coffee break-nya diperpanjang demi melihat detik-detik pergantian pemimpin negara yang notabene akan berkantor di lingkungan kami. Hihihih, makasih ya, Pak :mrgreen:

Sejak pagi, di Path sudah berseliweran foto-foto suasana di Istana yang ternyata cukup mengharukan, karena di sanalah untuk pertama kalinya sebuah momen di mana Presiden dan Ibu Negara berpamitan di depan seluruh staf di Sekretariat Presiden (Setpres) terjadi. Setiap manusia apalagi seorang pemimpin pasti tak ada luput dari salah; jadi bagaimana pun momen perpisahan/pamitan tetap menjadi sebuah saat yang mengharukan. Dari pantauan lalu lintas dan suasana di kantor yang ‘dilaporkan’ secara live oleh teman-teman di whatsap, Path, dan twitter sudah tergambar bagaimana hiruk-pikuknya suasana di sana, dan rasanya saya akan sulit pulang kalau saat itu ada di kantor. Jadi ada untungnya juga saya tidak sedang berada dalam keriuhan itu.

Selang beberapa hari setelah pelantikan Presiden, akhirnya diumumkanlah susunan kabinet yang baru, yang dinamakan Kabinet Kerja. Teka-teki siapa yang akan memimpin kementerian saya pun terjawab sudah. Walaupun beberapa minggu sebelumnya sudah berhembus nama-nama calon yang akan jadi Menteri Sekretaris Negara, tapi sepertinya nama yang terakhir inilah yang memang menjadi calon kuat yang akan memimpin kementerian kami setelah era Pak Sudi Silalahi. Ya, kami sekarang punya Menteri baru yaitu Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc .

Pelantikan Kabinet Kerja sendiri dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2014 bertempat di Istana Negara. Suasana kantor kami yang biasanya formal dengan para pegawai yang menggunakan seragam PDH (Pakaian Dinas Harian) hari itu suasananya menjadi seperti sedang di kondangan, karena banyaknya orang yang berseliweran menggunakan busana batik. Saya bersama tim pelantikan sudah berjaga-jaga mempersiapkan batik atau PSL (setelan jas formal) untuk serah terima jabatan Menteri. Ya, tinggal dipilih saja mau pakai dress code apa sesuai permintaan :mrgreen: .

Semenjak kehadiran pemimpin negara yang baru, lingkungan, cara bekerja, dan cara berbusana pun kami pun sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Secara umum, Pak Joko Widodo lebih menyukai keegaliteran. Beliau tidak suka hal-hal yang terlalu seremonial. Menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan cepat, praktis, dan benar. Pidato pun maunya beliau cuma dibuatkan pointers-nya saja, biar beliau yang mengembangkan sendiri. Setelan PSL (Pakaian Sipil Lengkap) yang selama ini akrab menghiasi setiap acara formal kenegaraan atau pelantikan pejabat aturannya pun jadi berubah; PSL hanya akan digunakan di acara-acara internasional saja, karena acara di luar itu akan menggunakan batik *lipat PSL, masukin ke koper*. Pokoknya kalau dirinci ada banyak hal yang berbeda dengan gaya pemerintahan sebelumnya.

Nah, kebetulan kami menangani acara serah terima jabatan Mensesneg di Gedung Utama tepat di hari yang sama setelah pelantikan menteri. Acara yang sedianya diagendakan pukul 15.00 wib sempat molor selama 1 jam karena Pak Pratikno masih bersama Presiden di Istana Negara. Di kesempatan inilah untuk pertama kali saya melihat secara langsung ‘penampakan’ Pak Pratikno. Sosok yang ramah, bersahaja, dan sangat njawani. Ya bagaimana nggak njawani, lha wong memang beliau asli Bojonegoro (Jawa Timur) dan tinggal lama plus berkarir sebagai Rektor di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tapi saya yakin di balik sosok beliau yang sederhana itu pemikiran-pemikirannya tidak sesederhana penampilannya. Terbukti, keesokan harinya setelah dilantik, dalam rapat koordinasi antara Mensesneg dengan seluruh pejabat Eselon 1-2, langsung membuat perubahan yang signifikan, terutama di cara kerja, yang beliau istilahkan dengan smart work alias kerja cerdas untuk mewujudkan smart office.

Dalam sambutan di acara yang santai itu beliau juga menyampaikan kesan beliau ketika menerima sms dari seorang kolega,

“Saya sempat merinding ketika membaca sms yang dikirimkan oleh sahabat saya. Bunyinya, “Be careful, because you are now working at the heart of this republic. Saya diminta untuk bekerja secara hati-hati karena kini saya bekerja di jantungnya Republik Indonesia”

Setiap pemimpin pasti punya gaya kepemimpinan masing-masing, begitu pula dengan para pemimpin baru kita. Yang jelas dalam pemerintahan yang sekarang ini tidak ada yang namanya program 100 hari; yang ada adalah Quick Wins (Low Hanging Fruit), kerja yang hasilnya bisa dirasakan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jadi, mari kita berikan kesempatan dan dukungan penuh bagi beliau-beliau untuk bekerja, membuktikan kapasitas masing-masing untuk mengemban kepercayaan yang telah diserahkan oleh Presiden kepada mereka untuk membenahi dan menyempurnakan hal-hal yang belum sempat sempurna di pemerintahan sebelumnya.

Selamat bekerja para pejabat di Kabinet Kerja. Selamat bergabung di Kementerian Sekretariat Negara, Pak Pratikno. Selamat datang di ‘dapurnya’ negara. Saya percaya bahwa Bapak memiliki segala hal yang dibutuhkan seorang Mensesneg. Sebagai teknokrat saya yakin bahwa level Bapak sudah jauh di atas mumpuni. Ditambah lagi dengan pengalaman Bapak sebagai dosen dan akademisi pasti ilmu dan pengetahuan Bapak tentang politik dan pemerintahan sudah jauh di atas buku-buku referensi ilmu politik dan pemerintahan.

Semoga kehadiran Bapak di kementerian kami memberikan angin segar dan pencerahan bagi kami semua :mrgreen:

 

 

 

 

*lalu ke Thamrin City, memborong batik*

 

picture source from here

Balada Ibu Menyusui

Sebagai ibu bekerja yang menyusui awalnya saya merasa galau, “bisa nggak ya saya tetap memberikan ASI sementara saya bekerja?”. Apalagi selama 2 bulan di rumah ternyata kuantitas ASI saya tidak seperti yang ada di internet (yang walaupun ibu bekerja tetap bisa memberikan ASI yang cukup bahkan berlimpah sampai kulkasnya nggak cukup untuk menampung ASI). Makin galaulah saya :cry: . ASI sih ada, keluar, tapi rasanya kok cuma cukup buat diminum Alea saja, sementara untuk di-pumping hasilnya tidak cukup banyak. Masa iya sekali peras cuma 10-30 ml saja, habis itu saya harus makan dulu supaya ASI saya produksi lagi? Sudah ASI nggak keluar, badan menggendut tak bisa dibendung, huhuhuhuhu… Pengen galau nggak sih? Ah, udah nggak pengen lagi ini sih, tapi sudah galau beneran :cry: . Apalagi ketika Alea mengalami grow spurt, rasanya ASI saya tidak cukup untuk dikonsumsi seharian oleh si mungil ini.

Tapi untunglah masa-masa ASI seret itu berakhir juga ketika saya iseng curhat ke ibu tukang pijat langganan, dan… TARAAA! Dengan seizin-Nya, dengan pijatannya yang lembut ASI saya keluar dengan lancar jaya, sampai saya bengong dibuatnya karena tidak pernah melihat ASI saya sampai seperti itu banyaknya. Agak menyesal juga kenapa baru kepikiran untuk pijat menjelang cuti saya berakhir. Kalau tahu ASI saya bisa dilancarkan dengan cara dipijat sih dari awal Alea lahir seharusnya saya sudah mulai pijat ya :( . Tapi ya sudahlah, apapun itu disyukuri, akhirnya ASI saya lancar juga. Yaaay! Jadi, kalau dulu saya suka mengeluh kalau harus bangun malam dan harus sering menyusui Alea, kini berkebalikannya. Saat menyusui menjadi saat istimewa yang saya tunggu-tunggu. Alea bisa menyusu kapanpun dia mau tanpa saya harus makan dulu supaya ASI saya ada. Ya, itu karena ASI saya sekarang sudah jauh lebih lancar dibandingkan dengan sebelumnya :mrgreen:

Trus, kalau dulu saya bebas mau jalan ke mall manapun, sekarang jadi lebih selektif memilih mall yang akan kami kunjungi. Syarat mutlaknya yaitu, mallnya harus yang dilengkapi dengan ruang laktasi. Karena pernah suatu hari saya ‘terpaksa’ harus nge-mall bertiga (saya, suami, dan Alea) ke sebuah mall di bilangan Gatot Subroto yang sebenarnya saya tahu tidak ada ruang laktasinya. Lah, sudah tahu tidak dilengkapi dengan ruang laktasi kenapa maksa ke sana? Sebenarnya bukan rencana kami akan ke sana sih, tapi karena barang yang kami cari cuma ada di sana, jadi terpaksalah kami pergi ke mall tersebut dengan harapan sebelum Alea minta mimik kami sudah mendapatkan barangnya. Tapi apa daya, justru ketika kami baru saja akan memilih barang yang dimaksud, Alea sudah merengek minta disusui. Kelimpunganlah saya. Meskipun saya bawa nursing apron ke mana-mana tapi tetap saja rasanya kurang nyaman jika harus menyusui di ruang publik. Sementara kalau harus kembali ke parkiran dan menyusui di sana, Alea keburu tambah keras tangisnya :( . Melihat saya dan suami yang sibuk menenangkan Alea sambil celingukan di mana saya bisa menyusui dengan tenang, ternyata Mbak Kasir di toko itu dengan ramah memberi saya bangku dan mempersilakan saya untuk menggunakan salah satu ruang ganti mereka untuk saya gunakan menyusui. Ah, how sweet you are, Mbak… Makasih, ya :)

Sejak saat itulah saya tidak mau coba-coba pergi bersama Alea ke mall yang tidak ada ruang laktasinya. Jadi memang saya browsing dulu mall mana saja yang ada ruang laktasi yang nyaman. Oh ya, soal ruang laktasi, dari beberapa mall yang pernah saya kunjungi sejak punya baby, sejauh ini Kota Kasablanka masih menjadi mall favorit karena selain dekat dengan tempat tinggal saya, mereka juga menyediakan ruang laktasi yang cukup besar dan luas. Terdiri dari tiga bilik yang masing-masing menyediakan sofa nyaman di dalamnya serta sederet wastafel dan meja lengkap dengan matras untuk mengganti pampers. Desain ruangannya pun dibuat ceria, terang, bersih, dan nyaman, membuat saya betah menyusui di sana. Belum lagi mbak-mbak penjaganya pun ramah-ramah :)

baby's room Kota Kasablanka

Pernah juga sih saya ke mall yang dilengkapi dengan ruang laktasi tapi tidak senyaman Kota Kasablanka. Lampunya sangat redup (malah saya pikir lampunya belum nyala), hanya tersedia 1 kursi (bukan sofa) dengan bilik berukuran sangat kecil, tidak dilengkapi dengan meja untuk menaruh tas/barang-barang bawaan. Ya, cuma ada ruangan yang hampir dikatakan gelap, dengan penutup kelambu, dan satu buah kursi untuk menyusui. Ada juga mall mentereng di Jln. Dr. Satrio yang juga dilengkapi dengan ruang laktasi; secara interior bagus dan sebenarnya cukup nyaman, tapi sayang udaranya pengap, dan sepertinya ruangan laktasi ini tidak banyak. Jadi, baru saja saya menyusui, eh pintunya sudah diketuk karena ada pengunjung lainnya yang juga membawa bayi dan akan menyusui. Sayang, ya? :|

Faktor kenyamanan ibu saat menyusui sangat menentukan produksi ASI. Hormon Oksitosin yang merangsang sel-sel otot untuk berkontraksi dan mendorong ASI sampai ke puting, dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan ibu. Jadi memang situasi dan kondisi hati ibu dan juga lokasi tempat menyusui itu sangat berpengaruh terhadap produksi ASI. Tapi sejauh ini sih saya berusaha mengendalikan pikiran dan hati saya supaya ASI tetap banyak.

Jadi sekarang yang terpenting sebelum memutuskan untuk jalan-jalan bukan lagi ke lokasi/mall yang sekadar untuk jalan/gaul, tapi… ada ruang laktasinya, nggak? :mrgreen:

Uhm, life changes, right? ;)

 

 

Stay positive?

self motivation

Entahlah, mendadak saya ingin sekali menulis tentang sesuatu yang beberapa waktu ini mondar-mandir di kepala saya setelah mengalami plus melihat teman-teman di sana, di sini, dan di situ lengkap dengan situasi yang menyertainya, yang tidak selamanya menyenangkan. Mungkin jadinya tulisan yang sedikit menggurui atau terlalu serius ya. Tapi… tak apalah. Toh cuma sesekali ini :mrgreen:

—-

Tidak semua orang yang ada di sekitar kita punya sifat yang baik. Ada orang yang (benar-benar) baik (luar dalam), ada juga orang yang menyebalkan, tapi banyak juga orang yang di depan kita baik tapi ternyata dia tidak sebaik yang kita kira. Yah, namanya juga hidup, segala sifat manusia itu ada. Semacam penyeimbang. Kalau semuanya baik/jahat mungkin hidup kita akan flat ya. Dan hei, mungkin saja, tanpa kita sadari orang lain ternyata punya pemikiran yang sama tentang kita, kita memang orang yang (dianggap) baik atau kita bukan orang yang benar-benar baik buat mereka (sekalipun kita sudah berusaha menjadi baik). Manusiawi.

Yang jelas, hidup itu pasti ada up and down-nya. Pasti kita pernah merasa, kok hidup kita sangat tidak adil, saking banyaknya/beratnya permasalahan yang kita hadapi, plus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang jauh lebih baik dan lebih menyenangkan. Entah kenapa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau (padahal kalau sudah masuk ke halamannya ya belum tentu terlihat sehijau yang terlihat dari rumah kita). Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, toh kita tetap harus menjalaninya, bukan? Dengan kekuatan bulan segala cara kita akan berusaha untuk survive, salah satunya dengan tetap berpikir positif dan penuh harapan semoga semua masalah bisa terselesaikan dengan baik. Sayangnya, tidak semua orang mampu/mau menaklukkan ‘tantangan’ itu; ada yang menyerah begitu saja di tengah jalan, atau sebenarnya sudah ada usaha untuk menyelesaikan tapi terbentur oleh keadaan sehingga tampaknya masalah itu tak kunjung terselesaikan? Apapun itu, ketika sebuah masalah menjadi berlarut-larut dan tak terselesaikan, lambat laun, tanpa disadari, akan memicu seseorang berubah menjadi pribadi yang mudah galau, stress, pesimistis, cenderung sarkastik, sinis, bahkan toxic, sehingga dia bukan lagi menjadi orang yang menyenangkan to be around with. Itu menurut sepenglihatan saya sih… :sad:

Dari apa yang saya tulis sekilas di atas bukan berarti kita tidak boleh galau, mellow, dan merasa down. Sama seperti manusia normal lainnya, saya pun pernah ada di titik terendah, tak berdaya, mellow, galau, dan hopeless. Saya pikir kita punya ‘hak’ untuk galau kok, dan semua itu sah-sah saja. Tapi selanjutnya semua kembali lagi ke diri sendiri, kita yang ‘mengendalikan’ masalah, atau kita yang ‘dikendalikan’ masalah? I know this is indeed a challenge. But it is a challenge to face and conquer.

Ketika hal-hal yang tidak menyenangkan tiba-tiba datang (dalam hidup kita), saya percaya bahwa dengan tetap berpikir positif akan membawa energi positif pula; setidaknya membuat kita sedikit merasa lebih baik. Sulit memang, lha wong lagi sedih dan galau kok disuruh berpikir positif, yang ada ya makin galaulah. Iya, tahu. Tapi percaya deh, dengan tetap berpikir positif masih jauh lebih baik daripada membiarkan kita tenggelam, larut dalam kesedihan dan kegalauan. Masalah bukan tambah selesai, malah kian berlarut-larut :|

I know, it is easier said than done. Tapi ketika semua hal yang tidak menyenangkan itu terjadi, dan bahkan ketika itu menjadi hal tersulit bagi kita untuk tetap (menjadi pribadi yang) positif, try it! It feels much better :)

Just my two cents…

 

 

pict source: here

Alea and Newbie Mommy

alea

Menjadi seorang ibu tentu saja sebuah pengalaman baru bagi saya. Ada banyak sekali adjustment yang harus saya lakukan sejak hadirnya Alea. Bukan suatu hal yang mudah ketika saya harus menyesuaikan ritme hidup saya dengan ritme hidup si kecil. Contoh paling mudah adalah ketika Si Kecil pola tidurnya masih belum terpola dan ‘berantakan’, saya pun harus rela jam istirahat saya ikut menjadi kacau. Apalagi di awal-awal menyusui. Duh, jangan ditanya bagaimana derita saya waktu itu. Di tengah belum pulihnya kondisi badan saya pascaoperasi, saya juga mengalami stress karena sekujur badan bentol-bentol alergi antibiotik. Belum lagi puting yang mengelupas (para ibu pasti tahu rasanya); payudara yang sempat bengkak karena terlambat menyusukan ke bayi, hingga akhirnya saya demam meriang sekujur badan. Kepala pening karena pola tidur malam yang kacau. Stress karena ASI yang kurang lancar, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Namun seiring dengan waktu akhirnya fisik dan psikis saya mulai menyesuaikan diri. Bahkan sering kali saya merasa berdosa pada putri saya karena di awal-awal kehadirannya saya belum sepenuhnya mencurahkan perhatian saya padanya. Masih banyak ngeluhnya. Hingga akhirnya saya ditegur Mama karena pernah di suatu malam, ketika Alea menangis karena lapar, saya tidak sanggup bangun karena ngantuk berat. Entah sadar atau tidak saya bilang begini, “kan tadi udah mimik, Dek. Masa belum 2 jam udah mimik lagi? Mama ngantuk, Nak…” Walau akhirnya saya susui juga, tapi dengan mata setengah terpejam. Dengan lembut Mama menegur saya, mengingatkan, bahwa perasaan bayi itu sangat peka. Dia bisa merasakan apakah ibunya ikhlas/tidak ketika menyusui, apakah seseorang itu tulus menyayangi dia atau tidak, apakah seseorang itu tulus menerima kehadirannya atau tidak. Jangan sampai Alea merasa saya tidak ikhlas bangun untuk menyusuinya. Jujur, teguran itu menyadarkan saya dan terasa sangat MAKJLEB; membuat saya langsung bangun untuk menyusui Alea hingga kenyang dan tertidur pulas.

“Ya beginilah perjuangan menjadi seorang ibu (baru). Harus rela bangun malam untuk menyusui bayi, mengganti popoknya kalau dia pup, dan menenangkan dia kalau dia nangis/rewel. Bayi nangis kan bukan selalu karena haus, bisa saja karena dia ngantuk atau nggak nyaman. wis, tho… yang ikhlas. Bayi itu bisa merasakan apakah kita sayang atau enggak, tulus atau enggak. Syukuri setiap detikmu menjadi seorang ibu. Banyak orang di luar sana yang menunggu untuk menjadi seorang ibu, dan ketika sudah menjadi seorang ibu pun belum tentu semua bisa menyusui anaknya karena berbagai sebab. Dinikmati saja ya, Wuk…”

Hiks, iya Ma. Terima kasih sudah diingatkan. Alea, maafkan Mama ya, Nak :cry:

Ketika saya menulis postingan ini Alea genap berusia 51 hari; hampir 2 bulan. Itu juga berarti semakin dekat pula cuti saya berakhir dan harus kembali ngantor. Agak berat sih, karena saya juga belum dapat pengasuh untuk Alea :( . Nggak mungkin juga saya menggantungkan Alea ke ibu mertua. Beliau sudah sibuk mengurus ayah mertua yang sedang sakit dan juga butuh perhatian. Ya mentok-mentoknya nanti kalau memang belum dapat pengasuh, mungkin Mama saya akan ke Jakarta lagi untuk bantu mengasuh Alea. Ah, kalau ini sih saya bahagia banget, hihihihi :D

Ada banyak hal mengesankan dan mengharukan selama 51 hari saya menjadi seorang ibu. Pernah di suatu malam, Alea nangis; saya pun buru-buru bangun dan ambil posisi bersandar di headboard tempat tidur sambil memangku Alea siap untuk menyusui. Tapi apa yang terjadi? Alea, setelah tahu bahwa dia sudah ada di pangkuan saya, tangisnya mereda, selama beberapa saat dia memandang saya dan kemudian tertidur pulas dalam keadaan salah satu tangannya salah satu memeluk dada saya. Sontak air mata saya menetes. Ah, ternyata dia cuma ingin bonding, cuma ingin tidur dipeluk mamanya :(

Kejadian yang satu ini pun membuat saya menjadi mellow. Sore itu Alea sedang menyusu. Seperti biasa, kalau Alea sedang menyusu salah satu tangan saya pasti sambil membelai kepalanya sambil bilang, “Mama sayang kamu, Dek…”. Tapi ada hal yang berbeda sore itu. Sambil masih menyusu, tiba-tiba kedua tangan Alea memeluk erat tangan saya sambil mata beningnya menatap saya, seolah ingin bilang kalau dia juga sayang sama saya. Duh, Nak… hati Mama langsung meleleh nih :(

Ada lagi hal mengharukan, bertepatan dengan aqiqah Alea yang jatuh pada tanggal 21 Agustus 2014 kemarin. Biasanya, Alea suka rewel kalau jenuh, haus, atau gerah. Biasalah namanya juga bayi. Saya juga khawatir selama pengajian nanti dia akan nangis rewel karena jenuh dan capek. Tapi sepertinya saya telah meremehkan putri saya ini. Sepanjang acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam itu, dia anteng di pangkuan saya seolah menyimak segala doa yang dilantunkan oleh para tamu pengajian yang diperuntukkan baginya. Hanya sekali saja dia mewek karena haus, tapi itu pun tidak lama karena setelah saya susui dia tenang kembali dan khusyu mengikuti keseluruhan jalannya acara aqiqah. Subhanallah…

Dan kejadian terakhir, baru saja terjadi. Biasanya kalau habis mandi sore Alea pengennya menyusu, dan tidur hingga habis maghrib. Lha ini tumben, sampai adzan Isya dia masih melek lebar banget padahal sudah menyusu sampai kenyang dan digendong Nina Bobo muterin kamar sampai kaki saya pegal. Akhirnya ya sudahlah, berhubung saya belum shalat, saya taruh saja dia di tempat tidur, nanti kalau selesai shalat dan dia belum tidur, saya gendong lagi. Sambil mengecup lembut keningnya, saya bilang, “Sayang, Mama mau shalat dulu ya. Sayang bobo di sini dulu ya. Nggak boleh rewel ya, Nak. Love you…” dan saya pun meninggalkan kamar untuk makan dan ambil wudhu. Setelah makan dan wudhu, saya kembali ke kamar dan ternyata menemukan pemandangan princess saya ini sudah lelap, bobo sendiri. Duh, Nak… pinter banget kamu. Tahu gitu dari tadi Mama taruh kamu di kasur ya :D

Sebagai seorang ibu baru saya masih harus banyak belajar. Belajar jadi ibu yang baik untuk Alea dan belajar mengenal lagi putri saya. Saya tahu perjalanan mengenal Alea masih panjang. Saya juga tahu tidak ada yang manusia yang sempurna, pun menjadi orangtua. Saya dan suami hanya berusaha menjadi dan memberikan yang terbaik untuk Alea.

Maafkan kami yang belum sempurna menjadi orangtua ya, Nak. We do love you, Princess… :*