Reuni Di Dalam Pesawat

Masih ingat dengan hadiah Citilink free unlimited ticket yang saya punyai itu, kan? Nah, kebetulan kemarin saya pakai untuk yang ke-2 kalinya PP Jakarta-Surabaya-Jakarta.

Seperti prosedur sebelumnya, saya mengambil tiket di Jalan Gunung Sahari, kantor Garuda Indonesia. Memang dulu staf mereka sempat salah paham tentang pengertian “unlimited ticket”, yang sempat diterjemahkan sebagai free one way ticket. Tapi syukurlah sekarang mereka sudah paham dan tidak terjadi kesalahpahaman lagi ketika saya mengambil tiket gratis.

Kali ini saya mengambil penerbangan kedua, yaitu pukul 07.20. Para penumpang dipersilakan masuk ke dalam pesawat 30 menit sebelum boarding. Di dalam pesawat –seperti biasa– kami disambut oleh pramugari-pramugari Citilink yang masih menggunakan seragam mereka yang lama mereka, yaitu polo shirt warna maroon, dipadu dengan  celana cargo warna khaky. Tampilan rambut mereka yang panjang rata-rata diikat ala pony tail.

Sampai ketika saya sudah duduk di seat saya, 24F, tiba-tiba saya dihampiri oleh salah satu pramugari berambut cepak. Aha! Dia adalah pramugari yang dulu sempat memeragakan desain saya sejak awal ketika masih berupa mock up design (presentasi awal) hingga final design saat Grand Final. Senangnya…, ternyata dia masih ingat saya. Mungkin kami memang “berjodoh” ya, karena kok ya kebetulan ketemu terus sejak awal, bahkan sampai di pesawat ini.

Pramugari: “hei, Mbak… :)”

Saya: “eh, haaai, kamu.. apa kabar?” *cupika-cupiki*

Pramugari: “baik, Mbak gimana?”

Saya: “aku alhamdulillah baik. Eh, kok kalian belum pakai seragam yang baru?”

Pramugari: “iya, belum… Nanti tunggu semua siap, kalo nggak Maret ya April tahun ini kok, Mbak. Kemarin sih sudah nemu sepatu sama tasnya juga…”

Saya: “oh, syukurlah… Pengen cepet lihat kalian pakai uniform baru :)”

Pramugari: “di advertisement Citilink sudah pakai seragam baru kok”

Saya: “iya, udah lihat juga sih. Bagus! :)”

Pramugari: “iya.. Eh, Mbak cuti atau libur nih?”

Saya: “ya cutilah… mana ada PNS libur hari Jumat begini.. :D”

Pramugari: “iya, aku tadi dari jauh udah lihat Mbak.. Kayanya Mbak ini pakai tiket yang gratisan itu… ”

Saya: “hahaha, iya… kan batasnya sampai dengan akhir bulan ini, jadinya kumaksimalkan… ;))”

Pramugari: “oh gitu… eh, Mbak, maaf, aku ijin ke belakang dulu ya, mau prepare sebelum boarding…”

Saya: “oh iya, monggo silakan.. :)”

Saya yang duduk di seat dekat jendela sesaat setelah pesawat lepas landas langsung terlelap karena tadi bangun jam 3 pagi dan langsung bersiap-siap menuju Bandara Soekarno Hatta.

sebelum penjurian

fashion show

Saya baru bangun ketika ada announcement dari pilot bahwa beberapa saat lagi pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Juanda. Belum genap nyawa terkumpul, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada segelas teh lengkap dengan sendok dan 3 sachet gula pasir yang tersaji di atas meja sebelah (kebetulan dua seat sebelah saya kosong). Hmm, ini punya siapa, ya? Buat saya? Kan saya nggak pesan teh…

Saya coba intip seat di depan saya. Mejanya tegak, tidak ada sajian dalam bentuk apapun disana. Saya lalu mengarahkan pandangan ke 3 seat seberang kiri, dan bangku belakang saya. Semuanya sama. Tidak ada satu pun yang memesan teh, atau diberi sajian teh. Hmmm, jadi serius ini buat saya? Tapi kenapa cuma saya? 😕

Sempat beberapa menit saya tidak berani menyentuh teh itu, karena memang merasa tidak pernah pesan sih, ya. Tapi, tunggu deh… Apa mungkin mbak pramugari yang tadi ya, yang sengaja meletakkan ini di meja dekat seat saya? Dengan setengah ragu, teh itu saya minum. Itu pun menjelang landing. Semoga memang ini adalah complimentary drink buat saya, ya. Kalau pun toh nanti bayar ya sudahlah, wong cuma teh ini ;))

Menjelang landing, tiba-tiba mbak pramugari itu melintas. “Eh, Mbak, aku tadi naruh teh di meja sini, udah diminum? Itu buat Mbak lho… :)”

See, benar kan dugaan saya. Terima kasih untuk tehnya ya, Mbak Tasya (?). Semoga saya nggak salah mengingat namamu ya, Mbak. Nice to see you again >:D<

Semoga kita bisa ketemu lagi di penerbangan-penerbangan berikutnya, ya :-h

 

[devieriana]

 

foto: dokumentasi pribadi

Continue Reading

It’s A Wrap!

Dalam hitungan jam kita akan segera meninggalkan tahun 2011 dan memasuki tahun 2012. Tentu sepanjang tahun 2011 ini sudah banyak catatan langkah yang sudah kita torehkan, ya. Nggak semuanya bagus sih, tapi nggak semuanya buruk, dong 😉

Seperti tahun sebelumnya di setiap akhir tahun selalu ada rangkuman kisah perjalanan selama satu tahun, tapi kali ini saya ingin bikin sedikit berbeda. Saya akan memilih postingan mana saja yang berkesan bagi saya selama 2011 ini. Here we go!

1. Dari hati
Ada 3 postingan yang benar-benar saya tulis dengan sepenuh hati. Tulisan yang menurut saya cukup emosional, ditulis dengan mengerahkan segenap rasa yang saya punya, sedikit menyentuh, saya nulisnya sambil berurai airmata, dan ternyata yang membaca pun ikut terbawa dalam level keharuan yang nyaris sama dengan saya.
1. Tulisan  untuk Papa saya http://www.devieriana.com/2011/12/unconditional-love/
2. Tulisan untuk Mama sayahttp://www.devieriana.com/2011/07/unspoken-love/
3. Kisah saya bersama anak-anak kurang mampu yang masih punya semangat belajar dan sekolah http://www.devieriana.com/2011/07/pencari-amal/

2. Current issue
Tulisan yang berhubungan dengan isu yang sedang hangat di timeline atau sedang hangat dibahas.
1. Kisah insiden dibalik syuting Kick Andy http://www.devieriana.com/2011/01/tulisanku-pikiranku-emosiku/
2. Ketika gelang yang berkhasiat itu ternyata tidak ada khasiatnya sama sekali 😀 http://www.devieriana.com/2011/01/power-balance-the-placebo-effect/
3. Ketika nilai-nilai kejujuran pelan-pelan menjadi artefak http://www.devieriana.com/2011/06/indonesiajujur-tip-of-an-iceberg/

3. Top post
Tulisan dengan hits paling banyak sepanjang tahun 2011, apalagi bertepatan dengan insiden becandaannya Olga dan ketika saya republish ternyata disebarluaskan oleh teman-teman di berbagai jejaring sosial.
http://www.devieriana.com/2011/05/rape-is-not-a-joke/

4. Favorit saya
Salah satu tulisan favorit saya tentang “mantan”, tentang masa lalu, tentang mengapa kita harus “move on” :p http://www.devieriana.com/2011/01/a-reason-a-season-or-a-lifetime/

5. Lomba:
Artikel tentang lomba yang saya ikuti di tahun 2011 dan hasilnya… Alhamdulillah… 🙂
1. Lomba mendongeng yang baru pertama kali saya ikuti itu http://www.devieriana.com/2011/05/kontes-podcast-itu/
2. Serangkaian kegiatan Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink yang ditulis secara berseri mulai awal pembuatan desain, pengiriman desain, babak penyisihan, semi final, hingga grand final tanggal 7 November 2011 kemarin. Oh ya, sampai sekarang tiketnya belum saya pakai nih… ;))
http://www.devieriana.com/2011/09/kisah-dibalik-keisengan-itu/
http://www.devieriana.com/2011/11/one-step-closer/
http://www.devieriana.com/2011/11/the-final-result/

6. Lucu
Postingan-postingan yang bikin saya ketawa sendiri waktu nulis dan menjadi postingan terlucu sepanjang tahun 2011 (menurut saya).
1. Kisah ujian akhir semester anak kelas 1 SD http://www.devieriana.com/2011/12/ujian-akhir-semester/
2. Sebagian kecil cerita-cerita lucu di callcentre http://www.devieriana.com/2011/02/balada-callcentre-officer/

Nah, kayanya itu sih postingan-postingan yang berkesan sepanjang 2011. Semoga akan ada lebih banyak cerita berkesan yang bisa saya tuliskan di sepanjang tahun 2012 nanti.

Selamat tahun baru 2012! <:-P

 

 

[devieriana]

gambar pinjam dari festivalsadvices.com

Continue Reading

Unconditional Love

“A mother’s love is instinctual, unconditional, and forever…”
– Unknown –

Beberapa hari yang lalu sebenarnya saya di-mention untuk ikut #Edustory di twitter. Kebetulan temanya adalah kisah yang paling berkesan tentang Ibu. Tapi berhubung saya kelupaan dan baru bergabung ketika waktu untuk #Edustory tinggal 15 menit, maka saya hanya sempat share sedikit sekali tentang cerita masa kecil dengan Mama. Nah, baru hari ini, tepat tanggal 22 Desember (terlepas dari peringatan Hari Ibu yang salah kaprah), seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan berbagi cerita tentang Mama, sebagai penyeimbang tulisan tentang Papa beberapa waktu yang lalu. Mama adalah sosok yang paling menginspirasi dalam kehidupan saya.

Boleh dibilang yang paling dominan dalam mendidik dan mengasuh kami bertiga adalah Mama. Bukan bermaksud mengesampingkan peran Papa di dalam kehidupan kami, tapi Papa sebagai kepala rumah tangga sudah menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) tersendiri yang juga menyeimbangkan kehidupan keluarga kami.

Mama sendiri adalah sebuah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, kadang absurd, namun pengasih, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja (bahkan selalu ingat siapa saja nama teman-teman kami). Beliau bisa berperan ganda dalam keluarga, sebagai ibu, isteri, sekaligus sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun dengan beliau. Mama adalah pendengar yang luar biasa untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Ketika sedih Mama akan ikut sedih bersama kami. Ketika kami bahagia Mama juga akan ikut bahagia bersama kami. Bahkan ketika kami bercerita tentang hal yang konyol sekali pun Mama tak segan untuk ikut absurd bersama kami. Mama kami memang sosok yang istimewa. Seistimewa setiap masakan yang takaran dan rasanya selalu pas! 😉

Waktu kecil, saya dan adik perempuan saya, selalu dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk dandanan anak-anak, mulai rambut, baju, sampai sepatu (mungkin karena anak perempuan, jadi lebih mudah memodifikasi dandanannya ;))). Waktu SD kami berdua juga diwajibkan ikut ekstra kurikuler tari Jawa klasik. Kebetulan dulu Mama adalah seorang penari Jawa klasik yang bergabung dalam Sanggar Tari Wilwatikta, jadi harapan Mama salah satu dari kami berdua ada yang menuruni bakat beliau. Terlepas dari itu menurut Mama menari akan mengasah kepekaan diri, keluwesan, dan membentuk gesture tubuh yang baik (tidak membungkuk).

Dulu sempat berpikir juga, ngapain sih Mama ‘memaksa’ ikut ekskul tari? Tapi lama-lama akhirnya pertanyaan itu terjawab seiring waktu. Ekskul tarilah yang membuat saya sering mendapat tawaran menari dan menjadi wakil sekolah dalam beberapa pagelaran lomba tari tunggal, berpasangan, maupun sendratari. Dari tarilah saya mengenal hobby yang saya jalani dengan hati. Ke mana pun saya pentas, Mama hampir tak pernah absen mendampingi saya. Thanks to Mama >:D<

Kalau untuk “pemaksaan” ekskul ke adik bungsu saya yang laki-laki sepertinya tidak terjadi. Karena toh akhirnya dia bisa menemukan bakat dan minatnya sendiri di bidang fotografi. Mama bukan hanya sebatas peduli dengan pendidikan kami, tapi juga sangat mengikuti perkembangan hasil studi kami mulai dari SD hingga kuliah. Sering memotivasi dengan hadiah-hadiah kecil sebagai hadiah atas pencapaian kami. Walaupun lama-kelamaan kamilah yang akhirnya secara sadar memperjuangkan nilai-nilai kami sendiri karena ingin membuat Papa-Mama bangga.

Kami juga sempat mengalami masa-masa menyedihkan ketika Mama sering pingsan dan pusing berkepanjangan selama sebulan lebih (sebenarnya memang sakit yang sudah lama diderita oleh Mama karena ada syaraf di kepala yang terganggu, biasanya akan kambuh kalau terlalu capek, berpikir berat/sedih). Sementara kami & Papa amat sangat tergantung sama Mama :(. Ketika masa pemulihan ternyata Mama mengalami vertigo, Mama jadi sering hilang keseimbangan. Seringkali ketika kami pulang sekolah menjumpai Mama tertidur dengan lutut dan kaki yang lecet-lecet atau memar kebiruan karena terjatuh akibat memaksakan diri membersihkan rumah atau pergi ke pasar padahal kondisinya masih belum pulih. Kalau kami tegur jawabannya begini,

“ya kalau Mama nggak ke pasar, trus nggak masak, nanti kalian makan apa?”
 Ya Tuhan , bahkan di saat sakit pun Mama masih memikirkan kami 🙁

Puncaknya adalah ketika Mama harus rela melepas adik perempuan saya menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta, Mama bukan hanya sedih, tapi sampai nangis sesenggukan. Waktu perpisahan dengan saya dulu Mama juga sedih, tapi nggak sampai sesedih ini. Mungkin sekarang baru terasa kalau anak-anaknya ternyata sudah pada dewasa, sudah mulai punya kehidupan masing-masing, dan pasti si bungsu juga akan segera menyusul kalau sudah ketemu jodohnya.

Seringkali pagi-pagi beliau mengirim sebuah pesan singkat berisi, “Mama sayang kamu…” atau “Selamat bekerja ya, Sayang. Mama kangen sama kamu…” dan itu sudah cukup membuat airmata saya menggenang :((

Iya, aku juga kangen, aku juga sayang sama Mama…. :-s

“Ya Allah, semoga Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan kedua orangtua kami… Aamiin…”
 

[devieriana]

 

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Community Gathering Radio A Jakarta

Tanggal 7 Desember 2011 yang lalu saya diundang oleh Radio A 96.7 FM Jakarta untuk hadir dalam Pakdeshow –  Community Gathering. Pakdeshow sendiri adalah nama salah satu program talkshow di Radio A 96.7 FM Jakarta. Acara dimulai pukul 18.00 di Black Cat Jazz & Blues Club, Plaza Arcadia Senayan.

Saya datang mewakili komunitas Indonesia Bercerita yang kebetulan waktu acara Socmedfest kemarin dikunjungi oleh Radio A Jakarta untuk sekedar ngobrol ringan di booth. Awalnya agak canggung juga karena ketika saya datang sepertinya acara sudah dimulai, dan saya sama sekali nggak ada yang kenal, kecuali teman saya Ade dan Patty Hutagalung, teman penyiar yang suka saya gangguin dengan request lagu dan obrolan nggak penting kalau sedang siaran. Selebihnya, nggak ada. Ada sih, beberapa sosok selebritis yang wajahnya cukup familiar, tapi ya tetep aja jatuhnya saya nggak kenal, kan? ;))

Sampai akhirnya teman saya, Ade, yang malam itu menjadi host mulai menyadari kehadiran saya, mulai memperkenalkan saya ke tamu-tamu undangan yang lain. Dengan wajah kikuk saya ‘say hi’ dan  tersenyum ke arah mereka. Ah, untung suasana kafe itu redup, jadi kalau tampang saya agak kucrut jadi nggak terlalu kelihatan, maklum pulang kantor, datang hanya berbekal high heels doang biar keliatan eksis tingginya! :))

Sempat agak heran juga karena kok yang hadir disana kok kebanyakan komunitas bola, ada Milanisti Indonesia, Indo Barca, Juventus Club Indonesia, Madridista Indonesia. Lha saya yang mewakili komunitas imut dan unyu ini kan ya agak jadi berasa salah kumpul komunitas, gitu. Yang lainnya komunitas bola, ya masa saya sendirian aja gitu dari komunitas pendongeng :-s. Seharusnya saya datang bersama rekan saya, Fiki Maulani, tapi dia jam segitu masih ada acara lain, jadilah dia datang menyusul agak malam setelah acara dia selesai. Tapi untunglah ternyata ada juga yang hadir mewakili dari komunitas film yang diwakili oleh Adilla Dimitri (suami Wulan Guritno), Komunitas Dog Does Disco yang diwakili oleh Amanda Sukasah (puteri Ghea panggabean), Yayasan Syair yang diwakili oleh Deasy Noviyanti, serta dari Jakarta Bergerak yang dimotori oleh Wanda Hamidah ternyata juga hadir dalam acara itu. Pffiuh… \:D/

Malam itu kami bukan hanya dihibur oleh special performance dari Dhisa yang dikenal lewat lagu (galau) Cintaku Kamu, tapi juga ada pemutaran spesial trailer film Dilema The Movie yang baru pertama kalinya diputar khusus di acara itu. Bukan itu saja, kami juga dihibur oleh penampilan Mario Ricardo, Bemby Noor, dan juga Tengku Shafick. Mereka bertiga adalah pencipta lagu sekaligus komposer lagu-lagu hits di Indonesia, macam lagu-lagunya Afgan, Marcel Siahaan, dll. Malam itu mereka bukan hanya perform menyanyi saja, namun juga ternyata berani menerima tantangan untuk menciptakan lagu diatas panggung dalam waktu 5 menit saja dengan 3 kata yang diberikan oleh pengunjung secara spontan. Amanda Sukasah memberikan kata “dilema”, saya menyumbang kata “cinta”, dan Adilla Dimitri menyumbang kata “hidup”. Tak lama kemudian, taraaa… jadilah sebuah lagu easy listening dan super catchy! :-bd

Satu-persatu dari kami mulai memperkenalkan diri mewakili komunitas masing-masing. Tak disangka malam itu terjadi banyak engagement antar komunitas. Yang suka bikin film indie ternyata malam itu ketemu dengan sutradara dan movie maker, yang suka bikin lagu tapi belum ada kesempatan untuk merekam lagu-lagunya ternyata ketemu sama komposer beneran. Nah saya, kebetulan bertemu sama Deasy Noviyanti yang ternyata adalah salah satu aktivis di Yayasan Syair. Yayasan Syair ini adalah sebuah yayasan yang berusaha mengajak masyarakat agar lebih memahami tentang HIV dan AIDS, membina dan memberdayakan ODHA agar bisa hidup mandiri, dan membantu memperpanjang harapan hidup ODHA dengan harapan bisa menekan laju penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia.

Kami saling bercerita tentang komunitas dan gerakan kami masing-masing. Deasy juga menuturkan bahwa di yayasan yang dibinanya itu ada banyak anak yang sudah terkena HIV adan AIDS karena orangtuanya. Rata-rata mereka dari kalangan kurang mampu. Salut dengan gerakan ini karena mereka ingin membuat bagaimana para ODHA itu kembali punya semangat hidup, dan tetap merasa hidupnya berguna bagi orang lain. Caranya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan ketrampilan, penyuluhan kesehatan secara berkala, pengobatan dan konsultasi kesehatan secara cuma-cuma, dan kegiatan hiburan bagi anak-anak.

Di akhir perjumpaan Deasy ingin mengajak Indonesia Bercerita suatu hari nanti ikut memberikan hiburan bagi anak-anak penyandang HIV dan AIDS yang ada di Yayasan Syair berupa dongeng. Bagaimanapun mereka adalah anak-anak yang tetap butuh hiburan, dan butuh suntikan motivasi, dan dia merasa melalui media dongenglah pesan-pesan itu akan lebih mudah tersampaikan.

Selepas acara, sambil menunggu jemputan, sembari menahan AC yang super dingin itu, saya menyaksikan penampilan Idang Rasyidi yang malam itu tampil di Black Cat Jazz & Blues Club. Hmm, saya sebenernya suka musik Jazz (yang easy listening jazz terutama), tapi entahlah… malam itu saya mendadak bego aja gitu karena nonton sambil ngomel nggak jelas dalam hati.

“Ini intonasinya kemana? Ini nyanyi apaan, sih? Nyanyi apa kumur, Mbak? Kalau cuma nyanyi dubidadidam-dumdumdum doang sih aku juga bisa”

*BLETAK!* *dilempar mikropon*

Yah gitu deh, mungkin efek mata ngantuk dan badan capek kali, ya. Tapi overall saya puas dengan acara malam itu, karena bukan hanya dapat goodie bag yang isinya ok, dan sekedar kumpul-kumpul nggak jelas, tapi saya juga jadi punya ilmu dan teman baru. Oh ya, yang lebih penting lagi adalah, saya punya 10 tiket nonton bareng di Blitzmegaplex Grand Indonesia buat nonton rame-rame sekomunitas, dong! \:D/ *kipas-kipas*

Terima kasih juga buat Radio A 96.7 FM yang sudah berkenan mengundang saya. Terima kasih juga untuk email “thank you regarding last night”-nya. How sweet you are, Guys!

Sampai ketemu lagi di event berikutnya (kalau masih diundang)! :-h

 

 

[devieriana]

sumber gambar : twitternya Pakdeshow  & koleksi pribadi

Continue Reading

The Final Result!

Sebelumnya maafkan saya yang hampir sebulan belum mengupdate blog. Kali ini bukan karena alasan malas ataupun sibuk, melainkan masalah teknis di blog. Jadi, berhubung blog saya yang di http://devieriana.com sedang mati suri jadilah saya posting di blog lama saya di http://devieriana.wordpress.com dulu. Mumpung ceritanya belum basi-basi banget jadi ya disempatkan share deh. Yang jelas saya ingin berbagi cerita tentang apa yang sudah saya lalui dalam sebulan ini 😀

Tentu teman-teman masih ingat dengan postingan One Step Closer menuju Grand Final Desain Seragam Pramugari Citilink yang lalu, kan? Nah, tanggal 7 November kemarin adalah acara puncaknya. Acara itu diadakan di Planet Hollywood dan dihadiri oleh para undangan, manajemen Garuda Indonesia, Citilink, awak media cetak dan elektronik.

Saya sengaja mengambil cuti, khusus untuk mempersiapkan acara itu, karena memang nggak mungkin kalau hanya izin masuk setengah hari atau baru join di acara pas sudah pulang kantor. Beberapa hari sebelumnya saya masih ribet dengan pembuatan storyboard bersama Gum. Ah, saya harus banyak berterima kasih pada Gum yang sudah bersedia meluangkan waktu seharian penuh bersama saya di Kopitiam Oey dekat rumah saya untuk menyelesaikan konsep storyboard yang sesuai dengan apa yang saya mau. Padahal awalnya masih bingung, storyboard ini mau dibikin kaya apa. Tapi last minutes akhirnya kepikiran juga konsepnya mau seperti apa. Makasih ya, Gum *hugs*. Kapan-kapan kita bikin storyboard lagi ya ;))

Acara Grand Finalnya sendiri berlangsung pukul 19.00, tapi pukul 9 pagi seluruh kru dan pendukung acara wajib hadir untuk persiapan dan General Repetition/Rehearsal (GR). Kami, para finalis, berkumpul pukul 11.00 untuk melakukan latihan tampil diatas panggung bersama para model dan pramugari. Baru kali ini saya merasakan tampil bersama model beneran diatas panggung. Dulu, saya hanya menangani persiapan di backstage, dan memastikan semua model tampil sesuai dengan konsep yang ingin ditampilkan.

Jangan tanya apa yang berkecamuk dalam pikiran saya hari itu, yang jelas semua sudah saya pasrahkan sama Yang Diatas untuk apapun hasilnya nanti. Karena sampai 4 besar saja buat saya sudah keajaiban banget, mengingat saya sama sekali belum pernah ikut lomba desain semacam ini. Kalau pun dulu pernah ikut hanya sampai tahap penyisihan saja, nggak sampai ke tahap perwujudan desain dalam bentuk mock up.

Sekitar pukul 15. 00 saya, Rico, dan Dinda, keluyuran di Plaza Semanggi untuk merapikan rambut dan lalu kembali ke lokasi untuk mengadakan persiapan lebih lanjut. Ternyata Tina sudah rapi dengan tampilan make up yang soft hasil karya Mbak Irey, salah satu anggota tim Fortune PR :D. Sementara Dinda yang gantian ditangani oleh Mbak Irey, saya memilih untuk merapikan make up saya sendiri, biar sama-sama selesai tepat waktu, gitu 😀

Sekitar pukul 16.00 Mbak Era Soekamto beserta tim datang membawa revisi mock up kami dalam keadaan sudah fix dan rapi terseterika lengkap dengan gantungan yang bertulis nama masing-masing pramugari/model yang akan membawakan rancangan kami.

Jujur saya gugup, dan nyali saya langsung ciut ketika melihat hasil revisi teman-teman finalis yang lain yang mendadak langsung jadi ok. Hingga akhirnya muncul kepasrahan dalam diri saya. Posisi apapun yang akan saya raih malam ini, akan saya terima dengan besar hati. Sama sekali nggak berani berharap apa-apa, karena sudah ciut nyali duluan 😀 Whatever will be, will be, deh…

Hingga akhirnya satu jam sebelum acara, dan dentuman musik itu dimulai, kami berempat pun mulai merapat ke tempat perhelatan acara. Kami berempat duduk di pojok, depan panggung, dekat dengan meja dewan juri. Acara di awali dengan pemutaran video profile para finalis. Gimana rasanya melihat wajah sendiri tampil di giant screen? Aneh dan malu ;)) Dilanjutkan dengan sambutan dari Mr. Con Corfiatis tentang acara ini. Makin deg-degan ketika kami berempat dipanggil untuk segera ke belakang panggung, menyiapkan diri untuk tampil bersama para model dan pramugari diatas panggung. Dari layar LCD di backstage kami melihat Bapak Elisa Lumbantoruan, Mbak Era Soekamto, dan Mr. Con Corfiatis dengan mengadakan sesi tanya jawab sekaligus press conference dengan awak media cetak dan elektronik yang hadir disana.

And, here we go! Satu persatu nama kami pun dipanggil. Diawali oleh penampilan Dinda Pertiwi bersama 3 modelnya, dilanjutkan dengan saya, Rico Tuerah, dan Nurlaela Tinambunan. Ini adalah untuk pertama kalinya saya tampil kembali diatas panggung selain untuk pementasan tari. Setelah fashion show, kami pun kembali duduk di tempat kami masing-masing untuk menyaksikan kembali acara selanjutnya, yaitu peragaan flight safety demo yang diperagakan oleh para pramugari Citilink dalam balutan busana yang kami rancang.

Acara selanjutnya adalah final meeting by judges, yang terdiri dari Mr. Con Corfiatis, Bapak Elisa Lumbantoruan, Mbak Era Soekamto, dan Mbak Flo dari Citilink. Saat itu saya sudah pasrah. Apapun hasil yang akan saya dapatkan di atas panggung nanti pasti itu yang terbaik yang berhak saya terima. FYI, desain yang masuk ke panitia sejak pendaftaran dibuka hingga pendaftaran ditutup adalah sebanyak 132 desain. Seperti Mbak Era bilang pada kami sesaat sebelum acara dimulai,

“kalian itu sebenernya sudah menang. Bayangkan dari 132 desain yang masuk, kalian mampu lolos hingga ke tahap 4 besar. That was so great! So, good luck for all of you! ;)”

Oh ya, malam itu pemenang favorit pilihan media jatuh pada Rico Tuerah yang kebetulan jumlah vote-nya sama persis dengan saya dan Tina. Namun berdasarkan tepuk tangan yang paling meriah akhirnya pilihan media jatuh pada Rico. Jiyeee, Rico.. menang deh! \:D/

Detik-detik yang menegangkan itu pun akhirnya tiba. Kami berempat kembali ke backstage untuk berkumpul dengan para model yang semua badannya sudah tertutup jubah hitam bertuliskan tanda tanya besar berwarna putih. Terkesan misterius, ya? 😀 Akhirnya kami berempat pun kembali diatas panggung untuk mulai deg-degan. Hyuk mari…

Saat juri mengumumkan juara ke-4 dan mulai berputar-putar mengelilingi kami, saya sudah GR bahwa mungkin sayalah yang akan menyandang sebagai gelar juara ke-4. Tahu nggak, rasanya deg-degan banget, jadi ikut merasakan, “oh, ternyata gini ya kalau pemilihan Puteri Indonesia, kan jurinya juga muter-muter” :)) . Ketika Mbak Flo membuka salah satu jubah model dan terdengar tepuk tangan riuh ternyata juara 4 jatuh pada desain Tina, dan Tina berhak atas hadiah plakat dan 3 free ticket kemana saja by Citilink berlaku selama 3 bulan. Selamat ya, Tina ;). Nah, tinggallah kami bertiga, saya, Dinda, dan Rico yang mules di atas panggung.

Untuk menentukan juara ke-3 Mbak Era Soekamto yang kali ini berputar-putar, menelusup, berjalan diantara kami bertiga. Dan akhirnya.. TARAAAA! Salah satu jubah model Rico ternyata yang dibuka, dan dengan demikian Juara ke-3 Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink jatuh kepada Rico Lambert Tuerah, dan Rico berhak atas 3 free ticket selama 3 bulan. Waah, selamat ya, Rico! Am proud of you! 😀

Tinggallah saya dan Dinda yang diatas panggung beserta keenam model kami yang melanjutkan kemulesan. Yang berkenan membuka jubah salah satu model kami adalah Mr. Con Corfiatis dan Bapak Elisa Lumbantoruan. Jangan ditanya gimana dinginnya tangan saya diatas panggung. Diantara kilatan blitz yang menyambar kami berdua, saya yakin Dinda juga sama deg-degannya sama saya :-s. Siapa yang jubahnya dibuka terlebih dahulu, itulah yang juara pertama, dan desainnya berhak dipakai sebagai seragam baru pramugari Citilink.

Ternyata! Bapak Elisa Lumbantoruan membuka jubah salah satu model-nya Dinda, disusul oleh Mr. Con Corfiatis yang membuka salah satu jubah model saya, tepat saat confetti berhamburan diatas kepala kami. Yaay! Selamat buat Dinda yang karyanya sudah terpilih sebagai juara pertama Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink dan berhak atas unlimited ticket selama 6 bulan. Ikut seneng! \:D/

Demikianlah akhir kisah perjalanan panjang dan penuh liku-liku itu. Halah ;)) Oh ya, ada yang unik disini. Susunan juaranya sama persis urutannya dengan ketika kita mengambil nomor urutan pas panjurian di Garuda kapan hari. Amazing, ya?

Terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu hingga saya masuk ke dalam tahap ini. Terima kasih untuk Citilink, tim Fortune PR, dan juga Mbak Era Soekamto and crew yang memberikan kami kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang tak akan kami lupakan ini. Terima kasih juga untuk Goenrock, Cah Ndableg, dan Gum, yang sudah mau saya repotin bikin sample batik Megamendung dan storyboard *>:D<. Juga teman-teman kantor dan komunitas Bloggerngalam yang sudah memberikan dukungan penuh pada saya *ciumin satu-satu*. Tak lupa ucapan terima kasih terbesar untuk keluarga, dan seseorang yang tidak mau disebut namanya tapi sudah memberikan dukungan yang tak kalah luar biasanya 😉

You guys, thank you >:D< :-*

I love you all!

 

 

[devieriana]

Continue Reading