Imagine View

“Imagination is not a talent of some people, but is the health of every person”
– Ralph Waldo Emerson –

Suatu siang di hari Minggu, saya dikenalkan oleh teman saya Wongiseng kepada seorang teman yang peduli dengan cerita, dongeng, dan dunia imajinasi yaitu Mas Bukik. Lho, kok tiba-tiba? Iya, gara-gara saya pernah mendongeng di situs Kisah Anak yang dikelola oleh om Wongiseng beberapa waktu yang lalu. Hingga tersambunglah pada permintaan untuk melakukan interview #imagineview bersama @ImagineID . Hmm.. Mau nggak ya? 😕

Apa itu Imagineview? Imagineview adalah interview via twitter (proses atau penyebarannya) yang bertujuan untuk memicu imajinasi, cara berpikir berbeda. Imagineview diadakan oleh Imagine Indonesia (@ImagineID) sebuah gerakan sosial (social movement) yang mencita-citakan terwujudnya Indonesia sebagaimana yang kita imajinasikan. Saat ini mereka tengah menyebarluaskan Free Ebook Indonesia Bercerita yang sementara ini dapat diunduh di . Saat ini @ImagineID tengah menggagas http://indonesiabercerita.org/, mendidik melalui cerita, membebaskan imajinasi anak, membangun karakter bangsa. Aktivitas utamanya menyediakan podcast cerita gratis yang dpt digunakan ibu/guru/pejuang muda untuk bercerita pada anak/murid/komunitas.

Awalnya sempat kurang PD karena saya bukan murni seorang pencerita. Saya juga merasa kalau kehadiran saya di dunia dongeng anak hanya bersifat temporer. Saya “setor” suara hanya beberapa kali, dan sekarang-sekarang belum lagi, walaupun sudah diminta ;)). Saya merasa belum sepenuhnya menceburkan diri sebagai seorang pendongeng. Sempat menjadi pertanyaan di diri sendiri, sebenarnya apa menariknya sih menginterview saya ya? :-?. Tapi toh akhirnya saya iyakan juga walaupun untuk menjawab email berisi 8 pertanyaan itu saja membutuhkan waktu beberapa hari terkait dengan kesibukan –> tepatnya sok sibuk ;)).

Inilah adalah versi asli imagine view bersama saya sebelum diedit kedalam versi twitter oleh @ImagineID, yang di-publish via twitter pada tanggal 31 Oktober 2010 kemarin. Silahkan menyimak :

Q1. Apa kesibukan saat ini? Adakah yang terkait cerita (story)?

A1. Kesibukan saya saat ini sebagai PNS di Sekretariat Negara. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia perdongengan ya? :D. Tapi kalau dari segi suara sering dilibatkan untuk mengisi acara sebagai master of ceremony di acara-acara kantor/protokoler.

Q2. Apa pengalaman paling mengesankan tentang cerita atau anda sebagai pencerita?

A2. Saya ceritain dulu awalnya kenapa saya ikut-ikutan mendongeng via web ya. Saya penasaran aja dengan situs http://kisahanak.wordpress.com yang dikelola oleh @wongiseng. Nah kebetulan background saya dulu mantan orang callcentre, jadi saya mencoba mendongeng dengan suara alakadarnya ala saya. Jadi sebenarnya menjadi seorang pencerita itu tidak sengaja 😀

Kesukaan saya dengan dongeng berawal dari pengalaman masa kecil saya dulu yang terbiasa didongengi oleh orangtua saya, dibelikan buku dongeng, dan juga dibelikan kaset Sanggar Cerita yang waktu itu ngehits banget 😀 (ketahuan deh usia saya berapa). Semua cerita saya suka karena pasti ada nilai-nilai kehidupan yang ingin disampaikan dengan cara yang sederhana dan mudah diterima untuk anak seusia saya pada waktu itu.

Kalau pengalaman mengesankan sebagai pencerita, saya itu orangnya ekspresif, jadi kalau saya sedang bercerita ya saya akan sertai mimik, suara dan gaya sesuai tokoh yang saya ceritakan. Nah, paling seneng kalau sudah melihat ekspresi bocah-bocah itu tertawa atau melihat saya dengan ekspresi heran, karena itu berarti saya sudah berhasil menjadikan saya manusia yang aneh buat mereka, hihihi.. \m/ ;))

Q3. Sebagai pencerita, apa sebuah benda yang melukiskan diri anda? Apa artinya?

A3. Oh ya, saya mengibaratkan diri saya seperti sekotak pensil warna. Kenapa? Ya karena punya banyak warna itu penting. Sekarang coba bayangkan apa jadinya kalau dunia ini cuma ada satu warna saja? Tentunya nggak asik banget ya? Nah, kebetulan saya memang orangnya rame, jadi semoga saya bisa ikut melengkapi “warna-warna” yang sudah ada sehingga terlihat lebih harmonis dan manis (kaya saya), hahaha.. :)) :-”

Q4. Cerita itu sendiri bisa dianalogikan sebagai apa? Apa kekuatannya?

A4. Dongeng itu menurut saya bisa dianalogikan sebagai sebuah tempat sekolah dengan halaman bermain didalamnya. Kita bisa sambil bermain dengan imajinasi melalui kata-kata/gambar , sekaligus mendapatkan ilmu pengetahuan dan pelajaran berharga tentang hidup melalui pesan moral yang tersirat didalamnya. Bahkan David McClelland dalam artikel The Need for Achievement pernah mengatakan bahwa dongeng dan cerita anak itu memiliki fungsi lain selain sekedar membawa pesan moral. Lebih besar daripada itu,  dongeng sebelum tidur bisa mempengaruhi nasib sebuah bangsa.

Q5. Menurut anda, apa arti anak-anak (jamak) bagi kehidupan dan Indonesia?

A5. Anak-anak itu ibarat kertas putih yang kosong. Dia akan menjadi berwarna atau tertulis apa tergantung dari lingkungan yang “menggambarnya”. Mereka punya kecenderungan untuk menyimpang dari aturan, hukum, dan ketertiban karena terbatasnya pengetahuan yang mereka miliki. Mereka akan lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang sederhana. Dia nantinya juga akan tumbuh berkembang menjadi dewasa seperti kita. Tentu saja jiwa yang terbentuk adalah hasil olahan didikan di masa kecil. Jadi kalau ingin menjadikan mereka sebagai sosok calon manusia yang positif ya tanamkan nilai-nilai positif sejak dini. Sehingga melalui prinsip positive parenting diharapkan anak-anak Indonesia akan tumbuh lebih optimal secara fisik, psikososial/kepribadian, kemampuan verbal, berpikir, dan kreatifitas.

Q6. Bila semua harapan anda bisa terwujud, Indonesia seperti apa yang anda saksikan pada tahun 2045?

A6. Belum ada sebuah bangsa yang benar-benar ideal di dunia ini. Tapi jika ada banyak perubahan yang  signifikan di Indonesia tentu akan menimbulkan sebuah kebanggaan buat kita sebagai warga negara Indonesia yang sepertinya sekarang masih banyak keluhan disana-sini ya. Wah, kalau semua harapan saya bisa terwujud saya bisa membayangkan Indonesia di tahun 2045 menjadi sebuah bangsa besar yang maju pesat, yang tak hanya kaya sumber daya alam, namun mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas, mumpuni dan berkarakter yang bisa mengolah sumber dayanya secara mandiri. Ah bakal kerenlah pokoknya ;;)

Q7. Bagaimana cerita dan pencerita bisa berkonstribusi dalam pembentukan karakter anak dan bangsa?

A7. Lewat dongeng daya fantasi anak bisa lebih berkembang. Lewat dongeng anak akan dibawa ke sebuah dunia yang tanpa batas, yang pencitraannya bisa diatur sesuai imajinasi mereka. Lewat cerita/dongeng, secara tak langsung kita (pencerita atau orangtua) ikut membantu anak menambah perbendaharaan kata, karena umumnya jika ada kata-kata yang tidak dimengerti mereka pasti akan bertanya. Melalui cerita/dongeng kita akan ikut membantu anak untuk mengembangkan imajinasi, sehingga akal pikiran mereka tetap aktif, terlatih untuk memecahkan beragam masalah. Kita juga bisa menjadikan dongeng sebagai media perantara untuk menyampaikan unsur ilmu pengetahuan, pendidikan akhlak, moral, maupun nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Sehingga diharapkan nantinya melalui dongeng kita juga bisa ikut membentuk karakter anak dan bangsa.

Q8. Adakah tips untuk membuat Indonesia yg kita imajinasikan terwujud?

A8. Kita kadang perlu mempunyai mimpi, imajinasi, khayalan, keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu. Seperti kata Paulo Coelho, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”. Ya, jika kita punya keinginan dan niat yang kuat, dunia akan membantu kita untuk mewujudkannya. Jadi, jangan remehkan kekuatan mimpi & imajinasi. Kalau kita punya mimpi Indonesia akan lebih baik di masa yang akan datang, ya mulailah dari diri sendiri dulu. Nggak perlu menunggu atau menyalahkan orang lain. Karena yang ada sekarang kita cenderung menyalahkan, belum sampai pada tahap mampu memberikan solusi. Jangan tanyakan apa yang negara bisa berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang bisa kau berikan pada negara.. 😉

Panjang ya? ;)). Untuk menyimak versi twitternya bisa dilihat disini. Hayo, siapa yang mau saya dongengi? :-”

[devieriana]

 

ilustrasi : http://archann.deviantart.com

Continue Reading

Siapa suruh datang Jakarta?

Semalam adalah malam yang sangat spektakuler buat hampir semua penduduk Jakarta yang hingga tengah malam masih terkatung-katung di tengah jalan lantaran banjir dan macet yang sangat parah. Berbagai live tweet tentang banjir beserta foto yang di-upload seolah menceritakan betapa lumpuhnya arus lalu lintas di Jakarta tadi malam. Ya, saya adalah salah satu manusia yang terjebak dalam kemacetan yang parah itu pemirsa..

Niat awalnya adalah mengantarkan adik saya ke Bandara Soekarno Hatta. Janjian maksimal jam 17.00 wib sudah di Gambir terpaksa dibatalkan karena hujan dan prediksi macet yang akan terjadi sehingga tidak mungkin kalau dia harus menunggu saya sementara dia harus sudah check in di bandara. Akhirnya tinggallah saya di dalam taksi dengan mencoba tenang “menikmati” macet, banjir, dan komplain-komplain via berbagai social media. Sempat stress juga ketika taksi yang saya naiki tidak bisa bergerak samasekali. Miris, ketika saya memutuskan untuk berjalan kaki tapi ketika melongok keluar jendela taksi, wow.. SUNGAI!! :((

Kemacetan dan banjir rupanya merata hampir di seluruh Jakarta. Suami saya yang naik motor terpaksa harus berputar-putar mencari jalan alternatif (jalan tikus). Tapi ternyata jalan tikus pun macet. Karena pikiran orang mungkin sama dengan pikiran suami saya, “ah kalau lewat jalan utama pasti macet, lewat jalan alternatif sajalah..”. Eh ternyata bertemulah mereka di jalanan yang sama. Jadi ya tidak ada bedanya antara lewat jalan utama atau jalan alternatif ;)) . Saya sendiri mulai berasa stressnya ketika mulai melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.30 wib dan saya masih terkatung-katung di Jalan Gatot Subroto. Saya lihat juga si bapak supir taksi saya sudah stress juga sepertinya. Untunglah suami saya akhirnya menjemput dan membawa saya keluar dari kemacetan di sekitaran Giant – Mampang… untuk menghadapi kemacetan berikutnya tentu saja ;))

Saya toh juga sempat ngetwit begini :

Macet itu membuat org banyak bersyukur. Maju semeter aja sudah alhamdulillah : “alhamdulillah, akhirnya maju juga”
about 17 hours ago  via Twitter for BlackBerry®

dan begini :

Kalo Jakarta macetnya kaya begini, bayangkan ada berapa ibu hamil yg akan melahirkan dijalan ya..
about 17 hours ago  via Twitter for BlackBerry®

;))

Pagi ini di kantor hampir semua orang mempunyai cerita yang sama dengan versi masing-masing tentang kemacetan. Mereka rata-rata tiba dirumah antara pukul 22.00-23.00 bahkan ada juga yang lebih malam daripada itu. Semuanya mengeluh dan ngomel tentang betapa parahnya kemacetan Jakarta kemarin malam, saya juga cerita sih, tapi nggak pakai ngomel. Tepatnya adalah PASRAH! ~X(

Tapi saya justru berpikir iseng begini :

Sebenarnya kita semuanya sudah tahu kalau Jakarta itu kota banjir & macet, kan? Jadi ya sudah, kalau sudah memutuskan untuk tinggal disini ambil itu sebagai bentuk resiko dan konsekuensi logis. Jakarta itu ibarat sebuah produk yang dijual dengan sistem bundling. Kita tidak bisa hanya membeli salah satu fasilitas yang ditawarkan. Kalau kita sudah setuju membelinya ya kita tinggal menikmati fitur paket yang dijual terlepas dari mau tidak mau, berguna atau tidak. Jakarta disajikan lengkap dengan segala mimpi tentang kesuksesan hidup, dilengkapi dengan segala ketersediaan fasilitas, diberi essence manis pahit asamnya hidup kota besar, dan tak lupa semua itu disajikan lengkap dengan hiasan pita banjir dan macetnya.

Mengomel dan saling menyalahkan/menghujat satu sama lain pun tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau memang iya solusinya adalah dengan mengganti pejabat yang kita salahkan itu lalu apakah pejabat berikutnya atau bahkan kita sendiri dijamin pasti  mampu menyelesaikan masalah klasiknya Jakarta ini? Nah, belum tentu juga tho? Bukan berarti kita harus nerimo dengan keadaan seperti ini terus-terusan, tapi ya kenapa kita tidak mencoba untuk mengakrabkan diri dengan kondisi yang bukan untuk pertama kalinya terjadi ini? Nikmati sajalah Jakarta dengan segala pernak-perniknya, toh nanti juga akan kebal & terbiasa. Soal terlambat, kebasahan, kedinginan, tampang jadi kucrut ya sudahlah terima nasib saja. Toh kita tidak sendirian mengalaminya kan? ;))

Jadi sewaktu-waktu kalau nanti kita eksodus ke negara yang kemacetannya tidak separah Jakarta kita sudah terbiasa. Misalnya pun ternyata ada macet-macetnya sedikit kita bisa komentar : “Ah, dulu saya pernah mengalami yang lebih macet dari ini kok?” | “Oh ya, dimana?” | “di Jakarta..” 😀

Baiklah, seperti lemparan sandal, aqua galon, dan keplakan mesra sudah mampir ke jidat saya ;)). Ya namanya juga mencoba menghibur diri dengan mencoba berpikir positif biar hati dan pikiran lebih rileks kan tidak ada salahnya tho? 😀

Jadi gimana, masih minat tinggal di Jakarta?  :-”
Pindah aja yuk.. :>

[devieriana]

Continue Reading

Perempuan & fetishisme rambut panjang

Percakapan saya bersama teman kemarin sore, komentar di BBM gara-gara saya ganti profil picture ;)) :

Teman: wogh, rambutmu kaya iklan shampoo. Kalo gitu kamu kok kaya Kajol Kuch Kuch Hota Hai.. ;))

Saya : hahaha, bagus panjang kan ya. Aku nggak pernah punya rambut panjang..

Teman : itu rambutnya dhemit ya :))

Saya : hanjritos, dhemit? :-o*plak!*

Teman : itu rambut sambungan ya 😕 (maksudnya hair extension)

Saya : ho-oh.. sambungan sama taplak!

Teman : Lho, yang bener sambungan apa bukan sih?

Saya : ya bukanlah, asli ini! Asli sambungan! :))

Teman : keaslian panjangnya rambutmu diragukan! 😕

Saya : nggaklah, ini rambut asli, panjangnya juga asli, niat manjangin sejak setengah tahun yang lalu..

Teman: lha kok tumben dipanjangin?

Saya : iya di request sama si hubby

Teman: iya, kenapa ya para lelaki itu suka sama perempuan yang rambutnya panjang? 😕

Saya : ya biar njambaknya gampang.. :-“

Teman: jawabanmu sangat natural, pengalaman pribadi ya?

Saya : lha ya ngapain suamiku njambak-njambak rambut, kurang kerjaan apa?

Teman: ya kali bua ngetes rambutmu kuat apa enggak..

Saya : ho-oh, kemarin juga digantungi sama lemari sih

Teman: eh, gimana rasanya punya rambut panjang? gerah nggak?

Saya : err..kadang-kadang sih gerah dan rempong (ribet), tapi ya sekarang udah biasa..

Nah ya, saya itu sebenarnya dari dulu memang nggak pernah punya rambut panjang. Sepanjang-panjangnya rambut saya paling panjang sebahu, habis itu potong cepak lagi. Lebih suka rambut pendek karena selain lebih irit shampoo juga praktis aja gitu, nggak perlu repot mengeringkan atau ngeblow rambut dulu. Dibiarkan alakadarnya juga jadinya tetep keren kalau menurut saya. Secara saya kan orangnya nggak bisa anteng gitu ;)).

Sebenarnya sejak awal menikah saya itu sudah diminta memanjangkan rambut sama suami, karena menurut dia saya lebih pantes berambut panjang daripada rambut cepak. Nah sementara saya paling males punya rambut panjang karena selain ribet dan saya kurang telaten kalau harus ngasih ini itu, krimbath, hair spa dan teman-temannya. Paling-paling saya rajin pakai kondisioner dan perapi rambut aja, karena rambut saya itu termasuk yang nggak bisa berinisiatif rapi sendiri.

Tapi herannya ya, kebanyakan teman-teman pria, dan suami saya memang lebih suka melihat wanita dengan panjang. Pernah saya iseng tanya sama hubby, jawabannya :

Suami: ya kalau rambutnya pendek berasa kaya jalan sama cowok juga, kalau rambutnya panjang kan berasa jalan sama perempuan..

Saya : lha kalau kamu lagi jalan sama cowok rambut gondrong masih berasa jalan sama perempuan juga?

Suami: ya nggaklah, beda. Kamu tuh, masa iya aku nggak bisa bedain mana perempuan mana laki-laki sih?!
*sambit mercon*

Saya : ya abisnya kamu aneh. Masa misalnya nih ya, rambutku cepak, udah dandan dan pakai rok, masih juga kamu ngerasa lagi jalan sama laki-laki?

Suami : perempuan itu akan lebih terlihat feminin kalau rambutnya panjang..

Saya : :p ;)) :-”

Nah kalau yang pernah saya baca, ada beberapa alasan kenapa pria lebih suka dengan wanita yang berambut panjang, diantaranya :

“Komitmen. Mengingat untuk merawatnya diperlukan usaha, uang, dan kemauan lebih. Faktor-faktor tersebut mengindikasikan bahwa wanita berambut panjang memiliki perencanaan keuangan yang baik, kepercayaan diri, memiliki kesadaran cukup baik terhadap kesehatannya, juga melambangkan kelembutan. Kualitas kesehatan dan seberapa panjang rambut wanita juga menjadi daya tarik tersendiri di mata seorang pria”

Hmm.. masa sih? Rambut saya panjang tapi kok nggak pinter-pinter amat mengatur keuangannya ya? :-?. Saya juga bukan termasuk perempuan yang lembut tuh. Salah teori kayanya. Atau jangan-jangan karakter saya yang salah? 😮 ;)). Kalau panjang banget apa nggak malah tambah nyeremin ya? Apalagi kalau tahu-tahu udah berdiri di belakang kita pakai baju putih.. :-ss X_X

“Rambut panjang mampu menutupi bagian-bagian tertentu di wajah seorang wanita, seperti membuat garis rahang terlihat lebih ramping, dan membuat tulang pipi tidak terlalu terlihat mencuat..”

Oh, kalau ini saya agak setuju, secara pipi saya sekarang agak kelebihan lemak ;))

“Rambut panjang akan mengesankan wanita lebih feminin..”

Nah ini, saya itu orangnya nggak terlalu feminin sih ya. Tapi setidaknya sedang mencoba terlihat lebih feminin dengan rambut panjang ;;)

Kalau saya sih, mau apapun bentuk/model rambutnya, atau mau seberapa panjang rambutnya, terserah. Asalkan itu nyaman buat si pemilik rambut, sesuai dengan karakter wajah dan kepribadiannya sih akan terlihat bagus-bagus aja kok. Oh ya satu lagi, yang penting rambutnya sehat :-bd.

Nah kalau kalian lebih suka rambut panjang atau pendek? 😉

[devieriana]

Continue Reading

Pintar saja tidak cukup!

Selepas upacara kemarin seperti biasa saya kembali disibukkan dengan pekerjaan rutin menangani berkas-berkas dan hal persuratan lainnya. Seperti biasa pula si bapak suka mampir ke kubikel saya untuk sekedar ngobrol, atau iseng melihat-lihat surat masuk.

Sampai akhirnya beliau membaca sebuah surat tentang permohonan izin tugas belajar keluar negeri.

Bapak : “oh, mau sekolah lagi tho? Bapak ini pinter orangnya.. “

Saya : “oh ya? beliau mau ambil S3 ya, Pak?”

Bapak : “iya, walaupun pinter tapi ada satu hal yang disayangkan. Dia kurang bisa membangun hubungan dengan orang lain. Hubungan interpersonalnya kurang bagus..”

Saya : “maksudnya gimana tuh, Pak? :-B”

Bapak :“jadi pegawai negeri itu jangan cuma pinter. Istilahnya, pinter saja nggak cukup..”

Saya : “maksudnya gimana sih pak? bingung sayanya..8-|”

Bapak : “iya, kamu kalau jadi pegawai negeri jangan cuma pintar secara akademis, hubungan interpersonal dengan orang lain juga bagus, mampu bekerjasama dengan orang lain.. “

Saya : “oh gitu. Lah, kalau soal itu ya bukannya tidak hanya berlaku buat PNS aja, Pak. Menurut saya sih itu berlaku buat semua. Intinya kehidupan yang berimbang gitu kan, Pak? Tapi aku pernah ketemu sih pak sama tipikal orang-orang yang kaya bapak maksud itu..”

Bapak : “iya, jadi, kalau kamu nggak bisa bekerja sama dengan orang lain di lingkungan kerja, ya pantesnya kerja jadi Staf Ahli aja..”

Saya : “emangnya kalau Staf Ahli itu gimana kerjanya?”

Bapak : “ya dia akan kerja sendiri. Itulah kenapa tadi saya bilang pintar saja nggak cukup..”

Si bapak lalu meninggalkan saya untuk menjawab telepon di ruangannya dengan sejuta tanda tanya, tsaahh ;)). Jujur percakapan singkat yang menggantung itu membuat saya jadi mikir panjang dan bertanya-tanya sendiri. Apa sih sebenarnya yang ingin disampaikan oleh si Bapak? Pintar itu ukurannya apa? IPK yang tinggi? Lulusan perguruan tinggi ternama atau universitas luar negeri? Lalu maksud dari kalimat “pintar saja nggak cukup” itu apa? Berkenaan dengan attitude? Salah penempatan posisi/jabatan pekerjaan dengan kepribadian? Hmm.. 😕

Memang cara yang paling mudah untuk bisa mengukur tingkat kepandaian seseorang secara hitam diatas putih adalah dengan melihat paparan nilai A, B, C, D , E yang tertera diatas selembar kertas transkrip. Tapi setelah diaplikasikan dalam pekerjaan apakah iya nilai-nilai itu mampu berbicara banyak? Sepertinya kok belum tentu ya../:)

Terkadang para pemimpin dan orang-orang yang berhasil di bidangnya itu bukan berasal dari orang-orang yang nilai akademisnya tinggi, namun justru mereka-mereka yang memiliki tingkat kepedulian terhadap sesama yang tinggi, empati dan loyalitas persahabatan yang kuat, serta perasaan cinta kasih yang luar biasa. Tapi sayangnya banyak perusahaan/instansi yang belum sepenuhnya menyadari hal ini sehingga mereka hanya berpatokan pada nilai akademik yang tinggi dan kemudian menempatkan orang-orang yang mereka anggap “pintar” itu di sebuah posisi yang belum tentu sesuai dengan kepribadiannya. Karena nyatanya belum tentu orang yang pintar itu memiliki kecenderungan mental/attitude yang sesuai dengan tempat kerja dan jenis pekerjaan tertentu. Sehingga rasanya perlu ada upaya cerdas yang mampu mengubah cara pandang nilai akademik sebagai satu-satunya tolok ukur kepandaian seseorang.

Oh iya, dulu saya pernah baca tentang sosok orang yang opsional dan prosedural. Orang opsional akan menganggap orang prosedural itu terlalu birokratis, terlalu terpaku pada teori, bertele-tele dan kurang luwes ketika mengambil kebijakan. Sedangkan orang prosedural akan menganggap orang opsional itu tidak punya pendirian, plintat-plintut, kurang bisa mempertahankan ide dan gagasan yang sudah disampaikan, terlalu excuse, karena pada dasarnya tipikal seperti mereka-mereka ini biasanya mahir dalam hal menerjemahkan ide dan gagasan dalam skema yang berurutan. Namun uniknya orang-orang tipikal opsional yang cenderung kreatif dan banyak ide ini tidak semuanya bisa menjalankan gagasan atau ide yang sudah dibuatnya, sehingga mereka membutuhkan bantuan orang-orang dengan tipe prosedural yang lebih sistematis. Jadi sebenarnya keduanya sama baiknya, sama-sama saling menunjang. Karena sesungguhnya manusia itu mahkluk yang unik, punya kelebihan, kekurangan, dan kecenderungan masing-masing. Jadi, bagian HRD sepertinya juga harus jeli melihat hal-hal yang seperti ini ya, jangan asal menempatkan orang yang dianggap pintar tapi ternyata kurang sesuai dengan kepribadiannya. 🙂

Tapi bukan berarti berorientasi dapat IPK tinggi itu sudah nggak penting ya. Kita tetap harus berusaha secara maksimal dong, do the best lets God do the rest. Namun jangan sampai lupa juga, bahwa hidup kita bukan hanya tergantung dari besaran nilai akademis saja, lebih dari itu perkayalah dengan skill dan kreatifitas yang bisa menunjang bidang pekerjaan yang kita minati nantinya. Oh ya satu lagi, cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bidang pekerjaan kita.

Jadi kesimpulan global untuk percakapan singkat kemarin pagi :

“Menjadi orang yang pintar secara akademis itu bagus, tapi akan lebih bagus lagi jika juga ditunjang dengan pribadi dan attitude yang menyenangkan dalam pergaulan.. :-bd”

[devieriana]

Continue Reading

Jangan jadi PNS!

Beberapa hari yang lalu saya menerima pesan dari teman di twitter, minta waktu buat ngobrol katanya. Ya, berhubung saya lagi santai ya saya layani. Obrolan via BBM itu pun berlangsung “gayeng”, santai & akrab. Maklum dia memang salah satu teman lama tapi terbilang jarang ngobrol sama saya.

Intinya dia mengajak diskusi tentang pekerjaan. Kebetulan dia seorang karyawan swasta yang bekerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di Jakarta. Pertanyaan pertama telak, masalah gaji. Kalau ditanya masalah pendapatan besar atau kecil pasti jawabannya adalah relatif. Saya tidak bilang gaji saya besar atau kecil, tapi alhamdulillah cukup (setidaknya buat saya). Karena berapa pun pendapatan kita kalau pengeluaran & kebutuhan hidup kita juga membutuhkan biaya yang besar ya pasti akan merasa kurang. Itulah kenapa saya jawab : alhamdulillah, cukup.

Dia seorang pria, single, dan akan menikah. Sekarang ini sedang mempertimbangkan untuk pindah kerja dengan syarat gajinya paling tidak sama besar dengan tempat kerjanya sekarang, pekerjaannya tidak terlalu hectic, dan waktu luangnya banyak. Waduh, sempat puyeng juga saya ketika dimintai pendapat. Kalau tempat kerja yang seperti itu adanya dimana ya? :-?. Ya, jadi bos saja, buka usaha sendiri, wiraswasta gitu :).

Dia juga sempat heran kenapa saya pindah dari tempat kerja saya yang lama dan memilih berkarir memilih berkarir sebagai PNS. Apakah gaji sebagai PNS lebih besar dari tempat kerja saya yang sebelumnya? Karena dia justru sedang ingin pindah ke perusahaan tempat kerja saya yang lama. Tapi dia jadi mikir lagi ketika tahu saya pindah, jangan-jangan karena beban kerjanya terlalu tinggi, gajinya sedikit, atau ada sebab lainnya apa. Aduh, asli saya jadi mikirnya kok dia naif banget ya. Karena yang namanya kerja dimana-mana itu ya pasti ribet. Soal gaji besar/kecil itu sifatnya relatif, ada tunjangan apa saja buat karyawannya ya itu tergantung kebijakan yang punya perusahaan. Kalau soal waktu ya itu pinter-pinternya kita menyiasatinya saja, ya kan?

Saya jadi PNS itu sebenarnya tidak sengaja, seperti cerita saya disini. Kalau saja saya tidak ikut seleksi CPNS ya mungkin sampai sekarang saya masih di kantor yang lama, berkutat dengan quality assurance, hectic bikin laporan,  menangani komplain ketidaksesuaian penilaian, melakukan assuring hasil kerja anak buah saya, ribet melakukan coaching dan konseling ke anak buah.

Sekarang gini, ini sekedar sharing ya. Tujuan bekerja memang salah satunya adalah mencari gaji/pendapatan. Gaji besar dengan iming-iming status jabatan tertentu dan tunjangan ini itu pasti  jadi magnet terbesar para pencari kerja. Iya dong, buat apa kerja kalau tidak ada hasilnya, kan? Tapi apa iya lantas semua dipukul rata bekerja cuma dilihat dari besaran gaji yang diterima saja? Bagaimana kalau gaji besar tapi kompensasinya harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk diri sendiri dan keluarga, beban kerja yang tinggi, ditambah dengan fisik yang kelelahan. Kalau ada yang berpendapat, “kalau memang konsekuensi tugas dan tanggung jawab pekerjaan ya harus dijalani dong..”. Ok, mungkin ada yang rela hidup seperti itu, tapi ketika sudah berkeluarga nanti pasti ada orientasi-orientasi yang akan berubah, bukan lagi cuma materi yang dikejar, tapi pasti akan mempertimbangkan quality time bersama keluarga.

Dia lalu tanya lagi apakah THP (take home pay) saya masuk 2 digit? Saya lagi-lagi cuma bisa tertawa :)). Ya buat saya itu lucu. Bayangkan ya, untuk CPNS macam saya kok sudah punya gaji dua digit? Ini niat nanya apa ngasih tebakan? :-?. Masuk akal nggak sih kalau belum apa-apa gaji saya sudah menyamai gajinya deputi? Semua pasti ada aturan dan standarnya dong, Mas.. 🙂

Teman : tapi standar gaji staf di tempat kerja lama kamu dua digit lho, Dev..

Saya : bentar, aku tanya sama kamu. Tempat kerjaku yang lama itu swasta apa negeri?

Teman : ya 50-50, kan yang 50% dikuasai oleh Singtel

Saya : status pegawainya swasta atau PNS?

Teman : errr.. swasta

Saya : lha ya sudah, kenapa kok kamu membandingkan standar gaji swasta sama negeri? Ya jelas beda dong. Kalau mau membandingkan ya apple to apple. Jangan apple to durian. Bonyoklah ;))

Teman : tapi kelebihan pekerjaanmu yang sekarang nggak ada PHK mendadak ya, Dev. Beda sama kalau jadi pegawai swasta, isinya ketar-ketir melulu..

Saya : ya semua pekerjaan itu pasti ada segi positif dan negatifnya. Semua pasti punya resiko, tinggal gimana kita menjalaninya aja sih..

Teman : ya udah, aku nitip info kalau-kalau ada informasi kerjaan yang sesuai sama spesifikasiku ya..

Saya  : mmh, yang waktunya lebih luang, kerjaan nggak terlalu overload, dan yang penting gajinya sama dengan tempat kerjamu sekarang ya? ;))

Teman : hihihi, iya.. Kalau pakai ijazah S2 gimana? bisa?

Saya : apanya? dapet gaji 2 digit?

Teman : iyaa.. :))

Saya : bentar deh, tuntutan-tuntutan itu tadi untuk standar cari kerjaan di swasta apa PNS sih? 🙁

Teman : ya aku maunya di departemen atau BUMN gitulah..

Saya : jadi, pengen jadi PNS?

Teman : ya aku maunya sih kaya begitu.. Tapi kan aku nggak tau rejekiku dimana.. Ya, nitip ajalah, kalau ada info-info yang sesuai dengan kualifikasiku ya..

Saya : woogh, nyarinya dimana ya PNS yang kaya begitu.. #-o

Jadi saran saya ya, selama orientasinya masih berkutat di besaran gaji, mending jangan jadi PNS deh, apalagi yang baru jadi CPNS minta gajinya langsung dua digit ;)). Karena semua orang juga tahu gaji PNS masih kalah jauh dengan gaji pegawai swasta lho ;). Kalau mengumpulkan materi mending kerja di swasta dulu, bisa sembari menabung kan? Nah nanti kalau sudah bosan dan ingin punya lebih banyak waktu dengan keluarga sambil nyambi buka usaha dirumah boleh deh jadi PNS (eh, keburu tua nggak sih?) ;)).

Semua pekerjaan pasti ada plus minusnya, tidak mungkin ada pekerjaan yang semuanya sesuai dengan keinginan kita. Apalagi kena kata-kata “urip iku sawang sinawang”, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Melihat si A kerja disitu kok kayanya enak, ikutlah kita kerja satu perusahaan dengan si A. Tapi ketika sudah dijalani baru merasa ternyata kerjaan si A tidak seindah yang kita bayangkan, sama hectic-nya dengan pekerjaan kita yang sebelumnya :-o.

Rezeki itu sudah ada yang mengatur, pun halnya dengan pilihan karir. Soal mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri tinggal memilih mana yang paling sesuai dengan hati nurani kita, mana yang lebih sreg untuk dijalani. Memilih pekerjaan itu sama seperti memilih jodoh, semuanya kembali ke masalah hati 🙂

Oh ya, tadi pagi saya menemukan link bagus untuk sekedar dibuat baca-baca tentang How to find a job you will love . Semoga bermanfaat ya :-bd

[devieriana]

ilustrasi dari sini

Continue Reading