Peringatan Hari Korpri

 

 

 

upacara Hari Korpri ke-43

 

Pagi itu saya datang tergopoh-gopoh sampai di kantor pukul 06.50. Buru-buru saya absen handkey dan segera menuju ke lantai 2 tempat saya bekerja. Di ruangan sudah sepi, hanya tinggal saya dan Pak OB.

“Pak, yang lain mana? Udah ke Monas semua?”

“Udah dari tadi kali…”

“Haduh! Beneran ditinggal nih… 🙁 “

Saya pun buru-buru turun. Untungnya di bawah masih ada teman-teman yang baru tiba di kantor. Pffiuh, alhamdulillah ternyata saya tidak sendirian. Hampir seluruh ruangan sudah sepi karena semua sudah berjalan menuju sayap selatan silang Monas sejak pukul 06.30 padahal upacaranya sendiri baru akan dimulai pukul 08.00. Alhamdulillah masih ada bus kantor yang siap mengantar kami menuju Monas.

Ketika kami tiba di Monas, di sana sudah penuh dengan PNS berbaju Korpri. Peringatan HUT Korpri tahun sedikit ‘istimewa’ karena dipimpin langsung oleh Presiden RI. Kalau tahun-tahun sebelumnya sih selalu upacara di kantor masing-masing. Bahkan di 2 atau 3 tahun yang lalu di kantor kami sempat mengadakan perhelatan kecil-kecilan yang dihadiri oleh seluruh pegawai beserta keluarga, plus pengundian door prize. Sayangnya saya nggak pernah dapet 😐

Di Monas sudah berbaur semua PNS dari segala kementerian, utamanya yang berkantor di sekitaran Monas. Sebagian dari kami yang ‘tercecer’ seperti beras ini bagai ayam yang kehilangan induknya. Entah di peleton sebelah mana teman-teman kantor kami berbaris, katanya sih dekat baliho di depan Monas. Lah, kami juga sudah di dekat Monas. Tapi ya sudahlah, yang penting sudah berada di lokasi, daripada kena sidak di kantor. Soal mau berbaris di mana, terserah sajalah (yang sudah pasti sih di barisan belakang).

Kurang lebih pukul 08.00 upacara dimulai. Entahlah, mungkin saya membandingkan dengan ketika upacara di kantor yang sedikit lebih rapi dibandingkan di Monas, yang entah di barisan kementerian manalah ini kami berbaris. Pokoknya agak ruwetlah. Seruwet hatiku saat itu. Halah! 😆 . Ya bisa dimaklumi sih, karena kan yang ikut upacara ribuan (ribuan nggak, ya? iya kali ya, wong saya juga nggak ngitung), sedangkan kalau di kantor kan peserta upacaranya nggak sampai ribuan. Tapi seharusnya kalau acara besar seperti ini setidaknya ada yang mengarahkanlah, kementerian apa baris di mana, gitu. Biar tertib sedikit dilihatnya. Di barisan belakang posisinya sudah seperti posisi nonton konser, berdiri tanpa lajur, tanpa banjar, bahkan ada yang duduk-duduk di dekat tangga Monas :mrgreen:

Dalam acara itu Presiden tidak memberikan amanat yang panjang, dan langsung ke pokok yang ingin disampaikan. Upacara HUT Ke-43 Korpri yang berlangsung di Monas itu bertajuk “Pencanangan Gerakan Nasional Revolusi Mental Aparatur Sipil Negara”. Dalam kesempatan itu Presiden berpesan agar segenap jajaran Korpri memberikan pelayanan birokrasi yang makin cepat, akurat, dan makin baik. Terus menjaga kode etik profesi, mempedomani sumpah jabatan, dan memegang teguh komitmen Panca Prasetya Korpri. Tapi sebenarnya inti dari upacara ini yaitu pernyataan Presiden yang meminta seluruh anggota Korpri untuk meninggalkan mental priyayi atau penguasa. “Jadilah Korpri yang mengabdi dengan sepenuh hati untuk kejayaan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.”

Secara keseluruhan acara berlangsung lancar, walaupun (jujur) agak ribet. Dan entah kenapa kalimat-kalimat yang meluncur dari koordinator upacara (?) dari Pemprov DKI membuat kami bengong, dan lalu tertawa sendiri. Banyak aba-aba yang kurang formal yang digunakan di acara sebesar dan seformal itu. Seperti ketika tiba-tiba saja kami harus balik kanan (menghadap ke Monas) tanpa dijelaskan maksudnya apa. Baru ketika kami mulai gaduh bertanya-tanya, baru dijelaskan bahwa akan ada rombongan marching band IPDN yang akan tampil. Owalah, Pak… 😆 . Mungkin karena selama ini kami (atau mungkin cuma saya) terbiasa dengan format acara yang tertata rapi dan dengan penggunaan diksi yang sedemikian rupa. Tapi positif thinking sajalah, mungkin di setiap kementerian beda ‘adat’ dan tata cara penyelenggaraan acara.

Anyway, Selamat Hari Korpri yang ke-43 bagi seluruh ‘Korpri-ers’ di seluruh Indonesia 😀

[devieriana]

gambar dipinjam dari Pak Andri (teman kantor saya)

Continue Reading

Selamat datang, dan selamat bekerja!

welcomeTanggal 20 Oktober 2014 lalu kita tentu mengikuti sebuah peristiwa yang paling happening se-Indonesia. Apalagi kalau bukan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Posisi saya waktu itu sedang mengikuti diklat di Pusdiklat, di Cipete. Jadi, tentu saja saya tidak sempat ikut bereuphoria mengikuti pergantian kepala negara itu secara live dari kantor yang waktu itu entah suasananya sudah seperti apa. Tapi untunglah Widyaiswara (trainer) dari Lemsaneg waktu itu sangat kooperatif ketika kami memohon izin agar waktu coffee break-nya diperpanjang demi melihat detik-detik pergantian pemimpin negara yang notabene akan berkantor di lingkungan kami. Hihihih, makasih ya, Pak :mrgreen:

Sejak pagi, di Path sudah berseliweran foto-foto suasana di Istana yang ternyata cukup mengharukan, karena di sanalah untuk pertama kalinya sebuah momen di mana Presiden dan Ibu Negara berpamitan di depan seluruh staf di Sekretariat Presiden (Setpres) terjadi. Setiap manusia apalagi seorang pemimpin pasti tak ada luput dari salah; jadi bagaimana pun momen perpisahan/pamitan tetap menjadi sebuah saat yang mengharukan. Dari pantauan lalu lintas dan suasana di kantor yang ‘dilaporkan’ secara live oleh teman-teman di whatsap, Path, dan twitter sudah tergambar bagaimana hiruk-pikuknya suasana di sana, dan rasanya saya akan sulit pulang kalau saat itu ada di kantor. Jadi ada untungnya juga saya tidak sedang berada dalam keriuhan itu.

Selang beberapa hari setelah pelantikan Presiden, akhirnya diumumkanlah susunan kabinet yang baru, yang dinamakan Kabinet Kerja. Teka-teki siapa yang akan memimpin kementerian saya pun terjawab sudah. Walaupun beberapa minggu sebelumnya sudah berhembus nama-nama calon yang akan jadi Menteri Sekretaris Negara, tapi sepertinya nama yang terakhir inilah yang memang menjadi calon kuat yang akan memimpin kementerian kami setelah era Pak Sudi Silalahi. Ya, kami sekarang punya Menteri baru yaitu Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc .

Pelantikan Kabinet Kerja sendiri dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2014 bertempat di Istana Negara. Suasana kantor kami yang biasanya formal dengan para pegawai yang menggunakan seragam PDH (Pakaian Dinas Harian) hari itu suasananya menjadi seperti sedang di kondangan, karena banyaknya orang yang berseliweran menggunakan busana batik. Saya bersama tim pelantikan sudah berjaga-jaga mempersiapkan batik atau PSL (setelan jas formal) untuk serah terima jabatan Menteri. Ya, tinggal dipilih saja mau pakai dress code apa sesuai permintaan :mrgreen: .

Semenjak kehadiran pemimpin negara yang baru, lingkungan, cara bekerja, dan cara berbusana pun kami pun sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Secara umum, Pak Joko Widodo lebih menyukai keegaliteran. Beliau tidak suka hal-hal yang terlalu seremonial. Menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan cepat, praktis, dan benar. Pidato pun maunya beliau cuma dibuatkan pointers-nya saja, biar beliau yang mengembangkan sendiri. Setelan PSL (Pakaian Sipil Lengkap) yang selama ini akrab menghiasi setiap acara formal kenegaraan atau pelantikan pejabat aturannya pun jadi berubah; PSL hanya akan digunakan di acara-acara internasional saja, karena acara di luar itu akan menggunakan batik *lipat PSL, masukin ke koper*. Pokoknya kalau dirinci ada banyak hal yang berbeda dengan gaya pemerintahan sebelumnya.

Nah, kebetulan kami menangani acara serah terima jabatan Mensesneg di Gedung Utama tepat di hari yang sama setelah pelantikan menteri. Acara yang sedianya diagendakan pukul 15.00 wib sempat molor selama 1 jam karena Pak Pratikno masih bersama Presiden di Istana Negara. Di kesempatan inilah untuk pertama kali saya melihat secara langsung ‘penampakan’ Pak Pratikno. Sosok yang ramah, bersahaja, dan sangat njawani. Ya bagaimana nggak njawani, lha wong memang beliau asli Bojonegoro (Jawa Timur) dan tinggal lama plus berkarir sebagai Rektor di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tapi saya yakin di balik sosok beliau yang sederhana itu pemikiran-pemikirannya tidak sesederhana penampilannya. Terbukti, keesokan harinya setelah dilantik, dalam rapat koordinasi antara Mensesneg dengan seluruh pejabat Eselon 1-2, langsung membuat perubahan yang signifikan, terutama di cara kerja, yang beliau istilahkan dengan smart work alias kerja cerdas untuk mewujudkan smart office.

Dalam sambutan di acara yang santai itu beliau juga menyampaikan kesan beliau ketika menerima sms dari seorang kolega,

“Saya sempat merinding ketika membaca sms yang dikirimkan oleh sahabat saya. Bunyinya, “Be careful, because you are now working at the heart of this republic. Saya diminta untuk bekerja secara hati-hati karena kini saya bekerja di jantungnya Republik Indonesia”

Setiap pemimpin pasti punya gaya kepemimpinan masing-masing, begitu pula dengan para pemimpin baru kita. Yang jelas dalam pemerintahan yang sekarang ini tidak ada yang namanya program 100 hari; yang ada adalah Quick Wins (Low Hanging Fruit), kerja yang hasilnya bisa dirasakan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jadi, mari kita berikan kesempatan dan dukungan penuh bagi beliau-beliau untuk bekerja, membuktikan kapasitas masing-masing untuk mengemban kepercayaan yang telah diserahkan oleh Presiden kepada mereka untuk membenahi dan menyempurnakan hal-hal yang belum sempat sempurna di pemerintahan sebelumnya.

Selamat bekerja para pejabat di Kabinet Kerja. Selamat bergabung di Kementerian Sekretariat Negara, Pak Pratikno. Selamat datang di ‘dapurnya’ negara. Saya percaya bahwa Bapak memiliki segala hal yang dibutuhkan seorang Mensesneg. Sebagai teknokrat saya yakin bahwa level Bapak sudah jauh di atas mumpuni. Ditambah lagi dengan pengalaman Bapak sebagai dosen dan akademisi pasti ilmu dan pengetahuan Bapak tentang politik dan pemerintahan sudah jauh di atas buku-buku referensi ilmu politik dan pemerintahan.

Semoga kehadiran Bapak di kementerian kami memberikan angin segar dan pencerahan bagi kami semua :mrgreen:

 

 

 

 

*lalu ke Thamrin City, memborong batik*

[devieriana]

 

picture source from here

Continue Reading

Resign: Emosi Sesaat atau Keputusan Matang?

resign

Beberapa waktu yang lalu, adik saya didera galau luar biasa lantaran dia harus membuat keputusan besar dalam karirnya, yaitu resign. Mungkin buat sebagian orang, soal resign itu sebuah hal yang lumrah. Namanya kerja pasti ada enak-nggak enak, cocok-nggak cocok. Alasan resign pun bermacam-macam; ingin punya karir yang lebih baik, ingin situasi kerja yang lebih nyaman, dan punya penghasilan yang lebih tinggi, dll. Tapi banyak juga yang memutuskan untuk resign karena alasan-alasan di luar itu, misalnya ingin melanjutkan sekolah, mengurus keluarga, ingin berwiraswasta, dll. Tapi kalau resign dari tempat yang telah menerimanya sejak awal, telah membuatnya banyak pengalaman dan pembelajaran sehingga menjadi seperti sekarang, plus lama bergabungnya sudah hampir satu dasawarsa mungkin lain lagi ceritanya.

Ceritanya Si Adik memang sudah lebih dari 9 tahun berkarir di salah satu bank swasta di bilangan Tendean, Jakarta Selatan. Sejak masih sekolah dia memang dikenal di keluarga sebagai anak yang rajin, anak yang total ketika mempelajari sesuatu, anak yang teliti, dan seorang fast learner. Dia juga tak segan mempelajari hal-hal baru yang sekiranya bermanfaat untuk menunjang pekerjaannya. Maka tak heran, baik ketika dia masih di kantor cabang Surabaya sampai sekarang di kantor pusat Jakarta dia selalu dijadikan andalan perusahaan karena keseriusan, ketelitian, dan kedisiplinannya dalam bekerja. Eh, saya menulis hal-hal baik ini bukan karena mentang-mentang dia adik saya lho, ya 😆 . Tapi juga sebagai sebagai sesama pegawai kantoran saya benar-benar merasa salut dan bangga karena belum tentu saya bisa se-qualified dia :mrgreen:

Sampai akhirnya dia curhat galau gara-gara salah satu pimpinan ternyata tidak mengizinkan dia untuk resign dengan alasan saat ini dia adalah andalan perusahaan. Berbagai ‘rayuan’ digunakan oleh Sang Pimpinan agar adik saya memikirkan ulang rencana pengunduran dirinya, syukur-syukur kalau sampai membatalkan niatnya untuk bergabung dengan perusahaan lainnya. Saya cuma bisa menasihati agar Si Adik tetap konsisten dengan pilihannya. Di mana-mana risiko mengajukan resign memang begitu, ada yang langsung disetujui, tapi ada juga yang ditahan supaya jangan sampai resign. Semua tergantung pimpinan dan kualitas apa yang dimiliki oleh karyawan tersebut sehingga menyebabkan perusahaan jadi sedemikian ketergantungannya dengan Si Karyawan. Si Adik cerita, kalau banyak teman yang resign dan langsung disetujui, tapi giliran dia, harus menghadap pimpinan sebanyak 2-3x untuk bernegosiasi masalah posisi, dan gaji. Pun ketika di hari terakhir dia berkantor di sana pun Pimpinan Divisinya pun masih penasaran apa sebenarnya alasan adik saya resign dari bank tempat dia berkarir selama 9 tahun terakhir ini, padahal sudah diiming-imingi nominal gaji yang sama persis dengan tempat kerjanya yang baru nanti. Tapi syukurlah Si Adik tidak tergoda, dan tetap berkeinginan untuk memulai karir yang baru di tempat yang baru.

“Jadi, sudah beneran mantep buat resign nih? Saya itu sebenarnya heran dan penasaran banget sama kamu. Apa sih sebenarnya yang mendasari keinginanmu untuk resign? Padahal gajimu sudah saya naikkan sama dengan tempat kamu bekerja nanti, tapi kenapa kok kamu tetap pengen resign? Teman-teman kamu yang lain ketika diberi kenaikan gaji dengan nominal yang sama dengan tempat kerja yang baru mereka langsung memilih tetap bergabung di sini lho. Cuma kamu aja yang beda…”

Padahal alasan seseorang mengundurkan diri dari perusahaan kan bukan melulu karena uang, ya? Dan adik saya berseloroh di bbm:

“Aku ingin juga membuktikan sama pimpinanku, kalau aku bukan pegawai ‘murahan’ yang cuma bisa dinilai dari besaran rupiah 😆 “

Seperti ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya dan terdampar menjadi PNS, alasan utamanya juga bukan karena gaji dan posisi. Saya sadar kok, ketika saya menjadi PNS, karir saya akan dimulai dari nol lagi, dengan jabatan staf, dengan gaji pokok yang jauh di bawah gaji di perusahaan sebelumnya. Tapi kenapa saya mau? Ya, selain karena sudah terlanjur diterima, ada pertimbangan lain yang mendasari itu semua (dan kalau di-list banyak sekali), salah satunya sih dari segi ketersediaan waktu untuk keluarga.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing, ada sisi positif dan negatifnya. Tapi sebenarnya yang paling penting adalah jangan resign karena emosi sesaat, apalagi karena latah. Melihat teman-teman yang lain resign, eh jadi terpengaruh ikut-ikutan resign padahal alasannya juga belum tentu sama, cuma gara-gara alasan,

“Abisnya kalau nggak ada temenku yang itu, nggak enak. Suasana kerjanya jadi nggak asik lagi…”

Mungkin saja karena kalian kurang berteman jadi temannya cuma satu itu saja :mrgreen: .

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman yang juga menangani human resources di sebuah perusahaan, dia mengatakan kalau rasa tidak betah dalam bekerja dapat disebabkan karena ada harapan karyawan yang tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan, sehingga ketika mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lain harapan mereka di tempat yang baru nanti mereka akan dapat mewujudkan impian mereka baik dari segi gaji, jenjang karir, reward, maupun fasilitas/kesejahteraan.

Selain semua itu, ada faktor lain yang menyebabkan mengapa seseorang memilih untuk resign, selain tekanan pekerjaan yang tinggi, dan adanya tawaran pekerjaan lain yang jauh lebih menarik, alasan lainnya adalah karena lingkungan kerja yang kurang kondusif, dan adanya ketidaksesuaian nilai-nilai perusahaan dengan diri pribadi. Kalau ini sih saya sempat mengalami sendiri. Dulu, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan keluarga, di mana kata-kata kasar dan makian terdengar hampir setiap hari antaranggota keluarga; seolah tak peduli bahwa karyawan di sekitar mereka adalah orang di luar keluarga yang tidak pantas untuk ikut mendengarkan kata-kata tersebut sebagai sebuah hal yang lumrah apalagi di lingkungan kerja. Jujur, terasa sangat intimidatif, sekalipun kata-kata itu bukan ditujukan pada kami.

Tapi syukurlah, semua sudah berhasil saya lalui dengan baik, setidaknya saya sudah berhasil melalui masa-masa galau pindah-pindah tempat kerjalah 😆 . IMHO, tidak ada ilmu dan pengalaman yang tidak berguna. Semua ilmu dan pengalaman yang pernah kita dapat di masa lalu tetap akan bisa diaplikasikan di pekerjaan kita yang sekarang, tergantung waktu dan kesempatan saja.

Ngomong-ngomong, kalian sudah pindah tempat kerja berapa kali sampai sekarang? 😀
*nyeruput secangkir earl grey tea hangat*

[devieriana]

sumber ilustrasi diambil dari sini

Continue Reading

Katebelece

letter

Sore menjelang pulang kantor, tiba-tiba si Bapak keluar meminta saya mencari sebuah file surat tentang permohonan dukungan menjadi CPNS di salah satu kementerian.

“Ada surat yang meminta supaya dibantu memasukkan anaknya di sebuah kementerian. Nah, kata temanku, surat itu sudah dibalas oleh kita, dan katanya jawabanku sih normatif; aku minta untuk mengikuti ikut tes CPNS saja. Ternyata setelah ikut test, anaknya ini nggak lulus, trus orangtuanya nggak terima. Bukan nggak terima karena anaknya nggak lulus, tapi nggak terima dengan jawaban normatifku. Lha kan, aneh. Makanya aku jadi penasaran, suratnya itu yang mana, tho? Coba bantu carikan, Dev…”

Berhubung surat yang masuk ke biro saya itu jumlahnya ribuan, saya harus mencari di aplikasi persuratan dengan kata kunci tertentu. Sementara Si Bapak hanya punya clue “permohonan dukungan” dan nama pengirimnya saja, tanpa tahu surat itu dikirim kapan, dan atau keterangan-keterangan penunjang lain yang sekiranya akan memudahkan pencarian surat tersebut, karena surat dengan topik ‘Permohonan bantuan’ jumlahnya lumayan banyak.

Bahkan ada lho yang secara rutin mengirim surat ‘permohonan bantuan’ agar anaknya bisa diterima di sebuah perusahaan setiap kali anaknya melamar pekerjaan. Berhubung dia punya 3 orang anak, maka setiap kali anak-anaknya melamar ke perusahaan tertentu Si Bapak dengan gaya bahasa yang ‘meliuk-liuk’ segera mengirimkan surat; meminta supaya mereka bisa diterima di perusahaan yang diinginkan. Tidak tanggung-tanggung, semuanya BUMN/perusahaan besar. Berhubung di instansi kami tidak memberlakukan hal-hal semacam itu akhirnya surat-surat tersebut tetap disampaikan ke perusahaan yang dimaksud tapi kami persilakan perusahaan untuk memroses sesuai ketentuan yang berlaku. Jadi bukan rekomendasi agar mereka langsung diterima. Bahkan karena sudah terlalu sering, surat-surat tersebut hanya kami arsip saja. Jangankan orang luar, begitu ada pembukaan lowongan CPNS, para putra/putri pejabat/pegawai di sini semuanya mengikuti prosedur yang berlaku; ikut tes CPNS, bersaing dengan peserta lainnya. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak lulus. Tapi mereka dan orangtuanya ya tetap legowo, tidak lantas ngotot menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan ketentuan, karena sudah mulai timbul kesadaran bahwa eranya sekarang sudah berbeda, era transparansi/keterbukaan.

Kembali lagi ke masalah surat tadi, dengan asumsi surat itu datang di sekitar waktu pengadaan CPNS, antara Agustus-Desember 2013, saya pun mulai mengubek-ubek file surat dengan dibantu teman lain yang bertugas membalas surat-surat semacam itu. Di tengah pencarian kami, Si Bapak tiba-tiba meminta kami berhenti mencari.

“Sudah, nggak usah dicari. Lha wong ternyata suratnya tahun 2007. Itu aku juga belum jadi Kepala Biro, kali. Udah biarin aja. Mau protes kok selang 6 tahun setelah kejadian…”

Pffiuh, syukurlah… *usap peluh*

Sebenarnya masih agak heran juga dengan orang-orang yang masih mengandalkan ‘surat sakti’, atau ‘katebeletje’, padahal eranya sudah jauh berubah. Katabelece sendiri berasal dari bahasa Belanda: “kattabelletje” yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “katebelece” memiliki arti ‘peringatan’. Tapi pengertiannya jadi bergeser menjadi semacam ‘surat sakti’ yang isinya meminta agar yang tercantum di dalam surat tersebut diperhatikan/dilaksanakan. Kalau dulu sih memang pernah ada surat-menyurat semacam itu, tapi sekarang penggunaan ‘surat sakti’ itu sepertinya sudah mulai punah (atau sebenarnya masih ada?).

Btw, bukannya akan lebih puas dan bangga rasanya kalau apa yang kita kerjakan itu merupakan buah kerja keras dan usaha kita sendiri, ya? :mrgreen:

Just my two cents…

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Know Your Limit

Semalam, salah satu teman kantor me-whatsap saya. Dia melampirkan sebuah capture kalimat yang berbunyi:

path

Ketika membaca kalimat itu entah mengapa saya jadi sedih, meski saya tidak mengenal orang yang dimaksud dalam capture tersebut (Mita Diran a.k.a @mitdoq), tapi tiba-tiba teringat beberapa sahabat saya yang bekerja tak kenal waktu. Karena tuntutan pekerjaan tak jarang mereka hanya sempat istirahat selama beberapa jam dan harus segera siap/stand by untuk kembali bertugas atau menyelesaikan deadline.

Dulu, sewaktu saya masih belum berkeluarga, masih euforia-euforianya dengan pekerjaan, hampir sebagian besar waktu saya berikan untuk pekerjaan. Bahkan di waktu-waktu yang seharusnya saya luangkan bersama keluarga pun harus rela saya lepas demi menyelesaikan deadline. Kadang saya berpikir, kok saya seperti nggak punya kehidupan selain pekerjaan dan kantor, ya? Tapi seolah tidak punya pilihan lain, saya kembali tenggelam dengan kesibukan saya di kantor. Sempat juga saya mengeles, “ya nanti kalau sudah berkeluarga kan konsentrasinya bakal beda, nggak ke pekerjaan lagi. Sekarang mumpung masih single, gapapa kali…”

Nah, apakah setelah menikah saya terlepas begitu saja dengan tugas dan deadline? Tidak juga. Bahkan ketika saya cuti pun, cuma fisik saya saja yang (sepertinya) cuti; secara fisik saya di Surabaya, tapi pikiran saya ada di Jakarta. Bagaimana mau merasakan cuti kalau saya masih terima telpon, masih kirim dan terima email, masih mengecek pekerjaan anak buah (walau telpon/sms hanya untuk sekadar mengecek kondisi di lapangan, ada kesulitan/nggak). Bisa saja sih saya matikan HP dan email selama cuti. Tapi nyatanya tidak bisa semudah itu karena ada tuntutan tanggung jawab disana. Di saat itulah saya mulai merasa seperti diperbudak oleh pekerjaan dan deadline.

Bahkan ketika saya sudah beralih status menjadi PNS pun kesibukan itu masih ada. Bedanya, kesibukan saya waktu itu lebih ke kegiatan komunitas. Hampir setiap akhir pekan ada saja jadwal kegiatan di sana-sini. Bahkan di sela-sela jam kerja atau pulang kerja pun saya ada jadwal meeting. Akibatnya, tubuh saya jadi mudah drop. Apalagi saya bukan orang yang sering berolah raga untuk menjaga kebugaran tubuh. Badan saya pun menjadi rentan sakit, sering kena flu, radang, demam, dan sebangsanya.

Sama seperti kasus Mita Diran, salah satu rekan kerja suami di tempat kerjanya yang dulu juga bernasib sama. Kerja di sebuah perusahaan kontraktor membuatnya tidak lagi kenal waktu. Demi terselesaikannya target pekerjan sesuai dengan jadwal dia relakan fisiknya bekerja ekstra keras. Rasa capek luar biasa yang mendera tubuhnya tidak lagi dirasakannya, kurangnya waktu istirahat, jadwal makan yang tidak teratur, konsumsi kopi, rokok, dan suplemen penambah stamina yang berlebihan demi ‘menjaga’ agar fisiknya tetap fit dan terjaga, membuatnya harus dirawat di RS sebelum menghembuskan nafas yang terakhir di sana.

Kita itu manusia, bukan robot atau mesin. Bahkan robot/mesin saja punya waktu/jadwal untuk maintenance, kenapa tubuh enggak? Tubuh juga punya alarm yang akan memperingatkan kita ketika dia butuh istirahat. Tapi yang ada seringkali justru manusianya yang bandel, mengabaikan peringatan itu dengan alasan, “kalau nggak diselesaikan sekarang keburu kerjaan yang lain datang dan numpuk-numpuk”, atau iya, bentar lagi, nanggung nih…. Capek yang seharusnya dibawa istirahat justru menjadi pemicu untuk menggunakan obat/suplemen penambah stamina. Baru sadar kalau ternyata tubuh punya batas ketika sudah ambruk, terbaring di rumah sakit :(.

Kalau kata Nick Deligiannis :

“Remember, a professional is a person who never allowed himself to dissolve in the job and no longer have time for personal life”

Buat yang masih suka bekerja tak kenal waktu, know your limit. Love and listen to your body.

 

[devieriana]

Continue Reading