Cerita Di Balik “Wajah Bunda Islami 2016”

Pemilihan Wajah Bunda Islami 2016

Jadi ceritanya hampir sebulan ini kegiatan saya full, baik itu weekdays maupun weekend. Kalau weekdays. Kalau weekdays ya pastinya kerja sambil ngurus bocah, pokoknya full buat kerjaan dan keluarga. Sementara weekend saya disibukkan dengan event bernama Pemilihan Wajah Bunda Islami 2016. Hah? Kegiatan apa itu?

Iya, saya memang lagi iseng banget ikut kontes pemilihan wajah sesuatu. Padahal sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran saya kelak suatu hari saya akan ikut kontes beginian. Bercita-cita pun tidak pernah dan tidak berani, hahaha. Bukan apa-apa, dalam bayangan saya kalau pemilihan puteri/wajah ini itu, pasti banyak diikuti oleh peserta yang secara fisik memenuhi syarat, terutama wajah dan tinggi badan. Itulah kenapa saya kurang berminat mengikuti acara kontes sejenis ya karena modal saya pas-pasan :D.

Tapi entah kesambet apaan, gara-gara ada teman yang menginfokan acara ini via obrolan di whatsapp, saya yang sempat berpikir berkali-kali itu pun akhirnya luluh, ikut daftar juga, karena kebetulan syaratnya lumayan mudah; seorang ibu, punya anak, dan menggunakan hijab. Sudah, itu saja. Berhubung syaratnya cuma ‘begitu’ ya saya berani daftar. Coba kalau syaratnya kaya pemilihan Puteri Indonesia atau kontes sejenis, dari sejak tahap pengiriman biodata saja mungkin saya sudah tersingkir duluan, saking tidak memenuhi syaratnya, hahaha…

Akhirnya, terceburlah saya dalam kegiatan seleksi pemilihan Wajah Bunda Islami 2016. Peserta yang mengikuti acara ini total 97 peserta, dan semuanya ibu-ibu. Ya iyalah, kan sudah dibilang dari awal syaratnya harus ibu-ibu. Hih! *ditabok massal*. Sejak awal acara ini diselenggarakan di South Quarter Dome, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Semacam proyek mixed-use development yang terdiri dari tower perkantoran, apartemen, dan fasilitas ritel saling terintegrasi. Tempatnya lumayan cozy, cuman memang karena acara kita di weekend jadi ya sepi banget, karena tenant yang mengisi SQ Dome belum banyak, kebanyakan sih restoran.

Seleksi awal dilakukan di hari Minggu, tanggal 5 Juni 2016. Semua peserta yang telah mendaftar wajib hadir untuk menjalani sesi foto dan interview bersama dewan juri. Di sesi ini akan menyeleksi peserta menjadi 50 besar. Sempat minder juga melihat kebisaan para peserta lainnya yang kebanyakan sudah memakai hijab lebih lama daripada saya, lebih memiliki wawasan keislaman, bahkan bakatnya pun luar biasa buat saya. Jadi grogi sendiri ketika ‘ditantang’ untuk unjuk bakat, saya awalnya pede saja mengisi dongeng, tapi ketika melihat list pengisi acara lainnya, ada yang ceramah agama, tausiyah, menyanyi dalam bahasa Arab, saritilawah. Duh, sumpah… minder. Bahkan dongeng saya pun fabel, tidak ada unsur islaminya, ya bisa sih di akhir cerita saya hubungkan dengan nilai-nilai keislaman, tapi tetap saja keder duluan. Oh ya, videonya mendongengnya bisa dilihat di instagram saya ya, hihihik

Tapi bismillah saja, toh saya sudah lama tidak mengikuti ajang perlombaan apapun. Event besar terakhir yang saya ikut sudah 5 tahun yang lalu, yaitu Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink, dan itu lumayan menguras energi saya karena kegiatannya yang lumayan padat. Alhamdulillah, walaupun tidak sampai Juara 1, tapi setidaknya masuk 2 besar sudah merupakan prestasi luar biasa buat saya, mengingat saya tidak pernah mengenyam pendidikan fashion design secara formal seperti halnya 4 finalis lainnya.

Di sesi seleksi 50 besar ini ternyata saya dinyatakan masuk bersama ke-49 peserta lainnya, yang selanjutnya akan mengikuti seleksi berikutnya yaitu interview bersama dewan juri. Antara senang dan deg-degan karena mikir, bakal ditanya seputar apa, ya? Walaupun ada bocoran juga dari panitia bahwa nantinya ke-50 peserta akan diminta untuk mengaji, diinterview seputar wawasan keislaman, dan ada interview seputar keluarga dan parenting bersama psikolog.

sesi belajar bersama ibu-ibu kece, sebelum sesi interview
sesi belajar bersama ibu-ibu kece, sebelum sesi interview

Di minggu berikutnya, yaitu Sabtu, 11 Juni 2016, adalah hari yang penuh tantangan buat saya. Bukan cuma tantangan karena akan interview, tapi juga tantangan tersendiri karena saya bawa Alea ke tempat lomba tanpa suami. Ya walaupun ada adik saya yang ikut menemani saya dan Alea, tetap saja di saat-saat tertentu akan ada saat di mana Alea hanya mau sama saya, nggak mau sama lainnya. Dan benar saja, tepat setelah sesi membaca Al-Qur’an, sambil menunggu sesi interview tentang wawasan keislaman dan interview bersama psikolog, Alea mulai rewel. Maklum, dia sudah capek dan ngantuk berat, sementara tidak ada tempat yang nyaman buat dia istirahat. Adik saya pun juga sebenarnya saya lihat sudah lelah karena sudah mengasuh Alea sejak pukul 9 pagi. Akhirnya tepat ketika sesi saya interview, saya pun masuk sambil menggendong dan menyusui Alea. Mungkin cuma saya saja peserta yang masuk ke ruang interview sambil menggendong bocah yang sedang lelap-lelapnya.

Ndilalah hari itu bertepatan dengan hari pertama saya period. Jadi, hormon saya memainkan emosi secara luar biasa. Stress iya, mewek iya. Terutama ketika sesi interview bersama psikolog, belum ditanya apa-apa saya sudah ambil tissue, hahaha. Walaupun akhirnya tissue itu pun berguna untuk menyeka air mata yang tiba-tiba saja sudah menggenang di pelupuk mata. “Gapapa, Bunda. Di meja saya ini memang sesi curhat, banyak yang nangis kok tadi…”, sampai psikolognya bilang gitu, coba. Ya bayangkan ya, kita ditanya tentang anak, tentang harapan kita kepada anak, pas kitanya sambil menggendong anak, ya baper abislah. Ndilalah lagi di akhir sesi interview Aleanya pas bangun, sambil mengucek mata, dia melihat sekeliling, dan psikolog yang mewawancarai saya bilang ke Alea, “Eh, anak cantik udah bangun. Mau bobo lagi? Ya udah bobo lagi boleh, kok. Selamat ya sayang, kamu punya bunda yang hebat…”. Nah, itu bikin saya baper lagi. Ah, saya belum sehebat yang bunda psikolog maksud kok. Saya seorang ibu newbie yang perlu banyak belajar.

Singkat cerita, sesi interview sore itu ditutup dengan sesi interview tentang wawasan keislaman. Sebenarnya sih interviewnya santai, seperti ngobrol, kebetulan di sesi saya ada Risty Tagor dan Betty Librianty yang menginterview seputar pengetahuan saya tentang Islam dan apa yang akan saya lakukan kalau saya terpilih sebagai salah satu pemenang Wajah Bunda Islami. Agak keder juga ketika pertanyaannya tentang Khulafaur Rasyidin, tentang sejarah Islam, dan kenabian. Tahu sih, bisa jawab juga, cuma agak kurang yakin dengan jawaban saya sendiri, mengingat itu kan pelajaran zaman masih sekolah dulu, huhuhuhu… Pokoknya pulang-pulang, pasrah sajalah. Kalau masuk 25 besar alhamdulillah, tidak pun tak apa-apa, karena saya sadar dengan kemampuan diri saya yang jauh dari kata sempurna.

Tapi ternyata panitia berkata lain, saya dinyatakan masuk sebagai 25 besar, dan harus hadir di hari berikutnya, Minggu 12 Juni 2016 di tempat yang sama untuk mengikuti parade 25 besar dan fashion show. Kali ini saya datang sendiri, Alea saya tinggal di rumah supaya dia bisa istirahat cukup dan makan teratur. Karena lokasinya yang lumayan dekat, saya pun pulang pergi naik ojek online, ganti kostumnya di lokasi saja.

IMG_20160612_140235

Sampai akhirnya panitia mengumumkan bahwa seleksi 25 besar menjadi 10 besar yang nantinya akan langsung diumumkan siapa saja pemenangnya, akan diadakan di hari Minggu, 19 Juni 2016, dan harus siap dengan hafalan surat-surat pendek. Aduh, beneran saya stress. Ada banyak hal yang ada di kepala saya. Belum hafalan surat-surat pendek, belum mikir saya ada dinas ke Istana Kepresidenan Cipanas tanggal 16-18 Juni 2016, belum persiapan acara buka bersama Mensesneg, Seskab, dan Kepala Kantor Staf Presiden yang jatuh di hari Jumat, 17 Juni 2016, belum lagi saya mikir nanti kalau saya dinas Alea gimana. Sebenarnya bisa saja sih ‘mengimpor’ Mama saya dari Surabaya ke Jakarta, tapi ndilalah Mama lagi sibuk-sibuknya mengerjakan orderan kue lebaran, baru mulai pula, jadi tidak bisa diganggu. Duh! 🙁

Tapi ternyata Allah itu baik banget, di saat urgent begitu, panitia Wajah Bunda Islami mengumumkan apa saja surat yang harus dihafalkan (jadi kita tidak perlu random menghafal seluruh surat pendek, tapi cukup yang ada di list panitia saja), dan acara diundur ke hari Sabtu, 25 Juni 2016. Bukan itu saja, saya tetap dijadwalkan dinas tapi diagendakan mengurus bukber saja, sehingga saya tetap bisa menjaga Alea, dan tetap bisa mengurus bukber di kantor. Alhamdulillah…

bersama salah seorang finalis Wajah Bunda Islami 2016
bersama salah seorang finalis Wajah Bunda Islami 2016

MYXJ_20160625111023_save

Tibalah saat yang paling menentukan. Sejak pukul 10 pagi, ke-25 finalis Wajah Bunda Islami sudah hadir di venue untuk mengikuti gladi bersih, sekaligus pengambilan foto dan video, untuk selanjutnya dari foto dan video itulah yang akan menentukan siapa saja yang berhak lolos ke 10 besar. Di sini saya sudah pasrah. Saya sudah sampai ke tahap ini saja sudah bersyukur, sekali lagi sesi koreksi diri saya sedang berkerja. Beberapa kali bertemu dengan teman-teman sesama peserta, saya menemukan sosok-sosok luar biasa. Jadi, kalau salah satu di antara mereka kelak menjadi salah satu pemenang saya akan sangat legowo. Oh ya, kebetulan ketika grand final ini kondisi badan saya sedang drop. Flu berat, radang tenggorokan, dan saking demamnya mata saya sampai memerah. Cuma berdoa semoga kuat sampai selesai acara.

Dan, perjuangan saya memang cuma sampai di tahap 25 besar. Tidak ada masalah sama sekali, karena saya yakin dan percaya bahwa 10 peserta yang berdiri di atas panggung dan sedang menjalani sesi membaca surat-surat pendek dan sesi interview bersama juri itu adalah pribadi-pribadi pilihan yang mumpuni bukan hanya di bidang parenting tapi juga tentang wawasan keislaman. Bayangkan, yang bagus ngajinya saja masih banyak koreksi dari dewan juri, lah gimana saya yang kemampuan mengajinya pas-pasan, hiks…

Singkat cerita, saya akhirnya pulang duluan naik ojek karena mengingat kondisi badan yang semakin kurang memungkinkan. Mungkin Allah minta saya untuk mengistirahatkan badan dan pikiran setelah hampir sebulan penuh beraktivitas yang menguras tenaga dan pikiran tanpa jeda.

para pemenang Wajah Bunda Islami 2016
para pemenang Wajah Bunda Islami 2016

Selamat bagi para pemenang (Bunda Avie Azzahra, Bunda Wardah Husaeni, dan Bunda Lina Rayen), kalian layak menyandang predikat juara Wajah Bunda Islami karena kalian bukan hanya sosok seorang bunda semata, tapi juga juga sosok perempuan tangguh yang mumpuni dan berilmu pengetahuan. You rock, guys!

So, inilah keisengan Ramadan saya tahun ini. Keisengan yang membawa saya ke sebuah pengalaman baru yang insyaallah membuka mata hati dan pikiran saya tentang banyak hal, menambah pengetahuan saya tentang agama yang masih ecek-ecek ini, dan utamanya lagi bisa menambah teman-teman baru yang semuanya merupakan sosok ibu panutan yang luar biasa!

Berkah itu kan bentuknya bisa macam-macam, ya. Kalau ini boleh saya sebut sebagai berkah Ramadan, ya… inilah berkah Ramadan versi saya…

Selamat menjalankan ibadah puasa yang tinggal hitungan hari ini ya, temans…

 

[devieriana]

Continue Reading

Tentang Belanja di Pasar Murah

shopping-cartoon

Ting tung! *buka pesan di whatsapp*
“Eh, ada bazar Dharma Wanita di Gedung 3? Ke sana yuk!”
– read –

Ting tung! *buka pesan di grup ibu-ibu biro*
“Besok ultah kantin Kayumanis, ada bazar sembako, yang mau pesen bawang merah, bawang putih, gula, beras, dll, buruan pesen ya, kuatir kehabisan…”
– read –

Ting tung! *buka pesan di whatsapp emak-emak*
“Up date harga Indongapret dan Lapamidi. Diskon minyak goreng, pampers, susu anak, beras…”
– read, delete –

“Eh, ada pasar ikan segar tuh di depan toko souvenir, Kak Devi nggak ke sana?”

Hampir semua ajakan belanja ini itu berakhir dengan gelengan kepala, atau penolakan halus. Entah kenapa, sejak zaman dulu, setiap kali ada broadcast whatsapp tentang program belanja ini itu, diajak pergi ke bazar, atau pasar murah, selalu tidak pernah tertarik atau antusias. Kalau pun iya pernah beli di bazar kantor itu tahun 2011, beli mukena berbahan parasit warna cokelat tua seharga 120 ribu dan itu juga hasil komporan teman.

Beda dengan hampir semua teman kantor saya yang perempuan terutama, kalau ada bazar hampir dipastikan kembali ke ruangan dalam keadaan dua tangan yang penuh dengan jinjingan belanjaan. Entah itu sembako, jilbab, mukena, sepatu/baju anak, atau makanan siap saji. Beberapa kali saya ‘paksakan’ pergi ke bazar yang diadakan kantor, tapi ndilalah selalu kembali ke ruangan dengan tangan kosong.

Entahlah, apa mungkin belum pernah ‘nemu’ barang yang pas dengan apa yang saya butuhkan, atau belum nemu yang kebetulan lucu, dan atau harus dibeli. Tapi kalau soal sembako, saya orangnya praktis saja sih. Kalau habis ya beli, tapi kalau masih ada ya dihabiskan dulu. Ya tipe orang seperti saya mungkin ada negatifnya, kalau mendadak butuh dan persediaan sedang habis, ya bakal kelimpungan. Ya tapi daripada numpuk dan makan tempat, gimana dong? Apalagi rumah saya tipe-tipe imut minimalis yang bisanya buat menyimpan stok barang secukupnya. Tapi biasanya sih saya selalu cek apa saja yang sudah hampir habis, baru saya belikan stoknya. Atau kalau memang sudah waktunya belanja bulanan ya dicatat apa saja yang habis dan perlu dibeli, supaya nggak kalap belanjanya. Ah, dicatat saja masih suka kalap, apalagi nggak dicatat *self keplak*.

Kadang saya mikir juga, kok saya nggak kaya ibu-ibu lainnya yang selalu riang gembira memborong sembako murah, atau kalap beli pernak-pernik buat bocah ya? Sudah pernah saya paksakan untuk ke bazar pun hati ternyata tidak tertarik sama sekali. Jangan-jangan event organizer-nya yang kurang kreatif nih sehingga barang-barang yang dijual kurang menarik perhatian saya ya… *ngomong sama tembok*

Bukannya nggak butuh sembako juga sih, pasti butuh dong. Emang kita anak debus, yang makannya beling sama gabah, hahaha. Ya bayangkan, di rumah kami cuma bertiga; saya, suami, dan Alea (usia 22 bulan). Kebetulan saya dan suami bukan tipe orang yang makannya banyak. Suami juga bukan orang yang makan apa saja cocok, cenderung picky. Picky-nya cocok-cocokan sama lidah dia, misal untuk masakan, dia kurang suka sama yang olahan ikan, apapun bentuknya. Trus, masakan yang mengandung kecap, atau yang terlalu pedas. Sementara saya adalah pemakan apa saja. Jadi kadang saya yang menyesuaikan dengan lidah suami. Begitu juga dengan Alea yang makannya belum seberapa. Jadi kalau harus menimbun sembako kok rasanya agak ribet gimana gitu. Menurut saya sih…

Kalau soal belanja pernak-pernik anak, biasanya saya cenderung beli kalau memang sreg pengen beli atau beneran nemu yang lucu. Anak seusia Alea kan cepat numbuhnya ya, jadi saya biasanya beli seperlunya saja, kalau kebetulan Alea belum punya, atau ada barang yang lucu, atau memang sudah waktunya beli. Bukan apa-apa, khawatir mubadzir, sudah beli banyak baju, belum sempat dipakai eh tahu-tahu sudah nggak muat karena anaknya tambah besar.

Jadi, kalau saya jarang beli di bazar atau pasar murah, bukan berarti saya sok-sokan anti bazar atau pasar murah lho ya, mungkin belum nemu pas butuhnya saja.

Makanya ayo dong, ajak saya ke mana gitu, yang barangnya lucu-lucu dan harganya miring, dan biar saya bisa kalap belanjanya… *lho*

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Jadi Ibu ‘Beneran’

Alea dan Mama :D

Lama juga ya saya tidak up date blog, padahal ada banyak cerita yang bisa ditulis di sini. Tapi ya semua terkait masalah waktu, kesempatan, dan niat menulis yang kadang menguap begitu saja *self toyor*

Jadi ceritanya sudah hampir sebulan ini Alea saya bawa ke kantor, bukan ikut saya kerja seharian di ruangan, tapi saya titipkan di daycare Taman Balita Sejahtera yang kebetulan dikelola oleh Dharma Wanita Persatuan kantor saya. Lah, kenapa kok tiba-tiba Alea harus dititipkan di daycare? Tentu keputusan ini sudah melalui pemikiran yang masak walaupun pada awalnya terasa berat. Bukan hanya berat buat saya, tapi juga buat eyangnya, dan tentu saja buat Alea yang tiba-tiba harus merasakan ‘berpisah’ sejenak dengan keluarga yang dikenalnya, dan seharian harus berada di tempat ‘asing’/baru, dengan teman-teman baru dan para bunda yang pengasuh. Tapi gapapalah, sekalian latihan buat Alea bersosialisasi dan mendapatkan pendidikan pra sekolah, walaupun usia Alea belum genap 2 tahun.

Rasanya waktu hampir 2 tahun ini sudah ‘cukup’ bagi mama saya untuk mengasuh/menjaga Alea. Sejak Alea lahir sampai dengan Alea hampir berusia 2 tahun mamalah yang setiap hari merawat dan menjaga Alea. Jadi memang saya lumayan terbantu dengan adanya mama di rumah. Tapi dengan berbagai pertimbangan, mama memang harus kembali pulang untuk menemani papa di Surabaya. Sementara untuk memutuskan mencari baby sitter/pengasuh saya masih banyak mikirlah. Makanya, sebulan pertama adalah masa percobaan bagi saya, Alea, dan mama untuk menjalani rutinitas baru sebelum akhirnya nanti mama benar-benar pulang.

Hari pertama Alea di daycare lumayan terlihat menyenangkan, dia terlihat antusias dengan komentar pertamanya ketika melihat banyak anak kecil seusianya, “wooow!. Tak disangka-sangka, dia pun langsung bisa mingle dengan teman-teman barunya, ikut senam, main perosotan, dlll. Melihat tingkah polahnya yang lucu itu antara sedih dan haru karena saya harus meninggalkan batita saya sendirian. Jujur, jauh dalam hati sih saya baper abis; tidak tega meninggalkan Alea di tempat baru dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Tapi bismillah sajalah, semoga dia baik-baik saja. Tapi ya namanya bocah, lama-lama dia sadar juga kalau mama, papa, dan eyangnya tidak ada bersamanya, kalau mulai rewel ya sangat dimaklumi. Tapi ada yang lumayan melegakan, menurut bunda pengasuhnya, nafsu makan Alea bagus, minum susunya juga bagus, dan kemampuannya menyesuaikan diri di tempat baru sangat cepat, termasuk berbeda dengan anak lain seusianya.

Hari pertama dilalui dengan alhamdulillah lumayan tanpa drama. Hari kedua, lihat pagarnya daycare saja dia sudah tidak mau, apalagi hari ketiga, dan keempat (yang kebetulan bertepatan dengan hari Jumat dan ndilalahnya dia pas flu berat), dramananya lumayanlah. Mungkin karena badannya lagi kurang nyaman, jadi maunya ya sama mamanya aja. Jadi kata bunda-bundanya di daycare Alea memang agak rewel.

Trus, apa kabar setelah hari keempat? Alea nggak masuk selama 2 minggu karena flu batuk pilek disertai demam tinggi. Ya menurut dokter sih common cold saja sih, kalau demam tingginya itu karena radang tenggorokan. Tapi ya tetap saja saya baper karena pikiran sudah ke mana-mana. Untungnya waktu itu mama belum pulang ke Surabaya, jadi masih ada yang merawat Alea selama dia sakit.

Sebagai ibu kadang memang harus ‘tegaan’ ya. Maksudnya, jangan terlalu baperan, harus kuat gitu. Kebetulan dokternya Alea menyarankan Alea harus dinebulizer supaya pernafasannya agak enakan, saya sih nurut saja, selama ini kebetulan flu batuk pileknya memang tidak separah yang ini, jadi kalau memang harus diuap mendingan diuap deh, biar flunya beres sekalian. Nah, melihat Alea harus dinebulizer dan menangis meraung-raung itu pun sebenarnya antara tega nggak tega tapi ya kalau nggak tega nanti dia nggak sembuh-sembuh dong. Dinebulizer itu kan sebenarnya nggak sakit, tapi berhubung bocahnya tegang lihat suster, liat alat-alat yang buat dia, “eh, aku mau diapain nih…” itu ya jadi bikin dia nangis, hehehe. Tapi lucunya, setelah proses penguapan itu selesai, Alea diajak ngobrol oleh suster yang menangani penguapan, “Nah, udah selesai nih. Nggak sakit, kan? Enak, kan?”. Dengan muka lucu Alea menjawab, “enyak..”, sambil mengangguk. Kalau enak kok nangis? *uyel-uyel*

Nah, baru terasa beneran jadi ibu itu ya pas mama beneran pulang ke Surabaya. Jungkir balik iya, karena Alea maunya apa-apa sama saya. Kalaupun mau sama papanya ya kalau lagi main, atau nonton film. Nah, selama mereka sedang nonton film atau tidur saya membereskan rumah. Sempat keteteran sih, sampai akhirnya menemukan format yang pas, terutama buat saya. Pokoknya nyuci, beberes rumah, nyiapin perlengkapan yang harus dibawa Alea, dan setrika baju yang dipakai besok pagi itu harus malam hari, karena kalau baru dipegang pagi, nggak bakal beres semua. Jadi, di awal-awal kemarin sih baru tidur pukul 1 malam, dan bangun pukul 4 pagi. Tapi makin ke sini setelah mengutak-atik ‘formula’ beberes ini itu, lumayan bisa tidur pukul 11 malam, dan bangun pukul 5 pagi.

Pukul 06.30 saya dan Alea sudah harus siap berangkat. Berhubung kantor papanya Alea di Sudirman, jadi kalau harus nganter dulu ke kantor saya di Veteran, bakal ribet di jalur balik menuju kantornya, karena biasanya macet parah di sekitaran Kanisius. Tapi kalau berangkatnya pagi banget Aleanya belum bangun, dianya nanti malah uring-uringan. Jadi dibikin enjoy sajalah, win-win solution biar sama-sama nggak terlambat, salah satu harus naik Go-Jek.

Kalau biasanya ke kantor cuma bawa 1 tas kerja saja, sekarang tambah 1 tas baby plus gendongannya Alea. Kadang kalau dilihat-lihat kaya bukan orang mau ngantor, tapi udah kaya orang mau mudik, hahahaha. Ternyata jadi ibu ‘beneran’ itu tidak mudah, ya. Iya, ibu beneran, ketika masih ada mama kemarin saya belum merasa jadi ibu yang sesungguhnya, karena saya belum merasakan sendiri mengasuh anak, merasakan bangun paling pagi dan tidur paling malam demi mengerjakan segala sesuatu agar selesai tepat waktu dan tidak keteteran. Untuk semua perjuangan yang telah dilakukan oleh seorang ibu demi keluarganya, itulah kenapa Betty White pernah bilang, “It’s not easy being a mother. If it were easy, fathers would do it.”

“Sometimes being a mom is just the most overwhelming job on the planet. But when you pause to filter you response trough love, your children will learn how to handle life well instead of letting life handle them. “
– Stephanie Shott –

Selamat pagi, selamat menjelang akhir pekan 🙂

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Tentang Berat Badan…

weight scaleBerat badan, selalu saja jadi topik ngehits di antara kaum perempuan. Kalau sudah bicara soal berat badan, saya itu paling ‘ngiri’ sama orang yang bebas makan apa saja tapi berat badannya segitu-gitu saja, tetap ideal, tetap langsing. Ada yang memang bakat langsing, ada juga yang memang di-maintain dengan olahraga. Nah, yang paling benar memang ya diimbangi dengan olahraga dan asupan makanan yang seimbang, ya.

Ketika masih lajang, berat badan saya ketika masih lajang bergerak di kisaran angka 43-45 kg. Ketika mendekati angka 45 kg, Mama yang paling ribut me-warning supaya jangan sampai bablas. Sekarang jangankan sengaja rajin makan, nge-likes gambar Indomie saja berat badan saya naik 2 kg! Nggak ding. Tapi pokoknya cepet aja naiknya kalau porsi makan saya agak ‘tukang gali’ dikit. Pas hamil kemarin berat badan saya naik kurang lebih 10 kg, dan habis lahiran bukannya berat badannya turun, justru malah naik. Nyadar sih, kalau itu karena pola makan saya yang salah kaprah. Saya pikir kalau semakin sering makan, ASI-nya akan jadi lebih banyak. Ternyata volume ASI-nya tetap, berat badannya yang wassalam…

Sekarang sudah selang 18 bulan pascalahiran, apa kabar berat badan saya? Ya gitu deh. Tapi lumayan turun cepat ketika bulan puasa tahun lalu. Kondisi di mana saya tetap menyusui ketika puasa. Makin ke sini lumayanlah turun walaupun se-ons, se-ons.

Nah, bagian sedihnya adalah… sudah turunnya cuma se-ons, kok ya naiknya 2 kg! Duh! Gara-gara apa, coba? Beberapa bulan lalu di biro saya kedatangan seorang Kabag baru dari Setwapres, namanya Bu Epon. Nah, Bu Epon ini orangnya suka masak. Selama beliau di sini, beliau memanjakan kami dengan hidangan makan siang ala rumahan yang rasanya endeus! Pokoknya selama kurang lebih 5 bulan beliau di sini, kami tidak mengenal kata diet.

Efeknya baru terasa ketika beliau pensiun awal Februari kemarin, kok celana dan rok pada kesempitan ya? Ya di bagian paha, ya di bagian perut, ya di bagian lengan. Pokoknya baju jadi nggak ada enak-enaknya dipakai karena lemak mulai nyempil di sana-sini. Apalagi saya orang yang hampir tidak pernah olahraga, jadi ya sudah pasrah saja. Hiks…

Salut dengan perjuangan seorang teman yang demi mendapatkan berat dan bentuk badan yang ideal, dibela-belain daftar ke gym, olahraga dengan jadwal teratur, dan mulai mengatur pola makan. Hasilnya memang tidak instant terlihat, tapi perubahan itu mulai ada. Berat badannya mulai turun secara bertahap, dan dia terlihat lebih segar dibandingkan sebelumnya. Kuncinya sih sebetulnya mudah, niat yang kuat untuk berubah ke pola hidup sehat., cuma memang menjalaninya itu yang butuh tekad lebih kuat lagi.

Kalau saya sih niat selalu ada, tapi ya sudah dari dulu sampai sekarang sebatas niat…
*dilempar barbel*

[devieriana]

 

sumber gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Membawa Alea Ke Kantor Itu…

Jadi ceritanya hari Selasa minggu yang lalu sampai dengan hari Senin kemarin, Eyangnya Alea (Mama saya) pulang ke Surabaya karena Eyang Kakungnya Alea (Papa saya) lagi kurang sehat. Alhasil, karena selama ini yang menjaga Alea sehari-hari itu Mama saya, jadilah selama 3 hari kemarin Alea ‘ngantor’ bareng saya.

Ini pengalaman kedua, mengajak Alea ngantor seharian. Sedikit ribet memang, tapi sejauh ini saya masih menikmatinya, walaupun ada rasa kasihan karena jadwal anak yang biasanya tertib jadi kurang tertib karena ada part-part yang terpaksa harus di-skip. Tapi ya itulah yang namanya hidup, tho? Selalu saja ada adjustment yang harus kita lakukan, termasuk dengan mengajak anak ke tempat kerja.

Untuk sementara waktu lupakanlah soal busana yang modis, hijab yang tertata rapi seharian. Memilih baju pun yang penting breast feeding friendly, karena Alea masih ASI. Risiko mengajak bayi/batita ke tempat kerja itu yang pasti barang bawaan jadi jauh lebih banyak. Barang bawaan Alea saja bisa satu tas sendiri. Isinya baju ganti, pampers, perlengkapan mandi, perlengkapan setelah mandi, jaket, topi kupluk, boneka, snack, dan jeruk. Kebetulan Alea sudah bisa makan segala, sehingga saya tidak perlu membawa makanan khusus bayi, Alea bisa berbagi makanan dengan saya, yang penting tidak spicy/pedas karena lidahnya masih sensitif.

perlengkapan Alea yang harus dibawa selama ikut ke Mama ke kantor

Untunglah lingkungan kerja memungkinkan saya dan teman lainnya yang kebetulan juga tidak punya pengasuh, bisa membawa anak ke kantor. Jadi membawa anak ke kantor itu sudah jadi pemandangan yang biasa. Membawa anak ke kantor sudah jadi risiko ibu bekerja ketika para support village atau yang biasa menjaga anak sedang berhalangan mengasuh. Ndilalah, dalam minggu kemarin atasan sedang banyak tugas/dinas di luar kantor, sementara pekerjaan juga sedang tidak terlalu hectic; hanya pekerjaan yang sifatnya rutin saja.

Membawa bayi/batita yang lagi senang-senangnya jalan juga tidak mudah. Alea adalah anak yang tidak betah diam, ada saja yang ingin disentuh, dipegang, diutak-atik, dan ditarik ke sana-sini. Jadi sambil bekerja, saya juga harus tahu di mana ‘titik koordinat’ Alea saat itu dan sedang apa, karena dia suka jalan-jalan sendiri ke kubikel lainnya dan lalu asyik mainan sendiri di sana, misalnya kertas, printer, atau apapun yang menarik perhatiannya. Disetelkan film kartun di youtube pun kadang suka tidak betah. Jadi untuk amannya, kadang suka saya alihkan perhatiannya dengan cara menggendong dan menyetelkan Big Hero, film favoritnya di youtube, terutama di jam-jam dia seharusnya istirahat. Sejauh ini sih, it works, bahkan sampai ngantuk sendiri.

Untungnya di ruangan ada juga teman yang selalu membawa balitanya ke kantor, jadi Alea punya teman main. Dia seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang sudah bersekolah di TK. Alea jadi lumayan terhibur karena ada teman main, tapi tetap saja harus diawasi, karena teman mainnya pun masih kecil.

Alea dan teman baru
Alea dan teman baru

Ada sisi positif/negatifnya membawa anak ke kantor. Negatifnya, konsentrasi bekerja jadi kurang maksimal karena harus berbagi perhatian ke anak dan pekerjaan. Positifnya, ada bonding yang jauh lebih kuat antara ibu dan anak karena ibu bekerja yang biasanya baru bertemu anak di sore/malam hari sepulang kantor, sekarang mulai anak bangun tidur sampai dengan tidur malam menjadi tugas dan tanggung jawab ibu. Sedikit lebih capek memang, tapi sejauh ini saya merasa fun kok.

Ada perasaan haru ketika malam hari melihat Alea tidur nyenyak setelah seharian ikut saya bekerja. Di usianya yang baru menginjak 15 bulan dia ternyata bisa menyesuaikan diri dengan cepat, pun halnya dengan fleksibilitas. Seolah dia tahu mamanya sedang sibuk, jadi dia tidak pernah rewel, kalau pun menangis sesekali wajarlah, paling kalau ngantuk atau tidak sengajak jatuh/kepentok sesuatu, ya namanya juga masih bayi. Tapi secara keseluruhan dia anak yang lovable.

Hari ini Alea tidak ikut ke kantor lagi seperti 3 hari yang lalu, sekarang dia ada di rumah bersama Eyangnya, dan sudah kembali menjalani aktivitas dan rutinitas seperti biasa.

To my lovely Alea, I love you dearly and always…

Buat para ibu bekerja di luar sana, tetap semangat ya! 🙂

[devieriana]

Continue Reading