Renungan dari sebuah "Copy Paste"

Dari sekian banyak tulisan yang sudah saya buat , diantaranya emang ada bebrapa yang menjadi tulisan favorit buat saya. Salah satunya yang berjudul Tuhan Andai saya Boleh Memilih . Tulisan ini pernah dianggap sebagai enlightment oleh beberapa sahabat karena mungkin tulisan itu menggambarkan kebanyakan dari kita ya. Atau mungkin karena saya menulisnya dari hati berdasarkan pengalaman & perenungan pribadi ya, makanya “kena” banget 😀 .

Tulisan itu merupakan hasil refleksi selama beberapa tahun terakhir. Renungan ketika saya menyikapi suatu masalah, menyelesaikannya & satu lagi..menerima takdir-NYA.  Jujur dulu saya pribadi yang keras (sekarang juga masih sih, kadang-kadang :mrgreen: .), termasuk orang yang terlalu banyak bertanya, seringkali kurang bisa menerima, terus merasa kurang dengan apa yang saya miliki, sering menganggap Tuhan itu nggak adil. Tapi seiring dengan bertambahnya usia saya secara chronological, plus bertambahnya beban & masalah hidup, kok saya merasa merasa di-trigger untuk mengubah seluruh mindset saya  yang negatif jadi lebih positif. ya Termasuk ketika ada banyak usaha yang saya lakukan harus gagal, perjuangan saya harus kandas, tidak semua yang saya inginkan bisa saya dapat dengan mudah. Semua itu yang membuat saya berpikir about what life is.

Dari situlah ketika tulisan itu jadi sebagian orang yang baca jadi mikir “iya ya?”. Seperti biasa, saya nggak pernah berusaha mengurui dengan apa yang saya tulis atau apa yang ada di pikiran saya. Saya juga masih belum pantas untuk jadi guru buat orang lain. Hanya berusaha menyampaikan pengalaman saya kepada orang lain. Syukur-syukur bisa berguna buat orag lain. Itu aja..

Itulah kenapa ketika ada seseorang yang minta ijin copy paste tulisan saya tadi saya gak merasa keberatan. Malah bangga kalau tulisan saya dibaca oleh orang lain, bisa menginspirasi orang lain. Masalahnya adalah, ketika ketika dia mengcopy paste dengan mengubah nama saya “Dev” di awal tulisan jadi namanya dia. Padahal itu adalah dialog original salah satu sahabat yang lagi curhat. Jadi kalau di ubah ya saya merasa keberatanlah..

Ada seorang teman yang bilang sama saya gara-gara saya posting saya shoutout di facebook tentang kekecewaan saya  itu, “Wah kayaknya belum bakat jd penulis beneran. Seorang penulis sejati akan bangga jika hasil karyanya dinikmati banyak orang bahkan dijiplak sekalipun” . Oh, it’s all about ethic code penulisan, Bos.. Ketika kita ijin copas, ya sertakan sumbernya atau jika kita mengubah sedikit konten ya minta ijinlah dulu, kira-kira berkenan nggak ya yang punya  tulisan? Karena dengan mengubah sedikit saja konten tersebut akan membiarkan orang berasumsi seolah-olah tulisan itu hasil pikirannya.

Walaupun saya hanya seorang penulis pemula, wajar kan kalau saya merasa kurang sreg ketika originalitas tulisan saya di utak atik tanpa konfirmasi dari saya. Karena belum tentu ketika karya Anda diutak-atik atau di copy paste tanpa seijin Anda lalu tulisan tersebut dianggap sebagai buah pikiran orang lain, apakah Anda langsung terima? Belum tentu juga kan?

Belajar menghargai hasil karya orang lainlah intinya…

Continue Reading

Facebook & Hubungan Suami Istri

Facebook, situs jejaring sosial satu ini sudah memberikan dampak signifikan terhadap hubungan antar manusia. Bukan hanya anak muda, yang tua pun punya. Bukan hanya yang masih single, yang sudah menikah pun punya akun. Ibarat supermarket nih Facebook itu pesertanya komplit.. 😀

Nah yang sedang saya perhatikan adalah hubungannya dengan status relationship seseorang, khususnya yang sudah menikah alias suami-istri. Ada saja kejadian lucu yang saya perhatikan ketika “jalan-jalan” ke facebook teman. Entah apa maksudnya ya, tapi komunikasi mereka cukup intens di facebook, mulai komen di status, komen di postingan, tulis di wall, seolah mereka ingin seluruh dunia tahu apa yang sedang mereka lakukan, mereka komunikasikan ;). Termasuk ketika sang istri merajuk, lengkap dengan komen (rayuan) sang suami. Duh, ngakak saya bacanya :)) . Padahal mereka serumah lho. Masa sih mereka nggak bisa berkomunikasi secara lebih pribadi, via sms, telpon, atau email yang hanya bisa dibaca oleh mereka berdua, bukan untuk konsumsi publik?

Yang unik, bahkan sampai ada yang entah mengantuk atau sengaja, mungkin maksudnya mau tulis di private message ya tapi kok ya ndilalah terpampang di wall. Jadilah saya pagi-pagi membaca keluhan sang istri yang menceracau tentang suami yang sudah mulai berubah kurang hangat lagi.. ;))

Sampai suatu hari saya pas lagi di rumah berdua sama suami, pas sama-sama pegang laptop masing-masing nih (bukan mau pamer nih ya, yang 1 sebenernya minjem kantor suami soalnya buat dia kerja, katanya butuh RAM gede buat photoshop & master schedule. Begitulah.. :D). Nah iseng pas sama-sama buka facebook nih critanya. Iseng pula saya ngomong :

Saya : “mas, kamu kok ga pernah nulis di wall-ku sih?”

Suami : “emang buat apaan?”
Saya : “ya apa gitu, nulis apa kek, biar kaya orang-orang itu lhoo.. kan suaminya/istrinya suka nulis di wall masing-masing tuh..”   *sambil ngelirik suami yang sedang duduk membelakangi saya , sambil melet :p*

Suami noleh, saya pun mengkeret ..

“Hoalah yaaaang, ngapain sih, wong kita ya serumah, tiap hari juga ketemu, HP juga ada, ngapain juga tulis-tulis di wall? Biar di baca orang lain gitu? Wong kamu kalau butuh aku ya tinggal sms/telpon..”

Reaksi pertama ya jelas saya yang ngikik duluan… ;)). Pertanyaan iseng saya malah dapat jawaban yang cukup bagus untuk dipikirkan. Iya ya, kalau tiap hari ketemu, HP juga ada, kalau butuh ngomong ya tinggal pencet nomernya. Area pribadi & area publik kok rasanya jadi sedikit ngeblur sejak ada facebook ya? Begitukah? atau hanya perasaan saya sendiri? 😕

[devieriana]

Continue Reading

Sang Rakun ..

rakun

 

 

 

 

Anda tahu binatang rakun ga? Atau yang bahasa latinnya Procyon Lotor. Binatang yang kalau di film-film Disney digambarkan dengan lucu & culun. Tapi buat saya selucu-lucunya hewan rakun tetap saja menakutkan. Jangankan sama rakun, sama kucing & hewan berbulu lainnya saya juga geli 🙁 . Ok, rakun itu culun, tapi apakah dia “seculun” penampilan luarnya?

Tuhan itu Maha Adil ya, disetiap kelebihan makhluknya pasti ada kekurangan, begitu juga sebaliknya, di setiap kelemahan pasti ada kekuatan. Dari apa yang pernah saya baca, ternyata sang rakun ini termasuk binatang yang tingkat kemampuan survival-nya hebat lho. Nah apa saja kelebihan & kekurangan si Rakun?

Pertama, penglihatan seekor rakun termasuk kurang baik, malah cenderung buta warna. Tapi jika sedang berburu ternyata dia bisa menangkap mangsanya dari jarak yang cukup jauh. Dia tidak menggunakan matanya, tapi pendengarannya.

Kedua, termasuk golongan binatang yang malas berenang, tapi kalau dalam kondisi terdesak dia bisa menjadi perenang tangguh yang bisa mengalahkan derasnya arus sungai. Kalah deh saya, saya nggak bisa renang 😐

Ketiga, dia sanggup mencari makan yang jauhnya bermil-mil dari sarangnya jika bahan makanan yang dekat dengan sarangnya sudah menipis.

Keempat, rakun bisa tinggal di mana saja tanpa perlu tergantung dengan habitat awalnya yaitu mixed forest. Dia bisa tinggal dimana saja. Di pegunungan, ladang, pantai, bahkan perumahan penduduk. Nah lho, coba di cek, kali aja rumah kita ada rakunnya ;))

Kelima, pembuat sarang yang cekatan & luar biasa, selain itu dia yang termasuk binatang pemakan serangga bisa menjadi pemakan segala demi mempertahankan hidupnya.

Itu baru seekor rakun, bagaimana kita manusia ya? Kita yang diciptakan sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna di muka bumi ini, masa bisa kalah sama seekor rakun? Kadang kalau kita sudah terbiasa enak suka males usaha lebih giat. Semoga nggak semuanya ya ;). Bagus sih kalau Anda termasuk dalam golongan yang “tidak” tadi. Tapi kalau termasuk golongan yang “iya”, berarti sama kaya saya.. xixiixix..  😀

Nggak, bukan itu sih yang mau saya bahas. Begini, tidak semua manusia diberikan keberuntungan dalam hidup. Kaya, cantik/ganteng, pinter, sukses, punya segalanya, nggak pernah gagal dalam hidupnya, lingkungan keluarga & sosial yang aman tenteram, gemah ripah loh jinawi, nggak pernah tertimpa musibah apapun. Kayanya cuma ada dalam cerita dongeng deh. Dongeng aja masih ada sengsara-sengsaranya juga kan? Normalnya, yang namanya kesandung, kepepet, mengalami cobaan, & mengalami ketidaksempurnaan hidup itulah yang nyata-nyata ada di kehidupan manusia. Nah kebanyakan dari kita akan jadi jauh lebih berusaha kalau sudah “kepepet” oleh tuntutan hidup.

Dalam kehidupan kita, seperti halnya rakun, kemampuan luar biasa itu bisa muncul kepermukaan jika di-trigger oleh permasalahan hidup. Saya punya cerita nyata seorang OB di perusahaan yang kembang kempis kena krisis global, dengan “karir” terancam PHK sewaktu-waktu. Apa yang akan kita lakukan jika kita ada di posisi sang OB tersebut. Dia sudah berkeluarga. Sebagai seorang kepala keluarga yang hidupnya tergantung pada gaji seorang OB, apalah yang bisa dilakukan kalau hanya menggantungkan diri pada gajinya sebagai OB? Nah, ternyata disinilah jiwa si rakun itu muncul. Berawal dengan modal Rp 500.000,- dia memberanikan diri membuka warung makanan ayam penyet. Dari usaha kecil-kecilan ini ternyata menjadi usaha yang cukup menghasilkan. Bahkan sekarang dia tidak lagi membuka kedai, tapi depot & juga toko tanaman hias. Sekarang dia sudah sukses dengan usahanya & berhenti menjadi OB. What amazing story isn’t it? Mungkin jika tidak ada krisis global & perusahaan tempatnya bekerja saat ini baik-baik saja nasibnya masih tetap sama menjadi seorang OB .

Manusia sudah didesain dengan sempurna oleh Tuhan. Lengkap dengan survival instinct-nya. Kalau seekor rakun saja bisa setrampil & segesit itu kenapa kita tidak bisa? Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Jadi, mau jadi pinter/bodoh, kaya/miskin, sehat/sakit, bahagia/sengsara, berhasil/gagal semua berawal dari diri kita sendiri ..  🙂

 

[devieriana]

 

Continue Reading

Wisata Kemiskinan

tur-kemiskinanBeberapa waktu lalu saya melihat salah satu acara di tv yaitu Kupas Tuntas, yang membahas tentang wisata kemiskinan. Sebenarnya sih bukan saya yang baru dengar  tentang program wisata “unik” yang satu ini ya, tapi sayanya yang baru ngeh, baru sempat nulis, baru sempat mikir  tentang adanya “wisata kemiskinan” ini. Bukan skeptis ya, tapi kok kesannya wisata kemiskinan itu sekarang jadi sebuah komoditi &  tontonan baru buat publik ya & ironisnya kebanyakan yang menjadi wisatawannya kok ndilalah kebanyakan adalah turis asing. Nah ditambah lagi dengan acara menjelang pilpres , semua seolah serba peduli dengan rakyat kecil, pada ramai-ramai turun ke bawah untuk melihat kondisi langsung rakyat miskin ya biar kelihatannya memang mereka peduli..

 

Pernah enggak untuk menghabiskan masa liburan yang biasanya Anda ditawari untuk rekreasi ke tempat hiburan keluarga, sekarang Anda justru di ajak untuk menyusuri pinggiran rel sepanjang stasiun Senen, melihat tunawisma yang hidup di gubuk dari kardus dan gubuk darurat. Dilanjutkan menyusuri perkampungan kumuh pinggiran Sungai Ciliwung di Kampung Melayu. Terus ke arah Galur, Luar Batang dan berakhir perjalanan turnya di kawasan Kota. Jadi intinya Anda akan diajak menyaksikan kemiskinan saudara Anda sendiri. Tega ga sih? Pertanyaannya disini adalah apakah kemiskinan memang layak untuk dipertontonkan & dijadikan komoditi?

 

Paket wisata ini ditawarkan seharga Rp 350.000,- dengan judul  paket  Jakarta Hidden Area Tour. Objek wisatanya ya menyusuri sungai yang penuh sampah yang melintasi kota Jakarta (Sungai Ciliwung)  yang ternyata sangat diminati oleh turis asing.  Meskipun kata pengelola wisata kemiskinan itu bertujuan baik, karena sebelum rakyat miskin itu dikunjungi mereka akan ditawarkan opsi apakah mereka bersedia/tidak untuk menjadi “objek wisata”. Kalau setuju mereka akan diberikan uang sebesar Rp 350 ribu untuk digunakan membuka usaha, dengan syarat jika mereka sudah berhasil dengan usaha tersebut mereka harus mengembalikan lagi uang Rp 350.000,-  itu untuk kembali disalurkan ke rakyat miskin lain yang membutuhkan. Begitu seterusnya.

 

Belum tuntas dengan wisata yang satu ini, kemiskinan kembali menjadi “komoditi” dalam bentuk aneka jenis acara reality show di televisi. Beberapa obyek tontonan televisi itu diantaranya :  Minta Tolong, Bedah Rumah, Uang Kaget,  Dibayar Lunas,  Tukar Nasib,  Jika Aku Menjadi dan mungkin masih ada yang lainnya. Dulu pertama kali menyaksikan acara Jika Aku Menjadi saya pasti menangis terharu, karena (seolah) benar-benar menampilkan sosok keseharian masyaraat miskin kita. Yang makan nasi aking, yang hanya makan daun ketela yang di rebus  bareng sama garam & dimakan dengan nasi. Tidur di kandang kambing, dll. Tapi kemudian lama-lama bertanya dalam hati, eksposing kaya gitu apa etis? opo yo pantes? Okelah katakanlah itu “program hati”, wisata itu namanya “wisata hati”, tapi kok ya nelangsa banget saya ngeliatnya ya..


Buat saya tontonan itu akhirnya ya tetap hanya sekedar menjadi tontonan. Karena tidak merubah nasib sebenarnya orang miskin tersebut, sementara yang mempunyai acara televisi “menikmati” iklan dari rating acara yang tinggi.  Dulu saya pernah menulis juga tentang kemiskinan. Mengatasi masalah kemiskinan tidak boleh memperlakukan orang miskin sekedar sebagai obyek, tetapi perlakukan mereka sebagai subyek. Hal ini bersumber  dari keyakinan bahwa betapapun miskin seseorang, mereka bukannya tidak punya apa-apa sama sekali, melainkan bahwa mereka mempunyai sesuatu, walaupun sedikit.

 

Mereka bukan “the have not”, melainkan “the have little”, kalau kemampuan & potensi  mereka yang serba sedikit itu di galang dan dihimpun dalam organisasi swadaya masyarakat yang mereka percaya dan kelompok-kelompok swadaya usaha bersama, mereka akan mampu mengatasi masalah-masalah mereka dengan kekuatan mereka sendiri kok. Jadi, siapa bilang orang miskin itu gak mampu?

 

sumber gambar  :  di sini

 

 

Continue Reading

Ketika sebuah apresiasi begitu dihargai ..

Sekecil apapun perhatian yang kita berikan pada seseorang jika itu dihargai akan berbeda rasanya. Sebuah hal menarik saya dapatkan hari ini. Diawali dari sebuah hal kecil yang amat sangat sederhana. Kebetulan saya suka membaca. Beberapa teman saya di facebook adalah penulis/penerbit buku. Awalnya jelas saya ga kenal mereka secara personal lah ya.., karena saya mengenal mereka dari buku yang saya baca/beli. Sejak saya senang membaca & lantas di dukung dengan adanya facebook saya makin rajin mencari profil penulis buku yang saya baca & ingin berinteraksi secara langsung, menyampaikan pujian atau masukan (kalau ada). 

 

Mostly mereka menanggapi secara positif (alhamdulillah). Kalau memang bagus saya tidak ragu bilang bagus, perfect. Tapi ketika saya menemukan kejanggalan di buku mereka saya pasti tanya, yang paragraf ini maksudnya apa ya? atau kalau ada yang janggal atau kurang sesuai dengan pengertian salah satu jargon telekomunkasi  :  “eh bukannya roaming itu artinya begini ya mas?” (kebetulan saya kerja di telekomunikasi jadi saya sedikit banyak ngertilah masalah begitu-begitu, hehe), atau ketika ada kejanggalan penggunaan sebuah istilah saya pasti akan langsung kasih masukan 🙂 . Sebelumnya maaf ya mbak/mas.. bukan saya bermaksud keminter/sok pinter ya .. tapi akan lebih baik kalau kita tahu mana yang benar ya kenapa tidak kita share ke beliau-beliau itu? iya kan? Siapa tahu kita akhirnya bisa saling tukar pikiran tentang itu. Saya sih ambil positifnya aja ya, toh selama maksud kita baik ya why not? Memang sebagian orang yang saya ceritain pasti bilang, “ya ampun lu tuh ya, kagak ada kerjaan deh “, atau ada juga yang bilang :  “sebelum mengkritisi seorang penulis jadilah penulis lebih dulu, maka kamu akan tahu gimana sulitnya mempublish sebuah buku, menerima pujian sampai kritikan pedas”.

 

O’ow, saya bukan kritikus buku ya. Maaf..  Saya cuma penikmat hasil tulisan mereka. Sejauh ini saya tidak pernah mengkritisi mereka secara berlebihan kok karena saya juga bukan penulis buku, saya juga belum pernah ngerasain gimana sulitnya nulis buku, jadi saya kasih masukan yang umum-umum aja.

 

Mostly saya selalu memberikan compliments atas hasil kerja mereka. Saya salut dengan apapun yang mereka sudah hasilkan. Perjuangan mereka bikin gimana supaya bukunya laris, booming, sampai cara menarik audience untuk menghadiri talk show buku mereka.. They’re all just great! Sebagai seorang pembaca wajar kan kalau misal saya ingin berinteraksi dengan penulisnya secara langsung jika ada kesempatan? Even itu hanya sebatas via email, buat saya cukup untuk menyampaikan apresiasi saya kepada mereka 🙂

 

Setiap buku yang saya baca (untuk saat ini utamanya fiksi tapi yang ada unsur  edukasinya buat saya, misal :  fashion (LSDLF & JPVFK – by Syahmedi Dean, perbankan (Divortiare & A Very Yuppy Wedding by Ika Natassa), hukum (Good Lawyer  by Risa Amrikasari & Friends, tapi ada juga beberapa buku yang non fiksi (Talk Inc by presenter Becky Tumewu, Erwin parengkuan & psikolog Alexander Sriewijono) )  saya selalu ambil ilmunya. Pengetahuan kan bisa diambil dari mana aja tho? Nah, kemarin sore saya coba berdiskusi dengan salah satu penulis sekaligus buku Good Lawyer, Mbak Risa Amrikasari. Jujur, pas mau nulis email saya ragu, gimana nanti balasan dari beliau ya? Karena kalau saya lihat dari statement-statement dia kan selalu keras, lugas, tegas  & berbeda dengan yang lain. Sempat saya mau urungkan niat. Tapi ah, kenapa ga di coba dulu sih? Itu kan tampilan luarnya Mbak Risa kaya begitu, siapa tahu dia type very kind person, siapa tahu responnya positif.  Ya sutra, kita coba saja.. Bismillah.. email sent!

 

Pagi ini ketika buka email, taraaaa…. saya kok jadi surprise sendiri dengan jawaban beliau ya. Simply, beliau say thank you buat apresiasi saya terhadap bukunya, trus malah cerita begini, begini, begini.. ujung-ujungnya.. : “Mbak Devi dimana? Aku kirimin yang cetakan keduanya deh, hadiah dari aku hihi… gratis! 😉  “. HAH?!? saya takjub sendiri..  Sampai sedemikian besarnyakah apresiasi saya yang cuma seujung kuku itu dibalas dengan dikasih buku cetakan kedua yang sudah seperti saya inginkan, gratis langsung oleh penulis sekaligus publishernya ..  🙂  . Mbak Risa, saya anggap buku ini hadiah buat ulang tahun saya minggu depan ya.. hehehehe 🙂

 

Meskipun buat orang lain, “Oh, cuma gitu doang?Hmm, biasa aja kali..”. Tapi buat saya, jujur.. saya merasa dihargai. Memang sih soal diberi buku langsung oleh penulisnya bukan hal pertama buat saya. Tapi jarang lho ada orang yang sedemikian besar perhatiannya pada hal-hal kecil yang kita perbuat. Ketulusan. Itu yang saya pelajari hari ini. Segala hal yang kita kerjakan dengan tulus, pasti akan berbalas dengan ketulusan pula. Buat Mbak Risa & friends.. have a good work ya.. 🙂

 

 

 

 

Continue Reading