Welcome, My Short Hair!

Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan rambut pendek. Selain itu Mama dan adik saya yang perempuan juga berambut pendek. Jadilah kami sekeluarga kompak berambut pendek. Rambut terpanjang yang saya punyai saat itu sepanjang sebahu, habis itu potong pendek lagi. Sejak bekerja rambut saya makin pendek lagi. Potong shaggy super pendek menjadi “trademark” saya (halah, trademark). Selain kepala terasa lebih enteng dan irit shampo, setiap harinya saya juga jadi nggak perlu repot-repot ngeblow atau menata rambut. Karena kadang hanya dengan menggunakan jemari tangan saja rambut pendek saya sudah tertata sendirinya secara alami.

Nah, sejak menikah rasanya tahun 2007 adalah tahun terakhir kali saya berambut cepak. Alasannya karena suami lebih suka melihat saya berambut panjang, katanya biar saya terkesan lebih perempuan. Katanya lagi, biar saya nggak tertukar sama sekuriti di mall-mall. Dih, masa iya segitunya saya bisa sampai ketuker sama srikiti! :|. Walaupun harus melawan ego saya yang lebih suka dengan rambut cepak, akhirnya demi memenuhi permintaan suami ya sudahlah saya relakan rambut saya gondrong.

Nah ternyata ada plus minusnya juga berambut panjang. Plusnya, kita bisa mengkreasikan rambut dalam berbagai gaya. Bisa dibuat gaya rambut ikal, atau lurus. Bisa di gerai, atau diikat. Karakter saya yang periang menjadi terlihat lebih dewasa dan kalem dengan rambut panjang ;;). Iya, nipu-nipu dikit gitulah. Minusnya, berhubung rambut saya cenderung kering namun berminyak maka mau tak mau harus keramas tiap hari, dan itu membutuhkan waktu untuk menatanya menjadi apa yang saya mau, karena kalau nggak ditata rambut saya jadi kaya kepala singa :|. Selain itu butuh budget tersendiri juga untuk membuat rambut tumbuh panjang dan sehat. Nah, padahal saya orangnya kurang telaten jika harus ribet. Alhasil rambut saya pelan-pelan mulai mengalami kerontokan :-s.

Dalam minggu ini jumlah rambut yang rontok ternyata semakin banyak. Mungkin karena rambut saya stress dan kurang nutrisi ya, jadi akarnya kurang kuat :((. Untuk langsung potong rambut begitu saja tentu bukan suatu proses yang mudah. Harus “berantem” dulu sama suami. Bukan berantem beneran kok, tepatnya diskusi panjang karena ini menyangkut keridhoan suami terhadap masa depan rambut saya. Halah :)).

Setelah berdiskusi panjang dan manyun-manyunan semaleman, akhirnya keesokan harinya si Hubby memperbolehkan saya untuk potong rambut dengan syarat : hanya 5-10 senti, dan tidak boleh lebih pendek dari bahu. Pilihan yang sulit sebenarnya, karena saya memang nawaitunya potong pendek beneran :p. Tapi ya sudahlah, setelah adegan tawar menawar yang alot, diakhiri dengan sesi mengalahnya suami terhadap keinginan saya untuk potong rambut pendek,. Hahay, akhirnya saya pun berangkat ke salon dengan hati riang dan berbunga-bunga. Dramatis banget ya? :))

Seumur-umur, baru kali ini lho berangkat ke salon aja deg-degan. Apalagi setelah dikeramasin dan duduk di kursi salon, berasa akan menghadapi tukang jagal beneran deh.

“Potong apa nih, Kak?”
“Mmmh, potong pendek aja, aku udah bosen model rambut panjang nih. Yang bagus kaya gimana yah? Maunya sih sebahu aja..”
“Ih, tanggung amat sih, Kak. Dibawah kuping sekalian yah?”
“Hah? Jangan dong, itu sih kependekan namanya.. Bisa dikarungin sama suami nih.. :|”
“Eh, biar segeran tau, Kak. Serius deh. Tar aku bikin rambutnya oke deh. Mau yah?”
“Errr, tapi jangan pendek-pendek!”
“Iyaa, tenang aja, akan kubikin Kakak keliatan lebih imut..”
” 😐 “

Dan..

KRES! KRES! KRES! Si Mas Kapster itu pun mulai membabat habis rambut panjang saya yang sepunggung itu hingga benar-benar menyisakan rambut sepanjang… dibawah telinga seperti yang dia bilang tadi :|. Haduh, saya langsung panik beneran, karena janji saya ke Si Hubby kan hanya potong sampai sepanjang bahu, bukan sependek ini :-s. Jujur kacang ijo, agak takut diomel-omelin Si Hubby yang waktu itu lagi di Hypermart nih, yang sejak saya masuk salon sudah warning di BBM : “Jangan pendek-pendek!”. Tapi nyatanya rambut saya pendek juga. Apalagi setelah di hair dryer, makin terlihat pendeklah.. 😐

Walaupun saya memang terlihat jauh lebih segar dibandingkan ketika berambut panjang, dan sebenarnya dalam hati pun saya merasa lega karena akhirnya boleh potong (ke)pendek(an), tapi diam-diam ketar-ketir juga membayangkan apa reaksi Si Hubby melihat penampakan saya nantinya :-?. Saya pun akhirnya menyusul Si Hubby ke Hypermart. Reaksinya adalah :

“Bwahahaha, ini sih Polwan banget. Kamu Briptu Devi yah? Kamu dari Sekretariat Militer yah? Hormaaat, graakk!” =)), tukasnya seraya tertawa geli.

Duh, ini reaksi positif apa negatif yah? :-w. Tapi sepertinya dilihat dari “kepasrahannya” sih positif, karena ternyata dia nggak ngomel-ngomel sama saya tuh. Malah ketawa-ketawa geli. Ya sudahlah, apapun reaksinya, sekalian menghibur diri biar kata aslinya responnya negatif saya bilang positif ajalah ya, karena toh nggak mungkin mengembalikan rambut saya menjadi panjang kan? Ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, biar enak ya ditambahin ayam, cakue, seledri, dan bawang goreng, kan? ;)). Bubur ayam dong..

Untuk mengembalikan ke rambut panjang tentu butuh waktu. Tapi biar saya rawat dulu deh, saya kembalikan dulu kesehatannya. Supaya nanti kalau sudah siap dia akan tumbuh dengan lebih sehat. Oh ya, katanya “No picture = hoax“? Tak apalah, nanti saja kalau sudah mood foto saya upload fotonya deh :p.

Jadi, selamat datang rambut baruku.. Semoga nanti kamu tumbuh jauh lebih sehat ya.. >:D<

[devieriana]

Continue Reading

Hari Memakai Sepatu Indonesia

Sebenarnya Hari Sepatu Indonesia itu sudah dicanangkan sejak tanggal 9 Maret 2011 kemarin oleh Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu. Hah, hari apa? Hari Sepatu Indonesia? Iya, jujur nih ya, waktu pertama kali membaca tulisan ini di spanduk yang dibentangkan di depan kantor Kementerian Perdagangan ketika akan menuju kantor, saya sempat bengong sendiri. Aduh, peringatan hari apa lagi sih ini, pikir saya :-o.

Tapi ingatan saya kembali segar lagi ketika kemarin siang saya membaca surat edaran dengan subjek “Pencanangan Hari Jumat sebagai Hari Memakai Sepatu Indonesia” yang ditujukan untuk kementerian tempat saya bekerja. Ternyata Hari Sepatu Indonesia dan pemakaian sepatu produksi dalam negeri ini menjadi bagian dari kampanye Aku Cinta Indonesia yang dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan citra positif produk-produk Indonesia di mata masyarakat. Jadi, supaya kita makin cinta dengan buatan dalam negeri, gitu.

Berkaca dari keberhasilan batik menjadi busana semi wajib hari Jumat hampir di berbagai instansi menjadikan pamor batik pun ikut terangkat. Batik, kini bukan lagi hanya selembar kain yang hanya bisa dikombinasikan dengan kebaya atau busana khusus kondangan saja, namun lebih dari itu batik kini sudah menjadi busana yang bisa dikenakan kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja dalam range usia yang sangat luas, bahkan busana anak balita pun banyak yang juga menggunakan bahan batik sebagai bagian kreasinya. Nah, belajar dari situ jugalah pemerintah ingin menjadikan hari Jumat sebagai Hari Memakai Sepatu Indonesia. Hari dimana kita khusus  menggunakan sepatu made in Indonesia.

Nah, ngomong-ngomong tentang sepatu, saya kebetulan termasuk pecinta sepatu. Hampir semua sepatu saya nggak ada yang interlokal..eh, berasa lagi nelepon. Maksudnya, sepatu saya memang nggak ada yang merk luar. Mulai flat shoes, sandal, wedges, pantofel, sampai stiletto dengan tinggi hak antara 10 sampai dengan 12 cm-pun produksi lokal. Saya juga bukan yang brand minded, sepatu-sepatu itu kebanyakan saya beli ketika di Bandung, produksi Cibaduyut :D.  Modelnya pun lucu-lucu, kualitasnya juga sudah bagus kok. Saya suka yang model high heels karena untuk menunjang tinggi badan saya yang minimalis ini. Nah, kalau sudah suka dengan modelnya (dan tentu saja harganya cocok sama dompet saya) pasti saya akan beli, sekalipun itu tak bermerk :D. Tapi biasanya saya akan sangat teliti memeriksa sol, bahan, dan kenyamanan saat dipakai.

Oh ya, ada cerita nih, pertama kali saya mengantor disini saya selalu menggunakan high heels, karena memang sudah kebiasaan sejak di tempat kerja yang lama. Kalau sekarang-sekarang saya jadi lebih sering menggunakan sepatu yang haknya (cuma) 5 cm itu juga karena tahun lalu saya jadi petugas upacara. Hubungannya apa? Iya, gara-gara habis latihan upacaranya sama bapak-bapak dari Sekretariat Militer, bapak-bapak itu ngeri lihat hak sepatu saya, padahal cuma 7 cm. Katanya akan membahayakan jika digunakan untuk kegiatan semi baris berbaris, seperti misalnya ketika harus maju ke arah mikropon untuk membacakan UUD ’45 kan nggak mungkin saya melangkah gontai seperti seorang model sedang fashion show kan? Berarti badan harus tegak dan bersikap layaknya seorang petugas upacara.. ala kapiten-kapiten gitu deh ;)). Nah, sementara itu pavingnya ada celah disana-sini. Bapak-bapak itu takut saya terpeleset, jatuh, atau hak sepatu saya terselip diantara aspal atau paving itu. Karena itulah saya beli yang haknya 5 cm saja (dan setelahnya saya jadi merasa mini sekali :|). Eh, tapi lama-lama nyaman juga sih, terutama kalau buat ngejar bus, lari-lari, atau ketika harus berdiri di dalam bus (iya kalau berdiri di luar bus itu namanya berdiri di halte).

Malah sebenarnya yang agak brand minded itu suami saya. Kalau sudah mematut diri di area sepatu bisa lama banget deh. Sekarang saja dia sedang mengincar sepatu dengan merk tertentu yang pernah waktu iseng window shopping membuat adik ipar saya berseloroh, “Hoalah, Mas.. buat nginjek tanah aja kok ya sejuta sekian..” ;)). Suami saya pun berkelit bahwa sepatu pilihannya itu kalau dipakai enak, empuk, awet, dll. Saya sih pura-pura nggak denger, sambil menjauh :-“. Kalau mau lebih awet sih mendingan jangan dipakai ;)).

Eh tapi, ngomong-ngomong nih, kembali lagi ke topik awal tentang Hari Memakai Sepatu Indonesia ya, kalau batik kan ketahuan tuh produksi lokal karena dipakai di badan dan eye catching-lah ketahuan kalau itu motifnya batik. Lha kalau sepatu bagaimana kita membuktikan kalau itu sepatu lokal ya? Masa iya sepatunya bakal dilepas dan ditenteng-tenteng biar kelihatan merknya? Atau wajib punya dan sepatu lokal yang dijual di koperasi karyawan yang bekerja sama dengan para pengusaha sepatu lokal (sosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo)? Kenapa harus hari Jumat? Apakah biar pas hari Jumat kita jadi kelihatan “lebih Indonesia” karena hanya menggunakan top to bottom yang made in Indonesia? Jadi, kalau hari Jumat sepatu Christian Louboutin , Jimmy Choo, dan Manolo Blahnik-nya disimpan dulu ya.. :). Kaya bisa beli aja  :-”

Jadi ya kembali lagi ke kebutuhan kita terhadap sepatu dan fungsinya, kejelian kita memilih bahan serta apakah sepatu itu cukup nyaman di kaki/tidak. Soal harga, model, dan produksi mana sepertinya kembali lagi ke selera. Karena toh belum tentu yang harganya mahal itu nyaman di kaki, dan bukan berarti yang nyaman di kaki itu juga nyaman di dompet, kan? *eh* ;)).

Oh ya btw, ada berapa banyak sih koleksi sepatu Anda?  *mulai menghitung*

[devieriana]

 

ilustrasi pinjam dari sini

Continue Reading

Badan yang ideal itu …

Salah satu teman pria saya dulunya pernah menangani agency modeling, maka tak heran jika perhatiannya terhadap perempuan dengan bentuk badan ideal itu sangat jeli. Dia pernah bercerita tentang bagaimana seorang model menjaga berat badannya. Bahkan ketika latihan untuk suatu pagelaran mode dan mereka ingin memakan kudapan pun harus lolos sensor pertanyaan “berapa berat badanmu & lingkar pinggangmu sekarang? Kalau masih dalam batas ideal mereka boleh memakannya, kalau ternyata lebih ya berarti mereka hanya boleh memakan buah-buahan sebagai pengganti snack. Olala..

Teman saya pun kadang jika sedang berjalan dengan kami dan kebetulan bertemu dengan seorang yang berbadan ideal ala model komentarnya adalah, “nah, badan yang bagus itu kaya begitu tuh, lingkar dada sekian, pinggang sekian, pinggul sekian..”, ujarnya sambil memincingkan satu mata dan mulai mengeker dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari. Kami yang jalan sama dia dan merasa badan kami tidak seideal perempuan yang dimaksud ya cuma bisa pasrah, saling berpandangan sambil nyakar-nyakar tembok :((. Dia juga sangat concern dengan make up yang dipakai seseorang, “ah, seharusnya blush on jangan ketebelan, dia bisa pilih lipstik dengan warna nude bisa kelihatan lebih bagus. Pakai riasan smokey eyes juga oke tuh buat dia..and bla, bla, bla..”. Kadang saya berterima kasih sama dia karena sudah memberi masukan-masukan cara berpenampilan, selain harus tahan dengan nyinyirnya dia mengomentari setiap penampilan kami.

Penampilan ala model tentu tidak bisa didapatkan secara instant, atau sulap, tapi melalui perjuangan berat olah raga, diet secara teratur, dan rajin merawat aset diri (penampilan). Itu kalau ingin serius berkarir di dunia modeling dan ingin tetap dipakai untuk iklan, pemotretan, dll. Untuk saya yang penampilan dan tinggi badan pas-pasan begini dan kebetulan bukan berkarir di bidang model, saran si teman untuk begini begitu tentu saya perhatikan hanya saja kadang masih suka saya bantah jika berhubungan dengan perut ;)). Haduhh, saya sih kalau lapar ya makan aja. Pikir saya, daripada saya teler masuk rumah sakit hanya karena saya punya pola makan yang nggak bener, kan? Hihi, iya sih itu cuma pembelaan saya biar halal makan apa aja :p. Iya, saya itu badannya kaya karet, gampang melar, gampang susut. Eh, kalau gampang susut ya nggak juga ding, pernah amat sangat gemuk ketika hamil dan untuk mengembalikan ke bentuk badan semula butuh waktu setahun lebih :|. Ya, karena saya malas berolah raga 😀

Awalnya sih saya cuma mesam-mesem aja kalau ada yang bilang, “segeran kamu sekarang, Dev”. Anggap saja saya memang terlihat jauh lebih segar dan menarik dibanding hari-hari kemarin :-“. Tapi ketika begitu banyak yang bilang begitu termasuk ayah dan ibu mertua saya dengan embel-embel, “gapapa, tulang pipi dan cekungan leher jadi nggak terlalu kelihatan”. Nah, jadi mikir sendiri ini beneran seger atau mulai gemuk coba? :-?. Saya memang akhir-akhir ini sering banyak kegiatan, dan kalau ada diklat yang sifatnya harus menginap di pusdiklat itu sudah pasti pola makan saya jadi sangat teratur, 3x sehari plus coffee break dengan snack yang yummy-yummy itu. Sudah diusahakan hanya mengambil dalam porsi sedikit lho ya. Tapi tetep, pulangnya jangan harap jarum timbangan bergeser ke kiri. Yang ada justru tekor lemak :((. Lemak yang kemarin sudah dihilangkan dengan susah payah, akhirnya harus rela nambah dalam waktu seminggu saja. Kalau sudah gemuk itu saya agak susah turunnya, sementara saya nggak begitu suka olah raga :|. Sementara itu tinggi badan saya juga “minimalis”. Kalau saya gemuk apa saya nggak lebih mirip bola bekel?

Pembelaan saya sih, selama baju masih banyak yang muat, suami belum komplain, belum nyuruh saya jangan dekat-dekat sama pesawat takut pesawatnya bingung mana landasan buat mendarat sih berarti saya masih dalam bobot “aman” :p. Syukuri saja apa yang ada di diri kita sekarang, yang paling penting mah sehat yah ;)) *ngunyah cupcake*

[devieriana]

 

 

gambar pinjam dari istockphoto

Continue Reading

Antara gadget dan keluarga

Pernah dihadapkan dalam di situasi sebuah acara kumpul-kumpul dengan beberapa orang, tapi justru kita sibuk dengan gadget masing-masing? Atau ketika meet up alias kopdar dengan teman-teman dari social media tapi justru masih sibuk mention-mention-an di twitter? Atau, ketika ngobrol dengan seseorang tapi pandangan matanya nggak jauh-jauh dari gadget-nya? Gimana, sering? ;)). Sama, terakhir waktu saya dengan beberapa blogger ngumpul untuk ketemuan di salah satu kedai franchise yang identik dengan kaum ABG di daerah Mampang. Secara fisik sih kita ngumpul, duduk satu meja, tapi tangan sibuk dengan gadget masing-masing, malah masih saling mention di twitter. Sampai kita niat pindah tempat duduk yang dekat dengan colokan listrik biar gampang nge-charge handphone kalau baterainya habis. :))

Kemarin siang sempat ngobrol dengan seorang kawan yang bilang kalau saya itu kelihatannya addicted banget dengan social media. Mungkin karena saya keseringan bercerita tentang ini itunya social media ya :D. Tapi kalau ketergantungan dengan social media sepertinya sudah menurun sejak BB saya hang tempo hari :)). Wah, si Hubby sampai sujud syukur lho lihat saya bisa “bebas” dari gadget bernama Blackberry itu.

Gara-gara diskusi tentang adiksi dunia maya, si kawan mulai mengeluhkan sang isteri yang sekarang jadi sibuk dengan akun-akun socmed dan teman-teman di BB-nya. Mulai dari melayani konsultasi masalah perkawinan, ladies chat, dan sibuk update status di twitter, fb dan BBM. Saya diam-diam geli sendiri, sepertinya keluhan dia terhadap sang isteri kok sama persis seperti keluhan si hubby beberapa waktu yang lalu ya? Atau jangan-jangan tipikal perempuan yang ber-gadget itu identik seperti saya dan sang isteri ya? Jadi berasa dejavu nih, karena saya dulu juga idem dengan sang isteri. Hubby bukan hanya gemas melihat saya yang lebih punya banyak waktu dengan teman-teman didalam layar berukuran 2.46 inch itu ketimbang meluangkan waktu bersama dia. Iya, tapi itu dulu. Sekarang sudah nggak separah itu kok.. 😀

Teman : “kapan hari trackball BB punya isteriku sempat rusak. Kapok! Tapi pas sudah dibenerin, ya balik lagi dianya..”

Saya : “hahaha, ngehang gara-gara overused yah? :)) Sama kaya aku dulu sih. Kalau aku dulu “terapi penyembuhannya” dengan BB “dirumahsakitkan” selama 2 minggu karena keypad mendadak hang semua. Sekarang sih BB justru lebih sering aku tinggal kemana-mana kalau di kantor. Malah si Hubby sering protes karena aku kalau ditelepon susah. Gimana mau ngangkat telepon kalau handphone aku tinggal di meja dalam keadaan silent sementara akunya ngider distribusi kerjaan.. :D”

Teman : “awalnya aku heran dengan orang-orang yang lebih asyik dengan virtual world kaya begitu. Eh, lha kok kejadian sama isteriku sendiri. Kayanya mesti ngobrol tentang hal ini sama dia deh.. 😐 “

Saya : “keluhan para suami ternyata sama yah? :))”

Teman : “itulah salah satu alasan kenapa aku nggak ingin jadi avatar di dunia maya, biar aja aku seperti yang sekarang..”

Saya : “iya, jangan, nggak usah.. biar aku aja ;))”

Sekarang ini hampir semua produsen gadget dan penyedia layanan telekomunikasi seragam menawarkan fitur handphone yang memungkinkan penggunanya bisa bersosialisasi di dunia maya secara nonstop dengan opsi biaya paket yang cukup terjangkau. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan eksistensi penggunanya di dunia maya, berinteraksi dengan orang lain tanpa harus bertatap muka secara langsung. Adanya perubahan fungsi gadget dari yang awalnya hanya untuk berkomunikasi dan berubah jadi bagian dari gaya hidup itu seolah-olah jadi mendekatkan yang jauh, namun ironisnya justru menjauhkan yang dekat. Bagaimana tidak, kita bisa “dekat” dengan teman/kerabat yang lokasinya jauh, namun hubungan dengan orang-orang yang terdekat justru berasa jauh.

Teknologi itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi akan membantu memudahkan kita tanpa harus ribet begini, begitu. Tapi di sisi lain teknologi juga seolah menghilangkan setengah dari sisi kemanusiawian kita. Dalam tingkat adiksi yang parah, pelan tapi pasti akan menjadikan kita sangat tergantung dengan teknologi. Sekedar cerita nih, salah satu teman saya pernah ngomel-ngomel hanya gara-gara nggak bisa login ke YM. Begitu uring-uringan ketika Macbook-nya mendadak hang (bukan untuk kerja lho). Stress gara-gara BB-nya kecemplung di ember berisi air dan mati total, nggak pakai tunggu besok, malamnya dia langsung beli yang baru (serius). Saya juga heran, gimana ceritanya BB bisa masuk ember sih :-?. Mulai merasa canggung ketika harus menulis secara manual menggunakan bolpoin (karena biasanya mungkin pakai kapur tulis ;))). Panik ketika baterai handphone-nya habis tapi dia nggak bawa charger atau nggak sempat nge-charge. Merasa “lumpuh” tak berdaya ketika salah satu gadget-nya tidak berfungsi sempurna atau listrik mendadak mati. Jika kita menggolongkan kebutuhan manusia dalam 2 kategori, primer dan komplementer, dalam kasus ini sepertinya teknologi sudah masuk dalam kategori primer.

Berhubung saya sudah sering ditegur oleh si Hubby untuk mengurangi adiksi saya terhadap teknologi mau tidak mau memang saya harus mulai berkompromi. Butuh waktu dan niat kuat memang untuk mengurangi kebiasaan yang satu ini. Ngeblog kalau sedang ada ide. Ngetwit sudah jarang-jarang (terbukti jumlah tweet saya awet di kisaran angka 8000 sekian sejak tahun lalu), tapi kalau pas lagi nggak ada kerjaan masih suka main juga bahkan “menggila”. Lha iya, katanya jarang ngetweet kok jumlah tweetnya bisa 8000 sekian :|. Buka facebook atau update status juga sudah jarang. YM juga seringnya offline. G-talk hanya online ketika sedang di depan PC/laptop (yang di gadget saya offline-kan). Kalau BBM sih jelas aktif terus karena itu kan fitur handphone, tapi lebih sering untuk komunikasi dengan keluarga di Surabaya dan hubby. Memulai hidup sebagai manusia lagilah. Berasa kemarin-kemarin jadi cyborg 😐

Penggunaan teknologi dalam porsi yang terkontrol dan wajar itu perlu. Ada baiknya juga tetap mengingat bahwa di sekitar kita ada orang-orang dan keluarga yang juga membutuhkan “kehadiran” kita secara nyata. Yang bukan hanya hadir secara fisik, tapi juga konsentrasi dan perhatian yang utuh. Seharusnya ada banyak hal menarik yang lebih “manusiawi” untuk dilakukan dalam kehidupan nyata ketimbang harus terus-terusan berhadapan dengan layar yang menyala, bukan? Ah, ya.. Saya sepertinya butuh rekreasi nih.. 🙁

Di akhir obrolan si teman meninggalkan pesan lagi, “better start manage our valuable life with more valuable thing”.

Okay! *manggut-manggut sambil nyimpen BB*
😉

[devieriana]

 

ilustrasi pinjam dari sini

Continue Reading

Tentang “Copy-Edit-Paste” Itu..

Akhirnya, setelah seminggu menjalani Diklat Keprotokolan di Pusdiklat, saya bisa menyentuh laptop juga. Kemarin memang selama diklat sengaja nggak bawa laptop karena bawaan sudah ribet, dan kebetulan materi yang diajarkan juga tidak ada yang berupa take home task.

Jadwal yang padat juga menyebabkan rutinitas setelah makan malam adalah ngobrol sebentar dan lalu masuk kamar masing-masing. Di kamar pun kadang saya bisa langsung terlelap. Maklum mata saya kan mata bayi, nggak bisa diajak begadang sedikit, kecuali diniatin dan minum kopi.

Baiklah, saya boleh langsung CCG alias Curhat-Curhat Gemes ya? Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu saya di-mention oleh seorang teman blogger di twitter yang bilang kalau ada salah satu tulisan di blog abal-abal saya ini yang di copy paste oleh seseorang di http://hanyanulis.wordpress.com/2011/02/20/pilih-mana-bekerja-atau-berkarir yang kebetulan isinya sama persis dengan tulisan saya yang berjudul Jangan Jadi PNS! cuma beda judul doang 🙂

Sempat heran, masa sih blog saya yang begini-begini saja tulisannya bisa memancing orang untuk melakukan copy paste? Atau mungkin karena saking abal-abalnya blog saya itulah yang mungkin membuat orang yang berniat copy paste berpikir, “halah, nggak akan ada yang bakal aware, deh… nggak ada yang kenal ini…”

Tapi ternyata walaupun tulisan di blog saya itu terdiri dari tulisan-tulisan nggak mutu dan remeh ini ternyata masih ada yang baca dan bahkan sampai mengenali  gaya penulisan saya, dan topik yang pernah saya tulis sebelumnya.

Memang konsekuensi orang yang punya blog salah satunya adalah harus melakukan update konten secara berkala. Tapi masalahnya terkadang inspirasi nggak bisa muncul seketika dan langsung bisa dituang dalam bentuk tulisan. Kadang ide berhubungan juga dengan mood. Sudah ada ide, tapi nggak ada mood nulis. Atau sebaliknya, ada mood nulis tapi nggak ada ide. Buat saya mood itu penting untuk menghasilkan tulisan yang “berjiwa”. Nah masalahnya (lagi), moodnya jarang ada yang pas, jadi ya nggak posting-posting :((. Terlalu banyak alasan saya ini! *keplak diri sendiri*

Nah trus, gimana kalau mengalami writers block, tulisan macet, nggak ada ide samasekali? Ini sih penyakit klasik, ya. Kalau saya sihmemilih nggak nulis aja selama beberapa waktu sambil melakukan penyegaran otak. Baca-baca lagi draft postingan, atau yang paling sering ya dengan cara blog walking secara berkala di waktu senggang. Biasanya sih setelah melakukan blogwalking langsung ada beberapa ide segar untuk diolah menjadi tulisan. Ingat, bukan copy paste ya. Mengolah inspirasi hasil blog walking itu menjadi tulisan dengan gaya bahasa kita sendiri.

Yang terpenting dari keseluruhan proses blogging adalah kalau kita memang butuh kutipan pernyataan tertentu untuk melengkapi tulisan, ya minta izin dari narasumbernya, atau menyertakan link tulisan yang mengarah ke pernyataan narasumber tersebut. Akan tidak etis rasanya kalau pernyataan seseorang dengan mentah-mentah kita copy paste dan kemudian kita akui sebagai pernyataan kita. Saya yakin kalau kita minta izinnya baik-baik si empunya tulisan nggak akan keberatan kok.

Ada komentar menarik ketika seorang teman bilang begini, “harusnya kamu seneng karena tulisan kamu di copy paste sama orang, karena itu berarti tulisan kamu menarik..”. Eh, tahu nggak sih, nulis blog itu juga pakai mikir lho. Kalau cuma sekedar copy paste aja sih semua orang pasti bisa. Tapi berusaha membuat karya yang original, tentu tidak mudah.

Sebenarnya sampai sekarang saya masih menunggu itikad baik dari pemilik blog untuk bersedia melakukan klarifikasi darimana dia dapatkan kalimat per kalimat yang ditulis di blognya tersebut. Karena setelah ditelusuri oleh seorang teman ternyata yang menjadi korban plagiarisme bukan hanya tulisan saya, tapi juga ada beberapa tulisan lainnya disana 🙁 *prihatin*

Saya nggak akan marah kok, justru akan senang kalau  si pemilik blog  berbesar hati mau mengakui kalau tulisan-tulisan yang diposting di blognya adalah hasil tulisan blogger yang lain. Kalau buat saya sih percuma blog saya rame, banyak yang komen, banyak yang berlangganan RSS feed, tapi kalau postingan saya nggak ada yang murni hasil tulisan saya ya buat apa? Itu kalau saya, ya.

Ya udahlah ya, saya cuma bisa ikut mendoakan, semoga pemilik blog tersebut dikembalikan ke jalan yang benar dan dibebaskan dari jiwa plagiarisme.. [-o<
Amien…

 

 

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari http://inioke.com dan http://tanyajawabannya.wordpress.com

 

 

Continue Reading