Urip Iku Sawang Sinawang ..

grass

Itu kata-kata yang sering saya dengar sejak saya masih imut (itu bahasa narsisnya :  masih kecil :-p  ) .  Kata-kata itu berasal dari bahasa Jawa yang kurang lebih artinya begini : “selalu melihat orang lain lebih baik, lebih beruntung, lebih enak daripada kita”. Padahal kenyataannya ya belum tentu kaya gitu. Cuma berdasarkan penglihatan kita aja, belum tentu bener 100% karena kita cuma melihat kulit luarnya doang.

Kaya misal nih, buat yang masih single pasti ngeliat yang sudah merit itu 100% lebih enak daripada yang masih single, bahagia, hidupnya lebih teratur, pokoknya enak bangetlah. Yang sudah merit malah nyangkanya enakan yang belum merit. Lho kok? Iyalah, buat yang masih single tuh enak banget bisa lebih bebas, mau hangout kemana-mana bareng temen, lebih punya waktu buat diri sendiri, menyenangkan diri sendiri, belum diribetin masalah anak/suami/istri, pokoknya masih punya banyak waktu buat diri sendirilah.

Begitu juga masalah kerjaan.  Yang 1 ngeliat, “wah, kerjaan si Anu enak banget deh. Keluar mulu tiap hari, bisa cuci mata, sekalian madol juga tuh. Dateng-dateng tar jam 16.30an, tinggal setengah jam udah deh pulang. Ga kaya gue, 8 jam mesti mantengin komputer, berkutat sama angka-angka, telpon, emailing & segambreng laporan yang amit-amit bujubuneng banyak banget”. Si Anu  ternyata berpersepsi beda, “kerjaan elu tuh yang enak banget. Lu dateng, kerja di depan komputer, ruangan ber-AC masih bisa ngemil sambil ngupi-ngupi. Lah gue, di kantor paling cuma 1 – 2 jam cuma buat nyiapin bahan buat presentasi ke klien, selebihnya gue ada di lapangan, belum kena macetnya padahal udah janjian sama klien jam sekian. Balik ke kantor udah harus ada progress report kerjaan gue apa aja yang udah target, udah jalan berapa persen. Kadang jam segitu otak gue udah ga connect mantengin laporan. Mana bos gue galaknya naudzubillah.. Pusing gue..”  . Nah lho, ga seenak yang kita kira kan? 😉

Atau, “enak ya jadi elu, suami udah jadi pegawai tetap di perusahaan segede & se-establish ini, lu juga udah mantep posisi kerjaannya. Gue ngeliatnya what a perfect life of you both”. Reply dari objek yang diiriin ternyata beda jauh banget, di luar perkiraan. Nih ya : ” Hah, apanya yang enak sih mbak. Kita nikah kemarin juga masih duit utangan kok, belum lunas. Belum lagi cicilan mobil & biaya operasionalnya bayarnya kerasa banget mbak. Rumah juga masih ngontrak, biaya kontrak rumah di Jakarta udah berapa duit tuh mbak. Suamiku yang keliatannya sehat-sehat aja sebenernya dia itu sering sakit. Kemarin aja dia abis ke dokter habis Rp 500.000,- cuma buat nebus obat yang cuma 6 biji, belum ongkos dokternya, therapynya per minggu. Ukkh, siapa bilang enak sih mbak? Enakan juga kamu, ga kebebanan apa-apa”.  Dan segudang masalah lain yang sering kita pikir orang lain hidupnya tuh jauh lebih enak, lebih asik,  lebih segalanya dari kita.  Bener ga? Pasti pernah dong mikir kaya gitu, mmh bukan pernah tapi sering.. Iya apa iya? 😀

Itulah yang namanya rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri. Padahal kalau kita main ke tempat tetangga malah dia yang ngira rumput kita yang jauh lebih hijau dari rumput di halamannya sendiri. Itulah karena kita melihat orang lain hanya dari perspektif kita yang serba terbatas, ga pernah kita rasakan gimana orang lain menjalani hidupnya karena kita tidak involve langsung dalam kehidupannya sehari-hari. Kita hanya bisa judging, menebak, mengira-ngira, menciptakan persepsi sendiri yang kadang ya belum tentu bener. Memang ga ada yang aneh, ga ada yang mengherankan, ga ada yang salah kok dengan persepsi itu. Ya memang itulah setting defaultnya manusia. Seperti yang sudah saya bilang tadi, “urip iku sawang sinawang”. Belum tentu kehidupan orang lain itu seindah yang kita kira kok. Jadi lebih bagus mensyukuri aja apa yang udah Tuhan kasih buat kita. Untuk apapun itu, kesehatan, usia, keselamatan, pekerjaan, jodoh, keluarga yang hangat, keberkahan atas rezeki & segala kesempatan baik yang udah Tuhan kasih ke kita.

Thank you Lord, thank you, thank you for every blessing You give.. I Love You ..  🙂

 [devieriana]

ilustrasi: http://cartoonstock.com

Continue Reading

Tuhan, andai saya boleh memilih ..

merenung1

 

” Dev, andai saja ya aku boleh menentukan jalan hidup mana yang aku pilih, andai aku boleh memilih sendiri jodohku, andai aku boleh mengabulkan apa saja keinginanku..”

Itu curhat salah seorang sahabat saya, kemarin siang ..

 

Hmm.. kalau semua “andai” itu bisa kita lakukan, trus apa gunanya Tuhan? ngapain harus ada Tuhan kalau kita bisa “triiing.. voilaa..” apa yang kita inginkan dalam sekejap ada di depan mata, apa yang jadi keinginan kita langsung terkabul, ga akan ada namanya kegagalan, orang salah arah & salah langkah dalam hidupnya, semua berjalan sesuai rencana..  Tapi apa iya kalau sudah menjadi “tuhan” kecil seperti itu lantas kita bisa puas, kehidupan akan seluruhnya berhasil sesuai rencana? Apa ga malah jadi kacau balau karena berjalan sesuai dengan keinginan masing-masing, bisa bentrok sana-sini, tidak ada sentralisasi, jadi “otonomi daerah” semua.

 

Saya yakin pemikiran seperti diatas pasti pernah mampir ke otak masing-masing orang, tapi kembali laagi ke akal sehat, yakinkah kita ketika semua serba dituruti, apapun keinginan & cita-cita kita serba in a minute langsung jadi, apa malah ga bikin kita jadi cerdas, ulet, & berusaha? Yang ada bakal menambah populasi orang malas di dunia ini. Bener ga? “Aku mau uang yang banyak, yang ga usah pake kerja”.. TRIING.. berkarung-karung uang sudah ada di depan mata. “Aku mau nikah sama si X dong, soalnya aku suka sama dia”.. TRIIING.. Si X sudah jadi suami/istri kita. “Aku mau lulus cumlaude tapi ga usah pake kuliah dong..”.. Yee, mana bisa begitu? enak aja.. hehehehe.. 😀

 

Pun halnya memilih pasangan hidup, pekerjaan, jalan hidup, dll. Saya percaya semua itu pasti ada “jodohnya”. Maksud saya begini, semua ditakdirkan untuk berpasang-pasangan (bukan hanya pasangan hidup), pun halnya dengan pekerjaan. Si A gonta-ganti tempat kerja dari perusahaan X ke perusahaan Y, ga cocok, resign ngelamar ke perusahaan Z, eh kok enak ya.. gaji gede, posisi enak, kerjaan gampang & lingkungan kerja yang kondusif. Hal yang seperti itu yang saya namakan jodoh. Begitu juga dalam menentukan pasangan hidup pun, kalau saya boleh memilih nih, saya bakal pick one orang yang saya sukai,  Si Anu misalnya. Tapi balik lagi, yakinkah kita jika si Anu ini jadi pasangan hidup kita, kita bakal jadi orang yang lebih baik daripada sekarang? Mesti mikir dulu deh. “Hhalaaaahh… kalau kebanyakan mikir keburu dia disamber orang, bu..”. Ya udah berarti dia bukan jodoh kamu.. Gitu aja. Simple kan? 🙂 . Tapi inget, pasrah bukan berarti ga usaha ya. Kalau memang kita suka dengan si A/B/C, atau kita punya keinginan & cita-cita ya harus ada usaha dululah. Do the best, lets God do the rest..

 

Proses berpikir saat akan melakukan pengambilan keputusan sangat dibutuhkan. Kenapa? Ya supaya kita ga salah pilih, ga salah jalan. Saya juga pernah berpikir bahwa Tuhan itu kok kayanya ga adil banget deh. Ada orang yang hidupnya kayanya sangat beruntung, dapat pasangan yang perfect, dikaruniai anak yang lucu-lucu, seems mereka bahagia banget.. what a perfect life-lah pokoknya. Sementara saya ya biasa-biasa aja. Tapi tadi pagi saya mendapatkan perenungan bagus setelah semalam saya bertemu dengan seseorang dari masa lalu saya. Mendadak saya bersyukur dengan kehidupan saya sekarang. Andai beberapa tahun lalu Tuhan mengiyakan keinginan saya untuk hidup bersama dia, saya ga yakin bahwa kehidupan spiritual saya akan semakin dekat dengan-NYA. Secara ya, kadang shalat aja saya masih bolong-bolong, baca Qur’an kalau saya lagi pengen. Kalau saya hidup sama dia apa iya saya ga makin jauh dari-NYA? Okelah secara financial kehidupan saya akan tercukupi, tapi kebutuhan rohani saya besar kemungkinannya akan makin kosong karena kehidupaan rohaninya sendiri ga lebih baik daripada saya  🙁

 

Selalu ingatlah akan 3 hal  :

1. Jika Allah mengatakan Ya !
Maka kita akan mendapatkan apa yg kita minta..

2. Jika Allah mengatakan Tidak !
Maka kita akan mendapatkan yang lebih baik..

3. Jika Allah mengatakan Tunggu !
Maka kita mendapatkan yang terbaik sesuai kehendak-Nya.
Allah tidak pernah terlambat, Dia tidak juga tergesa gesa, namun Dia selalu tepat waktu..

 

Tuhan ga pernah salah, Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karean kadang apa yang kita inginkan sebenarnya bukan yang kita butuhkan secara hakiki. Namun kadang kita lupa, saat dalam hidup ada 1 pintu yang tertutup bagi kita, kita hanya bisa menangis, mengeluh, meraung-raung agar pintu itu dibuka, sampai kita tidak sadar bahwa ada pintu lain yang Tuhan sudah buka untuk kita..

Berserahdirilah, karena Tuhan Maha Tahu segala yang terbaik untuk kita ..

 

teruntuk sahabat saya.. cheer up ya Dear  🙂

 

 

Continue Reading

Don't Judge the book from it's cover ..

Seringkali kita terjebak & terpesona oleh tampilan luar, fisik yang menarik, kemasan yang aduhai. Padahal belum tampilan luar sebagus isinya & disitulah kita seringkali tertipu. Kadang kita hanya mau menerima seseorang yang sama dengan kita, yang sejajar, yang selevel dengan kita. Mengecilkan keberadaan orang lain yang kita anggap aneh & tak sepadan.

Sebenarnya ini adalah posting lama di blog saya, yang menceritakan tentang seorang unemployment bernama Susan Boyle, seorang wanita usia 47 tahun yang nekad mengikuti ajang pemilihan Britain Got Talent 2009. Jika melihat tampilan fisiknya yang “enggak banget” siapapun bakal mikir, “dih, emang situ bisa apa sih? Apa? nyanyi? Yakin suara kamu bagus? Kagak kalah bagus sama kaleng rombeng?”, sambil melihat dengan sinis dari atas kebawah. Sama halnya dnegan kita yang saat pertama kali memandang seseorang yang di mata kita kurang ok, aneh, atau pandangan underestimate yang lain, banyak kalangan yang mencibir & meremehkan penampilan Susan yang jauh dari cantik (jika kita melihat dengan ukuran & kacamata calon artis, calon superdiva, calon selebritis, calon mahabintang atau superstar yang idealnya ya pasti dari segi fisik ada selling point-nyalah : cantik, langsing, enak dilihat, fabulous).

Tapi apa yang terjadi setelah beberapa waktu mereka merendahkan Susan? Membuat komentar miring, mentertawakan, dll. Apa reaksi mereka ketika Susan mulai menyanyi? Ekspresi mereka bukan hanya ternganga, kagum, tapi juga sampai rela memberikan standing applause untuk suaranya yang dahsyat, tak terkecuali para juri yang tadinya juga memandang sebelah mata. This reality show was so inspiring. Menyadarkan mata banyak orang bahwa tak selamanya yang terlihat buruk itu pasti buruk. Tak selamanya seseorang yang berpakaian kumal, sangar & bertato itu pasti penjahat. Tak selamanya orang yang lemah itu terlihat selemah apa yang kita sangka.

Belajar menerima seseorang in a whole package, lengkap dengan segala kelebihan & kekurangannya. Karena dibalik kekurangan pasti ada kelebihan yang kita tidak sangka-sangka.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=deRF9oEbRso&hl=en_US&fs=1&rel=0]

I dreamed a dream in time gone by
When hope was high and life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving

Then I was young and unafraid
And dreams were made and used and wasted
There was no ransom to be paid
No song unsung, no wine untasted

But the tigers come at night
With their voices soft as thunder
As they turn your hope apart
As they turn your dreams to shame

And still I dream he’d come to me
That we would live the years together
But there are dreams that cannot be
And there are storms we cannot weather

I had a dream my life would be
So different from the hell I’m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed

(I Dreamed A Dream – Les Miserables)

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Maaf, level kita beda..

foto20080710085619-news

Pagi tadi ketika saya baru turun dari motor & melepaskan helm, melintas didepan saya seorang bapak renta mendorong gerobak barang loakan. Sudah cukup renta, punggungnya bungkuk, badannya kurus, tapi ada yang tak biasa yang saya lihat dari pancaran wajahnya.. dia tersenyum & terlihat menikmati sekali pekerjaannya. Walau saya yakin kehidupan seperti itu diluar kuasanya, diluar kehendak & kemauannya. Sedikit trenyuh saya melihatnya, tapi di sisi lain saya kagum ada orang serenta itu masih ada semangat mencari nafkah. Padahal seharusnya dia sudah menikmati kehidupan masa tuanya bersama anak cucunya.

Itulah sekilas pemandangan mengharukan yang saya lihat pagi ini. Kalau soal kelas masyarakat seperti kakek itu di Indonesia saya yakin banyak sekali. Mereka hidup alakadarnya, jangankan punya rumah, bisa makan sehari sekali saja rasanya sudah bersyukur sekali.

crocs-jpg

Tapi saya kembali tercengang ketika beberapa hari yang lalu ketika di salah satu channel berita di televisi menayangkan betapa panjang antrian menuju ke salah satu toko sepatu yang  berasal dari USA. Pengunjung rela antri & berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan sepatu CROCS yang telah didiskon sebesar 70%, padahal sih kalau menurut saya sih (maaf mungkin saya seleranya agak kampung ya jadi kurang bisa menilai mana sepatu keren, mana yang bukan)  modelnya biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya dengan model sepatu itu.  Toh kalau sudah dipakai apa iya orang lain sampai se-aware itu mengenali brand sepatu tertentu? Kecuali pengamat mode atau kolektor barang-barang branded mungkin ya..

Ironis sekali dengan pemandangan antrian warga miskin yang sedang mengantri pembagian Bantuan Langsung Tunai. Hanya demi Rp 200.000,-  s/d Rp 300.000,- mereka rela mengantri berjam-jam bahkan ada yang sampai pingsan kelelahan. Jangankan untuk berpikir membeli sepatu, nama mereka tercantum dalam daftar penerima BLT saja mereka sudah senang sekali, karena itu adalah harapan mereka bisa memenuhi sedikit kebutuhan hidup mereka dalam beberapa hari ke depan.

Pernah saya berdiskusi dengan salah seorang sahabat saya tentang tingkat kemiskinan di Indonesia.  “Aku heran, sebenarnya negara kita itu negara miskin atau kaya sih? Ngakunya bukan negara kaya, tapi bisa ngantri beli I-phone ataau Blackberry & barang-barang branded lainnya..”.  Demikian komentar sahabat saya ketika saya bercerita tentang antusiasme pelanggan ketika membeli gadget keluaran terbaru milik perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Jujur saya bingung mau menjawab apa. Kalau menurut teori diatas kertas dengan kenyataannya di lapangan memang jauh berbeda. Apalagi saat melihat daya beli masyarakat & tingkat kebutuhan barang-barang bermerk di negara kita cukup tinggi.

Ada lho teman saya yang kalau barang-barangnya kurang berkelas rasanya kurang puas, dengan alasan : “aku kan butuh penampilan & image, darliiing. Ini untuk tandatangan buku aku…”. Bayangkan, hanya untuk sebuah pena saja dia rela merogoh kantong kisaran Rp 6 juta sepasang. Tak heran karena pulpen yang saya maksud adalah keluaran Mont Blanc Meisterstück 149 Fountain Pen dengan  mata pena terbuat dari emas 18 karat. Atau benda-benda branded lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan disini satu-persatu lantaran terlalu banyak & belum tentu semuanya familiar dengan merk itu. Anyway, memangnya beda ya hasil tandatangan antara paakai pulpen merk PILOT dengan Mont Blanc?

Saya sih sadar ya,  tingkat ekonomi, profesi, status sosial, pergaulan masing-masing orang pasti beda, dan itulah yang menentukan kelas & strata masing-masing orang di lingkungan sosialnya. Kita yang pandai-pandai menyesuaikan  & membawa diri ke lingkungan mana kita akan berdiri.

Bukan berarti saya setuju dengan kelas-kelas sosial yang ada sekarang ya.. tapi lebih menjaga supaya bisa lebih relaks ketika bergaul dengan lingkungan yang sesuai dengan kita. Maksud saya begini : ketika kita yang termasuk kalangan rata-rata ini (saya bilang rata-rata karena kan tidak semuanya kalangan high end)  masuk ke dalam lingkungan high end yang namanya rasa minder, malu, kurang percaya diri itu pasti ada (saya pakai sudut pandang “rata-rata” ya. Kalau kebetulan Anda fine-fine saja blended di lingkungan sosial manapun ya tidak masalah). Ujung-ujungnya apa? Kurang nyaman kan saat berada bersama mereka? Obrolan kurang “nyambung” karena topiknya berbeda dengan yang biasa kita obrolkan bersama teman-teman di lingkungan kita, atau mungkin yang dibahas sudah out of space-nya kita. Jadilah kita kurang tune in dengan mereka. Kalau cuma sekedar kurang percaya diri sih masih mending. Kalau ujung-ujungnya kita sampai ingin menjadi seperti mereka, dengan gaya hidup yang sama persis bagaimana? Apa ga ngoyo namanya? Sementara uang di kantong pas-pasan tapi kita “ngebet” ingin beli I-phone seperti salah satu teman di lingkungan itu, contohnya seperti itu. Atau, kita yang hanya seorang staff di kantor yang biasa-biasa saja tapi berhubung kita “gaulnya” dengan teman-teman yang suka pakai baju keluaran Michael Kors & stiletto  keluaran Manolo Blahnik atau Jimmy Choo, misalnya. Ya jelas tidak akan pernah sampai. Seperti yang saya bilang tadi, ngoyo yang ujung-ujungnya stress..

Kaya-miskin, strata/status sosial, semuanya hanyalah status semu manusia di dunia yang fana ini. Tuhan tidak pernah menilai seseorang dari tingkat kekayaannya, status sosialnya, banyaknya barang bermerk yang dia miliki. Tapi lebih melihat what you have inside. Semua yang saya sebutkan tadi hanya titipan-Nya. Harta benda, anak, jabatan, status sosial, semuanya adalah titipan Tuhan. Dia berhak meminta dari kita sewaktu-waktu, mencabutnya seperti pohon yang tercerabut dari tanah, menimpakan musibah ketika umatnya mulai lalai.

[devieriana]

picture source : http://foto.inilah.com/topik.php?id=3188

Continue Reading

Semoga Allah memberikan segala kemudahan ..

sunflower2020blue20sky20300x300

 

 

Ya Allah ya Tuhan kami, kurniakan kami rahmat dari sisiMu, dan berilah petunjuk kepada kami dalam urusan kami dengan segala petunjuk, Mudahkanlah urusan kami ya Allah, permudahkanlah jangan disulitkan karena Engkaulah yang maha memudahkan, segala yang susah adalah mudah bagi-Mu. Ya Allah, sempurnakanlah dengan segala kebaikan dengan rahmat-Mu, Ya Allah wahai yang paling mengasihani daripada segala yang mengasihani..

 

 

 

 

.. teruntuk sahabatku..

.. semoga Allah memberikan segala kemudahan buatmu..

.. Amien ..

Continue Reading