Scribo Ergo Sum

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Ananta Toer

Scribo, Ergo Sum, aku menulis, maka aku ada. Sebuah kalimat yang diambil dari bahasa latin, yang merupakan pengembangan ungkapan Rene Descartes, Cogito Ergo Sum yang berarti aku berpikir maka aku ada.

Tergelitik oleh tweet seseorang yang mengatakan begini, kalau Anda bisa menulis, sekarang dan nanti, tulislah yang berguna dan mempunyai tujuan bukan untuk diri sendiri tapi orang lain, itu jauh lebih terhormat. Uhuk! Jadi merasa tertohok. Lha gimana, wong tulisan saya masih sesuka-suka saya, belum ada yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain.

Sebenarnya opini itu tidak sepenuhnya salah. Justru opini yang bagus karena memberikan motivasi menulis tentang hal-hal yang bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak melulu berisi tulisan tentang curhat yang menye-menye. Lebih jauh lagi, mungkin dia ingin menyampaikan pesan tentang think before publish.

Tapi, kalau kita melihat latar belakang, tujuan, dan motivasi seseorang menulis/membuat blog kan bermacam-macam. Ada yang menulis di blog karena ingin berbagi ilmu yang dimiliki, ingin menyalurkan hobby yang ditekuni, ada juga yang berawal dari sekadar iseng, cuma ingin menuliskan keseharian yang dilaluinya (semacam diary online), atau mungkin justru hanya ingin berbagi gambar/foto yang dibubuhi sedikit narasi (photoblog). Berawal dari motivasi yang berbeda-beda itu, IMHO, bukan berarti orang yang sekadar menulis untuk diri sendiri, yang kontennya tidak selalu bermanfaat untuk orang lain itu berarti tidak seberapa terhormat.

Kemampuan menulis setiap orang juga berbeda-beda. Ada yang bagus di jenis penulisan cerita fiksi, ada yang jago menulis puisi dan tulisan-tulisan metafora, ada yang bagus ketika menulis artikel, dengan tema tertentu, ada yang selalu bisa membuat pembacanya tertawa karena tulisan-tulisan yang kocak, dll. Nah, apakah lantas semua tulisan itu pasti bermanfaat bagi pembacanya?

Kalau saya, karena awalnya dulu bikin blog salah satunya untuk menyalurkan hobby menulis, jadi ya saya tulis saja apa yang saya ingin tulis. Temanya pun random. Bisa cerita tentang keluarga, teman, pekerjaan, dan pengalaman sehari-hari. Bahasa yang saya gunakan pun masih belepotan, tulisan saya lumayan ancur, wajar kalau tidak ada yang meninggalkan komentar karena mungkin tulisan saya tergolong tulisan absurd. Tapi tidak apa-apa, namanya juga masih belajar. Lagian juga tidak ada ceritanya orang bisa langsung expert. Seiring perkembangan waktu, dari hasil blog walking, dan baca sana-sini, pelan-pelan saya mendapat pencerahan juga. Intinya, semua pasti pernah mengalami masa-masa jahiliyah ketika pertama kali menulis.

Biarkan saja tulisan itu mengalir apa adanya. Dalam perkembangannya nanti pasti akan ada proses pembelajaran kok. Entah itu dari cara menemukan ide, cara menuangkan gagasan menjadi tulisan yang menarik, pemilihan diksi, dll. Semua berawal dari nol, tidak ada yang langsung mahir. Seperti kata Melinda Haynes, Forget all the rules. Forget about being published. Write for yourself.

Jadi kalau mau menulis ya menulis saja. Tidak perlu takut apakah nanti tulisan kita ada yang baca atau tidak, akan ada yang komen atau tidak, akan ada manfaatnya untuk orang lain atau tidak. Dibaca syukur, kalau ternyata ada manfaatnya dan menghibur pembaca anggap saja itu sebagai bonus. Hampir sama seperti kata Melinda Haynes di atas, ternyata  Cyril Connolly mengatakan hal yang hampir sama, Better to write for yourself and have no public, than to write for the public and have no self.

Btw, kalian paling suka menulis tentang apa?

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi diambil dari Posterous saya

Continue Reading

Suatu Sore Bersama Bapak UKD

Jumat lalu, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.15, semua orang di ruangan saya mulai sibuk mengantri di depan mesin absensi, terutama yang naik bus jemputan. Entah bagaimana kondisi terakhir di luar kantor, yang jelas mereka ingin segera pulang, terbebas dari demonstrasi dan kemacetan, dan tiba di rumah dengan selamat. Beberapa teman masih ada di ruangan dan memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan ketimbang langsung pulang, sambil menunggu kemacetan sedikit reda.

Saya sendiri baru keluar kantor sekitar pukul 16.30-an dan mendapati jalanan depan kantor yang sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, baik kendaraan pribadi, taksi, busway, sampai ojeg yang biasa mangkal di depan kantor pun tidak terlihat sama sekali. Awalnya saya pikir karena lampu merah di ujung jalan sekitaran Harmoni, tapi masa iya lampu merahnya selama ini? Dalam hati mulai curiga kalau lalu lintas sepertinya sedang diarahkan melalui jalur alternatif, menghindari arah Istana, Monas, Bundaran HI, dan sekitarnya 😕

Baru saja berpikir demikian, datanglah dua bapak UKD (Unit Keamanan Dalam) yang kebetulan akan pulang menggunakan motor. Mereka ngobrol sebentar di depan gerbang, persis di samping saya. Berhubung saya sudah familiar dengan beliau berdua, saya pun ikut nimbrung dalam obrolan mereka tentang jalan alternatif menuju rumah masing-masing. Berasa salah pulang jam segini deh 😐

Bapak 1: Mbak Devi, nunggu jemputan atau taksi?

Saya: sebenernya tadi mau naik busway Pak, tapi kok saya males jalan ke Harmoni situ, ya ;)). Jadi ya udahlah naik taksi aja. Tapi kok dari tadi kayanya nggak ada yang lewat sini ? 😕

Bapak 2: kayanya sih emang nggak ada yang lewat depan sini, Mbak. Kan depan Istana dan Monas situ udah penuh demonstran, jadi ya nggak akan bisa lewat…

Saya: hah, serius, Pak? 😮 Waduh, tak kirain tadi masih bisa dilewatin. Soalnya tadi masih ada 1 taksi yang mau putar depan sini ngangkut penumpang sebelum saya. Jadi sekarang udah blokir total, ya? 🙁

Bapak 2: iya. Mbak Devi rumahnya di daerah mana, tho?

Saya: Duren Tiga, Pak…

Bapak 2: saya juga setiap hari lewat situ, Mbak. Apa njenengan mau bareng saya?

Saya: ngg.. Matur nuwun, Pak. Nggak usah, nanti saya malah ngerepoti. Saya nunggu taksi aja 😀

Bapak 1: Lah, sekarang aja udah nggak ada yang lewat gini, bisa-bisa nanti Mbak Devi pulang malem, lho…

Saya: gitu ya, Pak? :-s . Tapi kan Bapak cuma bawa helm satu, nanti Bapak ketangkep polisi lho kalau mboncengin saya nggak pakai helm…

Bapak 2: wis tho ora-ora, Mbak Devi nggak usah khawatir. Insyaallah nggak ada apa-apa. Monggo, naik aja. Daripada nanti malah nggak bisa pulang, lho…

Hmm, ya udah deh. Akhirnya saya putuskan untuk nebeng Bapak –yang ketika akan sampai rumah baru saya ketahui bernama Pak Hendro itu– dengan tanpa helm sehingga rambut saya berkibar-kibar kemana-mana. Psst, aslinya saya lumayan agak deg-degan juga sih kalau ketangkep polisi ;))

Persis di traffic light dekat Istana barulah saya melihat kondisi yang sebenarnya. Massa berkerumun di depan Istana Merdeka dan seputaran Monas, sejumlah polisi anti huru-hara pun sudah bersiaga penuh. Demonstran yang memenuhi jalanan itu memblokir jalan yang menuju ke arah Bundaran HI dan sekitarnya, sehingga kami harus memutar lewat belakang Kemkominfo dan lalu lewat Tanah Abang, atau bisa juga memutar ke arah Jalan Juanda.

Sepanjang jalan kami ngobrol sesekali, sambil saya mengabari keluarga kalau saya baik-baik saja dan sedang dalam perjalanan pulang diantar sama salah satu bapak anggota UKD. Ya maklum, keluarga saya kan ada di Jawa Timur, dan pasti sudah melihat di TV betapa rusuhnya kondisi Jakarta Jumat kemarin. Apalagi kantor saya berada di lokasi yang sangat dekat dengan salah satu target tujuan demonstrasi. Rute jalan yang biasa saya lalui ketika akan pulang pun melalui jalur yang sedang diblokir massa itu. Jadi kalau mereka khawatir ya wajar.

Tak terasa perjalanan kami sudah hampir sampai Mampang.

Bapak 2: Mbak Devi dulu masuk Setneg tahun berapa?

Saya: saya ikut seleksinya sih akhir 2009, efektif masuk baru Januari 2010, masih baru 2 tahunan kok, Pak  😀

Bapak 2: sama, saya juga baru sih, saya masuk Setneg itu Juni 2009

Saya: oh, gitu? Dulu ditugaskan di mana, Pak?

Bapak 2: sejak tahun 1987 saya di Paspampres, Mbak. Mbak Devi paling baru lahir ya tahun segitu?

Lah, saya baru tahu kalau Bapak itu dulunya Paspampres. Saya selama ini mengira beliau itu dulunya dari mana gitu. Tapi (menurut info yang saya dapat) kebanyakan bapak-bapak yang sekarang bertugas di Unit Keamanan Dalam itu dulunya memang Paspampres.

Terima kasih untuk tumpangannya ya, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya pulang dengan selamat sampai di depan gang rumah saya. Kalau nggak ada Bapak, nggak tahu deh saya sampai rumah jam berapa 🙂

 

[devieriana]

Continue Reading

Interview bersama RPK FM

Hari Kamis lalu saya habis vaksin HPV  yang ke-2 (total vaksin yang harus dijalani sebanyak 3x). Seperti bulan lalu, efek setelah disuntik pasti sore/malamnya lengan yang disuntik akan terasa superpegal seperti habis kerja berat dan pasti ‘kemeng’ (nyeri, linu). Kalau efek demam sih tidak selalu terjadi pada tiap perempuan yang habis divaksin HPV ya, tapi kalau saya kebetulan selalu disertai demam. Belum lagi pas lagi ‘kemeng-kemeng’-nya eh nggak sengaja ditepok kenceng banget sama adik saya. Hmmppffft…. :((

Anyway, beberapa waktu lalu di milis @IDceritaJKT ada tawaran mengisi salah satu segmen acara di Radio Pelita Kasih 96.3 FM. Berhubung waktu itu saya masih belum ada kegiatan apa-apa akhirnya mengiyakan tawaran itu bersama sama Kak Fiki dan Kak Lian. Nah, pas hari Jumat, sehari menjelang siaran, saya jadi ragu sendiri, kok badan saya belum fit gini ya? Efek demamnya masih ada, dan kebetulan saya memang sedang flu. Hmm, datang apa enggak, ya? :-s . Tapi berhubung sudah terlanjur janji sama teman dan penyiarnya ya sudahlah saya menyempatkan diri untuk memenuhi undangan siaran. Sabtu pukul 06.30 pagi saya pun berangkat ke studio, karena acaranya akan berlangsung pukul 07.00 – 08.00.

Sesampai di lokasi saya celingukan sendiri mencari di mana letak studionya, karena di lokasi tersebut hampir semuanya adalah bangunan tua. Gedung-gedungnya tampak usang, atapnya banyak yang sudah jebol di sana-sini, dindingnya pun kusam termakan usia, dan banyak pohon besar yang rindang. Hmm, agak ragu juga sih awalnya. Serius lokasi radionya ada di sekitar sini? 😕 Tapi kalau lihat beberapa tulisan yang tertera di sana sih sepertinya masih affiliate dengan radio tempat saya diundang untuk siaran, ada percetakannya juga kalau tidak salah. Ah, untunglah tak lama kemudian ada Kak Lian yang datang dengan motornya, langsung dari Pamulang, jadi saya nggak berasa ada di lokasi uji nyali sendirian *lambai tangan ke arah kamera* \:D/

Setelah tanya sama mas-mas yang ada di situ, ternyata studionya terletak di belakang gedung-gedung tua itu. lokasinya memang agak masuk ke belakang. Ketika melihat penampakan gedung yang kami maksud ternyata itu adalah adalah ex gedung Harian Suara Pembaharuan. Hmm, terlihat sama tuanya sih, tapi sedikit terlihat lebih terawat dan “hidup”, karena ditunjang adanya aktivitas harian di gedung itu. Sesampainya di sana kami diminta untuk mengisi buku tamu, dan langsung berkenalan dengan dua orang penyiar yaitu Mas Ijul (Yuliyono) dan Mas Harun Harahap yang ternyata dua-duanya adalah PNS 😀

Tepat pukul 07.00, kami berdua diminta masuk ke studio, biar mengenal lokasi dan menyesuaikan diri dengan dinginnya udara studio yang katanya dingin banget itu, walaupun setelah masuk studionya ternyata masih dinginan kantor saya yang suhunya menyamai ruang server itu. Oh iya, program bincang-bincang yang bertajuk “U and the City: The Place to Share Your Community” ini adalah acara yang dikelola oleh Goodreads Indonesia, yaitu sebuah komunitas pembaca dan pecinta buku di Indonesia.

Studionya bersih, dan nyaman. Di sana sudah tersedia 6 mikropon, 6 headset, 6 kursi berwarna orange, dan 1 buah komputer LCD (entah berapa inch) yang akan menampilkan sms-sms atau tweet pendengar yang masuk selama acara. Kalau melihat “peralatan perang” kaya gini jadi ingat pekerjaan di masa lalu 😉

Sesi interview pun berjalan santai dan lancar. Pertanyaan yang diajukan seputar komunitas Indonesia Bercerita dengan segala aktivitasnya. Kak Fiki yang datang 15 menit kemudian langsung bergabung dengan kami, dan nememani sharing di acara yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu.

Wah, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, itu tandanya acara talkshow “U and The City” pun harus berakhir. Terima kasih buat RPK 96.3 FM yang sudah memberi kesempatan kami untuk sharing seputar komunitas kami. Semoga informasi yang kami bagikan kemarin berkenan dan berguna bagi semua yang mendengarkan, ya 😉

[devieriana]

 

Foto by Kak Fiki

Continue Reading

Bahagia Itu Sederhana

Tadi pagi, di kantor kedatangan teman yang sekarang sudah pindah tugas ke Malang. Kebetulan dia sedang tugas di Jakarta dan disempatkanlah untuk mampir. Ada banyak kisah yang dia ceritakan selama kurang lebih 2 jam (sejak saya datang pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.00), ya pekerjaan, ya keluarga, ya lingkungan sekitarnya. Jadi selama 2 jam itu khusus buat dengerin dia cerita. Untungnya belum ada kerjaan yang turun atau perlu dinaikkan ke atasan ;))

Ada banyak perubahan drastis yang terjadi dengan si teman ini sejak menikah dan tinggal di Malang, mulai dari penampilan sampai dengan gaya hidup. Yang dulunya “apa sih yang nggak bisa kubeli?”, sekarang kalau mau beli apa-apa mikir dulu, bahkan sekarang pakai nawar. Kalau dulu nelepon bisa lama-lama, sekarang, “eh, udah dulu yak, pulsa gue mau abis nih…” Yang dulunya kalau handphone rusak tinggal beli lagi yang baru dan yang rusak nanti setelah diperbaiki tinggal dijual, sekarang mikir seribu kali mau beli gadget baru. Tas dan sepatu dengan brand apa sih yang nggak bisa dibeli? Sekarang, tasnya ya itu-itu melulu, dan hei… dia sekarang udah mau lho pakai sepatu yang harganya 80-100 ribuan. Intinya dia sudah berubah banget, lebih sederhana >:D<

Secara materi dia sangat jauh berkecukupan, semua perubahan yang terjadi sekarang karena semata-mata karena dia ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan kantornya. Saya justru melihat semua perubahan ini sebagai hal yang positif  karena semua perubahan itu berasal dari keinginannya sendiri, bukan atas permintaan suami atau orang lain. Dan yang lebih penting adalah, dia terlihat jauh lebih bahagia, lebih tenang, lebih menikmati kehidupan dan perannya sekarang 🙂

Kebetulan di hari yang sama kok ndilalah saya juga sempat ngobrol dengan sahabat yang berbeda tapi dengan topik yang hampir sama. Benarkah kebahagiaan seseorang itu bisa diukur hanya dari materi? Topik yang sedikit berat kalau dibahas pagi-pagi, ya? Tapi toh tetap kami bahas juga.

Teman: “Aku ngerasa high society di Indonesa tuh emang rada aneh. Kalau di Jepang, high society itu sibuk dengan donasi, menjadi volunteer, atau ikut philantropic group. Well, they are rich, tapi nggak norak. Di TV juga nggak ada tuh yang namanya acara yang membahas top to toe fashion kaya disini. Kadang pengen tahu juga, gimana sih rasanya pakai semua barang branded, top to toe gitu. Berasa kaya manekin nggak, sih? Suka iseng sinis juga, emang harus dipakai semua ya, biar orang tahu itu mahal dan asli, gitu? Emang kalo nggak dipake takut dibilang KW? ;))

Saya: “hahaha, nggak kaya gitu juga kali. Tapi setahu aku memang di sini ada kaum-kaum yang bukan artis tapi gaya hidupnya memang mewah. Biasa disebut kaum “socialite”. Barang yang dipakai hampir semuanya high end. Kesibukannya selain berkegiatan sosial juga hadir di acara peresmian ini, gathering itu, arisan ini, seminar itu, dan beberapa kegiatan sejenislah… :D”

Ngomong-ngomong tentang barang bermerk dan mahal, pernah suatu ketika saya ngobrol dengan seseorang. Dia dan isterinya memang hobby beli barang-barang branded. Alasannya bukan untuk pamer, tapi justru untuk menghemat. Untuk beberapa alasan tertentu, dia bilang kalau umumnya, barang branded itu berkualitas dan lebih awet. Itulah alasan dia tidak pernah melarang isterinya membeli barang bermerk karena dia memperhatikan dari sisi kualitas dan daya tahannya. Daripada beli barang yang kualitas dan harganya dibawah itu tapi mudah rusak dan nantinya harus beli-beli lagi.

Sependek yang saya pahami, ada barang-barang yang memang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan fungsi tertentu. Pertama, biasanya barang-barang high end memang terbuat dari material berkualitas tinggi dengan proses pembuatan yang rumit, jadi tak heran kalau akhirnya barang-barang tersebut dapat bertahan hingga puluhan tahun tanpa berubah bentuk. Kedua, barang tersebut memang sengaja dicitrakan sebagai barang mewah, jadi dengan menggunakan barang tersebut secara otomatis akan menaikkan status sosial atau gengsi penggunanya. Jadi yang dijual selain dalam fisik barang juga psikologis (calon) pembeli 😀

Teman: “Aku boleh tanya, nggak? Pernah nggak sih kamu punya mimpi jadi salah satu mereka? Jadi mereka itu enak lho. Kamu bisa jalan-jalan kemana aja, bisa pake baju dan aksesoris mahal yang selama ini cuma bisa kamu lihat di halaman majalah fashion, mau kemana-mana tinggal dianter driver, mau beli apa-apa tinggal gesek. Kamu pasti senenglah, kan apa-apa serba keturutan :p”

Saya: “Mimpi jadi kaya mereka, bener-bener sosialita, gitu? Hmm, jujur belum pernah. Tapi kalau iseng-iseng berkhayal jadi orang superkaya sih pernah ;)) Eh, tapi emang kalau jadi orang superkaya itu menjamin kita pasti akan bahagia nggak sih?”

Nah, dari sini topik bahasan kami pun lama-lama makin berkembang. Dari urusan brand, berlanjut ke mimpi, dan lalu kebahagiaan yang hakiki. Beuh, beraaat… ;))

Memang, nggak ada orang yang bercita-cita jadi orang miskin. Semua pasti pengen punya kehidupan yang baik, layak, tercukupi seluruh kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari sekarang pun manusia berlomba-lomba mengejar ke arah sana, but is it really promise you a complete happiness? Is it your true happiness?

Teman: “Eh, kalo nggak salah Prince Edward, kakaknya Ratu Elizabeth, menolak menjadi raja karena ingin menikah dengan orang biasa. Hei, ternyata ada ya yang nggak mau jadi raja, dan pengen cuma jadi rakyat biasa aja. Apa mungkin karena dia merasa kebahagiaan sejatinya adalah dengan menikmati kehidupan sebagai rakyat biasa, bukan menjadi raja, ya?”

Ada kalanya kebahagiaan manusia itu bukan melulu datang dari materi yang berlimpah ruah atau jabatan yang tinggi. Terkadang kebahagiaan hakiki itu justru lahir dari hal-hal kecil yang sederhana, bukan dari hal-hal yang sophisticated. Nah, terus apa sih sebenarnya inti tulisan panjang saya kali ini? ;))

Jadi teringat dengan salah satu scene My Best Friend’s Wedding:

A: “Okay, you’re Michael, you’re in a fancy French restaurant, you order… Creme Brulee for dessert, it’s beautiful, it’s sweet, it’s irritatingly perfect. Suddenly, Michael realises he doesn’t want Creme Brulee, he wants something else…”

B: “What does he want?”

A: “Jell-O”

B: “Jell-O?! Why does he want Jell-O? :-o”

A: “Because he’s comfortable with Jell-O! Jell-O makes him… comfortable. I realise, compared to Creme Brulee it’s… Jell-O, but maybe that’s what he needs!”

Mungkin kebahagiaan itu justru lahir ketika kita bisa makan nasi goreng kampung pinggir jalan bersama teman/keluarga, bukan steak dan makanan mahal di restaurant yang eksklusif. Mungkin kebahagiaan itu justru hadir ketika kita masih diberikan kesehatan dan umur panjang sehingga kita masih berkesempatan berkumpul dengan orang-orang tercinta. Bahagia itu mungkin ketika Anda pulang ke rumah disambut dengan tawa dan pelukan hangat sang buah hati. Atau mungkin ketika bisa kembali ke rumah dalam kondisi jalanan yang lancar dan tidak terjebak macet? 😉

Bahagia itu (sebenarnya bisa lahir dari hal-hal yang) sederhana, dan tiap orang bisa saja berbeda versi 😉

Apa sih bahagia menurutmu?

 

[devieriana]

foto posterous saya

Continue Reading

Know Your Passion!

“We cannot be sure of having something to live for, unless we are willing to die for it…”
– Che Guevara –

—–

Di suatu siang, di salah satu kedai coffee giant di bilangan Pondok Indah, saya merencanakan janji temu dengan salah satu desainer kenamaan Indonesia, Era Soekamto. Tujuannya cuma satu, mentoring dalam rangka penjurian Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink. Deg-degan itu pasti, selain karena ini kali pertama saya bertemu dengan Mbak Era, saya belum mengenal karakter beliau secara dekat. Waktu itu, yang namanya mentoring bentuknya seperti apa, saya juga masih belum tahu.

Ngobrol punya ngobrol ternyata Mbak Era ini adalah sosok desainer yang ramah, smart, dan sangat total dengan dunia kerjanya. Pelan-pelan kami ngobrol dari satu topik ke topik lainnya, hingga sampailah kami pada topik inti, know your passion. Ada pertanyaan yang cukup menggelitik.

“Kamu jadi PNS itu beneran pilihan kamu, keinginan orang tua, atau alasan tertentu lainnya?”

Jujur ini bukan pertanyaan pertama yang pernah dilontarkan orang lain pada saya. Semacam pertanyaan umum, gitu. Menjadi PNS memang murni keinginan saya, kok. Memang ada banyak hal yang jadi pertimbangan ketika memutuskan untuk menjadi PNS setelah hampir 10 tahun bekerja sebagai pegawai swasta. Selain ada faktor ketidaksengajaan juga ada unsur iseng-iseng berhadiah ;)). Kalau pun saya masih bisa melakukan kegiatan lain di luar status saya sebagai PNS ya itu bisa-bisanya saya mengatur waktu saja. Karena kebanyakan kegiatan itu saya lakukan di luar hari/jam kerja. Jadi, dari hari Senin sampai dengan Jumat saya bekerja, hari Sabtu dan Minggu saya berkomunitas atau mengerjakan hobby lainnya. Lalu, apakahapa passion saya yang sebenarnya?

Lalu beliau bercerita, di luar sana ada banyak orang yang belum tahu passion-nya sama seperti saya. Mereka “terjebak” dalam sebuah rutinitas atau kegiatan yang menyebabkan orang itu tidak bisa memaksimalkan diri dan potensi yang dimilikinya. Demi alasan ekonomi mereka mencoba bertahan hidup dan menjalani rutinitas yang sebenarnya membuat mereka tertekan. Tapi bagi yang sudah menemukan dimana letak passion-nya, mereka akan mampu memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki, bahkan ada yang tidak segan-segan untuk meninggalkan pekerjaan mereka yang sekarang dan memilih fokus di bidang yang mereka sukai.

Ada juga yang ketika dia sudah menemukan apa passion-nya sampai rela keluar dari pekerjaannya yang sudah mapan di sebuah oil company, dan menjadi seorang full time blogger!Ha? Blogger? Iya, dibelain keluar kerja ‘cuma’ untuk jadi seorang blogger, dan sekarang dia hidup dengan pilihannya itu. Bisa? Buktinya bisa, tuh. Malah dianya sudah ke mana-mana dengan status bloggernya itu. Hal yang mungkin tidak akan bisa dilakukan ketika masih berstatus sebagai karyawan sebuah oil company. Kalau bicara tentang passion, kadang ada hal-hal yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Sampai sekarang pun saya masih belum habis pikir betapa ‘gilanya’ orang -orang yang berani membuat keputusan besar untuk hidupnya. Kalau saya mungkin masih mikir seribu kali untuk membuat keputusan seekstrim itu. Itulah mungkin sampai sekarang saya masih belum tahu passion saya dimana 😐

Ternyata, obrolan tentang passion ini berlanjut dari Mbak Era dengan saya, menjadi saya dengan salah satu sahabat saya yang kebetulan seorang dosen. Dari awal obrolan santai berubah menjadi serius.

Teman: hebat ya orang-orang yang sudah menemukan passion-nya apa dan dimana, really live their life!

Saya: iya, salut sama orang-orang yang sudah berani mengorbankan sesuatu yang buat orang lain pasti mikir 1000x, gila aja kalau mengorbankan/meninggalkan sesuatu yang pokok banget untuk mengerjakan sesuatu yang dia suka dan yang belum tentu mengandung materi (uang), kecuali memang hal yang dikerjakan sebelumnya itu sama sekali tidak mendatangkan kepuasan pribadi…

Teman: but having a chance to educate people with the net is also a good thing to do. Mmmh, btw, kamu tuh kalau aku lihat-lihat anak muda banget ya? ;))

Saya: hmm, kok bisa? 😕

Teman: you’re really do adore alternative, though you are working in a very formal and protocol office…

Tahukah kalian kalau percakapan ini berakhir dengan saling gondok karena tidak menemukan kata sepakat tentang passion? Saya melihat dari sudut pandang apa, dia dari sudut pandang apa. Kami seolah sedang memperbincangkan sebuah objek dengan dua sudut pandang yang berbeda. Ibarat bicara tentang seekor gajah, saya pegang telinga, dia pegang belalai, dan kami saling ngotot mendeskripsikan seperti apa gajah itu. What a silly thing! ;))

Teman: for me passion kinda very luxurious thing. Common people like me cannot reach that concept. I’m just a common people, dari daerah pula, dari keluarga biasa, dan sekolah di sekolah biasa. Pasti ya ujung-ujungnya kerja. Nyenengin orang tua, menikah, cari duit buat anak sekolah… Udah. Apa lagi yang aku kejar?

Saya: mmmh, tapi.. bukan gitu maksud akuu… :-s *mulai ngerasa beda sudut pandang dengan si teman*

Teman: hehehe, kenapa? dari tadi aku keliatan synical, ya? Hehehe. For me, just several lucky people can live his dream, most of people just adjusting, tolerating, and maybe they can get happines finally…

Awalnya saya memang merasa si teman ini kok ngeyel banget ya waktu berdiskusi tentang passion, dia seolah-olah berdiri sebagai orang yang berseberangan dengan apa yang saya bicarakan. Tapi lama-lama saya mengerti apa yang dia maksudkan; kecenderungan berpikir tentang yang pasti-pasti saja, yang normal-normal saja. Tidak seberapa tertarik dengan apa itu passion. Apalagi sampai meninggalkan pekerjaan utamanya untuk hal-hal yang belum tentu juntrungnya. Padahal bisa saja kan, apa yang dilakukan dia sekarang itulah passion dia. Andai dia tahu, dia bisa memaksimalkan apa yang sudah dilakukan itu, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utamanya, kan? Kalaupun ada contoh orang yang sampai meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion ya itu kan cuma contoh segelintir orang saja. Nggak semua, dan nggak harus seperti itu.

“Fullfilling dream and things that you called passion is something in life. But not everything. Still so many values which you can always proud about or treasure. But, if you got a chance, then why not? Aku cuman ngerasa udah telat banget buat mengejar apa passion-ku. Or… maybe what am doing now is my passion, mengajar 🙂

Aha! Akhirnya dia menangkap apa maksud saya! \:D/ Tapi sejurus kemudian dia bilang begini:

“Well I’m a father, with three kids. All need care and education. The hell with passion! Sorry, I don’t have any luxurious thing called passion. Maybe I’m nerds, or … I don’t know…”

Lah, kok malah galau?

Ya, saya tahu. Saya mengerti, kok. Setiap orang pasti punya pendapat sendiri tentang passion, tentang bagaimana cara menemukannya, dan lalu menjalaninya secara konsisten sebagai pilihan hidup. Kalau pun toh ada yang memilih untuk menjalani hidup apa adanya ya nggak masalah 😀

Saya sendiri sebenarnya sampai sekarang masih mencoba menemukan apa dan dimana passion saya bersembunyi. Masih coba-coba mencerna hal-hal yang disebutkan di situs http://ineedmotivation.com. Tapi kalau sampai meninggalkan karier saya yang sekarang kok kayanya belum sampai sejauh itu ya saya mikirnya, karena walau bagaimana pun saya cinta pekerjaan saya yang sekarang.

Kalau kalian, sudahkah kalian menemukan apa passion kalian?

 

 

[devieriana]

ilustrasi: pinjam dari passivemoneytalk

Continue Reading