Takut Tak Sempurna..

Di pagi yang sibuk itu, handphone di atas meja – yang hampir selalu diaktifkan dalam modus vibrate/silent itu – kembali bergetar. Sedikit memecah konsentrasi saya pagi itu. Melihat sebentar ke layar handphone, sekedar mengecek adakah mungkin email, sms, atau kabar penting lainnya yang masuk. Ternyata BBM dari seorang teman yang menanyakan kabar.

Ok, sepertinya bisa ditunda dulu ya, biar saya ngebut dulu deh kerjanya. Dengan cepat ibu jari saya mengetik sebaris kalimat di layar handphone. “Jeng, aku lagi sibuk dikit nih, aku kelarin bentar ya. Seperempat jam lagi kita sambung. Ok, Bebih? :D”. Enter. Tak berapa lama dia pun membalas dengan singkat, “Ok”.

Tak lama setelah selesai berkutat dengan berkas-berkas saya pun memenuhi janji untuk meluangkan waktu ngobrol dengan si teman. Menarik, karena dari sana mengalir sebuah obrolan yang bukan sebatas basa-basi menanyakan kabar. Biasanya sih kita cuma ngobrol ringan, seputaran gosip-gosip nggak penting, dan guyonan-guyonan nggak mutu ala kami berdua. Tapi ternyata kali ini sedikit berbeda, ada hal serius lainnya dibelakang sapaan pagi itu.

“Yes, Bebih. Udah agak santai nih sekarang.. Kenapa-kenapa? Ada gosip apa pagi ini? :> “, sapa saya di BBM

“Hmm, sebenernya bukan pengen ngegosip kok.. Aku pengen diskusi sedikit nih sama kamu..”

Sejenak saya terdiam, tidak mengetikkan satu huruf pun. Mencoba menerka-nerka, kira-kira dia bakal ngobrolin apa ya. Semoga bukan masalah yang serius deh..

“Mmmh, ya.. kenapa, kenapa?”

“Mmmh, gini, kenapa ya kok akhir-akhir ini aku sering merasa gusar sendiri. Kaya ada beban yang.. entah ya, masalah yang awalnya aku anggap bisa aku atasi ternyata waktu dijalani kok berat ya..”

Saya mulai mengernyitkan dahi membaca prolog diskusinya. Saya tunggu dia menuliskan semua uneg-uneg yang seperti saya duga, memang panjang :D.

“.. akhir-akhir ini aku kaya dibayangi ketakutan-ketakutan yang mungkin nggak berdasar. Kamu dan suami kan masing-masing menikah sebagai pasangan pertama. Sementara aku, menikah dengan suami yang sudah pernah menikah sebelumnya. Divorce dengan satu anak. Selama berumah tangga aku jadi sering paranoid sendiri, takut kalau-kalau.. I would never be as perfect as his ex wife used to be.. :(“

“Hush! Nggak boleh ngomong begitu, ah! :|”, sergah saya. “Sebenernya ukuran sempurna itu yang kaya gimana sih?”

” ๐Ÿ™ “

“.. tidak ada seorang pun yang terlahir dengan pribadi sempurna, Jeng. Nggak ada ayah/suami yang sempurna. Nggak ada ibu/isteri yang sempurna, juga anak yang sempurna. Semua berjalan melalui sebuah proses panjang pembelajaran. Kita nggak bisa membandingkan seseorang dengan lainnya, pun pasangan kita sekarang dengan pasangan sebelumnya. Karena memang nggak ada yang bisa dibandingkan, Jeng. Manusia itu kan terlahir unique, jadi sudah pasti “hasilnya” ya nggak akan pernah sama.. Misalnya, mantannya suamimu adalah Dian Sastro, trus kamu akan berusaha seperti Dian Sastro dalam segala hal, gitu? Enggak kan?”

“:-s “

“IMHO, saranku sih cuma satu, Jeng. Cukup jadi diri sendiri aja. Jadi isteri dan (calon) ibu dengan kepribadianmu sendiri. Mendidik & mengasuh buah hati kalian dengan cara kalian sendiri. Nggak perlu takut, apalagi membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Nggak akan fair juga kalau sampai pasangan nantinya membandingkan kamu dengan mantan pasangan sebelumnya. Karena nggak akan pernah sebanding, kalian jelas dua pribadi yang berbeda.. :)”

“….. “. Dia terdiam beberapa saat, mungkin menunggu saya menulis lagi ๐Ÿ˜€

“.. pasti ada alasan tersendiri ketika seseorang akhirnya memilih untuk hidup bersama kita ketimbang dengan yang lain. Contohnya, ketika suami memilih kamu sebagai isteri, mungkin karena kamu smart, mandiri, lembut, sabar, menyenangkan, dan yang paling penting dia merasa nyaman dengan kamu. Itu sebenernya poin kelebihan kamu, kan Jeng?”

“Iya, ๐Ÿ™ . Selama ini aku udah paranoid banget dengan hal yang satu itu. Dulu sebelum menikah aku sudah pernah ditanya Mama, apakah aku siap menikah dengan orang yang pernah punya kehidupan rumah tangga sebelumnya? Aku jawab siap, aku sanggup. Tapi setelah aku jalani di lapangan, ternyata berat juga ya. Aku seperti belum rela ketika dia bicara tentang anaknya.. ๐Ÿ™ “

“Dear, ada yang namanya mantan suami atau mantan isteri. Tapi nggak ada yang namanya mantan anak. Sampai kapan pun dia akan tetap jadi anak si suami. Mau nggak mau ya itu kenyataan yang harus kamu terima, menikah dengan satu paket status, menikahi pria sekaligus statusnya sebagai ayah dari pernikahan sebelumnya.. “

” iya sih.. :(“

“Jadi ya sudah, monggo diterima dan dijalani semuanya dengan legowo.. Mungkin berat buat kamu, tapi kalau kamunya ikhlas menjalani sebagai bagian dari konsekuensi pilihan yang sudah kamu ambil insyaallah kedepannya akan lebih mudah buat kamu. Amien….”

“Amien.. Thanks for the insight, Dear. Glad to have you as a friend >:D<"

“You are not perfect, Dear. But believe me you will always be perfect for him ;)”

Kalau bicara tentang kesempurnaan sepertinya nggak akan pernah selesai ya. Saya sepertinya harus berterima kasih juga pada si teman yang akhirnya dari obrolan tadi kok seperti mengingatkan diri saya sendiri untuk berhenti mengejar kesempurnaan. Karena tanpa sadar saya juga kadang-kadang berlaku demikian.

Dari percakapan singkat tapi padat itu kok jadi teringat salah satu scene di film Bride Wars yang intinya sama dengan percakapan dialog diatas. Ada sebuah kalimat yang diucapkan seorang calon suami pada calon isterinya yang khawatir tidak bisa sempurna ketika kelak menjadi seorang isteri. Kurang lebih bunyinya begini : “Life is not perfect, Honey. Life is messy. I don’t need you to be a perfect wife. I just need you to be a human live”.

Terkadang di mata pasangan kita tidak perlu menjadi seorang yang sempurna. Mereka ingin kita cukup menjadi seseorang yang manusiawi. Seseorang yang wajar jika tanpa sengaja berbuat salah, seseorang yang wajar jika banyak kekurangan. Karena sempurna hanya kata yang pantas untuk-Nya..

This is life, not heaven. So, you don’t have to be perfect! ๐Ÿ˜‰

[devieriana]

gambar dipinjem dari Image Shutterstock

Continue Reading

Lebih baik sakit gigi?

Entah sudah berapa lama saya tak lagi mengakrabkan diri dengan dokter gigi. Kalau dulu waktu masih di Surabaya sih masih lumayan seringlah ke dokter gigi untuk sekedar perawatan. Tapi sejak di Jakarta hampir belum pernah. Sampai akhirnya saya didera rasa ngilu yang luar biasa plus cenat-cenut (tapi nggak sampai bikin formasi bintang).

Ceritanya, saya yang sebelumnya belum pernah sakit gigi itu akhirnya sejak hari Minggu terpaksa nyanyi lagunya Meggy Z , “lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”. Rasa nyeri yang saya pikir akan segera sembuh ternyata belum hilang juga hingga puncaknya ketika harus standby di pelantikan eselon I tanggal 1 Februari kemarin. Sudah siap tugas sih sebenernya tapi kepala rasanya mau pecah, badan juga jadi demam karena sakit gigi yang ugal-ugalan itu. Hidangan seenak apapun yang disajikan hari itu sama sekali tidak menarik minat saya :((. Kok nggak segera ke dokter? Iya, saya itu orangnya suka sok kuat. Sok bisa nahan sakit, padahal udah lemes. Jangan ditiru! ๐Ÿ˜

Akhirnya saya pun ke dokter juga setelah sakitnya sedikit mereda. Untung dokter klinik di kantor ramah, suka bercanda, dan penanganannya nggak kasar. Kan ada tuh ya dokter yang udah jarang senyum, mukanya serius, menjawab konsultasi seperlunya, atau komentar ini itu yang.. ah sudahlah. Lah ini malah ngomongin dokternya ;)). Alhamdulillah dokter saya baik ๐Ÿ˜€

Begitu masuk ruangan, saya sudah disambut dengan ramah :

Dokter : halo, ini temennya Pipit yang kapan hari kesini cuma minta obat itu ya?

Saya : iya, Dok. Ya kan Dokter waktu itu katanya lagi keluar, berhubung saya sudah nggak tahan sama rasa ngilunya ya saya minta obat yang sama kaya Pipit kapan hari, untuk mengurangi rasa sakitnya..

Dokter : ok, sekarang gimana? masih ngilunya?

Saya : sekarang sih udah enggak, tapi kan itu pereda rasa sakit sementara aja, Dok. Penyebab sakitnya apa belum ketahuan..

Dokter : betul. Ya udah yuk kita lihat..

Saya : haduh saya grogi deh, udah lama nggak ke dokter gigi. Tolong jangan dikomentari macem-macem ya Dok, gigi saya memang morat-marit ini :-s

Dokter : firasat saya juga mengatakan hal yang sama kok :))

Saya pun berbaring di kursi gigi dan dokter pun mulai mengutak-atik gigi saya. Setelah beberapa saat dia memeriksa, seperti dugaan saya, dia pun geleng-geleng kepala.

Dokter : saya heran deh sama kamu.. kamu itu makan apa sih kok giginya bisa patah semua gini.. Ngunyah batu kali, ya?

Saya : hahaha, jadi gini Dok, ceritanya kapan hari kan ada yang ngoleh-olehin saya kacang Arab nih. Nah, biasanya kan kacang Arab itu renyah, agak lunak gitu ya, lha yang kebetulan saya makan itu kok ada yang nyempil keras banget. Saya kunyah nggak bisa, sampai akhirnya saya keluarkan. Pas habis makan kacang itu kok gigi saya berasa agak nggak enak ya. Ternyata, yaaah.. patah.. ๐Ÿ˜ . Gitu, Dok sejarahnya..

Dokter : hahahaha, gokil. Trus, patahannya kamu makan atau kamu buang?

Saya : nggak tahu, Dok. Yang saya buang itu patahan gigi saya atau kacang Arab yang keras itu..

Dokter : *geleng-geleng kepala* astaga banget deh kamu ini..

 

Teman : dia lebih bandel daripada saya kan, Dok? ;))

 

Dokter : iya..

Saya : ๐Ÿ˜

Kalau sama dokter kan mending kita jujur menceritakan keluhan sakit yang dirasakan tho? Gejalanya bagaimana, awalnya bagaimana, dll. Makanya saya cerita. Dianggap konyol sama dokternya ya sudah biar saja. Toh dia juga pasti sudah menangani banyak pasien, dan pasti nggak semua gigi pasiennya bagus-bagus saja kan? Kalau gigi semua orang bagus, nggak ada orang yang sakit gigi, terus buat apa dia buka praktek. Iya kan? Mencari pembenaran ;)).

Akhirnya setelah ditambal sulam sana sini (1 gigi geraham saja sih sebenernya) dokter menyarankan untuk foto rontgent gigi (panoramic) dan harus dibawa ketika kontrol. Harus dilakukan rontgent karena ternyata yang ngilu itu gigi saya yang masih sehat, bukan gigi yang berlubang ๐Ÿ™

Penutupnya, sembari menulis resep untuk saya, dokternya tanya :

Dokter : kamu nggak pengen dibehel sekalian?

Saya : Oh, Dokter nawarin mau membehel saya? Gratis? ๐Ÿ˜€

Dokter : iya, tapi pake kawat jemuran..

Kalian pernah punya pengalaman sakit gigi nggak?

[devieriana]

Continue Reading

Kenapa harus horor?

Dari jaman saya kecil sampai sekarang, saya itu termasuk orang yang takut sama hal-hal serem. Dulu, jangankan nonton film horor yang jelas-jelas mengandung hantu, lihat serial Unyil pas adegan hutan lindung aja saya sudah deg-degan, takut tiba-tiba keluar nenek sihir atau makhluk hutan yang menakutkan lainnya. Itulah kenapa saya sangat antipati sama film horor, yang sebagian besar syutingnya hampir selalu dilakukan di malam hari, gambar dengan aura suram, gelap, ditambah sound effect yang bikin merinding. Iya karena saya memang penakut X_X. Kalaupun misalnya ada acara nonton gratis tapi kalau filmnya film horor saya pasti akan dengan sukacita menolaknya. Jangankan nonton yang berbayar, di TV aja jaman-jaman ada acara uji nyali atau acara setan on tv show aja saya sudah pasti ganti chanel.. walaupun seringnya penasaran pengen tahu peserta uji nyalinya berhasil sampai finish nggak, atau ada penampakan sesuatu nggak disana.. ;))

Beda sama adik saya yang nomor 2, kalau soal nonton film horor dia jagonya, walaupun itu malam hari dan harus nonton sendirian. Kalau saya sih, makasih deh. Pernah saya terbangun karena pengen pipis, eh lihat dia lagi anteng nonton filmย Shutter , ngakunya sih sempat kaget pas lihat saya tahu-tahu seliweran lewat, karena mungkin dia lagi tegang-tegangnya ya ;)). Duh, emang muka saya mirip sama setan ya? :|. Dulu sempat tanya ke adik saya itu, kenapa dia berani nonton film horor, dengan ringan dia menjawab :


“halah, kan disitu ada sutradaranya, Mbak. Itu semua bikinan manusia..”

Iya tahu kalau disitu ada sutradaranya, saya juga tahu kalau yang syuting itu artis semua, saya juga tahu kalau mereka didandani sedemikian rupa oleh make up artist-nya sehingga mirip makhluk-makhluk menyeramkan sesuai lakon di skenario itu. Tapi kan pas adegan itu diambil, kru yang ada dibelakang layar nggak ikut disorot. Nggak mungkin dong pas lagi adegan suster ngesot pas lagi ngesot serem-seremnya eh sutradaranya lewat sambil bawa gorengan atau make up artist-nya mendadak benerin bedak lantaran muka si suster terlihat masih kurang pucat.

Sering bertanya-tanya sendiri, bukankah seharusnya menonton itu jadi kegiatan yang menghibur & bersifat rekreasi ya. Tapi kenapa “hiburannya” harus berupa hal yang menakutkan? Bukankah malah jadi stress? Kalau dalam keadaan ketakutan begitu lalu dimana letak menghiburnya ya? ๐Ÿ˜• . Sempat berpikir, kenapa ya orang-orang suka menonton film horor? Rela larut dalam suasana yang menakutkan, tegang, deg-degan, dan teror. Untuk pertama kalinya saya sengaja menonton yang jenisnya thriller (atau horor supernatural?)ย Final Destination 4 (buat saya film jenis thriller ini termasuk kategori “horor”, film teror). Pulang jam 11 malam sambil paranoid sendiri (walaupun nontonnya sama hubby). Selama menuju parkiran lihat tukang yang lagi ngelas benerin atap mall, saya paranoid. Lihat tangga besi yang lagi disandarkan di tembok, saya juga paranoid. Parno kalau tiba-tiba alat las atau tangganya jatuh menimpa dan mencederai orang yang lewat. Berlebihan ya? Emang! ๐Ÿ˜

Kalau kejadian mengalami langsung sih nggak pernah minta, amit-amit jangan sampai yaa.. :-s. Walaupun kayanya sih pernah pas di rumah Budhe saya yang di Malang itu, kan rumahnya memang agak spooky (spooky itu bukan merk motor matic lho ya). Pernah merasa ada yang sedang lari dengan nafas ngos-ngosan di kamar saya ketika saya sedang tidur, dan itu dekat sekali dengan telinga saya. Kayanya lho ya. Padahal kamar saya di rumah Budhe itu bukan fitness centre, seharusnya nggak ada yang olahraga malem-malem kan ya? *ngusap tengkuk*. Halah, ini kok malah cerita horor beneran. Filmnya, filmnyaaa!

Iseng saya tanya sama beberapa teman yang suka nonton film horor, beberapa alasannya :
1. menonton film horor itu mengandung adrenalin rush, ada ketegangan yang ingin ditaklukkan
2. penasaran, kali ini setannya berbentuk apa ;))
3. penasaran nanti endingnya bagaimana, setannya yang mati atau lakonnya yang mati
4. ceritanya seseram gambar di posternya nggak, atau barangkali ada “bumbu-bumbu” erotismenya (u kate acara memasak pake bumbu?). Kalau yang ini pasti sukanya sama film horor Indonesia deh ๐Ÿ˜

Kalau kata seorang psikolog, kenapa manusia suka film horor : “sebenarnya manusia menyukai perasaan ketakutan, bahkan mencari perasaan tersebut, karena mereka sadar tidak sedang berada dalam bahaya yang sesungguhnya”. Iya juga sih, kita sengaja memberanikan diri nonton film horor tapi kan di bioskop, coba kalau sengaja mencari penampakan sendirian, tengah malam, trus ketemu beneran sama hantunya. Belum tentu berani juga kali ya :-s.

Kalau kalian suka film horor nggak?

[devieriana]

Continue Reading

Jejak langkah itu..

“Kali, kali apa yang paling panjang? Kalidoskop!” ;))

Ya, kalau sudah di penghujung tahun seperti ini rasanya kurang afdol kalau saya juga tidak membuat postingan edisi akhir tahun. Sekedar melakukan kilas balik tentang ada yang sudah saya lakukan dan apa saja yang sudah terjadi dalam 365 hari perjalanan hidup saya di tahun 2010 ini.

Perjalanan hidup saya tahun ini memang tidak sedramatis tahun 2009 yang penuh dengan kejadian-kejadian mengejutkan yang terlihat mata dan alhamdulillah membahagiakan. Tahun ini berjalan lebih smooth dan tetap alhamdulillah berkah, feel so blessed in so many ways.. [-o<

1. Pegawai Negeri Sipil
Tahun ini adalah tahun kehidupan baru dalam perjalanan karir saya. Setelah hampir sepuluh tahun lamanya saya berkarir di jalur swasta, tahun ini adalah awal karir saya menjadi seorang PNS. Sebuah karir yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dulu, jangankan tertarik dan berani untuk ikut test CPNS, membayangkannya saja nggak pernah. Bukan apa-apa, belum-belum saya sudah minder duluan :-s. Tapi tahun lalu justru dari hasil iseng dan coba-coba itu alhamdulillah Tuhan memberi saya kesempatan dan jalan yang begitu mudah untuk menjalani semuanya. Hingga akhirnya, disinilah saya bergabung dalamย instansi yang dulu gedungnya hanya bisa saya pandangi dari luar saja [-o< .

2. Protokol
Dulu, jaman saya masih sekolah/kuliah mungkin saya masih bisa sering tampil di depan layar (woogh, jadi berasa nonton misbar). Tapi sejak bekerja sudah sama sekali tidak pernah, cenderung lebih sering bekerja dari balik layar dan memberi dukungan buat yang lain untuk tampil. Nah sekarang justru kebalikannya. Jiwa banci tampil saya seolah dibangkitkan kembali! Berasa kaya film horor pake nggak sih pakai acara dibangkitkan? :-s X_X. Saya yang setelah sekian tahun lamanya merasa, “ya sudahlah” itu jadi sering dilibatkan dalam acara keprotokolan dinas. Disini, pengalaman di dunia call centre (alhamdulillah) berguna untuk hal-hal yang membutuhkan suara. Walaupun masih harus banyak belajar membedakan tone suara di berbagai kesempatan acara. Diujicobakan pertama kali ketika membacakan SK untuk pelantikan CPNS tahun 2009 dengan jaminan nama mbak MC senior ;)). Sejak saat itulah saya officially bergabung dengan tim keprotokolan di kantor.

Pengalaman mengesankan adalah ketika dipercaya untuk membacakan SK Presiden pada pelantikan Sekretaris Menteri Sekretaris Negara di Gedung Utama Sekretariat Negara dan SK pelantikan Ibu Prof. DR. Dewi Fortuna Anwar sebagai Deputi Seswapres Bidang Politik; Bapak Djadja Sukirman, Ak., M.B.A. sebagai Deputi Seswapres Bidang Administrasi; dan Drs. Eddy Purwanto, M.P.A. sebagai Deputi Seswapres Bidang Tata Kelola Pemerintahan. Mungkin buat yang sudah biasa sih biasa aja ya, tapi untuk pertama kalinya “tampil” di depan pejabat eselon I dan Menteri Sekretaris Negara itu merupakan sebuah kehormatan buat saya yang baru saja bergabung di instansi tempat saya bernaung sekarang ini dan terbilang masih sangat hijau di dunia keprotokolan.

3. Ulang Tahun & Prajabatan
Berulang tahun di saat prajabatan menjadi moment yang sangat bersejarah dan mengharukan dalam hidup saya. Hal paling berkesan adalah ketika seluruh teman-teman dan pengajar di kelas menyanyikan lagu Happy Birthday buat saya, mendadak langsung meleleh deh airmata saya. Moment langka yang hanya terjadi sekali dalam hidup saya, bisa menjalani dua hal penting dalam satu waktu. Untuk pertama kalinya pula saya mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari Bapak & Ibu Menteri. Hihi, kok jadi pengen memigurakan kartu ucapan selamatnya ya ;)) \:D/*norak*

4. Narasumber di Pesta Blogger
Dulu sahabat saya pernah bilang, “sebenernya jiwa kamu itu jadi pengajar, bisa terlihat dari cara kamu bicara dan tulisan-tulisanmu..”. Jujur saya dulu sempat mengabaikan pendapat ini. Sampai akhirnya saya benar-benar merasakan kangen jadi seorang trainer. Iya, dulu saya sempat menjadi seorang trainer diย tempat berkarir sebelumnya. Seperti sebuah keasyikan tersendiri memberikan pencerahan ke orang-orang baru, bertemu dengan teman-teman baru, berbagi dan saling berdiskusi, dan sebuah tantangan bagi saya menjadikan seseorang yang awalnya tidak mengerti menjadi mengerti. Suatu hal yang tidak mudah bagi saya :D. Ternyata, bak gayung bersambut, rasa kangen saya sedikit terobati ketikaย moderator Ngerumpi menawarkan saya berdua dengan teman ngeludruk saya di twitter, Astri Kunto , untuk menjadi narasumber diย Pesta Blogger 2010 yang diadakan di Epicentrum Walk- Kuningan. Walaupun waktunya terbilang singkat (hanya 30 menit karena harus berbagi slot dengan teman-teman dari gantibaju[dot]com) tapi alhamdulillah hasilnya memuaskan. Apalagi melihat peserta yang memadati kelas kami jumlahnya diluar apa yang kami perkirakan >:D<

5. Pendongeng
Ketika permainan dan aktivitas dunia cyber merajalela, dongeng menjadi suatu hal yang langka. Mengingat tak banyak orangtua yang masih membiasakan diri untuk membacakan dongeng bagi putra-putrinya. Dongeng akhirnya menjadi hal mewah yang tak bisa dirasakan oleh semua anak. Beruntung dulu saya masih sempat merasakan dongengan-dongengan orangtua, buku-buku cerita dan kaset Sanggar Cerita yang secara berkala dibelikan oleh orangtua saya. Alhamdulillah [-o<

Tapi kalau menjadi seorang pendongeng itu sama sekali diluar bayangan saya. Membayangkan bercerita didepan anak-anak pun sama sekali belum pernah. Semua berawal dari keisengan saya merekam suara dalam bentuk podcast (rekaman suara) dan saya beranikan untuk mempublikasikannya di situs Kisah Anak yang dikelola oleh Mbahย Wong Iseng . Dari keisengan itulah sekarang akhirnya saya “diperkenalkan” oleh teman-teman dariย Indonesia Bercerita sebagai pendongeng. Sempat kurang pede, karena jenis pita suara saya itu cempreng, tipis, dan gaya bicara saya kalau cenderung cepat. Singkat kata akhirnya tahun ini saya adalah seorang pendongeng abal-abal. Ya, kalau sudah begini pengennya suatu saat nanti bisa serius menjadi seorang pendongeng dan bisa menyampaikan misi pendidikan melalui media dongeng. Amien. Oh ya saat ini saya juga sedang bergabung dalam project #22hari220cerita , mendongeng via podcast (rekaman). Semoga bisa ikut membantu teman-teman di Indonesia Bercerita untuk mendidik anak melalui dongeng ya ๐Ÿ˜€

7.ย  Penulis dan Buku
Menjadi seorang penulis dan punya buku sendiri masih menjadi salah satu mimpi terbesar saya. Tahun lalu tanpa sengaja terbitlah buku kompilasi hasil tulisan saya dan beberapa blogger Ngerumpi di bukuย Berbagi Cerita Berbagi Cinta. Setelah itu, saya belum berani berharap saya akan kembali menghasilkan buku lagi, mengingat materi untuk menulis buku saja saya nggak punya :(. Namun siapa sangka tahun ini saya alhamdulillah bisa kembali membuat buku kompilasi kedua yang berjudulย Be Strong Indonesia #1 hasil tulisan bersama para penulis lainnya melalui project #writers4indonesia. Project sosial ini berlatar belakang keprihatinan dan kepedulian kami terhadap para korban bencana alam yang beberapa waktu yang lalu sempat bertubi-tubi dirasakan oleh sebagian rakyat Indonesia di Mentawai, Yogyakarta, dan Wasior. Dari sanalah ide ini muncul. Seluruh royalti dan hasil penjualan buku ini akan disumbangkan kepada para korban bencana alam. Semoga apa yang kami lakukan ini dapat berguna bagi yang membutuhkan ya. Amien3x..

Pelajaran yang saya ambil setelah mengalami beberapa kejadian di 2 tahun terakhir ini, jalani semuanya dengan tanpa beban dan ekspektasi yang berlebihan. Karena terkadang hal-hal yang tak terduga bisa terjadi diluar apa yang kita harapkan. Jalani segala sesuatunya secara mengalir dan tetap fokus dengan apa yang ingin kita raih.

Soal apa harapan saya di tahun 2011, sederhana saja, semoga tetap ada keberkahan dan hal-hal baik yang menyertai perjalanan saya di sepanjang 365 hari ke depan. Semoga apa yang belum sempat saya raih tahun ini bisa saya raih di tahun depan. Amien..

Last but not least, wishing you the most shiny, prosperous, healthy, and a Happy New Year !! Let’s hope that 2011 has at least a little bit of heaven.. Amien… [-o<

<:-P

[devieriana]

gambar minjem dari sini

Continue Reading

Dibalik tulisan tangan saya

Grafologi adalah seni membaca karakter tulisan tangan. Semirip-miripnya tulisan seseorang dengan lainnya pasti ada bedanya karena tulisan tangan seseorang itu khas. Dari tulisan tangan pula karakter dan kepribadian kita bisa terbaca. Ada yang menyatakan bahwa tulisan tangan disebut juga dengan tulisan otak sebab perintah gerak yang membuat tulisan itu berasal dari otak, bukan dari tangan.

Nah, kemarin, gara-gara saya ngambeg sama salah satu sahabat saya yang super sibuk, akhirnya dia “meluluhkan hati saya” (halah) dengan mau membaca karakter saya melalui tulisan tangan. Aheey!\:D/. Padahal kita sudah hampir 5 tahunan kenal dan (kayanya sih) sudah sama-sama tahu karakter masing-masing. Tapi tak apalah, hitung-hitung buat menebus kesalahan dia karena sudah nyuekin saya selama beberapa waktu karena kesibukannya itu. Halah.. ;)).

Berhubung sayanya di Jakarta, dan dia di Tangerang maka percakapan dilangsungkan via chat di gtalk. Pertama-tama saya diminta menuliskan tentang apa saja di selembar kertas HVS polos (jangan kertas koran), semakin banyak apa yang saya tulis semakin bagus. Saya diminta menulis pakai bolpoin yang biasa aja, nggak usah pakai yang mahal-mahal. Ya iyalah, saya mana punya bolpoin mahal sih. Blah! Menghina! [-(. Jangan lupa di akhir tulisan disertakan tanda tangan. Nah, nanti kalau sudah selesai, tulisannya langsung di-scan dan dikirimkan ke email dia.

Akhirnya saya pun mulai menulis dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tak terasa hampir 2 paragraf tulisan berhasil saya selesaikan, yang kalau dilihat-lihat tulisan saya itu lebih mirip tulisannya bebek ketimbang tulisan manusia..

Saya : udah aku kirim tuh, ternyata tulisanku kalau diliat-liat jelek ya ๐Ÿ˜

Teman : OK, aku analisa dulu ya..

Saya : gaya deh bahasanya sekarang analisaaa.. ;))

Teman : kamu yang gaya, pakai di-convert ke pdf segala :p

Saya : ih itu otomatis tau! Trus, gimana? Apa yang bisa kamu baca dari tulisan tanganku?

Teman : yaelah, sabar dong, Bu. Ini juga baru mau dibaca.. ~X(

Saya : ah, bilang aja kamu mau buka contekan.. *nuduh semena-mena*

Teman : ih, kagaaaak! Serius nih, lagi mengamati tulisan kamu.. :-B

Saya : :> :p

Teman : sambil melihat apakah ada perilaku seksual kamu yang aneh.. :))

Saya : wooogh, emang bisa juga, ya? *mulai panik, mulai panik* ๐Ÿ˜ฎ

Teman : hoho, ya bisalah.. Kenapa, lo? Panik ya? Panik ya? :p ;))

Saya : haduh, perilaku seksualku selama ini menyimpang nggak ya? :-s

Teman : hayoh loooh. Udah sana, sambil diingat-ingat gih, jangan-jangan beneran ada yang menyimpang, entah berapa derajat gitu.. :p

Saya : ih, kampret deh.. [-( . Udah, buruan!

Teman : hiiih, sabar Bawel! Lagi ditulis iniiiih… ~X(

Saya : :-w

Semenit. Dua menit. Tiga menit. Enam menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Triiing! Bebe saya pun akhirnya berbunyi, satu email saya terima. Kemunculannya bak suara oven toaster memunculkan roti panggang yang sudah matang. Saya dengan harap-harap cemas seperti sedang menanti kelahiran bayi, mulai membaca dengan seksama dari atas ke bawah. Ya iyalah masa mau dari kanan ke kiri, emangnya tulisan Arab. Mendadak senyum-senyum sendiri, kadang ngikik-ngikik sendiri. Sedikit surprise karena kok banyak benernya ;)). Ya setidaknya ada deh beberapa poin yang saya akuin iya saya banget. Tumben dia agak-agak jenius membaca karakter saya.

Mau tahu nggak hasilnya seperti apa? Tapi sengaja nggak saya tulis semua ya, saya rangkum aja soalnya panjang. Kalau saya tulis semua jadi terbongkar dong daftar panjang kejahatan kemanusiaan saya :-“. Ini dia hasilnya :

” Pengendalian diri kamu bagus. Seringkali kalau punya keinginan, cenderung “memaksakan” kehendakmu pada orang lain, tapi dengan cara yang diplomatis. Sadar keindahan. Punya jiwa bisnis. Ekspresif. Cukup well organized. Mudah bosan, tapi tetap punya optimis, ambisi yang bagus dalam mencapai tujuan, inisiatif dan proaktif yang baik. Mampu bekerja dalam tim. Bisa merespon ide baru, dan tidak gampang berkecil hati. Kamu sangat talkative, senang bicara, fasenya sudah tergolong gawat. Dapat memutuskan sesuatu dengan cepat dan terarah. Multi talented, bakatnya banyak. Bisa observasi dengan baik sebelum mengambil keputusan. Yang mengagumkan dari kamu, kamu dapat memutuskan sesuatu dengan cepat tapi tetap berusaha mendapatkan data yang banyak terlebih dulu sebelum memutuskan sesuatu. Nggak segan-segan untuk berbohong walaupun itu untuk kebaikan. Suka menolong orang lain. Pikiranmu kritis. Mampu berpikir cepat. Punya antusiasme yang besar. Cerdas, dapat diandalkan. Kemampuan sosial dan inisiatifmu baik. Terbuka banget orangnya. Punya cita-cita yang tinggi. Tidak punya masalah sex. Hubungan sosial bagus, dan ingin mempertahankan hubungan sosial yang sekarang sudah dimiliki… dst “

Alhamdulillah.. Nggak sia-sia deh saya nulis sampai jari minta di-makarizo. Sebagian sih benar. Sebagian besar saya baru tahu kalau saya ternyata begitu orangnya. Terutama pas dibilang talkative dan fasenya sudah cukup gawat :-s. Selama ini nyadar kalau saya orangnya cerewet, tapi stadiumnya nggak sampai parahlah, biasa aja gitu. Sebagian lagi, “ah sebenernya saya nggak gitu-gitu amat kok..”. Nggak gitu-gitu amat cerdasnya.. *sibakkan poni, benerin sanggul.

Tak lama setelah menerima email balasan, saya langsung merespon untuk bilang terimakasih dong sama sahabat saya itu.

Teman : hmm, ok.. trus gimana komentarmu? Berapa persen kebenarannyaa? 100%? Ayo cerita sama aku.. ๐Ÿ˜•

Saya : hahaha, aku nggak tahu harus berapa persen ngasih ukuran keakuratannya. Tapi kayanya sih antara 80% – 90% bener deh. Tumben pinter.. *puk-puk*

Teman : hmm gitu deh pasti. Kalau yang bagus-bagus aja dibilang bener. Tapi coba kalau aku kasih yang jelek-jelek pasti dibilang salah semua [-(. Itu sih belum seberapa, Neng. Tadinya mau aku kasih yang bagus-bagus semua. Bisa kuduga pasti tingkat prosentase akurasi yang bakal kamu kasih ke aku adalah 100%. :))

Saya : Eh siapa bilang itu nggak ada negatifnya? Ada dong, dan aku setuju dengan itu.. Tuh yang kamu bilang aku “talkative parah”, negatif kan? Serius aku baru tahu. Huhuhu, emang aku separah itu ya? Mesti bawa lakban dong kalau kemana-mana.. :-?. Terus, yang memaksakan kehendak, itu juga bener. Aku kadang suka begitu sih #-o

Teman : :-” *ngikir kuku*

Jadi begitulah.. Sedikit banyak saya jadi tahu siapa saya sebenarnya. Berasa jadi pahlawan pembasmi kejahatan nggak sih? >-). Ya walaupun jujur sampai sekarang sebenarnya saya lebih penasaran sama hasil psikotest yang dulu sering saya ikuti itu. Apalagi pas sesi menggambar orang, pohon, atau menggambar lainnya. Pengen tahu aja sebenernya saya pantes ikut lomba menggambar apa enggak, gitu.. :-B

*PLAAAKKK!!*

[devieriana]

Continue Reading