Balada Ibu Menyusui

Sebagai ibu bekerja yang menyusui awalnya saya merasa galau, “bisa nggak ya saya tetap memberikan ASI sementara saya bekerja?”. Apalagi selama 2 bulan di rumah ternyata kuantitas ASI saya tidak seperti yang ada di internet (yang walaupun ibu bekerja tetap bisa memberikan ASI yang cukup bahkan berlimpah sampai kulkasnya nggak cukup untuk menampung ASI). Makin galaulah saya :cry: . ASI sih ada, keluar, tapi rasanya kok cuma cukup buat diminum Alea saja, sementara untuk di-pumping hasilnya tidak cukup banyak. Masa iya sekali peras cuma 10-30 ml saja, habis itu saya harus makan dulu supaya ASI saya produksi lagi? Sudah ASI nggak keluar, badan menggendut tak bisa dibendung, huhuhuhuhu… Pengen galau nggak sih? Ah, udah nggak pengen lagi ini sih, tapi sudah galau beneran :cry: . Apalagi ketika Alea mengalami grow spurt, rasanya ASI saya tidak cukup untuk dikonsumsi seharian oleh si mungil ini.

Tapi untunglah masa-masa ASI seret itu berakhir juga ketika saya iseng curhat ke ibu tukang pijat langganan, dan… TARAAA! Dengan seizin-Nya, dengan pijatannya yang lembut ASI saya keluar dengan lancar jaya, sampai saya bengong dibuatnya karena tidak pernah melihat ASI saya sampai seperti itu banyaknya. Agak menyesal juga kenapa baru kepikiran untuk pijat menjelang cuti saya berakhir. Kalau tahu ASI saya bisa dilancarkan dengan cara dipijat sih dari awal Alea lahir seharusnya saya sudah mulai pijat ya :( . Tapi ya sudahlah, apapun itu disyukuri, akhirnya ASI saya lancar juga. Yaaay! Jadi, kalau dulu saya suka mengeluh kalau harus bangun malam dan harus sering menyusui Alea, kini berkebalikannya. Saat menyusui menjadi saat istimewa yang saya tunggu-tunggu. Alea bisa menyusu kapanpun dia mau tanpa saya harus makan dulu supaya ASI saya ada. Ya, itu karena ASI saya sekarang sudah jauh lebih lancar dibandingkan dengan sebelumnya :mrgreen:

Trus, kalau dulu saya bebas mau jalan ke mall manapun, sekarang jadi lebih selektif memilih mall yang akan kami kunjungi. Syarat mutlaknya yaitu, mallnya harus yang dilengkapi dengan ruang laktasi. Karena pernah suatu hari saya ‘terpaksa’ harus nge-mall bertiga (saya, suami, dan Alea) ke sebuah mall di bilangan Gatot Subroto yang sebenarnya saya tahu tidak ada ruang laktasinya. Lah, sudah tahu tidak dilengkapi dengan ruang laktasi kenapa maksa ke sana? Sebenarnya bukan rencana kami akan ke sana sih, tapi karena barang yang kami cari cuma ada di sana, jadi terpaksalah kami pergi ke mall tersebut dengan harapan sebelum Alea minta mimik kami sudah mendapatkan barangnya. Tapi apa daya, justru ketika kami baru saja akan memilih barang yang dimaksud, Alea sudah merengek minta disusui. Kelimpunganlah saya. Meskipun saya bawa nursing apron ke mana-mana tapi tetap saja rasanya kurang nyaman jika harus menyusui di ruang publik. Sementara kalau harus kembali ke parkiran dan menyusui di sana, Alea keburu tambah keras tangisnya :( . Melihat saya dan suami yang sibuk menenangkan Alea sambil celingukan di mana saya bisa menyusui dengan tenang, ternyata Mbak Kasir di toko itu dengan ramah memberi saya bangku dan mempersilakan saya untuk menggunakan salah satu ruang ganti mereka untuk saya gunakan menyusui. Ah, how sweet you are, Mbak… Makasih, ya :)

Sejak saat itulah saya tidak mau coba-coba pergi bersama Alea ke mall yang tidak ada ruang laktasinya. Jadi memang saya browsing dulu mall mana saja yang ada ruang laktasi yang nyaman. Oh ya, soal ruang laktasi, dari beberapa mall yang pernah saya kunjungi sejak punya baby, sejauh ini Kota Kasablanka masih menjadi mall favorit karena selain dekat dengan tempat tinggal saya, mereka juga menyediakan ruang laktasi yang cukup besar dan luas. Terdiri dari tiga bilik yang masing-masing menyediakan sofa nyaman di dalamnya serta sederet wastafel dan meja lengkap dengan matras untuk mengganti pampers. Desain ruangannya pun dibuat ceria, terang, bersih, dan nyaman, membuat saya betah menyusui di sana. Belum lagi mbak-mbak penjaganya pun ramah-ramah :)

baby's room Kota Kasablanka

Pernah juga sih saya ke mall yang dilengkapi dengan ruang laktasi tapi tidak senyaman Kota Kasablanka. Lampunya sangat redup (malah saya pikir lampunya belum nyala), hanya tersedia 1 kursi (bukan sofa) dengan bilik berukuran sangat kecil, tidak dilengkapi dengan meja untuk menaruh tas/barang-barang bawaan. Ya, cuma ada ruangan yang hampir dikatakan gelap, dengan penutup kelambu, dan satu buah kursi untuk menyusui. Ada juga mall mentereng di Jln. Dr. Satrio yang juga dilengkapi dengan ruang laktasi; secara interior bagus dan sebenarnya cukup nyaman, tapi sayang udaranya pengap, dan sepertinya ruangan laktasi ini tidak banyak. Jadi, baru saja saya menyusui, eh pintunya sudah diketuk karena ada pengunjung lainnya yang juga membawa bayi dan akan menyusui. Sayang, ya? :|

Faktor kenyamanan ibu saat menyusui sangat menentukan produksi ASI. Hormon Oksitosin yang merangsang sel-sel otot untuk berkontraksi dan mendorong ASI sampai ke puting, dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan ibu. Jadi memang situasi dan kondisi hati ibu dan juga lokasi tempat menyusui itu sangat berpengaruh terhadap produksi ASI. Tapi sejauh ini sih saya berusaha mengendalikan pikiran dan hati saya supaya ASI tetap banyak.

Jadi sekarang yang terpenting sebelum memutuskan untuk jalan-jalan bukan lagi ke lokasi/mall yang sekadar untuk jalan/gaul, tapi… ada ruang laktasinya, nggak? :mrgreen:

Uhm, life changes, right? ;)

 

 

Stay positive?

self motivation

Entahlah, mendadak saya ingin sekali menulis tentang sesuatu yang beberapa waktu ini mondar-mandir di kepala saya setelah mengalami plus melihat teman-teman di sana, di sini, dan di situ lengkap dengan situasi yang menyertainya, yang tidak selamanya menyenangkan. Mungkin jadinya tulisan yang sedikit menggurui atau terlalu serius ya. Tapi… tak apalah. Toh cuma sesekali ini :mrgreen:

—-

Tidak semua orang yang ada di sekitar kita punya sifat yang baik. Ada orang yang (benar-benar) baik (luar dalam), ada juga orang yang menyebalkan, tapi banyak juga orang yang di depan kita baik tapi ternyata dia tidak sebaik yang kita kira. Yah, namanya juga hidup, segala sifat manusia itu ada. Semacam penyeimbang. Kalau semuanya baik/jahat mungkin hidup kita akan flat ya. Dan hei, mungkin saja, tanpa kita sadari orang lain ternyata punya pemikiran yang sama tentang kita, kita memang orang yang (dianggap) baik atau kita bukan orang yang benar-benar baik buat mereka (sekalipun kita sudah berusaha menjadi baik). Manusiawi.

Yang jelas, hidup itu pasti ada up and down-nya. Pasti kita pernah merasa, kok hidup kita sangat tidak adil, saking banyaknya/beratnya permasalahan yang kita hadapi, plus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang jauh lebih baik dan lebih menyenangkan. Entah kenapa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau (padahal kalau sudah masuk ke halamannya ya belum tentu terlihat sehijau yang terlihat dari rumah kita). Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, toh kita tetap harus menjalaninya, bukan? Dengan kekuatan bulan segala cara kita akan berusaha untuk survive, salah satunya dengan tetap berpikir positif dan penuh harapan semoga semua masalah bisa terselesaikan dengan baik. Sayangnya, tidak semua orang mampu/mau menaklukkan ‘tantangan’ itu; ada yang menyerah begitu saja di tengah jalan, atau sebenarnya sudah ada usaha untuk menyelesaikan tapi terbentur oleh keadaan sehingga tampaknya masalah itu tak kunjung terselesaikan? Apapun itu, ketika sebuah masalah menjadi berlarut-larut dan tak terselesaikan, lambat laun, tanpa disadari, akan memicu seseorang berubah menjadi pribadi yang mudah galau, stress, pesimistis, cenderung sarkastik, sinis, bahkan toxic, sehingga dia bukan lagi menjadi orang yang menyenangkan to be around with. Itu menurut sepenglihatan saya sih… :sad:

Dari apa yang saya tulis sekilas di atas bukan berarti kita tidak boleh galau, mellow, dan merasa down. Sama seperti manusia normal lainnya, saya pun pernah ada di titik terendah, tak berdaya, mellow, galau, dan hopeless. Saya pikir kita punya ‘hak’ untuk galau kok, dan semua itu sah-sah saja. Tapi selanjutnya semua kembali lagi ke diri sendiri, kita yang ‘mengendalikan’ masalah, atau kita yang ‘dikendalikan’ masalah? I know this is indeed a challenge. But it is a challenge to face and conquer.

Ketika hal-hal yang tidak menyenangkan tiba-tiba datang (dalam hidup kita), saya percaya bahwa dengan tetap berpikir positif akan membawa energi positif pula; setidaknya membuat kita sedikit merasa lebih baik. Sulit memang, lha wong lagi sedih dan galau kok disuruh berpikir positif, yang ada ya makin galaulah. Iya, tahu. Tapi percaya deh, dengan tetap berpikir positif masih jauh lebih baik daripada membiarkan kita tenggelam, larut dalam kesedihan dan kegalauan. Masalah bukan tambah selesai, malah kian berlarut-larut :|

I know, it is easier said than done. Tapi ketika semua hal yang tidak menyenangkan itu terjadi, dan bahkan ketika itu menjadi hal tersulit bagi kita untuk tetap (menjadi pribadi yang) positif, try it! It feels much better :)

Just my two cents…

 

 

pict source: here

Alea and Newbie Mommy

alea

Menjadi seorang ibu tentu saja sebuah pengalaman baru bagi saya. Ada banyak sekali adjustment yang harus saya lakukan sejak hadirnya Alea. Bukan suatu hal yang mudah ketika saya harus menyesuaikan ritme hidup saya dengan ritme hidup si kecil. Contoh paling mudah adalah ketika Si Kecil pola tidurnya masih belum terpola dan ‘berantakan’, saya pun harus rela jam istirahat saya ikut menjadi kacau. Apalagi di awal-awal menyusui. Duh, jangan ditanya bagaimana derita saya waktu itu. Di tengah belum pulihnya kondisi badan saya pascaoperasi, saya juga mengalami stress karena sekujur badan bentol-bentol alergi antibiotik. Belum lagi puting yang mengelupas (para ibu pasti tahu rasanya); payudara yang sempat bengkak karena terlambat menyusukan ke bayi, hingga akhirnya saya demam meriang sekujur badan. Kepala pening karena pola tidur malam yang kacau. Stress karena ASI yang kurang lancar, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Namun seiring dengan waktu akhirnya fisik dan psikis saya mulai menyesuaikan diri. Bahkan sering kali saya merasa berdosa pada putri saya karena di awal-awal kehadirannya saya belum sepenuhnya mencurahkan perhatian saya padanya. Masih banyak ngeluhnya. Hingga akhirnya saya ditegur Mama karena pernah di suatu malam, ketika Alea menangis karena lapar, saya tidak sanggup bangun karena ngantuk berat. Entah sadar atau tidak saya bilang begini, “kan tadi udah mimik, Dek. Masa belum 2 jam udah mimik lagi? Mama ngantuk, Nak…” Walau akhirnya saya susui juga, tapi dengan mata setengah terpejam. Dengan lembut Mama menegur saya, mengingatkan, bahwa perasaan bayi itu sangat peka. Dia bisa merasakan apakah ibunya ikhlas/tidak ketika menyusui, apakah seseorang itu tulus menyayangi dia atau tidak, apakah seseorang itu tulus menerima kehadirannya atau tidak. Jangan sampai Alea merasa saya tidak ikhlas bangun untuk menyusuinya. Jujur, teguran itu menyadarkan saya dan terasa sangat MAKJLEB; membuat saya langsung bangun untuk menyusui Alea hingga kenyang dan tertidur pulas.

“Ya beginilah perjuangan menjadi seorang ibu (baru). Harus rela bangun malam untuk menyusui bayi, mengganti popoknya kalau dia pup, dan menenangkan dia kalau dia nangis/rewel. Bayi nangis kan bukan selalu karena haus, bisa saja karena dia ngantuk atau nggak nyaman. wis, tho… yang ikhlas. Bayi itu bisa merasakan apakah kita sayang atau enggak, tulus atau enggak. Syukuri setiap detikmu menjadi seorang ibu. Banyak orang di luar sana yang menunggu untuk menjadi seorang ibu, dan ketika sudah menjadi seorang ibu pun belum tentu semua bisa menyusui anaknya karena berbagai sebab. Dinikmati saja ya, Wuk…”

Hiks, iya Ma. Terima kasih sudah diingatkan. Alea, maafkan Mama ya, Nak :cry:

Ketika saya menulis postingan ini Alea genap berusia 51 hari; hampir 2 bulan. Itu juga berarti semakin dekat pula cuti saya berakhir dan harus kembali ngantor. Agak berat sih, karena saya juga belum dapat pengasuh untuk Alea :( . Nggak mungkin juga saya menggantungkan Alea ke ibu mertua. Beliau sudah sibuk mengurus ayah mertua yang sedang sakit dan juga butuh perhatian. Ya mentok-mentoknya nanti kalau memang belum dapat pengasuh, mungkin Mama saya akan ke Jakarta lagi untuk bantu mengasuh Alea. Ah, kalau ini sih saya bahagia banget, hihihihi :D

Ada banyak hal mengesankan dan mengharukan selama 51 hari saya menjadi seorang ibu. Pernah di suatu malam, Alea nangis; saya pun buru-buru bangun dan ambil posisi bersandar di headboard tempat tidur sambil memangku Alea siap untuk menyusui. Tapi apa yang terjadi? Alea, setelah tahu bahwa dia sudah ada di pangkuan saya, tangisnya mereda, selama beberapa saat dia memandang saya dan kemudian tertidur pulas dalam keadaan salah satu tangannya salah satu memeluk dada saya. Sontak air mata saya menetes. Ah, ternyata dia cuma ingin bonding, cuma ingin tidur dipeluk mamanya :(

Kejadian yang satu ini pun membuat saya menjadi mellow. Sore itu Alea sedang menyusu. Seperti biasa, kalau Alea sedang menyusu salah satu tangan saya pasti sambil membelai kepalanya sambil bilang, “Mama sayang kamu, Dek…”. Tapi ada hal yang berbeda sore itu. Sambil masih menyusu, tiba-tiba kedua tangan Alea memeluk erat tangan saya sambil mata beningnya menatap saya, seolah ingin bilang kalau dia juga sayang sama saya. Duh, Nak… hati Mama langsung meleleh nih :(

Ada lagi hal mengharukan, bertepatan dengan aqiqah Alea yang jatuh pada tanggal 21 Agustus 2014 kemarin. Biasanya, Alea suka rewel kalau jenuh, haus, atau gerah. Biasalah namanya juga bayi. Saya juga khawatir selama pengajian nanti dia akan nangis rewel karena jenuh dan capek. Tapi sepertinya saya telah meremehkan putri saya ini. Sepanjang acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam itu, dia anteng di pangkuan saya seolah menyimak segala doa yang dilantunkan oleh para tamu pengajian yang diperuntukkan baginya. Hanya sekali saja dia mewek karena haus, tapi itu pun tidak lama karena setelah saya susui dia tenang kembali dan khusyu mengikuti keseluruhan jalannya acara aqiqah. Subhanallah…

Dan kejadian terakhir, baru saja terjadi. Biasanya kalau habis mandi sore Alea pengennya menyusu, dan tidur hingga habis maghrib. Lha ini tumben, sampai adzan Isya dia masih melek lebar banget padahal sudah menyusu sampai kenyang dan digendong Nina Bobo muterin kamar sampai kaki saya pegal. Akhirnya ya sudahlah, berhubung saya belum shalat, saya taruh saja dia di tempat tidur, nanti kalau selesai shalat dan dia belum tidur, saya gendong lagi. Sambil mengecup lembut keningnya, saya bilang, “Sayang, Mama mau shalat dulu ya. Sayang bobo di sini dulu ya. Nggak boleh rewel ya, Nak. Love you…” dan saya pun meninggalkan kamar untuk makan dan ambil wudhu. Setelah makan dan wudhu, saya kembali ke kamar dan ternyata menemukan pemandangan princess saya ini sudah lelap, bobo sendiri. Duh, Nak… pinter banget kamu. Tahu gitu dari tadi Mama taruh kamu di kasur ya :D

Sebagai seorang ibu baru saya masih harus banyak belajar. Belajar jadi ibu yang baik untuk Alea dan belajar mengenal lagi putri saya. Saya tahu perjalanan mengenal Alea masih panjang. Saya juga tahu tidak ada yang manusia yang sempurna, pun menjadi orangtua. Saya dan suami hanya berusaha menjadi dan memberikan yang terbaik untuk Alea.

Maafkan kami yang belum sempurna menjadi orangtua ya, Nak. We do love you, Princess… :*

 

 

 

 

Welcome to the world, Alea!

sesi pemotretan sebelum pulang dari rumah sakit :D

“One of the greatest titles in the world is parent, and on of the biggest blessings in the world is to have parents to call mom and dad”
Jim De Mint

Senin pagi (14/7), saya masih beraktivitas seperti biasa, bangun dini hari, menyiapkan sahur untuk keluarga, hingga bersiap untuk berangkat ke kantor. Tapi entah kenapa ada yang tidak biasa dengan perut saya. Saya mengalami rasa mulas seperti mau menstruasi yang berlangsung secara terus menerus selama hampir seharian. Bahkan di taksi dalam perjalanan menuju ke kantor pun saya merasakan sakit yang luar biasa; saya sampai menangis menahan mulas (yang ternyata akhirnya saya tahu itu namanya kontraksi; maklum belum pernah merasakan yang namanya kontraksi itu seprti apa bentuknya :( ). Tapi beruntung malam harinya rasa itu sempat hilang sehingga saya bisa tidur dengan sedikit lebih tenang.

Selasa dini hari (15/7), saya kembali merasakan kontraksi. Klai ini jauh lebih hebat dari pada hari sebelumnya. Saya berkali-kali istighfar menahan sakit sambil mencoba bangun dan mengambil wudhu. Tapi saya jadi panik sendiri karena saya ternyata saya bukan lagi mengalami flek, tapi sudah pendarahan. Segera saya membangunkan suami yang masih tertidur pulas. Dengan segera dia bangun dan memesan taksi untuk segera menuju ke UGD RSUD Pasar Rebo.

Rasanya saya sudah tak berdaya, antara menahan sakit dan panik. Bayi saya gerakannya aktif luar biasa. Entah apa yang dia rasakan di dalam perut saya. Saya hanya bisa pasrah, kalaupun memang harus terlahir saat itu ya sudahlah tak apa. Sebenarnya HPL (Hari Perkiraan Lahir) masih 1 Agustus 2014, ya itu ditepatkan 40 minggu. Kalau saat itu pun sebenarnya juga sudah boleh dilahirkan karena sudah masuk 37 minggu. Mengingat posisi bayi saya yang sungsang, dan posisi plasenta yang menutup total jalan lahir (placenta previa) jadi sebenarnya dokter pernah menawarkan opsi untuk melahirkan sebelum tanggal 1 Agustus 2014, tapi saya coba untuk tetap di HPL saja. Btw, saya pikir kalau placenta previa itu tidak akan mengalami kontraksi, ternyata sama seperti kehamilan normal, kontraksi juga; karena kontraksi adalah dorongan alamiah dari bayi di dalam perut.

Saya segera mendapat penanganan pertama di UGD; ditensi, diukur tinggi perut saya, diukur detak jantung bayi saya, dan terakhir dipasang kateter plus infus. Setelah menunggu selama sekian jam sejak pukul 03.45 wib akhirnya saya di-visit juga oleh dokter saya pukul 09.00 wib. Itu juga setelah kondisi saya dicek berkali-kali oleh perawat; beruntung kontraksi yang saya rasakan mulai banyak berkurang, jadi saya bisa sedikit beristirahat. Pukul 12.00 wib, saya di-USG untuk melihat kondisi bayi saya. Alhamdulillah dia baik-baik saja. Dokter mengusahakan untuk mempertahankan bayi saya sampai dirasa berat badannya cukup, minimal 3 kg, karena berat badan yang sekarang masih 2.8 kg. Padahal sebenarnya kalau pun mau dilahirkan hari ini juga tidak apa-apa sih, ya. Eh, itu kalau pendapat saya. Mungkin saja dokter punya alasan lain yang lebih secure daripada apa yang saya pikirkan. Dokter memberi waktu sampai dengan besok untuk melihat kondisi saya. Kalau memang seluruh kondisi saya dan baby bagus, saya boleh pulang. Untuk sementara saya ditempatkan di Ruang Observasi.

Rabu (16/7) sore, ada yang ‘aneh’ dengan perut saya. Seperti ada sesuatu yang mengalir begitu saja, di luar kendali saya. Setiap kali saya bergeser/bergerak sedikit saja cairan itu seolah keluar tanpa bisa saya kendalikan. Apakah itu ketuban? :o Suami saya yang posisinya tidak bisa menjaga saya di dalam ruangan karena memang bukan kamar yang bisa dibezuk, berkali-kali meminta perawat untuk mengecek kondisi saya. Hingga akhirnya salah satu perawat menyatakan ketuban saya sudah pecah, dan saya sudah pembukaan satu. Dengan segera, perawat menghubungi dokter kandungan saya, dan hasilnya operasi sesar aka dipercepat besok pagi (17/7), dan saya harus berpuasa sejak pukul 00.00 wib. Saya pun dipindahkan ke ruang yang lebih intensif penanganannya untuk persiapan operasi besok pagi.

Sepanjang malam saya tidak bisa tidur tenang. Berat rasanya tidak diperbolehkan mengelus perut saya untuk sekadar menenangkan diri dan bayi saya, karena dengan semakin sering disentuh bayi akan cenderung semakin aktif, sementara kondisi saya sedang tidak memungkinkan. Jangankan terkena gerakan bayi, saya bergerak sedikit saja ketuban sudah merembes ke mana-mana :(. Semalaman saya hanya bisa berdialog dengan bayi saya tanpa bersentuhan.

Kamis (17/7), pukul 08.00 wib saya sudah siap menuju ruang operasi. Suami dan ibu mertua menunggu saya di luar ruangan. Di selasar menuju ruang operasi ternyata sudah menunggu beberapa pasien yang juga menunggu antrean dioperasi. Setelah menunggu selama kurang lebih satu jam, akhirnya saya didorong menuju ruang operasi yang suhunya luar biasa dingin itu. Ada yang ‘unik’ di ruang operasi itu. Semua kru yang bertugas terlihat sangat santai (ya iyalah, kan memang sudah kerjaan mereka sehari-hari). Sambil menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk operasi, mereka asyik ngobrol tentang THR dan tunjangan-tunjangan lainnya :D. Tepat pukul 09.15 wib seluruh tim operasi yang dipimpin oleh dr. Ardian Suryo Anggoro, Sp.OG telah siap dan dengan mengucap bismillah saya memejamkan mata, berdoa semoga operasi berjalan lancar.

Efek bius lokal menyebabkan saya hanya bisa merasakan perut saya ‘digoyang-goyang’ (padahal aslinya sudah disayat-sayat, ya). Dan tahu-tahu…

“Ibu Devi Eriana Safira, selamat ya. Ini putri ibu. Perempuan ya, Bu. Tolong dilihat, semua normal, lengkap ya, Bu. Jari kakinya masing-masing 5. Dan…

“Subhanallah… Kamu cantik sekaliiii….”, komentar saya spontan demi melihat wajah putri saya dengan hidungnya yang mancung itu

“Bu Devi, tolong dilihat dulu, jari tangannya juga lengkap ya, Bu. Masing-masing 5. Berat badannya 2.820 kg, panjangnya 47 cm, lingkar kepala 34 cm…”

“Iya, Suster… :(” *menahan mewek*

“Sekarang boleh dicium deh… :)”

Ini aku waktu baru dilahirkan Mama :D
Ini aku waktu baru dilahirkan Mama :D

Jujur, ada berjuta perasaan yang tak terkatakan. Air mata saya pecah tak terbendung. Mendadak saya menggigil dalam keharuan luar biasa melihat sesosok makhluk mungil yang helpless itu seolah tersenyum menatap saya dengan tatapan matanya yang bening. Berjuta kata syukur tak henti saya ucapkan dalam hati. Hari itu, saya resmi menyandang status seorang ibu. Sebuah status yang telah saya tunggu sekian lama. Seorang bayi yang selama kurang lebih 9 bulan di dalam perut saya, menemani aktivitas dan kesibukan saya sehari-hari, menemani di setiap ibadah malam saya; akhirnya lahir juga.

DSCN2234

Begitu banyak cerita dan keajaiban-keajaiban luar biasa yang saya lewati bersama si kecil dalam perut saya. Alhamdulillah semua proses berjalan lancar. Bahkan saya merasa segala proses di rumah sakit dimudahkan oleh Allah. Sampai dengan pencarian kamar pun dimudahkan. Di saat banyak pasien mengalami kesulitan mencari kamar karena semuanya penuh, saya tiba-tiba mendapatkan kamar kelas I karena bertepatan dengan pasien yang pulang. Pemulihan pascaoperasi pun juga alhamdulillah jauh lebih cepat dibandingkan dengan operasi yang pernah saya alami dulu. Dalam 3 hari saya sudah bisa jalan ke mana-mana, sudah bisa menggendong si kecil, dan hari Sabtu (19/7) saya sudah diperbolehkan pulang.

pemotretan by Popi p

Dear Alea, you are the most beautiful miracles in life. One of the greatest joy I can ever know. One of the reasons why there is a little extra sunshine, laughter and happiness in my world everyday…

Selamat datang malaikat cantikku, Audrey Frasya Aleshara. Semoga menjadi anak yang shalehah, berbakti kepada kedua orang tua, bertakwa kepada Allah SWT, berguna bagi nusa, bangsa, dan agamanya. Serta menjadi kebanggaan keluarga. Aamiin ya rabbal alamiin… :)

We love you, Alea…

Berkompromi dengan Kemacetan

TrafficJam

Hari Rabu (25/6) kemarin sepertinya menjadi hari macet yang paling epic se-Jakarta. Betapa tidak, saya terjebak dalam kemacetan luar biasa selama hampir 6 jam sepulang kantor! *mewek*

Sore itu mendung gelap sudah menghiasi langit Jakarta sejak pukul 15.30. Saya yang mengintip dari balik jendela sudah mulai panik-panik bergembira, bergembira semua, karena kalau hujan itu berarti saya harus berdiri di halte menunggu shuttle bus yang biasa saya tumpangi itu lewat sampai hujan reda, sementara kondisi saya sedang kurang memungkinkan untuk berdiri terlalu lama. Hiks :(

Pukul 16.00 saya pun bergegas menuju ke halte sambil berlomba dengan awan hitam yang sudah siap menurunkan hujan dengan lebatnya. Tepat sesuai dengan perkiraan saya, hujan pun langsung turun dengan lebatnya tepat setibanya saya sampai di halte. Tak tanggung-tanggung, hujan mengguyur Jakarta selama satu jam lamanya. Jakarta yang di hari biasa dan sedang tidak hujan saja macetnya luar biasa, apalagi ketika hujan, volume macetnya pun menjadi berkali-kali lipat.

Jalanan di depan saya sudah diam tak bergerak. Kalaupun iya ada pergerakan, hanya mampu semeter-semeter, dan itu berlangsung selama satu jam lamanya. Kaki saya pelan-pelan mulai basah terkena percikan hujan. Untung saya sedang memakai flat shoes yang terbuat dari bahan karet, jadi akan lebih mudah dibersihkan/dicuci sesampainya di rumah nanti. Tepat di saat hujan mulai reda, busa saya pun datang. Merangkak lambat di tengah jalan yang padat, driver-nya pun sudah enggan mengambil penumpang ke arah pinggir jalan karena dia harus ‘menyibak’ deretan pengendara motor. Ya daripada ribet. Ya sudahlah, yang penting saya sudah berada di dalam bus. Kalau macet ya tinggal tidur saja, semoga baby yang di perut nggak gelisah karena terlalu lama di jalan.

Sepanjang perjalanan saya hanya mampu melek-tidur-melek dan kembali tidur, karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh hampir semua penumpang. Baterai gadget pun mulai menipis karena terlalu lama digunakan untuk mengisi waktu di sela kemacetan yang luar biasa itu. Ya wajar sih, karena perjalanan pulang kali ini memakan waktu selama hampir 6 jam! Rekor perjalanan pulang terlama sepanjang saya pulang kerja :cry: . Untunglah baby saya anteng, seolah tahu kalau dia pun sedang dalam kemacetan yang sama dengan mamanya dan seluruh penumpang di bus yang ditumpanginya. Kaki dan celana saya yang awalnya basah, lama-lama kering dengan sendirinya. Namun ada ‘konsekuensi’ yang harus saya alami, kaki saya jadi bengkak mulai mata kaki sampai ke telapak kaki selama 2 hari :|

Hidup di Jakarta itu, seperti yang sudah beberapa kali saya tulis di sini, memang harus ekstra sabar, dan dituntut untuk mampu berkompromi dengan kemacetan yang semakin luar biasa dari hari ke hari. Andai tidak semua orang menggunakan kendaraan pribadi dan mulai sadar untuk menggunakan angkutan massal, mungkin kondisinya tidak akan separah ini :|

Semoga cukup sekali itu sajalah saya mengalami kemacetan selama 6 jam sepulang kantor :cry:

 

 

 

ilustrasi dipinjam dari sini